LOGIN
Kegelapan malam di kamar utama rumah keluarga Hafiz terasa begitu menekan.
Zuhra yang berbaring membelakangi Hafiz, mencoba menahan isak tangis agar tidak terdengar. Bahunya yang bergetar hebat tidak bisa membohongi siapa pun. Di dalam hatinya, ada luka yang menganga lebar melihat sikap dingin suaminya beberapa hari terakhir. Hafiz, yang belum sepenuhnya terlelap, merasakan getaran itu. Penyesalan kecil menyelinap di antara rasa obsesinya padaku. Ia bergeser perlahan, lalu melingkarkan tangannya di pinggang Zuhra, memeluk istrinya itu dari belakang. "Kamu kenapa, Zuhra?" bisik Hafiz rendah, suaranya terdengar lembut namun ada nada canggung di sana. Zuhra menyeka air matanya dengan ujung selimut, mencoba menetralkan suaranya yang serak. “Tidak apa-apa, Hafiz.” Hafiz menghela napas, ia mengeratkan pelukannya, seolah mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia masih peduli. “Katakan padaku. Kenapa menangis?” Zuhra terdiam sejenak. Ia tidak mungkin mengatakan bahwa ia merasa suaminya sedang menjauh, bahwa ia merasa ada wanita lain dalam pikiran suaminya. Ia tidak punya bukti, dan ia terlalu takut untuk menghadapi kenyataan itu. "Aku... aku hanya rindu keluargaku," bohong Zuhra akhirnya. Ia memang merindukan orang tuanya, namun rindu itu terasa sepuluh kali lipat lebih berat karena ia merasa kesepian di samping suaminya sendiri. Hafiz terdiam. Sebuah ide melintas di kepalanya. Jika Zuhra pergi ke rumah orang tuanya, maka ia akan memiliki kebebasan penuh untuk bersamaku di hotel. Ia tidak perlu lagi berbohong tentang lembur atau reuni kantor. "Apa kau mau pulang ke orang tuamu?" tanya Hafiz, nada suaranya sedikit lebih antusias dari sebelumnya. Zuhra membalikkan badannya, menatap wajah suaminya di tengah kegelapan yang temaram. “Apa kamu mengizinkan aku pulang ke rumah orang tuaku?” Hafiz mengusap pipi Zuhra yang basah. “Tentu saja, Zuhra. Kamu pasti sangat rindu mereka. Pergilah, Sayang. Menginaplah di sana beberapa hari.” Zuhra menatap mata Hafiz, mencari kejujuran di sana. Hatinya merasa lega karena diizinkan, namun di sisi lain, ia merasa perih karena Hafiz tampak begitu mudah melepaskannya pergi. “Iya, Sayang. Terimakasih sudah mengizinkan.” "Iya, Sayang. Sekarang tidurlah, sudah lewat malam. Besok pagi aku sendiri yang akan mengantarmu ke rumah orang tuamu," ucap Hafiz sambil mencium kening Zuhra. Zuhra mengangguk dan kembali memejamkan mata dalam pelukan Hafiz. Namun, di dalam hati kecilnya, ia masih terus bertanya-tanya: Ada apa dengan suamiku? Kenapa dia begitu ingin aku pergi? Keesokan harinya, Mumbai tampak sibuk dengan hiruk-pikuk aktivitas paginya. Hafiz mengemudikan mobilnya dengan tenang menuju kediaman orang tua Zuhra. Di dalam mobil, suasana terasa canggung. Zuhra hanya menatap keluar jendela, sementara Hafiz fokus pada jalanan. "Mau berapa lama kamu di rumah orang tuamu, Zuhra?" tanya Hafiz memecah keheningan. Zuhra menoleh, menatap suaminya dengan tatapan sendu. “Belum tahu, Sayang. Mungkin sampai perasaanku sedikit lebih baik.” Hafiz mengangguk pelan. “Hubungi aku kalau kamu ingin kembali ke rumah kita. Aku akan menjemputmu.” "Iya, Sayang," jawab Zuhra lirih. Sesampainya di depan gerbang megah rumah orang tuanya, Hafiz turun dan membantu Zuhra membawa tasnya. Ia memberikan kecupan singkat di pipi Zuhra lalu berpamitan. Zuhra berdiri mematung di teras rumah, melihat punggung Hafiz yang melangkah masuk ke dalam mobil dengan tergesa-gesa. Ada yang aneh dari gerak-gerik Hafiz. Cara pria itu berjalan, cara pria itu menghindar dari tatapannya, semuanya terasa tidak seperti biasanya. Hafiz tampak seperti seseorang yang baru saja melepaskan beban berat dan ingin segera berlari menuju sesuatu yang lebih menyenangkan. Ibu Zuhra muncul dari dalam rumah, melihat menantunya yang baru saja pergi tanpa mampir untuk sekadar minum teh. "Kenapa kamu pulang dan ingin menginap di sini tidak dengan suamimu, Zuhra?" tanya Ibu Zuhra heran. Zuhra mencoba tersenyum, meski matanya terlihat layu. “Hafiz mengizinkan aku untuk menginap di sini, Mom. Dia bilang aku butuh istirahat.” Ibu Zuhra, yang sudah makan asam garam kehidupan rumah tangga, memicingkan matanya. Ia merangkul pundak putrinya dan membawanya masuk. “Kalian ada masalah?” Zuhra terdiam. Ia tidak sanggup menjawab. "Katakan, ada apa sebenarnya? Hafiz menyakitimu?" desak Ibunya saat mereka sudah duduk di sofa ruang keluarga. Zuhra menunduk, memainkan jemarinya yang gemetar. “Aku tidak bisa mengatakannya sekarang, Mom. Zuhra masih takut kalau ini hanya perasaan Zuhra saja.” Ibu Zuhra menatap tajam. “Hafiz ada perempuan lain?” Pertanyaan itu seperti petir di siang bolong bagi Zuhra. Ia langsung mendongak dan membantah dengan keras. “Tidak, Mom! Jangan berkata seperti itu! Hafiz bukan pria seperti itu. Mungkin... mungkin ini hanya perasaan Zuhra saja yang terlalu sensitif.” "Pergilah istirahat ke kamarmu. Tenangkan dirimu dulu, Nak. Mommy akan siapkan makanan kesukaanmu," ucap Ibunya dengan nada lembut namun penuh kecurigaan yang tersimpan. "Iya, Mom. Thank you," jawab Zuhra. Ia melangkah menuju kamar masa kecilnya. Di sana, di tengah ruangan yang penuh kenangan manis, Zuhra hanya bisa melamun. Ia menatap langit-langit, bertanya-tanya apa yang sedang dilakukan suaminya saat ini. Sementara itu, di dalam mobilnya, Hafiz merasa seperti baru saja keluar dari penjara. Begitu mobilnya menjauh dari lingkungan rumah mertuanya, ia langsung meraih ponsel dan menekan nomorku. Jantungnya berdebar kencang, perasaan bersalahnya pada Zuhra tertimbun oleh gairah yang meluap untuk bertemu denganku, kekasih masa lalunya. "Halo, sayang. Bangunlah, aku mau mampir sekarang," ucap Hafiz begitu telepon diangkat. Suaraku terdengar serak di seberang sana, suara yang selalu berhasil membangkitkan sisi posesif Hafiz. “Iya, Sayang... aku sudah bangun, tapi malas mau mandi. Aku masih ingin di tempat tidur.” Hafiz tersenyum tipis, membayangkan aku yang masih bergelung di balik selimut hotel. “Aku bawakan makanan untukmu. Setelah makan baru kamu mandi. Pergilah gosok gigi dulu, aku akan sampai sepuluh menit lagi.” "Iya, Sayang," jawabku dengan nada manja. Sepuluh menit kemudian, Hafiz sudah mengetuk pintu kamar hotelku. Begitu pintu terbuka, ia melihatku mengenakan jubah mandi putih, rambutku sedikit berantakan namun tetap terlihat cantik di mata Hafiz. Tanpa banyak bicara, Hafiz menarikku ke dalam pelukannya, mencium puncak kepalaku dengan posesif. "Zuhra sudah di rumah orang tuanya," bisik Hafiz di telingaku. Aku sedikit tersentak, namun aku tidak bertanya lebih lanjut. Sifat pendiamku membuatku hanya mengangguk pelan. “Lalu?” "Lalu... aku milikmu sepenuhnya hari ini," jawab Hafiz sambil meletakkan bungkusan makanan di meja. “Ayo makan dulu. Kamu harus punya energi untukku hari ini.” Aku tersenyum tipis, senyuman yang mengandung kepedihan sekaligus kebahagiaan yang terlarang. Aku tahu aku sedang membangun kebahagiaan di atas air mata wanita lain, tapi ketergantunganku pada Hafiz selama ini telah membutakan nuraniku. "Thank you, Hafiz," ucapku lembut. "Apapun untukmu, sayang. Apapun," jawab Hafiz, sambil mulai membuka kancing kemejanya, matanya tidak lepas menatapku dengan tatapan lapar yang tidak pernah ia tunjukkan pada istrinya sendiri. Di kamar hotel, kami seolah menciptakan dunia kami sendiri. Dunia yang tidak mengenal Zuhra, tidak mengenal keluarga besar di Mumbai, dan tidak mengenal dosa. Namun di tempat lain, Zuhra masih menatap jendela, menunggu pesan dari suaminya yang tak kunjung tiba.Jakarta, lima tahun yang lalu. Aku menatap layar ponselku dengan intensitas yang tidak biasa. Di pojok kanan atas, jam menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Sebagai mahasiswi Psikologi semester lima, aku seharusnya sedang berkutat dengan jurnal tentang attachment theory, namun pikiranku justru tertambat pada deretan kalimat yang baru saja masuk di Direct Message I*******m miliku. @Hafiz: “Profilmu menarik. Ternyata kita di kota yang sama, walau beda kampus. Boleh kenalan?” Aku tersenyum tipis. Profil pria itu—Hafiz—menampilkan foto dirinya mengenakan seragam taruna pelayaran yang gagah. Rahang tegas, tatapan tajam, dan bahu lebar. Sebagai mahasiswi, aku tahu aku seharusnya berhati-hati, namun ada sesuatu dalam cara Hafiz menyapaku yang terasa... intens. Dengan ragu, aku membalas. @Zara: “Boleh. Tapi taruna pelayaran bukannya sibuk banget ya?” Percakapan malam itu mengalir begitu saja. Hafiz ternyata pria yang dominan, cerdas, dan memiliki pandangan hidup yang sedikit berbeda. Perla
Aku meletakkan ponselku di atas kasur dan menangis sesenggukan. Rasa sesak itu seolah menghimpit paru-paruku. Lima menit kemudian… TING! Notifikasi pesan masuk. @Hafiz: “Kamu di... Mumbai?” Jantungku seakan berhenti berdetak. Aku menyambar ponselku dengan tangan gemetar. @Zara: “Ya. Aku di hotel Royal Plaza. Temui aku.” @Hafiz: “Nggak mungkin. Zara, kamu gila? Kenapa kamu ke sini?” @Zara: “Karena aku mencintaimu, Hafiz! Dan aku pantas mendapatkan jawaban! Aku butuh kamu di sini!” Di seberang sana, aku membayangkan Hafiz menatap layar ponselnya dengan tatapan tidak percaya. Beribu-ribu pesan yang pernah kukirimkan selama lima tahun ini ia abaikan, tapi pesan yang satu ini... pesan yang mengatakan aku ada di kota yang sama dengannya... akhirnya meruntuhkan pertahanannya. Aku menunggu di lobi hotel. Setiap kali pintu kaca terbuka, jantungku berpacu gila. Satu jam, dua jam berlalu. Hampir tengah malam, sesosok pria berjalan masuk dengan tergesa-gesa. Ia mengenakan mant
Aku berjalan ke cermin kamar mandi. Wajahku pucat, mataku bengkak. Aku menatap diriku sendiri, merasa jijik sekaligus merindukan sosok yang ada di cermin itu. Aku teringat betapa intensnya hubungan kami saat kuliah dulu. Bagaimana Hafiz selalu membawaku ke hotel, bagaimana ia mendominasi setiap gerak-gerikku, membuatku merasa hidup hanya ketika bersamanya. "Apa yang aku lakukan?" bisikku pada cermin. “Aku bertingkah seperti orang gila.” Namun, bayangan Hafiz selalu muncul. Pria itu yang memberiku warna, yang memberiku gairah yang tidak pernah kutemukan pada pria lain. Di tempat lain, di sebuah rumah mewah di kawasan eksklusif Mumbai, Hafiz sedang duduk di sofa ruang kerjanya. Zuhra, istrinya, baru saja mengetuk pintu dan membawakan teh hangat. "Hafiz, kamu baik-baik saja? Kamu tampak sangat lelah," tanya Zuhra lembut. Hafiz menatap istrinya itu. Zuhra adalah wanita yang lembut, cantik, dan sangat menghormatinya. Pernikahan mereka didasari perjodohan, namun seiring berjalannya wa
Aku meronta pelan, namun akhirnya menyerah dan menyembunyikan wajahku di dada bidang Hafiz. Tangisanku semakin kencang, membasahi jaket tebal yang ia kenakan. Hafiz mengusap punggungku perlahan, mencoba menenangkanku. "Kenapa, Zara? Kenapa harus sejauh ini?" bisiknya. Setelah tangisanku mereda menjadi sesenggukan, Hafiz mengangkat daguku, menatap mataku dalam-dalam. "Apakah benar... kamu selama ini mencariku, Zara?" Aku hanya bisa mengangguk pelan. Tatapanku menyiratkan rasa sakit dan rindu yang mendalam. Aku ingin bicara, tapi tenggorokanku terasa tercekat. Hafiz menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia tahu aku mencintainya, tapi ia juga tahu konsekuensi dari cinta itu. "Kamu tau begitu pahitnya menjadi istri kedua, Zara?" Aku mendongakkan wajah, menatap lurus ke matanya. Dalam diamku, ada tatapan penuh tekad. "Aku siap, Hafiz. Aku siap apa saja, asal sama kamu." Hafiz menggelengkan kepalanya pelan, menolak ide gila itu. "Pulanglah ke Indonesia, Zara. Aku akan pikirka
Azizah sedikit terperanjat. “Lalu? Apa kamu sudah bertemu dengannya?” "Sudah," aku menarik napas panjang, mencoba menahan tangis. “Tapi dia sudah mengkhianatiku. Dia sudah menikah dengan perempuan lain di sini.” Azizah menutup mulutnya dengan tangan, terkejut. “Ya Tuhan... lalu apa yang kamu lakukan?” "Aku belum bisa terima, Azizah. Aku menunggunya selama lima tahun di Indonesia. Aku mencarinya ke mana-mana tanpa kabar. Setelah aku nekat datang ke sini dan bertemu dengannya, dia baru bilang kalau dia sudah menikah. Aku mencarinya sampai sejauh ini hanya untuk dikhianati," aku akhirnya meneteskan air mata. Azizah segera berpindah duduk dan memelukku. “Sabar ya. Aku tidak menyangka ceritanya sesakit ini.” Aku mengangguk dalam pelukan Azizah, aku menceritakan segalanya—tentang masa kuliah kami, tentang janji-janji Hafiz, dan tentang betapa aku merasa tidak bisa hidup tanpa pria itu. Di balik pintu kaca yang sedikit terbuka, Azzam berdiri mematung. Ia tidak sengaja mendengar sel
Kegelapan malam di kamar utama rumah keluarga Hafiz terasa begitu menekan. Zuhra yang berbaring membelakangi Hafiz, mencoba menahan isak tangis agar tidak terdengar. Bahunya yang bergetar hebat tidak bisa membohongi siapa pun. Di dalam hatinya, ada luka yang menganga lebar melihat sikap dingin suaminya beberapa hari terakhir. Hafiz, yang belum sepenuhnya terlelap, merasakan getaran itu. Penyesalan kecil menyelinap di antara rasa obsesinya padaku. Ia bergeser perlahan, lalu melingkarkan tangannya di pinggang Zuhra, memeluk istrinya itu dari belakang. "Kamu kenapa, Zuhra?" bisik Hafiz rendah, suaranya terdengar lembut namun ada nada canggung di sana. Zuhra menyeka air matanya dengan ujung selimut, mencoba menetralkan suaranya yang serak. “Tidak apa-apa, Hafiz.” Hafiz menghela napas, ia mengeratkan pelukannya, seolah mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia masih peduli. “Katakan padaku. Kenapa menangis?” Zuhra terdiam sejenak. Ia tidak mungkin mengatakan bahwa ia merasa suamin







