ANMELDENBEBERAPA JAM SEBELUM KEJADIAN
"Hei, culun ... ambilkan kami wine," ucap salah seorang wanita yang kini menatap Cleara dengan rendah.
"Aku bukan pelayan kalian. Ayahku menyewa seluruh hotel ini beserta pelayannya. Kau punya mulut untuk memanggil mereka, bukan?!" balas Cleara sengit. Ia sudah bukan lagi Cleara yang saat sekolah dulu dengan mudah ditindas.
"Berani sekali kau berkata seperti itu kepada kami? Kata Aleandra, kami bisa menyuruhmu melakukan apa saja!"
Cleara hendak membalas, tetapi Aleandra yang mendengar keributan itu langsung menghampiri mereka.
"Ada apa ini?" tanya Aleandra.
"Kakakmu yang culun ini tidak mau dimintai tolong untuk mengambilkan wine, Alea. Dia malah membentak kami," adu wanita itu.
Aleandra langsung menatap Cleara tajam. "Apa itu benar, Cleara?"
"Ya, itu benar. Aku bukan pelayan di sini. Jadi suruh teman-temanmu berhenti menyuruhku!" seru Cleara kesal. Ia hendak melangkah pergi, tetapi Aleandra menahan lengannya.
"Turuti permintaan Bethany, atau kau akan tahu akibatnya!" ancam Aleandra setengah berbisik.
"Aleandra ...."
"Kau tahu, kan, Ayah sangat membencimu? Aku bisa membuat Ayah semakin membencimu dan mengusirmu dari rumah!"
Bibir Cleara langsung mengatup rapat. Tinggal menghitung hari, ia akan meninggalkan keluarganya untuk mengikrarkan kaul kekal dan mengabdi sebagai pelayan Tuhan. Ia tidak akan perlu menghadapi Aleandra yang selalu bersikap semena-mena kepadanya.
"Cepat ambilkan wine untuk Bethany dan yang lainnya!" perintah Aleandra.
Cleara menatap tajam adiknya dengan rahang mengeras dan tangan mengepal. Meski dongkol, ia terpaksa berbalik dan pergi dari sana untuk mengambilkan minuman yang mereka minta.
Cleara terpaksa datang ke pesta ulang tahun adik tirinya, Aleandra, yang digelar di sebuah hotel mewah. Sebenarnya ia enggan hadir karena Aleandra mengundang teman-teman sekolah mereka—orang-orang yang dulu sering merundung Cleara. Namun, karena paksaan sang ayah, ia tidak punya pilihan lain.
Hubungan Cleara dengan keluarganya memang rumit. Ayah kandungnya dulu berselingkuh hingga memiliki anak yang satu tahun lebih muda darinya, yaitu Aleandra. Saat Cleara berusia sepuluh tahun, ibu kandungnya meninggal dalam sebuah insiden kebakaran. Tidak lama setelah itu, sang ayah menikahi ibu kandung Aleandra dan mengajak mereka tinggal bersama.
Sejak saat itu, sikap sang ayah kepadanya berubah. Ayahnya lebih menyayangi Aleandra ketimbang dirinya. Ia selalu dimarahi, dibentak, bahkan diperlakukan tidak adil di dalam rumah. Itu semua terjadi karena hasutan dari Ibu tirinya.
Dan sejak dulu, Ayahnya selalu memasukkan Cleara dan Aleandra ke sekolah yang sama, bahkan mereka selalu berada di satu kelas yang sama juga. Sayangnya, nasib keduanya bak langit dan bumi. Semua orang selalu memuji kecantikan Aleandra, terlebih lagi dia sangat seksi dan feminim, berbeda dengan Cleara yang berpenampilan sederhana, kuno, dan berkacamata, karena hal itu ia selalu menjadi sasaran perundungan teman-temannya, dan Aleandra selalu tertawa puas melihat dirinya dirundung.
Cleara kembali dan meletakkan botol wine itu dengan kasar di hadapan teman-teman Aleandra, sambil menatap mereka di balik kacamatnya satu persatu dengan tatapan tajam, lalu berbalik untuk pergi.
“Kau mau ke mana, Culun? Duduklah bersama kami. Aku memiliki sebuah permen besar,” ucapnya.
Namun, Cleara tak menghiraukannya.
"Hei, culun, kau ini sombong sekali?" seru pria lain. Cleara tidak peduli dan tetap melangkah. Rasanya ia ingin segera lenyap dari sana.
"Hei, culun, kenapa bokongmu semakin seksi? Apa kekasihmu sering memainkannya?" tanya pria pertama yang langsung disambut tawa yang lain.
"Memangnya dia memiliki kekasih? Siapa yang mau dengan wanita culun seperti dia?"
Mendengar ucapan itu, Langkah Cleara mendadak terhenti. Ucapan mereka jelas sudah melecehkannya. Kebetulan, seorang pelayan melintas di hadapannya membawa nampan. Tanpa pikir panjang, Cleara mengambil dua gelas wine dari nampan tersebut, lalu ia berbalik cepat ke arah mereka semua, dan menyiramkannya ke arah pria yang menghinanya tadi. Namun, seorang pria tiba-tiba melintas di hadapannya, dan cairan wine yang ia siramkan justru mengenai wajah pria itu.
Pria itu terkejut hingga terbatuk-batuk karena wine yang mendadak mengguyur wajah dan pakaiannya.
Dia adalah Kheland. Seorang pria tampan dari keluarga miliarder, yang memiliki kekayaan yang tak terhitung. Dia seorang pewaris tunggal yang diagung-agungkan oleh banyak wanita di luar sana, tapi Cleara tidak termasuk. Karena Khelland juga merupakan salah satu orang yang dulu sering merundung Cleara. Dan beberapa hari terakhir, Cleara mengetahui bahwa ternyata Kheland dan Aleandra menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih.
Kelland menyeka wajahnya, lalu menatap Cleara dengan mata menggelap dan rahang mengeras. "Apa kau tidak punya mata? Berani sekali kau menyiramku?!" bentaknya dengan suara menggelegar.
"Ma-maaf. A-aku tidak sengaja," ucap Cleara. Ia refleks mengambil serbet dari meja terdekat dan hendak membersihkan tumpahan wine tersebut.
"Jangan menyentuhku!" Kheland dengan kasar menepis tangan Cleara dan menarik tubuhnya menjauh, seolah wanita di hadapannya adalah sesuatu yang menjijikkan.
"Ada apa ini?!" Aleandra yang melihat keributan dari kejauhan, datang menghampiri. Ia terkesiap melihat penampilan kekasihnya yang basah. "Kheland, kenapa bajumu bisa basah dan kotor seperti ini?"
"Saudaramu yang gila ini sengaja menyiramku!" Kheland sengaja mengadu.
Aleandra langsung menatap bengis ke arah Cleara. "Berani sekali kau menyiram kekasihku?!”
Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Cleara hingga membuat kacamatanya terlempar ke lantai.
Semua orang terkesiap melihat Aleandra menampar Cleara. Namun bukannya kasihan, mereka justru malah menertawakan Cleara yang malang.
"Kenapa kau menamparku, Alea?!" tuntut Cleara sambil memegangi pipinya yang panas.
"Kau masih tanya kenapa?!" Aleandra melayangkan tangan, bersiap menampar Cleara sekali lagi. Namun, pergelangan tangannya mendadak ditahan oleh Kheland.
"Aleandra, sudah. Biarkan saja, jangan membuang tenagamu untuk orang seperti dia," sela Kheland dingin.
Cleara menahan napas. Berusaha menepis rasa kesal yang membuncah. Dengan pandangan kabur, ia terpaksa berjongkok dan meraba-raba lantai untuk mencari kacamatanya. Sialnya, teman-teman Aleandra justru sengaja menendang kacamata itu ke sana kemari seperti bola dan mempermainkannya.
"Kemarikan kacamataku!" seru Cleara frustrasi.
Tawa ejekan kembali pecah di ruangan itu.
Pandangan Cleara buram. Ia tidak tahu siapa yang merebut kacamatanya, bahkan tidak bisa melihat dengan jelas wajah-wajah yang sedang menertawakannya.
"Cleara, ini kacamatamu. Ayo, kemari," panggil seorang pria memprovokasi.
Cleara melangkah pincang mengikuti arah suara. Namun, saat ia mendekat, pria itu justru bersiap melempar kacamata tersebut ke arah lain. Beruntung, sebuah tangan kekar tiba-tiba menepis dan merebut kacamata itu dari udara.
Tawa di ruangan itu seketika terhenti. Semua mata yang tadinya puas menyaksikan penderitaan Cleara kini menoleh terkejut ke arah pria yang baru saja datang dan mengacaukan kesenangan mereka semua.
Pria itu ialah Ethan.
"Berikan," seru Ethan dengan dingin dan memerintah.
“Ethan, ayolah. Kita sedang bersenang-senang setelah sekian lama,” ucap pria yang memegang kacamata Cleara.
“Kembalikan, dan jangan bertingkah seperti anak kecil!” Ethan mengambil kacamata tersebut secara paksa, lalu ia menyerahkannya kepada Cleara.
Cleara bergegas menerimanya dan memakai benda itu kembali. Meskipun salah satu sisinya ternyata sudah retak, pandangannya kini mulai jelas dan langsung terisi oleh wajah Ethan yang berdiri tak jauh darinya. Pria itu dulu dikenal sebagai murid paling malas di sekolah. Namun, dari sekian banyak teman sekolah yang Cleara kenal, hanya Ethan yang paling waras di antara mereka, karena pria itu sejak dulu tidak pernah sekali pun merundungnya.
"Terima kasih," ucap Cleara tulus.
Namun, Ethan hanya diam dengan tatapan datar. Ia langsung berbalik dan berlalu pergi meninggalkan Cleara tanpa sepatah kata pun.
Aleandra beserta kedua teman pria yang tadi hendak disiram oleh Cleara merasa kesal akan sikap Cleara. Itu sebabnya, Aleandra merencanakan sesuatu yang buruk kepada Cleara, yaitu dengan menyuruh kedua pria itu menggilir Cleara secara bergantian.
Tentu saja kedua pria itu setuju. Ia ingin memberikan pelajaran kepada Cleara.
Aleandra pun melancarkan aksinya dengan mencampurkan sesuatu ke dalam minuman Cleara dan memaksanya untuk minum.
Tak lama kemudian, obat itu langsung bereaksi dan membuat Cleara mendadak merasa tidak enak badan. Melihat hal itu, Aleandra berpura-pura baik dengan memberikan sebuah kunci kamar hotel agar sang kakak bisa beristirahat. Cleara yang tidak curiga pun segera meninggalkan acara.
Sesuai rencana, Aleandra menyuruh kedua teman prianya untuk melancarkan aksi mereka di kamar tersebut setelah pesta usai. Namun, Aleandra ternyata salah memberikan kunci. Kamar yang ditempati Cleara justru kamar yang sudah dipesan oleh Kheland untuk menghabiskan malam bersamanya.
Menjelang tengah malam, Aleandra dan Kelland sudah mabuk berat bersama teman-teman mereka.
"Kheland sayang, kau tunggu aku di kamar, ya. Nanti aku akan menyusulmu," ucap Aleandra dengan tubuh sempoyongan.
"Ya, Sayang. Aku akan menunggumu." Kheland yang juga mabuk berat mencium bibir Aleandra, lalu berjalan terhuyung-huyung meninggalkan ballroom menuju kamar yang telah ia pesan. Ia tidak sabar menghabiskan malam bersama Aleandra setelah beberapa bulan mereka berpacaran.
Saat Kheland masuk ke dalam kamar yang remang, ia melihat seorang wanita sudah berbaring di atas ranjang. Karena pengaruh alkohol yang kuat, ia mengira Aleandra sengaja masuk lebih dulu untuk memberikan kejutan kepadanya. Tanpa sadar bahwa wanita itu adalah Cleara, Kheland langsung mendekat, dan terjadilah pergumulan di antara mereka semalam suntuk.
"Tidak mungkin!" teriak Aleandra tidak terima, suaranya melengking tinggi penuh penolakan. Wajahnya memerah murka dan tidak percaya mendengar ucapan Tuan Davies, bahwa saudara perempuannya mengandung anak Kheland. Kekasihnya sendiri.Tuan Steven yang mulai diserang kepanikan pun langsung melangkah mendekat, mencoba menengahi dengan senyum kaku yang dipaksakan."Tuan Davies, sepertinya ada kesalahpahaman di sini,” potong Tuan Steven cepat, suaranya sedikit bergetar. "Cleara sama sekali tidak memiliki hubungan apa pun dengan Kheland. Mereka bahkan tidak saling mengenal dengan baik! Jadi, mana mungkin dia mengandung anak Kheland?""Iya, Kakek! Mana mungkin Cleara mengandung anak Kheland?!" sahut Aleandra berapi-api, menatap Mr. Davies dengan napas memburu. "Aku adalah calon menantu sah keluarga Davies! Aku kekasih Kheland! Bukan saudaraku yang culun sialan ini!""Tapi pada kenyataannya, Cleara memang sedang mengandung anak Kheland," balas Mr. Davies Senior. Suaranya tidak tinggi, namun s
Saat itu juga, ruang kerja Kheland berubah menjadi ruang sidang yang mencekam. Kheland didudukkan di bawah tatapan mengintimidasi dari Kakek serta kedua orang tuanya yang langsung menuntut penjelasan. Kheland semakin bingung karena masalahnya akan menjadi runyam jika keluarganya tahu dan ikut turun tangan."Apa benar yang didengar oleh Kakekmu tadi, Kheland? Kau menghamili Cleara, kakak Aleandra?!" tanya Tuan Louis dengan suara bergetar, menatap putranya antara tidak percaya dan murka."Itu tidak benar, Ayah," bantah Kheland cepat, mencoba memasang wajah setenang mungkin walau keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. "Kakek pasti salah dengar,” ucapnya. Ia tidak menduga kakeknya tadi langsung berteriak begitu heboh memanggil kedua orangtuanya untuk memberitahu apa yang mereka dengar."Kau pikir kakekmu ini sudah tuli, hah?!" seru Mr. Davies tidak terima. Pria tua itu memukul tongkatnya ke lantai dengan keras karena kesal dengan cucu semata wayangnya. "Meskipun Kakek sudah tua, teta
Kembali ke kediaman Tuan Steven.Cleara tak berhenti menangis di dalam kamarnya yang terkunci selama seharian ini. Tubuhnya terasa remuk dan sakit semua akibat dipukuli oleh ayah kandung serta dihajar habis-habisan oleh ibu tirinya. Sejak pagi ia bahkan tidak diberi makan. Di lengan, tangan, dan wajahnya terdapat luka cakar yang terasa perih dan mulai membiru. Ia benar-benar bingung harus berbuat apa sekarang. Kehamilan ini benar-benar menghancurkan seluruh dunianya.Cklek.Suara kunci pintu yang diputar mengejutkan Cleara. Tubuhnya refleks menyusut ke sudut ranjang. Ia gemetar ketakutan saat melihat Tuan Steven tiba-tiba kembali melangkah masuk ke dalam kamar dengan tatapan mata yang masih murka."Gugurkan anak itu!" bentak Tuan Steven tanpa belas kasihan sedikit pun, langsung mengintimidasi putri tirinya yang sudah tak berdaya.Cleara terkejut mendengar ucapan Ayahnya. "Tidak, Ayah... Aku tidak mau berdosa," ucap Cleara di sela tangisnya sembari mendekap erat perutnya yang masih ra
"S-si culun itu... hamil?!" ulang Kheland, mencoba memastikan pendengarannya baru saja tidak salah. "Ya, dia hamil! Kau pasti sangat terkejut, apalagi aku,” ucap Aleandra. “Itu sebabnya kenapa kemarin saat keluarga kita makan malam, dia tiba-tiba mual dan muntah saat di meja makan. Ternyata itu semua karena efek dari kehamilannya!" cerocos Aleandra berapi-api.Kheland benar-benar syok. Apa mungkin Cleara hamil karena perbuatanku? batinnya bertanya-tanya dengan panik. Namun, egonya langsung menolak keras. Tapi mana mungkin? Aku hanya melakukannya satu kali malam itu! Sementara dulu, aku pernah meniduri beberapa mantan kekasihku berulang kali, tetapi tidak ada satu pun dari mereka yang berujung hamil. Jadi, mana mungkin sekali coba langsung menghamili si culun itu?Benak Kheland terus membantah dan mencari pembenaran. Gadis culun itu pasti bermain gila dengan pria lain di luar sana, pikirnya, mendadak merasa sangat yakin."Pantas saja dia mendadak membatalkan niatnya menjadi biarawati!
"Oh, pantas saja!" Aleandra menimpali dari ambang pintu dengan senyum sinis yang semakin memperkeruh suasana. "Pantas saja kau mendadak membatalkan niatmu untuk menjadi biarawati! Padahal dulu kau sampai memohon-mohon, merengek, dan mengemis kepada Ayah agar diizinkan menjadi biarawati. Ternyata... kau sengaja mengubur keinginanmu itu karena kau tengah hamil! Dasar pelacur sok suci!”Tuan Steven menarik rambut Cleara yang hanya diam. “Ayah membesarkanmu untuk tidak menjadi seorang pelacur, Cleara! Katakan anak siapa itu! Anak siapa yang sedang kau kandung?!”Cleara tidak mungkin memberitahukan kepada ayahnya bahwa pria yang menghamilinya adalah Kheland, kekasih Aleandra. Jika rahasia itu terbongkar sekarang, hidupnya pasti akan benar-benar dihancurkan oleh keluarganya sendiri.Cleara menggelengkan kepalanya kuat-kuat. "Tidak, Ayah... Aku sungguh tidak tahu," ucapnya di sela tangis yang kian terisak-isak.Nyonya Lidya langsung mengambil alih situasi. Ia melangkah maju dan tanpa aba-ab
Dan benar saja, begitu pintu rumah tertutup rapat setelah keluarga Kheland pulang, amarah Tuan Steven langsung meledak. Cleara diseret ke kamar, dimaki-maki, dan dipukul dengan kejam oleh ayahnya hingga gadis itu menangis histeris sembari tersungkur di atas lantai yang dingin."Kau benar-benar tidak tahu diri! Bisa-bisanya kau mempermalukan kami semua di depan tamu terhormat?!" bentak Tuan Steven dengan napas memburu.Nyonya Lidya melangkah maju, melipat kedua tangannya di dada sambil menatap sinis. "Kenapa kau tadi tiba-tiba bersikap mual seperti itu? Apa kau sengaja ingin menjatuhkan harga diri keluarga ini di depan keluarga Davies?!”"Tidak, Bu. Aku bersumpah sungguh tidak berniat seperti itu. Aku benar-benar sedang tidak enak badan!" bela Cleara di sela tangisnya, memegangi lengannya yang terasa sakit."Alasan!" timpal Aleandra berapi-api. "Aku tahu isi kepalamu, Cleara! Kau pasti iri setengah mati karena aku memiliki kekasih tampan dan kaya raya seperti Kheland, kan? Sementara s







