Home / Romansa / ISTRI KONTRAK SANG CEO DINGIN / keputusan yang mustahil

Share

keputusan yang mustahil

Author: arselaa
last update publish date: 2025-09-26 01:47:34

Luna terpaku di trotoar yang basah, menatap layar ponselnya seolah-olah nama "Wijaya Tower" bisa berubah jika ia mengedipkan mata. Seluruh tubuhnya mendadak dingin. Nama itu bukan sekadar nama gedung, melainkan simbol kesialan yang membuatnya kehilangan pekerjaan dan harga diri tiga hari yang lalu.

"Halo? Lun? Kamu masih di sana?" suara Sarah di telepon memecah lamunan Luna.

"Sar... kamu tidak salah kirim alamat?" tanya Luna, suaranya tercekat. "Itu gedung milik Arkan Wijaya. Pria yang sudah membuatku dipecat!"

Di seberang telepon, Sarah menghela napas panjang. "Aku tahu, Lun. Aku tahu itu gila. Tapi dengerin aku, posisi ini dicari lewat jalur orang dalam. Mereka butuh asisten pribadi yang sanggup bekerja di bawah tekanan tinggi—yang harus tahan banting menghadapi sikap bosnya. Kamu butuh uang itu, kan? Ingat tagihanmu, Lun."

Luna memejamkan mata. Bayangan wajah kaku Arkan dan jas yang ternoda kopi kembali menghantuinya. "Dia akan mengenaliku, Sar. Dia akan langsung mengusirku."

"Gedung itu punya puluhan lantai dan ribuan karyawan, Luna. Belum tentu kamu akan langsung berhadapan dengannya. Mungkin kamu hanya asisten untuk manajer di bawahnya. Cobalah dulu. Datang saja, oke?"

Luna menarik napas dalam-dalam, mencoba mengisi paru-parunya dengan keberanian yang tersisa. "Baiklah. Aku akan pergi."

Satu jam kemudian, Luna berdiri di depan Wijaya Tower. Gedung pencakar langit yang didominasi kaca itu tampak mengintimidasi, seolah-olah sedang menertawakan kemeja Luna yang sudah agak kusam meski telah disetrika rapi.

Dengan langkah ragu, ia memasuki lobi. Lantai marmernya begitu mengkilap hingga Luna bisa melihat pantulan wajahnya yang pucat. Ia menuju meja resepsionis.

"Selamat siang. Saya Luna Clarissa, ada janji untuk posisi asisten pribadi," ucapnya sesopan mungkin.

Resepsionis itu memeriksa daftar di komputernya, lalu menatap Luna dari atas ke bawah dengan tatapan menyelidik. "Lantai 45. Ruang HRD Utama. Silakan gunakan lift khusus di sebelah sana."

Luna mengangguk kaku. Di dalam lift, jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia merasa bisa mendengarnya di antara keheningan lift yang bergerak cepat. Saat pintu lift terbuka di lantai 45, ia disambut oleh keheningan yang mewah. Seorang pria berkacamata dengan setelan jas rapi sudah menunggunya.

"Nona Luna? Saya Alex, kepala operasional di lantai ini. Mari ikut saya," ajak pria itu tanpa banyak basa-basi.

Luna mengikutinya menyusuri koridor. Ia mengira akan dibawa ke ruang wawancara biasa dengan banyak kandidat lain, namun Alex justru membawanya menuju sebuah pintu ganda besar berbahan kayu jati yang sangat mahal.

"Tunggu, Pak. Bukankah ini ruang CEO?" tanya Luna, langkahnya terhenti.

Alex tidak menjawab. Ia hanya membukakan pintu dan memberi isyarat agar Luna masuk. "Beliau sudah menunggu."

Dengan tangan gemetar, Luna melangkah masuk. Ruangan itu sangat luas dengan pemandangan seluruh kota dari dinding kaca. Di balik meja besar, seorang pria sedang duduk membelakanginya, menatap ke arah jendela.

"Tuan, kandidat asisten pribadinya sudah sampai," lapor Alex pelan, lalu ia keluar dan menutup pintu, meninggalkan Luna sendirian dalam kesunyian yang mencekam.

Pria di kursi itu perlahan berputar. Dan saat mata mereka bertemu, Luna merasa dunianya runtuh untuk kedua kalinya.

Arkan Wijaya.

Pria itu menyandarkan punggungnya, menatap Luna dengan tatapan tajam yang tidak terbaca. Tidak ada raut terkejut di wajahnya, seolah-olah ia sudah tahu siapa yang akan datang.

"Jadi..." Arkan membuka suara, suaranya yang berat menggema di ruangan luas itu. "Pelayan ceroboh itu sekarang ingin menjadi asisten pribadiku?"

Luna menelan ludah, mencoba mencari suaranya yang hilang. "Tuan... saya tidak tahu kalau ini adalah kantor Anda. Maksud saya, saya tidak tahu posisi ini untuk—"

"Berhenti bicara," potong Arkan dingin. Ia berdiri dan berjalan mendekati Luna. Setiap langkah sepatunya di atas lantai kayu terdengar seperti lonceng kematian bagi Luna. "Kamu pikir aku memanggilmu ke sini untuk mendengar alasanmu lagi?"

Luna mendongak, menatap mata Arkan yang sedingin es. "Lalu kenapa saya dipanggil ke sini? Jika Anda hanya ingin menghina saya lagi, Anda sudah melakukannya tiga hari yang lalu."

Arkan berhenti tepat di depan Luna, sangat dekat hingga Luna bisa mencium aroma parfum maskulinnya yang mahal. Arkan tersenyum sinis.

"Aku memanggilmu karena kamu punya satu hal yang tidak dimiliki kandidat lain," bisik Arkan.

"Apa itu?" tanya Luna bingung.

"Kamu berhutang padaku," jawab Arkan pendek. Ia mengambil sebuah map dari mejanya dan melemparnya ke hadapan Luna. "Bacalah. Itu adalah kontrak kerja. Gaji yang kutawarkan adalah sepuluh kali lipat dari apa yang kamu dapatkan di kafe murahan itu. Tapi ada syaratnya."

Luna membuka map itu dengan tangan gemetar. Matanya membelalak saat membaca poin-poin di dalamnya. Ini bukan kontrak asisten pribadi biasa.

"Menjadi asisten pribadi selama 24 jam... dan bersedia melakukan tugas apa pun yang diminta?" Luna menoleh ke Arkan. "Apa maksudnya ini?"

Arkan menumpukan tangannya di meja, mengurung Luna dalam tatapannya. "Maksudnya, hidupmu adalah milikku selama kontrak ini berjalan. Kamu akan membersihkan kekacauan yang kamu buat, Luna. Mulai dari jas yang kamu rusak, hingga masalah pribadiku yang memerlukan 'pendamping' sementara."

Luna terdiam. Ia tahu ini adalah perangkap. Tapi ia juga tahu, amplop cokelat dari Ibu Wati tidak akan cukup untuk bertahan hidup bulan depan.

"Kenapa saya?" tanya Luna lirih.

"Karena kamu tidak punya pilihan lain," sahut Arkan dengan nada kemenangan yang mutlak. "Tanda tangani, atau kamu bisa keluar dari sini dan kembali menjadi gelandangan di bawah hujan. Pilihan ada di tanganmu.

Luna menatap bolpoin di atas meja, lalu kembali menatap Arkan. Ia tahu, dengan menandatangani kertas ini, sama saja dengan menyerahkan dirinya ke dalam sangkar emas sang monster.

.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • ISTRI KONTRAK SANG CEO DINGIN   Benang Merah Yang Terputus

    Rina segera memberi isyarat mata yang tajam kepada kepala keamanan. Sambil berpura-pura menyesap anggurnya, ia berbisik cepat melalui mikrofon tersembunyi. "Cegat mereka! Bawa ke paviliun belakang. Jangan sampai ada tamu yang melihat!" Namun, langkah Luna dan Sari terlalu mantap. Sebelum para penjaga sempat menyergap, mereka sudah melangkah masuk ke area yang terkena sorot lampu kristal aula. Kakek Wijaya, yang tengah berdiri di balik podium, tiba-tiba mematung. Matanya yang menua menyipit, lalu membelalak lebar saat mengenali sosok wanita paruh baya di samping Luna. Kemarahan yang telah ia pendam selama puluhan tahun meledak seketika, membuat wajahnya memerah padam. "Sari?!" suara Kakek Wijaya menggelegar melalui pengeras suara, memotong musik dan kebisingan aula. "Beraninya wanita rendahan sepertimu menginjakkan kaki di rumah ini lagi!" Seluruh tamu undangan tersentak, suasana berubah mencekam. Arkan mendongak, jantungnya berdegup kencang melihat Sari berdiri di sana bersama

  • ISTRI KONTRAK SANG CEO DINGIN   Zirah hitam dan Janji Fajar

    ​Matahari mulai meninggi, menyapu kabut di kediaman Sari, namun kegelapan di dalam hati Luna perlahan berganti menjadi api dendam yang dingin. Ia menatap gaun hitam di tangan ibunya. Gaun itu bukan sekadar pakaian; itu adalah zirah yang akan ia gunakan untuk berperang melawan orang-orang yang telah menginjak-injak harga dirinya. ​"Ibu," panggil Luna, suaranya kini terdengar lebih rendah dan mantap. "Ajari aku. Ajari aku bagaimana cara berdiri di hadapan Kakek tanpa terlihat seperti pelayan rendahan. Aku tidak ingin mereka melihat setetes pun air mata besok malam." ​Sari tersenyum tipis, sebuah senyum yang menyimpan luka sekaligus kekuatan. "Kamu tidak perlu belajar menjadi seorang Wijaya, Luna. Darah itu sudah ada di nadimu. Kamu hanya perlu berhenti meminta maaf atas keberadaanmu. Mulai detik ini, kamu adalah putri mahkota yang kembali untuk menuntut hakmu. "Dan satu hal lagi," Sari menambahkan sembari memegang dagu Luna, mengangkatnya agar mata mereka sejajar. "Tataplah mereka s

  • ISTRI KONTRAK SANG CEO DINGIN   Malam Terakhir Dibalik Topeng Sandiwara

    "Maafkan aku, Luna," bisiknya pedih, jemarinya mengusap wajah Luna di layar ponsel yang pecah itu. "Jika aku harus menjadi boneka mereka selamanya agar kamu tetap hidup dan jauh dari murka Kakek, maka biarlah duniaku mati malam ini." Arkan tidak tahu bahwa di balik dinding kamarnya, Rina sedang tertawa kecil sambil mengamati monitor CCTV yang tersembunyi. "Lihat dia, Alissa. Begitu rapuh. Hanya butuh satu kebohongan tentang darah, dan singa itu pun bertekuk lutut menjadi pengecut," ujar Rina sinis sambil menyesap anggurnya. "Kasian sekali," sahut Alissa sambil menyunggingkan senyum licik, matanya tak lepas dari sosok Arkan di layar monitor yang tampak seperti raga tanpa jiwa. "Dia benar-benar percaya kalau wanita yang dicintainya adalah adiknya sendiri. Tante, ide tentang 'inses' ini benar-benar jenius. Itu adalah satu-satunya cara untuk membunuh perasaan Arkan secara permanen." Rina mengangguk puas, menyesap anggurnya perlahan. "Arkan memiliki moral yang terlalu tinggi. Dia mun

  • ISTRI KONTRAK SANG CEO DINGIN   Benih Di tengah Badai

    Pagi itu, suasana di kediaman Sari terasa mencekam. Seorang dokter pribadi baru saja keluar dari kamar Luna dengan raut wajah yang sulit dibaca. Sari segera menyongsongnya di depan pintu. "Bagaimana hasilnya, Dok?" tanya Sari, suaranya nyaris berbisik. Dokter itu menghela napas panjang. "Nyonya, putri Anda mengalami stres berat dan dehidrasi. Namun, mual yang dirasakannya bukan sekadar masuk angin. Hasil tes menunjukkan Luna positif hamil. Usianya sekitar enam minggu." Dunia seolah berhenti berputar bagi Sari. Di satu sisi, ada kebahagiaan luar biasa, namun di sisi lain, ia tahu kabar ini akan menghancurkan mental Luna yang saat ini percaya bahwa bayi itu adalah hasil hubungan sedarah. Tiba-tiba, suara benda jatuh terdengar dari dalam kamar. Sari dan dokter segera masuk. Luna berdiri mematung di dekat pintu kamar mandi, wajahnya pucat pasi, matanya membelalak ngeri. Ia rupanya mendengar percakapan itu. "Hamil...?" suara Luna bergetar hebat. Ia menatap perutnya dengan tatapan jij

  • ISTRI KONTRAK SANG CEO DINGIN   Kebenaran Yang Tercekat

    Wanita itu perlahan menurunkan payungnya, membiarkan cahaya lampu jalan yang remang menyapu wajahnya. Luna tertegun, napasnya seolah berhenti di tenggorokan. Meski gurat usia dan penderitaan telah mengubah garis wajah itu, mata yang menatapnya adalah mata yang selalu hadir dalam mimpi-mimpinya. "I-ibu...?" bisik Luna dengan suara yang hilang timbul di antara deru hujan. "Ibu masih hidup?" Sari tidak menjawab dengan kata-kata. Ia segera berlutut di aspal yang dingin, merengkuh tubuh Luna yang menggigil hebat ke dalam pelukannya. Kehangatan dekapan itu terasa begitu nyata, kontras dengan dinginnya pengusiran yang baru saja Luna alami. "Ibu, mereka bilang aku dan Arkan... kami saudara sedarah. Kami kotor, Bu..." Luna meracau di pundak ibunya, air matanya tumpah tak terkendali. Sari membelai rambut Luna yang basah kuyup dengan tangan gemetar. Tatapannya terangkat, menatap tajam ke arah jendela lantai atas mansion Wijaya yang berpendar cahaya. Ada kilat kemarahan yang tertahan di m

  • ISTRI KONTRAK SANG CEO DINGIN   Dosa Dibalik Tinta

    Suasana ruang tamu itu mendadak vakum, seolah oksigen disedot habis oleh vonis yang baru saja dibacakan. Luna masih bersimpuh di atas lantai marmer yang dingin. Bahunya berguncang hebat oleh isak tangis yang menyesakkan. Baginya, setiap inci kulitnya kini terasa seperti dosa. Kenangan tentang sentuhan, pelukan, dan janji-janji cinta yang mereka pertukarkan selama ini kini berubah menjadi nanah yang membakar jiwanya. "Arkan..." suara Luna pecah, nyaris tak terdengar di antara isakannya. "Jangan sentuh aku... Kumohon, menjauhlah. Kita kotor... kita ini menjijikkan..." Arkan berdiri mematung. Wajahnya yang biasanya tegas kini tampak seperti mayat hidup. Tangannya yang sempat terulur untuk membantu Luna berdiri, mendadak lumpuh di udara. Ia menarik tangannya kembali dengan gerakan gemetar. Vonis itu tidak hanya menghancurkan cintanya, tapi juga membunuh harga dirinya sebagai laki-laki. "Jadi... ini benar?" bisik Arkan, suaranya parau dan kosong. Ia menatap kertas di atas meja dengan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status