LOGINJakarta, lima tahun yang lalu. Aku menatap layar ponselku dengan intensitas yang tidak biasa. Di pojok kanan atas, jam menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Sebagai mahasiswi Psikologi semester lima, aku seharusnya sedang berkutat dengan jurnal tentang attachment theory, namun pikiranku justru tertambat pada deretan kalimat yang baru saja masuk di Direct Message I*******m miliku. @Hafiz: “Profilmu menarik. Ternyata kita di kota yang sama, walau beda kampus. Boleh kenalan?” Aku tersenyum tipis. Profil pria itu—Hafiz—menampilkan foto dirinya mengenakan seragam taruna pelayaran yang gagah. Rahang tegas, tatapan tajam, dan bahu lebar. Sebagai mahasiswi, aku tahu aku seharusnya berhati-hati, namun ada sesuatu dalam cara Hafiz menyapaku yang terasa... intens. Dengan ragu, aku membalas. @Zara: “Boleh. Tapi taruna pelayaran bukannya sibuk banget ya?” Percakapan malam itu mengalir begitu saja. Hafiz ternyata pria yang dominan, cerdas, dan memiliki pandangan hidup yang sedikit berbeda. Perla
Aku meletakkan ponselku di atas kasur dan menangis sesenggukan. Rasa sesak itu seolah menghimpit paru-paruku. Lima menit kemudian… TING! Notifikasi pesan masuk. @Hafiz: “Kamu di... Mumbai?” Jantungku seakan berhenti berdetak. Aku menyambar ponselku dengan tangan gemetar. @Zara: “Ya. Aku di hotel Royal Plaza. Temui aku.” @Hafiz: “Nggak mungkin. Zara, kamu gila? Kenapa kamu ke sini?” @Zara: “Karena aku mencintaimu, Hafiz! Dan aku pantas mendapatkan jawaban! Aku butuh kamu di sini!” Di seberang sana, aku membayangkan Hafiz menatap layar ponselnya dengan tatapan tidak percaya. Beribu-ribu pesan yang pernah kukirimkan selama lima tahun ini ia abaikan, tapi pesan yang satu ini... pesan yang mengatakan aku ada di kota yang sama dengannya... akhirnya meruntuhkan pertahanannya. Aku menunggu di lobi hotel. Setiap kali pintu kaca terbuka, jantungku berpacu gila. Satu jam, dua jam berlalu. Hampir tengah malam, sesosok pria berjalan masuk dengan tergesa-gesa. Ia mengenakan mant
Aku berjalan ke cermin kamar mandi. Wajahku pucat, mataku bengkak. Aku menatap diriku sendiri, merasa jijik sekaligus merindukan sosok yang ada di cermin itu. Aku teringat betapa intensnya hubungan kami saat kuliah dulu. Bagaimana Hafiz selalu membawaku ke hotel, bagaimana ia mendominasi setiap gerak-gerikku, membuatku merasa hidup hanya ketika bersamanya. "Apa yang aku lakukan?" bisikku pada cermin. “Aku bertingkah seperti orang gila.” Namun, bayangan Hafiz selalu muncul. Pria itu yang memberiku warna, yang memberiku gairah yang tidak pernah kutemukan pada pria lain. Di tempat lain, di sebuah rumah mewah di kawasan eksklusif Mumbai, Hafiz sedang duduk di sofa ruang kerjanya. Zuhra, istrinya, baru saja mengetuk pintu dan membawakan teh hangat. "Hafiz, kamu baik-baik saja? Kamu tampak sangat lelah," tanya Zuhra lembut. Hafiz menatap istrinya itu. Zuhra adalah wanita yang lembut, cantik, dan sangat menghormatinya. Pernikahan mereka didasari perjodohan, namun seiring berjalannya wa
Aku meronta pelan, namun akhirnya menyerah dan menyembunyikan wajahku di dada bidang Hafiz. Tangisanku semakin kencang, membasahi jaket tebal yang ia kenakan. Hafiz mengusap punggungku perlahan, mencoba menenangkanku. "Kenapa, Zara? Kenapa harus sejauh ini?" bisiknya. Setelah tangisanku mereda menjadi sesenggukan, Hafiz mengangkat daguku, menatap mataku dalam-dalam. "Apakah benar... kamu selama ini mencariku, Zara?" Aku hanya bisa mengangguk pelan. Tatapanku menyiratkan rasa sakit dan rindu yang mendalam. Aku ingin bicara, tapi tenggorokanku terasa tercekat. Hafiz menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia tahu aku mencintainya, tapi ia juga tahu konsekuensi dari cinta itu. "Kamu tau begitu pahitnya menjadi istri kedua, Zara?" Aku mendongakkan wajah, menatap lurus ke matanya. Dalam diamku, ada tatapan penuh tekad. "Aku siap, Hafiz. Aku siap apa saja, asal sama kamu." Hafiz menggelengkan kepalanya pelan, menolak ide gila itu. "Pulanglah ke Indonesia, Zara. Aku akan pikirka
Azizah sedikit terperanjat. “Lalu? Apa kamu sudah bertemu dengannya?” "Sudah," aku menarik napas panjang, mencoba menahan tangis. “Tapi dia sudah mengkhianatiku. Dia sudah menikah dengan perempuan lain di sini.” Azizah menutup mulutnya dengan tangan, terkejut. “Ya Tuhan... lalu apa yang kamu lakukan?” "Aku belum bisa terima, Azizah. Aku menunggunya selama lima tahun di Indonesia. Aku mencarinya ke mana-mana tanpa kabar. Setelah aku nekat datang ke sini dan bertemu dengannya, dia baru bilang kalau dia sudah menikah. Aku mencarinya sampai sejauh ini hanya untuk dikhianati," aku akhirnya meneteskan air mata. Azizah segera berpindah duduk dan memelukku. “Sabar ya. Aku tidak menyangka ceritanya sesakit ini.” Aku mengangguk dalam pelukan Azizah, aku menceritakan segalanya—tentang masa kuliah kami, tentang janji-janji Hafiz, dan tentang betapa aku merasa tidak bisa hidup tanpa pria itu. Di balik pintu kaca yang sedikit terbuka, Azzam berdiri mematung. Ia tidak sengaja mendengar sel
Kegelapan malam di kamar utama rumah keluarga Hafiz terasa begitu menekan. Zuhra yang berbaring membelakangi Hafiz, mencoba menahan isak tangis agar tidak terdengar. Bahunya yang bergetar hebat tidak bisa membohongi siapa pun. Di dalam hatinya, ada luka yang menganga lebar melihat sikap dingin suaminya beberapa hari terakhir. Hafiz, yang belum sepenuhnya terlelap, merasakan getaran itu. Penyesalan kecil menyelinap di antara rasa obsesinya padaku. Ia bergeser perlahan, lalu melingkarkan tangannya di pinggang Zuhra, memeluk istrinya itu dari belakang. "Kamu kenapa, Zuhra?" bisik Hafiz rendah, suaranya terdengar lembut namun ada nada canggung di sana. Zuhra menyeka air matanya dengan ujung selimut, mencoba menetralkan suaranya yang serak. “Tidak apa-apa, Hafiz.” Hafiz menghela napas, ia mengeratkan pelukannya, seolah mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia masih peduli. “Katakan padaku. Kenapa menangis?” Zuhra terdiam sejenak. Ia tidak mungkin mengatakan bahwa ia merasa suamin







