MasukDi kamar lain, Aleandra baru saja keluar dari kamar mandi dengan wajah pucat. Dua teman prianya, Elrick dan Matthew, ternyata masih ada di dalam kamar tersebut.
"Kenapa kalian masih di sini?!" seru Aleandra panik. "Bukannya aku sudah menyuruh kalian untuk segera pergi?!"
"Aleandra, maafkan kami atas kejadian semalam," ucap Matthew merasa bersalah. "Kami sungguh tidak tahu kalau semalam itu dirimu, bukan si culun."
Elrick menimpali, "Iya, Aleandra. Kami terpengaruh alkohol semalam, jadi kami—"
"Tidak usah dibahas lagi! Jangan sampai ada yang tahu soal ini, apalagi Kheland. Ini harus menjadi rahasia kita bertiga, kalian mengerti?!" potong Aleandra tajam.
"Baiklah, Aleandra. Kami berjanji tidak akan menceritakan kejadian ini kepada siapa pun."
"Ya sudah, cepat pergilah! Jangan sampai ada orang yang melihat kalian keluar dari kamar yang sama denganku!" usir Aleandra.
Kedua pria itu pun bergegas pergi saat itu juga.
Setelah pintu tertutup rapat, Aleandra langsung mengumpat sambil mengusap gusar wajahnya dengan frustrasi. "Brengsek! Bagaimana mungkin aku bisa salah kamar hingga menghabiskan malam dengan kedua pria bodoh itu?!"
Ia benar-benar merutuki kecerobohannya semalam. Seharusnya ia masuk ke kamar tempat Cleara dijebak untuk menyaksikan kakak tirinya itu digilir, lalu ia sendiri pergi menghabiskan malam bersama Kheland. Namun karena mabuk berat, ia justru salah masuk kamar dan berakhir digilir oleh Matthew dan Elrick. Rencananya buruknya terhadap Cleara justru malah berbalik kepada dirinya sendiri.
"Jika sampai Kheland tahu, aku bisa kehilangan dia," ucapnya ketakutan. Sejenak, ia berpikir. "Tapi... jika Cleara tidak ada di kamar ini semalam, lalu ke mana dia?"
Matanya seketika membelalak lebar saat menyadari sesuatu yang mengerikan. "Apa jangan-jangan...!"
Aleandra bergegas memakai pakaiannya dan langsung mendatangi kamar yang telah dipesan oleh Kheland semalam. Namun, kamar itu sedang dibersikan oleh roomboy. Kamar itu sudah kosong, tidak ada Kheland di sana.
Baru saja ia hendak menelepon Kheland, sebuah notifikasi pesan masuk dari kekasihnya itu muncul di layar ponsel.
Sayang, semalam kau tidak datang menemuiku di kamar, jadi aku memutuskan untuk langsung pergi dari hotel. Kau semalam ke mana? Nanti saat jam makan siang aku akan menghubungimu, karena pagi ini aku ada rapat penting. Aku mencintaimu. — Kheland.
Membaca pesan tersebut, Aleandra seketika mengembuskan napas lega. Ketakutannya menguap begitu saja.
"Mana mungkin Kheland mau meniduri si culun itu," gumamnya sinis dengan senyum miring. Namun, sedetik kemudian keningnya kembali berkerut heran. "Tapi... ke mana Cleara pergi semalam?"
***
Di depan sebuah gereja, Cleara duduk termenung di salah satu kursi taman. Matanya sembab menatap bangunan suci di hadapannya. Air matanya yang baru saja mengering kini kembali menganak sungai, setelah ia mengingat kembali bahwa keperawanannya telah direnggut oleh Kheland semalam.
Seorang biarawati paruh baya berjalan mendekat. Menyadari kehadiran sosok tersebut, Cleara buru-buru menyeka pipinya dengan kasar.
"Cleara, kenapa kau tidak masuk ke dalam?" tanya wanita itu ramah sembari mengambil tempat duduk di sisi Cleara.
"Ehm, aku... aku hanya mampir, Suster Anne." Sambil tersenyum.
"Meskipun hanya mampir, biasanya kau selalu menyempatkan diri untuk masuk dan berdoa." Suster Anne menatap lekat-lekat wajah gadis di sampingnya. "Kau habis menangis?"
"Tidak, Suster Anne. Aku hanya sedang kurang tidur saja," kilah Cleara, berusaha tetap tersenyum.
"Kau pasti kelelahan karena harus mengurus keluargamu selama ini," ucap Suster Anne lembut. "Tapi setidaknya bersabarlah sedikit lagi. Sebentar lagi kau akan mengikrarkan kaulmu untuk mengabdi penuh pada Tuhan dan gereja ini—"
"Suster Anne ...." potong Cleara tiba-tiba.
"Ya, Sayang? Ada apa?"
Cleara menarik napas berat, meremas jemarinya sendiri dengan gemetar. "Sepertinya... aku harus membatalkan niatku untuk menjadi biarawati."
Suster Anne terkesiap. Ia tahu betul bagaimana besarnya tekad Cleara sejak dulu untuk memeluk panggilan hidup ini. Dulu, sang ayah mati-matian melarangnya. Namun sekarang, justru setelah izin dari ayahnya sudah di tangan, kenapa Cleara tiba-tiba mengurungkan niat suci itu secara mendadak?
"Kenapa? Apa ayahmu berubah pikiran dan kembali melarangmu? Bukankah ini cita-citamu sejak kecil?" tanya Suster Anne cemas.
"Tidak, Suster. Hanya saja... aku merasa sudah tidak pantas lagi untuk menjadi pelayan Tuhan. Jadi, aku memutuskan untuk mengurungkan niatku menjadi biarawati."
Suster Anne sangat menyayangkan hal itu. Namun, ia tidak bisa berbuat apa-apa karena hidup membiara adalah sebuah panggilan suci yang tidak bisa dipaksakan. Ia juga tidak mau bertanya alasan lebih detailnya, meskipun ia penasaran, sebab kemarin Cleara masih mendatangi gereja ini dan begitu antusias menceritakan persiapannya untuk mengikrarkan kaul. Namun, kini dengan berat hati, ia hanya bisa menghormati keputusan Cleara.
Setelah meninggalkan gereja, Cleara melangkah pulang dengan hati yang hancur. Namun, begitu kakinya melewati pintu rumah, ia justru langsung disambut dengan tamparan keras dari sang ayah. Di sudut ruangan, Aleandra dan ibu tirinya berdiri menyaksikan dengan senyum puas yang tersungging di bibir mereka.
"Ayah... kenapa Ayah memukulku?" tanya Cleara lirih sambil memegangi pipinya yang terasa panas.
"Dari mana saja kau?!" bentak sang ayah murka. "Ayah menyuruhmu untuk menemani adikmu di pesta semalam, tetapi kau malah keluyuran tidak jelas dan baru pulang pagi ini! Dan kata Aleandra, semalam kau sudah mengacaukan pesta ulang tahunnya!” serunya.
Cleara menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Aku tidak mengacaukan pesta Aleandra, Ayah."
"Bohong, Ayah!" Aleandra langsung menimpali dengan nada memanas-manasi. "Dia benar-benar mengacaukan pestaku! Dia bahkan sengaja menyiram Kheland dengan minuman, sampai Kheland basah kuyup! Ayah kan tahu sendiri siapa Kheland. Dia pria yang punya pengaruh besar untuk masa depan keluarga kita!"
Plak!
Tuan Steven menampar wajah Cleara sekali lagi. Kali ini saking kerasnya, tubuh Cleara sampai terjerembap ke lantai.
"Dasar bodoh! Bagaimana mungkin kau berani menyiram Kheland dengan minuman?! Apa kau sengaja ingin menghancurkan keluarga kita?! Adikmu sudah bersusah payah mendapatkan Kheland, tetapi kau malah berusaha merusak semuanya!" bentak Tuan Steven berang.
"Ayah, aku sungguh tidak sengaja menyiram Kheland. Aku—"
"Diam kau! Dasar anak pembawa sial! Tidak tau diri!" potong Tuan Steven, napasnya memburu karena emosi. "Karena menyelamatkanmu, ibumu dan adikmu yang bahkan belum sempat lahir ke dunia harus mati! Sudah untung Ayah masih sudi merawat dan membesarkan anak pembawa sial sepertimu!"
"Sudah, Sayang, sudah!" Nyonya Lidya bergegas menghampiri suaminya, berpura-pura menenangkan. "Sudah, jangan marah-marah lagi, nanti tensimu naik. Ayo, lebih baik kita ke kamar."
Sebelum melangkah pergi, Tuan Steven menunjuk wajah Cleara dengan penuh kebencian. "Hari ini, jangan beri dia makan sama sekali!"
Nyonya Lidya dan Aleandra kemudian menuntun Tuan Steven masuk ke dalam kamar. Aleandra sempat menoleh sekilas, melempar tatapan mengejek ke arah Cleara yang masih tersungkur di lantai dalam tangis yang pecah.
Di atas lantai yang dingin, Cleara meratapi nasibnya. Kenyataan pahit itu kembali menghantam ingatannya. Sepuluh tahun lalu, saat usianya menginjak 10 tahun, ibunya yang sedang hamil tua meninggal akibat kebakaran demi menyelamatkan dirinya yang terjebak di dalam kebakaran rumah. Ibu dan calon adiknya tewas demi dia. Kenangan kelam itulah yang menjadi alasan abadi mengapa sang ayah begitu membenci kehadirannya di dunia ini.
Tak berapa lama, Cleara kembali dari arah toilet. Wajahnya tampak sedikit lebih segar meski binar kelelahan masih menghiasi matanya.“Suster Anne, maafkan aku karena sudah membuatmu menunggu,” ucap Cleara seraya mengambil tempat di samping sang suster.“Tidak apa-apa, Sayang. Kemarilah, dan duduk,” sahut Suster Anne lembut.Cleara kemudian larut dalam perbincangan hangat bersama Suster Anne. Ia menceritakan beberapa hal ringan dengan senyuman kecil yang beberapa kali terukir di bibirnya—sebuah binar kebahagiaan sederhana yang tak pernah ia tunjukkan saat berada di kediaman Davies.Di sisi lain, Kheland hanya membisu. Pria itu diam-diam mengamati setiap gerak-gerik Cleara dengan tatapan dalam yang sangat sulit diartikan. Rupanya, Cleara sangat dekat dengan suster Anne.Bayangan cerita Suster Anne tentang penderitaan Cleara di masa lalu—bagaimana wanita itu dijadikan pelayan tanpa gaji di rumahnya sendiri, diisolasi dari dunia luar oleh ayah kandungnya, dan tertekan hingga menjadikan ge
Setelah prosesi pengucapan ikrar biarawati di depan altar usai, Suster Anne melangkah pelan menghampiri barisan belakang.Mendengar langkah kaki mendekat, Cleara refleks menoleh ke belakang. Betapa terkejutnya ia saat menyadari sosok Kheland berdiri tak jauh di belakangnya. Pria itu menatapnya kaku—tahu betul bahwa baru saja memergokinya menangis.Namun, Cleara tak lagi peduli. Ia tak berniat menjelaskan apa pun atau memohon simpati dari pria itu. Dengan gerakan cepat, Cleara menyeka sisa air mata di pipinya, lalu kembali memalingkan wajah ke depan. Ukiran senyum hangat nan lembut seketika terbit di bibirnya begitu melihat Suster Anne berjalan mendekat ke arahnya.“Cleara, anakku... kau datang kemari, Sayang?” sapa Suster Anne dengan raut wajah teduh dan penuh kasih.“Suster Anne...” sahut Cleara pelan, menyambut uluran tangan sang suster dan mengusapnya penuh hormat, lalu suster Anne memeluknya sejenak, kemudian melepasnya.Suster Anne menatap lekat wajah Cleara, menyadari binar kese
Karena bosan Menemani suaminya yang berkencan dan enggan terus-terusan menyaksikan kemesraan pria itu bersama kekasihnya, Cleara akhirnya memutuskan untuk mengalihkan perhatiannya. Ia memanggil pelayan dan memesan berbagai varian es krim. Tak butuh waktu lama, meja tempat duduknya sudah dipenuhi oleh deretan gelas dan mangkuk es krim berbagai rasa. Dan Cleara melampiaskannya di sana hingga gelas-gelas dan mangkok itu kini kosong di atas meja. Kheland sejak tadi fokus kepada Aleandra, itu sebabnya ia tidak memedulikan apa yang dilakukan oleh Cleara. Selang berapa lama kemudian, Kheland akhirnya mengakhiri pertemuannya dengan Aleandra. Setelah mengantar Aleandra keluar lewat pintu samping agar tidak ketahuan oleh pengawal Ibunya, Kheland melangkah menghampiri meja Cleara. Namun, begitu matanya menangkap pemandangan belasan gelas es krim yang menumpuk di atas meja, langkahnya seketika terhenti. Matanya membelalak lebar, memancarkan rasa terkejut sekaligus kejengkelan yang mendalam.“Apa
Mau tak mau, Kheland terpaksa mengajak Cleara ikut bersamanya. Sebenarnya Cleara sempat menolak ajakan itu—apalagi setelah tahu Kheland mengaku hendak bertemu dengan teman-temannya, Cleara takut jika nantinya akan dijadikan sebagai bahan ejekan di sana. Namun, karena Nyonya Bella bersikeras dan memaksa, Cleara pun terpaksa menurut. Toh, mereka diantar oleh seorang sopir yang sekaligus merupakan pengawal pribadi kepercayaan Nyonya Bella.Setidaknya, jika Kheland mencoba berbuat macam-macam di luar, Cleara merasa punya sosok yang bisa ia mintai perlindungan jika suaminya macam-macam.Di dalam mobil, Kheland dan Cleara duduk di kursi belakang seraya saling membuang muka. Tak ada obrolan sedikit pun di antara mereka. Sebenarnya Kheland sangat ingin mengancam Cleara agar tidak berulah, tetapi ia menahan diri—takut pengawal ibunya yang sedang mengemudi itu mendengar dan melapor pada sang ibu.Selang berapa lama, mobil mewah yang mereka tumpangi itu berhenti di depan sebuah kafe elit.“Kita
Saat terbangun di pagi hari, rasa nyeri menjalar hebat di sekitar pinggang Cleara. Bagaimana tidak sakit? Semalaman ia terpaksa tidur meringkuk dengan posisi tak nyaman di atas sofa sempit itu, demi menghindari perdebatan melelahkan dengan Kheland.Kheland yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk tersangkut di lehernya memergoki Cleara yang tengah meringis memegangi pinggang. Seringai puas seketika terukir di wajah pria itu.“Bagaimana rasanya tidur di sofa, hm?” sindir Kheland dengan nada mengejek. “Rasakan sendiri apa yang harus kurasakan selama berhari-hari kemarin!”Cleara sama sekali tak berniat meladeninya. Ia sengaja membuang pandangan, lalu memaksakan tubuhnya bangkit berdiri dan melangkah ke kamar mandi untuk bersiap menyambut pagi.Beberapa saat kemudian di meja makan, seluruh anggota keluarga berkumpul untuk menyantap sarapan. Sepanjang acara makan berlangsung, Cleara tak bisa menyembunyikan rasa tidak nyamannya. Beberapa kali jemarinya bergerak memijat dan meme
Dengan sisa kekuatan yang ada, Cleara mendorong sekuat tenaga dada bidang Kheland hingga tubuh pria itu terdorong mundur beberapa langkah dari pinggir ranjang.“Menjauh dariku!” seru Cleara dengan napas memburu dan mata yang menyalang tajam.Bukannya marah, Kheland justru menyunggingkan seringai dingin yang melecehkan. Pria itu menyapu dadanya yang baru saja didorong, menatap Cleara dengan sorot mata penuh kebencian.“Kau tenang saja,” ucap Kheland sinis. “Aku juga tidak sudi menyentuhmu. Jika bukan karena malam itu aku berada di bawah pengaruh alkohol... aku sama sekali tidak akan sudi menyentuh wanita seperti dirimu, dasar, culun!”Tanpa membuang waktu lagi, Kheland memutar tubuhnya, menyambar kaus santai dari dalam lemari, lalu melangkah lebar keluar dari kamar seraya membanting pintu rapat-rapat.Meninggalkan Cleara yang terduduk di atas ranjang, mencengkeram sprei erat-erat demi meredakan gemuruh amarah dan rasa hina yang kembali menggores hatinya.Tak lama kemudian, seluruh angg







