Share

Bab 4

Author: Carena
Aku meraih ponselku, tetapi Levi mengangkatnya sedikit lebih tinggi lagi. "Jawab."

Lyra juga mencondongkan tubuh untuk membacanya dan terlihat terkejut. "Batalin pernikahan? Kak Eve, kamu lagi bercanda, 'kan?"

Aku menatap Levi. "Kembalikan ponselku."

Dia tidak bergeming. "Kamu mau batalkan pernikahan karena hal sepele?"

Hal sepele. Aku mendengar diriku terkekeh pelan. "Emm, hal sepele."

Wajah Levi menjadi makin muram. "Evelyn, jangan pakai cara seperti ini untuk mengancamku."

"Aku nggak mengancammu."

"Jadi, apa maksudmu?" Levi meletakkan ponselku di meja kopi dan mengetuk layarnya dengan jarinya. "Kamu jelas-jelas tahu kedua keluarga sudah diberi tahu, hotel sudah dipesan, ratusan undangan sudah dikirim. Dengan batalkan pernikahan sekarang, apa kamu mau aku jadi bahan tertawaan?"

Aku menatap korsase kamelia yang tersemat di dada Lyra. Tiba-tiba, aku kehilangan kekuatan untuk berdebat. "Nggak kok. Aku nggak akan buat kamu jadi bahan tertawaan."

Aku sudah seharusnya mengerti sejak awal. Yang dia pedulikan bukanlah apakah aku terluka, melainkan apakah keadaan masih bisa diselamatkan.

Lyra menarik lengan baju Levi dengan pelan. "Levi, jangan marah. Kak Eve mungkin cuma mau kamu menghiburnya."

Levi mencibir, "Masih belum cukup sering aku menghiburnya?"

Dia menatapku, lalu berkata dengan suara rendah, "Evelyn, dari kecil sampai dewasa, sudah berapa kali kamu bersikap begini? Setiap nggak dengar jelas, kamu buat aku ulangi perkataanku. Waktu nggak senang, kamu buat aku tebak alasannya. Baru dikatai sedikit, kamu langsung berlinang air mata."

"Dulu, aku pikir kamu butuh aku. Sekarang, aku cuma merasa lelah."

Aku terpaku di tempat. Telinga kananku terasa berdengung. Aku mendengar setiap kata yang diucapkannya.

Lyra menambahkan dengan pelan, "Sebenarnya, Levi juga kasihan. Dia sudah merawatmu selama bertahun-tahun. Masa dia juga nggak boleh punya pendapat sendiri tentang pernikahannya?"

Levi tidak membantah.

Pandanganku tertuju pada payung putih itu. Payung dengan tulang yang sudah bengkok itu bersandar di samping pintu. Saat memberikannya kepadaku, dia berkata bahwa jika hujan dan dia tidak berada di sisiku, payung ini bisa menggantikannya menaungiku.

Aku pergi mengambil payung itu.

Levi mengerutkan kening. "Kamu mau pergi lagi?"

Aku tidak menjawab, hanya menyerahkan payung itu kepadanya. Dia tidak mengambilnya. Jadi, aku meletakkan payung itu di sebelah kakinya. "Ini, kubalikin."

Mata Levi sedikit menyipit. "Evelyn, kamu serius?"

Lyra tiba-tiba mengambil payung itu. "Payung ini sudah cukup tua, 'kan? Tulangnya sudah bengkok."

Dia membuka payung itu dan meliriknya. Kanopinya sudah sangat miring. "Pantas saja Kak Eve nggak menginginkannya lagi."

Aku berkata dengan dingin, "Letakkan."

Lyra dikejutkan oleh nada bicaraku. Dia melepaskan pegangannya dan payung itu jatuh ke lantai. Ujung payung itu membentur kaki meja kopi dan mengeluarkan bunyi retak. Tulang terakhirnya juga sudah patah.

Yang terdengar di ruang tamu hanyalah suara deru AC.

Levi menatap payung itu. Ekspresinya akhirnya berubah.

Namun, Lyra terlebih dahulu berlinang air mata dan berujar, "Maaf, aku nggak sengaja. Kak Eve, jangan menatapku seperti itu. Aku takut."

Levi tersadar dari lamunannya dan mengadang di depan Lyra. "Evelyn, itu cuma sebuah payung tua. Aku akan menggantinya."

Aku menatap Levi sangat lama, lalu mengangguk. "Oke."

Dia terlihat makin kesal dengan reaksiku. "Jangan begitu sarkastik."

Aku berjongkok, lalu mulai memungut tulang payung yang patah. Ujung logamnya menggores ujung jariku. Itu terasa agak perih.

Levi mengulurkan tangan untuk menarikku menjauh. "Jangan dipungut. Nanti kamu terluka."

Aku menghindari tangannya. "Kamu nggak perlu peduli."

Lyra yang berada di belakangnya berbisik, "Levi, kalau nggak, aku pulang saja dulu. Aku merasa Kak Eve benar-benar membenciku."

Levi memijat pelipisnya. "Aku akan antar kamu turun."

Kemudian, Levi menatapku dan berkata, "Kamu tenangkan diri dulu di rumah. Pernikahan kita akan berjalan sesuai rencana. Jangan membuat masalah lagi."

Aku menunduk dan lanjut memungut tulang payung.

Ketika sampai di depan pintu, dia berhenti lagi. "Evelyn, aku tahu kamu nggak bisa hidup tanpaku. Hubungi aku setelah kamu berpikir matang-matang."

Pintu tertutup, ruang tamu menjadi sunyi senyap.

Aku memasukkan payung yang rusak ke dalam kantong sampah, lalu mengambil ponselku dari meja kopi.

Koordinator WO mengirim pesan terakhir.

[ Bu Evelyn, waktu yang tersisa hanya sepuluh menit. ]

Aku menekan tombol pesan suara. Suaraku terdengar datar saat berkata, "Batalkan saja."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Hujan Berhenti Sebelum Pernikahan   Bab 10

    Setahun kemudian, aku berganti pekerjaan baru. Sekarang, aku bekerja sebagai perancang kurikulum di lembaga rehabilitasi pendengaran.Setiap hari, aku berinteraksi dengan banyak anak. Ada yang mudah menangis, ada yang penakut, ada pula yang menyembunyikan alat bantu dengar di saku dan menolak memakainya.Aku akan selalu berjongkok dan berbicara dengan mereka di sisi mereka dapat mendengar jelas. Aku tidak pernah mendesak mereka, atau merasa cemas.Sesekali, Kian akan menggodaku, "Sekarang, kamu lebih mirip terapis rehabilitasi daripada aku."Aku membalas candaannya sambil tersenyum, "Kalau begitu, serahkan saja posisimu padaku."Dia menyerahkan mapnya kepadaku. "Boleh saja, Bu Evelyn."Aku pun tertawa.Hari-hariku berlalu pelan dan tidak sedramatis yang kubayangkan. Suatu hari, aku hanya terbangun dan menyadari bahwa aku sudah lama tidak meneteskan air mata karena Levi.Levi pernah datang ke tempat kerjaku beberapa kali. Setiap kali, dia juga bersikap sangat sopan. Terkadang, dia meng

  • Hujan Berhenti Sebelum Pernikahan   Bab 9

    Levi tidak menyusulku lagi hari itu. Selama minggu berikutnya, dia mengirimiku pesan setiap hari. Terkadang, dia mengirim sepatah kata "selamat pagi", terkadang dia mengirim foto, seperti foto payung putih yang baru dibelinya dan foto korsase kamelia yang sudah dibuat ulang. Dia juga menyuruh orang memperbaiki sumpah yang dicoret Lyra, lalu memotretnya dan mengirimkannya kepadaku.[ Aku sudah kembalikan teks aslinya. ]Aku melihat foto itu.[ Levi, terima kasih telah menjadi telinga kananku selama belasan tahun. ]Pernyataan ini dulunya benar. Namun, semuanya sudah menjadi masa lalu.Aku tidak membalas.Pada akhir pekan, aku pergi menghadiri acara berbagi penyandang gangguan pendengaran. Kian mengundangku untuk menjadi sukarelawan. Dia mengatakan bahwa kebanyakan anak yang baru memakai alat bantu dengar takut ditertawakan oleh teman sekelas.Saat berdiri di depan pintu ruang kegiatan, aku melihat seorang gadis kecil menutup telinganya dan menangis. Ibunya berjongkok di sampingnya untu

  • Hujan Berhenti Sebelum Pernikahan   Bab 8

    Kabar pembatalan pernikahan kami tetap tersebar. Grup obrolan teman kami sudah heboh sepanjang hari. Ada yang bertanya apakah kami bertengkar, ada yang menasihatiku untuk jangan bersikap impulsif. Bahkan ada juga yang mengirim pesan kepadaku secara pribadi.[ Sebenarnya, Lyra memang agak keterlaluan waktu itu. ]Aku hanya menatap layar, tetapi tidak membalas.Sore harinya, ibu Levi meneleponku."Eve, Bibi bukan mau paksa kamu, cuma mau tanya. Apa masih ada kemungkinan di antara kamu dan Levi?"Aku yang sedang memegang gelas air menjawab, "Bibi, maaf."Dia menghela napas dan berujar, "Kamu nggak perlu minta maaf pada Bibi. Levi sudah terlalu dimanjakanmu."Aku tertegun sejenak.Dia melanjutkan, "Dulu, dia selalu merasa selama dia berbalik, kamu akan selalu berada di sana. Tapi, mana mungkin ada orang yang akan terus menunggu di tempat?"Suara Levi terdengar dari seberang telepon. "Ibu, kamu lagi telepon siapa?"Ibu Levi terdiam sejenak sebelum berkata, "Eve, jaga dirimu baik-baik."Kemu

  • Hujan Berhenti Sebelum Pernikahan   Bab 7

    Kian mengambil tasku secara alami. "Denging di telinga kananmu masih jelas nggak hari ini?"Aku menyentuh telingaku. "Sudah lebih baik dari dua hari sebelumnya."Terdengar suara Levi yang menjadi lebih dingin dari belakang. "Evelyn, siapa dia?"Aku menoleh dan menjawab, "Terapis rehabilitasiku."Kian mengangguk pada Levi. "Halo."Levi tidak menanggapinya. Matanya tertuju pada tangan Kian yang memegang tasku. "Apa seorang terapis perlu bantu kamu pegang tas?"Kian tersenyum. "Cuma sekalian."Levi menatapku. "Kamu biarkan seorang pria asing menyentuh barangmu dengan begitu saja?"Aku tiba-tiba merasa semua ini sangat absurd. Saat Lyra mengenakan gaun dan korsaseku, atau mengubah sumpahku, dia mengatakan aku berhati sempit jika aku berkomentar. Sekarang, Kian hanya memegang tasku. Namun, dia langsung mempermasalahkannya."Levi, kamu sudah terlalu banyak ikut campur."Wajahnya seketika menegang.Lyra berbicara dengan pelan, "Levi, ayo pergi. Sekarang, sudah ada yang temani Kak Eve."Levi m

  • Hujan Berhenti Sebelum Pernikahan   Bab 6

    Pada hari ketiga aku kembali ke rumah, Levi meneleponku untuk yang pertama kalinya. Aku tidak menjawab. Dia pun mengirim pesan.[ Kita tunda saja dulu pernikahannya. Setelah kamu kembali, kita baru diskusi lagi. ]Aku membalas.[ Nggak ada yang perlu didiskusikan lagi. ]Beberapa menit kemudian, dia mengirim balasan lagi.[ Evelyn, kamu harus tahu batas. ] Aku menatap empat kata itu dan tiba-tiba tertawa.Ibuku keluar dari dapur dengan membawa sup. Saat melihat ekspresiku, dia tidak menanyakan apa pun. Dia hanya meletakkan mangkuk itu di depanku. "Minumlah. Apa telingamu pernah sakit belakangan ini?"Aku menggeleng. "Nggak kok."Sebenarnya, keadaan telingaku sedang kurang baik. Saat ada perubahan emosi, telinga kananku akan terus berdengung.Dulu, Levi juga mengetahui hal ini dan akan memelankan suaranya.Belakangan ini, suasana di rumah sangat hening. Begitu hening hingga aku akhirnya bisa mendengar suara diriku sendiri.Sore harinya, aku pergi ke rumah sakit untuk melakukan pemerik

  • Hujan Berhenti Sebelum Pernikahan   Bab 5

    Koordinator WO itu terdiam selama beberapa detik sebelum membalas.[ Bu Evelyn sudah yakin? ]Aku melihat permukaan payung putih yang mengintip dari kantong sampah."Ya." Setelah mengambil keputusan itu, aku tidak menangis, hanya membuka setiap kotak di ruang tamu.Aku harus mengembalikan suvenir, menyobek kartu meja, lalu menyimpan buku tamu ke laci paling bawah. Awalnya, aku juga berniat membuang album foto itu. Namun, jari-jariku berhenti bergerak ketika aku membuka halaman terakhir.Itu adalah foto yang diambil pada hari pertunangan kami. Levi berdiri di sebelah kananku dan sedang membungkuk untuk menyesuaikan alat bantu dengarku. Tatapannya di foto itu begitu lembut. Aku menatapnya selama beberapa detik, lalu menutup album itu.Terdengar suara kunci di pintu. Levi sudah kembali. Melihat kotak-kotak yang terbuka berserakan di lantai, ekspresinya berubah muram."Apa yang kamu lakukan?"Aku menutup kotak suvenir terakhir sambil menjawab, "Retur barang."Dia melangkah mendekat dengan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status