LOGIN“Bulan madu?” Suma terkejut melihat dua tiket pesawat yang disodorkan mamanya di atas meja. Beralih menatap Tera, wajahnya tampak datar.
“Ya. Mama dan Mama Nay sepakat menghadiahkan tiket bulan madu ke Bali. Ya, anggap saja hadiah pernikahan dari kami.” Mama Caca tersenyum bahagia. Melirik besan yang duduk di sebelahnya, wajah wanita paruh baya itu berbinar bahagia. “Untuk apa?” Suma bingung. Mama Caca dan Mama Nayala saling bertukar pandang. Tak lama, keduanya berseru dengan kompak. “Untuk pengantin baru.” “Tapi, Ma. Ini berlebihan.” Pria muda itu mulai melancarkan keberatannya. Dia akan menggunakan alasan apa saja untuk bisa menolak rencana kedua wanita di hadapannya. “Ish!” Mama Caca merengut. “Berlebihan bagaimana? Kecuali aku memberimu tiket ke bulan atau ke kutub utara, baru bisa dikatakan berlebihan. Ini hanya ke Bali, Nak. B … a … l ... i. Pejam mata sekejap, melek sudah mendarat di Ngurah Rai.” Suma menyenggol lengan Tera yang sejak tadi diam. Berharap, wanita muda itu mau membantunya membantah ucapan kedua mama mereka. “Ra, ayo bicara. Jangan diam. Nanti, dikira kita bahagia lagi mendapat kado ini. Aku tidak mau. Bulan madu apanya? Kita menikah saja hanya kontrak.” Suma berbisik. Tak mau sampai protesnya terdengar orang lain. Tera tertunduk. Dibiarkan Suma yang membantah Mama Caca dan Mama Nayala habis-habisan. Percuma dia mendebat, tetap saja kalah pada akhirnya. “Sudah. Jangan diam saja. Ayo disimpan tiketnya. Mungkin ini hanya Bali. Nanti-nanti Mama kasih hadiah tiket ke Turki, Paris, atau Maldives.” Mama Caca semringah. “Atau mau sekalian ke kandang macan? Biar bisa adventure-an ala-ala Jurassic Park. Lumayan, bisa pelukan, kekepan. Namanya pengantin baru, bawaannya pasti tidak mau jauh-jauh.” Pandangan beralih pada rantang di atas meja, Mama Caca kembali bersuara. Berbeda dengan Mama Nayala yang pendiam dan tak terlalu banyak bicara, dia memang ceplas-ceplos dan apa-adanya. “Belum pada sarapan, ‘kan? Mama bawakan makanan kesukaan.” Tatapan wanita paruh baya itu menyelidik. Dipindainya Suma dan Tera bergantian. “Apa yang kalian lakukan semalaman?” tanyanya, tanpa basa -basi. Mama Nayala tersentak. Ragu-ragu, dia menoleh ke arah besannya lalu beralih menatap pasangan pengantin baru. “Ada apa, Ca?” tanya Mama Nayala, penasaran bercampur resah. Sejak semalam mengkhawatirkan putri bungsunya. Dari kecil Tera tidak pernah berpisah jauh darinya. Di saat menikah dan harus ikut suami, dia pun merasa kehilangan. “Itu!” Telunjuk Mama Caca terarah tegas pada Tera. “Dari semalam tidak ganti pakaian. Masih mengenakan gaun pengantin. Apa yang dikerjakan mereka?” Pundaknya melunglai. Bayangan seorang cucu yang lucu makin menjauh. Malam pengantin terlewati begitu saja. Mama Nayala terdiam. “Jangan katakan semalam mereka hanya mengobrol sampai tertidur. Bagaimana bisa ada kabar gembira empat minggu lagi? Ritual pentingnya belum dilakukan, Nay.” Mama Caca mengeluh. Matanya berkilat-kilat, dia mendengkus berulang. Pipi Tera bersemu merah. Ucapan sang mertua yang blak-blakan membuatnya tak sanggup berkata-kata. Semakin tertunduk, dia malu. “Sudah, Ma. Jangan terlalu ikut campur rumah tanggaku. Kami mau melakukan apa semalaman, itu hak kami.” Suma protes. “Bukan begitu maksud Mama, Suma.” Mama Caca mencebik ketika disalahkan. “Makanya, dari kemarin Mama sudah ingatkan berulang kali, kamu malah ngeyel. Bilang bisa sendiri, tidak perlu diajari. Nah, sekarang bingung, ‘kan?” Suma ternganga. “Ma, aku bukan anak kecil sampai perkara begituan juga harus diajari.” “Tuh, buktinya.” Mama Caca kembali menunjuk Tera. “Kalau tidak bingung, mana mungkin masih belum ganti gaun dari semalam? Apa tidak gerah tidur dengan gaun pengantin?” Suma terbelalak. Ditelitinya Tera yang sedang duduk diam di sebelahnya lalu menggerutu pelan. Tak mau sampai omelannya terdengar sang mama dan mertua. “Kamu membuat masalah saja, Ra. Jadi ketahuan. ‘kan?” “Maaf.” Tera menjawab tak kalah pelan. “Aku tidak tahu Mama bakalan ke sini.” “Sudah-sudah, kalian mandi dulu. Mama siapkan sarapan. Jangan sampai disia-siakan. Mama membawa naik semua ini dengan penuh perjuangan. Belum lagi tadi ditanya-tanya sekuriti.” Mama Caca menjelaskan kronologi rantang susun itu bisa masuk ke dalam kamar hotel. “Ya sudah. Aku mandi dulu.” Suma yang sudah bosan mendengar ucapan mamanya itu buru-buru berdiri. Momen ini digunakannya untuk melarikan diri dari segala petuah tak berguna. “Loh, loh, loh.” Mama Caca mengarahkan telunjuknya pada Suma dan meminta pria muda itu berhenti melangkah. “Apa lagi, sih, Ma? Tadi katanya suruh mandi. Sekarang mau mandi, suruh berhenti. Kapan kamu berhenti bawelnya, Ma?” “Nanti, kalau aku sudah tidak ada di dunia ini. Tapi, jangan sampai saat itu datang, kamu bilang kangen lagi,” cerocos Mama Caca. “Ca, kenapa bicara seperti itu?” Mama Nayala bersuara setelah sejak tadi hanya diam menyimak. “Omongan itu doa. Nanti kalau didengar Tuhan, bisa jadi nyata.” “Biarkan saja. Kalau aku sudah tiada, baru anak ini sadar. Dari dulu berulah. Kalau dibilangin, ngeyelnya jalan dulu.” Mama Caca menumpahkan kesalnya. “Mama maunya apa? Tadi disuruh ke kamar mandi. Aku ke kamar mandi malah disuruh stop.” “Ini.” Telunjuk Mama Caca terarah pada Tera. “Gaunnya itu ribet, harus dibantu, Suma. Mana mungkin dia bisa membuka gaunnya sendiri?” Wanita tua itu menjelaskan. “Hah!” Suma dan Tera serempak tersentak. Ekspresi keduanya begitu kompak. Mama Nayala yang ikut menyimak buru-buru menengahi. Dia bisa melihat putrinya yang masih malu-malu walau sudah menjadi seorang istri. “Tidak apa-apa. Nanti Mama yang akan membantu membuka ikatan di gaunmu, Ra.” Caca mencelang. Tatapan tajamnya ditujukan pada sang besan. “Jangan-jangan. Mana boleh begitu. Mereka sudah menikah, harus belajar mandiri. Tera sudah punya suami. Biarkan suaminya yang melakukannya.” Pandangan Mama Caca beralih pada Suma. “Bantu istrimu melepas gaunnya di kamar mandi. Semalaman tidur seperti itu, mana bisa nyenyak. Pantas saja mata Tera sembab. Pasti kurang tidur.” “Tidak perlu, Tante … eh Ma.” Tera menolak. Membayangkan berduaan dengan Suma di kamar mandi, dia bergidik. Entah apa yang akan dilakukan suaminya saat mereka terkurung di sana. Dia yakin tidak akan ada sikap manis seperti mimpinya selama ini. “Sudah. Jangan sungkan. Sama suami sendiri itu namanya pahala, bukan dosa. Sudah sah juga.” Mama Caca semringah. Buru-buru berdiri, ditariknya sang menantu dan dituntun agar menggandeng tangan putranya. Tera menurut. “Nah, begini ‘kan manis. Bukan begitu, Besan?” Mama Caca menatap tetangga rumahnya yang kini berganti status menjadi besan. “Serasi, sempurna. Perfecto! Tidak sia-sia sejak kecil bermain monopoli berdua. Kerja sama keduanya sudah terlatih. Kini saatnya membangun rumah masa depan. Mama harap aset kalian di mana-mana seperti rekam jejak kalian saat main monopoli dulu.” Suma merengut, Tera memasang tampang sungkan. Mama Nayala lebih banyak diam, resah menatap sang putri kesayangan. Hanya Mama Caca yang girang bukan kepalang. “Mama tunggu di depan pintu kamar mandi.” Ucapan Mama Caca mampu menyentak sepasang pengantin baru tersebut.“Ini semua karenamu, Nggit!” tuduh Suma, mengalihkan pembicaraan.Inggit mencelang. Belum hilang sakitnya cekalan di pergelangan, kini kekasihnya kembali melontarkan tuduhan yang membuat hati terasa seperti dicincang.“Beb!” Sapaan sayang itu diucapkan dengan setengah berteriak dan membentak. Kesabaran Inggit yang tinggal segaris tipis hampir habis. Dipindainya laki-laki gagah yang tengah membuang muka. Tak lagi mau memandangnya dengan sorot penuh damba.Tatapan Suma tak seteduh dulu, kata-kata pun tak lagi menenteramkan jiwa. Mata elang pria itu menciptakan jarak yang akhir-akhir terasa begitu jauh jadi makin tak tersentuh. Semua berubah sejak pernikahan itu ada. Di dalam hidup sang kekasih tak hanya ada namanya, tetapi juga terukir sebaris aksara bertuliskan Tera.“Kalau kamu bisa sedikit lebih sabar, tentunya tidak akan membuat semuanya kacau. Harusnya rencana kita sempurna. Setelah kontrak selesai, aku bercerai dan kita tinggal datang pada orang tuaku memohon restu. Aku yang seor
“Tidak perlu minta Suma memilih. Putriku dan dirimu itu beda kelas. Jadi, jelas bukan sesuatu yang bisa disandingkan bersama.” Papa Mahaka menegaskan. Kehadiran Inggit memancing amarahnya. Kesabaran yang hanya seperti seutas benang tipis diuji berulang kali. “Kalau ada cermin, tolong berkaca sebelum membandingkan diri dengan orang lain. Kalau memang tidak ada, aku akan mengirimnya untukmu.” Papa Mahaka mengomel bak sepur. Sederet kata-kata meluncur lancar seperti tak perlu dipikir dan saring lebih dulu.Tatapan tajamnya berpindah ke arah Suma. Dia menggeleng tak terima ketika pria muda yang terus menyatakan diri sebagai seorang suami itu tengah menggenggam tangan putrinya.“Lepaskan Tera dan jangan pernah menginjakkan kakimu di rumahku lagi!” tegas Papa Mahaka. “Dan, terima kasih sudah memuluskan niatku. Dengan adanya kontrak pernikahan akan makin memuluskan niatku. Pernikahan ini sejak awal sudah tidak benar. Jadi memang sebaiknya diakhiri. Dosa namanya kalau berani mempermainkan p
“Beb?” Koper yang pegangannya sempat digenggam Inggit terjatuh. Kata-kata Suma terus terngiang-ngiang. Janji yang sempat dikumandangkan pria muda itu padanya seperti bertolak belakang dengan situasi sekarang. “Bagaimana bisa?” cicit Inggit, tak terimaBerdiri beberapa meter dari posisi Suma yang tengah berdebat dengan sang mertua, dia bisa mendengar jelas permohonan kekasihnya itu agar tidak berpisah dari Tera. Seperti petir menyambar, tubuhnya persis mengenai sasaran.“Sudah, Nggit. Jangan ikut campur.” Bu Rosmi mengangkat koper yang terguling di dekat kaki anaknya. “Itu urusan para majikan. Kita hanya pelayan, jadi mendingan tutup mata dan telinga. Anggap tidak mendengar, tidak melihat.”Inggit mengentakkan kaki ke bumi berulang kali. Dia tak terima. Ucapan sang ibu takbisa dianggap angin lalu.“Ibu saja kali, aku tidak. Suma itu masih kekasihku. Mana mungkin ....” Belum hilang kekagetannya, suara langkah kaki terdengar jelas dari balik punggung. Inggit berbalik dan makin kecewa s
Beberapa anak kunci mengantung di lubang pintu. Berguncang dan gemerincing ketika saling berbenturan satu sama lain. Ada sosok bermata merah tengah meradang dengan kedua tangan bertekuk di pinggang. Tatapan tajam tertuju ke arah ranjang, memindai sepasang anak manusia yang salin mendekap di balik selimut.“RA!” Kalau panggilan sebelumnya lembut dan menentramkan, kali ini berbeda. Papa Mahaka berteriak kencang. Bukan hanya mengagetkan Suma dan Tera, tetapi juga seisi rumah. Amarah itu nyata, murka itu pun fakta.“Pa … pa?” Suma yang bangun lebih dulu tampak terkejut. Belum sepenuhnya sadar dengan keadaan di sekitar, kepingan ingatan masih berantakan. Pandangan kosongnya menyapu seisi ruangan. Asing. Namun, pria tua yang sudah rapi dengan setelah kerja itu sangat familier. Apalagi dalam posisi sedang murka seperti saat ini.“BAGAIMANA KAMU BISA ADA DI SINI?” Suara Papa Mahaka menggelegar. Menanjak, seiring dengan emosi kian memuncak.“Pa.” Suma bingung. Menggaruk-garuk kepala, rambut
“Nak, kalau kita banyak uang, banyak-banyak berbuat baik. Tapi, kalau kita tidak punya uang, lakukan yang terbaik. Berusahalah.” Bu Rosmi masih duduk di tepi tempat tidur sambil menatap sedih ke arah putrinya yang wara-wiri di depan mata membenahi barang-barang pribadi yang akan dibawa keluar dari apartemen. Kalau boleh jujur, perasaannya juga sedih. Dia ikut terluka melihat anaknya diperlakukan seperti sampah. Cinta memang sulit ditebak. Inggit memilih melabuhkan cinta pada Suma. Namun, masalah ini bukan restu semata. Sifat sang putri semata wayang takbisa dikatakan membanggakan. Sebagai ibu yang melahirkan, dia juga malu.“Ibu bisa diam, ‘kan? Kalau tidak bisa bantu, setidaknya tutup mulut. Paling tidak kerjaanku tak terhambat.” Inggit kembali berkata kasar. Membentak ibunya sudah jadi makanan sehari-hari. “Ini aku sedang berusaha jadi lebih baik. Tidak begini-begini saja hidup kita. Mau sampai kapan Ibu jadi babu?” Gadis cantik itu mulai sengit.“Nggit.” Ibu Rosmi menitikkan air
Inggit tengah merengut sembari memasukkan barang-barang pribadinya ke dalam tas. Terus menggerutu, dia tak menyadari kehadiran ibunya yang sudah membuka pintu kamar. “Apa maunya? Kenapa dia lama sekali meninggalnya. Sudah tua juga. Harusnya perusahaan sudah menjadi milik Suma.”Tak terima mendengar ucapaan buruk sang putri, Bu Rosmi mendelik.“Kenapa menyumpah, Nggit.”Suara Bu Rosmi menyela. “Selama ini Pak Tama dan Ibu Caca sudah sangat baik pada kita.” Berjalan mendekat, pandangan wanita tua itu mengedar ke sekeliling kamar. Ruangan luas itu memang terbilang mewah. Sangat jauh dibandingkan dengan kamar sepetak di belakang rumah majikannya yang menjadi tempat tinggal selama bertahun-tahun.“Ibu?” Inggit terkejut. Tas branded di tangannya terlepas dan jatuh ke lantai. Sontak menarik perhatian.Bu Rosmi bermaksud memungutnya saat teriakan Inggit memekik telinga. “Jangan disentuh, Bu. Itu tas mahal. Tangan Ibu itu kotor! Gak pantes pegang barang mahal!"Urung, wanita tua itu mengge







