Share

Bab 2

Author: Meera
last update publish date: 2026-04-04 03:38:45

Azizah sedikit terperanjat.

“Lalu? Apa kamu sudah bertemu dengannya?”

"Sudah," aku menarik napas panjang, mencoba menahan tangis.

“Tapi dia sudah mengkhianatiku. Dia sudah menikah dengan perempuan lain di sini.”

Azizah menutup mulutnya dengan tangan, terkejut.

“Ya Tuhan... lalu apa yang kamu lakukan?”

"Aku belum bisa terima, Azizah. Aku menunggunya selama lima tahun di Indonesia. Aku mencarinya ke mana-mana tanpa kabar. Setelah aku nekat datang ke sini dan bertemu dengannya, dia baru bilang kalau dia sudah menikah. Aku mencarinya sampai sejauh ini hanya untuk dikhianati," aku akhirnya meneteskan air mata.

Azizah segera berpindah duduk dan memelukku.

“Sabar ya. Aku tidak menyangka ceritanya sesakit ini.”

Aku mengangguk dalam pelukan Azizah, aku menceritakan segalanya—tentang masa kuliah kami, tentang janji-janji Hafiz, dan tentang betapa aku merasa tidak bisa hidup tanpa pria itu.

Di balik pintu kaca yang sedikit terbuka, Azzam berdiri mematung. Ia tidak sengaja mendengar seluruh percakapan itu. Kepalan tangannya menguat. Ada rasa marah pada pria yang disebut Hafiz itu, namun ada obsesi lain yang tumbuh di hatinya: ia ingin menolongku. Ia ingin menggantikan posisi Hafiz dan menghapus air mata itu. Azzam yang pendiam mulai memendam keinginan untuk memilikiku.

Malam harinya, setelah kembali ke hotel, aku duduk di tepi ranjang. Rasa rinduku pada Hafiz justru semakin menggila setelah aku menceritakan kepedihanku pada Azizah. Aku mengambil ponsel dan mengirim pesan singkat yang menuntut.

@Zara: “Hafiz, datang ke hotelku sekarang.”

Beberapa menit kemudian, balasan masuk.

@Hafiz: “Iya, nanti malam aku akan ke sana. Tunggu aku.”

Pukul sepuluh malam, pintu kamar hotelku diketuk. Hafiz masuk dengan langkah yang lebih tenang. Kali ini, ia tidak lagi tampak meledak-ledak. Ada rasa lelah dan sayang yang bercampur di matanya. Ia duduk di hadapanku, menatapku yang tetap diam membisu.

"Zara," suara Hafiz lembut, penuh kesabaran. “Aku masih mencintaimu. Kamu selalu ada di hatiku, setiap detik selama ini.”

Aku mendongak, mataku yang sembab menatap Hafiz mencari kejujuran.

“Lalu kenapa kamu meninggalkanku?”

Hafiz memegang tanganku.

“Keadaannya rumit. Tapi aku tidak bisa kehilanganmu lagi. Bisakah kamu menjaga rahasia ini? Bisakah kamu tetap di sini sebagai rahasiaku?”

Aku yang sudah kehilangan akal sehat karena cinta, menjawab dengan lembut.

“Bisa, Hafiz. Aku akan melakukan apa pun yang kau inginkan, asal aku tetap bersamamu. Aku tidak peduli lagi.”

Hafiz menghela napas lega, namun ada gurat kesedihan di wajahnya.

“Aku akan terus bersamamu sampai kapan pun. Tapi... aku tidak bisa menikahimu. Tanpa pernikahan, apa kamu sanggup?”

Hatiku tertusuk, namun aku sudah terlalu lemah untuk melawan.

“Lakukanlah apa yang ingin kamu lakukan, Hafiz. Asal kamu tetap di sini, bersamaku.”

Hafiz merasa sangat bersalah. Hatinya menjerit ingin meresmikan hubungan ini, namun bayangan keluarga besar di Mumbai dan wajah istrinya, Zuhra, membuatnya ketakutan. Ia adalah seorang pengecut yang terjebak di antara dua dunia.

Dalam kesunyian malam yang mencekam, Hafiz menarikku ke dalam pelukannya. Ia memelukku erat, sangat erat, seolah ingin menyatukan tubuh kami agar tak terpisahkan lagi.

Gairah yang tertahan selama bertahun-tahun mendadak pecah. Hafiz mulai menciumi dahi, pipi, hingga bibirku dengan penuh nafsu.

Ia tidak bisa menahan diri lagi. Dengan lembut namun pasti, Hafiz menciumi leherku, menghirup aroma tubuhku yang selalu menghantuinya. Tangannya bergerak gemetar membuka satu per satu kancing bajuku. Ia memeluk pinggangku, membawaku agar telentang di atas kasur yang empuk.

Hafiz menatap tubuhku di bawah lampu kamar yang temaram. Memori lima tahun lalu di Jakarta berputar seperti film di kepalanya. Bagaimana kami dulu bercinta tanpa beban, tanpa pihak ketiga. Ia mulai menciumi seluruh tubuhku, seolah ingin menandai kembali miliknya.

Hafiz menjilati dadaku dengan nafsu yang membara, lalu turun ke perut, dan terus turun ke area sensitifku. Nafsunya sudah di puncak. Hafiz mengeluarkan lidahnya, menjilati milikku dengan dahsyat.

Aku memejamkan mata, air mata mengalir di sudut mataku. Rasa nikmat dan sakit bercampur menjadi satu. Aku teringat kembali ke masa lima tahun lalu, saat cinta kami masih murni. Aku mendesah, suara desahanku memenuhi kamar hotel.

"Fiz... oohh," aku merintih. Aku mengangkat kepala Hafiz, menciumi pria itu dengan nafsu yang tak kalah besar. Seluruh badan Hafiz kujilati, seolah aku ingin menelan pria itu ke dalam diriku.

Saat Hafiz sudah mencapai titik ketegangan yang maksimal, aku mengambil alih. Aku menjilati terong Hafiz dengan dahsyat, gerakan keluar masuk yang membuat Hafiz mengerang hebat. Hafiz merasa sensasi ini tidak pernah ia dapatkan dari Zuhra. Bersamaku, segalanya terasa lebih liar, lebih dalam, dan lebih nyata.

"Masukkan sayang... aku sudah tidak tahan," bisik Hafiz dengan napas serak, suaranya hampir hilang di tenggorokan.

Aku bangkit, aku naik ke atas tubuh Hafiz. Dengan satu gerakan yang penuh penyerahan, aku memasukkan kebanggaan Hafiz ke dalam diriku.

"Oohhhggg..." Hafiz mendesah hebat, memeluk punggungku kuat-kuat. Tubuh kami menyatu, seolah dunia di luar sana tidak lagi ada.

Aku menggoyangkan badanku dengan ritme yang teratur, menatap mata Hafiz yang sayu karena nikmat.

"Katakan padaku, kamu ingin gaya seperti apa?" bisikku penuh godaan.

"Tetap seperti ini, sayang... posisi ini yang paling enak," jawab Hafiz sambil memejamkan mata.

“Aku mau keluar, Hafiz... Oohhh... ssshhh...”

Aku terus menggoyangkan pinggulku sambil menunduk menciumi dada Hafiz. Hafiz memegang bokongku, mengatur ritme agar kenikmatan itu bertahan lebih lama. Ruangan itu dipenuhi suara napas yang memburu dan aroma gairah yang menyesakkan.

Hingga akhirnya, aku pun mencapai puncaknya.

“Ooghhhh sayang... Oowwhhhhhh!”

Kami ambruk di atas kasur. Napas kami menderu, tubuh kami basah oleh keringat. Dalam kelelahan yang luar biasa, kami saling berpelukan dan berciuman sangat lama di bawah selimut, mengabaikan kenyataan bahwa di luar sana, fajar akan segera menyingsing dan membawa kami kembali pada kenyataan yang pahit.

Pagi menyapa dengan hiruk-pikuk klakson yang bersahutan di kejauhan, namun di dalam rumah mewah keluarga Hafiz, keheningan terasa begitu mencekam. Zuhra berdiri di dekat jendela kamar yang luas, menatap taman depan yang biasanya menjadi tempat favoritnya untuk menyesap teh pagi bersama Hafiz.

Namun, pagi ini kursi di seberangnya kosong. Hafiz tidak pulang semalaman.

Kegelisahan merayap di hati Zuhra. Sebagai istri yang dibesarkan dengan nilai-nilai kesetiaan dan pengabdian, ia selalu menaruh kepercayaan penuh pada suaminya. Namun, belakangan ini, ada sesuatu yang berbeda dari Hafiz. Suaminya itu seolah memiliki dunia lain yang tidak bisa ia masuki.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • ISTRI BAYANGAN   Bab 5

    Jakarta, lima tahun yang lalu. Aku menatap layar ponselku dengan intensitas yang tidak biasa. Di pojok kanan atas, jam menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Sebagai mahasiswi Psikologi semester lima, aku seharusnya sedang berkutat dengan jurnal tentang attachment theory, namun pikiranku justru tertambat pada deretan kalimat yang baru saja masuk di Direct Message I*******m miliku. @Hafiz: “Profilmu menarik. Ternyata kita di kota yang sama, walau beda kampus. Boleh kenalan?” Aku tersenyum tipis. Profil pria itu—Hafiz—menampilkan foto dirinya mengenakan seragam taruna pelayaran yang gagah. Rahang tegas, tatapan tajam, dan bahu lebar. Sebagai mahasiswi, aku tahu aku seharusnya berhati-hati, namun ada sesuatu dalam cara Hafiz menyapaku yang terasa... intens. Dengan ragu, aku membalas. @Zara: “Boleh. Tapi taruna pelayaran bukannya sibuk banget ya?” Percakapan malam itu mengalir begitu saja. Hafiz ternyata pria yang dominan, cerdas, dan memiliki pandangan hidup yang sedikit berbeda. Perla

  • ISTRI BAYANGAN   Bab 4

    Aku meletakkan ponselku di atas kasur dan menangis sesenggukan. Rasa sesak itu seolah menghimpit paru-paruku. Lima menit kemudian… TING! Notifikasi pesan masuk. @Hafiz: “Kamu di... Mumbai?” Jantungku seakan berhenti berdetak. Aku menyambar ponselku dengan tangan gemetar. @Zara: “Ya. Aku di hotel Royal Plaza. Temui aku.” @Hafiz: “Nggak mungkin. Zara, kamu gila? Kenapa kamu ke sini?” @Zara: “Karena aku mencintaimu, Hafiz! Dan aku pantas mendapatkan jawaban! Aku butuh kamu di sini!” Di seberang sana, aku membayangkan Hafiz menatap layar ponselnya dengan tatapan tidak percaya. Beribu-ribu pesan yang pernah kukirimkan selama lima tahun ini ia abaikan, tapi pesan yang satu ini... pesan yang mengatakan aku ada di kota yang sama dengannya... akhirnya meruntuhkan pertahanannya. Aku menunggu di lobi hotel. Setiap kali pintu kaca terbuka, jantungku berpacu gila. Satu jam, dua jam berlalu. Hampir tengah malam, sesosok pria berjalan masuk dengan tergesa-gesa. Ia mengenakan mant

  • ISTRI BAYANGAN   Bab 4

    Aku berjalan ke cermin kamar mandi. Wajahku pucat, mataku bengkak. Aku menatap diriku sendiri, merasa jijik sekaligus merindukan sosok yang ada di cermin itu. Aku teringat betapa intensnya hubungan kami saat kuliah dulu. Bagaimana Hafiz selalu membawaku ke hotel, bagaimana ia mendominasi setiap gerak-gerikku, membuatku merasa hidup hanya ketika bersamanya. "Apa yang aku lakukan?" bisikku pada cermin. “Aku bertingkah seperti orang gila.” Namun, bayangan Hafiz selalu muncul. Pria itu yang memberiku warna, yang memberiku gairah yang tidak pernah kutemukan pada pria lain. Di tempat lain, di sebuah rumah mewah di kawasan eksklusif Mumbai, Hafiz sedang duduk di sofa ruang kerjanya. Zuhra, istrinya, baru saja mengetuk pintu dan membawakan teh hangat. "Hafiz, kamu baik-baik saja? Kamu tampak sangat lelah," tanya Zuhra lembut. Hafiz menatap istrinya itu. Zuhra adalah wanita yang lembut, cantik, dan sangat menghormatinya. Pernikahan mereka didasari perjodohan, namun seiring berjalannya wa

  • ISTRI BAYANGAN   Bab 3

    Aku meronta pelan, namun akhirnya menyerah dan menyembunyikan wajahku di dada bidang Hafiz. Tangisanku semakin kencang, membasahi jaket tebal yang ia kenakan. Hafiz mengusap punggungku perlahan, mencoba menenangkanku. "Kenapa, Zara? Kenapa harus sejauh ini?" bisiknya. Setelah tangisanku mereda menjadi sesenggukan, Hafiz mengangkat daguku, menatap mataku dalam-dalam. "Apakah benar... kamu selama ini mencariku, Zara?" Aku hanya bisa mengangguk pelan. Tatapanku menyiratkan rasa sakit dan rindu yang mendalam. Aku ingin bicara, tapi tenggorokanku terasa tercekat. Hafiz menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia tahu aku mencintainya, tapi ia juga tahu konsekuensi dari cinta itu. "Kamu tau begitu pahitnya menjadi istri kedua, Zara?" Aku mendongakkan wajah, menatap lurus ke matanya. Dalam diamku, ada tatapan penuh tekad. "Aku siap, Hafiz. Aku siap apa saja, asal sama kamu." Hafiz menggelengkan kepalanya pelan, menolak ide gila itu. "Pulanglah ke Indonesia, Zara. Aku akan pikirka

  • ISTRI BAYANGAN   Bab 2

    Azizah sedikit terperanjat. “Lalu? Apa kamu sudah bertemu dengannya?” "Sudah," aku menarik napas panjang, mencoba menahan tangis. “Tapi dia sudah mengkhianatiku. Dia sudah menikah dengan perempuan lain di sini.” Azizah menutup mulutnya dengan tangan, terkejut. “Ya Tuhan... lalu apa yang kamu lakukan?” "Aku belum bisa terima, Azizah. Aku menunggunya selama lima tahun di Indonesia. Aku mencarinya ke mana-mana tanpa kabar. Setelah aku nekat datang ke sini dan bertemu dengannya, dia baru bilang kalau dia sudah menikah. Aku mencarinya sampai sejauh ini hanya untuk dikhianati," aku akhirnya meneteskan air mata. Azizah segera berpindah duduk dan memelukku. “Sabar ya. Aku tidak menyangka ceritanya sesakit ini.” Aku mengangguk dalam pelukan Azizah, aku menceritakan segalanya—tentang masa kuliah kami, tentang janji-janji Hafiz, dan tentang betapa aku merasa tidak bisa hidup tanpa pria itu. Di balik pintu kaca yang sedikit terbuka, Azzam berdiri mematung. Ia tidak sengaja mendengar sel

  • ISTRI BAYANGAN   Bab 1

    Kegelapan malam di kamar utama rumah keluarga Hafiz terasa begitu menekan. Zuhra yang berbaring membelakangi Hafiz, mencoba menahan isak tangis agar tidak terdengar. Bahunya yang bergetar hebat tidak bisa membohongi siapa pun. Di dalam hatinya, ada luka yang menganga lebar melihat sikap dingin suaminya beberapa hari terakhir. Hafiz, yang belum sepenuhnya terlelap, merasakan getaran itu. Penyesalan kecil menyelinap di antara rasa obsesinya padaku. Ia bergeser perlahan, lalu melingkarkan tangannya di pinggang Zuhra, memeluk istrinya itu dari belakang. "Kamu kenapa, Zuhra?" bisik Hafiz rendah, suaranya terdengar lembut namun ada nada canggung di sana. Zuhra menyeka air matanya dengan ujung selimut, mencoba menetralkan suaranya yang serak. “Tidak apa-apa, Hafiz.” Hafiz menghela napas, ia mengeratkan pelukannya, seolah mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia masih peduli. “Katakan padaku. Kenapa menangis?” Zuhra terdiam sejenak. Ia tidak mungkin mengatakan bahwa ia merasa suamin

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status