Partager

BAB 6

Auteur: Casanova
last update Date de publication: 2026-09-11 08:01:20

Suma masuk lebih dulu, Tera menyusul di belakang dengan kepala tertunduk. Takut, ragu, dan canggung membaur jadi satu. Kamar mandi yang tidak terlalu luas itu makin terasa sesak.

Berhenti melangkah di depan meja wastafel, Suma menggerutu kesal saat punggungnya ditabrak seseorang. Benturan tak terhindarkan, suasana tambah tak mengenakkan. 

“Apa-apaan, sih, Ra?” omel Suma. Berbalik, tangannya bertekuk di pinggang. Sepasang matanya bak bola api yang berkilat-kilat.

“Ma ... af, Sum. Kamu berhenti mendadak.” Tera menjawab ragu-ragu.

“Kenapa ikut-ikutan?” tanya Suma, membentak. “Aku mau mandi. Kenapa ikut masuk ke dalam?” tanyanya dengan nada meninggi.

Belum menjawab, suara ketukan di pintu mengejutkan keduanya. Suara cempreng Mama Caca mengingatkan pasangan pengantin baru tersebut.

“Jangan lama-lama mandinya. Nanti sarapan keburu dingin.” 

Suma dan Tera saling bertukar pandang.

“Kalau mau dilanjutkan, nanti malam saja. Anggap pemanasan dulu, biar memancing penasaran.” Suara Mama Caca seperti sedang menahan tawa.

Suma menarik napas dalam-dalam. Raut wajahnya terlihat tak bersahabat. Berdiri tegak, dagu pun terangkat.

“Ma, bisa diam? Kalau Mama teriak-teriak di depan pintu, kapan kami selesainya?”

“Ah, baiklah. Kalian lanjutkan saja. Mama tidak mengganggu. Hanya berjaga-jaga memastikan kalau tidak terjadi hal-hal yang tak diinginkan."

Senyap menyapa, hening menyelimuti kamar mandi dengan dinding marmer berkurai cokelat dan abu-abu tersebut. Suma memusatkan perhatian pada wanita muda yang masih mengenakan gaun pengantin.

“Kenapa tidak diganti, sih? Buat masalah saja!” Suma mendengkus kesal. “Kalau bukan karena gaun pengantinmu, kita tidak mungkin terjebak di sini. Pikiran Mama sudah ke mana-mana.”

Tera diam. Tidak menggubris kata-kata kasar Suma adalah bagian dari memanjangkan sabarnya. Sejak semalam dia sudah bertekad untuk berdamai dengan keadaan. Percuma meratap, lawannya akan tertawa. Menegakkan kepala dan menunjukkan pada dunia kalau semua baik-baik saja jauh lebih terhormat dibandingkan menangisi nasi yang sudah menjadi bubur. 

Percuma menyesal, dia tak akan mendapatkan keuntungan apa-apa. Untuk bisa menikah dengan Suma, banyak hal yang dikorbankan. Dia tak mungkin membuat takdirnya terlihat makin menyedihkan.

Kebahagiaan memang tidak datang sendiri. Kalau Tuhan tidak menuntunnya padaku, aku yang akan menjemputnya. 

Senyum Tera mengembang saat kata-kata itu beterbangan dalam hatinya. Sedikit banyak, kalimat tersebut jadi penyemangat di kala dijatuhkan di titik terendah.

 “Kenapa senyum-senyum?” tanya Suma. Entah kenapa, setiap mimik muka Tera selalu membuatnya kesal. Entah empunya tersenyum atau merengut, bawaan pria muda itu ingin meledak setiap taksengaja beradu tatap.

“Tidak. Siapa yang senyum-senyum?” Tera merengut.

“Awas kalau sampai orang tuaku tahu tentang pernikahan kontrak kita! Aku pastikan akan membuatmu menyesal.” Suma mengancam.

Bibir Tera mengerucut. Dipindainya laki-laki yang telah sah jadi suaminya itu hingga mata memicing. Tanpa kacamata, pandangannya mengabur.

Cih! Aku juga tidak mau sampai Papa tahu.

Mimik muka Tera berubah sedih. Dia teringat restu yang susah payah diberikan sang papa saat dia memaksa menikah dengan Suma. Terbukti, penilaian orang tua tak pernah salah. Penolakan Mahaka saat mendengar keinginannya untuk berumah tangga dengan teman masa kecilnya itu terbukti menjadi kenyataan. Suami yang dipuja-puji hanya seorang pecundang.

“Kenapa? Tidak suka?” Suma kembali menggertak.

Sejak tadi dikasari, Tera kesal sendiri. Kesabarannya habis setelah keberadaannya tak dianggap sama sekali.

“Kalau memang kamu keberatan aku di sini, ya sudah. Aku keluar sekarang. Maaf, sudah mengganggumu.” 

Tera sudah menarik kedua sisi gaunnya dan bersiap keluar dari kamar mandi. Namun, langkah kaki terhenti tatkala pergelangannya tertahan.

“Tung ... tunggu!” Suma tersentak. Dikiranya sang istri makhluk lemah yang mudah diperintah dan bisa seenaknya dibentak. Ternyata, di balik pendiamnya Tera menyimpan sesuatu. “Mau ke mana?” tanyanya, kasar.

“Kalau memang tidak suka aku di sini, ya aku keluar. Aku juga tidak mau membuat emosimu meninggi, Suma.” Tera berusaha bersabar.

“Ja .... jangan mengancamku.” Suma menciut. “Kamu dengar sendiri kalau Mama menunggu di depan pintu. Berani keluar, tamat riwayatmu, Ra!”

Tera berdecak pelan. “Bisanya cuma mengancamku saja.” Mendengkus berulang-ulang, Tera yang masih tergulung emosi dibuat terkejut oleh perintah Suma yang tiba-tiba. Suami yang sejak tadi bicara kasar dan suka membentak, mendadak jadi lunak.

“Berbalik! Buka gaun saja tidak becus. Apa yang kamu bisa?” 

Tera bergeming.

“Kamu tidak dengar, Ra? Berbalik! Gara-gara gaunmu, aku terkena masalah. Jadi perempuan kok lemah. Bisanya mewek dari kecil!’ Suma memerintah dengan kasar.

“Tidak perlu. Thank you. Aku bisa sendiri.” Tera menolak.

Suma menggeleng. 

“Jangan jual mahal. Aku tahu kamu itu tidak bisa apa-apa. Cuma nangis saja. Dari kecil sampai dewasa.” Merengkuh pinggang ramping Tera tanpa permisi, pria muda itu membalikkan tubuh sang istri agar membelakanginya. “Lagian, badan seperti papan gilasan begini, aku juga tidak tertarik. Kamu pikir seleraku ....” 

Bibir Suma berhenti mengoceh. Di saat jemari tangannya sibuk membuka simpul pita di bagian belakang gaun Tera, pandangannya mendadak liar. Punggung yang nyaris polos itu begitu putih mulus bak pualam. Menelan ludah, mendadak dadanya berdebar kencang. 

Kurang ajar! Dia menggodaku di saat-saat seperti ini.

Tangan Suma bergetar. Dia berjuang keras untuk mengurai simpulan pita di belakang gaun Tera. Namun, pandangan  terus terkunci pada bidang mulus yang begitu menggoda hati.

Kenapa ... aku jadi berdebar begini? Apa efek kurang tidur semalam?

Suma menggeleng. Buru-buru menyudahi, tak sengaja tangannya menyibak rambut Tera yang terurai panjang. Punggung putih yang sejak tadi mampu membuat pertahanan goyah terekspos sempurna.

Apa-apaan ini?

Suma menikmati detak jantung yang dua kali lebih kencang dari biasa. Menarik napas dan mengembuskan berulang-ulang, dia berjuang mengalihkan pandangan ke sembarang arah. Butuh perjuangan untuk menolak pesona Tera yang takbiasa.

“Aku sudah gila!” Suma mengepalkan tangan lalu menggigit bibir bawahnya kencang-kencang.

“Hah!” Tera berbalik sembari menahan atasan gaunnya. Pita di punggung mungkin sudah terurai, bisa saja pakaian yang membungkus tubuh itu melorot. 

Tatapan beradu, Tera bersemu malu. Debaran bukan hanya milik Suma, dia pun dilanda kegugupan yang sama saat jemari suaminya samar-samar mengusik kulit punggung.

“Siapa yang gila?” Tera buru-buru menunduk.

Suma tersentak. Dia tak mau sampai kegugupannya tertangkap basah Tera. Mundur selangkah, dia membuat jarak.

“A ... aku mau bersih-bersih. Jangan melihatku! Berbalik. Setelah aku selesai, baru kamu.” Seakan tak puas dengan ucapannya, Suma kembali mengancam. “Jangan coba-coba mengintip.”

Setelah melontarkan ancaman, Suma tersenyum. “Dia ‘kan tidak bisa melihat jelas tanpa kacamata. Baguslah.” 

Sejenak, bayangan punggung telanjang Tera melintas bersamaan dengan langkahnya menuju ke bilik kaca. Menggeleng, Suma kesal saat isi pikirannya mulai terisi dengan Tera.

✔️✔️✔️

Menyambar bathrobe yang tergantung di dekat gantungan handuk, Tera terkejut saat mendapati jubah mandi itu terjatuh di lantai kamar mandi yang basah.

“Ya Tuhan, bagaimana ini?” Berjongkok, diraihnya kembali jubah mandi yang sudah basah kuyup. “Mana koperku di kamar sebelah lagi?” Tera meringis.

Terdiam, dia memutar otaknya. Entah harus bagaimana melewati hari-harinya, selalu saja ada masalah. 

“Ah, ada Mama di depan. Apa aku minta tolong Mama saja, ya?” 

Sedikit lega, Tera buru-buru melangkah ke arah pintu. Pandangan yang mengabur membuat matanya menyipit. Sejak tadi merutuki kedatangan mama dan mertuanya, kali ini dia mensyukuri kehadiran keduanya pagi-pagi di sini.

“Lebih baik. Aku tidak mau sampai kedapatan Suma dalam keadaan begini.” 

Membuka pelan pintu kamar mandi, Tera bersembunyi di baliknya. Memindai ruangan yang sudah kembali hening, tak tampak Mama Caca dan Mama Nayala di sofa. 

“Aneh? Ke mana mereka? Di saat dibutuhkan, malah keduanya menghilang. Jangan katakan kalau ....”

“Ada apa, Ra? Kenapa celingak-celinguk di balik pintu?” 

Tera terkejut. Entah dari mana munculnya, Suma tiba-tiba sudah di depan mata. Nyaris dia melompat dalam keadaan tanpa busana.

“Ma ... mana Mama?” tanya Tera mencengkeram erat-erat daun pintu. Dia khawatir Suma menerjang masuk.

“Mereka sudah pulang. Baru saja. Katanya, urusan selesai.” Suma menjawab santai, tetapi sanggup membuat dunia Tera jungkir balik seketika. Sepasang mata wanita muda itu melotot lebar.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Commentaires (1)
goodnovel comment avatar
Anna Waliana
...️...️...️...️...️...️...️...️
VOIR TOUS LES COMMENTAIRES

Dernier chapitre

  • ISTRI 365 HARI   BAB 65

    “Ini semua karenamu, Nggit!” tuduh Suma, mengalihkan pembicaraan.Inggit mencelang. Belum hilang sakitnya cekalan di pergelangan, kini kekasihnya kembali melontarkan tuduhan yang membuat hati terasa seperti dicincang.“Beb!” Sapaan sayang itu diucapkan dengan setengah berteriak dan membentak. Kesabaran Inggit yang tinggal segaris tipis hampir habis. Dipindainya laki-laki gagah yang tengah membuang muka. Tak lagi mau memandangnya dengan sorot penuh damba.Tatapan Suma tak seteduh dulu, kata-kata pun tak lagi menenteramkan jiwa. Mata elang pria itu menciptakan jarak yang akhir-akhir terasa begitu jauh jadi makin tak tersentuh. Semua berubah sejak pernikahan itu ada. Di dalam hidup sang kekasih tak hanya ada namanya, tetapi juga terukir sebaris aksara bertuliskan Tera.“Kalau kamu bisa sedikit lebih sabar, tentunya tidak akan membuat semuanya kacau. Harusnya rencana kita sempurna. Setelah kontrak selesai, aku bercerai dan kita tinggal datang pada orang tuaku memohon restu. Aku yang seor

  • ISTRI 365 HARI   BAB 64

    “Tidak perlu minta Suma memilih. Putriku dan dirimu itu beda kelas. Jadi, jelas bukan sesuatu yang bisa disandingkan bersama.” Papa Mahaka menegaskan. Kehadiran Inggit memancing amarahnya. Kesabaran yang hanya seperti seutas benang tipis diuji berulang kali. “Kalau ada cermin, tolong berkaca sebelum membandingkan diri dengan orang lain. Kalau memang tidak ada, aku akan mengirimnya untukmu.” Papa Mahaka mengomel bak sepur. Sederet kata-kata meluncur lancar seperti tak perlu dipikir dan saring lebih dulu.Tatapan tajamnya berpindah ke arah Suma. Dia menggeleng tak terima ketika pria muda yang terus menyatakan diri sebagai seorang suami itu tengah menggenggam tangan putrinya.“Lepaskan Tera dan jangan pernah menginjakkan kakimu di rumahku lagi!” tegas Papa Mahaka. “Dan, terima kasih sudah memuluskan niatku. Dengan adanya kontrak pernikahan akan makin memuluskan niatku. Pernikahan ini sejak awal sudah tidak benar. Jadi memang sebaiknya diakhiri. Dosa namanya kalau berani mempermainkan p

  • ISTRI 365 HARI   BAB 63

    “Beb?” Koper yang pegangannya sempat digenggam Inggit terjatuh. Kata-kata Suma terus terngiang-ngiang. Janji yang sempat dikumandangkan pria muda itu padanya seperti bertolak belakang dengan situasi sekarang. “Bagaimana bisa?” cicit Inggit, tak terimaBerdiri beberapa meter dari posisi Suma yang tengah berdebat dengan sang mertua, dia bisa mendengar jelas permohonan kekasihnya itu agar tidak berpisah dari Tera. Seperti petir menyambar, tubuhnya persis mengenai sasaran.“Sudah, Nggit. Jangan ikut campur.” Bu Rosmi mengangkat koper yang terguling di dekat kaki anaknya. “Itu urusan para majikan. Kita hanya pelayan, jadi mendingan tutup mata dan telinga. Anggap tidak mendengar, tidak melihat.”Inggit mengentakkan kaki ke bumi berulang kali. Dia tak terima. Ucapan sang ibu takbisa dianggap angin lalu.“Ibu saja kali, aku tidak. Suma itu masih kekasihku. Mana mungkin ....” Belum hilang kekagetannya, suara langkah kaki terdengar jelas dari balik punggung. Inggit berbalik dan makin kecewa s

  • ISTRI 365 HARI   BAB 62

    Beberapa anak kunci mengantung di lubang pintu. Berguncang dan gemerincing ketika saling berbenturan satu sama lain. Ada sosok bermata merah tengah meradang dengan kedua tangan bertekuk di pinggang. Tatapan tajam tertuju ke arah ranjang, memindai sepasang anak manusia yang salin mendekap di balik selimut.“RA!” Kalau panggilan sebelumnya lembut dan menentramkan, kali ini berbeda. Papa Mahaka berteriak kencang. Bukan hanya mengagetkan Suma dan Tera, tetapi juga seisi rumah. Amarah itu nyata, murka itu pun fakta.“Pa … pa?” Suma yang bangun lebih dulu tampak terkejut. Belum sepenuhnya sadar dengan keadaan di sekitar, kepingan ingatan masih berantakan. Pandangan kosongnya menyapu seisi ruangan. Asing. Namun, pria tua yang sudah rapi dengan setelah kerja itu sangat familier. Apalagi dalam posisi sedang murka seperti saat ini.“BAGAIMANA KAMU BISA ADA DI SINI?” Suara Papa Mahaka menggelegar. Menanjak, seiring dengan emosi kian memuncak.“Pa.” Suma bingung. Menggaruk-garuk kepala, rambut

  • ISTRI 365 HARI   BAB 61

    “Nak, kalau kita banyak uang, banyak-banyak berbuat baik. Tapi, kalau kita tidak punya uang, lakukan yang terbaik. Berusahalah.” Bu Rosmi masih duduk di tepi tempat tidur sambil menatap sedih ke arah putrinya yang wara-wiri di depan mata membenahi barang-barang pribadi yang akan dibawa keluar dari apartemen. Kalau boleh jujur, perasaannya juga sedih. Dia ikut terluka melihat anaknya diperlakukan seperti sampah. Cinta memang sulit ditebak. Inggit memilih melabuhkan cinta pada Suma. Namun, masalah ini bukan restu semata. Sifat sang putri semata wayang takbisa dikatakan membanggakan. Sebagai ibu yang melahirkan, dia juga malu.“Ibu bisa diam, ‘kan? Kalau tidak bisa bantu, setidaknya tutup mulut. Paling tidak kerjaanku tak terhambat.” Inggit kembali berkata kasar. Membentak ibunya sudah jadi makanan sehari-hari. “Ini aku sedang berusaha jadi lebih baik. Tidak begini-begini saja hidup kita. Mau sampai kapan Ibu jadi babu?” Gadis cantik itu mulai sengit.“Nggit.” Ibu Rosmi menitikkan air

  • ISTRI 365 HARI   BAB 60B

    Inggit tengah merengut sembari memasukkan barang-barang pribadinya ke dalam tas. Terus menggerutu, dia tak menyadari kehadiran ibunya yang sudah membuka pintu kamar. “Apa maunya? Kenapa dia lama sekali meninggalnya. Sudah tua juga. Harusnya perusahaan sudah menjadi milik Suma.”Tak terima mendengar ucapaan buruk sang putri, Bu Rosmi mendelik.“Kenapa menyumpah, Nggit.”Suara Bu Rosmi menyela. “Selama ini Pak Tama dan Ibu Caca sudah sangat baik pada kita.” Berjalan mendekat, pandangan wanita tua itu mengedar ke sekeliling kamar. Ruangan luas itu memang terbilang mewah. Sangat jauh dibandingkan dengan kamar sepetak di belakang rumah majikannya yang menjadi tempat tinggal selama bertahun-tahun.“Ibu?” Inggit terkejut. Tas branded di tangannya terlepas dan jatuh ke lantai. Sontak menarik perhatian.Bu Rosmi bermaksud memungutnya saat teriakan Inggit memekik telinga. “Jangan disentuh, Bu. Itu tas mahal. Tangan Ibu itu kotor! Gak pantes pegang barang mahal!"Urung, wanita tua itu mengge

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status