Share

BAB 5

Penulis: my_ladyyy
last update Tanggal publikasi: 2026-02-09 18:08:33

Keheningan yang tercipta setelah jawaban Richard seolah membekukan oksigen di ruang tamu utama. Margareth Serphent menyipitkan mata, tatapannya yang tajam bak belati kini hanya fokus tertuju pada wajah polos sang cucu. Ia bukanlah tipe wanita yang dengan mudahnya percaya pada dongeng, apalagi jika dongeng itu keluar di saat putranya bersikap begitu mencurigakan.

"Malaikat?" Margareth mengulang kata itu dengan nada rendah, penuh cemoohan. Ia melirik Roberto yang masih berdiri kaku, jemarinya terlihat tegang di balik jas mahalnya. "Sejak kapan mansion ini menjadi tempat suci bagi malaikat, Roberto? Ataukah malaikat yang Richard maksud adalah seseorang dari masa lalu yang kau bangkitkan dari kubur?"

Margareth melangkah satu demi satu, mendekati tangga menuju lantai dua. Suara hak tingginya berpadu dengan marmer, seperti granat aktif yang tinggal menghitung mundur ledakan. "Aku ingin melihat 'malaikat' itu sendiri. Mungkin aku perlu memastikan dia takkan membawa sial untuk pertunanganmu dengan Eliza."

Jantung Roberto berdentum keras, ia sudah siap menarik senjatanya bila sang ibu nekat membuka rak buku itu. Tapi, tepat sebelum Margareth menapaki anak tangga pertama, sebuah tongkat kayu dengan kepala perak menghantam lantai menciptakan suara dentuman yang menggetarkan ruangan.

Brak!

"Cukup, Margareth."

Langkah Margareth terhenti. Ia menoleh perlahan pada suaminya. Justin Serphent berdiri dari kursi kebesarannya, auranya yang berat mendominasi penjuru ruangan. Ia tidak menatap istrinya, namun menatap Roberto dengan tatapan tajam seperti ujung pisau yang seolah bisa menembus tengkorak putranya. "Richard hanya anak kecil yang sedang berimajinasi," ucapnya dingin, tapi ada penekanan ganjil di sana. Justin berjalan mendekati Roberto, berdiri tepat di hadapannya. Jarak mereka begitu dekat hingga Roberto bisa mencium aroma cerutu mahal dan otoritas yang mematikan dari ayahnya.

Justin meletakkan tangannya di bahu Roberto, meremasnya dengan kuat. "Kau sudah dewasa, Roberto. Kau tahu cara merapikan 'mainanmu' agar tidak merusak nama besar Serphent. Aku tidak peduli apa yang kau sembunyikan, selama itu tidak mengganggu aliansi kita dengan Adam hingga berujung kehancuran." setelah menyelesaikan ucapannya, ia juga memberikan satu anggukan kecil... sebuah kode rahasia bahwa dirinya tahu ada Rebecca di sana, tapi ia memilih melindunginya dari Margareth demi harga diri putranya.

"Ayo pergi, Margareth. Ada urusan di dermaga yang lebih penting daripada mengejar imajinasi seorang bocah," perintah Justin tanpa bantahan. Margareth mendesis kesal, tapi ia tidak berani membantah suaminya. Dengan satu tatapan penuh kebencian terakhir pada putranya, ia berbalik dan mengikuti langkah Justin keluar mansion.

---

Di balik rak buku yang dingin, Rebecca terduduk di lantai yang beralaskan karpet tebal namun terasa mencekam. Kegelapan di sana tidak total, ada lampu remang yang menyala otomatis. Sambil bernapas kesusahan karena menahan rasa nyeri yang datang lagi dari perutnya, Rebecca mulai mengedarkan pandangan. Ruangan ini tidak luas, namun isinya berhasil membuat jantung Rebecca seolah berhenti berdetak.

Di dinding, berjajar bingkai foto berbagai ukuran. Ia merangkak pelan, mengabaikan rasa perih di jahitan operasinya. Netranya memanas begitu melihat foto pernikahan mereka empat tahun lalu... foto yang dulu sempat ia pikir sudah dibakar oleh Margareth. Di sana, ia dan Roberto tersenyum sangat tulus. Ada juga foto mereka saat menggendong Richard yang baru lahir. Di foto itu, tatapan Roberto bukan tatapan "pemilik" yang gila seperti sekarang, namun tatapan seorang ayah yang penuh kebanggaan.

Rebecca menyentuh kaca bingkai itu. Ingatannya membawanya ke masa lalu. Ia teringat bagaimana dulu Roberto rela bangun tengah malam hanya untuk memijat kakinya yang bengkak saat hamil Richard. Ia teringat saat mengidam hal aneh: ingin belajar menembak. Pria itu dengan sabar dan penuh tawa, memeluknya dari belakang sambil mengarahkan tangan Rebecca untuk menarik pelatuk di tempat latihan.

"Fokus, Ca. Kau harus bisa melindungi dirimu sendiri jika aku tidak ada," bisik suara Roberto di memorinya.

Perasaan cinta yang telah lama ia kunci rapat-rapat dengan rasa benci, mendadak hadir sebentar. Menghangatkan hatinya yang beku, hingga senyum tipis muncul. Tapi, begitu ia mendengar suara bentakan Margareth dari balik dinding, kehangatan itu menguap, digantikan oleh rasa takut yang luar biasa. Rasa takutnya pada Roberto sekarang jauh melebihi sisa cintanya. Roberto yang sekarang adalah monster yang merenggut Jourell darinya.

---

Begitu pintu besar itu tertutup dan deru mobil Rolls-Royce menjauh, Roberto hampir jatuh terduduk. Ia menarik napas dalam-dalam, paru-parunya terasa terbakar. Sisa ketegangan sisa orang tuanya masih menggantung tipis di udara tapi setidaknya keadaan mansion sudah kembali pulih. Roberto menoleh pada Richard yang masih berdiri menatapnya bingung.

"Richard... ke kamar sekarang bersama Emma," perintahnya dengan Suara serak. Emma bergegas memegang tangan mungil Richard untuk pergi ke kamar, sementara ia sendiri bergegas lari menuju kamarnya. Roberto harus memastikan Rebecca bernapas di dalam sana.

Roberto membuka pintu rahasia itu dengan napas yang masih memburu. Ia melihat Rebecca sedang terduduk lemas di antara tumpukan foto masa lalu mereka. Bukannya marah, pria itu justru menunjukkan wajah yang hancur. Ia duduk di lantai, bersandar pada dinding yang sama dengan Rebecca, terdapat celah jarak namun auranya terasa begitu dekat.

"Ibu masih sama," bisik Roberto tiba-tiba, suaranya parau. "Dia masih menganggap ku bidak catur yang bisa ia pindahkan ke mana saja. Ia bersikeras menjodohkan ku dengan Eliza, Ca. Persis seperti apa yang dia lakukan saat dia memisahkan kita dulu." Rebecca tertegun. Image Roberto sebagai penculik kejam yang ia benci mendadak lenyap, digantikan sisi pria yang tersesat dalam ambisi keluarganya sendiri. Ketakutan lama Rebecca kembali merayap; bayangan bagaimana ibu Roberto itu menghancurkan hidupnya dulu sekarang begitu nyata dari sebelumnya.

Roberto menoleh pada Rebecca, matanya yang biasa dingin kini terlihat bergetar. "Katakan padaku... jika kali ini aku menolaknya habis-habisan, apa aku akan benar-benar menjadi anak durhaka? Atau aku hanya sedang mencoba menyelamatkan sisa-sisa kewarasanku yang ada padamu?"

Rebecca diam, lidahnya kelu. Ia terjebak dalam dilema antara benci yang mendalam dan rasa simpati yang muncul tanpa permisi. Di satu sisi, ia membenci Margareth, di sisi lain, ia tahu Roberto adalah pria yang tetap merampas kebahagiaannya bersama Elion.

---

(St. Mary's Hospital, London. 2 jam kemudian.)

Suasana di mansion yang mulai tenang justru kontras dengan kekacauan di rumah sakit. Elion Hale baru saja selesai berteriak pada tim IT-nya saat mendadak pandangannya gelap. Cahaya lampu neon di atasnya seolah berputar hebat.

"Tuan Elion!"

Suara Henry Foster adalah hal terakhir yang Elion dengar sebelum kegelapan mengambil paksa kesadarannya. Tubuhnya ambruk menghantam lantai yang dingin. Ia jatuh pingsan, energinya habis total setelah berhari-hari tidak menyentuh makanan ataupun memejamkan mata.

Dokter segera membawanya ke ruang perawatan. "Dia mengalami nervous breakdown akut dan kelelahan ekstrem. Tubuhnya menyerah sebelum mentalnya," jelas dokter pada Arthur dan Beatrice yang terlihat pucat. "Saya harus memberinya sedatif dosis tinggi agar otaknya bisa beristirahat. Dia mungkin akan tertidur sangat lama.

Tiga hari.

Selama tiga hari penuh, Elion Hale tertidur pulas dalam pengaruh obat, seolah dunianya berhenti berputar. Di samping ranjangnya, Jourell mulai memperlihatkan tanda-tanda kehidupan yang lebih baik. Bayi itu sekarang sudah dipindahkan dari boks transparan ke pelukan Eleanor. Meskipun tanpa ASI Rebecca, Jourell mau menerima susu formula dan suhu tubuhnya stabil. Kulitnya yang tadinya kemerahan, sekarang mulai bersih dan tangisnya lebih kuat. Matanya yang bulat kecil mulai fokus, seolah sedang "mengumpulkan kekuatan" untuk menunggu ibunya kembali.

Henry Foster duduk di kursi samping ranjang menantunya, menatap Elion yang masih begitu pucat. Tangannya memegang botol susu Jourell, ia menghela napas panjang, bau tembakau samar masih menempel di jaket lusuhnya. "Istirahatlah, Elion." gumamnya dengan suara serak. "Karena saat kau bangun nanti, kau harus punya kekuatan sepuluh kali lipat untuk menjemput istrimu dari neraka itu."

***

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • IBU ANAKKU YANG KUCERAIKAN    BAB 90

    BAB 90Waktu akhirnya berlalu. Townhouse milik Elion terasa jauh lebih sunyi daripada biasanya. Tidak ada lagi derap langkah kaki Elion yang terburu-buru menuruni tangga. Tidak ada lagi suara pintu kamar yang berderit terbuka, disusul panggilan santainya pada Rebecca hanya untuk menanyakan hal-hal sepele yang sebenarnya bisa ia cari tahu sendiri. Yang tersisa kini hanyalah ketenangan—jenis ketenangan yang dingin, berat, dan menekan dada.Rebecca berdiri membisu di depan lemari pakaian Elion. Sudah hampir dua minggu sejak makam Elion mengering, namun baru hari ini jemarinya memiliki cukup keberanian untuk sekadar menyentuh kenop pintu itu. Ia menarik napas panjang, meresapi udara yang terasa sesak, kemudian membukanya dengan perlahan.Deretan pakaian Elion masih tergantung rapi di sana. Kemeja-kemeja kerjanya, jaket tebal, beberapa sweater favoritnya, hingga celana kain yang masih tersusun presisi di rak bawah. Semuanya masih berada di posisi yang sama—seolah-olah sang pemilik hanya se

  • IBU ANAKKU YANG KUCERAIKAN    BAB 89

    "Darwin Serphent telah menemukan petunjuk baru." Adam berhenti. Pesan berikutnya masuk. "Mereka menemukan simbol pada kendaraan eksekutor." Senyum Adam perlahan menghilang, digantikan dengan sesuatu yang lebih serius—ekspresi yang jarang muncul di wajah pria itu. Ia membaca baris itu dua kali. Tiga kali. Pesan ketiga muncul: "Mereka belum mengetahui pemiliknya." Keheningan menggantung di ruangan itu, hanya ditemani suara hujan yang mengetuk kaca jendela dengan irama yang tidak peduli pada permainan manusia dibaliknya. Sudut bibir Adam kembali terangkat—perlahan, seperti seseorang yang baru saja memutuskan bahwa ini justru menjadi lebih menarik. "Kalau begitu..." ia mematikan layar ponselnya. "...mari kita lihat siapa yang lebih dulu menemukan jawabannya." Di luar sana, hujan London semakin deras meski waktu hampir masuk pukul dua belas malam. Dan tanpa diketahui Roberto Serphent, dua permainan sedang berjalan bersamaan di tengah kegelapan yang sama. Satu untuk menemu

  • IBU ANAKKU YANG KUCERAIKAN    BAB 88

    "Anda memanggil saya, Tuan Adam?" Adam mengibaskan tangan, menunjuk kursi di hadapannya. "Duduk, Mr. Vance." Pria itu mengambil tempat, Adam menggeser map hitam di mejanya ke tengah. "Saya ingin proses gugatan perceraian Eliza Ravenscroft dan Roberto Serphent resmi disiapkan mulai hari ini." Pengacara itu tidak langsung menyentuh map tersebut. Ia menatap Adam, mencoba membaca arah angin. "Perceraian? Apakah Nyonya Eliza sudah menandatangani persetujuan?" Adam mendongak, tatapannya mendingin. "Eliza tidak berada dalam posisi untuk menentukan arah keputusan keluarga Ravenscroft." Jawaban itu cukup untuk membuat sang pengacara bungkam. Adam membalik lembaran berkas satu persatu. "Tetapi saya tidak meminta Anda melayangkan gugatan ini ke pengadilan besok pagi. Persiapkan seluruh dokumennya hingga matang, tanpa cela." "Termasuk draf pembagian klaim?" "Termasuk seluruh klausul yang memojokkan pihak Serphent." Vance mengangguk paham. "Kapan kita akan mengakses pe

  • IBU ANAKKU YANG KUCERAIKAN    BAB 87

    Kembali ke pusat pemantauan, Darwin masih terpaku di depan deretan layar. Ia telah menandai setiap pemunculan titik gelap—kendaraan yang membuntut SUV Elion—pada peta digital kota London. Garis-garis merah saling terhubung, membentuk rute presisi dari luar area pemukiman townhouse, menyisir jalan arteri, hingga berakhir persis beberapa ratus meter sebelum persimpangan layang.Telepon di meja Darwin berdering, sambungan dari Willy."Aku dapat konfirmasi," kata Willy cepat. "Truk itu memang unit resmi. Pengemudinya bernama James Carter, dan rutenya diubah secara manual pada jam dua lebih dua puluh menit siang kemarin oleh manajer logistik bernama Theo Mason. Keduanya sekarang kabur."Darwin mendengarkan sambil terus memperhatikan monitor. "Berarti seseorang sengaja menempatkan truk itu di jalur Elion.""Kau menemukan sesuatu dari rekaman CCTV?" tanya Willy. "Sedan yang mengikuti Elion selalu memotong jalan ke titik blind spot kamera kota," jawab Darwin. "Pengemudinya tahu betul letak ka

  • IBU ANAKKU YANG KUCERAIKAN    BAB 86

    London belum sepenuhnya bangun saat Darwin sudah berada di dalam sebuah ruangan kecil yang dipenuhi layar monitor. Ruangan yang terletak di salah satu properti milik keluarga Serphent ini difungsikan sebagai pusat pengawasan dan koordinasi keamanan. Lampu utama sengaja dimatikan, menyisakan pancaran cahaya kebiruan dari deretan monitor yang menerangi wajah Darwin yang terlihat dingin dan serius.Di hadapannya, rekaman dari beberapa kamera pengawas terpampang sekaligus dalam beberapa sudut layar. Jalan layang, persimpangan utama, pintu keluar kawasan industri—semuanya berada dalam radius beberapa kilometer dari lokasi kecelakaan Elion. Darwin bersandar di kursinya sambil mengetuk meja pelan."Putar ulang. Mundurkan rekamannya beberapa menit."Operator di sampingnya sigap menekan tombol, rekaman kembali berjalan. SUV hitam milik Elion muncul dari kejauhan. Penanda waktu di sudut layar menunjukkan beberapa menit sebelum benturan terjadi. Darwin memperhatikan kendaraan tersebut tanpa berk

  • IBU ANAKKU YANG KUCERAIKAN    BAB 85

    Hari berikutnya datang tanpa perubahan berarti, London masih diselimuti langit kelabu. Sisa hujan malam sebelumnya meninggalkan titik-titik air di kaca jendela townhouse, sementara udara dingin masuk melalui celah-celah balkon yang belum tertutup sempurna. Townhouse yang selama dua hari terakhir dipenuhi manusia kini terasa jauh lebih lengang. Bunga-bunga duka masih memenuhi beberapa sudut ruangan, namun suara percakapan yang sebelumnya bersahut-sahutan sudah menghilang, menyisakan keluarga dekat, beberapa pelayan dan keheningan yang terasa jauh lebih berat daripada keramaian. Di lantai atas, Christopher baru saja menyelesaikan pemeriksaan Rebecca. Wanita itu terlihat berbaring di tempat tidur dengan wajah pucat. Setelah dibujuk cukup lama, ia akhirnya menghabiskan beberapa suap bubur dan meminum obat yang diberikan Christopher. Tidak banyak, tetapi setidaknya cukup untuk membuat tubuhnya bertahan. "Untuk sementara kondisinya masih stabil," ujar Christopher ketika berdiri di amban

  • IBU ANAKKU YANG KUCERAIKAN    BAB 8

    Lantai marmer Mansion Serphent memantulkan cahaya lampu kristal yang menyilaukan, tetapi atmosfer di dalamnya sedingin es. Margareth Serphent berdiri di tengah aula, jemarinya yang dihiasi berlian menggeser kartu undangan yang baru saja selesai dicetak dengan hiasan lambang dua klan besar: Serphent

  • IBU ANAKKU YANG KUCERAIKAN    BAB 7

    Arthur Hale berdiri di depan dinding layar, sorot matanya dingin. Deretan data mengalir cepat: rekaman lalu lintas komunikasi, pergerakan keamanan pribadi, serta jalur distribusi logistik yang seharusnya sudah lama tidak aktif. Salah satunya menyala kembali."Konfirmasi terakhir?" tanyanya singkat

  • IBU ANAKKU YANG KUCERAIKAN    BAB 6

    Luka bekas operasi itu hampir mengering, tapi rasa nyeri di bagian dalam tak bisa Rebecca tahan hingga membuatnya selalu menangis dalam diam, membiarkan rasa nyeri itu menggerogoti dirinya.Tapi yang jauh lebih menyakitkan lagi adalah rasa sesak di dadanya. Air susu yang terus berproduksi namun tid

  • IBU ANAKKU YANG KUCERAIKAN    BAB 4

    Cahaya matahari sore London yang pucat menembus jendela berlapis baja di kamar utama mansion Victoria. Rebecca masih terbaring lemah, matanya menatap hampa ke langit-langit kamar yang berhias ukiran rumit. Rasa nyeri di perutnya kini mulai tertutupi dengan rasa kaku dan panas dari dadanya yang kian

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status