مشاركة

Bab 16

مؤلف: Meera
last update تاريخ النشر: 2026-05-10 19:10:50

Aku keluar dari lobi mengenakan pakaian tertutup yang anggun. Aku melangkah masuk ke dalam mobil Azzam dengan gerakan lembut, mencoba tetap tenang di tengah badai perasaan yang berkecamuk.

Di dalam mobil, keheningan menyergap. Azzam mengemudi dengan tenang, matanya fokus pada jalanan yang basah. Ia tidak menyalakan musik, hanya suara wiper kaca yang bergerak ritmis di depanku. Setelah beberapa menit membisu, Azzam akhirnya membuka suara. Suaranya berat dan berwibawa.

"Sampai
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • ISTRI BAYANGAN   Bab 21

    Zuhra melepaskan jabatan tangan kami, ia menyandarkan tubuhnya sedikit ke arah sofa, tetap berdiri dengan posisi yang dominan. "Kamu pasti sudah tahu apa tujuan saya datang kemari, bukan?" Aku tersenyum anggun, mencoba mengimbangi ketenangan Zuhra. "Iya, tentu saya tahu. Suami Anda sedang tidak ada di sini sekarang." "Saya tahu," jawab Zuhra santai, seolah keberadaan Hafiz saat ini bukan lagi r4h4si4 baginya. "Sejak kapan Anda menyukai suami saya?" Pertanyaan itu meluncur begitu saja, sangat lembut namun tajam seperti sembilu. Aku terdiam sesaat, aku membasahi bibirku lalu menjawab dengan suara yang mantap. "Sebelum Anda menikah dengannya." Kali ini, giliran Zuhra yang terkejut. Alisnya bertaut, meski ia berusaha menjaga ekspresi wajahnya agar tetap datar. "Maksudnya?" "Iya, betul," aku melangkah satu tindak lebih dekat, matanya menatap lurus ke dalam manik mata Zuhra. "Kami sudah saling mencin

  • ISTRI BAYANGAN   Bab 20

    ​Pagi itu di kediaman Adnan, keheningan di meja makan terasa begitu mencekam, meski hanya suara denting sendok yang beradu dengan piring porselen. Hafiz menyesap kopinya dengan perlahan, namun pikirannya melayang jauh ke kamar 301. Kata-kata Zuhra semalam tentang "suami yang menyewa hotel untuk wanita lain" terus berdengung di telinganya seperti lebah yang mengamuk. Ia menyadari sepenuhnya bahwa itu adalah sindiran halus yang mematikan.​"Aku harus segera memindahkan Zara ke apartemen," batin Hafiz gelisah. Hotel terlalu terbuka. Zuhra mulai mencium baunya.​Zuhra, yang duduk di hadapannya, tampak tenang menyantap sarapannya. Namun, ketenangan itu adalah topeng paling sempurna yang pernah ia kenakan.​"Sayang," suara Zuhra memecah keheningan. "Aku belakangan ini merasa suntuk sendirian di rumah saat kamu bekerja. Bagaimana kalau makan siang nanti aku antarkan makanan ke kantormu? Aku masak menu favoritmu."​Hafiz nyaris tersedak kopinya. Ia menata

  • ISTRI BAYANGAN   Bab 19

    Begitu mobil berhenti di depan pagar rumah, Zuhra segera turun.​"Terima kasih, Shena. Aku... aku tidak tahu apa yang akan terjadi malam ini."​"Telepon aku jika terjadi sesuatu, Zuhra. Aku akan selalu ada," jawab Shena sebelum memutar balik mobilnya dan menghilang di kegelapan jalan.​Sepuluh menit berlalu seperti berjam-jam bagi Zuhra. Ia duduk di sofa ruang tengah, memegang sebuah buku tebal yang terbuka di pangkuannya. Namun, matanya sama sekali tidak membaca barisan kata di sana. Ia sedang menghitung detak jantungnya sendiri yang berdebar kencang saat mendengar suara deru mesin mobil Hafiz memasuki halaman.​Klik.​Suara kunci pintu diputar. Hafiz melangkah masuk dengan wajah yang tampak sangat lelah. Ia langsung melepas kemejanya yang sudah sedikit kusut. Begitu melihat Zuhra masih terjaga, ia mencoba memaksakan sebuah senyum hangat yang biasanya selalu berhasil meluluhkan hati istrinya.​"Loh, Sayang? Kok belum tidur? Kan

  • ISTRI BAYANGAN   Bab 18

    Dengan jemari yang dingin, Zuhra mengetik barisan kata yang tampak sangat manis namun beracun.Zuhra: "Sayang, rapatnya sudah mulai? Jangan lupa makan malam ya, aku menunggumu di rumah."Di lantai tiga, tepatnya di kamar 301, suasana panas baru saja mereda. Keheningan yang intim menyelimuti ruangan. Hafiz dan aku masih terbaring bersinggungan kulit di bawah selimut sutra yang berantakan. Napas kami perlahan mulai teratur setelah pergulatan hebat yang menguras tenaga tadi. Hafiz memiringkan tubuhnya, mengecup bahuku yang masih lembap oleh keringat dengan penuh kasih.Ting!Suara notifikasi itu memecah kesunyian. Ponsel Hafiz yang tergeletak di atas nakas menyala, memendarkan cahaya putih di kegelapan kamar. Hafiz meraihnya dengan malas, mengira itu hanya urusan kantor. Namun, matanya seketika membelalak saat membaca nama pengirimnya.Zuhra.Hafiz terdiam membeku seolah seluruh aliran darahnya berhenti. Pesan itu tampak sangat sede

  • ISTRI BAYANGAN   Bab 17

    ​Tanpa disadari oleh mereka semua, di seberang hotel, sebuah mobil lain berhenti mendadak. Azzam. Pria itu baru saja pulang kerja dan rute rumahnya memang melewati hotel ini. Matanya yang tajam menangkap sosok Hafiz yang sedang melangkah masuk ke lobi.​Azzam mengernyitkan dahi. Rahangnya mengeras. Pria itu lagi. Apa yang dia lakukan di sini sore-sore begini? Azzam memutuskan untuk tidak langsung pulang. Ia memarkirkan mobilnya di tempat yang strategis untuk mengintai. Ia akan menunggu sampai Hafiz keluar.​Di dalam lift, Shena berdiri tepat di belakang Hafiz, menunduk seolah sibuk mengirim pesan. Begitu lift berdenting di lantai 3, Hafiz keluar. Shena mengikuti dengan jarak yang aman. Ia pura-pura menempelkan ponsel di telinganya seolah sedang menelepon.​Hafiz berhenti di depan kamar 301. Ia mengetuk pintu dengan ritme khusus. Tak lama, pintu terbuka.​"Sayang! Aku kangen sekali, tahu tidak!" suaraku terdengar begitu riang dan manja dari dalam k

  • ISTRI BAYANGAN   Bab 16

    Aku keluar dari lobi mengenakan pakaian tertutup yang anggun. Aku melangkah masuk ke dalam mobil Azzam dengan gerakan lembut, mencoba tetap tenang di tengah badai perasaan yang berkecamuk.Di dalam mobil, keheningan menyergap. Azzam mengemudi dengan tenang, matanya fokus pada jalanan yang basah. Ia tidak menyalakan musik, hanya suara wiper kaca yang bergerak ritmis di depanku. Setelah beberapa menit membisu, Azzam akhirnya membuka suara. Suaranya berat dan berwibawa."Sampai kapan kamu mau tinggal di hotel itu, Zara?"Aku menoleh, menatap profil samping wajah Azzam yang tegas. "Aku tidak tahu, Azzam.""Tinggallah dengan Azizah di rumah kami. Itu jauh lebih aman untukmu daripada sendirian di hotel seperti ini," Azzam bicara tanpa menoleh, namun nada suaranya tidak sedingin biasanya.Aku tersenyum tipis, sebuah senyuman yang mengandung banyak luka. "Nanti aku pikirkan lagi, Azzam."Azzam menghela napas, ia sedikit melambatkan laju

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status