مشاركة

3. TOPENG IBU PERI YANG RUSAK

مؤلف: FWW
last update تاريخ النشر: 2026-03-27 21:42:35

Kamar wardrobe Mariska adalah definisi dari kemewahan yang memuakkan. Dindingnya dilapisi beludru krem, rak-rak kaca memamerkan koleksi tas seharga satu unit apartemen, dan lampu gantung kristal yang membiaskan cahaya keemasan. Di tengah ruangan itu, Mariska duduk di depan meja rias yang dipenuhi ring-light besar. Wajahnya dipoles sempurna, bulu matanya lentik, dan senyumnya... ah, senyum itu adalah aset terbesarnya.

Di depan layar ponselnya, angka penonton Live Streaming terus merangkak naik. 15.000... 20.000... 30.000 penonton.

"Halo, kesayangan Ibu Peri! Hari ini aku mau unboxing koleksi terbaru dari Paris yang baru sampai tadi pagi," suara Mariska terdengar sangat manis, begitu lembut hingga hampir terdengar seperti nyanyian. "Semua hasil penjualan barang pre-loved minggu lalu sudah aku donasikan ke panti asuhan, lho. Terima kasih ya sudah bantu anak-anak yatim kita."

Kolom komentar dibanjiri pujian. 'Cantik banget Kak Mariska!', 'Benar-benar malaikat tanpa sayap!', 'Panutan banget sih!'.

Mariska tersenyum sombong di balik kamera. Baginya, penonton ini hanyalah angka yang bisa dikonversi menjadi saldo bank. Donasi? Dia hanya memberikan sisa-sisa pakaian bekas yang sudah tidak layak pakai, sementara uangnya ia gunakan untuk membeli serum wajah seharga gaji buruh satu bulan.

Namun, di sudut gelap apartemen yang sama, di dalam sebuah ruangan pengap yang jarang dibersihkan, seorang gadis kecil bernama Marion duduk meringkuk di atas lantai yang dingin. Tubuhnya kurus, mengenakan baju lusuh yang kontras dengan kemewahan Ibunya di ruangan sebelah. Marion sedang menatap dinding, berusaha menahan suara isak tangisnya agar tidak mengganggu "pertunjukan" Mariska.

Tiba-tiba, lampu di kamar wardrobe Mariska berkedip.

"Eh, ada masalah teknis sedikit ya, kesayanganku," ucap Mariska, tetap menjaga senyumnya meski matanya mulai memancarkan kekesalan.

Di lantai empat puluh dua The Horizon, jari-jari Reihan bergerak secepat kilat di atas keyboard. Mata Icy Blue-nya terpantul di monitor yang menampilkan wajah Mariska.

"Malaikat tanpa sayap, ya?" bisik Reihan dengan nada sinis. "Mari kita lihat bagaimana rupamu tanpa cahaya lampu panggung, Mariska."

Reihan menekan tombol Override.

Seketika, kendali kamera di ponsel Mariska terlepas. Mariska panik saat melihat layar ponselnya berubah menjadi hitam selama dua detik, sebelum kemudian berganti menampilkan sudut pandang lain. Penonton di seluruh negeri tersentak. Alih-alih wajah cantik Mariska, mereka kini melihat pemandangan dari kamera yang disembunyikan di langit-langit ruangan gelap di rumah yang sama.

Marion terlihat di sana. Gadis kecil itu sedang memegang sepotong roti kering yang sudah keras, air mata membasahi pipinya yang kotor.

"Ma... aku lapar... boleh minta minum?" suara Marion yang parau terdengar jernih di Live Streaming tersebut.

Mariska belum menyadari bahwa kameranya telah berpindah. Ia mengira sinyalnya hanya sedang buruk. "Duh, ini kenapa sih?! Marion! Diam kau di sana! Jangan mengganggu, atau kau tidak akan makan lagi besok!" teriak Mariska dengan nada suara yang melengking kasar, penuh kebencian. Wajah "Ibu Peri"-nya berubah menjadi seringai iblis yang mengerikan.

Seluruh penonton terdiam. Kolom komentar berhenti sesaat, lalu meledak dengan ribuan cacian yang bergerak begitu cepat hingga sulit dibaca. 'ITU SUARA MARISKA?!', 'JAHAT BANGET!', 'JADI SELAMA INI MARION DISIKSA?!'.

Mariska akhirnya menatap layar ponselnya. Matanya membelalak saat melihat wajah Marion yang menangis bersanding dengan wajahnya yang sedang marah besar di layar split-screen.

"Tidak! Ini... ini editan! Ini hoaks!" Mariska mencoba meraih ponselnya untuk mematikan siaran, tapi ponsel itu panas seperti terbakar.

Tiba-tiba, suara pria yang berat dan dalam menggema dari speaker pintar di ruangan itu, suaranya masuk langsung ke dalam siaran Live.

"Kebohongan butuh ribuan kata untuk bertahan, tapi kebenaran hanya butuh satu detik untuk menghancurkannya, Mariska."

Itu suara Reihan. Dingin dan menusuk hingga ke tulang.

Mariska menjerit, membanting ponselnya ke lantai, tapi siaran itu tidak mati. Cahaya dari ponsel yang pecah itu tetap memproyeksikan gambar Marion ke dinding kamarnya yang mewah, seolah-olah dosa-dosanya kini mengepungnya.

Di luar apartemen, Reihan berdiri di koridor gelap. Ia mengenakan seragam teknisi penyedia layanan internet yang ia curi sore tadi. Ia menatap pintu apartemen Mariska yang tertutup rapat. Dari dalam, terdengar suara barang-barang pecah dan teriakan histeris Mariska yang kehilangan kendali.

Reihan berjalan menjauh, namun langkahnya terhenti di depan sebuah pintu kecil di dekat dapur luar—pintu menuju kamar Marion. Ia mengeluarkan sebuah kunci duplikat digital dari sakunya.

Klik.

Pintu terbuka. Cahaya dari koridor masuk ke dalam ruangan gelap itu, mengenai kaki kecil Marion yang gemetar. Reihan berlutut, wajahnya masih tertutup masker hitam dan tudung hoodie.

"Paman?" tanya Marion dengan suara sangat kecil, matanya yang sembab menatap pria asing itu dengan ketakutan yang bercampur harapan.

Reihan tidak menjawab dengan kata-kata. Ia merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil berisi biskuit cokelat mahal dan sebuah boneka beruang kecil yang lembut. Ia meletakkannya di depan Marion.

"Makanlah," bisik Reihan pelan. "Mulai malam ini, kau tidak akan pernah lapar lagi dalam kegelapan."

Tepat saat Marion hendak meraih boneka itu, sebuah bayangan besar muncul di ambang pintu. Mariska berdiri di sana dengan rambut acak-acakan dan mata yang merah karena gila. Ia memegang sebuah vas bunga kristal yang pecah, siap menghantam siapa pun.

"KAU! KAU YANG MELAKUKAN INI!" jerit Mariska sambil menerjang ke arah pria ber-hoodie itu.

Reihan menangkap pergelangan tangan Mariska dengan satu tangan, seolah-olah tenaga wanita itu hanyalah debu. Ia memutar tangan Mariska hingga vas pecah itu jatuh dan hancur di lantai. Reihan mendekatkan wajahnya ke telinga Mariska, membiarkan wanita itu melihat kilatan mata Icy Blue-nya dari jarak dekat.

"Sepuluh tahun lalu, kau tertawa saat mereka menghancurkan hidupku," bisik Reihan dengan nada yang membuat darah Mariska membeku. "Hari ini, dunia sedang menertawakanmu."

Reihan mendorong Mariska hingga terjatuh, lalu ia menoleh ke arah Marion. Di saat yang sama, ponsel di saku Mariska berbunyi lagi. Sebuah notifikasi berita muncul di layar yang pecah.

ARDIAN : KAMPANYE DISABOTASE

MARISKA : TERBUKTI SIKSA ANAK SENDIRI.

SKANDAL BESAR MENGGUNCANG KOTA!'

Dan di balik pintu utama, suara gedoran keras terdengar. "Buka pintunya! Polisi!"

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • IBLIS BERMATA BIRU ( Pembalasan Sang Hantu Digital )   6. 24 JAM MENUJU KEBANGKRUTAN

    Pukul empat pagi di kantor pusat pemenangan Ardian adalah sarang kepanikan. Ruangan yang biasanya riuh dengan strategi politik itu kini dipenuhi aroma kopi basi dan kepulan asap rokok yang menyesakkan. Ardian duduk di kursi kebesarannya, dasinya sudah longgar, rambutnya yang klimis berantakan. Di hadapannya, tiga orang pria bertubuh tegap dari vendor logistik kampanye berdiri dengan wajah tidak bersahabat."Pak Ardian, kami sudah menyelesaikan pemasangan baliho dan panggung di lima titik sesuai kontrak. Jatuh temponya subuh ini. Jika pelunasan tidak masuk, kru kami akan membongkar semuanya sebelum matahari terbit," ucap pria tertua dengan nada mengancam.Ardian memijat pelipisnya yang berdenyut. "Tenanglah. Uangnya sudah siap di rekening yayasan. Bendaharaku sedang memprosesnya."Ia meraih laptopnya, mencoba masuk ke portal Internet Banking prioritas miliknya. Jemarinya mengetikkan kata sandi dengan cepat. Namun, alih-alih melihat saldo miliaran rupiah, layar monitornya hanya menampil

  • IBLIS BERMATA BIRU ( Pembalasan Sang Hantu Digital )   5. PENYUSUP DI BALIK DINDING

    Apartemen Mariska yang biasanya riuh dengan suara musik dan tawa palsu para sosialita, kini terasa seperti bangkai gedung yang membusuk. Sejak skandal penyiksaan itu meledak di live streaming, pintu depan rumah itu tidak berhenti digedor wartawan, hingga akhirnya polisi memasang garis kuning. Mariska mengunci diri di kamar utama, menenggelamkan diri dalam botol-botol wine mahal dan obat penenang, membiarkan rumahnya jatuh dalam kegelapan.Namun, bagi Reihan, garis polisi hanyalah pita dekorasi yang tidak berarti.Ia bergerak di dalam saluran udara, merayap dengan presisi seorang teknisi bayangan. Sepatu taktisnya tidak menimbulkan suara saat ia turun melalui panel plafon di ruang lobi dalam. Reihan mendarat dengan lentur, tudung hoodie-nya tetap menutupi wajah. Mata Icy Blue-nya berpendar dingin, memindai ruangan yang kini berantakan dengan pecahan kaca dan botol kosong.Langkah pertamanya adalah menuju meja rias Mariska. Dengan sarung tangan hitam, ia mulai memindahkan barang-barang

  • IBLIS BERMATA BIRU ( Pembalasan Sang Hantu Digital )   4. JAHITAN YANG TERBUKA KEMBALI

    Malam di Jakarta Pusat seharusnya menjadi waktu bagi Bimo untuk berpesta. Sebagai pemilik sasana bela diri ternama yang melatih anak-anak pejabat dan pengusaha, dunianya adalah tentang otot, kekuasaan, dan rasa hormat yang dipaksakan. Namun, sejak kejadian di lobi gedung Media Center malam itu, rasa hormat itu berganti menjadi paranoia yang mencekik.Bimo berdiri di depan loker pribadinya di dalam ruang ganti VIP sasananya. Napasnya masih menderu setelah sesi latihan tanding yang brutal. Caranya meluapkan ketakutan yang tidak bisa ia jelaskan. Keringat bercucuran dari tubuh kekarnya yang penuh tato, uap panas seolah menguar dari pundaknya yang lebar. Ia memasukkan kunci, memutarnya, dan menarik pintu besi itu terbuka.Deg.Jantung Bimo seolah berhenti berdetak. Di atas tumpukan handuk bersihnya, terdapat sebuah benda yang tidak seharusnya ada di sana. Sebuah kotak plastik transparan kecil berisi gulungan benang jahit medis berwarna hitam dan sebilah jarum bedah melengkung yang berkila

  • IBLIS BERMATA BIRU ( Pembalasan Sang Hantu Digital )   3. TOPENG IBU PERI YANG RUSAK

    Kamar wardrobe Mariska adalah definisi dari kemewahan yang memuakkan. Dindingnya dilapisi beludru krem, rak-rak kaca memamerkan koleksi tas seharga satu unit apartemen, dan lampu gantung kristal yang membiaskan cahaya keemasan. Di tengah ruangan itu, Mariska duduk di depan meja rias yang dipenuhi ring-light besar. Wajahnya dipoles sempurna, bulu matanya lentik, dan senyumnya... ah, senyum itu adalah aset terbesarnya.Di depan layar ponselnya, angka penonton Live Streaming terus merangkak naik. 15.000... 20.000... 30.000 penonton."Halo, kesayangan Ibu Peri! Hari ini aku mau unboxing koleksi terbaru dari Paris yang baru sampai tadi pagi," suara Mariska terdengar sangat manis, begitu lembut hingga hampir terdengar seperti nyanyian. "Semua hasil penjualan barang pre-loved minggu lalu sudah aku donasikan ke panti asuhan, lho. Terima kasih ya sudah bantu anak-anak yatim kita."Kolom komentar dibanjiri pujian. 'Cantik banget Kak Mariska!', 'Benar-benar malaikat tanpa sayap!', 'Panutan bange

  • IBLIS BERMATA BIRU ( Pembalasan Sang Hantu Digital )   2. RETAKAN PERTAMA

    Suara riuh rendah di lapangan kampanye berubah menjadi gumaman horor yang mencekam. Ribuan pasang mata kini tidak lagi menatap Ardian sebagai pahlawan rakyat, melainkan sebagai pria yang berdiri di depan bukti kekejaman masa lalu. Audio tangisan remaja yang memohon ampun itu terus bergema, memantul di antara gedung-gedung tinggi, menciptakan atmosfer yang menyesakkan dada.Di atas panggung, Ardian merasa oksigen di sekitarnya mendadak hilang. Lampu sorot yang tadinya terasa membanggakan kini seolah-olah menjadi lampu interogasi yang menguliti setiap lapisan kemunafikannya. Ia mencoba berdehem, tangannya yang memegang mikrofon gemetar hebat hingga suaranya terdengar goyah di seluruh penjuru lapangan."Harap tenang... ini... ini adalah sabotase dari lawan politik! Teknisi sedang menangani ini!" teriak Ardian, namun suaranya pecah di akhir kalimat.Ia menoleh ke belakang, menatap videotron yang masih menampilkan gambar kacamata hancur bersimbah darah. Foto itu seolah-olah memiliki nyawa,

  • IBLIS BERMATA BIRU ( Pembalasan Sang Hantu Digital )   1. IBLIS BERMATA BIRU

    Di pusat Jakarta yang bising, lantai empat puluh dua apartemen The Horizon adalah sebuah kuburan sunyi. Hanya ada pendar biru dari tiga monitor melengkung yang menerangi rahang tegas seorang pria di balik hoodie hitam. Reihan. Tangannya diam, namun matanya yang sedingin es tertutup lensa Icy Blue menatap tajam ke arah layar tengah.Di sana, wajah Ardian terpampang raksasa. Pria itu sedang berdiri di atas panggung kampanye, dikelilingi ribuan lautan manusia yang memuja-mujanya seperti nabi baru. Ardian tampak sempurna, jas custom-made, senyum putih cemerlang, dan retorika yang membius.Pria itu tersenyum lebar, melambaikan tangan dengan gaya karismatik yang sangat terukur. Di belakangnya, sebuah videotron raksasa menampilkan wajahnya yang sedang tersenyum. Citra seorang calon pemimpin yang jujur, bersih, dan berwibawa."Keadilan adalah hak setiap warga! Saya tidak akan membiarkan ada satu pun dari kalian yang tertindas!" Suara Ardian menggelegar melalui pengeras suara, disambut teriaka

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status