MasukAku meletakkan ponselku di atas kasur dan menangis sesenggukan. Rasa sesak itu seolah menghimpit paru-paruku.
Lima menit kemudian… TING! Notifikasi pesan masuk. @Hafiz: “Kamu di... Mumbai?” Jantungku seakan berhenti berdetak. Aku menyambar ponselku dengan tangan gemetar. @Zara: “Ya. Aku di hotel Royal Plaza. Temui aku.” @Hafiz: “Nggak mungkin. Zara, kamu gila? Kenapa kamu ke sini?” @Zara: “Karena aku mencintaimu, Hafiz! Dan aku pantas mendapatkan jawaban! Aku butuh kamu di sini!” Di seberang sana, aku membayangkan Hafiz menatap layar ponselnya dengan tatapan tidak percaya. Beribu-ribu pesan yang pernah kukirimkan selama lima tahun ini ia abaikan, tapi pesan yang satu ini... pesan yang mengatakan aku ada di kota yang sama dengannya... akhirnya meruntuhkan pertahanannya. Aku menunggu di lobi hotel. Setiap kali pintu kaca terbuka, jantungku berpacu gila. Satu jam, dua jam berlalu. Hampir tengah malam, sesosok pria berjalan masuk dengan tergesa-gesa. Ia mengenakan mantel tebal, wajahnya tertutup syal. Namun, aku mengenali gestur tubuh itu. Itu dia. Hafiz mendekatiku. Ia melepaskan syalnya. Pria itu tampak lebih tua, lebih tegas, dan jauh lebih dingin daripada Hafiz yang kukenal dulu. "Zara..." suaranya serak. "Hafiz," aku berdiri, suaraku bergetar hebat. “Kenapa? Kenapa kamu lakuin ini ke aku?” Hafiz menatap sekeliling lobi yang mulai sepi. Ia tidak mengajakku bicara di kafe, melainkan menarik tanganku menuju lift, membawaku langsung menuju kamar hotelku. Begitu pintu kamar tertutup, suasana berubah mencekam. "Jelaskan padaku, Hafiz," tuntutku setelah kami duduk berhadapan di pinggir ranjang. Hafiz menghela napas panjang, tatapannya kosong dan penuh kebingungan. “Keluargaku... mereka mengatur pernikahanku dengan wanita yang sekarang sudah menjadi istriku.” Duniaku seakan runtuh seketika. “Lalu aku? Janji kamu?” "Bukan begitu!" suara Hafiz meninggi, lalu merendah. “Aku mencintaimu. Demi Tuhan, aku mencintaimu. Tapi aku takut. Aku takut jika aku jujur, kamu akan melakukan hal nekat. Jadi aku memilih menghilang.” "Dan ternyata kamu nggak pernah benar-benar menghilang. Kamu cuma... melanjutkan hidup tanpa aku," air mataku mengalir deras. Hafiz menatapku dengan tatapan bersalah namun tetap tegas. “Zara, kamu harus pulang. Kembali ke Indonesia. Lupakan aku.” Aku menggeleng cepat. “Nggak! Aku nggak mau! Aku ke sini buat jawaban, bukan buat diusir!” "Aku sudah menikah, Zara!" tegas Hafiz dengan nada frustrasi. “Posisi aku sulit. Aku nggak bisa meninggalkan Zuhra begitu saja. Tolong mengertilah!” Aku merasa sedih dan kecewa luar biasa. Aku sadar, aku bukan lagi prioritasnya. Dengan suara bergetar, aku menatapnya. “Pergi, Hafiz. Keluar dari kamarku. Aku butuh ruang untuk berpikir.” Hafiz terdiam sejenak, lalu bangkit dan meninggalkan kamar. Aku terduduk sendirian di kamar hotel yang dingin. Hati hancur berkeping-keping. Lima tahun aku menunggu, dan kini aku tahu aku hanya rahasia gelapnya. Ketergantungan fisik yang dulu kurasakan kini berubah menjadi rasa sakit yang mendalam. Dua hari berlalu dalam kesunyian. Aku tidak keluar kamar. Aku hanya menatap dinding, menangis, dan merenungkan masa depan yang buram. Namun pada hari ketiga, rasa rindu dan obsesi yang belum sepenuhnya mati mengalahkan rasa kecewaku. Aku mengambil ponsel dan mengetik pesan untuknya. @Zara: “Hafiz, aku masih di hotel. Aku butuh ketemu lagi. Tolong.” Hafiz datang kembali malam itu. Ia tampak berantakan. Saat pintu kubuka, ia langsung masuk tanpa sepatah kata pun. Aku menatap pria yang sangat kurindukan itu dengan tatapan kosong, namun ada tekad nekat di mataku. Saat Hafiz hendak berbicara, aku memotongnya. “Nikahin aku, Hafiz.” Hafiz membeku. Ia menatapku seolah aku baru saja bicara bahasa asing. “Hah? Zara... kamu sadar apa yang kamu katakan?” “Nikahin aku, Hafiz! Aku terima menjadi istri kedua.” Hafiz tertawa hambar, tawa yang terdengar sangat frustrasi. “Gila kamu. Aku tidak bisa menjanjikan kebahagiaan, Zara. Aku punya istri.” Aku mendekat, mencengkeram lengan Hafiz kuat-kuat. “Apa kamu sangat mencintainya?” Hafiz tidak menjawab. Ia hanya diam, tatapannya jatuh ke lantai. Dadanya naik turun menahan emosi. "Apa kamu mencintaiku, Hafiz? Jawab aku!" tuntutku, suaraku pecah. Hafiz menatap mataku dalam-dalam. Tatapan yang dulu membuatku jatuh cinta, tatapan yang kini terasa begitu menyiksa. “Kamu selalu dalam ingatanku, Zara. Selalu.” “Nikahin aku, Hafiz! Aku mohon...” Ia melepaskan cengkeraman tanganku pelan, lalu mundur selangkah. “Ini sangat sulit, Zara. Ini tidak bisa. Nanti istriku tahu.” "Aku tidak akan mengganggu istrimu!" teriakku frustrasi. “Aku akan mencintai siapapun yang kamu cintai, Hafiz!” Hafiz menatapku dengan tatapan lelah, campuran antara rasa bersalah dan keinginan yang tersisa. “Berikan aku waktu untuk berpikir, Zara.” “Secepatnya, Hafiz. Aku nggak bisa nunggu lebih lama lagi.” Hafiz berbalik dan keluar dari kamar tanpa mengucap pamit, meninggalkanku yang terduduk di lantai, menangis tanpa suara. Dua hari. Dua hari bagiku terasa seperti dua tahun yang merayap lambat. Kamar hotel itu kini terasa seperti penjara yang mencekik. Aku tidak keluar kamar, tidak memesan makanan, hanya meringkuk di atas kasur dengan mata sembab. Malam ketiga, tepat saat jam dinding menunjukkan pukul 23.00, ketukan pintu terdengar. Cepat dan ritmis. Aku melompat dari kasur, jantungku berpacu gila. Aku membuka pintu dan menemukan sosok itu berdiri di sana. Hafiz. Dia mengenakan jaket tebal, wajahnya tampak lelah dan berantakan. Tanpa berkata apa-apa, ia melangkah masuk. Aura dominan yang dulu membuatku terpesona, kini terasa mengintimidasi. Hafiz menutup pintu keras-keras, mengunci kami berdua dalam keheningan yang menyesakkan. Hafiz berjalan menuju jendela, menatap lampu kota yang gemerlap, memunggungi diriku. "Kamu gila, Zara," suara Hafiz parau dan dingin. “Kenapa kamu melakukan ini? Kenapa kamu harus datang ke Mumbai?” Aku berjalan mendekat, setiap langkah terasa berat. Aku menatap punggung tegap pria yang selama ini mengisi seluruh mimpinya. "Karena aku nggak bisa lupa, Hafiz," jawabku pelan. “Lima tahun aku mencoba. Aku fokus kerja, tapi bayangan kamu... sentuhan kamu... aku nggak bisa.” Hafiz berbalik dengan cepat. Matanya menyala, campuran antara amarah dan keputusasaan. “Lalu apa? Kamu mau aku melakukan apa? Aku sudah punya kehidupan! Aku sudah punya istri!” Aku menelan ludah. Aku tahu apa yang akan kukatakan akan menghancurkan harga diriku, tapi aku tidak peduli lagi. Aku sudah kehilangan akal sehatku. “Nikahin aku, Hafiz.” Hening. Sunyi senyap. Hanya deru napas kami berdua yang terdengar."Maaf, Azizah, Ibu... Tadi aku sedikit pusing jadi langsung berbaring," ucapku mencari alasan.Ibu tersenyum sangat teduh dan mengusap bahuku."Tidak apa-apa, Sayang. Setiap orang pasti punya masalah dan butuh istirahat."Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling rumah, mencari sosok pelindungku yang biasanya selalu ada."Azzam ke mana?" tanyaku."Abang sedang di kamarnya sejak pulang tadi," jawab Azizah."Baiklah, aku akan siapkan makan malam dulu untuk kita semua," ucapku mencoba menyibukkan diri untuk mengalihkan rasa bersalahku.Setelah semua makanan tertata rapi di atas meja makan, Azzam masih juga belum keluar dari kamarnya. Suasana hening yang tidak biasa mulai menimbulkan kekhawatiran."Bang! Ayo makan malam dulu!" teriak Azizah dari depan pintu kamar kakaknya.Karena tidak ada jawaban sama sekali, Azizah memberanikan diri untuk membuka pintu kamar yang tidak terkunci itu. Di dalam kamar yang temaram, ia melihat Azzam sedang terbaring kaku di atas tempat tidur dengan pakaian k
Zuhra menelan ludah getir melihat binar bahagia di mata suaminya yang tidak pernah ditujukan untuknya. Namun, ia tetap melanjutkan kebohongannya."Aku sudah katakan padanya kalau aku mengizinkan kalian berdua untuk menikah. Jadi, kalian tidak perlu sembunyi-sembunyi lagi dariku."Hafiz seketika kegirangan. Ia menghambur ke arah Zuhra, memeluknya erat dan menciumi seluruh wajah istrinya."Terima kasih, Zuhra! Kamu benar-benar istri yang hebat! Aku mencintaimu!"Zuhra memejamkan mata, menikmati pelukan dan ciuman yang sangat ia rindukan ini, meski ia tahu semua ini hanyalah hadiah karena ia membawa kabar tentang wanita lain."Tapi sayang... bagaimana kalau rencana ini terdengar oleh keluarga besar kita?" tanya Zuhra mencoba menguji nyali suaminya.Hafiz menjawab tanpa berpikir panjang, matanya berkilat penuh tekad."Aku sudah tidak peduli dengan keluarga besar atau aturan konyol mereka, Zuhra! Semua harta kekayaan warisan itu hanya membuatku merasa terkekang selama ini! Aku hanya ingin
Aku pun bersiap untuk bangun dari kursi rotanku, namun tangan Azzam bergerak cepat menahan pergelangan tanganku, menariknya hingga wajah kami berdekatan."Nanti kalau tidur, mengigaulah... dan masuklah ke kamarku," canda Azzam dengan suara rendah dan senyum tipis yang mematikan.Aku tersipu, wajahku merona merah di bawah cahaya bulan."Ssssttt... Azzam, nanti kedengaran Zizah!"Azzam tidak peduli. Ia memajukan wajahnya, mencuri satu ciu man manis di bib irku yang terasa lembut. Ci uman yang penuh janji dan perlindungan, bukan sekadar pelampiasan na fsu.Azzam berbisik tepat di depan bibirku, "I love you, Zara."Aku membalas tatapan itu dengan binar mata yang jernih, merasakan ketulusan yang selama ini aku cari. "I love you more, Azzam."Aku melangkah masuk ke dalam rumah dengan hati yang lebih ringan, sementara Azzam menyusul dari belakang, memastikan wanita pujaannya masuk ke dalam kamarnya dengan aman.Di rumah ini, cinta tumbuh dengan kejujuran, sangat kontras dengan kepalsuan yang
"Tolong, jangan memancing emosiku malam-malam begini," sahut Hafiz ketus."Apa kamu begitu sangat mencintai perempuan itu? Zara si mura han itu?!"Hafiz menoleh dengan tatapan mem atikan. "Iya! Aku mencintainya! Sangat mencintainya sampai rasanya aku mau gila! Puas kamu?!"Zuhra terdiam membatu. Mendengar pengakuan jujur itu dari mulut suaminya sendiri jauh lebih menyakitkan daripada melihatnya berselin gkuh."Tega kamu, Hafiz... tega...""Jangan menyuruhku berbicara kalau ujung-ujungnya hanya akan menyakitimu. Pergilah tidur," ujar Hafiz kembali memunggungi istrinya.Namun, Zuhra justru memeluk punggung Hafiz yang polos dari belakang. Pikirannya yang kalut melahirkan sebuah ide gila demi mempertahankan suaminya."Apa yang kamu inginkan, Hafiz? Apa kamu ingin menikahinya?"Hafiz terkejut. Ia membalikkan badannya, menatap wajah Zuhra yang sembab. "Maksudmu?""Aku sudah tahu semuanya, Hafiz. Tentang Zara," lanjut Zuhra dengan suara bergetar."Dari mana kamu tahu namanya?" Hafiz mengerut
Azzam berdiri tegak di depanku, menatap Zuhra dengan pandangan mengintimidasi. "Siapa dia, Zara?" tanya Azzam."Istri Hafiz," jawabku singkat. Bibirku tersenyum tipis, tidak menunjukkan ketakutan sedikit pun.Azizah yang berdiri di samping kami terperangah."Jadi ini orangnya?" gumamnya tak percaya.Zuhra melangkah maju, wajahnya penuh dengan kebencian yang dibalut keangkuhan. Ia menatap Azzam dengan senyum kemenangan. "Tadi kita berpapasan di toilet, dan aku bilang kamu tidak asing. Sekarang aku ingat jelas. Kamu pria yang waktu itu berdiri memperhatikan suamiku di depan hotel tempat Zara menginap, kan?"Aku maju satu langkah, menatap Zuhra langsung di matanya."Langsung saja, ada keperluan apa memanggil saya di tempat umum seperti ini?"Zuhra tertawa sinis, matanya beralih dariku ke Azzam."Aku pikir kamu perempuan yang benar-benar mencintai Hafiz sampai rela jadi simpanan. Ternyata, hari itu setelah suamiku keluar dari kamar hotelmu, pria ini sudah menunggu giliran untuk masuk. Mur
"Kamu di mana sekarang? Aku akan ke sana! Beritahu aku tempatmu!" Hafiz mendesak, suaranya naik satu oktaf. Azizah yang berada di sampingku membisikkan kata-kata di telingaku, "Ayo, Zara... katakan soal pernikahanmu!" Aku menarik napas panjang. "Aku... aku..." "Jawab, Zara! Aku sangat merindukanmu. Aku tidak bisa hidup tanpamu. Bukankah kita sudah berjanji akan selalu bersama selamanya? Ingatkah kamu saat-saat indah kita?" Hafiz mulai melancarkan serangan kata-kata manis yang dulu selalu berhasil meluluhkan pertahananku. Hatiku sempat tergoyah. Kenangan tentang sentuhan pertama Hafiz dan janji-janji surga itu sempat melintas. Namun, aku kembali teringat pada Azzam-pria yang tidak menjanjikan surga dengan kata-kata, melainkan memberikannya rumah, kehormatan, dan masa depan yang nyata. Tanpa sanggup berkata apa-apa lagi, aku langsung mematikan sambungan telepon itu. Aku meletakkan ponselku dengan tangan gemetar. "Kenapa kamu tidak bicara begitu, Zara? Kamu masih berharap pa
Jakarta, lima tahun yang lalu. Aku menatap layar ponselku dengan intensitas yang tidak biasa. Di pojok kanan atas, jam menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Sebagai mahasiswi Psikologi semester lima, aku seharusnya sedang berkutat dengan jurnal tentang attachment theory, namun pikiranku justru tertam
Aku berjalan gontai ke cermin kamar mandi. Wajahku pucat pasi, mataku bengkak dan merah. Aku menatap pantulan diriku sendiri, merasakan campuran antara rasa jijik dan kerinduan yang amat sangat pada sosok di cermin itu. Pikiranku melayang, teringat betapa intensnya hubungan kami saat kuliah dulu. B
Aku meronta pelan dalam dekapan itu, namun akhirnya aku menyerah dan menyembunyikan wajahku di dada bidang Hafiz. Tangisanku pecah semakin kencang, membasahi jaket tebal yang ia kenakan. Hafiz mengusap punggungku perlahan, sebuah sentuhan yang mencoba menenangkanku namun justru membuat lukaku semaki
Azizah sedikit terperanjat. “Lalu? Apa kamu sudah bertemu dengannya?” "Sudah," aku menarik napas panjang, mencoba menahan tangis. “Tapi dia sudah mengkhianatiku. Dia sudah menikah dengan perempuan lain di sini.” Azizah menutup mulutnya dengan tangan, terkejut. “Ya Tuhan... lalu apa yang ka







