LOGINSudah satu bulan berlalu sejak Cleara memutuskan untuk mengurungkan niatnya mengikrarkan kaul sebagai biarawati—sebuah keputusan berat yang terpaksa ia ambil setelah insiden saat kesuciannya direnggut oleh Kheland.
Kini, Cleara memilih fokus menulis novel di kamar. Tuan Steven melarangnya bekerja di luar rumah karena malu jika anak sulungnya hanya menjadi pekerja kasar, mengingat Cleara tidak sempat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi karena Ayahnya pilih kasih.
Yang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi hanyalah Aleandra. Dia menjadi lulusan perguruan tinggi bergengsi yang kini memegang posisi penting di perusahaan sang ayah, dan digadang-gadang akan menjadi pewaris tunggal seluruh kekayaan keluarga. Sementara Cleara? Jangan ditanya. Masih diakui sebagai anak oleh ayahnya saja, sudah cukup baginya.
Sebenarnya, Cleara bisa saja bekerja sebagai pelayan restoran atau pramuniaga. Namun, alih-alih mengizinkan, ayahnya justru mengurungnya di rumah demi menjaga gengsi. Padahal, sejak dulu Cleara bercita-cita menjadi biarawati agar bisa pergi sejauh mungkin dari rumah yang layaknya bagai neraka ini. Namun ternyata, takdir berkata lain.
Sore itu, Cleara sebenarnya sedang tidak enak badan. Namun, ia tetap dipaksa oleh ayah dan ibu tirinya untuk membantu para asisten rumah tangga serta koki menyiapkan makan malam. Hari ini adalah hari penting, sebab keluarga Kheland diundang secara khusus oleh Tuan Steven untuk makan malam bersama di rumah mereka.
"Ibu, semua hidangannya sudah selesai disiapkan," ujar Cleara menghampiri Nyonya Lidya yang sedang bersantai di ruang tengah. "Apa aku boleh kembali ke kamarku sekarang, Bu?"
Nyonya Lidya meliriknya dengan tatapan merendahkan. "Ya, pergilah. Ingat, jangan sekali-sekali kau menampakkan batang hidungmu atau keluar kamar untuk membuat kekacauan saat keluarga Kheland datang nanti!"
"Iya, Bu. Lagi pula, aku juga tidak berminat untuk keluar dari kamarku!" sahut Cleara datar, lalu segera melangkah pergi menuju kamarnya.
Jamuan makan malam yang dinantikan pun tiba. Kheland datang bersama kedua orang tua serta kakeknyaKheland dan Aleandra duduk berdampingan, saling melempar tatapan penuh kekaguman dan pujian.
Suasana di meja makan terasa begitu hangat dan akrab.
"Sebuah kehormatan bagi kami bisa menjamu keluarga Anda malam ini, Tuan Louis Davies," ucap Tuan Steven dengan nada sangat menghormati.
"Terima kasih juga atas undangannya, Tuan Steven. Bukan hanya kita yang berhasil menjalin kerja sama bisnis dengan baik, tapi anak-anak kita pun sekarang sedang menjalin hubungan yang serius," sahut Tuan Louis seraya tersenyum ramah.
Tuan Steven tertawa bahagia mendengarnya. "Benar sekali, Tuan Louis. Saya sangat berharap ke depannya kita bisa resmi menjadi satu keluarga."
Di sela-sela obrolan, Nyonya Bella—ibu dari Kheland—tersenyum anggun lalu menatap tuan rumah. "Nyonya Lidya, Tuan Steven, kalau tidak salah kami dengar Anda berdua memiliki dua putri? Di mana putri Anda yang satunya lagi?" tanya wanita itu dengan lembut.
Pertanyaan itu seketika membuat senyum Tuan Steven dan Nyonya Lidya agak membeku.
"Oh, maksud Anda Cleara? Dia... dia sedang ada di dalam kamarnya," jawab Tuan Steven berusaha tetap tenang.
"Kenapa dia tidak ikut bergabung makan malam bersama kita di sini?" tanya Nyonya Bella lagi, merasa heran.
"Dia tadi mengeluh sedang kurang sehat badan, Nyonya Bella. Namun, jika Anda tidak keberatan, saya akan meminta istri saya untuk memanggilnya turun," ucap Tuan Steven.
Karena merasa tidak enak dan sungkan menolak rasa penasaran dari keluarga besar Kheland, Tuan Steven terpaksa menyenggol lengan istrinya, memberi isyarat agar Nyonya Lidya segera beranjak untuk memanggil Cleara.
Nyonya Lidya dengan enggan melangkah menuju kamar Cleara. Saat pintu dibuka, ia mendapati anak tirinya itu sedang sibuk menulis di depan laptop dengan rambut disanggul asal-asalan, kacamata bertengger di hidung, serta piyama yang sudah lusuh.
"Ada apa, Bu?" tanya Cleara mendongak.
"Keluar sekarang, ayahmu memanggilmu. Kau harus menyambut keluarga Davies," perintah Nyonya Lidya ketus.
Cleara mengernyit bingung. "Bukannya tadi Ibu yang menyuruhku untuk tidak menampakkan diri sama sekali?"
"Tidak usah banyak protes! Ibu bilang cepat keluar!"
"Baiklah, aku akan merapikan rambut dan ganti pakaian sebentar—"
"Sudah, tidak usah!" potong Nyonya Lidya dengan tidak sabaran.
"Tapi, Bu–"
Tanpa memedulikan bantahan Cleara, Nyonya Lidya langsung menarik paksa pergelangan tangan gadis itu dan menyeretnya keluar menuju ruang makan.
Begitu mereka tiba di meja makan, suasana seketika hening. Semua orang di sana terkejut melihat penampilan Cleara yang acak-acakan. Tuan Steven mati-matian menahan murka yang siap meledak melihat anak sulungnya mempermalukannya dengan penampilannya di depan calon besannya.
Sementara itu, Kheland menatap Cleara dari atas sampai bawah dengan pandangan yang semakin muak. Ia benar-benar merasa illfeel melihat penampilan gadis culun itu yang begitu berantakan. Sangat berbeda dengan Aleandra yang tampil anggun malam ini.
"Kenapa penampilanmu seperti itu?!" Tuan Steven berbicara dengan nada rendah, sekuat tenaga menahan emosi di depan keluarga Davies.
"Ma-maaf, Ayah. Tadi—"
"Dia buru-buru kemari karena tidak ingin membuat kita menunggu lama," timpal Nyonya Lidya, bermuka dua. "Ayo, sapa tamu kita."
Cleara kemudian menyapa orang tua dan kakek Kheland dengan canggung. Berbeda dengan ketegangan di keluarganya, keluarga Davies justru langsung menyapa balik sambil tersenyum ramah.
"Maafkan putri saya kalau penampilannya berantakan, Tuan Louis, Nyonya Bella," ucap Tuan Steven merasa sungkan.
"Tidak apa-apa, Tuan Steven. Jangan terlalu dipikirkan," sahut Tuan Louis memaklumi.
"Cleara, ayo duduklah. Kita makan malam bersama," tutur Nyonya Bella dengan lembut.
Cleara sempat termangu bingung. Ia tahu diri dan tidak berani lancang untuk langsung duduk sebelum diperintahkan oleh orang tuanya. Setelah melirik sang ayah dan mendapati Tuan Steven memberikan kode anggukan samar, barulah Cleara berani mengambil tempat duduk.
Tuan Steven dan Nyonya Lidya segera mempersilakan para tamu untuk menyantap hidangan. Sementara yang lain mulai makan, Cleara hanya menatap piringnya dengan perut yang mendadak terasa mual. Ia benar-benar tidak berselera makan selama beberapa hari ini.
Di sela-sela suapannya, Nyonya Bella terus-menerus menatap lekat ke arah Cleara. Menyadari dirinya sedang diperhatikan, Cleara hanya bisa melempar senyum canggung kepada wanita itu.
"Cleara, apa sebelumnya kita pernah bertemu?" tanya wanita itu tiba-tiba. "Kenapa wajahmu terasa benar-benar tidak asing bagi saya?"
Aleandra yang mendengar ibu kekasihnya itu menaruh perhatian pada Cleara langsung menimpali dengan nada tidak suka, "Mana mungkin Bibi pernah bertemu dengan Cleara? Dia itu dari dulu tidak suka keluar rumah. Pekerjaannya kalau tidak mendekam di kamar, ya hanya pergi ke gereja."
"Iya, Nyonya. Mungkin Nyonya salah orang," ucap Cleara membenarkan dengan sopan.
"Oh, ya? Mungkin saja," sahut Nyonya Bella. Meski mengangguk, rasa penasaran masih menggelitik benaknya karena ia merasa ingatan visualnya jarang meleset.
Mereka pun melanjutkan makan malam. Namun, Cleara yang sejak tadi hanya mengaduk-aduk makanannya mulai memicu kekesalan sang ayah.
"Apa yang kau lakukan?!" bisik Tuan Steven tajam dari sela giginya yang merapat. "Cepat habiskan makananmu!"
"Aku sedang tidak lapar, Ayah," balas Cleara lirih.
"Makan!" bentak ayahnya lagi, tertahan sambil melototkan matanya.
Dengan sangat terpaksa, Cleara menyuapkan makanan itu ke dalam mulutnya. Namun baru beberapa kunyahan, Cleara buru-buru menutup mulutnya tatkala rasa mual yang hebat mendadak bergejolak di perutnya hingga menyita perhatian semua orang di meja makan.
Mata Tuan Steven langsung melotot murka. Baginya, menunjukkan gelagat mual di meja makan di hadapan tamu kehormatan adalah tindakan yang sangat tidak sopan dan memalukan.
"Apa yang kau lakukan?!" bentak Tuan Steven.
"Cleara, apa kau baik-baik saja?" tanya Nyonya Bella cemas.
Cleara tidak mampu lagi menjawab. Seluruh makanan di perutnya serasa sudah mendesak naik ke tenggorokan.
"Ma-maafkan aku. Aku permisi ke belakang."
Tanpa menunggu izin, Cleara buru-buru bangkit dan berlari meninggalkan ruang makan demi menahan makanannya yang ingin segera ia muntahkan.
Di meja makan, rahang Tuan Steven mengeras seakan hendak meremukkan sedert giginya. Napasnya memburu menahan puncak kemurkaan akibat kelakuan Cleara. Rasanya, ia sudah tidak sabar untuk menyeret dan menghajar putri sulungnya itu karena telah benar-benar mempermalukannya malam ini di hadapan keluarga besar Kheland.
Tak berapa lama, Cleara kembali dari arah toilet. Wajahnya tampak sedikit lebih segar meski binar kelelahan masih menghiasi matanya.“Suster Anne, maafkan aku karena sudah membuatmu menunggu,” ucap Cleara seraya mengambil tempat di samping sang suster.“Tidak apa-apa, Sayang. Kemarilah, dan duduk,” sahut Suster Anne lembut.Cleara kemudian larut dalam perbincangan hangat bersama Suster Anne. Ia menceritakan beberapa hal ringan dengan senyuman kecil yang beberapa kali terukir di bibirnya—sebuah binar kebahagiaan sederhana yang tak pernah ia tunjukkan saat berada di kediaman Davies.Di sisi lain, Kheland hanya membisu. Pria itu diam-diam mengamati setiap gerak-gerik Cleara dengan tatapan dalam yang sangat sulit diartikan. Rupanya, Cleara sangat dekat dengan suster Anne.Bayangan cerita Suster Anne tentang penderitaan Cleara di masa lalu—bagaimana wanita itu dijadikan pelayan tanpa gaji di rumahnya sendiri, diisolasi dari dunia luar oleh ayah kandungnya, dan tertekan hingga menjadikan ge
Setelah prosesi pengucapan ikrar biarawati di depan altar usai, Suster Anne melangkah pelan menghampiri barisan belakang.Mendengar langkah kaki mendekat, Cleara refleks menoleh ke belakang. Betapa terkejutnya ia saat menyadari sosok Kheland berdiri tak jauh di belakangnya. Pria itu menatapnya kaku—tahu betul bahwa baru saja memergokinya menangis.Namun, Cleara tak lagi peduli. Ia tak berniat menjelaskan apa pun atau memohon simpati dari pria itu. Dengan gerakan cepat, Cleara menyeka sisa air mata di pipinya, lalu kembali memalingkan wajah ke depan. Ukiran senyum hangat nan lembut seketika terbit di bibirnya begitu melihat Suster Anne berjalan mendekat ke arahnya.“Cleara, anakku... kau datang kemari, Sayang?” sapa Suster Anne dengan raut wajah teduh dan penuh kasih.“Suster Anne...” sahut Cleara pelan, menyambut uluran tangan sang suster dan mengusapnya penuh hormat, lalu suster Anne memeluknya sejenak, kemudian melepasnya.Suster Anne menatap lekat wajah Cleara, menyadari binar kese
Karena bosan Menemani suaminya yang berkencan dan enggan terus-terusan menyaksikan kemesraan pria itu bersama kekasihnya, Cleara akhirnya memutuskan untuk mengalihkan perhatiannya. Ia memanggil pelayan dan memesan berbagai varian es krim. Tak butuh waktu lama, meja tempat duduknya sudah dipenuhi oleh deretan gelas dan mangkuk es krim berbagai rasa. Dan Cleara melampiaskannya di sana hingga gelas-gelas dan mangkok itu kini kosong di atas meja. Kheland sejak tadi fokus kepada Aleandra, itu sebabnya ia tidak memedulikan apa yang dilakukan oleh Cleara. Selang berapa lama kemudian, Kheland akhirnya mengakhiri pertemuannya dengan Aleandra. Setelah mengantar Aleandra keluar lewat pintu samping agar tidak ketahuan oleh pengawal Ibunya, Kheland melangkah menghampiri meja Cleara. Namun, begitu matanya menangkap pemandangan belasan gelas es krim yang menumpuk di atas meja, langkahnya seketika terhenti. Matanya membelalak lebar, memancarkan rasa terkejut sekaligus kejengkelan yang mendalam.“Apa
Mau tak mau, Kheland terpaksa mengajak Cleara ikut bersamanya. Sebenarnya Cleara sempat menolak ajakan itu—apalagi setelah tahu Kheland mengaku hendak bertemu dengan teman-temannya, Cleara takut jika nantinya akan dijadikan sebagai bahan ejekan di sana. Namun, karena Nyonya Bella bersikeras dan memaksa, Cleara pun terpaksa menurut. Toh, mereka diantar oleh seorang sopir yang sekaligus merupakan pengawal pribadi kepercayaan Nyonya Bella.Setidaknya, jika Kheland mencoba berbuat macam-macam di luar, Cleara merasa punya sosok yang bisa ia mintai perlindungan jika suaminya macam-macam.Di dalam mobil, Kheland dan Cleara duduk di kursi belakang seraya saling membuang muka. Tak ada obrolan sedikit pun di antara mereka. Sebenarnya Kheland sangat ingin mengancam Cleara agar tidak berulah, tetapi ia menahan diri—takut pengawal ibunya yang sedang mengemudi itu mendengar dan melapor pada sang ibu.Selang berapa lama, mobil mewah yang mereka tumpangi itu berhenti di depan sebuah kafe elit.“Kita
Saat terbangun di pagi hari, rasa nyeri menjalar hebat di sekitar pinggang Cleara. Bagaimana tidak sakit? Semalaman ia terpaksa tidur meringkuk dengan posisi tak nyaman di atas sofa sempit itu, demi menghindari perdebatan melelahkan dengan Kheland.Kheland yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk tersangkut di lehernya memergoki Cleara yang tengah meringis memegangi pinggang. Seringai puas seketika terukir di wajah pria itu.“Bagaimana rasanya tidur di sofa, hm?” sindir Kheland dengan nada mengejek. “Rasakan sendiri apa yang harus kurasakan selama berhari-hari kemarin!”Cleara sama sekali tak berniat meladeninya. Ia sengaja membuang pandangan, lalu memaksakan tubuhnya bangkit berdiri dan melangkah ke kamar mandi untuk bersiap menyambut pagi.Beberapa saat kemudian di meja makan, seluruh anggota keluarga berkumpul untuk menyantap sarapan. Sepanjang acara makan berlangsung, Cleara tak bisa menyembunyikan rasa tidak nyamannya. Beberapa kali jemarinya bergerak memijat dan meme
Dengan sisa kekuatan yang ada, Cleara mendorong sekuat tenaga dada bidang Kheland hingga tubuh pria itu terdorong mundur beberapa langkah dari pinggir ranjang.“Menjauh dariku!” seru Cleara dengan napas memburu dan mata yang menyalang tajam.Bukannya marah, Kheland justru menyunggingkan seringai dingin yang melecehkan. Pria itu menyapu dadanya yang baru saja didorong, menatap Cleara dengan sorot mata penuh kebencian.“Kau tenang saja,” ucap Kheland sinis. “Aku juga tidak sudi menyentuhmu. Jika bukan karena malam itu aku berada di bawah pengaruh alkohol... aku sama sekali tidak akan sudi menyentuh wanita seperti dirimu, dasar, culun!”Tanpa membuang waktu lagi, Kheland memutar tubuhnya, menyambar kaus santai dari dalam lemari, lalu melangkah lebar keluar dari kamar seraya membanting pintu rapat-rapat.Meninggalkan Cleara yang terduduk di atas ranjang, mencengkeram sprei erat-erat demi meredakan gemuruh amarah dan rasa hina yang kembali menggores hatinya.Tak lama kemudian, seluruh angg







