共有

langkah menuju belenggu

作者: arselaa
last update 最終更新日: 2025-09-28 13:01:24

Setelah bayangan Alisa menghilang di balik pintu lift, koridor kembali ke dalam keheningan yang menekan. Arkan tidak memberikan ruang bagi Luna untuk memproses hinaan yang baru saja diterimanya. Ia hanya melirik jam di pergelangan tangannya, lalu menatap Luna dengan sorot mata yang tak terbaca.

"Ayo," ucap Arkan singkat. "Kita sudah terlambat sepuluh menit."

Luna mengatur napasnya yang sempat sesak akibat konfrontasi dengan Alisa. Ia mengikuti langkah lebar Arkan menuju lift khusus yang akan membawa mereka langsung ke area parkir bawah tanah. Selama di dalam lift, Luna memberanikan diri untuk bersuara.

"Tuan... apakah wanita tadi benar-benar bagian dari rencana keluarga Anda?" tanya Luna dengan suara rendah.

Arkan tidak menoleh. Ia menatap pantulan dirinya di dinding lift yang mengkilap. "Alisa adalah putri dari mitra bisnis utama kakekku. Pernikahan kami seharusnya menjadi kesepakatan bisnis terbesar tahun ini. Tapi, aku tidak suka dipaksa, Luna. Terutama jika menyangkut masa depanku."

"Jadi saya hanya alat untuk Anda memberontak?" Luna tersenyum getir. "Sangat ironis. Anda membebaskan diri dari paksaan keluarga dengan cara memaksa orang lain."

Lift berdenting terbuka sebelum Arkan sempat menjawab. Ia melangkah keluar dan membukakan pintu mobil SUV untuk Luna—bukan karena sopan santun, melainkan karena ia ingin memastikan Luna segera masuk dan sandiwara mereka berlanjut ke tahap hukum.

Perjalanan menuju Kantor Sipil terasa seperti perjalanan menuju tiang gantungan bagi Luna. Di dalam mobil, Arkan mengeluarkan sebuah map biru dan meletakkannya di pangkuan Luna.

"Bacalah. Itu dokumen yang akan kita serahkan. Pastikan kau tidak ragu saat petugas bertanya nanti," perintah Arkan.

Luna membuka map itu. Di sana tertera data dirinya, bersanding dengan nama Arkan Wijaya. Melihat dua nama itu di atas kertas yang sama membuat perut Luna mulas. "Hanya satu tahun, kan?" bisik Luna meyakinkan diri nya sendiri.

"Hanya satu tahun," sahut Arkan tanpa ekspresi. "Selama kau bisa memberikan apa yang ibuku minta."

Kalimat itu kembali mengingatkan Luna pada syarat "cucu". Ia ingin memprotes, namun mobil sudah berhenti di depan sebuah gedung pemerintah yang megah. Alex sudah menunggu di sana, memegang tas kerja berisi berkas-berkas tambahan.

Proses di dalam kantor sipil berlangsung jauh lebih cepat dari yang Luna bayangkan. Tidak ada pesta, tidak ada bunga, hanya ada aroma kertas tua dan tinta stempel. Saat giliran mereka tiba, Luna duduk di samping Arkan di depan seorang petugas yang tampak bosan.

"Nona Luna Clarissa, apakah Anda yakin melakukan pernikahan ini tanpa paksaan?" tanya petugas itu sambil menatap Luna melalui kacamatanya.

Jeda itu terasa sangat lama. Luna melirik Arkan dari sudut matanya. Pria itu duduk tegak, tangannya yang besar berada di atas meja, tidak jauh dari tangan Luna. Arkan tidak menatapnya, namun auranya seolah berkata: Satu kata salah, dan satu miliar denda akan menjeratmu.

"Ya," jawab Luna lirih. "Saya yakin."

Setelah beberapa tanda tangan dibubuhkan, petugas itu membubuhkan stempel resmi. "Selamat, Tuan dan Nyonya Wijaya. Kalian sekarang resmi menikah di mata hukum."

Luna menatap buku nikah di tangannya. Ia merasa ada rantai yang tidak terlihat baru saja mengikat pergelangan kakinya. Saat mereka keluar dari gedung, Arkan tiba-tiba berhenti di anak tangga terakhir. Ia membalikkan badan menghadap Luna, menatapnya dengan intensitas yang berbeda dari sebelumnya.

"Sekarang kau adalah tanggung jawabku sepenuhnya," ujar Arkan. Suaranya tidak lagi sedingin es, namun memiliki nada kepemilikan yang lebih menakutkan.

"Apa rencana selanjutnya? Kembali ke kantor?" tanya Luna.

Arkan menyeringai tipis, sebuah ekspresi yang membuat Luna merasa tidak aman. "Tidak. Sebagai pengantin baru, ibuku sudah menyiapkan 'hadiah' yang tidak bisa kita tolak. Kita tidak akan kembali ke apartemenmu malam ini."

"Maksud Anda?"

Arkan mendekat, berbisik tepat di telinga Luna yang kini telah sah menjadi istrinya. "Alex sudah memindahkan semua barangmu ke rumah utama Wijaya. Dan malam ini, kita akan menempati kamar yang sama. Di bawah pengawasan langsung ibuku."

Wajah Luna memucat. Ia baru saja menyadari bahwa sandiwara ini bukan lagi sekadar kontrak kerja di siang hari, melainkan perjuangan untuk mempertahankan dirinya di malam hari.

"Dan satu hal lagi," Arkan menambahkan sambil menarik Luna menuju mobil yang sudah menunggu. "Jangan pernah berpikir untuk tidur di sofa. Di mata Ibuku, kita adalah pasangan yang saling memuja. Jika dia melihat sedikit saja jarak di antara kita, dia akan curiga, dan kau tahu apa artinya itu."

Luna hanya bisa terdiam, mematung di kursi penumpang saat SUV mewah itu membelah jalanan kota menuju kediaman utama Wijaya. Setiap meter yang mereka lalui terasa seperti langkah kaki yang membawanya semakin dalam ke dalam jebakan.

Sesampainya di rumah besar itu, suasana terasa berbeda. Beberapa pelayan membungkuk hormat menyambut mereka. "Selamat datang, Tuan, Nyonya," ucap mereka serempak. Sebutan 'Nyonya' itu terdengar seperti lonceng kematian bagi Luna.

Di dalam, Nyonya Rina sudah menunggu di puncak tangga megah dengan senyum yang sulit diartikan. "Ah, pengantin baru sudah pulang. Kamar kalian sudah siap. Aku sendiri yang memastikan lilin aromaterapi dan suasana di dalamnya sempurna untuk malam pertama kalian."

Arkan merangkul pinggang Luna dengan erat, memberikan tekanan yang memerintah agar Luna tetap tenang. "Terima kasih, Ma. Kami memang butuh istirahat."

Mereka melangkah menaiki tangga, melewati Nyonya Rina yang terus mengawasi dengan mata elangnya. Saat mereka sampai di depan pintu kamar utama yang besar, Arkan membukanya dan mendorong Luna masuk ke dalam.

Pintu tertutup dengan suara dentuman pelan namun tegas. Arkan mengunci pintu dari dalam, lalu berbalik menatap Luna yang berdiri gemetar di tengah ruangan .

"Jangan hanya berdiri di sana," desis Arkan sambil mulai melonggarkan dasinya. "Kamera di sudut ruangan itu terhubung langsung ke ruang kerja Ibuku. Dia ingin memastikan kita benar-benar 'sibuk' malam ini."

Luna membelalak, menoleh ke arah kamera kecil yang tersembunyi di balik hiasan dinding. Ia menyadari bahwa di rumah ini, tidak ada satu inci pun privasi baginya. Ia benar-benar telah menjadi tawanan dalam sandiwara yang mengerikan ini.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • ISTRI KONTRAK SANG CEO DINGIN   Kebenaran Yang Tersembunyi

    Keesokan paginya, suasana di mansion terasa sangat tegang namun sunyi. Arkan sudah berangkat ke kantor sejak pagi, meninggalkan Luna sendirian dalam pengawasan Ibu Rina. Ibu Rina tidak membuang waktu. Ia masuk ke kamar Luna saat menantunya itu sedang mandi. Dengan tangan yang terbungkus sarung tangan sutra, ia mengambil beberapa helai rambut Luna dari sisir meja rias, lalu mengambil sikat gigi cadangan yang sempat dipakai Luna semalam. "Kau tidak akan pernah menjadi bagian dari keluarga ini, Luna," desis Ibu Rina sambil memasukkan sampel itu ke dalam plastik klip. "Jika benar kau adalah darah daging Bramasta, aku akan memastikan kau lenyap sebelum Ayah sempat menyadarinya." Beberapa jam kemudian, di sebuah sudut kafe yang gelap, Ibu Rina menyerahkan amplop berisi sampel tersebut kepada Reno. "Lakukan tes DNA ini sekarang. Bandingkan dengan sampel biologis Bramasta yang tersimpan di arsip rumah sakit keluarga," perintah Ibu Rina. Reno menerima amplop itu dengan senyum miring. "Te

  • ISTRI KONTRAK SANG CEO DINGIN   Benih Yang Tertanam Dibalik Duri

    kilas balik ​Malam itu hujan turun sangat deras, namun teriakan di dalam ruang kerja Tuan Besar Wijaya jauh lebih menderu. Sari Adiwangsa, seorang wanita muda yang saat itu menjabat sebagai sekretaris pribadi kepercayaan keluarga, berdiri gemetar di hadapan Tuan Besar. Wajahnya pucat, tangannya mendekap perutnya yang mulai membuncit. ​"Aku mencintainya, Tuan Besar. Dan dia juga mencintaiku," bisik Sari dengan suara pecah. ​Tuan Besar Wijaya tidak bergeming. Ia berdiri menghadap jendela, menatap kegelapan. "Cinta adalah racun bagi ahli waris Wijaya, Sari. Putraku sudah menikah dengan Rina. Pernikahan itu adalah pilar bisnis kita. Apa yang kau kandung saat ini... adalah aib yang bisa meruntuhkan segalanya." ​Tiba-tiba, pintu ruang kerja terbanting terbuka. Bramasta, putra tunggal Tuan Besar sekaligus suami Rina, masuk dengan napas memburu. Pakaiannya basah kuyup karena hujan. Ia langsung berdiri di depan Sari, melindunginya dari tatapan tajam ayahnya. ​"Hentikan, Ayah!" teriak Br

  • ISTRI KONTRAK SANG CEO DINGIN   Silsilah Yang Berduri

    Suara langkah kaki Ibu Rina bergema di koridor yang sunyi saat ia menuruni tangga, mengabaikan tatapan bingung para pelayan yang melihatnya pergi dengan wajah sedingin es. Di taman, Luna merasa jantungnya berdegup lebih kencang saat melihat sosok mertuanya muncul di ambang pintu kaca, lalu melenggang pergi begitu saja tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. "Dia sudah pergi," bisik Luna, jemarinya masih kotor oleh tanah dari pot melati. "Tapi sorot matanya tadi... dia benar-benar tidak akan membiarkanku tenang, Arkan." Arkan tidak langsung menjawab. Ia justru menarik sapu tangan dari saku jasnya, meraih tangan Luna, dan mulai mengusap noda tanah di jemari istrinya dengan gerakan perlahan namun tegas. "Ibu bukan tipe orang yang menyerah hanya karena satu kegagalan," ujar Arkan, matanya fokus pada tangan Luna. "Baginya, kegagalan hanyalah penundaan kecil. Dia akan mencari cara lain untuk menyerangmu." Luna menarik tangannya dengan gusar, merasa tidak nyaman dengan perhatian Arkan.

  • ISTRI KONTRAK SANG CEO DINGIN   Hak Milik Yang Mematikan

    Ibu Rina mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. "Tentu tidak, Ayah. Aku hanya... memikirkan protokol keluarga," jawabnya dengan suara yang dipaksakan tenang, meski api kemarahan berkobar di matanya. Tuan Besar Wijaya tidak menghiraukan pembelaan menantunya. Beliau beralih kembali pada Luna, lalu menepuk punggung tangan wanita itu dengan lembut. "Ingat, Luna. Di keluarga ini, kekuatan bukan hanya berasal dari nama belakang, tapi dari apa yang kamu miliki secara sah. Jaga saham itu, dan saham itu akan menjagamu." Setelah Tuan Besar masuk ke dalam rumah untuk bersiap-siap menuju bandara, suasana di taman mendadak membeku. Ibu Rina melangkah maju, berdiri tepat di hadapan Luna hingga ujung sepatu mereka hampir bersentuhan. "Jangan merasa menang, Luna," desis Ibu Rina, suaranya begitu rendah hingga Arkan yang berdiri dua langkah di belakang pun hampir tak mendengarnya. "Saham itu bisa menjadi berkah, namun bisa juga menjadi surat kematianmu. Aku akan memastikan Kak

  • ISTRI KONTRAK SANG CEO DINGIN   Perisai sang Tuan Besar

    Tuan Besar Wijaya tersenyum puas melihat cincin itu melingkar di jari manis Luna. Baginya, permata itu telah menemukan pemilik yang tepat, namun bagi Ibu Rina, kilauan berlian itu terasa seperti bara api yang membakar harga dirinya. "Terima kasih... Kakek," bisik Luna. Berat cincin itu seolah melambangkan beban baru yang harus ia pikul di rumah ini. "Sudah, jangan sungkan. Arkan, bawa istrimu istirahat setelah makan . Wajahnya masih pucat," perintah Tuan Besar sambil menyeka bibirnya dengan serbet sutra. " Rina, ikut aku ke ruang kerja. Ada beberapa dokumen yayasan yang ingin aku bahas bersamamu." Ibu Rina tersentak. Ia sempat melirik tajam ke arah tangga, teringat bahwa Dokter Hendra mungkin masih bersembunyi di atas. Namun, perintah mertuanya adalah titah yang tak terbantahkan. Dengan langkah kaku, ia mengekor di belakang Tuan Besar, meninggalkan Arkan dan Luna di ruang makan yang mendadak terasa hampa. Begitu mereka masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu, Arkan langsung mele

  • ISTRI KONTRAK SANG CEO DINGIN   Tameng Sang Tuan Besar

    Langkah kaki Tuan Besar Wijaya yang berat dan detak tongkatnya terhenti tepat saat pintu di lantai atas terbuka. Arkan muncul sambil merangkul bahu Luna dengan sangat protektif. Meski wajah Luna masih terlihat pucat di balik bedak tipisnya, ia berusaha memberikan senyum kecil yang dipaksakan. "Kakek!" seru Arkan, suaranya kini terdengar lebih tenang namun tetap berwibawa. Tuan Besar Wijaya mendongak. Pandangan matanya yang semula tajam dan penuh selidik, perlahan-lahan berubah menjadi cerah saat melihat sosok wanita yang berdiri di samping cucu kesayangannya. "Arkan... jadi ini istrimu?" gumam Tuan Besar. Senyum tipis mulai muncul di wajah tuanya yang keras. Saat Arkan memandu Luna turun dan sampai di hadapan Tuan Besar, Arkan segera memperkenalkan istrinya. "Kek, perkenalkan. Ini Luna, istri Ku. Maaf kami belum sempat sowan ke kediaman Kakek." Luna membungkuk dengan sangat hormat, mencoba menyembunyikan tangannya yang masih sedikit gemetar di balik gaunnya. "Selamat siang, Tuan

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status