로그인Rina segera memberi isyarat mata yang tajam kepada kepala keamanan. Sambil berpura-pura menyesap anggurnya, ia berbisik cepat melalui mikrofon tersembunyi. "Cegat mereka! Bawa ke paviliun belakang. Jangan sampai ada tamu yang melihat!" Namun, langkah Luna dan Sari terlalu mantap. Sebelum para penjaga sempat menyergap, mereka sudah melangkah masuk ke area yang terkena sorot lampu kristal aula. Kakek Wijaya, yang tengah berdiri di balik podium, tiba-tiba mematung. Matanya yang menua menyipit, lalu membelalak lebar saat mengenali sosok wanita paruh baya di samping Luna. Kemarahan yang telah ia pendam selama puluhan tahun meledak seketika, membuat wajahnya memerah padam. "Sari?!" suara Kakek Wijaya menggelegar melalui pengeras suara, memotong musik dan kebisingan aula. "Beraninya wanita rendahan sepertimu menginjakkan kaki di rumah ini lagi!" Seluruh tamu undangan tersentak, suasana berubah mencekam. Arkan mendongak, jantungnya berdegup kencang melihat Sari berdiri di sana bersama
Matahari mulai meninggi, menyapu kabut di kediaman Sari, namun kegelapan di dalam hati Luna perlahan berganti menjadi api dendam yang dingin. Ia menatap gaun hitam di tangan ibunya. Gaun itu bukan sekadar pakaian; itu adalah zirah yang akan ia gunakan untuk berperang melawan orang-orang yang telah menginjak-injak harga dirinya. "Ibu," panggil Luna, suaranya kini terdengar lebih rendah dan mantap. "Ajari aku. Ajari aku bagaimana cara berdiri di hadapan Kakek tanpa terlihat seperti pelayan rendahan. Aku tidak ingin mereka melihat setetes pun air mata besok malam." Sari tersenyum tipis, sebuah senyum yang menyimpan luka sekaligus kekuatan. "Kamu tidak perlu belajar menjadi seorang Wijaya, Luna. Darah itu sudah ada di nadimu. Kamu hanya perlu berhenti meminta maaf atas keberadaanmu. Mulai detik ini, kamu adalah putri mahkota yang kembali untuk menuntut hakmu. "Dan satu hal lagi," Sari menambahkan sembari memegang dagu Luna, mengangkatnya agar mata mereka sejajar. "Tataplah mereka s
"Maafkan aku, Luna," bisiknya pedih, jemarinya mengusap wajah Luna di layar ponsel yang pecah itu. "Jika aku harus menjadi boneka mereka selamanya agar kamu tetap hidup dan jauh dari murka Kakek, maka biarlah duniaku mati malam ini." Arkan tidak tahu bahwa di balik dinding kamarnya, Rina sedang tertawa kecil sambil mengamati monitor CCTV yang tersembunyi. "Lihat dia, Alissa. Begitu rapuh. Hanya butuh satu kebohongan tentang darah, dan singa itu pun bertekuk lutut menjadi pengecut," ujar Rina sinis sambil menyesap anggurnya. "Kasian sekali," sahut Alissa sambil menyunggingkan senyum licik, matanya tak lepas dari sosok Arkan di layar monitor yang tampak seperti raga tanpa jiwa. "Dia benar-benar percaya kalau wanita yang dicintainya adalah adiknya sendiri. Tante, ide tentang 'inses' ini benar-benar jenius. Itu adalah satu-satunya cara untuk membunuh perasaan Arkan secara permanen." Rina mengangguk puas, menyesap anggurnya perlahan. "Arkan memiliki moral yang terlalu tinggi. Dia mun
Pagi itu, suasana di kediaman Sari terasa mencekam. Seorang dokter pribadi baru saja keluar dari kamar Luna dengan raut wajah yang sulit dibaca. Sari segera menyongsongnya di depan pintu. "Bagaimana hasilnya, Dok?" tanya Sari, suaranya nyaris berbisik. Dokter itu menghela napas panjang. "Nyonya, putri Anda mengalami stres berat dan dehidrasi. Namun, mual yang dirasakannya bukan sekadar masuk angin. Hasil tes menunjukkan Luna positif hamil. Usianya sekitar enam minggu." Dunia seolah berhenti berputar bagi Sari. Di satu sisi, ada kebahagiaan luar biasa, namun di sisi lain, ia tahu kabar ini akan menghancurkan mental Luna yang saat ini percaya bahwa bayi itu adalah hasil hubungan sedarah. Tiba-tiba, suara benda jatuh terdengar dari dalam kamar. Sari dan dokter segera masuk. Luna berdiri mematung di dekat pintu kamar mandi, wajahnya pucat pasi, matanya membelalak ngeri. Ia rupanya mendengar percakapan itu. "Hamil...?" suara Luna bergetar hebat. Ia menatap perutnya dengan tatapan jij
Wanita itu perlahan menurunkan payungnya, membiarkan cahaya lampu jalan yang remang menyapu wajahnya. Luna tertegun, napasnya seolah berhenti di tenggorokan. Meski gurat usia dan penderitaan telah mengubah garis wajah itu, mata yang menatapnya adalah mata yang selalu hadir dalam mimpi-mimpinya. "I-ibu...?" bisik Luna dengan suara yang hilang timbul di antara deru hujan. "Ibu masih hidup?" Sari tidak menjawab dengan kata-kata. Ia segera berlutut di aspal yang dingin, merengkuh tubuh Luna yang menggigil hebat ke dalam pelukannya. Kehangatan dekapan itu terasa begitu nyata, kontras dengan dinginnya pengusiran yang baru saja Luna alami. "Ibu, mereka bilang aku dan Arkan... kami saudara sedarah. Kami kotor, Bu..." Luna meracau di pundak ibunya, air matanya tumpah tak terkendali. Sari membelai rambut Luna yang basah kuyup dengan tangan gemetar. Tatapannya terangkat, menatap tajam ke arah jendela lantai atas mansion Wijaya yang berpendar cahaya. Ada kilat kemarahan yang tertahan di m
Suasana ruang tamu itu mendadak vakum, seolah oksigen disedot habis oleh vonis yang baru saja dibacakan. Luna masih bersimpuh di atas lantai marmer yang dingin. Bahunya berguncang hebat oleh isak tangis yang menyesakkan. Baginya, setiap inci kulitnya kini terasa seperti dosa. Kenangan tentang sentuhan, pelukan, dan janji-janji cinta yang mereka pertukarkan selama ini kini berubah menjadi nanah yang membakar jiwanya. "Arkan..." suara Luna pecah, nyaris tak terdengar di antara isakannya. "Jangan sentuh aku... Kumohon, menjauhlah. Kita kotor... kita ini menjijikkan..." Arkan berdiri mematung. Wajahnya yang biasanya tegas kini tampak seperti mayat hidup. Tangannya yang sempat terulur untuk membantu Luna berdiri, mendadak lumpuh di udara. Ia menarik tangannya kembali dengan gerakan gemetar. Vonis itu tidak hanya menghancurkan cintanya, tapi juga membunuh harga dirinya sebagai laki-laki. "Jadi... ini benar?" bisik Arkan, suaranya parau dan kosong. Ia menatap kertas di atas meja dengan
Setelah kepergian Arkan, suasana rumah yang megah itu terasa mencekam. Di meja makan, Alissa menunduk, namun sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang mematikan. Ia tahu, menuduh Luna mencuri lagi hanya akan membuat Arkan semakin curiga pada mereka. Ia butuh sesuatu yang lebih personal
Keesokan paginya, suasana di kediaman besar itu terasa mencekam. Arkan sengaja tidak berangkat ke kantor lebih awal. Ia duduk di meja makan dengan wajah dingin, menunggu ibunya, dan Alissa turun. Benar saja, saat ibu Rina muncul dengan gaun elegannya, ia terkejut melihat Arkan masih di sana. Di b
Malam pun jatuh dengan hawa yang jauh lebih dingin dari biasanya. Arkan mengunci diri di ruang kerja. Di kepalanya, suara Ferdy terus bergema: “Dia hanya mencari pelarian.” Kata-kata itu berputar-putar, merobek sisa-sisa kepercayaan yang ia miliki untuk Luna. Tok... Tok... Tok... Suara pintu
Pagi yang suram itu seolah menjadi saksi bisu bagi rencana busuk yang mulai berdenyut di balik dinding megah mansion Wijaya. Rina melangkah kembali ke dalam rumah dengan dagu terangkat, langkahnya terasa jauh lebih ringan seolah beban berat baru saja luruh dari bahunya. Namun, di belahan kota yang







