LOGIN"Sudah, Arka... aahhh..." cletuk Naura pasrah. Sial sekali, mulutnya selalu saja berkhianat dari keinginan akal sehatnya setiap kali Arka memberikan sentuhan-sentuhan magis tersebut."Sudah atau lanjut, Sayang?" goda Arka. Jemari tangannya membuka perlahan area intim Naura, memperhatikan dengan jelas bagaimana area sensitif wanita itu yang sedikit membengkak dan basah akibat ulahnya. "Kamu sebecek ini loh?""Shut up. Itu semua gara-gara kamu, sialan!" balas Naura dengan napas masih memburu. Ia berusaha menoleh ke bawah, hanya untuk menyadari posisinya yang begitu terekspos di hadapan wajah Arka. Sebenarnya posisi ini sangat memalukan bagi Naura. Hanya saja, entah mengapa ketika merasakan usapan lidah dan hembusan napas pria itu di sana, rasa malu itu melayang terbang entah ke mana. "Arka... berhenti menjilatnya.""Enak, kan? Kamu mau juga?" tawar Arka dengan seringai tipis."Tidak," sahut Naura cepat tanpa berpikir. Yang benar saja, ia sama sekali tidak tertarik untuk mencicipi cairan
Pagi menyapa dengan tembusan sinar matahari tipis yang menerobos di sela-sela tirai kamar, membawa kehangatan yang kontras dengan sisa-sisa gairah semalam. Naura perlahan membuka matanya, merasakan sensasi berat dan hangat di sekujur tubuhnya. Pikirannya masih dipenuhi kabut antara sadar dan mimpi, sampai akhirnya ia menyadari posisi tubuhnya. Arka berbaring sangat dekat dengannya dari belakang, merengkuh pinggangnya erat-erat dalam dekapan yang begitu protektif.Sensasi asing yang berdenyut di selangkangannya, ditambah dengan aroma khas penyatuan mereka yang masih menguar pekat di udara kamar, menjadi bukti tak terbantahkan. Semua yang terjadi tadi malam bukanlah sekadar mimpi erotis yang hadir dalam tidurnya, melainkan kenyataan manis sekaligus melelahkan yang benar-benar telah mereka lewati bersama."Gadis gila!" umpat Naura dalam hatinya sendiri, meratapi keputusannya yang begitu mudah terpesona pada pria di belakangnya ini."Sudah bangun, hm?" Suara berat dan serak khas Arka terd
Isakan Naura perlahan mereda, menyisakan hembusan napas pendek dan sesenggukan kecil yang bergetar di dada Arka. Keheningan kembali menguasai kamar yang temaram itu, menyisakan deru angin laut di luar dan irama detak jantung Arka yang teratur di balik kemejanya.Kemeja putih Arka di bagian dada basah dan sedikit kusut akibat air mata serta remasan jemari Naura. Namun, pria itu sama sekali tidak peduli. Lengannya masih melingkar di pinggang Naura, menjaga wanita itu agar tetap menempel rapat dalam dekapannya.Arka merenggangkan pelukannya sedikit untuk memberi jarak agar ia bisa menatap wajah Naura. Ibu jarinya yang hangat mengusap sisa air mata di pipi wanita itu dengan sangat hati-hati, seolah takut menggores kulit halusnya."Sudah lebih tenang?" bisik Arka lembut, suaranya yang serak dan berat terdengar begitu dekat di telinga Naura.Naura menunduk rapat, mengangguk lemah. Wajahnya terasa panas bukan lagi karena sisa mual atau lelah, melainkan karena rasa malu yang seketika menyerua
"Iya?"Empat mata saling bertemu di tengah sunyinya kamar yang remang. Semburat jingga di balik jendela kaca berangsur memudar, digantikan gelapnya malam yang merayap turun menyelimuti Pulau Jeju. Arka memandang Naura yang bersandar pada kepala ranjang. Ada helaan napas pendek yang keluar dari bibir pria itu sebelum akhirnya ia membuka suara."Kenapa melamun?" tanyanya dengan nada rendah yang terdengar begitu tenang di tengah udara senja yang dingin. "Apa pemandangan di luar jendela itu lebih menarik daripada aku?"Naura tersentak kecil. Ia mengalihkan pandangannya dari ufuk senja, kemudian mengusap tengkuk yang terasa sedikit pegal. "Tidak... aku cuma ingin melihat sunset saja kok."Senyum tipis terukir di sudut bibir Arka. Matanya mengamati sisa-sisa kelelahan yang masih tergambar jelas di wajah Naura. Dengan gerakan ringan, ia membenarkan posisi selimut yang menutupi tubuh wanita itu. "Istirahat, Naura. Biar kamu cepat sembuh."Naura hanya mengangguk kecil. "Mmm."Arka membereskan
Arka membeku di depan pintu. Isak tangis yang terdengar samar dari balik pintu membuat senyum tipis di wajahnya lenyap seketika. Jemarinya yang menggenggam nampan kayu mengencang hingga ruas-ruas jarinya memutih.Itu suara Naura. Meski berusaha ditahan, ia tetap mengenali suara lirih itu. Jantung Arka berdegup sedikit lebih cepat. Dalam hitungan detik, berbagai kemungkinan bermunculan di kepalanya. Apa rasa mual itu kembali menyerang? Apa obat yang diresepkan Dokter Han belum sempat diminum? Atau... kondisinya justru memburuk setelah ia meninggalkannya beberapa jam yang lalu?Tanpa berpikir panjang, Arka segera memutar gagang pintu.Cklek.Daun pintu terbuka sedikit. Suara tangisan yang tadi terdengar jelas mendadak berhenti. Pandangan Arka langsung menemukan sosok Naura yang masih terduduk di atas ranjang. Wanita itu tampak buru-buru mengusap kedua pipinya menggunakan punggung tangan, lalu memalingkan wajah ke arah jendela seolah tidak ingin terlihat.Sayangnya semua sudah terlambat.
Sinar matahari sore menembus celah tirai tipis, memantulkan semburat keemasan ke lantai kamar. Keheningan menyelimuti ruangan hingga bulu mata Naura bergerak perlahan sebelum akhirnya kedua matanya terbuka.Ia mengerjapkan mata beberapa kali. Kepalanya masih terasa berat, meski tidak lagi separah siang tadi. Rasa mual di lambungnya pun mulai mereda, hanya menyisakan tubuh yang masih lemas dan tenggorokan yang sedikit pahit.Pelan-pelan ia bangkit, menyandarkan tubuh pada headboard ranjang. Pandangannya berkeliling menyapu kamar yang lengang. Arka tidak terlihat. Hanya segelas air hangat di atas nakas serta beberapa obat yang masih tersusun rapi dan belum tersentuh.Tatapan Naura kemudian beralih ke ponsel yang tergeletak di samping gelas. Begitu layar menyala, notifikasi langsung bermunculan tanpa henti. Belasan panggilan tak terjawab. Beberapa pesan suara. Puluhan chat yang sebagian besar berasal dari Vanessa. Namun, satu nama membuat jemarinya seketika membeku.Dion.Belum sempat Na
Hujan mengguyur Jakarta dengan intensitas yang seolah ingin menenggelamkan kota.Di dalam D’Jenama Studio yang luas, hawa dingin dari mesin pendingin ruangan beradu dengan panasnya lampu-lampu tungsten berkekuatan ribuan watt. Aroma hairspray, perhiasan mahal, dan bedak tabur memenuhi udara.Naura C
Kilatan lampu strobo di studio foto itu terasa seperti tembakan beruntun.Di tengah set pemotretan yang didekorasi minimalis namun mewah, Naura Callista Wijaya bergerak dengan presisi seorang profesional. Setiap kemiringan dagunya, setiap gerakan bahunya, setiap tatapan matanya. Semua adalah hasil d
Naura belum menyadari bahwa poin berikutnya dalam kontrak itu akan jauh lebih berbahaya dari yang ia bayangkan.Arka kembali membaca. "Poin ketiga. Privasi."Ia mengetuk kontrak itu dengan jarinya. "Kita tidak boleh mencampuri urusan pekerjaan masing-masing." Tatapannya tajam. "Aku tidak akan bertan
Suara tepuk tangan menggema di aula Hotel Grand Mahardika saat Arka Rajendra Mahardika berdiri di podium dengan satu tangan melingkar di pinggang Naura Callista Wijaya.Dari kejauhan, pemandangan itu tampak sempurna. Seorang pria berpengaruh yang berdiri bangga di samping wanita yang akan menjadi is







