Share

Bab 3

Author: Carena
Aku berbalik dan menjawab, "Tapi, Lyra bukan pengiring pengantinku."

Levi menyahut, "Apa salahnya tambah seorang pengiring pengantin?"

Lyra yang berdiri di samping Levi memainkan rambutnya sambil berkata, "Kalau Kak Eve keberatan, nggak apa-apa. Aku nggak harus jadi pengiring pengantin."

Levi menatapnya. "Jangan selalu berkata begitu."

Kemudian, pria itu menatapku, "Evelyn, itu hanya sepotong pakaian."

Hanya sepotong pakaian. Hanya sebaris sumpah. Hanya sebuah latar panggung. Hanya sebuah payung. Sepertinya, jika Lyra menginginkan segala sesuatu yang berhubungan denganku, semuanya bisa menjadi tidak penting lagi.

Aku membuka ponselku, lalu mengirimkan informasi kontak toko gaun pengiring pengantin kepada Levi. Ekspresinya pun melunak. "Lihat saja, bukannya masalahnya sesimpel ini."

Aku tidak mengatakan apa-apa.

Sore itu, aku pulang untuk membereskan perlengkapan pernikahan. Ruang tamu dipenuhi tumpukan kardus. Ada suvenir untuk tamu, kartu meja, buku tamu, dan album foto pernikahan yang tebal.

Aku membuat album itu sendiri. Album itu berisi foto kami dari SD sampai kuliah. Aku menempelkan setiap foto secara kronologis.

Pada halaman pertama, terdapat foto yang menunjukkan Levi berdiri di sebelah kananku dan melindungiku dari bola kertas yang dilemparkan oleh anak laki-laki di belakangku. Di bagian belakang foto, aku menulis sebaris kalimat.

[ Dialah dunia yang pertama kali kudengar. ]

Saat itu, aku benar-benar merasa seperti itu.

Bel pintu berbunyi. Saat membuka pintu, aku melihat Lyra berdiri di luar. Ada dua asisten WO yang mengikutinya. Dia tersenyum dan menggoyangkan kantong di tangannya, "Kak Eve, aku datang untuk ambil gaun pengiring pengantin, sekaligus lihat-lihat apa ada yang bisa kubantu."

Aku tidak beranjak. "Nggak perlu."

Lyra melirik ke dalam rumah.

"Wah, banyak banget barang yang kamu siapkan," katanya sambil menyelinap melewatiku.

Aku mengulurkan tangan untuk menghentikan Lyra. Sementara itu, asisten WO hanya berdiri canggung di ambang pintu.

Lyra sudah melihat album foto di meja kopi. Dia membuka halaman pertama dan tertawa. "Kalian lucu banget waktu kecil."

Aku berjalan mendekat dan menutup album itu. "Jangan sentuh."

Dia mengedipkan matanya. "Seberharga itu?"

Suara Levi terdengar dari ambang pintu. "Lyra, bukannya kamu bilang mau ambil gaun?"

Levi juga sudah datang.

Lyra segera menarik tangannya. "Aku cuma lihat-lihat, tapi Kak Eve sepertinya marah."

Levi menatapku. "Dia cuma penasaran."

Aku memeluk album itu erat-erat. "Sudah kubilang, jangan sentuh."

Ekspresi Levi berubah dingin. "Evelyn, kamu sebenarnya mau ribut sampai kapan? Nggak ada yang mau rebut barangmu."

Lyra berkata pelan, "Levi, jangan tegur dia lagi. Mungkin karena pendengarannya kurang baik sejak kecil, dia jadi kurang punya rasa aman terhadap barang-barangnya."

Levi tidak membantah, bahkan terdiam selama beberapa detik.

Aku menatapnya. Beberapa detik itu terasa cukup lama. Cukup lama bagiku untuk mengerti bahwa dia merasakan hal yang sama.

Lyra mengeluarkan sebuah korsase dari kantongnya. "Oh iya! Kak Eve, ini boleh buat aku saja? Kurasa ini cantik."

Korsase itu untuk pengantin wanita, dibuat dari bunga kamelia putih. Aku sudah menyukainya selama bertahun-tahun.

Levi juga mengetahuinya. Sebab, ketika masih kecil, aku pernah salah mendengar nama bunga itu. Kemudian, setiap tahun di hari ulang tahunku, dia akan memberiku setangkai bunga kamelia dan berulang kali berkata, "Aku selalu ada untukmu."

Sekarang, Lyra meremas korsase itu dan bertanya sambil tersenyum apakah dia boleh memilikinya.

Aku menjawab dengan sangat tegas, "Nggak."

Levi berjalan mendekat. "Kalau dia suka, ya berikan saja. Kita bisa buat yang baru di hari pernikahan."

Aku menatapnya. "Levi, kamu yang memilihnya."

Dia tertegun sejenak.

Lyra melirikku, lalu menatap Levi. "Ternyata kamu yang pilih? Kalau begitu, aku lebih suka lagi."

Dia menyematkan korsase itu ke gaunnya. "Bagus nggak?"

Levi tidak menjawab, tetapi juga tidak menyuruh Lyra melepasnya.

Tiba-tiba, aku merasa album foto di tanganku menjadi sangat berat, begitu berat hingga pergelangan tanganku terasa sakit.

Aku menunduk dan memasukkan album itu kembali ke dalam kotak. Kemudian, aku mengeluarkan ponselku dan mengirim pesan kepada koordinator WO.

[ Kalau mau batal, aku harus konfirmasi sebelum jam 5 sore ini, 'kan? ]

Koordinator WO itu membalas sangat cepat.

[ Ya. ]

Sebelum aku sempat mengetik apa pun, Levi tiba-tiba merebut ponselku. "Kamu kirim pesan kepada siapa?"

Layar ponsel sedang menyala. Dia melihat pesan itu.

Ruang tamu seketika menjadi hening.

Levi menatapku, lalu bertanya dengan suara berat, "Evelyn, apa maksudmu?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Hujan Berhenti Sebelum Pernikahan   Bab 10

    Setahun kemudian, aku berganti pekerjaan baru. Sekarang, aku bekerja sebagai perancang kurikulum di lembaga rehabilitasi pendengaran.Setiap hari, aku berinteraksi dengan banyak anak. Ada yang mudah menangis, ada yang penakut, ada pula yang menyembunyikan alat bantu dengar di saku dan menolak memakainya.Aku akan selalu berjongkok dan berbicara dengan mereka di sisi mereka dapat mendengar jelas. Aku tidak pernah mendesak mereka, atau merasa cemas.Sesekali, Kian akan menggodaku, "Sekarang, kamu lebih mirip terapis rehabilitasi daripada aku."Aku membalas candaannya sambil tersenyum, "Kalau begitu, serahkan saja posisimu padaku."Dia menyerahkan mapnya kepadaku. "Boleh saja, Bu Evelyn."Aku pun tertawa.Hari-hariku berlalu pelan dan tidak sedramatis yang kubayangkan. Suatu hari, aku hanya terbangun dan menyadari bahwa aku sudah lama tidak meneteskan air mata karena Levi.Levi pernah datang ke tempat kerjaku beberapa kali. Setiap kali, dia juga bersikap sangat sopan. Terkadang, dia meng

  • Hujan Berhenti Sebelum Pernikahan   Bab 9

    Levi tidak menyusulku lagi hari itu. Selama minggu berikutnya, dia mengirimiku pesan setiap hari. Terkadang, dia mengirim sepatah kata "selamat pagi", terkadang dia mengirim foto, seperti foto payung putih yang baru dibelinya dan foto korsase kamelia yang sudah dibuat ulang. Dia juga menyuruh orang memperbaiki sumpah yang dicoret Lyra, lalu memotretnya dan mengirimkannya kepadaku.[ Aku sudah kembalikan teks aslinya. ]Aku melihat foto itu.[ Levi, terima kasih telah menjadi telinga kananku selama belasan tahun. ]Pernyataan ini dulunya benar. Namun, semuanya sudah menjadi masa lalu.Aku tidak membalas.Pada akhir pekan, aku pergi menghadiri acara berbagi penyandang gangguan pendengaran. Kian mengundangku untuk menjadi sukarelawan. Dia mengatakan bahwa kebanyakan anak yang baru memakai alat bantu dengar takut ditertawakan oleh teman sekelas.Saat berdiri di depan pintu ruang kegiatan, aku melihat seorang gadis kecil menutup telinganya dan menangis. Ibunya berjongkok di sampingnya untu

  • Hujan Berhenti Sebelum Pernikahan   Bab 8

    Kabar pembatalan pernikahan kami tetap tersebar. Grup obrolan teman kami sudah heboh sepanjang hari. Ada yang bertanya apakah kami bertengkar, ada yang menasihatiku untuk jangan bersikap impulsif. Bahkan ada juga yang mengirim pesan kepadaku secara pribadi.[ Sebenarnya, Lyra memang agak keterlaluan waktu itu. ]Aku hanya menatap layar, tetapi tidak membalas.Sore harinya, ibu Levi meneleponku."Eve, Bibi bukan mau paksa kamu, cuma mau tanya. Apa masih ada kemungkinan di antara kamu dan Levi?"Aku yang sedang memegang gelas air menjawab, "Bibi, maaf."Dia menghela napas dan berujar, "Kamu nggak perlu minta maaf pada Bibi. Levi sudah terlalu dimanjakanmu."Aku tertegun sejenak.Dia melanjutkan, "Dulu, dia selalu merasa selama dia berbalik, kamu akan selalu berada di sana. Tapi, mana mungkin ada orang yang akan terus menunggu di tempat?"Suara Levi terdengar dari seberang telepon. "Ibu, kamu lagi telepon siapa?"Ibu Levi terdiam sejenak sebelum berkata, "Eve, jaga dirimu baik-baik."Kemu

  • Hujan Berhenti Sebelum Pernikahan   Bab 7

    Kian mengambil tasku secara alami. "Denging di telinga kananmu masih jelas nggak hari ini?"Aku menyentuh telingaku. "Sudah lebih baik dari dua hari sebelumnya."Terdengar suara Levi yang menjadi lebih dingin dari belakang. "Evelyn, siapa dia?"Aku menoleh dan menjawab, "Terapis rehabilitasiku."Kian mengangguk pada Levi. "Halo."Levi tidak menanggapinya. Matanya tertuju pada tangan Kian yang memegang tasku. "Apa seorang terapis perlu bantu kamu pegang tas?"Kian tersenyum. "Cuma sekalian."Levi menatapku. "Kamu biarkan seorang pria asing menyentuh barangmu dengan begitu saja?"Aku tiba-tiba merasa semua ini sangat absurd. Saat Lyra mengenakan gaun dan korsaseku, atau mengubah sumpahku, dia mengatakan aku berhati sempit jika aku berkomentar. Sekarang, Kian hanya memegang tasku. Namun, dia langsung mempermasalahkannya."Levi, kamu sudah terlalu banyak ikut campur."Wajahnya seketika menegang.Lyra berbicara dengan pelan, "Levi, ayo pergi. Sekarang, sudah ada yang temani Kak Eve."Levi m

  • Hujan Berhenti Sebelum Pernikahan   Bab 6

    Pada hari ketiga aku kembali ke rumah, Levi meneleponku untuk yang pertama kalinya. Aku tidak menjawab. Dia pun mengirim pesan.[ Kita tunda saja dulu pernikahannya. Setelah kamu kembali, kita baru diskusi lagi. ]Aku membalas.[ Nggak ada yang perlu didiskusikan lagi. ]Beberapa menit kemudian, dia mengirim balasan lagi.[ Evelyn, kamu harus tahu batas. ] Aku menatap empat kata itu dan tiba-tiba tertawa.Ibuku keluar dari dapur dengan membawa sup. Saat melihat ekspresiku, dia tidak menanyakan apa pun. Dia hanya meletakkan mangkuk itu di depanku. "Minumlah. Apa telingamu pernah sakit belakangan ini?"Aku menggeleng. "Nggak kok."Sebenarnya, keadaan telingaku sedang kurang baik. Saat ada perubahan emosi, telinga kananku akan terus berdengung.Dulu, Levi juga mengetahui hal ini dan akan memelankan suaranya.Belakangan ini, suasana di rumah sangat hening. Begitu hening hingga aku akhirnya bisa mendengar suara diriku sendiri.Sore harinya, aku pergi ke rumah sakit untuk melakukan pemerik

  • Hujan Berhenti Sebelum Pernikahan   Bab 5

    Koordinator WO itu terdiam selama beberapa detik sebelum membalas.[ Bu Evelyn sudah yakin? ]Aku melihat permukaan payung putih yang mengintip dari kantong sampah."Ya." Setelah mengambil keputusan itu, aku tidak menangis, hanya membuka setiap kotak di ruang tamu.Aku harus mengembalikan suvenir, menyobek kartu meja, lalu menyimpan buku tamu ke laci paling bawah. Awalnya, aku juga berniat membuang album foto itu. Namun, jari-jariku berhenti bergerak ketika aku membuka halaman terakhir.Itu adalah foto yang diambil pada hari pertunangan kami. Levi berdiri di sebelah kananku dan sedang membungkuk untuk menyesuaikan alat bantu dengarku. Tatapannya di foto itu begitu lembut. Aku menatapnya selama beberapa detik, lalu menutup album itu.Terdengar suara kunci di pintu. Levi sudah kembali. Melihat kotak-kotak yang terbuka berserakan di lantai, ekspresinya berubah muram."Apa yang kamu lakukan?"Aku menutup kotak suvenir terakhir sambil menjawab, "Retur barang."Dia melangkah mendekat dengan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status