Share

ISTRI BAYANGAN
ISTRI BAYANGAN
Author: Meera

Bab 1.

Author: Meera
last update publish date: 2026-04-04 03:39:50

Jakarta, lima tahun yang lalu.

Aku menatap layar ponselku dengan intensitas yang tidak biasa. Di pojok kanan atas, jam menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Sebagai mahasiswi Psikologi semester lima, aku seharusnya sedang berkutat dengan jurnal tentang attachment theory, namun pikiranku justru tertambat pada deretan kalimat yang baru saja masuk di Direct Message I*******m miliku.

@Hafiz: “Profilmu menarik. Ternyata kita di kota yang sama, walau beda kampus. Boleh kenalan?”

Aku tersenyum tipis. Profil pria itu—Hafiz—menampilkan foto dirinya mengenakan seragam taruna pelayaran yang gagah. Rahang tegas, tatapan tajam, dan bahu lebar. Sebagai mahasiswi, aku tahu aku seharusnya berhati-hati, namun ada sesuatu dalam cara Hafiz menyapaku yang terasa... intens.

Dengan ragu, aku membalas.

@Zara: “Boleh. Tapi taruna pelayaran bukannya sibuk banget ya?”

Percakapan malam itu mengalir begitu saja. Hafiz ternyata pria yang dominan, cerdas, dan memiliki pandangan hidup yang sedikit berbeda. Perlahan, ia bercerita bahwa ia berasal dari Mumbai, India. Ia berkisah tentang betapa besarnya tekanan keluarga di sana, di mana setiap langkahnya diatur oleh ayahnya yang kolot.

Pertemuan pertama kami di sebuah kafe di pusat kota Jakarta terasa begitu magis. Aroma parfum woody yang memabukkan langsung menyeruak saat ia duduk di depanku. Pertemuan itu mematahkan rasa gugupku. Hafiz memperlakukanku seperti seorang ratu, namun dengan tatapan yang seolah ingin menelanku hidup-hidup.

"Aku nggak nyangka kamu bakal secantik ini di dunia nyata," pujinya saat pertemuan ketiga kami, di sebuah taman kota saat senja.

Jantungku berdebar kencang. Aku meruntuhkan pertahananku sendiri. Perasaan itu tumbuh, kuat dan menuntut.

Tahun-tahun perkuliahan terasa begitu cepat. Aku dan Hafiz tidak bisa dipisahkan. Kami seperti dua kepingan puzzle yang akhirnya bertemu. Namun, intensitas pertemuan fisik membuat kami melampaui batas.

Awalnya, Hafiz hanya mengantarku pulang ke kosan. Namun, seiring waktu, ia mulai membawaku ke apartemennya yang sepi, atau ke hotel-hotel di sudut kota saat ia mendapat izin keluar dari asramanya.

"Hafiz, aku besok ada kuis Psikologi Perkembangan," keluhku suatu malam, saat kami berada di dalam kamar hotel yang ia sewa.

Hafiz mengecup leherku lembut, tangannya menelusuri pinggangku dengan posesif. "Kuis bisa diulang, Sayang. Tapi aku... aku sebentar lagi harus kembali ke asrama."

Ketergantunganku dimulai dari sana. Sentuhan Hafiz bagaikan narkoba bagiku. Aku merasa tidak bisa hidup tanpa kehadiran fisiknya. Aku menyerahkan segalanya—tubuh dan jiwaku—kepada pria yang aku yakini akan menjadi suamiku itu. Aku mengabaikan tugas kuliah, mengabaikan teman-temanku, hanya demi pertemuan-pertemuan intens yang berakhir di ranjang hotel.

"Hafiz, kamu serius kan sama aku?" tanyaku suatu malam, kepalaku bersandar di dada bidangnya yang wangi sabun hotel.

Ia mengecup dahiku lembut. "Tentu saja, Sayang. Setelah lulus, aku akan bicara dengan orang tuaku. Kita akan menikah."

Janji itu adalah jangkar sekaligus racun bagiku. Aku menggantungkan seluruh harapanku pada janji tersebut.

Hari kelulusan tiba. Panggung megah, toga hitam, dan senyum bahagia. Tapi, di balik senyumku, ada ketakutan yang merayap. Hafiz harus pulang ke negaranya untuk menempuh ujian keahlian pelaut tingkat lanjut.

"Hanya sebentar. Aku akan ke sini lagi," kata Hafiz di bandara. Pelukannya erat, seolah tak ingin melepaskan.

Aku menangis sesenggukan. "Janji ya, jangan hilang kabar. Aku nggak bisa kalau nggak ada kamu."

"Aku janji."

Minggu pertama setelah kepulangannya ke Mumbai, komunikasi masih intens. Video call setiap malam, seringkali diwarnai adegan dewasa yang membuatku semakin ketergantungan. Minggu kedua, mulai jarang. Bulan pertama, Hafiz mulai menghilang selama berhari-hari. Pesanku hanya dibaca, tanpa balasan.

Bulan ketiga... ia menghilang total.

Aku panik. Aku menelepon nomornya, tidak aktif. Aku mengirim pesan W******p, centang satu. I*******m? Akunnya tiba-tiba private dan tidak ada aktivitas lagi. Aku mencarinya ke mana-mana. Aku menghubungi teman-teman seangkatannya di kampus, mencoba mencari tahu lewat koneksi di India. Nihil. Hafiz lenyap ditelan bumi.

"Mungkin dia punya urusan mendesak. Bersabar," kata sahabatku, Nufa, berusaha menenangkan.

"Nggak, Fa. Dia janji! Dia nggak mungkin ninggalin aku kayak gini!" teriakku frustrasi.

Setahun berlalu. Aku mulai meragukan kewarasanku sendiri. Apakah semua kenangan itu nyata? Ataukah aku hanya berhalusinasi mencintai seorang pria yang ternyata tidak nyata? Satu-satunya petunjuk yang kumiliki adalah nama sebuah kota yang pernah ia sebutkan, "Mumbai". Tapi Mumbai sangat luas. Mencari seseorang di sana sama dengan mencari jarum dalam tumpukan jerami.

**

Lima tahun kemudian.

Aku kini bekerja sebagai staf HRD di sebuah perusahaan swasta. Penampilanku lebih dewasa, namun mataku memancarkan kesedihan yang mendalam. Aku belum pernah menjalin hubungan serius lagi. Bayangan Hafiz, sentuhannya, aroma parfumnya... terlalu kuat.

Suatu malam, saat sedang scrolling I*******m, aku iseng mencari nama Hafiz kembali. Aku menemukan sebuah akun. Fotonya buram, tapi gaya rambut dan bentuk bahunya terasa familiar. Akun itu private. Dengan tangan gemetar, aku mengirimkan follow request dan pesan.

@Zara: “Hafiz? Ini aku. Tolong jawab.”

Tidak dibalas. Permintaanku tidak diterima.

Keesokan harinya, aku membuat keputusan gila. Aku mengambil cuti panjang dan membeli tiket pesawat ke Mumbai. Aku tidak bisa hidup dalam ketidakpastian ini lagi. Aku harus menemukan jawaban, meskipun jawabannya akan menghancurkan hatiku.

Mumbai dingin dan asing bagiku. Aku berdiri di tengah keramaian stasiun pusat, merasa kecil dan tersesat. Aku membawa satu koper besar dan alamat samar yang pernah ia sebutkan di sebuah distrik komersial.

Selama seminggu, aku seperti detektif swasta. Aku mendatangi pelabuhan-pelabuhan, menanyakan foto Hafiz ke orang-orang di jalan, dan mencoba menghubungi koneksi lama yang dulu pernah kucari tahu lewat internet. Hasilnya nol. Semua orang menggeleng.

Aku terduduk di sebuah bangku taman kota yang dingin, air mata mulai menetes. Rasa lelah fisik dan mental menggerogotiku. Aku merasa bodoh. Bagaimana mungkin aku berharap menemukan seseorang di kota sebesar ini hanya berdasarkan ucapan lima tahun lalu?

Malam itu, di kamar hotelku yang kecil—tempat yang mengingatkanku pada kenangan kelam bersamanya—aku menatap ponselku. Aku membuka aplikasi I*******m lagi. Melihat follow request-ku masih tertunda. Dengan putus asa dan emosi yang meluap, aku mengetik pesan panjang. Pesan yang aku tahu mungkin takkan pernah dibaca. Namun, aku ingin melepaskan beban di dadaku.

@Zara: “Hafiz, aku tahu kamu baca ini. Aku nggak tahu kenapa kamu lakuin ini ke aku. Tapi aku di sini. Aku di Mumbai. Aku sudah dua minggu mencari kamu di kota yang pernah kamu sebutkan. Tolong, temui aku sekali saja. Aku cuma butuh jawaban kenapa kamu menghilang. Aku... aku merindukanmu.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • ISTRI BAYANGAN   Bab 36

    "Maaf, Azizah, Ibu... Tadi aku sedikit pusing jadi langsung berbaring," ucapku mencari alasan.Ibu tersenyum sangat teduh dan mengusap bahuku."Tidak apa-apa, Sayang. Setiap orang pasti punya masalah dan butuh istirahat."Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling rumah, mencari sosok pelindungku yang biasanya selalu ada."Azzam ke mana?" tanyaku."Abang sedang di kamarnya sejak pulang tadi," jawab Azizah."Baiklah, aku akan siapkan makan malam dulu untuk kita semua," ucapku mencoba menyibukkan diri untuk mengalihkan rasa bersalahku.Setelah semua makanan tertata rapi di atas meja makan, Azzam masih juga belum keluar dari kamarnya. Suasana hening yang tidak biasa mulai menimbulkan kekhawatiran."Bang! Ayo makan malam dulu!" teriak Azizah dari depan pintu kamar kakaknya.Karena tidak ada jawaban sama sekali, Azizah memberanikan diri untuk membuka pintu kamar yang tidak terkunci itu. Di dalam kamar yang temaram, ia melihat Azzam sedang terbaring kaku di atas tempat tidur dengan pakaian k

  • ISTRI BAYANGAN   Bab 35

    Zuhra menelan ludah getir melihat binar bahagia di mata suaminya yang tidak pernah ditujukan untuknya. Namun, ia tetap melanjutkan kebohongannya."Aku sudah katakan padanya kalau aku mengizinkan kalian berdua untuk menikah. Jadi, kalian tidak perlu sembunyi-sembunyi lagi dariku."Hafiz seketika kegirangan. Ia menghambur ke arah Zuhra, memeluknya erat dan menciumi seluruh wajah istrinya."Terima kasih, Zuhra! Kamu benar-benar istri yang hebat! Aku mencintaimu!"Zuhra memejamkan mata, menikmati pelukan dan ciuman yang sangat ia rindukan ini, meski ia tahu semua ini hanyalah hadiah karena ia membawa kabar tentang wanita lain."Tapi sayang... bagaimana kalau rencana ini terdengar oleh keluarga besar kita?" tanya Zuhra mencoba menguji nyali suaminya.Hafiz menjawab tanpa berpikir panjang, matanya berkilat penuh tekad."Aku sudah tidak peduli dengan keluarga besar atau aturan konyol mereka, Zuhra! Semua harta kekayaan warisan itu hanya membuatku merasa terkekang selama ini! Aku hanya ingin

  • ISTRI BAYANGAN   Bab 34

    Aku pun bersiap untuk bangun dari kursi rotanku, namun tangan Azzam bergerak cepat menahan pergelangan tanganku, menariknya hingga wajah kami berdekatan."Nanti kalau tidur, mengigaulah... dan masuklah ke kamarku," canda Azzam dengan suara rendah dan senyum tipis yang mematikan.Aku tersipu, wajahku merona merah di bawah cahaya bulan."Ssssttt... Azzam, nanti kedengaran Zizah!"Azzam tidak peduli. Ia memajukan wajahnya, mencuri satu ciu man manis di bib irku yang terasa lembut. Ci uman yang penuh janji dan perlindungan, bukan sekadar pelampiasan na fsu.Azzam berbisik tepat di depan bibirku, "I love you, Zara."Aku membalas tatapan itu dengan binar mata yang jernih, merasakan ketulusan yang selama ini aku cari. "I love you more, Azzam."Aku melangkah masuk ke dalam rumah dengan hati yang lebih ringan, sementara Azzam menyusul dari belakang, memastikan wanita pujaannya masuk ke dalam kamarnya dengan aman.Di rumah ini, cinta tumbuh dengan kejujuran, sangat kontras dengan kepalsuan yang

  • ISTRI BAYANGAN   Bab 33

    "Tolong, jangan memancing emosiku malam-malam begini," sahut Hafiz ketus."Apa kamu begitu sangat mencintai perempuan itu? Zara si mura han itu?!"Hafiz menoleh dengan tatapan mem atikan. "Iya! Aku mencintainya! Sangat mencintainya sampai rasanya aku mau gila! Puas kamu?!"Zuhra terdiam membatu. Mendengar pengakuan jujur itu dari mulut suaminya sendiri jauh lebih menyakitkan daripada melihatnya berselin gkuh."Tega kamu, Hafiz... tega...""Jangan menyuruhku berbicara kalau ujung-ujungnya hanya akan menyakitimu. Pergilah tidur," ujar Hafiz kembali memunggungi istrinya.Namun, Zuhra justru memeluk punggung Hafiz yang polos dari belakang. Pikirannya yang kalut melahirkan sebuah ide gila demi mempertahankan suaminya."Apa yang kamu inginkan, Hafiz? Apa kamu ingin menikahinya?"Hafiz terkejut. Ia membalikkan badannya, menatap wajah Zuhra yang sembab. "Maksudmu?""Aku sudah tahu semuanya, Hafiz. Tentang Zara," lanjut Zuhra dengan suara bergetar."Dari mana kamu tahu namanya?" Hafiz mengerut

  • ISTRI BAYANGAN   Bab 32

    Azzam berdiri tegak di depanku, menatap Zuhra dengan pandangan mengintimidasi. "Siapa dia, Zara?" tanya Azzam."Istri Hafiz," jawabku singkat. Bibirku tersenyum tipis, tidak menunjukkan ketakutan sedikit pun.Azizah yang berdiri di samping kami terperangah."Jadi ini orangnya?" gumamnya tak percaya.Zuhra melangkah maju, wajahnya penuh dengan kebencian yang dibalut keangkuhan. Ia menatap Azzam dengan senyum kemenangan. "Tadi kita berpapasan di toilet, dan aku bilang kamu tidak asing. Sekarang aku ingat jelas. Kamu pria yang waktu itu berdiri memperhatikan suamiku di depan hotel tempat Zara menginap, kan?"Aku maju satu langkah, menatap Zuhra langsung di matanya."Langsung saja, ada keperluan apa memanggil saya di tempat umum seperti ini?"Zuhra tertawa sinis, matanya beralih dariku ke Azzam."Aku pikir kamu perempuan yang benar-benar mencintai Hafiz sampai rela jadi simpanan. Ternyata, hari itu setelah suamiku keluar dari kamar hotelmu, pria ini sudah menunggu giliran untuk masuk. Mur

  • ISTRI BAYANGAN   Bab 31

    "Kamu di mana sekarang? Aku akan ke sana! Beritahu aku tempatmu!" Hafiz mendesak, suaranya naik satu oktaf. Azizah yang berada di sampingku membisikkan kata-kata di telingaku, "Ayo, Zara... katakan soal pernikahanmu!" Aku menarik napas panjang. "Aku... aku..." "Jawab, Zara! Aku sangat merindukanmu. Aku tidak bisa hidup tanpamu. Bukankah kita sudah berjanji akan selalu bersama selamanya? Ingatkah kamu saat-saat indah kita?" Hafiz mulai melancarkan serangan kata-kata manis yang dulu selalu berhasil meluluhkan pertahananku. Hatiku sempat tergoyah. Kenangan tentang sentuhan pertama Hafiz dan janji-janji surga itu sempat melintas. Namun, aku kembali teringat pada Azzam-pria yang tidak menjanjikan surga dengan kata-kata, melainkan memberikannya rumah, kehormatan, dan masa depan yang nyata. Tanpa sanggup berkata apa-apa lagi, aku langsung mematikan sambungan telepon itu. Aku meletakkan ponselku dengan tangan gemetar. "Kenapa kamu tidak bicara begitu, Zara? Kamu masih berharap pa

  • ISTRI BAYANGAN   Bab 5.

    Azizah sedikit terperanjat. “Lalu? Apa kamu sudah bertemu dengannya?” "Sudah," aku menarik napas panjang, mencoba menahan tangis. “Tapi dia sudah mengkhianatiku. Dia sudah menikah dengan perempuan lain di sini.” Azizah menutup mulutnya dengan tangan, terkejut. “Ya Tuhan... lalu apa yang ka

  • ISTRI BAYANGAN   Bab 2.

    Aku meletakkan ponselku di atas kasur dan menangis sesenggukan. Rasa sesak itu seolah menghimpit paru-paruku. Lima menit kemudian… TING! Notifikasi pesan masuk. @Hafiz: “Kamu di... Mumbai?” Jantungku seakan berhenti berdetak. Aku menyambar ponselku dengan tangan gemetar. @Zara: “Ya. Aku

  • ISTRI BAYANGAN   Bab 3.

    Aku berjalan gontai ke cermin kamar mandi. Wajahku pucat pasi, mataku bengkak dan merah. Aku menatap pantulan diriku sendiri, merasakan campuran antara rasa jijik dan kerinduan yang amat sangat pada sosok di cermin itu. Pikiranku melayang, teringat betapa intensnya hubungan kami saat kuliah dulu. B

  • ISTRI BAYANGAN   Bab 4.

    Aku meronta pelan dalam dekapan itu, namun akhirnya aku menyerah dan menyembunyikan wajahku di dada bidang Hafiz. Tangisanku pecah semakin kencang, membasahi jaket tebal yang ia kenakan. Hafiz mengusap punggungku perlahan, sebuah sentuhan yang mencoba menenangkanku namun justru membuat lukaku semaki

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status