Share

Bab 5.

Author: Meera
last update publish date: 2026-04-04 03:22:52

Azizah sedikit terperanjat.

“Lalu? Apa kamu sudah bertemu dengannya?”

"Sudah," aku menarik napas panjang, mencoba menahan tangis.

“Tapi dia sudah mengkhianatiku. Dia sudah menikah dengan perempuan lain di sini.”

Azizah menutup mulutnya dengan tangan, terkejut.

“Ya Tuhan... lalu apa yang kamu lakukan?”

"Aku belum bisa terima, Azizah. Aku menunggunya selama lima tahun di Indonesia. Aku mencarinya ke mana-mana tanpa kabar. Setelah aku nekat datang ke sini dan bertemu dengannya, dia baru bilang kalau dia sudah menikah. Aku mencarinya sampai sejauh ini hanya untuk dikhianati," aku akhirnya meneteskan air mata.

Azizah segera berpindah duduk dan memelukku.

“Sabar ya. Aku tidak menyangka ceritanya sesakit ini.”

Aku mengangguk dalam pelukan Azizah, aku menceritakan segalanya—tentang masa kuliah kami, tentang janji-janji Hafiz, dan tentang betapa aku merasa tidak bisa hidup tanpa pria itu.

Di balik pintu kaca yang sedikit terbuka, Azzam berdiri mematung. Ia tidak sengaja mendengar seluruh percakapan itu. Kepalan tangannya menguat. Ada rasa marah pada pria yang disebut Hafiz itu, namun ada obsesi lain yang tumbuh di hatinya: ia ingin menolongku. Ia ingin menggantikan posisi Hafiz dan menghapus air mata itu. Azzam yang pendiam mulai memendam keinginan untuk memilikiku.

Malam harinya, setelah kembali ke hotel, aku duduk di tepi ranjang. Rasa rinduku pada Hafiz justru semakin menggila setelah aku menceritakan kepedihanku pada Azizah. Aku mengambil ponsel dan mengirim pesan singkat yang menuntut.

@Zara: “Hafiz, datang ke hotelku sekarang.”

Beberapa menit kemudian, balasan masuk.

@Hafiz: “Iya, nanti malam aku akan ke sana. Tunggu aku.”

Pukul sepuluh malam, pintu kamar hotelku diketuk. Hafiz masuk dengan langkah yang lebih tenang. Kali ini, ia tidak lagi tampak meledak-ledak. Ada rasa lelah dan sayang yang bercampur di matanya. Ia duduk di hadapanku, menatapku yang tetap diam membisu.

"Zara," suara Hafiz lembut, penuh kesabaran. “Aku masih mencintaimu. Kamu selalu ada di hatiku, setiap detik selama ini.”

Aku mendongak, mataku yang sembab menatap Hafiz mencari kejujuran.

“Lalu kenapa kamu meninggalkanku?”

Hafiz memegang tanganku.

“Keadaannya rumit. Tapi aku tidak bisa kehilanganmu lagi. Bisakah kamu menjaga rahasia ini? Bisakah kamu tetap di sini sebagai rahasiaku?”

Aku yang sudah kehilangan akal sehat karena cinta, menjawab dengan lembut.

“Bisa, Hafiz. Aku akan melakukan apa pun yang kau inginkan, asal aku tetap bersamamu. Aku tidak peduli lagi.”

Hafiz menghela napas lega, namun ada gurat kesedihan di wajahnya.

“Aku akan terus bersamamu sampai kapan pun. Tapi... aku tidak bisa menikahimu. Tanpa pernikahan, apa kamu sanggup?”

Hatiku tertusuk, namun aku sudah terlalu lemah untuk melawan.

“Lakukanlah apa yang ingin kamu lakukan, Hafiz. Asal kamu tetap di sini, bersamaku.”

Hafiz merasa sangat bersalah. Hatinya menjerit ingin meresmikan hubungan ini, namun bayangan keluarga besar di Mumbai dan wajah istrinya, Zuhra, membuatnya ketakutan. Ia adalah seorang pengecut yang terjebak di antara dua dunia.

Dalam kesunyian malam yang mencekam, Hafiz menarikku ke dalam pelukannya. Ia memelukku erat, sangat erat, seolah ingin menyatukan tubuh kami agar tak terpisahkan lagi.

Gairah yang tertahan selama bertahun-tahun mendadak pecah. Hafiz mulai menciumi dahi, pipi, hingga bibirku dengan penuh nafsu.

Ia tidak bisa menahan diri lagi. Dengan lembut namun pasti, Hafiz menciumi leherku, menghirup aroma tubuhku yang selalu menghantuinya. Tangannya bergerak gemetar membuka satu per satu kancing bajuku. Ia memeluk pinggangku, membawaku agar telentang di atas kasur yang empuk.

Hafiz menatap tubuhku di bawah lampu kamar yang temaram. Memori lima tahun lalu di Jakarta berputar seperti film di kepalanya. Bagaimana kami dulu bercinta tanpa beban, tanpa pihak ketiga. Ia mulai menciumi seluruh tubuhku, seolah ingin menandai kembali miliknya.

Hafiz menjilati dadaku dengan nafsu yang membara, lalu turun ke perut, dan terus turun ke area sensitifku. Nafsunya sudah di puncak. Hafiz mengeluarkan lidahnya, menjilati milikku dengan dahsyat.

Aku memejamkan mata, air mata mengalir di sudut mataku. Rasa nikmat dan sakit bercampur menjadi satu. Aku teringat kembali ke masa lima tahun lalu, saat cinta kami masih murni. Aku mendesah, suara desahanku memenuhi kamar hotel.

"Fiz... oohh," aku merintih. Aku mengangkat kepala Hafiz, menciumi pria itu dengan nafsu yang tak kalah besar. Seluruh badan Hafiz kujilati, seolah aku ingin menelan pria itu ke dalam diriku.

Saat Hafiz sudah mencapai titik ketegangan yang maksimal, aku mengambil alih. Aku menjilati terong Hafiz dengan dahsyat, gerakan keluar masuk yang membuat Hafiz mengerang hebat. Hafiz merasa sensasi ini tidak pernah ia dapatkan dari Zuhra. Bersamaku, segalanya terasa lebih liar, lebih dalam, dan lebih nyata.

"Masukkan sayang... aku sudah tidak tahan," bisik Hafiz dengan napas serak, suaranya hampir hilang di tenggorokan.

Aku bangkit, aku naik ke atas tubuh Hafiz. Dengan satu gerakan yang penuh penyerahan, aku memasukkan kebanggaan Hafiz ke dalam diriku.

"Oohhhggg..." Hafiz mendesah hebat, memeluk punggungku kuat-kuat. Tubuh kami menyatu, seolah dunia di luar sana tidak lagi ada.

Aku menggoyangkan badanku dengan ritme yang teratur, menatap mata Hafiz yang sayu karena nikmat.

"Katakan padaku, kamu ingin gaya seperti apa?" bisikku penuh godaan.

"Tetap seperti ini, sayang... posisi ini yang paling enak," jawab Hafiz sambil memejamkan mata.

“Aku mau keluar, Hafiz... Oohhh... ssshhh...”

Aku terus menggoyangkan pinggulku sambil menunduk menciumi dada Hafiz. Hafiz memegang bokongku, mengatur ritme agar kenikmatan itu bertahan lebih lama. Ruangan itu dipenuhi suara napas yang memburu dan aroma gairah yang menyesakkan.

Hingga akhirnya, aku pun mencapai puncaknya.

“Ooghhhh sayang... Oowwhhhhhh!”

Kami ambruk di atas kasur. Napas kami menderu, tubuh kami basah oleh keringat. Dalam kelelahan yang luar biasa, kami saling berpelukan dan berciuman sangat lama di bawah selimut, mengabaikan kenyataan bahwa di luar sana, fajar akan segera menyingsing dan membawa kami kembali pada kenyataan yang pahit.

Pagi menyapa dengan hiruk-pikuk klakson yang bersahutan di kejauhan, namun di dalam rumah mewah keluarga Hafiz, keheningan terasa begitu mencekam. Zuhra berdiri di dekat jendela kamar yang luas, menatap taman depan yang biasanya menjadi tempat favoritnya untuk menyesap teh pagi bersama Hafiz.

Namun, pagi ini kursi di seberangnya kosong. Hafiz tidak pulang semalaman.

Kegelisahan merayap di hati Zuhra. Sebagai istri yang dibesarkan dengan nilai-nilai kesetiaan dan pengabdian, ia selalu menaruh kepercayaan penuh pada suaminya. Namun, belakangan ini, ada sesuatu yang berbeda dari Hafiz. Suaminya itu seolah memiliki dunia lain yang tidak bisa ia masuki.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • ISTRI BAYANGAN   Bab 36

    "Maaf, Azizah, Ibu... Tadi aku sedikit pusing jadi langsung berbaring," ucapku mencari alasan.Ibu tersenyum sangat teduh dan mengusap bahuku."Tidak apa-apa, Sayang. Setiap orang pasti punya masalah dan butuh istirahat."Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling rumah, mencari sosok pelindungku yang biasanya selalu ada."Azzam ke mana?" tanyaku."Abang sedang di kamarnya sejak pulang tadi," jawab Azizah."Baiklah, aku akan siapkan makan malam dulu untuk kita semua," ucapku mencoba menyibukkan diri untuk mengalihkan rasa bersalahku.Setelah semua makanan tertata rapi di atas meja makan, Azzam masih juga belum keluar dari kamarnya. Suasana hening yang tidak biasa mulai menimbulkan kekhawatiran."Bang! Ayo makan malam dulu!" teriak Azizah dari depan pintu kamar kakaknya.Karena tidak ada jawaban sama sekali, Azizah memberanikan diri untuk membuka pintu kamar yang tidak terkunci itu. Di dalam kamar yang temaram, ia melihat Azzam sedang terbaring kaku di atas tempat tidur dengan pakaian k

  • ISTRI BAYANGAN   Bab 35

    Zuhra menelan ludah getir melihat binar bahagia di mata suaminya yang tidak pernah ditujukan untuknya. Namun, ia tetap melanjutkan kebohongannya."Aku sudah katakan padanya kalau aku mengizinkan kalian berdua untuk menikah. Jadi, kalian tidak perlu sembunyi-sembunyi lagi dariku."Hafiz seketika kegirangan. Ia menghambur ke arah Zuhra, memeluknya erat dan menciumi seluruh wajah istrinya."Terima kasih, Zuhra! Kamu benar-benar istri yang hebat! Aku mencintaimu!"Zuhra memejamkan mata, menikmati pelukan dan ciuman yang sangat ia rindukan ini, meski ia tahu semua ini hanyalah hadiah karena ia membawa kabar tentang wanita lain."Tapi sayang... bagaimana kalau rencana ini terdengar oleh keluarga besar kita?" tanya Zuhra mencoba menguji nyali suaminya.Hafiz menjawab tanpa berpikir panjang, matanya berkilat penuh tekad."Aku sudah tidak peduli dengan keluarga besar atau aturan konyol mereka, Zuhra! Semua harta kekayaan warisan itu hanya membuatku merasa terkekang selama ini! Aku hanya ingin

  • ISTRI BAYANGAN   Bab 34

    Aku pun bersiap untuk bangun dari kursi rotanku, namun tangan Azzam bergerak cepat menahan pergelangan tanganku, menariknya hingga wajah kami berdekatan."Nanti kalau tidur, mengigaulah... dan masuklah ke kamarku," canda Azzam dengan suara rendah dan senyum tipis yang mematikan.Aku tersipu, wajahku merona merah di bawah cahaya bulan."Ssssttt... Azzam, nanti kedengaran Zizah!"Azzam tidak peduli. Ia memajukan wajahnya, mencuri satu ciu man manis di bib irku yang terasa lembut. Ci uman yang penuh janji dan perlindungan, bukan sekadar pelampiasan na fsu.Azzam berbisik tepat di depan bibirku, "I love you, Zara."Aku membalas tatapan itu dengan binar mata yang jernih, merasakan ketulusan yang selama ini aku cari. "I love you more, Azzam."Aku melangkah masuk ke dalam rumah dengan hati yang lebih ringan, sementara Azzam menyusul dari belakang, memastikan wanita pujaannya masuk ke dalam kamarnya dengan aman.Di rumah ini, cinta tumbuh dengan kejujuran, sangat kontras dengan kepalsuan yang

  • ISTRI BAYANGAN   Bab 33

    "Tolong, jangan memancing emosiku malam-malam begini," sahut Hafiz ketus."Apa kamu begitu sangat mencintai perempuan itu? Zara si mura han itu?!"Hafiz menoleh dengan tatapan mem atikan. "Iya! Aku mencintainya! Sangat mencintainya sampai rasanya aku mau gila! Puas kamu?!"Zuhra terdiam membatu. Mendengar pengakuan jujur itu dari mulut suaminya sendiri jauh lebih menyakitkan daripada melihatnya berselin gkuh."Tega kamu, Hafiz... tega...""Jangan menyuruhku berbicara kalau ujung-ujungnya hanya akan menyakitimu. Pergilah tidur," ujar Hafiz kembali memunggungi istrinya.Namun, Zuhra justru memeluk punggung Hafiz yang polos dari belakang. Pikirannya yang kalut melahirkan sebuah ide gila demi mempertahankan suaminya."Apa yang kamu inginkan, Hafiz? Apa kamu ingin menikahinya?"Hafiz terkejut. Ia membalikkan badannya, menatap wajah Zuhra yang sembab. "Maksudmu?""Aku sudah tahu semuanya, Hafiz. Tentang Zara," lanjut Zuhra dengan suara bergetar."Dari mana kamu tahu namanya?" Hafiz mengerut

  • ISTRI BAYANGAN   Bab 32

    Azzam berdiri tegak di depanku, menatap Zuhra dengan pandangan mengintimidasi. "Siapa dia, Zara?" tanya Azzam."Istri Hafiz," jawabku singkat. Bibirku tersenyum tipis, tidak menunjukkan ketakutan sedikit pun.Azizah yang berdiri di samping kami terperangah."Jadi ini orangnya?" gumamnya tak percaya.Zuhra melangkah maju, wajahnya penuh dengan kebencian yang dibalut keangkuhan. Ia menatap Azzam dengan senyum kemenangan. "Tadi kita berpapasan di toilet, dan aku bilang kamu tidak asing. Sekarang aku ingat jelas. Kamu pria yang waktu itu berdiri memperhatikan suamiku di depan hotel tempat Zara menginap, kan?"Aku maju satu langkah, menatap Zuhra langsung di matanya."Langsung saja, ada keperluan apa memanggil saya di tempat umum seperti ini?"Zuhra tertawa sinis, matanya beralih dariku ke Azzam."Aku pikir kamu perempuan yang benar-benar mencintai Hafiz sampai rela jadi simpanan. Ternyata, hari itu setelah suamiku keluar dari kamar hotelmu, pria ini sudah menunggu giliran untuk masuk. Mur

  • ISTRI BAYANGAN   Bab 31

    "Kamu di mana sekarang? Aku akan ke sana! Beritahu aku tempatmu!" Hafiz mendesak, suaranya naik satu oktaf. Azizah yang berada di sampingku membisikkan kata-kata di telingaku, "Ayo, Zara... katakan soal pernikahanmu!" Aku menarik napas panjang. "Aku... aku..." "Jawab, Zara! Aku sangat merindukanmu. Aku tidak bisa hidup tanpamu. Bukankah kita sudah berjanji akan selalu bersama selamanya? Ingatkah kamu saat-saat indah kita?" Hafiz mulai melancarkan serangan kata-kata manis yang dulu selalu berhasil meluluhkan pertahananku. Hatiku sempat tergoyah. Kenangan tentang sentuhan pertama Hafiz dan janji-janji surga itu sempat melintas. Namun, aku kembali teringat pada Azzam-pria yang tidak menjanjikan surga dengan kata-kata, melainkan memberikannya rumah, kehormatan, dan masa depan yang nyata. Tanpa sanggup berkata apa-apa lagi, aku langsung mematikan sambungan telepon itu. Aku meletakkan ponselku dengan tangan gemetar. "Kenapa kamu tidak bicara begitu, Zara? Kamu masih berharap pa

  • ISTRI BAYANGAN   Bab 3.

    Aku berjalan gontai ke cermin kamar mandi. Wajahku pucat pasi, mataku bengkak dan merah. Aku menatap pantulan diriku sendiri, merasakan campuran antara rasa jijik dan kerinduan yang amat sangat pada sosok di cermin itu. Pikiranku melayang, teringat betapa intensnya hubungan kami saat kuliah dulu. B

  • ISTRI BAYANGAN   Bab 4.

    Aku meronta pelan dalam dekapan itu, namun akhirnya aku menyerah dan menyembunyikan wajahku di dada bidang Hafiz. Tangisanku pecah semakin kencang, membasahi jaket tebal yang ia kenakan. Hafiz mengusap punggungku perlahan, sebuah sentuhan yang mencoba menenangkanku namun justru membuat lukaku semaki

  • ISTRI BAYANGAN   Bab 1.

    Jakarta, lima tahun yang lalu. Aku menatap layar ponselku dengan intensitas yang tidak biasa. Di pojok kanan atas, jam menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Sebagai mahasiswi Psikologi semester lima, aku seharusnya sedang berkutat dengan jurnal tentang attachment theory, namun pikiranku justru tertam

  • ISTRI BAYANGAN   Bab 2.

    Aku meletakkan ponselku di atas kasur dan menangis sesenggukan. Rasa sesak itu seolah menghimpit paru-paruku. Lima menit kemudian… TING! Notifikasi pesan masuk. @Hafiz: “Kamu di... Mumbai?” Jantungku seakan berhenti berdetak. Aku menyambar ponselku dengan tangan gemetar. @Zara: “Ya. Aku

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status