Beranda / Romansa / ISTRI KONTRAK SANG CEO DINGIN / perjamuam di balik topeng

Share

perjamuam di balik topeng

Penulis: arselaa
last update Tanggal publikasi: 2025-09-27 00:43:31

Arkan melangkah mendekat saat Luna turun dari mobil. Sepatunya yang mengkilap beradu dengan lantai granit , menciptakan suara ketukan yang berirama namun mengancam. Matanya menyapu penampilan Luna dari ujung kepala hingga kaki. Tidak ada binar kagum, hanya tatapan menyelidik seolah sedang memastikan barang yang ia beli tidak memiliki cacat sedikit pun.

"Jangan menunduk," bisik Arkan saat ia sampai di hadapan Luna. Suaranya rendah, hampir tenggelam oleh desir angin malam. "Ingat, mulai detik ini, kamu bukan lagi pelayan kafe yang ceroboh. Kamu adalah calon tunanganku. Berlakulah jika kamu memang pantas berdiri di sampingku."

Luna menelan ludah, berusaha menegakkan punggungnya meski gaun biru malam itu terasa sangat berat dan asing. "Tuan, saya merasa ini semua terlalu cepat. Saya belum siap menghadapi keluarga Anda."

"Kamu tidak dibayar untuk siap, Luna. Kamu dibayar untuk patuh," sahut Arkan dingin. Ia kemudian melingkarkan lengannya di pinggang Luna, menarik wanita itu begitu dekat hingga Luna bisa merasakan panas tubuhnya. Sentuhan itu sangat posesif, namun Luna tahu itu hanyalah bagian dari sandiwara.

Mereka melangkah masuk melewati pintu ganda besar yang terbuka lebar. Di dalam, kemewahan rumah itu hampir membuat Luna pusing. Lampu kristal raksasa menggantung di langit-langit, memantulkan cahaya ke arah lantai marmer yang begitu bersih hingga Luna bisa melihat ketakutan di wajahnya sendiri. Di ujung ruang tamu yang luas, seorang wanita paruh baya duduk dengan keanggunan yang mengintimidasi. Dialah Nyonya Rina Wijaya.

"Selamat malam, bu," sapa Arkan dengan nada yang luar biasa tenang, seolah ia tidak sedang membawa bom waktu ke dalam rumah itu.

Nyonya Rina meletakkan cangkir porselennya perlahan, lalu menatap mereka berdua. Matanya yang tajam langsung mengunci sosok Luna. "Jadi, ini alasanmu menolak semua perjodohan yang ibu siapkan, Arkan? Seorang gadis yang bahkan tidak bisa menyembunyikan tangannya yang gemetar?"

Arkan mempererat rangkulannya pada Luna, sebuah gerakan yang terasa seperti cengkeraman besi. "Luna memang pemalu, tapi dia adalah pilihanku. Aku ingin ibu memberikan restu malam ini juga agar publik tahu siapa calon menantu Wijaya."

Luna memaksakan sebuah senyuman kecil, kepalanya sedikit mengangguk. "Selamat malam, Nyonya Rina. Sebuah kehormatan bagi saya bisa berada di sini."

Nyonya Rina berdiri, berjalan perlahan mengitari Luna seolah sedang menilai kualitas barang di pelelangan. "Wajah yang cantik. Riasan yang pas. Tapi ibu tidak butuh kecantikan yang bisa dibeli dengan uang di rumah ini, Arkan." Ia berhenti tepat di depan Luna, menatap matanya dengan pandangan yang seolah bisa menembus tulang. "Katakan padaku, Luna. Apa tujuanmu sebenarnya masuk ke keluarga ini? Uang? Atau kekuasaan?"

"Saya... saya hanya ingin bersama Arkan, Nyonya," jawab Luna dusta, suaranya sedikit bergetar.

Nyonya Rina menyeringai sinis. "Jawaban yang klise. Aku tidak peduli dari mana asalmu. Tapi ada satu hal yang paling penting di keluarga Wijaya. Keberlangsungan garis keturunan. Restu? Aku akan memberikannya. Tapi aku punya satu syarat mutlak."

Nyonya Rina mendekatkan wajahnya, membisikkan kata-kata yang membuat dunia Luna seolah runtuh seketika. "Satu tahun. Aku ingin tahu, apakah wanita sepertimu benar-benar bisa memberi ku cucu dalam waktu satu tahun? Jika dalam dua belas bulan rahimmu masih kosong, maka kamu harus pergi dari hidup Arkan tanpa membawa sepeser pun, dan pernikahan ini dianggap tidak pernah ada."

Luna membelalak. Jantungnya berdegup kencang hingga telinganya berdenging. Cucu? Dalam waktu satu tahun? Kontrak mereka adalah tentang sandiwara pernikahan, bukan tentang memberikan ahli waris sungguhan. Luna menoleh ke arah Arkan dengan sorot mata penuh kepanikan.

"Tuan... Arkan, apa maksudnya ini?" bisik Luna tertahan.

Namun, Arkan justru menatap ibunya dengan tenang, seolah-olah permintaan itu hanyalah detail kecil dalam sebuah kontrak bisnis. "Tentu saja, bu. Satu tahun adalah waktu yang lebih dari cukup bagi kami. Bukan begitu, Luna?"

"Tapi Arkan, kita belum membicarakan hal sejauh itu," sela Luna, berusaha memprotes di tengah kepungan tatapan tajam Nyonya Rina.

"Kita bicarakan di kamar nanti, Sayang," potong Arkan dengan nada yang manis namun tersirat ancaman.

Makan malam berlangsung dalam keheningan yang menyiksa. Luna hampir tidak bisa menelan makanannya. Pikirannya terus berputar pada syarat baru itu. Setelah perjamuan berakhir, Arkan menarik Luna menuju lantai atas, ke sebuah kamar utama yang sangat luas namun terasa dingin. Begitu pintu tertutup, Luna langsung melepaskan tangan Arkan.

"Tuan! Apa-apaan itu tadi? Memberi cucu? Kita tidak pernah membicarakan hal ini di kontrak!" seru Luna dengan suara yang meledak karena frustrasi.

Arkan melepaskan tuksedonya, melemparnya ke atas kursi tanpa beban. "Ibuku menginginkan ahli waris. Dan untuk membuat sandiwara ini sempurna, kita harus mengikuti permainannya. Kamu sudah menandatangani kontraknya, Luna. tugasmu Melakukan apa pun yang aku minta, ingat?"

"Tapi tugas ini melibatkan... melibatkan fisik! Saya tidak sudi menjual diri saya sejauh itu!" Luna memekik, wajahnya memerah padam antara marah dan malu.

Arkan berjalan mendekati Luna, mengurung wanita itu di antara tubuhnya dan pintu kamar yang terkunci. Ia menunduk, menatap Luna dengan mata gelapnya yang dingin. "Kamu pikir aku membayar seratus juta per bulan hanya untuk kamu berdiri diam di sampingku seperti manekin? Kamu adalah milikku selama setahun ini, Luna. Luar dan dalam."

Arkan mendekatkan wajahnya ke telinga Luna, hembusan napasnya membuat Luna merinding hingga ke tulang. "Bersiaplah. Karena mulai malam ini, kontrak kita bukan lagi sekadar tanda tangan di atas kertas, tapi sesuatu yang jauh lebih intim."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • ISTRI KONTRAK SANG CEO DINGIN   Benang Merah Yang Terputus

    Rina segera memberi isyarat mata yang tajam kepada kepala keamanan. Sambil berpura-pura menyesap anggurnya, ia berbisik cepat melalui mikrofon tersembunyi. "Cegat mereka! Bawa ke paviliun belakang. Jangan sampai ada tamu yang melihat!" Namun, langkah Luna dan Sari terlalu mantap. Sebelum para penjaga sempat menyergap, mereka sudah melangkah masuk ke area yang terkena sorot lampu kristal aula. Kakek Wijaya, yang tengah berdiri di balik podium, tiba-tiba mematung. Matanya yang menua menyipit, lalu membelalak lebar saat mengenali sosok wanita paruh baya di samping Luna. Kemarahan yang telah ia pendam selama puluhan tahun meledak seketika, membuat wajahnya memerah padam. "Sari?!" suara Kakek Wijaya menggelegar melalui pengeras suara, memotong musik dan kebisingan aula. "Beraninya wanita rendahan sepertimu menginjakkan kaki di rumah ini lagi!" Seluruh tamu undangan tersentak, suasana berubah mencekam. Arkan mendongak, jantungnya berdegup kencang melihat Sari berdiri di sana bersama

  • ISTRI KONTRAK SANG CEO DINGIN   Zirah hitam dan Janji Fajar

    ​Matahari mulai meninggi, menyapu kabut di kediaman Sari, namun kegelapan di dalam hati Luna perlahan berganti menjadi api dendam yang dingin. Ia menatap gaun hitam di tangan ibunya. Gaun itu bukan sekadar pakaian; itu adalah zirah yang akan ia gunakan untuk berperang melawan orang-orang yang telah menginjak-injak harga dirinya. ​"Ibu," panggil Luna, suaranya kini terdengar lebih rendah dan mantap. "Ajari aku. Ajari aku bagaimana cara berdiri di hadapan Kakek tanpa terlihat seperti pelayan rendahan. Aku tidak ingin mereka melihat setetes pun air mata besok malam." ​Sari tersenyum tipis, sebuah senyum yang menyimpan luka sekaligus kekuatan. "Kamu tidak perlu belajar menjadi seorang Wijaya, Luna. Darah itu sudah ada di nadimu. Kamu hanya perlu berhenti meminta maaf atas keberadaanmu. Mulai detik ini, kamu adalah putri mahkota yang kembali untuk menuntut hakmu. "Dan satu hal lagi," Sari menambahkan sembari memegang dagu Luna, mengangkatnya agar mata mereka sejajar. "Tataplah mereka s

  • ISTRI KONTRAK SANG CEO DINGIN   Malam Terakhir Dibalik Topeng Sandiwara

    "Maafkan aku, Luna," bisiknya pedih, jemarinya mengusap wajah Luna di layar ponsel yang pecah itu. "Jika aku harus menjadi boneka mereka selamanya agar kamu tetap hidup dan jauh dari murka Kakek, maka biarlah duniaku mati malam ini." Arkan tidak tahu bahwa di balik dinding kamarnya, Rina sedang tertawa kecil sambil mengamati monitor CCTV yang tersembunyi. "Lihat dia, Alissa. Begitu rapuh. Hanya butuh satu kebohongan tentang darah, dan singa itu pun bertekuk lutut menjadi pengecut," ujar Rina sinis sambil menyesap anggurnya. "Kasian sekali," sahut Alissa sambil menyunggingkan senyum licik, matanya tak lepas dari sosok Arkan di layar monitor yang tampak seperti raga tanpa jiwa. "Dia benar-benar percaya kalau wanita yang dicintainya adalah adiknya sendiri. Tante, ide tentang 'inses' ini benar-benar jenius. Itu adalah satu-satunya cara untuk membunuh perasaan Arkan secara permanen." Rina mengangguk puas, menyesap anggurnya perlahan. "Arkan memiliki moral yang terlalu tinggi. Dia mun

  • ISTRI KONTRAK SANG CEO DINGIN   Benih Di tengah Badai

    Pagi itu, suasana di kediaman Sari terasa mencekam. Seorang dokter pribadi baru saja keluar dari kamar Luna dengan raut wajah yang sulit dibaca. Sari segera menyongsongnya di depan pintu. "Bagaimana hasilnya, Dok?" tanya Sari, suaranya nyaris berbisik. Dokter itu menghela napas panjang. "Nyonya, putri Anda mengalami stres berat dan dehidrasi. Namun, mual yang dirasakannya bukan sekadar masuk angin. Hasil tes menunjukkan Luna positif hamil. Usianya sekitar enam minggu." Dunia seolah berhenti berputar bagi Sari. Di satu sisi, ada kebahagiaan luar biasa, namun di sisi lain, ia tahu kabar ini akan menghancurkan mental Luna yang saat ini percaya bahwa bayi itu adalah hasil hubungan sedarah. Tiba-tiba, suara benda jatuh terdengar dari dalam kamar. Sari dan dokter segera masuk. Luna berdiri mematung di dekat pintu kamar mandi, wajahnya pucat pasi, matanya membelalak ngeri. Ia rupanya mendengar percakapan itu. "Hamil...?" suara Luna bergetar hebat. Ia menatap perutnya dengan tatapan jij

  • ISTRI KONTRAK SANG CEO DINGIN   Kebenaran Yang Tercekat

    Wanita itu perlahan menurunkan payungnya, membiarkan cahaya lampu jalan yang remang menyapu wajahnya. Luna tertegun, napasnya seolah berhenti di tenggorokan. Meski gurat usia dan penderitaan telah mengubah garis wajah itu, mata yang menatapnya adalah mata yang selalu hadir dalam mimpi-mimpinya. "I-ibu...?" bisik Luna dengan suara yang hilang timbul di antara deru hujan. "Ibu masih hidup?" Sari tidak menjawab dengan kata-kata. Ia segera berlutut di aspal yang dingin, merengkuh tubuh Luna yang menggigil hebat ke dalam pelukannya. Kehangatan dekapan itu terasa begitu nyata, kontras dengan dinginnya pengusiran yang baru saja Luna alami. "Ibu, mereka bilang aku dan Arkan... kami saudara sedarah. Kami kotor, Bu..." Luna meracau di pundak ibunya, air matanya tumpah tak terkendali. Sari membelai rambut Luna yang basah kuyup dengan tangan gemetar. Tatapannya terangkat, menatap tajam ke arah jendela lantai atas mansion Wijaya yang berpendar cahaya. Ada kilat kemarahan yang tertahan di m

  • ISTRI KONTRAK SANG CEO DINGIN   Dosa Dibalik Tinta

    Suasana ruang tamu itu mendadak vakum, seolah oksigen disedot habis oleh vonis yang baru saja dibacakan. Luna masih bersimpuh di atas lantai marmer yang dingin. Bahunya berguncang hebat oleh isak tangis yang menyesakkan. Baginya, setiap inci kulitnya kini terasa seperti dosa. Kenangan tentang sentuhan, pelukan, dan janji-janji cinta yang mereka pertukarkan selama ini kini berubah menjadi nanah yang membakar jiwanya. "Arkan..." suara Luna pecah, nyaris tak terdengar di antara isakannya. "Jangan sentuh aku... Kumohon, menjauhlah. Kita kotor... kita ini menjijikkan..." Arkan berdiri mematung. Wajahnya yang biasanya tegas kini tampak seperti mayat hidup. Tangannya yang sempat terulur untuk membantu Luna berdiri, mendadak lumpuh di udara. Ia menarik tangannya kembali dengan gerakan gemetar. Vonis itu tidak hanya menghancurkan cintanya, tapi juga membunuh harga dirinya sebagai laki-laki. "Jadi... ini benar?" bisik Arkan, suaranya parau dan kosong. Ia menatap kertas di atas meja dengan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status