FAZER LOGINAku keluar dari lobi mengenakan pakaian tertutup yang anggun. Aku melangkah masuk ke dalam mobil Azzam dengan gerakan lembut, mencoba tetap tenang di tengah badai perasaan yang berkecamuk.
Di dalam mobil, keheningan menyergap. Azzam mengemudi dengan tenang, matanya fokus pada jalanan yang basah. Ia tidak menyalakan musik, hanya suara wiper kaca yang bergerak ritmis di depanku. Setelah beberapa menit membisu, Azzam akhirnya membuka suara. Suaranya berat dan berwibawa."Sampai"Maaf, Azizah, Ibu... Tadi aku sedikit pusing jadi langsung berbaring," ucapku mencari alasan.Ibu tersenyum sangat teduh dan mengusap bahuku."Tidak apa-apa, Sayang. Setiap orang pasti punya masalah dan butuh istirahat."Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling rumah, mencari sosok pelindungku yang biasanya selalu ada."Azzam ke mana?" tanyaku."Abang sedang di kamarnya sejak pulang tadi," jawab Azizah."Baiklah, aku akan siapkan makan malam dulu untuk kita semua," ucapku mencoba menyibukkan diri untuk mengalihkan rasa bersalahku.Setelah semua makanan tertata rapi di atas meja makan, Azzam masih juga belum keluar dari kamarnya. Suasana hening yang tidak biasa mulai menimbulkan kekhawatiran."Bang! Ayo makan malam dulu!" teriak Azizah dari depan pintu kamar kakaknya.Karena tidak ada jawaban sama sekali, Azizah memberanikan diri untuk membuka pintu kamar yang tidak terkunci itu. Di dalam kamar yang temaram, ia melihat Azzam sedang terbaring kaku di atas tempat tidur dengan pakaian k
Zuhra menelan ludah getir melihat binar bahagia di mata suaminya yang tidak pernah ditujukan untuknya. Namun, ia tetap melanjutkan kebohongannya."Aku sudah katakan padanya kalau aku mengizinkan kalian berdua untuk menikah. Jadi, kalian tidak perlu sembunyi-sembunyi lagi dariku."Hafiz seketika kegirangan. Ia menghambur ke arah Zuhra, memeluknya erat dan menciumi seluruh wajah istrinya."Terima kasih, Zuhra! Kamu benar-benar istri yang hebat! Aku mencintaimu!"Zuhra memejamkan mata, menikmati pelukan dan ciuman yang sangat ia rindukan ini, meski ia tahu semua ini hanyalah hadiah karena ia membawa kabar tentang wanita lain."Tapi sayang... bagaimana kalau rencana ini terdengar oleh keluarga besar kita?" tanya Zuhra mencoba menguji nyali suaminya.Hafiz menjawab tanpa berpikir panjang, matanya berkilat penuh tekad."Aku sudah tidak peduli dengan keluarga besar atau aturan konyol mereka, Zuhra! Semua harta kekayaan warisan itu hanya membuatku merasa terkekang selama ini! Aku hanya ingin
Aku pun bersiap untuk bangun dari kursi rotanku, namun tangan Azzam bergerak cepat menahan pergelangan tanganku, menariknya hingga wajah kami berdekatan."Nanti kalau tidur, mengigaulah... dan masuklah ke kamarku," canda Azzam dengan suara rendah dan senyum tipis yang mematikan.Aku tersipu, wajahku merona merah di bawah cahaya bulan."Ssssttt... Azzam, nanti kedengaran Zizah!"Azzam tidak peduli. Ia memajukan wajahnya, mencuri satu ciu man manis di bib irku yang terasa lembut. Ci uman yang penuh janji dan perlindungan, bukan sekadar pelampiasan na fsu.Azzam berbisik tepat di depan bibirku, "I love you, Zara."Aku membalas tatapan itu dengan binar mata yang jernih, merasakan ketulusan yang selama ini aku cari. "I love you more, Azzam."Aku melangkah masuk ke dalam rumah dengan hati yang lebih ringan, sementara Azzam menyusul dari belakang, memastikan wanita pujaannya masuk ke dalam kamarnya dengan aman.Di rumah ini, cinta tumbuh dengan kejujuran, sangat kontras dengan kepalsuan yang
"Tolong, jangan memancing emosiku malam-malam begini," sahut Hafiz ketus."Apa kamu begitu sangat mencintai perempuan itu? Zara si mura han itu?!"Hafiz menoleh dengan tatapan mem atikan. "Iya! Aku mencintainya! Sangat mencintainya sampai rasanya aku mau gila! Puas kamu?!"Zuhra terdiam membatu. Mendengar pengakuan jujur itu dari mulut suaminya sendiri jauh lebih menyakitkan daripada melihatnya berselin gkuh."Tega kamu, Hafiz... tega...""Jangan menyuruhku berbicara kalau ujung-ujungnya hanya akan menyakitimu. Pergilah tidur," ujar Hafiz kembali memunggungi istrinya.Namun, Zuhra justru memeluk punggung Hafiz yang polos dari belakang. Pikirannya yang kalut melahirkan sebuah ide gila demi mempertahankan suaminya."Apa yang kamu inginkan, Hafiz? Apa kamu ingin menikahinya?"Hafiz terkejut. Ia membalikkan badannya, menatap wajah Zuhra yang sembab. "Maksudmu?""Aku sudah tahu semuanya, Hafiz. Tentang Zara," lanjut Zuhra dengan suara bergetar."Dari mana kamu tahu namanya?" Hafiz mengerut
Azzam berdiri tegak di depanku, menatap Zuhra dengan pandangan mengintimidasi. "Siapa dia, Zara?" tanya Azzam."Istri Hafiz," jawabku singkat. Bibirku tersenyum tipis, tidak menunjukkan ketakutan sedikit pun.Azizah yang berdiri di samping kami terperangah."Jadi ini orangnya?" gumamnya tak percaya.Zuhra melangkah maju, wajahnya penuh dengan kebencian yang dibalut keangkuhan. Ia menatap Azzam dengan senyum kemenangan. "Tadi kita berpapasan di toilet, dan aku bilang kamu tidak asing. Sekarang aku ingat jelas. Kamu pria yang waktu itu berdiri memperhatikan suamiku di depan hotel tempat Zara menginap, kan?"Aku maju satu langkah, menatap Zuhra langsung di matanya."Langsung saja, ada keperluan apa memanggil saya di tempat umum seperti ini?"Zuhra tertawa sinis, matanya beralih dariku ke Azzam."Aku pikir kamu perempuan yang benar-benar mencintai Hafiz sampai rela jadi simpanan. Ternyata, hari itu setelah suamiku keluar dari kamar hotelmu, pria ini sudah menunggu giliran untuk masuk. Mur
"Kamu di mana sekarang? Aku akan ke sana! Beritahu aku tempatmu!" Hafiz mendesak, suaranya naik satu oktaf. Azizah yang berada di sampingku membisikkan kata-kata di telingaku, "Ayo, Zara... katakan soal pernikahanmu!" Aku menarik napas panjang. "Aku... aku..." "Jawab, Zara! Aku sangat merindukanmu. Aku tidak bisa hidup tanpamu. Bukankah kita sudah berjanji akan selalu bersama selamanya? Ingatkah kamu saat-saat indah kita?" Hafiz mulai melancarkan serangan kata-kata manis yang dulu selalu berhasil meluluhkan pertahananku. Hatiku sempat tergoyah. Kenangan tentang sentuhan pertama Hafiz dan janji-janji surga itu sempat melintas. Namun, aku kembali teringat pada Azzam-pria yang tidak menjanjikan surga dengan kata-kata, melainkan memberikannya rumah, kehormatan, dan masa depan yang nyata. Tanpa sanggup berkata apa-apa lagi, aku langsung mematikan sambungan telepon itu. Aku meletakkan ponselku dengan tangan gemetar. "Kenapa kamu tidak bicara begitu, Zara? Kamu masih berharap pa
Jakarta, lima tahun yang lalu. Aku menatap layar ponselku dengan intensitas yang tidak biasa. Di pojok kanan atas, jam menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Sebagai mahasiswi Psikologi semester lima, aku seharusnya sedang berkutat dengan jurnal tentang attachment theory, namun pikiranku justru tertam
Aku meletakkan ponselku di atas kasur dan menangis sesenggukan. Rasa sesak itu seolah menghimpit paru-paruku. Lima menit kemudian… TING! Notifikasi pesan masuk. @Hafiz: “Kamu di... Mumbai?” Jantungku seakan berhenti berdetak. Aku menyambar ponselku dengan tangan gemetar. @Zara: “Ya. Aku
Aku berjalan gontai ke cermin kamar mandi. Wajahku pucat pasi, mataku bengkak dan merah. Aku menatap pantulan diriku sendiri, merasakan campuran antara rasa jijik dan kerinduan yang amat sangat pada sosok di cermin itu. Pikiranku melayang, teringat betapa intensnya hubungan kami saat kuliah dulu. B
Aku meronta pelan dalam dekapan itu, namun akhirnya aku menyerah dan menyembunyikan wajahku di dada bidang Hafiz. Tangisanku pecah semakin kencang, membasahi jaket tebal yang ia kenakan. Hafiz mengusap punggungku perlahan, sebuah sentuhan yang mencoba menenangkanku namun justru membuat lukaku semaki







