LOGINAku berjalan gontai ke cermin kamar mandi. Wajahku pucat pasi, mataku bengkak dan merah. Aku menatap pantulan diriku sendiri, merasakan campuran antara rasa jijik dan kerinduan yang amat sangat pada sosok di cermin itu.
Pikiranku melayang, teringat betapa intensnya hubungan kami saat kuliah dulu. Bagaimana Hafiz selalu membawaku ke hotel, bagaimana ia mendominasi setiap gerak-gerikku, hingga aku merasa benar-benar hidup hanya saat bersamanya. "Apa yang aku lakukan?" bisikku pada cermin. Suaraku parau. "Aku bertingkah seperti orang gila." Tapi bayangan Hafiz terus muncul. Dialah yang memberiku warna, yang memberiku gairah yang tidak pernah kutemukan pada pria lain. Tanpa dia, duniaku terasa abu-abu. Di tempat lain, di sebuah rumah mewah di kawasan eksklusif, Hafiz sedang duduk di ruang kerjanya. Zuhra, istrinya, mengetuk pintu dan membawakannya teh hangat. "Hafiz, kamu baik-baik saja? Kamu tampak sangat lelah," tanya Zuhra dengan lembut. Hafiz menatapnya. Zuhra adalah wanita yang lembut, cantik, dan sangat menghormatinya. Pernikahan mereka hasil perjodohan, tapi aku tahu Hafiz mulai menyukai istrinya. Budaya mereka menuntut kesetiaan, dan keluarga Zuhra sangat berpengaruh. Hafiz terjepit. "Aku hanya... banyak beban pekerjaan, Sayang," bohong Hafiz, sementara hatinya sakit memikirkan kehadiranku di kota ini. Setelah Zuhra keluar, Hafiz menutup wajah dengan kedua tangannya. Kata-kataku terus terngiang di telinganya: “Nikahin aku, Hafiz. Aku terima menjadi istri ke-2.” Keesokan harinya, aku bangun dengan perasaan was-was. Langsung kunyala ponselku, tapi nihil. Tidak ada pesan dari Hafiz. Aku memutuskan untuk keluar, butuh udara segar agar tidak gila di dalam kamar ini. Aku berjalan menuju resepsionis dengan harapan tipis. "Permisi, apa ada pesan untuk saya? Atas nama Zara?" tanyaku. Resepsionis itu memeriksa sistem sejenak. "Maaf, Miss. Tidak ada." Aku menghela napas kecewa, langkahku terasa berat kembali ke kamar. Putus asa mulai menggerogotiku. Aku membuka laptop, mencoba mencari informasi tentang Zuhra. Di media sosial, dia tampak begitu anggun. Foto-fotonya menunjukkan kehidupan pernikahan yang sempurna dan bahagia. Rasa cemburu membakar hatiku. Panas dan menyesakkan. "Pesan gila itu... apa aku harus mengirimnya lagi?" bisikku pada diri sendiri. Tanganku bergerak sendiri mengetik pesan lain. @Zara.: “Hafiz, aku nggak bisa tidur. Aku butuh jawaban sekarang. Aku di hotel nungguin kamu.” Tetap tidak ada jawaban. Jam demi jam berlalu, dan aku mulai merasa paranoid. Aku membayangkan dia sedang tertawa bersama Zuhra, dan aku ingin berteriak sekencang mungkin. Jiwaku terasa kosong tanpa kehadirannya. Malam itu, aku memutuskan pergi ke dekat pelabuhan—tempat yang dulu sering ia ceritakan sebagai tempat pelariannya. Mungkin aku bisa menemukan jejaknya di sana. Malam hari terasa mencekam. Aku berjalan di sepanjang dermaga, angin laut bertiup kencang menusuk kulitku. Aku menatap kapal-kapal besar, membayangkan dia ada di salah satunya. Tiba-tiba, sebuah tangan mencengkeram bahuku dari belakang. Aku nyaris berteriak, namun mulutku langsung dibekap kuat. "Ini aku, Zara." Suara itu. Aku mengenalnya. Hafiz. Ia melepaskan bekapannya, napasnya memburu. "Apa yang kamu lakukan di sini? Ini berbahaya!" Aku menatapnya dengan mata berkaca-kaca. "Aku mencari kamu. Kamu nggak balas pesanku." Hafiz menatap sekeliling pelabuhan yang sepi, wajahnya tampak tegang. "Ikut aku." Ia membawaku ke sebuah warung kecil yang remang-remang, jauh dari jangkauan lampu sorot utama. "Aku sudah memikirkannya, Zara," katanya setelah kami duduk. Aku menatapnya penuh harap. "Aku nggak bisa," katanya pelan. Suara itu seperti belati yang menghujam jantungku. "Ini gila. Aku punya tanggung jawab." Duniaku runtuh lagi. "Tanggung jawab? Apa aku bukan tanggung jawab kamu setelah apa yang kita lakukan dulu?!" suaraku meninggi, tak peduli lagi pada harga diri. Hafiz menatapku dengan rasa bersalah yang dalam. "Itu dulu, Zara. Sekarang situasinya berbeda." "Apa kamu benar-benar mencintai istrimu?" tanyaku, menusuk langsung ke intinya. Hafiz diam. Lagi-lagi dia diam, dan diamnya adalah jawaban yang paling menyakitkan. "Kamu tidak akan mengerti, Zara!" bentaknya frustrasi. "Keluargaku, budaya, bisnis... semuanya taruhannya!" "Aku nggak peduli sama semua itu! Aku peduli sama kamu!" teriakku, mengabaikan orang-orang di sekitar warung yang mulai memperhatikan kami. Hafiz menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. Tatapannya kini menyiratkan kelelahan yang luar biasa. "Pulanglah, Zara. Tolong. Aku akan memberimu uang. Aku akan melakukan apa saja agar kamu pulang." Aku menatapnya dengan kekecewaan yang tak terlukiskan. Hafiz-ku sudah berubah. Dia bukan lagi pria yang akan melakukan apa pun untukku. "Aku nggak butuh uangmu, Hafiz," jawabku dingin. Air mataku berhenti, berganti dengan tekad nekat. "Aku akan tetap di sini sampai kamu memutuskan." Aku bangkit dan meninggalkannya begitu saja di warung itu. Aku berjalan sendirian menembus malam yang dingin. Udara malam terasa menusuk tulang, namun hatiku jauh lebih dingin. Aku berjalan cepat, mengabaikan tatapan orang-orang. Aku, yang dulu dikenal kalem dan lembut, kini terbakar oleh api obsesi yang tak kunjung padam. Tanpa kusadari, sosok tinggi tegap mengikutiku dari kejauhan dalam bayang-bayang. Hafiz. Aku masuk ke lobi hotel Royal dan melesat ke lift. Ternyata, dia menyusul masuk tepat sebelum pintu tertutup. Aku tersentak kaget. Aku menunduk, mencoba menyembunyikan wajahku yang berantakan karena tangis. Hafiz menatapku tajam, ada kemarahan sekaligus kekhawatiran di matanya. "Kamu gila, Zara," bisiknya dingin saat lift mulai naik. Aku tetap diam, meremas tas kecilku hingga buku-buku jariku memutih. Begitu sampai di depan kamarku, aku langsung masuk dan duduk di pinggir ranjang, menangis sejadi-jadinya. Aku meraung dalam diam, tubuhku bergetar hebat. Hafiz menghela napas panjang, menutup pintu kamar hotelku rapat-rapat. Dia tidak tahan melihatku hancur seperti itu. Dia berjalan mendekat, duduk di sampingku, lalu menarikku kuat ke dalam pelukannya."Maaf, Azizah, Ibu... Tadi aku sedikit pusing jadi langsung berbaring," ucapku mencari alasan.Ibu tersenyum sangat teduh dan mengusap bahuku."Tidak apa-apa, Sayang. Setiap orang pasti punya masalah dan butuh istirahat."Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling rumah, mencari sosok pelindungku yang biasanya selalu ada."Azzam ke mana?" tanyaku."Abang sedang di kamarnya sejak pulang tadi," jawab Azizah."Baiklah, aku akan siapkan makan malam dulu untuk kita semua," ucapku mencoba menyibukkan diri untuk mengalihkan rasa bersalahku.Setelah semua makanan tertata rapi di atas meja makan, Azzam masih juga belum keluar dari kamarnya. Suasana hening yang tidak biasa mulai menimbulkan kekhawatiran."Bang! Ayo makan malam dulu!" teriak Azizah dari depan pintu kamar kakaknya.Karena tidak ada jawaban sama sekali, Azizah memberanikan diri untuk membuka pintu kamar yang tidak terkunci itu. Di dalam kamar yang temaram, ia melihat Azzam sedang terbaring kaku di atas tempat tidur dengan pakaian k
Zuhra menelan ludah getir melihat binar bahagia di mata suaminya yang tidak pernah ditujukan untuknya. Namun, ia tetap melanjutkan kebohongannya."Aku sudah katakan padanya kalau aku mengizinkan kalian berdua untuk menikah. Jadi, kalian tidak perlu sembunyi-sembunyi lagi dariku."Hafiz seketika kegirangan. Ia menghambur ke arah Zuhra, memeluknya erat dan menciumi seluruh wajah istrinya."Terima kasih, Zuhra! Kamu benar-benar istri yang hebat! Aku mencintaimu!"Zuhra memejamkan mata, menikmati pelukan dan ciuman yang sangat ia rindukan ini, meski ia tahu semua ini hanyalah hadiah karena ia membawa kabar tentang wanita lain."Tapi sayang... bagaimana kalau rencana ini terdengar oleh keluarga besar kita?" tanya Zuhra mencoba menguji nyali suaminya.Hafiz menjawab tanpa berpikir panjang, matanya berkilat penuh tekad."Aku sudah tidak peduli dengan keluarga besar atau aturan konyol mereka, Zuhra! Semua harta kekayaan warisan itu hanya membuatku merasa terkekang selama ini! Aku hanya ingin
Aku pun bersiap untuk bangun dari kursi rotanku, namun tangan Azzam bergerak cepat menahan pergelangan tanganku, menariknya hingga wajah kami berdekatan."Nanti kalau tidur, mengigaulah... dan masuklah ke kamarku," canda Azzam dengan suara rendah dan senyum tipis yang mematikan.Aku tersipu, wajahku merona merah di bawah cahaya bulan."Ssssttt... Azzam, nanti kedengaran Zizah!"Azzam tidak peduli. Ia memajukan wajahnya, mencuri satu ciu man manis di bib irku yang terasa lembut. Ci uman yang penuh janji dan perlindungan, bukan sekadar pelampiasan na fsu.Azzam berbisik tepat di depan bibirku, "I love you, Zara."Aku membalas tatapan itu dengan binar mata yang jernih, merasakan ketulusan yang selama ini aku cari. "I love you more, Azzam."Aku melangkah masuk ke dalam rumah dengan hati yang lebih ringan, sementara Azzam menyusul dari belakang, memastikan wanita pujaannya masuk ke dalam kamarnya dengan aman.Di rumah ini, cinta tumbuh dengan kejujuran, sangat kontras dengan kepalsuan yang
"Tolong, jangan memancing emosiku malam-malam begini," sahut Hafiz ketus."Apa kamu begitu sangat mencintai perempuan itu? Zara si mura han itu?!"Hafiz menoleh dengan tatapan mem atikan. "Iya! Aku mencintainya! Sangat mencintainya sampai rasanya aku mau gila! Puas kamu?!"Zuhra terdiam membatu. Mendengar pengakuan jujur itu dari mulut suaminya sendiri jauh lebih menyakitkan daripada melihatnya berselin gkuh."Tega kamu, Hafiz... tega...""Jangan menyuruhku berbicara kalau ujung-ujungnya hanya akan menyakitimu. Pergilah tidur," ujar Hafiz kembali memunggungi istrinya.Namun, Zuhra justru memeluk punggung Hafiz yang polos dari belakang. Pikirannya yang kalut melahirkan sebuah ide gila demi mempertahankan suaminya."Apa yang kamu inginkan, Hafiz? Apa kamu ingin menikahinya?"Hafiz terkejut. Ia membalikkan badannya, menatap wajah Zuhra yang sembab. "Maksudmu?""Aku sudah tahu semuanya, Hafiz. Tentang Zara," lanjut Zuhra dengan suara bergetar."Dari mana kamu tahu namanya?" Hafiz mengerut
Azzam berdiri tegak di depanku, menatap Zuhra dengan pandangan mengintimidasi. "Siapa dia, Zara?" tanya Azzam."Istri Hafiz," jawabku singkat. Bibirku tersenyum tipis, tidak menunjukkan ketakutan sedikit pun.Azizah yang berdiri di samping kami terperangah."Jadi ini orangnya?" gumamnya tak percaya.Zuhra melangkah maju, wajahnya penuh dengan kebencian yang dibalut keangkuhan. Ia menatap Azzam dengan senyum kemenangan. "Tadi kita berpapasan di toilet, dan aku bilang kamu tidak asing. Sekarang aku ingat jelas. Kamu pria yang waktu itu berdiri memperhatikan suamiku di depan hotel tempat Zara menginap, kan?"Aku maju satu langkah, menatap Zuhra langsung di matanya."Langsung saja, ada keperluan apa memanggil saya di tempat umum seperti ini?"Zuhra tertawa sinis, matanya beralih dariku ke Azzam."Aku pikir kamu perempuan yang benar-benar mencintai Hafiz sampai rela jadi simpanan. Ternyata, hari itu setelah suamiku keluar dari kamar hotelmu, pria ini sudah menunggu giliran untuk masuk. Mur
"Kamu di mana sekarang? Aku akan ke sana! Beritahu aku tempatmu!" Hafiz mendesak, suaranya naik satu oktaf. Azizah yang berada di sampingku membisikkan kata-kata di telingaku, "Ayo, Zara... katakan soal pernikahanmu!" Aku menarik napas panjang. "Aku... aku..." "Jawab, Zara! Aku sangat merindukanmu. Aku tidak bisa hidup tanpamu. Bukankah kita sudah berjanji akan selalu bersama selamanya? Ingatkah kamu saat-saat indah kita?" Hafiz mulai melancarkan serangan kata-kata manis yang dulu selalu berhasil meluluhkan pertahananku. Hatiku sempat tergoyah. Kenangan tentang sentuhan pertama Hafiz dan janji-janji surga itu sempat melintas. Namun, aku kembali teringat pada Azzam-pria yang tidak menjanjikan surga dengan kata-kata, melainkan memberikannya rumah, kehormatan, dan masa depan yang nyata. Tanpa sanggup berkata apa-apa lagi, aku langsung mematikan sambungan telepon itu. Aku meletakkan ponselku dengan tangan gemetar. "Kenapa kamu tidak bicara begitu, Zara? Kamu masih berharap pa
Aku meronta pelan dalam dekapan itu, namun akhirnya aku menyerah dan menyembunyikan wajahku di dada bidang Hafiz. Tangisanku pecah semakin kencang, membasahi jaket tebal yang ia kenakan. Hafiz mengusap punggungku perlahan, sebuah sentuhan yang mencoba menenangkanku namun justru membuat lukaku semaki
Azizah sedikit terperanjat. “Lalu? Apa kamu sudah bertemu dengannya?” "Sudah," aku menarik napas panjang, mencoba menahan tangis. “Tapi dia sudah mengkhianatiku. Dia sudah menikah dengan perempuan lain di sini.” Azizah menutup mulutnya dengan tangan, terkejut. “Ya Tuhan... lalu apa yang ka
Jakarta, lima tahun yang lalu. Aku menatap layar ponselku dengan intensitas yang tidak biasa. Di pojok kanan atas, jam menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Sebagai mahasiswi Psikologi semester lima, aku seharusnya sedang berkutat dengan jurnal tentang attachment theory, namun pikiranku justru tertam
Aku meletakkan ponselku di atas kasur dan menangis sesenggukan. Rasa sesak itu seolah menghimpit paru-paruku. Lima menit kemudian… TING! Notifikasi pesan masuk. @Hafiz: “Kamu di... Mumbai?” Jantungku seakan berhenti berdetak. Aku menyambar ponselku dengan tangan gemetar. @Zara: “Ya. Aku







