LOGINGwapo, simpatiko at kilalang magaling na negosyante. Sino nga bang babae ang hindi maghahangad na paibigin ang isang Gabriel Villaflor? Bukod kasi sa kagwapuhan nito, ito rin ang nagmamay ari ng kilalang pagawaan ng ilang fashion trends clothes sa bansa. Mayaman man pero naipagkasundo na itong ipakasal sa anak ng matalik na kaibigan ng pamilya, kay Irish No. Kabaligtaran ng ideal girl n'ya, at kahit pa sa panaginip ay hindi ito ang tipo n'yang babae. May mabubuo kayang pag-ibig sa pagitan nila? Kung maging ang dalaga ay hindi rin s'ya ang pinapangarap nitong makasama?
View MoreAira fokus mengamati mobil Camry hitam yang berhenti di seberang kampus. Mobil yang sama dengan yang dia lihat kemarin, juga hari-hari sebelumnya. Rasa penasaran membuat dia menyeberang jalan guna mencari tahu siapa sosok di dalam mobil. Akan tetapi baru saja beberapa langkah mobil itu malah kabur.
Aira hanya bisa bengong melihat mobil melaju pergi semakin jauh. Banyak misteri di dunia dan salah satunya tentang si pengendara mobil tadi.
Dari belakang Mei menggandeng tangan Aira sambil berkata, "Jangan bengong saja, ayo cepat ke kelas, nanti Dosen-nya keburu datang."
Sepatu ket buluk Aira bergerak cepat di lantai keramik demi mengejar waktu. Aira tidak ingin terlambat masuk kelas, takut nanti dimarahi Dosen botak. Dosen dan botak, dua hal yang sangat Aira takuti.
"Pagi Kakak ganteng," tegur mahasiswi yang duduk di kursi panjang sembari memandang Aira.
Aira cuek karena dia tidak merasa ganteng. Salah pujian, harusnya dipuji cantik baru dia tersenyum.
Belum terobati raut wajah cemberut akibat 'salah puji' tadi, sekarang terdengar suara tawa pemuda dari arah samping.
"Halo Kak ganteng," tegur Efendi, sok kenal sok dekat melangkah menyeimbangi kecepatan kaki Aira. "Kak ganteng jomblo, ya? Sama dedek aja yuk."
"Efendi hati-hati ditinju, loh," ujar Mei yang melangkah di sebelah Aira.
Entah bodoh atau memang sedang uji nyali, Efendi tambah giat mengganggu Aira. "Ra, mending ganti kelamin deh, jadi cowok. Aku yakin kamu bakal jadi badboy--"
Tanpa segan kepalan tangan Aira meninju perut Efendi. Walau Aira hanya bercanda tapi tetap saja raut wajah Efendi meringis menahan sakit.
"Tega banget sih, Ra. Nanti kalau aku berak tiba-tiba bagaimana?"
Mei cekikikan melihat ulah keduanya. "Kapok, salah siapa? Sudah diingatkan malah nantang."
Mereka berpisah di perempatan, Efendi pergi ke kelas lain sambil melambai sementara Aira dan Mei masuk ke kelas padat penghuni.
Sembari menuju kursi di deret belakang Aira mengamati keadaan kelas.
"Kok ramai banget sih?" tanyanya dengan nada gemas.
Mei menaik turunkan kaca mata sembari menjawab, "Entah, mungkin ada acara BEM."
Keduanya baru saja menaruh pantat ke kursi masing-masing ketika Diah datang menghampiri. Gadis jangkung itu cengar-cengir heboh sendiri menggoyang lengan Mei.
"Tahu tidak, Bayu mengambil mata kuliah Pengantar Ilmu Hukum tahun ini!"
Bibir Mei maju seperti paruh bebek menanggapi gosip itu. "Hoax. Bayu kan Mahasiswa semester enam, mana mungkin mengambil mata kuliah semester dua?"
"Dih, diberitahu tidak percaya."
Keduanya mulai mengobrol membahas Bayu sambil tertawa-tawa mengusik ketentraman. Aira berusaha menutup telinga tapi gagal. Suara kedua gadis bagai corong masjid sedang mengumumkan berita layu-layu.
"Kalian ini berisik banget! Emang Bayu itu siapa?"
Pertanyaannya memaksa Mei dan Diah bertukar pandang dengan heran.
Meilin Wu Xia kenal Aira Damayanti semenjak SD, tahu luar dalam tentang Aira. Namun untuk pertanyaan tadi membuatnya kaget. Dia tahu Aira hanya suka boy band Korea dan artis Barat, tapi sampai tidak tahu siapa Bayu Anggara, itu sebuah penghinaan bagi dunia.
"Serius tidak tahu?" tanya Diah.
Aira menggeleng. "Cowok ganteng?"
"Ya Tuhan, kamu nih!" Jari telunjuk Mei melesat mendorong kening Aira. "Bayu Anggara itu, salah satu pemilik kanal youtube terkenal dengan tiga puluh juta follower!"
"Artis dalam negeri?"
Mei mengangguk kencang. "Gimana sih! Sampai tidak tahu, memalukan."
"Ya kan beneran tidak tahu," sahut Aira memasang wajah cemberut.
Tiba-tiba suara girang di luar memaksa beberapa gadis di dalam kelas berlari keluar. Diah salah satunya. Terdengar suara mereka memanggil-manggil dengan histeris nama Bayu.
"Alai banget sih, seperti ada artis Korea datang."
"Ah, kamu belum kenal Bayu sih," sahut Mei, memancing rasa penasaran Aira.
Aira gadis normal jadi wajar dia penasaran dengan sosok tampan. Aira tidak henti menanti dengan memandang pintu masuk, hingga sosok itu datang.
Rambut hitam halus bergelombang bergerak gemulai. Jaket denim biru tua membalut badan kurus atletis Sang Idola. Dia Bayu youtuber dan sukses menyita mata Aira.
Dada Aira berdebar kencang ketika Bayu mendekat. Pemuda itu memilih duduk di kursi kosong di belakang Aira karena suatu hal.
Entah hal apa, tapi yang pasti Aira benar-benar terganggu oleh kehadiran Bayu dan para fans. Selain berisik kehadiran mereka juga membuat pengap suasana.
"Dasar youtuber abal-abal, alai, ke kampus saja bawa fans," keluh Aira sambil memandang sinis ke arah Bayu.
Sial baginya Bayu mendengar gumam kecil gadis di depan. "Dasar cowok sialan." Bayu menaruh kedua kaki ke meja untuk menendang sandaran kursi Aira.
Satu tendangan, dua, tiga, Aira masih sabar. Ketika Bayu menendang untuk ke empat kalinya, Aira menoleh kesal ke belakang. Kesabaran manusia juga ada batasannya dan Aira pun demikian.
"Heh! Kakimu yang sopan, dong!"
"Lo siapa?" Bagai disuruh Bayu malah menendang sandaran kursi Aira dengan kencang.
Kasar Aira menepis kaki Bayu hingga sepatu branded seharga sembilan juta terpental. Sepatu itu singgah ke meja sebelah tepat ke plastik pentol. Seketika body sepatu warna putih tercemar oleh saus pentol. Pemilik pentol kaget refleks menepis sepatu itu. Sepatu mendarat ke lantai dan terinjak kaki salah satu penggemar.
Semua terdiam melihat kejadian itu. Sepatu mahal yang Bayu jaga dengan baik sekarang kotor juga terdapat lekukan akibat diinjak.
Bayu bangkit menarik kerah kemeja Aira yang hendak kabur hingga gadis itu berbalik badan menghadap ke arahnya.
"Lo mau pansos, ya?" tanya Bayu.
"Pansos?" sahut Aira berusaha memandang langsung mata Bayu. "Apa tidak terbalik?"
"Lo kenal siapa gue?"
"Youtuber alai, kan?"
Telinga Bayu terbakar oleh ucapan gadis di depannya. Beberapa orang mengangkat HP untuk merekam kejadian ini. Sebagai sahabat Mei cepat tanggap mendorong keduanya saling menjauh.
"Masak begitu sama cewek?" sentak Mei.
"Cewek?" Bayu terkekeh memandang hina pada Aira. "Mana ada cewek punya dada tepos begini."
Seenak udel sendiri telapak tangan Bayu meremas dada Aira. Dia terdiam ketika merasakan tonjolan yang kenyal. Walau tidak besar tapi empuk. Dia merasa aneh dengan dada Aira. Masih kurang yakin Bayu meremas lebih kencang dada itu.
Suara tamparan Aira menggema, meninggalkan tato telapak tangan merah di pipi Bayu. Sontak situasi menjadi hening karena semua fokus pada aksi Aira.
"Mentang-mentang ganteng dan kaya, bisa seenaknya sendiri?" Bentak Aira. Dia mengawasi sekitar, mendapati banyak mata judes memandang.
Bergegas dia mengambil tas pindah tempat duduk jauh dari jangkau si Kampret. Aira tadi benar-benar gemas hingga lepas kendali dan sekarang dia bingung. Walau sudah pindah tempat duduk situasi masih mencekam. Mata para gadis memandang seakan ingin membunuhnya.
"Heh sudah gila, ya? Kenapa menampar dia?" bisik Mei, dengan setia duduk di sebelah Aira. "Kamu bisa tidak jangan gegabah dalam melakukan sesuatu? Bahaya, Ra, bahaya banget kalau dia melapor ke Dosen. Bagaimana kalau dia lapor polisi atas pencemaran nama baik?"
"Jadi menurutmu aku harus diam saja? Tadi itu pelecehan seksual, paham?"
"Ya selama dia ganteng dan kaya--"
"Astaga." Aira menabok jidat Mei dengan gemas. "Masih membela dia walau dia salah?"
"Mencari masalah saja, Mbak," komentar seorang gadis yang duduk di belakang Aira, membuat Mei dan Aira menoleh ke arahnya.
"Kenapa? Apa karena dia berani main fisik sama cewek?" tanya Aira.
"Bukan, tapi para fans. Lihat saja, nanti."
"Masa bodoh. Kalau berani maju saja. Toh aku tidak salah. Dia duluan yang cari masalah."
"Para fans mana peduli idola mereka salah atau tidak. Mereka hanya peduli menghajar orang yang mengganggu idola mereka."
Mendengar itu Aira berusaha cuek. Dia menaruh buku ke meja lalu memutar pena menanti Dosen datang. Memikirkan ucapan gadis tadi membuat tangannya bergetar hebat hingga pena jatuh. Sambil memungut pena dia menoleh ke samping, mendapati Bayu tertawa kecut bersama para gadis di sekitar.
Beda di mulut beda dalam hati. Sekarang Aira cemas. Apa yang akan terjadi selanjutnya?
"Hati-hati, fans Bayu ada dimana-mana."
"Ano? Pambihira! Irish naman! Saan naman ako maghahanap ng santol sa ganitong oras?" Napakamot sa ulo si Gab. Napasulyap sa wallclock, mag alas-dos pa lang ng madaling-araw."Hindi bale na nga lang!" Tumalikod ito at inis na nagtalukbong ng kumot.Napabuntong-hininga si Gab, kahapon manggang hilaw na ang sawsawan ay bagoong-alamang ang gusto nitong kainin pero ang gusto nito ay nanggaling pa ng Ilocos Norte. Mabuti na lamang at may nakita s'ya sa supermarket. Ngunit ng mabasa ni Irish ang label ng garapon ng bagoong, at malamang galing pala ito sa Camarines Sur. Mabilis nitong ipinatapon ang garapon ng bagoong at maghapong hindi siya kinausap."Oo na, ito na maghahanap na!" pigil ang inis na tumayo si Gab. Mapipilitan pa s'yang magdrive ng alanganing oras upang halughugin ang palengke ng Quezon City. "Gusto ko 'din ng buko juice." nakangiti na itong bumalikwas.Mangani-nganing singhalan ito ni Gab. Sino ba naman ang hindi maiinis nasa gitna ka ng mahimbing ng pag
"Aalis ka, Sir?" Bahagyang namilog ang mga mata ni Ice."Yes." sagot ni Gab."Pero Sir, may appointment pa po kayo.""Paki-cancel." mariing utos nito.Napakunot-noo si Irish, napahinto sa paghakbang. Pilit pinakikinggan ang pag-uusap ng dalawa. Napatingin s'ya sa suot na relo. Saan naman pupunta ng ganung oras si Gab? Mag-alas nuebe pa lang ng umaga at ang alam n'ya wala itong appointment sa labas.Umikot s'ya mula sa likod ng pinto at tiningnan ang asawang tumingin lang sa kan'ya, humalik sa pisnge n'ya saka lumabas. Hinabol ito ng tingin ni Irish. Nagmamaktol ang damdamin n'ya dahil hindi man lang ito nagpaalam kung saan pupunta?Binalingan n'ya si Ice na nakatingin 'din sa papalayong boss."Saan pupunta ang Sir Gab mo?""Naku, Ma'am Irish. Hindi ko po alam, pina-cancel ang appointment kay Mr. Cervantes. Ay! Hindi n'yo rin alam?" Napatakip pa ito sa bibig.Umiling lang si Irish saka tinungo ang sariling lamesa, n
"Breakfast in bed..." Masayang bungad ni Irish sa asawang nakahiga pa sa kama. Nakita n'ya ang blangkong ekspresyon nito. Pilit binalewala ni Irish ang bahagyang kirot sa damdamin dahil sa pam-babalewala sa kan'ya ni Gab."Hindi mo kailangang gawin ito." Bumangon ito, nilampasan s'ya at tinungo ang terasa.Humugot ng malalim na hangin si Irish at masiglang sinundan ito bitbit ang tray ng pagkain.Nakatanaw si Gab sa kawalan. Tila malalim ang iniisip.Inilapag ni Irish ang tray sa mesa at malambing na niyakap mula sa likuran ang asawa. Tila naiilang itong lumayo."Gab..." "Pwede bang iwan mo muna ako?" Inis na pakiusap nito.Walang nagawa si Irish kundi iwan ito. Ilang buwan na mula nang masagip ito mula sa kamay nila Jeanny. Nananatili itong walang maalala, ngunit nabuhayan sila ng pag-asa dahil ayon sa doktor ay pansamantala lang naman ang kondisyon nito. Kailangan ni Gab na mahabang pasens'ya at pang-unawa. Malungkot na iniwan ito ni Irish. Kailangan
Matamang tinatanaw ni Irish ang paligid nang warehouse na pag-aari ni Leonard, pasimpleng nagmanman habang nasa loob ng kotseng sinasakyan."Mang Janno, huwag kayong masyadong lalapit." "Ma'am, mukhang may papaalis." Ani Mang Janno. Parehong nakatutok ang paningin nila sa papalapit na kulay puting Van. Dadaan ito sa tapat nila kaya sabay silang yumuko sa ilalim ng upuan. Hinintay nilang makalayo ito at saka sinundan."Ma'am hindi ho yata tamang sundan natin nang hindi ipinapaalam sa awtoridad, masyado hong delikado. Dumidilim na po Ma'am Irish." Nag-aalalang turan nito.Tama si Mang Janno, aniya sa sarili. Mabilis na idinayal ang numero ng pulis na kasalukuyang nag-iimbestiga sa kaso ni Gab."Mang Janno, sundan nyo lang ho..." Tumango lang ito at itinuon ang atensyon sa minamaneho. Papalayo na ng papalayo ang sasakyang sinusundan at tinatahak nito ang daan papalabas ng siyudad. "Mang Janno, ano hong lugar ito?" "Ma'am, Tarlac, Pampanga." "Nawa
"Ohhhhh....bilisan mo pa!" tila idinuduyan sa sarap si Jeanny, hubo't h***d na mahigpit na nakahawak sa gilid ng kama habang patalikod na binabayo ni Leonard. Lalo nitong binilisan ang pagbayo na nagpawala na ng katinuan ng dalaga. Nilingon nito ang kaniig, pawisan at naghahabol ng hininga.
"Damn!" Mura ni Gab, pabagsak na inilapag ang hawak na celphone, natigilan ang kapapasok lang ng silid ng opisina na si Ice. Dahan-dahang humakbang palapit sa Boss na tiyak na mainit ang ulo. Ilang kliyente kasi ang nagcancel ng ilang appointment at may iilan ng lumipat ng supplier. Naging mabagal a
Matapos magpahid ng manipis na lipstick ay napangiti si Irish, pinalutang ng kasimplehan ng ayos ang kakaibang ganda. Higit na lumutang ang maputing kutis sa kulay-asul na bodycon dress na napiling isuot. Sleeve-less ito na nagpalantad ng maputing balikat na hanggang tuhod ang haba na may mai
"Dito?" Umikot ang paningin ni Irish sa paligid."Dito talaga?" Excited pa naman s'yang nag-ayos ng sarili, mukha s'yang panauhing-pandangal sa isang cocktail party ng mga socialite. Kumunot ang noo ni Gab, inilagay sa loob ng bulsa ng pantalon ang dalawang kamay at blangko ang ekspresyon






Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.
Ratings
reviewsMore