Share

harga sebuah kepatuhan

Penulis: arselaa
last update Terakhir Diperbarui: 2025-09-27 00:13:05

Luna menatap Arkan. Mata pria itu tidak menunjukkan keraguan atau emosi. Hanya ada ketegasan dan perhitungan. Ia tahu Arkan tidak main-main.

“Bagaimana?” Arkan mengulangi pertanyaannya, nadanya mendesak.

Luna menggigit bibir bawahnya. Otaknya memutar ulang semua momen sulit yang ia alami: tagihan yang menumpuk, perut kosong, dan rasa malu yang tak terlukiskan saat dipecat. Ia tidak punya orang tua, tidak punya kerabat yang bisa ia mintai bantuan. Ia benar-benar sendirian.

“Saya… saya butuh waktu untuk berpikir,” ucap Luna, suaranya hampir tidak terdengar.

Arkan tersenyum tipis. “aku tidak punya waktu, . Aku butuh jawabanmu sekarang.”

Luna menelan ludah. Ia tahu ia tidak punya pilihan lain. Ia harus menerima tawaran gila ini. "ok saya setuju."

"Baca poin ketujuh, Luna. Itu bagian yang paling krusial," ujar Arkan, memecah keheningan dengan suara baritonnya yang tenang namun mengintimidasi

.

Luna membalik halaman kertas tersebut. Matanya tertuju pada sebuah paragraf yang dicetak tebal.

"Pernikahan Kontrak: Jangka Waktu 1 (Satu) Tahun," baca Luna dengan suara yang hampir tidak terdengar. Ia mendongak dengan wajah syok. "Pernikahan? Tuan, Anda bilang ini kontrak asisten pribadi!"

Arkan menyandarkan punggungnya, melipat tangan di depan dada. "Asisten pribadi adalah statusmu di kantorku. Tapi di depan keluargaku dan publik, statusmu adalah istriku. Aku butuh stabilitas selama dua belas bulan untuk mengamankan posisiku di perusahaan. Setelah satu tahun, kita bercerai, dan kau akan menerima pesangon yang cukup untuk membeli gedung kafenmu yang dulu."

"Satu tahun..." Luna menggeleng lemah. "Itu waktu yang sangat lama. Bagaimana dengan hidup saya? Bagaimana jika orang-orang mengira ini nyata?"

"Itu memang harus terlihat nyata," potong Arkan cepat. "Itulah kenapa harganya sangat mahal. Aku tidak hanya membayar waktumu, aku membayar reputasimu, namamu, dan seluruh hidupmu selama setahun penuh. Kau tidak boleh menjalin hubungan dengan pria lain, tidak boleh pergi tanpa izin, dan harus tinggal satu atap denganku."

Luna tertawa getir, matanya mulai berkaca-kaca. "Jadi saya benar-benar menjadi barang milik Anda selama setahun? Anda membeli saya seperti membeli aset perusahaan?"

Arkan berdiri, melangkah mendekati meja dan sedikit membungkuk hingga wajah mereka sejajar. "Jangan naif, Luna. Kau butuh uang, dan aku butuh status. Ini adalah simbiosis mutualisme. Satu tahun bukan waktu yang lama jika kau menikmati kemewahan yang kuberikan."

"Dan jika saya gagal di tengah jalan?" tanya Luna menantang.

"Maka kau harus mengembalikan seluruh gaji yang sudah kuberikan dua kali lipat, dan denda 1 milyar" jawab Arkan dingin. "Sederhana saja. Kau bertahan satu tahun, . atau Kau menyerah, dan kau hancur."

Luna menatap bolpoin itu lagi. Pikirannya melayang pada tumpukan tagihan dan kegagalan beruntun yang dialaminya. Dengan napas yang bergetar hebat, ia meraih pena itu.

"Hanya satu tahun," bisik Luna pada dirinya sendiri.

Sret! Sret!

Tanda tangan itu terukir di atas materai. Luna meletakkan kembali pena itu dengan tangan yang lemas. Arkan segera mengambil map itu, senyum tipis kemenangan menghiasi wajahnya.

bagus,” keputusan yang sangat logis, " puji arkan, meski suara nya seperti menghina. Arkan, mengambil kembali dokumen itu. “Sekarang, kamu istriku. Dan kamu akan segera tahu apa saja tugas seorang istri.”

Kata-kata itu membuat jantung Luna berdebar lebih kencang. Ia belum sepenuhnya memproses bahwa kini ia telah menandatangani hidupnya ke dalam sebuah kontrak pernikahan dengan pria yang membencinya.

"arkan menoleh ke arah pintu. "Alex! Masuk."

Pintu terbuka seketika. Alex seolah sudah bersiap di balik pintu sejak tadi.

"Bawa Nona Luna ke apartemennya, biarkan dia mengambil barang-barang yang diperlukan. Setelah itu, bawa dia ke griya rias. Malam ini kita akan malam dengan ibu.

Luna tersentak. "Malam ini? Tuan, saya belum siap !"

Arkan tidak memedulikan protes Luna. Ia kembali duduk dan membuka laptopnya, menganggap Luna sudah bukan lagi manusia yang perlu didengar pendapatnya.

"Tugas pertamamu: Berhenti mengeluh," ujar Arkan tanpa menoleh. "Alex, bawa dia pergi. Aku tidak suka melihat asistenku terlihat kusam lebih lama lagi."

"Mari, Nona Luna," Alex memberi isyarat.

Luna berjalan keluar dengan langkah gontai. Saat melewati pintu jati besar itu, ia sempat menoleh ke belakang, melihat Arkan yang sudah sibuk dengan dunianya. Ia tahu, mulai detik ini, hidupnya bukan lagi miliknya. Ia baru saja menandatangani kesepakatan dengan iblis yang paling tampan sekaligus paling kejam di kota ini.

​Alex membimbing Luna menuju lift pribadi yang sunyi. Di dalam pantulan dinding metal lift yang mengkilap, Luna melihat bayangan dirinya yang tampak begitu rapuh. Ia menyentuh dadanya, mencoba meredam detak jantung yang terasa ingin melompat keluar.

​"Pak Alex," panggil Luna lirih saat lift mulai bergerak turun. "Apakah Tuan Arkan selalu... sedingin itu kepada semua orang?"

​Alex hanya menatap lurus ke depan tanpa ekspresi. "Tuan Arkan adalah orang yang sangat menghargai waktu dan efisiensi, Nona. Bagi beliau, emosi hanyalah hambatan dalam berbisnis. Saya sarankan Anda segera terbiasa dengan hal itu."

​Luna terdiam. Bukan asisten, tapi barang yang harus efisien, batinnya pahit.

​Setibanya di apartemen Luna yang sempit, Alex menunggu di depan pintu sementara Luna berkemas dengan terburu-buru. Ia hanya memasukkan beberapa helai pakaian dan buku catatan kecilnya ke dalam koper lusuh.

​"Sudah semua, Nona?" tanya Alex saat Luna keluar.

​"Sudah. Hanya ini yang saya punya," jawab Luna pendek.

​Alex melirik koper tua itu sebentar sebelum memberi isyarat agar Luna mengikutinya ke mobil SUV hitam yang sudah menunggu. Perjalanan menuju griya rias terasa seperti mimpi buruk yang menjadi nyata. Luna dipaksa mandi, dipoles dengan riasan yang menonjolkan tulang pipinya, dan dibalut gaun biru malam yang harganya pasti cukup untuk membiayai hidupnya selama tiga tahun.

​Malam itu juga, mobil membawanya ke sebuah rumah megah dengan gerbang emas yang menjulang tinggi. Arkan sudah menunggu di sana, berdiri tegak dengan tuksedo hitam yang membuatnya tampak seperti pangeran, namun dengan tatapan yang tetap sekeras batu.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • ISTRI KONTRAK SANG CEO DINGIN   Diantara Dua Sangkar

    Sarah berjengit, menepuk dahinya pelan sembari menghela napas lega. "Oh, astaga! Luna, maafkan aku. Aku lupa kalau tadi sebelum kamu sampai, aku sempat memesan martabak lewat aplikasi. Aku belum sempat makan malam karena lembur."​Luna masih terpaku, tangannya mencengkeram lengan sofa hingga buku jarinya memutih. "Kamu yakin itu kurir makanan, Sar? Jam dua pagi?"​"Di kota ini, makanan tidak pernah tidur, Luna, kamu tau itu kan ?" Sarah berusaha mencairkan suasana meski jantungnya sendiri masih berdegup kencang. Ia berjalan menuju pintu, mengintip sedikit dari balik jendela. "Benar, itu jaket ojek online. Tunggu sebentar."​Sarah membuka pintu sedikit, melakukan transaksi singkat, lalu kembali dengan sebuah kantong plastik yang menyebarkan aroma manis mentega. Namun, Luna sama sekali tidak merasa lapar. Baginya, setiap suara di luar sana adalah ancaman yang bisa menyeretnya kembali ke dalam sangkar emas Arkan.​"Makanlah sedikit, Luna. Kamu pucat sekali," ujar Sarah sambil membuka kot

  • ISTRI KONTRAK SANG CEO DINGIN   pelarian di atas benang tipis

    Mobil itu melaju membelah kegelapan malam. Di dalam kabin yang sunyi, Luna terus menatap spion samping, melihat gerbang megah kediaman Wijaya yang perlahan menghilang ditelan bayangan. "Kamu sudah aman, Luna," ucap Adrian memecah keheningan. Matanya lurus menatap jalanan, kedua tangannya mencengkeram kemudi dengan sangat erat."K adrian, kita akan pergi ke mana?" tanya Luna. Suaranya serak. "Arkan benar, ibunya tidak akan diam saja. Kita tidak bisa hanya bersembunyi di dalam kota."Adrian melirik sekilas, wajahnya tampak kaku. "Aku sudah menyiapkan apartemen kecil di pinggiran kota. Atas nama salah satu stafku yang terpercaya. Untuk sementara, itu tempat paling aman dari jangkauan Arkan."Luna terdiam sejenak, memikirkan kata-kata itu. Apartemen milik staf Adrian? Itu artinya ia hanya akan berpindah dari satu pengawasan ke pengawasan lain."Tidak, k Adrian. Jangan ke sana," potong Luna tegas.Adrian menginjak rem sedikit mendadak karena terkejut. "Maksudmu? Kamu tidak bisa kembali

  • ISTRI KONTRAK SANG CEO DINGIN   pintu yang terbuka

    Pukul sebelas malam , Luna berdiri di balik gorden kamarnya, menatap ke arah gerbang belakang yang tertutup. Tangannya gemetar, menggenggam ponsel yang layarnya masih menyala menampilkan pesan dari Adrian. "Pilihan yang sulit, bukan?" Suara itu muncul dari kegelapan sudut kamar. Luna tersentak, jantungnya nyaris melompat keluar. Di sana, Arkan sedang menyesap segelas wiski. Cahaya bulan yang masuk menyinari separuh wajahnya, membuatnya tampak seperti predator yang sedang menunggu mangsa. "Arkan? Sejak kapan kamu di sana?" suara Luna bergetar. "Sejak kamu mulai menatap jam setiap lima menit sekali," Arkan bangkit, meletakkan gelasnya di atas meja dengan denting yang mematikan. "Kamu pikir aku tidak tahu Adrian mengirimkan pesan? Kamu pikir sistem keamanan rumah ini membiarkan sinyal asing masuk tanpa terdeteksi?" Luna mundur selangkah, napasnya memburu. "Kalau kamu tahu, kenapa kamu membiarkanku?" "Karena aku ingin tahu," Arkan melangkah mendekat, langkah kakinya tidak bersuara d

  • ISTRI KONTRAK SANG CEO DINGIN   penghianatan di balik dinding kamar

    Malam semakin larut, namun amarah di dada Arkan justru semakin berkobar. Laporan medis itu masih menyala di layar tabletnya, seolah menertawakan kebodohannya yang sempat merasa "terikat" secara emosional semalam. Bodoh," desis Arkan pada dirinya sendiri. "Kamu pikir dia mulai menyerah, ternyata dia sedang membangun benteng." Tanpa mengetuk, Arkan membuka pintu kamar dengan kunci cadangan. Suara pintu yang membentur dinding membuat Luna yang sedang meringkuk di atas ranjang tersentak bangun. "Arkan? Apa yang kamu lakukan? Aku bilang aku butuh waktu sendiri!" Luna bangkit, mencoba menutupi kegugupannya. Arkan tidak menjawab. Ia melangkah mendekat dengan tatapan sehitam jelaga, lalu melemparkan tabletnya ke atas kasur, tepat di depan Luna. "Jelaskan ini padaku, Luna. Sekarang." Luna meraih tablet itu. Begitu matanya membaca baris tentang jejak kontrasepsi, tubuhnya membeku. Warna di wajahnya hilang seketika. "Arkan, ini..." "Kamu meminumnya?" suara Arkan rendah, namun mengandung a

  • ISTRI KONTRAK SANG CEO DINGIN   sabotase dalam darah

    Kalimat "hanya wadah" itu bergetar di telinga Luna, memantul di dinding marmer lorong yang dingin. Di dalam ruang periksa yang steril, Dokter Hendra mulai menyiapkan peralatan medisnya. Aroma alkohol menyengat, menggantikan wangi parfum mawar Ibu Rina yang menyesakkan."Silakan berbaring, Nyonya Luna," ucap Dokter Hendra datar.Luna menuruti perintah itu dengan kaku. "Apa yang akan Anda periksa, Dok? Bukankah ini terlalu dini?""Hanya pengambilan sampel darah untuk melihat profil hormon dan kesiapan rahim," jelas sang dokter tanpa ekspresi. "Nyonya Besar tidak ingin ada spekulasi. Beliau ingin kepastian angka.""Angka," bisik Luna getir. "Semuanya memang hanya soal angka di rumah ini."Saat jarum suntik menusuk kulitnya, Luna tidak meringis. Rasa sakit fisik itu tidak sebanding dengan rasa hina yang merayap di dadanya. Sementara itu, di ruang tamu, suasana jauh lebih panas. Begitu Luna menghilang di balik pintu, Arkan langsung berbalik menghadap ibunya."Wadah? Apa Ibu sadar betapa

  • ISTRI KONTRAK SANG CEO DINGIN   sisa semalam dan altar perjanjian

    Pagi menyapa dengan keheningan yang berbeda. Tidak ada lagi ketegangan yang meledak-ledak, melainkan rasa canggung yang tebal seperti kabut. Luna terbangun dengan posisi Arkan yang sudah tidak ada di sampingnya, meninggalkan sisi ranjang yang masih hangat. Saat Luna turun ke lantai bawah, ia menemukan Arkan sedang berdiri di dekat jendela besar ruang makan, menyesap kopi hitamnya sambil menatap taman yang basah oleh embun. "Kamu sudah bangun," ucap Arkan tanpa menoleh. "Aku tidak bisa tidur lagi," balas Luna sambil menarik kursi, suaranya masih sedikit serak. "Jam berapa sekarang?" "Masih sangat pagi. " Arkan berbalik, menatapnya dengan intensitas yang membuat Luna ingin membuang muka. "Tentang semalam..." "Jangan dibahas, Arkan," potong Luna cepat. "Kita sudah melakukannya. Tugas sudah selesai untuk saat ini. Bukankah itu yang tertulis di dokumen?" Arkan meletakkan cangkirnya dengan denting yang cukup keras. "Kenapa setiap kali aku mencoba bicara sebagai manusia, kamu selalu me

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status