Mag-log inLuka bekas operasi itu hampir mengering, tapi rasa nyeri di bagian dalam tak bisa Rebecca tahan hingga membuatnya selalu menangis dalam diam, membiarkan rasa nyeri itu menggerogoti dirinya.
Tapi yang jauh lebih menyakitkan lagi adalah rasa sesak di dadanya. Air susu yang terus berproduksi namun tidak menemukan muaranya. Rasa perih membuat payudaranya membengkak keras dan panas. Ia sering menangis di kamar mandi, meremas dadanya sambil terisak tanpa suara, mengingatkannya bahwa tubuhnya masih berfungsi, sementara bayinya tidak pernah diberi kesempatan. "Maafkan Mommy, Nak... Maafkan Mommy," bisiknya hancur di tengah aroma antiseptik sabun mansion yang mewah. Mansion Victoria kini bukan hanya diawasi kamera. Di setiap sudut koridor, para pelayan dengan wajah tanpa ekspresi berdiri seperti patung. Mereka bukan pelayan biasa. Tatapan mereka kosong... terlatih untuk patuh, bukan peduli. Pelayan lama telah dipulangkan, yang tersisa hanya dua pelayan senior dan seorang pengasuh Richard. Ketiganya mungkin masih menjadi manusia... setidaknya saat tuan besar mereka tidak ada di sana. Rebecca benar-benar muak dengan itu semua tapi dia tidak punya kekuatan untuk melawan, apalagi dengan kondisi seperti ini. --- "Mommy, mengapa terus memegang dada? Apa penyakit mommy belum sembuh?" suara Richard memecah lamunan Rebecca saat ia sedang menemani putranya itu menggambar di atas karpet. Rebecca memaksakan senyum tipis, mengabaikan rasa berdenyut di dadanya karena ASI yang membeku. Ia menatap putra pertamanya yang memegang krayon. Rebecca mengamatinya begitu lekat, mata itu mirip Roberto namun binarnya sangat berbeda. 'Kenapa aku harus membenci wajah yang sangat kucintai ini?' ia lalu tersenyum lebar, "Hanya sedikit sesak, Sayang. Tidak apa-apa. Lanjutkan gambarmu." setelah berinteraksi dengan putra pertamanya, wanita itu mulai menyadari bahwa dia harus sehat. Ia mulai lahap makan dan senang bermain bersama Richard, merasa "sangkar" itu sedikit hangat namun tetap menyesakkan. Di balik pintu yang sedikit terbuka, Roberto berdiri mematung. Untuk pertama kalinya dalam empat tahun, ia melihat potongan puzzle hidupnya kembali utuh. Tapi, ia tahu kedamaian ini sifatnya rapuh. Pria itu segera berbalik, melangkah keluar mansion untuk sebuah urusan, meskipun merasa terancam dengan keberadaan Elion di luar sana. Mata polos Richard masih terus menatap ibunya, rasanya benar-benar seperti mimpi. Mommy yang selama empat tahun ini hanya ada di cerita Emma, ada di depannya dan memberikan kehangatan. Ia berkata pelan, "Daddy bilang, jika Mommy sedih lagi, malaikatnya bisa pergi…" Rebecca tertegun. Kalimat itu bukan ucapan anak kecil. Itu kalimat yang ditanamkan. Roberto sedang mencuci otak putranya sendiri menjadi alat manipulasi. Ia tidak membebaskannya. Ia hanya membuat penjaranya terlihat indah. Mansion Victoria tampak tenang... seperti senjata yang belum ditarik pelatuknya. --- Mobil Roberto berhenti di depan sebuah toko kue mewah di London Pusat. Ia masuk dengan angkuh dan memesan Lemon Meringue... kue kesukaan Rebecca dulu saat mereka masih menjadi pasangan bahagia empat tahun lalu. "Pesanan untuk tuan Serphent." ucap pelayan toko dengan sopan. Bau kuenya begitu segar, sekilas menciptakan senyum kecil pada pria yang rahangnya muncul brewok tipis. "Ya. Tambahkan buket bunga lily putih di atas kotaknya." jawab Roberto datar. Tapi, keberuntungan itu tidak sepenuhnya memihak Roberto sore itu. Begitu ia hendak meraih kotak kue itu, sebuah suara sinis menghentikannya. "Kau begitu ceria untuk ukuran pria yang baru saja membatalkan pertemuan penting dengan ayahku, Roberto. Bahkan kau juga memberinya bunga seindah itu tapi tidak pernah memberiku bunga di hari pertunangan kita." suara melengking itu membuat rahang Roberto mengeras. Ia menoleh mendapati Eliza Adam berdiri di belakangnya dengan kacamata hitam besar serta tas bermerek yang ditenteng angkuh. Matanya berkilat penuh selidik melihat kotak feminim itu. "Kue ini untuk Richard, ia ingin merayakan kepulangan 'malaikat' nya di mansion." jawab Roberto tidak menunjukkan ekspresi apapun. Napasnya memburu tapi ia mencoba tenang. Eliza tertawa hambar sambil melangkah maju, hingga aroma parfumnya yang menyengat memenuhi indra penciuman Roberto. Ia menatap Roberto tajam, "Kau menghilang tiga hari, mengabaikan makan malam dengan ayahku, lalu sekarang kau muncul di toko kue membeli pesanan wanita. Dan apa tadi...Malaikat?" Eliza menyipitkan mata. "Kau tidak pernah menyebut soal malaikat sebelumnya. Sikapmu sangat aneh, Sayang." Eliza memasukan tangan ke lengan Roberto penuh posesif. "Jika kau mencoba menyembunyikan sesuatu dariku atau ayahku, kau tahu konsekuensinya." Roberto mengikis jarak mereka, menatap tunangannya dengan tatapan yang bisa membekukan darah. "Jangan pernah mencoba mendikte hidupku, Eliza. Urusi saja gaun pengantinmu dan berhenti mengikutiku." ucapan Roberto sama sekali tidak membuat wanita itu gentar. "Kau salah," Eliza tersenyum licik. "Urusanmu adalah urusanku. Ayahku menunggumu untuk makan malam malam ini," bisiknya sambil mengecup singkat rahang Roberto dengan sensual, tatapannya tajam. "Jika kau tidak datang, jangan salahkan aku apabila Ayah mengirim orang untuk mencari tahu apa sebenarnya yang sedang kau 'rayakan' di mansion itu." Roberto terdiam, ia tak punya pilihan. Jika Adam turun tangan, persembunyian Rebecca akan terancam. "Baik, aku akan datang. Namun setelah mengantar ini pulang." Setelah itu dengan cepat pria itu keluar dengan langkah besar meninggalkan Eliza sendiri. Wanita itu tidak bodoh, ia tahu pasti ada yang tidak beres dengan mansion Victoria. Tanpa Roberto tahu, Eliza mengirim pesan singkat pada ayahnya, Adam. --- Di tempat lain, di sebuah kantor dengan pemandangan kota London yang berkabut, Adam duduk di kursi kebesarannya. Di depannya, sebuah map berisi latar belakang Roberto dan 'istri pertamanya' yang dikabarkan hilang empat tahun lalu itu terbuka lebar. "Cari tahu siapa wanita yang dia sembunyikan di mansion itu," perintah Adam pada orang kepercayaannya. "Dan cari tahu siapa keluarga wanita itu. Jika dia menghalangi pernikahan putriku, nama mereka akan berhenti tercatat." Adam menatap foto Henry dan Eleanor Foster yang berhasil ia dapatkan dari intelijennya. "Jika Roberto tidak bisa dikendalikan, aku akan hancur leburkan alasan di balik pembangkangannya." --- Di ruang kendali yang kedap suara, Darwin masih berkutat dengan puluhan monitor. Jari-jarinya menari di atas keyboard, menyempurnakan sistem pengamanan mansion. Tak lama sebuah pesan terenkripsi masuk dari informan yang ia tanam di barisan staf kebersihan rumah sakit St. Mary's. Asisten Roberto itu menyipitkan mata membaca laporan singkat itu: 'Target utama (Elion Hale) kolaps. Dosis sedatif diberikan. Estimasi tidak sadar: 72 jam.' Darwin segera menghubungi Roberto yang sedang berada di mobil untuk pulang dari toko kue. "Tuan, kabar baik. Elion Hale pingsan karena kelelahan saraf. Dia akan 'mati' sementara selama tiga hari ke depan. Arthur Hale terlihat fokus menjaga putranya," jelasnya. Di seberang telepon, Roberto menyeringai tipis. "Bagus. Perketat pengawasan di radius lima mil dari mansion tetap bersih. Aku akan mengikuti permainan Eliza malam ini untuk meredam kecurigaannya. Jaga Rebecca dan Richard dengan nyawamu, Darwin." Matanya melihat ke luar jendela, 'Elion tidur, dan Rebecca sakit. Sempurna,' pikir Roberto, merasa memiliki kendali penuh atas waktu. Darwin kembali mendapat laporan, "Tuan, jaringan Hale mulai merayap di pinggiran distrik ini," lapor salah satu anak buahnya melalui interkom. "Biarkan mereka berputar-putar seperti tikus di labirin," balas Darwin dingin. "Pastikan satelit mereka hanya membaca area kosong. Selama Elion Hale tertidur, kita punya keunggulan. Tapi begitu dia bangun... pastikan seluruh dinding mansion ini sudah menjadi benteng besi. Asisten Roberto itu menatap layar yang menampilkan Rebecca sedang memeluk Richard. Tatapan Darwin tertahan sepersekian detik lebih lama, lalu ia kembali menatap layar. Malam mulai turun ketika Roberto kembali ke mansion, Roberto yang tadinya ingin mengunjungi Rebecca, mengurungkan niat karena Christopher sudah menunggunya di ruang tamu. Dokter itu membawa sebuah botol obat eksklusif yang ia serahkan pada Roberto. "Ini adalah vitamin dengan dosis tinggi yang bisa membuat luka operasi nona Rebecca mengering dengan cepat. Barang ini baru ku dapatkan pagi ini, aku hanya bisa memberikan ini sebagai pelipur laranya." Roberto menerima tanpa menjawab, ia hanya mengangguk seolah tak menganggap dokter itu ada. Begitu ia berbalik, kepalanya menoleh. "Tugasmu hanya memberi obat, Dok. Rebecca hanya membutuhkanku dan Richard disini." ucapnya ketus. "Aku mengerti." balasnya menatap pasrah melihat lantai marmer mahal di bawahnya lalu melangkah pergi. Setelah Christopher menghilang, Roberto membuka botol itu dan membuang isi vitamin itu dan menggantinya dengan vitamin murah yang tidak akan bisa mempercepat regenerasi jaringan pasca-operasi besar. "Maafkan aku, Ca. Tapi kau terlalu berharga untuk sembuh. Jika itu terjadi, kau akan punya kaki untuk berlari kembali padanya. Tetaplah sakit, Sayang... selama kau sakit, kau tidak pergi ke mana-mana." monolognya sambil tersenyum tipis. ***Bandara Heathrow malam itu ramai seperti biasa. Arus penumpang mengalir masuk ke arah pintu keberangkatan. Koper-koper bergerak di atas lantai marmer yang mengkilap, suara pengumuman penerbangan bercampur dengan deru mesin pendingin udara yang tidak pernah berhenti. Roberto berdiri di depan konter check-in, mengenakan kemeja yang masih rapi meski sudah seharian penuh bergerak. Dokumennya sudah di tangan, tasnya berada di troli. Semua sudah diurus Darwin seperti biasa... seperti selalu. Ia menatap ke atas konter; Bali : 11.45. pm Tidak ada perubahan di raut wajahnya. "Kau tidak membawa jaket?" suara Eliza muncul dari samping. Roberto meliriknya, "Kita pergi ke Bali, bukan Islandia." Eliza menahan sesuatu di balik bibirnya, "Aku hanya bertanya." Roberto menyerahkan dokumennya ke petugas konter, matanya tak melihat Eliza. "Aku tahu." Keheningan menyeruak di antara mereka, jenis hening yang sudah terlalu familiar dalam seminggu terakhir. Eliza menatap profil suaminya yang berdiri deng
Sore itu, townhouse milik Elion masih menyimpan kehangatan dari malam sebelumnya. Rebecca sedang melipat pakaian kecil Jourell di ruang keluarga saat ponsel Elion bergetar di atas meja. Pria itu mengangkatnya, membaca nama di layar. Willy, asistennya. "Hei, ada apa?" suara Elion santai, namun matanya mengikuti gerak Rebecca yang belum menyadari telepon itu. "El, tadi Darwin meneleponku." suara Willy di seberang terdengar hati-hati. "Richard... minta menginap di sana malam ini. Roberto meminta Darwin mengantarnya." Elion tak langsung menjawab. Satu detik, dua detik, tiga. "Oke." jawabnya terlalu datar. Sambungan terputus, Elion menghampiri Rebecca setelah meletakkan ponsel itu di atas meja. Rebecca mendongak, menangkap sesuatu di wajah suaminya yang tidak bisa disembunyikan. "Siapa?" Elion menatapnya, beberapa detik hanya diam— Rebecca memahami diamnya. Diam yang sedang menyusun kata-kata agar tidak terdengar seperti seharusnya. "Willy." jawabnya. "Richard minta mengina
Kamar itu masih berantakan saat Eliza menutup pintu dengan keras... tidak dibanting, tapi cukup untuk menjelaskan apa yang tidak bisa ia ucapkan dengan kata-kata. Ia berdiri di tengah ruangan, menatap sekeliling. Gaun pagi yang membalut tubuhnya masih rapi, rambutnya masih tersisir rapi, namun dibalik itu semua ada sesuatu yang retak. Roberto keluar tadi dengan cara yang paling menyebalkan— tidak marah, tidak berteriak. Hanya dingin dengan kalimat singkat yang menghantam sasaran tanpa perlu membidik. 'Richard bukan proyek yang harus kau kendalikan.' Eliza duduk di pinggir ranjang, tangannya mengepal di atas paha. Wanita itu sudah seminggu mencoba... bangun lebih awal dari Roberto untuk memastikan sarapan sudah tersedia, duduk di lantai bermain mobil-mobilan bersama anak yang bahkan belum sepenuhnya menerimanya. Eliza sudah mencoba hal-hal yang tidak pernah ada dalam bayangannya saat ia membayangkan menjadi nyonya Serphent. Dan hasilnya? Ditegur di depan mertuanya karena es krim.
Seminggu berlalu sejak pernikahan itu. Keadaan Mansion Victoria tidak berubah, dindingnya tetap sama, udaranya tetap sama, bahkan aroma kayunya yang bercampur dengan lilin putih di koridor pun tetap sama. Yang berubah hanya satu; ada wanita tambahan yang sedang berjalan di dalamnya, mencoba terlihat seperti ia memang selalu ada di sana. Eliza belajar bahwa mansion ini tidak ramah pada orang baru. Staf menyapanya dengan hormat, namun tak hangat. Darwin selalu ada, tapi tidak pernah benar-benar berbicara dengannya, kecuali jika ada hal yang penting. Dan Roberto... pria itu bahkan tidak perlu bersikap dingin karena ketidakhadirannya sudah cukup berbicara. Yang tersisa hanya Richard. Pagi itu, Eliza duduk di meja makan bersama Richard. Ini bukan pertama kalinya mereka sarapan berdua... sejak beberapa hari lalu, ia mulai terbiasa duduk di sisi bocah itu, mengikuti kebiasaan paginya. Richard makan dengan tenang. Kakinya berayun-ayun di bawah kursi, sesekali bergumam sendiri tentang sesu
Mansion Victoria terasa berbeda malam hari. Bukan karena sepi, bangunan sebesar ini tidak pernah benar-benar sepi, melainkan karena keheningannya seperti disengaja. Seperti rumah yang menahan napas. Roberto menutup pintu kamar tanpa suara. Kemeja yang ia kenakan sudah terganti dengan pakaian rumah yang sedikit longgar, dengan rambut basah dari shower. Langkah kakinya menuju ke depan jendela, membiarkan pandangannya jatuh ke halaman mansion yang gelap. Patung Yunani di sudut taman itu berdiri seperti biasa, dingin dan tak bergerak, menjadi satu-satunya saksi bisu malam ini. Tak lama, pintu kamar terbuka. Eliza berjalan dengan kedua tangannya membawa nampan kecil berisi satu cangkir teh yang mengepul dan sepiring biskuit tipis. Ia sudah berganti pakaian tidur, wajahnya bersih tanpa riasan dengan rambut terurai. Untuk pertama kali sejak pernikahan, wanita itu hanyalah wanita biasa, tanpa topeng yang mengharuskannya mengangkat dagu serta tersenyum palsu. "Aku membuatkan teh," ucapnya p
Rebecca masuk ke dalam mobil setelah Elion membukakan pintu untuknya. Ia diam beberapa detik karena isi kepalanya menampilkan potongan-potongan kejadian pernikahan tadi. Altar. Tatapan Roberto yang sepersekian detik mencarinya… sebelum akhirnya berpaling, nama pengantin yang salah, membuat Rebecca menelan ludah untuk memaksa pikirannya berhenti di sana.'Ini bukan urusanmu lagi.' katanya pada diri sendiri, 'Tidak lagi.'Namun tubuhnya tidak selalu mendengarkan isi pikiran. Tangannya bergetar begitu meraih seatbelt, berharap pria di sampingnya tidak menyadari itu. Tapi... Elion menyadarinya. Pria itu tidak berkata apa-apa, hanya memastikan istrinya duduk dengan nyaman sebelum menutup pintu hati-hati. Seperti seseorang yang tahu bahwa ada hal-hal yang sebaiknya disimpan sendiri tanpa diucapkan.Setelah duduk di kursi kemudi, mobil mereka melaju menyusuri kota London yang sibuk seperti biasa. Rebecca menyandarkan kepalanya di jendela, mengabsen jalanan, lampu-lampu, dan gedung-gedung tin







