MasukKeheningan yang tercipta setelah jawaban Richard seolah membekukan oksigen di ruang tamu utama. Margareth Serphent menyipitkan mata, tatapannya yang tajam bak belati kini hanya fokus tertuju pada wajah polos sang cucu. Ia bukanlah tipe wanita yang dengan mudahnya percaya pada dongeng, apalagi jika dongeng itu keluar di saat putranya bersikap begitu mencurigakan.
"Malaikat?" Margareth mengulang kata itu dengan nada rendah, penuh cemoohan. Ia melirik Roberto yang masih berdiri kaku, jemarinya terlihat tegang di balik jas mahalnya. "Sejak kapan mansion ini menjadi tempat suci bagi malaikat, Roberto? Ataukah malaikat yang Richard maksud adalah seseorang dari masa lalu yang kau bangkitkan dari kubur?" Margareth melangkah satu demi satu, mendekati tangga menuju lantai dua. Suara hak tingginya berpadu dengan marmer, seperti granat aktif yang tinggal menghitung mundur ledakan. "Aku ingin melihat 'malaikat' itu sendiri. Mungkin aku perlu memastikan dia takkan membawa sial untuk pertunanganmu dengan Eliza." Jantung Roberto berdentum keras, ia sudah siap menarik senjatanya bila sang ibu nekat membuka rak buku itu. Tapi, tepat sebelum Margareth menapaki anak tangga pertama, sebuah tongkat kayu dengan kepala perak menghantam lantai menciptakan suara dentuman yang menggetarkan ruangan. Brak! "Cukup, Margareth." Langkah Margareth terhenti. Ia menoleh perlahan pada suaminya. Justin Serphent berdiri dari kursi kebesarannya, auranya yang berat mendominasi penjuru ruangan. Ia tidak menatap istrinya, namun menatap Roberto dengan tatapan tajam seperti ujung pisau yang seolah bisa menembus tengkorak putranya. "Richard hanya anak kecil yang sedang berimajinasi," ucapnya dingin, tapi ada penekanan ganjil di sana. Justin berjalan mendekati Roberto, berdiri tepat di hadapannya. Jarak mereka begitu dekat hingga Roberto bisa mencium aroma cerutu mahal dan otoritas yang mematikan dari ayahnya. Justin meletakkan tangannya di bahu Roberto, meremasnya dengan kuat. "Kau sudah dewasa, Roberto. Kau tahu cara merapikan 'mainanmu' agar tidak merusak nama besar Serphent. Aku tidak peduli apa yang kau sembunyikan, selama itu tidak mengganggu aliansi kita dengan Adam hingga berujung kehancuran." setelah menyelesaikan ucapannya, ia juga memberikan satu anggukan kecil... sebuah kode rahasia bahwa dirinya tahu ada Rebecca di sana, tapi ia memilih melindunginya dari Margareth demi harga diri putranya. "Ayo pergi, Margareth. Ada urusan di dermaga yang lebih penting daripada mengejar imajinasi seorang bocah," perintah Justin tanpa bantahan. Margareth mendesis kesal, tapi ia tidak berani membantah suaminya. Dengan satu tatapan penuh kebencian terakhir pada putranya, ia berbalik dan mengikuti langkah Justin keluar mansion. --- Di balik rak buku yang dingin, Rebecca terduduk di lantai yang beralaskan karpet tebal namun terasa mencekam. Kegelapan di sana tidak total, ada lampu remang yang menyala otomatis. Sambil bernapas kesusahan karena menahan rasa nyeri yang datang lagi dari perutnya, Rebecca mulai mengedarkan pandangan. Ruangan ini tidak luas, namun isinya berhasil membuat jantung Rebecca seolah berhenti berdetak. Di dinding, berjajar bingkai foto berbagai ukuran. Ia merangkak pelan, mengabaikan rasa perih di jahitan operasinya. Netranya memanas begitu melihat foto pernikahan mereka empat tahun lalu... foto yang dulu sempat ia pikir sudah dibakar oleh Margareth. Di sana, ia dan Roberto tersenyum sangat tulus. Ada juga foto mereka saat menggendong Richard yang baru lahir. Di foto itu, tatapan Roberto bukan tatapan "pemilik" yang gila seperti sekarang, namun tatapan seorang ayah yang penuh kebanggaan. Rebecca menyentuh kaca bingkai itu. Ingatannya membawanya ke masa lalu. Ia teringat bagaimana dulu Roberto rela bangun tengah malam hanya untuk memijat kakinya yang bengkak saat hamil Richard. Ia teringat saat mengidam hal aneh: ingin belajar menembak. Pria itu dengan sabar dan penuh tawa, memeluknya dari belakang sambil mengarahkan tangan Rebecca untuk menarik pelatuk di tempat latihan. "Fokus, Ca. Kau harus bisa melindungi dirimu sendiri jika aku tidak ada," bisik suara Roberto di memorinya. Perasaan cinta yang telah lama ia kunci rapat-rapat dengan rasa benci, mendadak hadir sebentar. Menghangatkan hatinya yang beku, hingga senyum tipis muncul. Tapi, begitu ia mendengar suara bentakan Margareth dari balik dinding, kehangatan itu menguap, digantikan oleh rasa takut yang luar biasa. Rasa takutnya pada Roberto sekarang jauh melebihi sisa cintanya. Roberto yang sekarang adalah monster yang merenggut Jourell darinya. --- Begitu pintu besar itu tertutup dan deru mobil Rolls-Royce menjauh, Roberto hampir jatuh terduduk. Ia menarik napas dalam-dalam, paru-parunya terasa terbakar. Sisa ketegangan sisa orang tuanya masih menggantung tipis di udara tapi setidaknya keadaan mansion sudah kembali pulih. Roberto menoleh pada Richard yang masih berdiri menatapnya bingung. "Richard... ke kamar sekarang bersama Emma," perintahnya dengan Suara serak. Emma bergegas memegang tangan mungil Richard untuk pergi ke kamar, sementara ia sendiri bergegas lari menuju kamarnya. Roberto harus memastikan Rebecca bernapas di dalam sana. Roberto membuka pintu rahasia itu dengan napas yang masih memburu. Ia melihat Rebecca sedang terduduk lemas di antara tumpukan foto masa lalu mereka. Bukannya marah, pria itu justru menunjukkan wajah yang hancur. Ia duduk di lantai, bersandar pada dinding yang sama dengan Rebecca, terdapat celah jarak namun auranya terasa begitu dekat. "Ibu masih sama," bisik Roberto tiba-tiba, suaranya parau. "Dia masih menganggap ku bidak catur yang bisa ia pindahkan ke mana saja. Ia bersikeras menjodohkan ku dengan Eliza, Ca. Persis seperti apa yang dia lakukan saat dia memisahkan kita dulu." Rebecca tertegun. Image Roberto sebagai penculik kejam yang ia benci mendadak lenyap, digantikan sisi pria yang tersesat dalam ambisi keluarganya sendiri. Ketakutan lama Rebecca kembali merayap; bayangan bagaimana ibu Roberto itu menghancurkan hidupnya dulu sekarang begitu nyata dari sebelumnya. Roberto menoleh pada Rebecca, matanya yang biasa dingin kini terlihat bergetar. "Katakan padaku... jika kali ini aku menolaknya habis-habisan, apa aku akan benar-benar menjadi anak durhaka? Atau aku hanya sedang mencoba menyelamatkan sisa-sisa kewarasanku yang ada padamu?" Rebecca diam, lidahnya kelu. Ia terjebak dalam dilema antara benci yang mendalam dan rasa simpati yang muncul tanpa permisi. Di satu sisi, ia membenci Margareth, di sisi lain, ia tahu Roberto adalah pria yang tetap merampas kebahagiaannya bersama Elion. --- (St. Mary's Hospital, London. 2 jam kemudian.) Suasana di mansion yang mulai tenang justru kontras dengan kekacauan di rumah sakit. Elion Hale baru saja selesai berteriak pada tim IT-nya saat mendadak pandangannya gelap. Cahaya lampu neon di atasnya seolah berputar hebat. "Tuan Elion!" Suara Henry Foster adalah hal terakhir yang Elion dengar sebelum kegelapan mengambil paksa kesadarannya. Tubuhnya ambruk menghantam lantai yang dingin. Ia jatuh pingsan, energinya habis total setelah berhari-hari tidak menyentuh makanan ataupun memejamkan mata. Dokter segera membawanya ke ruang perawatan. "Dia mengalami nervous breakdown akut dan kelelahan ekstrem. Tubuhnya menyerah sebelum mentalnya," jelas dokter pada Arthur dan Beatrice yang terlihat pucat. "Saya harus memberinya sedatif dosis tinggi agar otaknya bisa beristirahat. Dia mungkin akan tertidur sangat lama. Tiga hari. Selama tiga hari penuh, Elion Hale tertidur pulas dalam pengaruh obat, seolah dunianya berhenti berputar. Di samping ranjangnya, Jourell mulai memperlihatkan tanda-tanda kehidupan yang lebih baik. Bayi itu sekarang sudah dipindahkan dari boks transparan ke pelukan Eleanor. Meskipun tanpa ASI Rebecca, Jourell mau menerima susu formula dan suhu tubuhnya stabil. Kulitnya yang tadinya kemerahan, sekarang mulai bersih dan tangisnya lebih kuat. Matanya yang bulat kecil mulai fokus, seolah sedang "mengumpulkan kekuatan" untuk menunggu ibunya kembali. Henry Foster duduk di kursi samping ranjang menantunya, menatap Elion yang masih begitu pucat. Tangannya memegang botol susu Jourell, ia menghela napas panjang, bau tembakau samar masih menempel di jaket lusuhnya. "Istirahatlah, Elion." gumamnya dengan suara serak. "Karena saat kau bangun nanti, kau harus punya kekuatan sepuluh kali lipat untuk menjemput istrimu dari neraka itu." ***Bandara Heathrow malam itu ramai seperti biasa. Arus penumpang mengalir masuk ke arah pintu keberangkatan. Koper-koper bergerak di atas lantai marmer yang mengkilap, suara pengumuman penerbangan bercampur dengan deru mesin pendingin udara yang tidak pernah berhenti. Roberto berdiri di depan konter check-in, mengenakan kemeja yang masih rapi meski sudah seharian penuh bergerak. Dokumennya sudah di tangan, tasnya berada di troli. Semua sudah diurus Darwin seperti biasa... seperti selalu. Ia menatap ke atas konter; Bali : 11.45. pm Tidak ada perubahan di raut wajahnya. "Kau tidak membawa jaket?" suara Eliza muncul dari samping. Roberto meliriknya, "Kita pergi ke Bali, bukan Islandia." Eliza menahan sesuatu di balik bibirnya, "Aku hanya bertanya." Roberto menyerahkan dokumennya ke petugas konter, matanya tak melihat Eliza. "Aku tahu." Keheningan menyeruak di antara mereka, jenis hening yang sudah terlalu familiar dalam seminggu terakhir. Eliza menatap profil suaminya yang berdiri deng
Sore itu, townhouse milik Elion masih menyimpan kehangatan dari malam sebelumnya. Rebecca sedang melipat pakaian kecil Jourell di ruang keluarga saat ponsel Elion bergetar di atas meja. Pria itu mengangkatnya, membaca nama di layar. Willy, asistennya. "Hei, ada apa?" suara Elion santai, namun matanya mengikuti gerak Rebecca yang belum menyadari telepon itu. "El, tadi Darwin meneleponku." suara Willy di seberang terdengar hati-hati. "Richard... minta menginap di sana malam ini. Roberto meminta Darwin mengantarnya." Elion tak langsung menjawab. Satu detik, dua detik, tiga. "Oke." jawabnya terlalu datar. Sambungan terputus, Elion menghampiri Rebecca setelah meletakkan ponsel itu di atas meja. Rebecca mendongak, menangkap sesuatu di wajah suaminya yang tidak bisa disembunyikan. "Siapa?" Elion menatapnya, beberapa detik hanya diam— Rebecca memahami diamnya. Diam yang sedang menyusun kata-kata agar tidak terdengar seperti seharusnya. "Willy." jawabnya. "Richard minta mengina
Kamar itu masih berantakan saat Eliza menutup pintu dengan keras... tidak dibanting, tapi cukup untuk menjelaskan apa yang tidak bisa ia ucapkan dengan kata-kata. Ia berdiri di tengah ruangan, menatap sekeliling. Gaun pagi yang membalut tubuhnya masih rapi, rambutnya masih tersisir rapi, namun dibalik itu semua ada sesuatu yang retak. Roberto keluar tadi dengan cara yang paling menyebalkan— tidak marah, tidak berteriak. Hanya dingin dengan kalimat singkat yang menghantam sasaran tanpa perlu membidik. 'Richard bukan proyek yang harus kau kendalikan.' Eliza duduk di pinggir ranjang, tangannya mengepal di atas paha. Wanita itu sudah seminggu mencoba... bangun lebih awal dari Roberto untuk memastikan sarapan sudah tersedia, duduk di lantai bermain mobil-mobilan bersama anak yang bahkan belum sepenuhnya menerimanya. Eliza sudah mencoba hal-hal yang tidak pernah ada dalam bayangannya saat ia membayangkan menjadi nyonya Serphent. Dan hasilnya? Ditegur di depan mertuanya karena es krim.
Seminggu berlalu sejak pernikahan itu. Keadaan Mansion Victoria tidak berubah, dindingnya tetap sama, udaranya tetap sama, bahkan aroma kayunya yang bercampur dengan lilin putih di koridor pun tetap sama. Yang berubah hanya satu; ada wanita tambahan yang sedang berjalan di dalamnya, mencoba terlihat seperti ia memang selalu ada di sana. Eliza belajar bahwa mansion ini tidak ramah pada orang baru. Staf menyapanya dengan hormat, namun tak hangat. Darwin selalu ada, tapi tidak pernah benar-benar berbicara dengannya, kecuali jika ada hal yang penting. Dan Roberto... pria itu bahkan tidak perlu bersikap dingin karena ketidakhadirannya sudah cukup berbicara. Yang tersisa hanya Richard. Pagi itu, Eliza duduk di meja makan bersama Richard. Ini bukan pertama kalinya mereka sarapan berdua... sejak beberapa hari lalu, ia mulai terbiasa duduk di sisi bocah itu, mengikuti kebiasaan paginya. Richard makan dengan tenang. Kakinya berayun-ayun di bawah kursi, sesekali bergumam sendiri tentang sesu
Mansion Victoria terasa berbeda malam hari. Bukan karena sepi, bangunan sebesar ini tidak pernah benar-benar sepi, melainkan karena keheningannya seperti disengaja. Seperti rumah yang menahan napas. Roberto menutup pintu kamar tanpa suara. Kemeja yang ia kenakan sudah terganti dengan pakaian rumah yang sedikit longgar, dengan rambut basah dari shower. Langkah kakinya menuju ke depan jendela, membiarkan pandangannya jatuh ke halaman mansion yang gelap. Patung Yunani di sudut taman itu berdiri seperti biasa, dingin dan tak bergerak, menjadi satu-satunya saksi bisu malam ini. Tak lama, pintu kamar terbuka. Eliza berjalan dengan kedua tangannya membawa nampan kecil berisi satu cangkir teh yang mengepul dan sepiring biskuit tipis. Ia sudah berganti pakaian tidur, wajahnya bersih tanpa riasan dengan rambut terurai. Untuk pertama kali sejak pernikahan, wanita itu hanyalah wanita biasa, tanpa topeng yang mengharuskannya mengangkat dagu serta tersenyum palsu. "Aku membuatkan teh," ucapnya p
Rebecca masuk ke dalam mobil setelah Elion membukakan pintu untuknya. Ia diam beberapa detik karena isi kepalanya menampilkan potongan-potongan kejadian pernikahan tadi. Altar. Tatapan Roberto yang sepersekian detik mencarinya… sebelum akhirnya berpaling, nama pengantin yang salah, membuat Rebecca menelan ludah untuk memaksa pikirannya berhenti di sana.'Ini bukan urusanmu lagi.' katanya pada diri sendiri, 'Tidak lagi.'Namun tubuhnya tidak selalu mendengarkan isi pikiran. Tangannya bergetar begitu meraih seatbelt, berharap pria di sampingnya tidak menyadari itu. Tapi... Elion menyadarinya. Pria itu tidak berkata apa-apa, hanya memastikan istrinya duduk dengan nyaman sebelum menutup pintu hati-hati. Seperti seseorang yang tahu bahwa ada hal-hal yang sebaiknya disimpan sendiri tanpa diucapkan.Setelah duduk di kursi kemudi, mobil mereka melaju menyusuri kota London yang sibuk seperti biasa. Rebecca menyandarkan kepalanya di jendela, mengabsen jalanan, lampu-lampu, dan gedung-gedung tin







