Home / Romansa / ISTRI KONTRAK SANG CEO DINGIN / masalalu yang mengusik

Share

masalalu yang mengusik

Author: arselaa
last update Last Updated: 2025-09-27 01:02:14

Arkan menjauhkan wajahnya, namun tatapannya masih mengunci mata Luna yang berair. Keheningan kamar itu terasa mencekik sebelum akhirnya Arkan berbalik dan menyambar kembali tuksedonya yang tergeletak di kursi.

"Ayo pergi," ucapnya datar, seolah ketegangan beberapa detik lalu tidak pernah terjadi.

Luna tertegun, masih berusaha mengatur napasnya yang memburu. "Pergi? Ke mana? Bukankah kita seharusnya... di sini?"

"Ibuku memang ingin cucu, tapi dia juga sangat menjunjung tinggi tradisi. Kita belum resmi menikah, dan dia tidak akan membiarkan wanita yang belum sah secara hukum menginap di kediaman utama Wijaya malam ini," jelas Arkan sambil melangkah menuju pintu.

Mereka menuruni tangga mewah itu dalam diam. Langkah kaki mereka bergema di aula besar yang sepi. Nyonya Rina rupanya masih berdiri di ruang tengah, mengawasi kepulangan mereka dengan tatapan yang dingin dan penuh selidik.

Arkan menghentikan langkahnya tepat di hadapan ibunya. "Kami pamit sekarang, Ma. Aku akan mengantar Luna pulang."

Nyonya Rina tidak segera menjawab. Matanya beralih dari Arkan ke arah Luna, dengan sorot mata merendahkan. "Pastikan dia beristirahat dengan cukup, Arkan. Aku tidak ingin calon ibu dari cucuku terlihat pucat dan tidak bertenaga."

Luna menunduk kaku, berusaha sesopan mungkin. "Terima kasih atas jamuannya malam ini, Nyonya. Saya... saya permisi."

"Panggil aku Ibu mulai besok, Luna," potong Nyonya Rina dengan nada datar. "

Luna hanya bisa mengangguk pelan, tenggorokannya terasa tersumbat. Arkan tidak menambahkan apa-apa lagi, ia hanya mengangguk sopan pada ibunya sebelum menuntun Luna keluar menuju mobil SUV hitam yang sudah terparkir di depan gerbang.

Selama perjalanan, Luna hanya menatap ke luar jendela, melihat lampu-lampu kota yang membias di kaca mobil. Pikirannya melayang pada syarat "cucu" yang diucapkan Nyonya Rina.

"Tuan," panggil Luna tanpa menoleh. "Mengenai ucapan Ibu Anda ... Anda benar-benar berniat melakukannya?"

Arkan yang sedang sibuk dengan tablet di pangkuannya tidak mendongak. "Aku sudah bilang, aku akan melakukan apa pun untuk mengamankan posisiku.

"Tapi ini gila! Dalam kontrak tidak disebutkan saya harus menjadi ibu dari anak Anda!" Luna menoleh cepat, emosinya kembali tersulut.

Arkan mematikan tabletnya, lalu menatap Luna dengan sorot mata yang tajam. "Kontrak itu bisa rubah kapan saja, Luna. Dan ingat, denda satu miliar itu tetap berlaku jika kau berniat melarikan diri sekarang.

Luna terbungkam. Ia kembali memalingkan wajah, meratapi nasibnya yang kini benar-benar tergadai. Tak lama kemudian, mobil berhenti di depan sebuah kompleks apartemen penthouse yang sangat eksklusif.

"Ini tempat tinggalmu. Besok jam tujuh pagi, Alex akan menjemputmu untuk ke kantor sipil.

Luna turun dari mobil dengan membawa beban pikiran yang jauh lebih berat. Apartemen penthouse itu menjulang tinggi ke langit, simbol kemewahan yang kini terasa seperti sangkar berlapis emas. Tanpa sepatah kata , SUV hitam Arkan melesat pergi, meninggalkan Luna dalam kesunyian malam yang mencekam.

Malam itu, Luna hampir tidak bisa memejamkan mata. Setiap kali ia mencoba tidur, suara dingin Nyonya Rina tentang "cucu" dan tatapan tajam Arkan menghantuinya. Ia merasa seperti pion yang sedang digerakkan di atas papan catur raksasa.

Tepat pukul tujuh pagi, Alex sudah berdiri di depan pintu apartemennya. "Nona Luna, mobil sudah siap. Tuan Arkan menunggu Anda di kantor.

Luna hanya mengangguk pasrah. Ia mengenakan setelan formal sederhana yang telah disiapkan di lemari apartemennya. Di dalam mobil, ia terus meremas jemarinya sendiri, mencoba mengusir rasa cemas yang tak kunjung hilang.

Sesampainya di Wijaya Tower, Alex membimbingnya menuju lantai paling atas. Namun, saat pintu lift terbuka di lobi utama kantor CEO, suasana tidak sesunyi biasanya. Seorang wanita berdiri di depan meja sekretaris, sedang memperdebatkan sesuatu.

Wanita itu berbalik saat mendengar langkah kaki Luna dan Alex. Ia memiliki rambut pirang abu-abu yang ditata sempurna dan mengenakan busana couture merah yang sangat kontras dengan lobi kantor yang bernuansa monokrom.

"Jadi... ini dia?" wanita itu bertanya dengan nada meremehkan, matanya memicing menatap Luna dari ujung kepala hingga kaki.

"Selamat pagi, Nona Alisa," ucap Alex dengan nada sangat formal, memberikan isyarat pada Luna untuk tetap tenang. "

Alisa tertawa sinis, ia mendekati Luna. Aroma parfumnya yang sangat kuat memenuhi indra penciuman Luna.

"Aku ingin melihat lebih dekat wanita yang mampu membuat Arkan berpaling dari perjodohan yang sudah direncanakan keluarga kami selama bertahun-tahun."

Luna mencoba memberanikan diri. "Maaf, Nona. Saya punya janji dengan Tuan Arkan."

"Kau punya janji? Lucu sekali," Alisa mencibir, jarinya yang lentur dengan kuku merah menyala menunjuk dada Luna. "Kau tahu siapa aku? Aku adalah Alisa Hermawan. Seharusnya aku yang menjadi pendamping arkan, bukan pelayan rendahan sepertimu yang entah dipungut dari mana."

Luna tersentak. "Saya hanya melakukan apa yang diminta Tuan Arkan," jawab Luna lirih namun tegas.

"Melakukan apa? Menjual dirimu demi uang ?" Alisa mendekatkan wajahnya, berbisik tepat di telinga Luna. "Dengar ya, Gadis Kecil. jangan harap kau bisa merebut arkan dari ku.

"Nona Alisa, mohon maaf, Tuan Arkan tidak suka jika tamunya diganggu," sela Alex mencoba menengahi.

"Diam ! Kau hanya pesuruh!" bentak Alisa, sebelum kembali menatap Luna dengan senyum penuh ancaman. "Nikmati waktumu selagi bisa, Luna. Karena begitu Arkan bosan, aku yang akan memastikan kau berakhir di jalanan.

Tepat saat ketegangan mencapai puncaknya, pintu ruang kerja Arkan terbuka. Arkan berdiri di sana, tanpa ekspresi.

"Alisa," panggil Arkan dingin. "Apa yang kau lakukan di kantorku pagi-pagi begini?"

Alisa seketika mengubah ekspresinya menjadi manis, ia berjalan menghampiri Arkan dan menyentuh lengan pria itu dengan manja. "Arkan, aku hanya ingin memastikan kau tidak membuat kesalahan dengan membawa... wanita ini ke tengah-tengah keluarga kita."

Arkan melepaskan tangan Alisa dari lengannya dengan gerakan halus namun tegas. "Itu bukan urusanmu. Pergilah. Aku punya banyak pekerjaan.

Wajah Alisa memerah karena malu dan marah. Ia menatap Luna dengan kilatan kebencian yang nyata sebelum berbalik pergi dengan langkah seribu.

Luna merasa lututnya lemas. Ia baru saja menyadari bahwa musuhnya bukan hanya Arkan dan ibunya, tapi juga wanita dari masa lalu Arkan yang haus akan kekuasaan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • ISTRI KONTRAK SANG CEO DINGIN   Diantara Dua Sangkar

    Sarah berjengit, menepuk dahinya pelan sembari menghela napas lega. "Oh, astaga! Luna, maafkan aku. Aku lupa kalau tadi sebelum kamu sampai, aku sempat memesan martabak lewat aplikasi. Aku belum sempat makan malam karena lembur."​Luna masih terpaku, tangannya mencengkeram lengan sofa hingga buku jarinya memutih. "Kamu yakin itu kurir makanan, Sar? Jam dua pagi?"​"Di kota ini, makanan tidak pernah tidur, Luna, kamu tau itu kan ?" Sarah berusaha mencairkan suasana meski jantungnya sendiri masih berdegup kencang. Ia berjalan menuju pintu, mengintip sedikit dari balik jendela. "Benar, itu jaket ojek online. Tunggu sebentar."​Sarah membuka pintu sedikit, melakukan transaksi singkat, lalu kembali dengan sebuah kantong plastik yang menyebarkan aroma manis mentega. Namun, Luna sama sekali tidak merasa lapar. Baginya, setiap suara di luar sana adalah ancaman yang bisa menyeretnya kembali ke dalam sangkar emas Arkan.​"Makanlah sedikit, Luna. Kamu pucat sekali," ujar Sarah sambil membuka kot

  • ISTRI KONTRAK SANG CEO DINGIN   pelarian di atas benang tipis

    Mobil itu melaju membelah kegelapan malam. Di dalam kabin yang sunyi, Luna terus menatap spion samping, melihat gerbang megah kediaman Wijaya yang perlahan menghilang ditelan bayangan. "Kamu sudah aman, Luna," ucap Adrian memecah keheningan. Matanya lurus menatap jalanan, kedua tangannya mencengkeram kemudi dengan sangat erat."K adrian, kita akan pergi ke mana?" tanya Luna. Suaranya serak. "Arkan benar, ibunya tidak akan diam saja. Kita tidak bisa hanya bersembunyi di dalam kota."Adrian melirik sekilas, wajahnya tampak kaku. "Aku sudah menyiapkan apartemen kecil di pinggiran kota. Atas nama salah satu stafku yang terpercaya. Untuk sementara, itu tempat paling aman dari jangkauan Arkan."Luna terdiam sejenak, memikirkan kata-kata itu. Apartemen milik staf Adrian? Itu artinya ia hanya akan berpindah dari satu pengawasan ke pengawasan lain."Tidak, k Adrian. Jangan ke sana," potong Luna tegas.Adrian menginjak rem sedikit mendadak karena terkejut. "Maksudmu? Kamu tidak bisa kembali

  • ISTRI KONTRAK SANG CEO DINGIN   pintu yang terbuka

    Pukul sebelas malam , Luna berdiri di balik gorden kamarnya, menatap ke arah gerbang belakang yang tertutup. Tangannya gemetar, menggenggam ponsel yang layarnya masih menyala menampilkan pesan dari Adrian. "Pilihan yang sulit, bukan?" Suara itu muncul dari kegelapan sudut kamar. Luna tersentak, jantungnya nyaris melompat keluar. Di sana, Arkan sedang menyesap segelas wiski. Cahaya bulan yang masuk menyinari separuh wajahnya, membuatnya tampak seperti predator yang sedang menunggu mangsa. "Arkan? Sejak kapan kamu di sana?" suara Luna bergetar. "Sejak kamu mulai menatap jam setiap lima menit sekali," Arkan bangkit, meletakkan gelasnya di atas meja dengan denting yang mematikan. "Kamu pikir aku tidak tahu Adrian mengirimkan pesan? Kamu pikir sistem keamanan rumah ini membiarkan sinyal asing masuk tanpa terdeteksi?" Luna mundur selangkah, napasnya memburu. "Kalau kamu tahu, kenapa kamu membiarkanku?" "Karena aku ingin tahu," Arkan melangkah mendekat, langkah kakinya tidak bersuara d

  • ISTRI KONTRAK SANG CEO DINGIN   penghianatan di balik dinding kamar

    Malam semakin larut, namun amarah di dada Arkan justru semakin berkobar. Laporan medis itu masih menyala di layar tabletnya, seolah menertawakan kebodohannya yang sempat merasa "terikat" secara emosional semalam. Bodoh," desis Arkan pada dirinya sendiri. "Kamu pikir dia mulai menyerah, ternyata dia sedang membangun benteng." Tanpa mengetuk, Arkan membuka pintu kamar dengan kunci cadangan. Suara pintu yang membentur dinding membuat Luna yang sedang meringkuk di atas ranjang tersentak bangun. "Arkan? Apa yang kamu lakukan? Aku bilang aku butuh waktu sendiri!" Luna bangkit, mencoba menutupi kegugupannya. Arkan tidak menjawab. Ia melangkah mendekat dengan tatapan sehitam jelaga, lalu melemparkan tabletnya ke atas kasur, tepat di depan Luna. "Jelaskan ini padaku, Luna. Sekarang." Luna meraih tablet itu. Begitu matanya membaca baris tentang jejak kontrasepsi, tubuhnya membeku. Warna di wajahnya hilang seketika. "Arkan, ini..." "Kamu meminumnya?" suara Arkan rendah, namun mengandung a

  • ISTRI KONTRAK SANG CEO DINGIN   sabotase dalam darah

    Kalimat "hanya wadah" itu bergetar di telinga Luna, memantul di dinding marmer lorong yang dingin. Di dalam ruang periksa yang steril, Dokter Hendra mulai menyiapkan peralatan medisnya. Aroma alkohol menyengat, menggantikan wangi parfum mawar Ibu Rina yang menyesakkan."Silakan berbaring, Nyonya Luna," ucap Dokter Hendra datar.Luna menuruti perintah itu dengan kaku. "Apa yang akan Anda periksa, Dok? Bukankah ini terlalu dini?""Hanya pengambilan sampel darah untuk melihat profil hormon dan kesiapan rahim," jelas sang dokter tanpa ekspresi. "Nyonya Besar tidak ingin ada spekulasi. Beliau ingin kepastian angka.""Angka," bisik Luna getir. "Semuanya memang hanya soal angka di rumah ini."Saat jarum suntik menusuk kulitnya, Luna tidak meringis. Rasa sakit fisik itu tidak sebanding dengan rasa hina yang merayap di dadanya. Sementara itu, di ruang tamu, suasana jauh lebih panas. Begitu Luna menghilang di balik pintu, Arkan langsung berbalik menghadap ibunya."Wadah? Apa Ibu sadar betapa

  • ISTRI KONTRAK SANG CEO DINGIN   sisa semalam dan altar perjanjian

    Pagi menyapa dengan keheningan yang berbeda. Tidak ada lagi ketegangan yang meledak-ledak, melainkan rasa canggung yang tebal seperti kabut. Luna terbangun dengan posisi Arkan yang sudah tidak ada di sampingnya, meninggalkan sisi ranjang yang masih hangat. Saat Luna turun ke lantai bawah, ia menemukan Arkan sedang berdiri di dekat jendela besar ruang makan, menyesap kopi hitamnya sambil menatap taman yang basah oleh embun. "Kamu sudah bangun," ucap Arkan tanpa menoleh. "Aku tidak bisa tidur lagi," balas Luna sambil menarik kursi, suaranya masih sedikit serak. "Jam berapa sekarang?" "Masih sangat pagi. " Arkan berbalik, menatapnya dengan intensitas yang membuat Luna ingin membuang muka. "Tentang semalam..." "Jangan dibahas, Arkan," potong Luna cepat. "Kita sudah melakukannya. Tugas sudah selesai untuk saat ini. Bukankah itu yang tertulis di dokumen?" Arkan meletakkan cangkirnya dengan denting yang cukup keras. "Kenapa setiap kali aku mencoba bicara sebagai manusia, kamu selalu me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status