LOGINSuma masuk lebih dulu, Tera menyusul di belakang dengan kepala tertunduk. Takut, ragu, dan canggung membaur jadi satu. Kamar mandi yang tidak terlalu luas itu makin terasa sesak.
Berhenti melangkah di depan meja wastafel, Suma menggerutu kesal saat punggungnya ditabrak seseorang. Benturan tak terhindarkan, suasana tambah tak mengenakkan. “Apa-apaan, sih, Ra?” omel Suma. Berbalik, tangannya bertekuk di pinggang. Sepasang matanya bak bola api yang berkilat-kilat. “Ma ... af, Sum. Kamu berhenti mendadak.” Tera menjawab ragu-ragu. “Kenapa ikut-ikutan?” tanya Suma, membentak. “Aku mau mandi. Kenapa ikut masuk ke dalam?” tanyanya dengan nada meninggi. Belum menjawab, suara ketukan di pintu mengejutkan keduanya. Suara cempreng Mama Caca mengingatkan pasangan pengantin baru tersebut. “Jangan lama-lama mandinya. Nanti sarapan keburu dingin.” Suma dan Tera saling bertukar pandang. “Kalau mau dilanjutkan, nanti malam saja. Anggap pemanasan dulu, biar memancing penasaran.” Suara Mama Caca seperti sedang menahan tawa. Suma menarik napas dalam-dalam. Raut wajahnya terlihat tak bersahabat. Berdiri tegak, dagu pun terangkat. “Ma, bisa diam? Kalau Mama teriak-teriak di depan pintu, kapan kami selesainya?” “Ah, baiklah. Kalian lanjutkan saja. Mama tidak mengganggu. Hanya berjaga-jaga memastikan kalau tidak terjadi hal-hal yang tak diinginkan." Senyap menyapa, hening menyelimuti kamar mandi dengan dinding marmer berkurai cokelat dan abu-abu tersebut. Suma memusatkan perhatian pada wanita muda yang masih mengenakan gaun pengantin. “Kenapa tidak diganti, sih? Buat masalah saja!” Suma mendengkus kesal. “Kalau bukan karena gaun pengantinmu, kita tidak mungkin terjebak di sini. Pikiran Mama sudah ke mana-mana.” Tera diam. Tidak menggubris kata-kata kasar Suma adalah bagian dari memanjangkan sabarnya. Sejak semalam dia sudah bertekad untuk berdamai dengan keadaan. Percuma meratap, lawannya akan tertawa. Menegakkan kepala dan menunjukkan pada dunia kalau semua baik-baik saja jauh lebih terhormat dibandingkan menangisi nasi yang sudah menjadi bubur. Percuma menyesal, dia tak akan mendapatkan keuntungan apa-apa. Untuk bisa menikah dengan Suma, banyak hal yang dikorbankan. Dia tak mungkin membuat takdirnya terlihat makin menyedihkan. Kebahagiaan memang tidak datang sendiri. Kalau Tuhan tidak menuntunnya padaku, aku yang akan menjemputnya. Senyum Tera mengembang saat kata-kata itu beterbangan dalam hatinya. Sedikit banyak, kalimat tersebut jadi penyemangat di kala dijatuhkan di titik terendah. “Kenapa senyum-senyum?” tanya Suma. Entah kenapa, setiap mimik muka Tera selalu membuatnya kesal. Entah empunya tersenyum atau merengut, bawaan pria muda itu ingin meledak setiap taksengaja beradu tatap. “Tidak. Siapa yang senyum-senyum?” Tera merengut. “Awas kalau sampai orang tuaku tahu tentang pernikahan kontrak kita! Aku pastikan akan membuatmu menyesal.” Suma mengancam. Bibir Tera mengerucut. Dipindainya laki-laki yang telah sah jadi suaminya itu hingga mata memicing. Tanpa kacamata, pandangannya mengabur. Cih! Aku juga tidak mau sampai Papa tahu. Mimik muka Tera berubah sedih. Dia teringat restu yang susah payah diberikan sang papa saat dia memaksa menikah dengan Suma. Terbukti, penilaian orang tua tak pernah salah. Penolakan Mahaka saat mendengar keinginannya untuk berumah tangga dengan teman masa kecilnya itu terbukti menjadi kenyataan. Suami yang dipuja-puji hanya seorang pecundang. “Kenapa? Tidak suka?” Suma kembali menggertak. Sejak tadi dikasari, Tera kesal sendiri. Kesabarannya habis setelah keberadaannya tak dianggap sama sekali. “Kalau memang kamu keberatan aku di sini, ya sudah. Aku keluar sekarang. Maaf, sudah mengganggumu.” Tera sudah menarik kedua sisi gaunnya dan bersiap keluar dari kamar mandi. Namun, langkah kaki terhenti tatkala pergelangannya tertahan. “Tung ... tunggu!” Suma tersentak. Dikiranya sang istri makhluk lemah yang mudah diperintah dan bisa seenaknya dibentak. Ternyata, di balik pendiamnya Tera menyimpan sesuatu. “Mau ke mana?” tanyanya, kasar. “Kalau memang tidak suka aku di sini, ya aku keluar. Aku juga tidak mau membuat emosimu meninggi, Suma.” Tera berusaha bersabar. “Ja .... jangan mengancamku.” Suma menciut. “Kamu dengar sendiri kalau Mama menunggu di depan pintu. Berani keluar, tamat riwayatmu, Ra!” Tera berdecak pelan. “Bisanya cuma mengancamku saja.” Mendengkus berulang-ulang, Tera yang masih tergulung emosi dibuat terkejut oleh perintah Suma yang tiba-tiba. Suami yang sejak tadi bicara kasar dan suka membentak, mendadak jadi lunak. “Berbalik! Buka gaun saja tidak becus. Apa yang kamu bisa?” Tera bergeming. “Kamu tidak dengar, Ra? Berbalik! Gara-gara gaunmu, aku terkena masalah. Jadi perempuan kok lemah. Bisanya mewek dari kecil!’ Suma memerintah dengan kasar. “Tidak perlu. Thank you. Aku bisa sendiri.” Tera menolak. Suma menggeleng. “Jangan jual mahal. Aku tahu kamu itu tidak bisa apa-apa. Cuma nangis saja. Dari kecil sampai dewasa.” Merengkuh pinggang ramping Tera tanpa permisi, pria muda itu membalikkan tubuh sang istri agar membelakanginya. “Lagian, badan seperti papan gilasan begini, aku juga tidak tertarik. Kamu pikir seleraku ....” Bibir Suma berhenti mengoceh. Di saat jemari tangannya sibuk membuka simpul pita di bagian belakang gaun Tera, pandangannya mendadak liar. Punggung yang nyaris polos itu begitu putih mulus bak pualam. Menelan ludah, mendadak dadanya berdebar kencang. Kurang ajar! Dia menggodaku di saat-saat seperti ini. Tangan Suma bergetar. Dia berjuang keras untuk mengurai simpulan pita di belakang gaun Tera. Namun, pandangan terus terkunci pada bidang mulus yang begitu menggoda hati. Kenapa ... aku jadi berdebar begini? Apa efek kurang tidur semalam? Suma menggeleng. Buru-buru menyudahi, tak sengaja tangannya menyibak rambut Tera yang terurai panjang. Punggung putih yang sejak tadi mampu membuat pertahanan goyah terekspos sempurna. Apa-apaan ini? Suma menikmati detak jantung yang dua kali lebih kencang dari biasa. Menarik napas dan mengembuskan berulang-ulang, dia berjuang mengalihkan pandangan ke sembarang arah. Butuh perjuangan untuk menolak pesona Tera yang takbiasa. “Aku sudah gila!” Suma mengepalkan tangan lalu menggigit bibir bawahnya kencang-kencang. “Hah!” Tera berbalik sembari menahan atasan gaunnya. Pita di punggung mungkin sudah terurai, bisa saja pakaian yang membungkus tubuh itu melorot. Tatapan beradu, Tera bersemu malu. Debaran bukan hanya milik Suma, dia pun dilanda kegugupan yang sama saat jemari suaminya samar-samar mengusik kulit punggung. “Siapa yang gila?” Tera buru-buru menunduk. Suma tersentak. Dia tak mau sampai kegugupannya tertangkap basah Tera. Mundur selangkah, dia membuat jarak. “A ... aku mau bersih-bersih. Jangan melihatku! Berbalik. Setelah aku selesai, baru kamu.” Seakan tak puas dengan ucapannya, Suma kembali mengancam. “Jangan coba-coba mengintip.” Setelah melontarkan ancaman, Suma tersenyum. “Dia ‘kan tidak bisa melihat jelas tanpa kacamata. Baguslah.” Sejenak, bayangan punggung telanjang Tera melintas bersamaan dengan langkahnya menuju ke bilik kaca. Menggeleng, Suma kesal saat isi pikirannya mulai terisi dengan Tera. ✔️✔️✔️ Menyambar bathrobe yang tergantung di dekat gantungan handuk, Tera terkejut saat mendapati jubah mandi itu terjatuh di lantai kamar mandi yang basah. “Ya Tuhan, bagaimana ini?” Berjongkok, diraihnya kembali jubah mandi yang sudah basah kuyup. “Mana koperku di kamar sebelah lagi?” Tera meringis. Terdiam, dia memutar otaknya. Entah harus bagaimana melewati hari-harinya, selalu saja ada masalah. “Ah, ada Mama di depan. Apa aku minta tolong Mama saja, ya?” Sedikit lega, Tera buru-buru melangkah ke arah pintu. Pandangan yang mengabur membuat matanya menyipit. Sejak tadi merutuki kedatangan mama dan mertuanya, kali ini dia mensyukuri kehadiran keduanya pagi-pagi di sini. “Lebih baik. Aku tidak mau sampai kedapatan Suma dalam keadaan begini.” Membuka pelan pintu kamar mandi, Tera bersembunyi di baliknya. Memindai ruangan yang sudah kembali hening, tak tampak Mama Caca dan Mama Nayala di sofa. “Aneh? Ke mana mereka? Di saat dibutuhkan, malah keduanya menghilang. Jangan katakan kalau ....” “Ada apa, Ra? Kenapa celingak-celinguk di balik pintu?” Tera terkejut. Entah dari mana munculnya, Suma tiba-tiba sudah di depan mata. Nyaris dia melompat dalam keadaan tanpa busana. “Ma ... mana Mama?” tanya Tera mencengkeram erat-erat daun pintu. Dia khawatir Suma menerjang masuk. “Mereka sudah pulang. Baru saja. Katanya, urusan selesai.” Suma menjawab santai, tetapi sanggup membuat dunia Tera jungkir balik seketika. Sepasang mata wanita muda itu melotot lebar.Ayo, kita bicara ke depan.” Jejak luka di wajah Tera terbaca Britania. Gadis cantik itu merengkuh lengan lawan bicaranya tanpa permisi lalu menuntun ke arah taman yang sore itu dipenuhi anak-anak dan para penghuni apartemen. Jantung Tera berdetak dua kali lebih kencang. Kaki melangkah mengikuti Britania, tetapi pikirannya menerawang jauh. Entah alasan apa yang akan diberikan. Tidak mungkin berterus-terang. Akan tetapi, dia juga takbisa memberi alasan yang masuk akal pada gadis muda berstatus mahasiswi universitas ternama tersebut. Duduk di bangku taman, dua wanita muda itu saling berhadapan. Sore yang indah, suara anak-anak riuh rendah. Kilau keemasan meneduhkan dari sudut barat cakrawala. “Kak Tera bertengkar dengan Kak Suma?” tanya Britania, penasaran. Selain sepupu Suma, mereka juga bertetangga. “Kamu ke sini dengan siapa, Bri?” Tera mengalihkan topik pembicaraan. Tak mau pembahasan mengenai hubungannya dan Suma terus berlanjut. “Jangan mengalihkan pembicaraan. Apa yang terja
Duduk menatap dua lembar tiket, Tera berulang kali menarik turun kaus Suma yang kebesaran di tubuhnya. Duduk di sisi kanan sofa, dia sengaja menghindari pria yang mengisi ruang kosong di sebelah kiri kursi empuk tersebut. Dia risi berpenampilan seksi meski suami sendiri. “Aku dan Inggit akan ke Bali selama seminggu.” Suma menegaskan. “Hah!” Tera membeliak. Tak lama, rona kekagetan itu berubah jadi kesedihan. Sepasang kekasih liburan berdua, pasti banyak hal terjadi. Pemandangan dia yang harus terusir dari kamar di malam pertama kembali berputar ulang. Sedih? Sudah pasti. Kecewa? Jangan ditanya. Tidak ada seorang istri pun di muka bumi ini akan baik-baik saja diperlakukan seperti ini. Jari-jari Tera saling menjalin di atas pangkuan. Digigitnya bibir kencang-kencang untuk mengempas kecewa yang terus berdatangan dari segala arah. Dikira, menikah itu indah seperti di sinema-sinema. Ternyata, jauh dari harapannya. Suami yang harusnya menjaga dan melindungi, bertanggung jawab untuk m
Suma masuk lebih dulu, Tera menyusul di belakang dengan kepala tertunduk. Takut, ragu, dan canggung membaur jadi satu. Kamar mandi yang tidak terlalu luas itu makin terasa sesak.Berhenti melangkah di depan meja wastafel, Suma menggerutu kesal saat punggungnya ditabrak seseorang. Benturan tak terhindarkan, suasana tambah tak mengenakkan. “Apa-apaan, sih, Ra?” omel Suma. Berbalik, tangannya bertekuk di pinggang. Sepasang matanya bak bola api yang berkilat-kilat.“Ma ... af, Sum. Kamu berhenti mendadak.” Tera menjawab ragu-ragu.“Kenapa ikut-ikutan?” tanya Suma, membentak. “Aku mau mandi. Kenapa ikut masuk ke dalam?” tanyanya dengan nada meninggi.Belum menjawab, suara ketukan di pintu mengejutkan keduanya. Suara cempreng Mama Caca mengingatkan pasangan pengantin baru tersebut.“Jangan lama-lama mandinya. Nanti sarapan keburu dingin.” Suma dan Tera saling bertukar pandang.“Kalau mau dilanjutkan, nanti malam saja. Anggap pemanasan dulu, biar memancing penasaran.” Suara Mama Caca seper
“Bulan madu?” Suma terkejut melihat dua tiket pesawat yang disodorkan mamanya di atas meja. Beralih menatap Tera, wajahnya tampak datar.“Ya. Mama dan Mama Nay sepakat menghadiahkan tiket bulan madu ke Bali. Ya, anggap saja hadiah pernikahan dari kami.” Mama Caca tersenyum bahagia. Melirik besan yang duduk di sebelahnya, wajah wanita paruh baya itu berbinar bahagia.“Untuk apa?” Suma bingung.Mama Caca dan Mama Nayala saling bertukar pandang. Tak lama, keduanya berseru dengan kompak.“Untuk pengantin baru.” “Tapi, Ma. Ini berlebihan.” Pria muda itu mulai melancarkan keberatannya. Dia akan menggunakan alasan apa saja untuk bisa menolak rencana kedua wanita di hadapannya.“Ish!” Mama Caca merengut. “Berlebihan bagaimana? Kecuali aku memberimu tiket ke bulan atau ke kutub utara, baru bisa dikatakan berlebihan. Ini hanya ke Bali, Nak. B … a … l ... i. Pejam mata sekejap, melek sudah mendarat di Ngurah Rai.”Suma menyenggol lengan Tera yang sejak tadi diam. Berharap, wanita muda itu mau
Tanpa kacamata, pandangan Tera mengabur. Akan tetapi, dia masih bisa mengenali di mana keberadaannya kini. Jemari yang terus digenggam erat oleh Suma mampu mengaburkan sedikit kecewa karena perlakuan kasar pria itu semalam.Berdiri di dalam ruangan yang harusnya menjadi kamar pengantin mereka, Tera memicingkan mata saat mendapati sosok di atas ranjang dan tengah bergelung di dalam gulungan selimut. Dia tersentak ketika genggaman pada jemarinya terurai. Sang suami sudah melangkah mendekati ranjang dengan langkah cepat dan lebar-lebar.“Sweetheart!”Sapa yang semalam terdengar lembut, tiba-tiba pagi ini terdengar kasar. Suma mengguncang pelan tubuh Inggit yang masih terlelap di atas ranjang. Ya, setidaknya itu yang tampak oleh penglihatan tanpa kacamata.“Inggit! Bangun! Kenapa tidurmu mengalahkan kerbau!” umpat Suma, kesal. Di saat genting, sang kekasih malah sulit diajak kompromi.Umpatan Suma memantik senyuman Tera. Diam-diam, dia merasa kekecewaannya semalam terbalaskan. Perempuan y
“Nah, begitu ‘kan manis.” Inggit tersenyum lega ketika Tera akhirnya setuju menandatangani kesepakatan tanpa banyak protes. “Setidaknya, kalau tidak good looking, harusnya smart thinking. Kalau begini ‘kan sama-sama enak.”Tera hancur. Hatinya menjerit pilu ketika menyetujui kesepakatan yang disodorkan untuknya. Namun, dia tak berdaya. Suma dan Inggit membuatnya kehilangan semua dalam sekejap. “Sudah tanda tangan di atas materai, urusan selesai. Kamu boleh keluar. Aku dan Suma sudah menyiapkan kamar untukmu di sebelah. Kami bukan orang jahat. Tidak akan menelantarkanmu kalau memang bisa diajak bekerja sama.”Pandangan Inggit mengedar, mencari sesuatu. Dia tersenyum mendapati koper merah teronggok di dekat koper hitam Suma yang sudah terbuka dan isi terburai berantakan.“Ah, di sini.” Inggit buru-buru menyambar koper tersebut dan menyerahkannya pada Tera. “Oh ya, ini cardlock kamar sebelah. Selamat malam, Tera.” Didorongnya pelan koper tersebut dan membiarkan wadah penyimpanan pakaia







