Share

BAB 7A

Author: Casanova
last update publish date: 2026-09-18 11:35:57

Duduk menatap dua lembar tiket, Tera berulang kali menarik turun kaus Suma yang kebesaran di tubuhnya. Duduk di sisi kanan sofa, dia sengaja menghindari pria yang mengisi ruang kosong di sebelah kiri kursi empuk tersebut. Dia risi berpenampilan seksi meski suami sendiri.

“Aku dan Inggit akan ke Bali selama seminggu.” Suma menegaskan.

“Hah!” Tera membeliak. Tak lama, rona kekagetan itu berubah jadi kesedihan.

Sepasang kekasih liburan berdua, pasti banyak hal terjadi. Pemandangan dia yang harus terusir dari kamar di malam pertama kembali berputar ulang. Sedih? Sudah pasti. Kecewa? Jangan ditanya. Tidak ada seorang istri pun di muka bumi ini akan baik-baik saja diperlakukan seperti ini.

Jari-jari Tera saling menjalin di atas pangkuan. Digigitnya bibir kencang-kencang untuk mengempas kecewa yang terus berdatangan dari segala arah. Dikira, menikah itu indah seperti di sinema-sinema. Ternyata, jauh dari harapannya. Suami yang harusnya menjaga dan melindungi, bertanggung jawab untuk menjaga hati, malah menjadi sumber air mata dan lukanya.

“Mama sudah menyiapkan hotel dan lain-lain. Jadi, tidak mungkin ... aku tidak pergi.” Suma menegaskan. “Mama pasti akan mengecek ke sana dan memastikan kita benar-benar pergi.”

Melirik wanita di sebelahnya yang berantakan dengan rambut basah dan kaus kebesaran, sejumput iba hadir. Suma sadar kalau selama ini salah, tetapi tak punya pilihan lain. Satu-satunya solusi memang Tera. Hubungannya dan Inggit tak mendapat restu kedua orang tua. Bahkan, Mama Caca menggunakan segala cara untuk membuat jalinan cinta merek musnah.

Maafkan aku, Ra. Aku tahu kamu tidak salah. Tapi, aku juga sudah punya cerita cinta sendiri. Kamu gadis baik dan murah hati. Suatu saat pasti akan mengerti. Aku dan Inggit terpaksa karena tidak punya jalan lain.

“Ka ... kalau sampai Mama tahu, bagaimana?” Teras bertanya, terbata-bata.

“Jangan sampai orang tuamu tahu. Aku juga tidak mau sampai orang tuaku tahu. Jadi, selama aku dan Inggit di Bali, kamu tinggal di apartemenku.” Suma menjelaskan isi kepalanya.

Sepasang mata Tera membeliak. Dipandanginya Suma yang tidak terlihat begitu jelas tanpa kacamata. Dia belum sempat ke kamar sebelah untuk berganti pakaian dan mencari kacamatanya.

“Kenapa melotot seperti itu? Kamu tidak terima?” Suara Suma yang semula ramah berubah kasar.

“Bukan begitu. Aku hanya berpikir ... kalau ... kalau sampai ketahuan ....”

“Jangan sampai ketahuan! Begitu saja tidak becus. Jangan baper. Kita menikah sebatas kontrak, jadi jangan gunakan hati kalau tak mau kecewa. Aku tidak mencintaimu. Kamu bukan tipeku, Tera. Aku suka wanita cantik, bukan antik.”

Dihina berulang kali, luka Tera menganga lagi. Setiap wanita juga ingin bisa cantik seperti kata Suma. Akan tetapi, takdir tidak bisa diganti. Dia sudah terlahir dengan bentuk dan tampang seperti ini. Apa harus protes pada Tuhan?

“Aku tahu ... kalau aku tidak ada apa-apanya dibandingkan Inggit. Dia cantik, dia seksi, dia sempurna. Rambutnya bagus, bodinya menarik ....”

“Nah! Itu sadar diri. Dia juga smart, pintar bergaul, tidak kuper sepertimu. Jangan sedih. Aku tidak pernah bermaksud body shamming. Tapi, kamu bisa berkaca sendiri. Kamu dan Inggit itu seperti langit dan kerak bumi.”

Tera mencebik sedih. Selama ini dia banyak mendengar orang-orang mengolok tampangnya yang di bawah standar wanita cantik Indonesia. Akan tetapi, saat kata-kata itu keluar dari bibir Suma, dia terluka.

“Sudah. Kamu boleh kembali ke kamarmu. Sebentar lagi Inggit ke sini. Ingat, kontrak kita hanya setahun. Jadi jangan mimpi terlalu tinggi. Aku tidak bertanggung jawab untuk sakitmu.”

Tera menahan isaknya. Hatinya sakit. Suma tengah menikam perasaannya dengan sebilah belati lalu mengorek-ngorek hingga tak menyisakan sedikit ruang untuk secuil kebahagiaan.

“Kenapa membuatku terjebak dalam situasi ini? Kalau kamu tidak menyukaiku sejak awal, kamu tidak perlu datang padaku dan melamarku, Sum.” Tera melampiaskan kecewa. “Kenapa harus menikahiku dan berpura-pura selama ini?” tanyanya, sedih.

Suma tersenyum. Dia baru akan menjawab ketika pintu kamarnya diketuk. Suara manja Inggit sayup-sayup terdengar dari luar.

“Inggit sudah datang. Kamu boleh pergi sekarang. Ingat, jangan bicara macam-macam ke orang tua kita. Aku akan menghancurkanmu sampai tak bersisa.” Suma kembali mengancam. Kata-katanya tak mengandung belas kasihan.

✔️✔️✔️

“Loh, Kak Tera?”

Tiga hari menghuni apartemen Suma, Tera yang hendak pergi ke minimarket membeli air mineral dikejutkan oleh kehadiran gadis cantik nan modis yang juga sedang berada di lobi tower yang sama.

“Bri?”

Tera terkejut. Gadis manis itu bukan orang lain. Dia adalah sepupu Suma yang juga teman baiknya di masa kecil.

“Bukannya Kak Tera bulan madu ke Bali bersama Kak Suma?” Britania mengernyit. Diamatinya kakak ipar yang terlihat jauh lebih ramping dibandingkan sebelumnya.

Tera gelagapan. Dia dilanda kebingungan. Tertangkap basah salah satu anggota keluarga Suma membuatnya takbisa mengelak.

“Aku ... aku ....” Tera terbata-bata. “Bagaimana menjelaskannya, ya?” Wanita 24 tahun itu merapikan kacamata yang melorot di pangkal hidungnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • ISTRI 365 HARI   BAB 65

    “Ini semua karenamu, Nggit!” tuduh Suma, mengalihkan pembicaraan.Inggit mencelang. Belum hilang sakitnya cekalan di pergelangan, kini kekasihnya kembali melontarkan tuduhan yang membuat hati terasa seperti dicincang.“Beb!” Sapaan sayang itu diucapkan dengan setengah berteriak dan membentak. Kesabaran Inggit yang tinggal segaris tipis hampir habis. Dipindainya laki-laki gagah yang tengah membuang muka. Tak lagi mau memandangnya dengan sorot penuh damba.Tatapan Suma tak seteduh dulu, kata-kata pun tak lagi menenteramkan jiwa. Mata elang pria itu menciptakan jarak yang akhir-akhir terasa begitu jauh jadi makin tak tersentuh. Semua berubah sejak pernikahan itu ada. Di dalam hidup sang kekasih tak hanya ada namanya, tetapi juga terukir sebaris aksara bertuliskan Tera.“Kalau kamu bisa sedikit lebih sabar, tentunya tidak akan membuat semuanya kacau. Harusnya rencana kita sempurna. Setelah kontrak selesai, aku bercerai dan kita tinggal datang pada orang tuaku memohon restu. Aku yang seor

  • ISTRI 365 HARI   BAB 64

    “Tidak perlu minta Suma memilih. Putriku dan dirimu itu beda kelas. Jadi, jelas bukan sesuatu yang bisa disandingkan bersama.” Papa Mahaka menegaskan. Kehadiran Inggit memancing amarahnya. Kesabaran yang hanya seperti seutas benang tipis diuji berulang kali. “Kalau ada cermin, tolong berkaca sebelum membandingkan diri dengan orang lain. Kalau memang tidak ada, aku akan mengirimnya untukmu.” Papa Mahaka mengomel bak sepur. Sederet kata-kata meluncur lancar seperti tak perlu dipikir dan saring lebih dulu.Tatapan tajamnya berpindah ke arah Suma. Dia menggeleng tak terima ketika pria muda yang terus menyatakan diri sebagai seorang suami itu tengah menggenggam tangan putrinya.“Lepaskan Tera dan jangan pernah menginjakkan kakimu di rumahku lagi!” tegas Papa Mahaka. “Dan, terima kasih sudah memuluskan niatku. Dengan adanya kontrak pernikahan akan makin memuluskan niatku. Pernikahan ini sejak awal sudah tidak benar. Jadi memang sebaiknya diakhiri. Dosa namanya kalau berani mempermainkan p

  • ISTRI 365 HARI   BAB 63

    “Beb?” Koper yang pegangannya sempat digenggam Inggit terjatuh. Kata-kata Suma terus terngiang-ngiang. Janji yang sempat dikumandangkan pria muda itu padanya seperti bertolak belakang dengan situasi sekarang. “Bagaimana bisa?” cicit Inggit, tak terimaBerdiri beberapa meter dari posisi Suma yang tengah berdebat dengan sang mertua, dia bisa mendengar jelas permohonan kekasihnya itu agar tidak berpisah dari Tera. Seperti petir menyambar, tubuhnya persis mengenai sasaran.“Sudah, Nggit. Jangan ikut campur.” Bu Rosmi mengangkat koper yang terguling di dekat kaki anaknya. “Itu urusan para majikan. Kita hanya pelayan, jadi mendingan tutup mata dan telinga. Anggap tidak mendengar, tidak melihat.”Inggit mengentakkan kaki ke bumi berulang kali. Dia tak terima. Ucapan sang ibu takbisa dianggap angin lalu.“Ibu saja kali, aku tidak. Suma itu masih kekasihku. Mana mungkin ....” Belum hilang kekagetannya, suara langkah kaki terdengar jelas dari balik punggung. Inggit berbalik dan makin kecewa s

  • ISTRI 365 HARI   BAB 62

    Beberapa anak kunci mengantung di lubang pintu. Berguncang dan gemerincing ketika saling berbenturan satu sama lain. Ada sosok bermata merah tengah meradang dengan kedua tangan bertekuk di pinggang. Tatapan tajam tertuju ke arah ranjang, memindai sepasang anak manusia yang salin mendekap di balik selimut.“RA!” Kalau panggilan sebelumnya lembut dan menentramkan, kali ini berbeda. Papa Mahaka berteriak kencang. Bukan hanya mengagetkan Suma dan Tera, tetapi juga seisi rumah. Amarah itu nyata, murka itu pun fakta.“Pa … pa?” Suma yang bangun lebih dulu tampak terkejut. Belum sepenuhnya sadar dengan keadaan di sekitar, kepingan ingatan masih berantakan. Pandangan kosongnya menyapu seisi ruangan. Asing. Namun, pria tua yang sudah rapi dengan setelah kerja itu sangat familier. Apalagi dalam posisi sedang murka seperti saat ini.“BAGAIMANA KAMU BISA ADA DI SINI?” Suara Papa Mahaka menggelegar. Menanjak, seiring dengan emosi kian memuncak.“Pa.” Suma bingung. Menggaruk-garuk kepala, rambut

  • ISTRI 365 HARI   BAB 61

    “Nak, kalau kita banyak uang, banyak-banyak berbuat baik. Tapi, kalau kita tidak punya uang, lakukan yang terbaik. Berusahalah.” Bu Rosmi masih duduk di tepi tempat tidur sambil menatap sedih ke arah putrinya yang wara-wiri di depan mata membenahi barang-barang pribadi yang akan dibawa keluar dari apartemen. Kalau boleh jujur, perasaannya juga sedih. Dia ikut terluka melihat anaknya diperlakukan seperti sampah. Cinta memang sulit ditebak. Inggit memilih melabuhkan cinta pada Suma. Namun, masalah ini bukan restu semata. Sifat sang putri semata wayang takbisa dikatakan membanggakan. Sebagai ibu yang melahirkan, dia juga malu.“Ibu bisa diam, ‘kan? Kalau tidak bisa bantu, setidaknya tutup mulut. Paling tidak kerjaanku tak terhambat.” Inggit kembali berkata kasar. Membentak ibunya sudah jadi makanan sehari-hari. “Ini aku sedang berusaha jadi lebih baik. Tidak begini-begini saja hidup kita. Mau sampai kapan Ibu jadi babu?” Gadis cantik itu mulai sengit.“Nggit.” Ibu Rosmi menitikkan air

  • ISTRI 365 HARI   BAB 60B

    Inggit tengah merengut sembari memasukkan barang-barang pribadinya ke dalam tas. Terus menggerutu, dia tak menyadari kehadiran ibunya yang sudah membuka pintu kamar. “Apa maunya? Kenapa dia lama sekali meninggalnya. Sudah tua juga. Harusnya perusahaan sudah menjadi milik Suma.”Tak terima mendengar ucapaan buruk sang putri, Bu Rosmi mendelik.“Kenapa menyumpah, Nggit.”Suara Bu Rosmi menyela. “Selama ini Pak Tama dan Ibu Caca sudah sangat baik pada kita.” Berjalan mendekat, pandangan wanita tua itu mengedar ke sekeliling kamar. Ruangan luas itu memang terbilang mewah. Sangat jauh dibandingkan dengan kamar sepetak di belakang rumah majikannya yang menjadi tempat tinggal selama bertahun-tahun.“Ibu?” Inggit terkejut. Tas branded di tangannya terlepas dan jatuh ke lantai. Sontak menarik perhatian.Bu Rosmi bermaksud memungutnya saat teriakan Inggit memekik telinga. “Jangan disentuh, Bu. Itu tas mahal. Tangan Ibu itu kotor! Gak pantes pegang barang mahal!"Urung, wanita tua itu mengge

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status