Compartilhar

Bab 7

Autor: Mami lily
last update Data de publicação: 2026-11-01 19:42:40

​"Mas Bayu! Mas mau ke mana?!"

​Anin berlari keluar dari kamar bawah, menghadang langkah dr. Bayu tepat di depan pintu utama. Matanya membelalak menatap tongkat kayu yang digenggam erat di tangan kanan suaminya.

​Bayu menghentikan langkahnya. Sepasang mata elangnya menatap Anin dingin, tanpa ada keraguan sedikit pun. "Minggir, Anin."

​"Mas, jangan nekat! Baskoro cuma... dia cuma mau bicara!" tegur Anin dengan suara bergetar panik. Tangannya berusaha menahan lengan kemeja Bayu.

​"Bicara di depan rumah orang lain jam sebelas malam?" tegur Bayu dengan nada sarkastik yang tajam. "Itu bukan mau bicara, Anin. Itu namanya menantang. Dan saya tidak suka rumah saya diusik oleh pria asing."

​Klik.

​Bayu membuka selot pintu depan tanpa memedulikan cegahan Anin, lalu melangkah lebar menembus dinginnya angin malam menuju pintu pagar. Anin menyusul dari belakang dengan jantung yang berdegup kencang bagai dihantam palu.

​Di luar pagar, Baskoro yang sedang menyesap rokoknya tampak terkejut melihat kehadiran dr. Bayu. Namun, bukannya gentar, pria berjaket kulit itu justru menegakkan badannya dan mematikan puntung rokok di bawah pijakan sepatunya.

​Bayu membuka pintu pagar besi dengan satu dorongan kencang. Ia berdiri tegap, menatap Baskoro dari jarak dua meter.

​"Ada urusan apa Anda berdiri di depan rumah saya malam-malam begini, Saudara Baskoro?" tanya Bayu, suara baritonnya bergaung tenang namun amat menekan.

​Baskoro tertawa tipis, membuang napas penuh nada ejekan. "Saya tidak ada urusan dengan Anda, dr. Bayu. Saya di sini mau bertemu Anin. Saya mau minta jawaban atas tawaran saya tadi sore."

​"Anin adalah istri saya," potong Bayu cepat, melangkah satu tapak lebih maju hingga bayangan tubuh tingginya menutupi sosok Baskoro. "Setiap urusan yang melibatkan Anin adalah urusan saya. Dan jawaban untuk tawaran absurd Anda ke London sudah jelas: TIDAK."

​"Biarkan Anin sendiri yang bicara!" bentak Baskoro, matanya beralih menatap Anin yang berdiri gemetar di balik tubuh Bayu. "Nin! Kamu benar-benar mau mengubur hidupmu di sini? Pria ini cuma memanfaatkanmu buat menggantikan posisi Mbak Fera!"

​"Tutup mulutmu, Baskoro!" bentak Anin, air matanya menetes karena panik dan malu atas keributan di tengah malam ini. "Pergi dari sini, Bas! Aku mohon, pergi!"

​"Kamu dengar sendiri, kan?" sambung Bayu dengan nada dingin yang menusuk. Ia menggeser tongkat kayu di tangannya, mengetukkannya pelan ke atas aspal. "Pergi dari area rumah saya sekarang sebelum saya menghubungi kepolisian atas tuduhan perbuatan tidak menyenangkan dan pengancaman."

​Baskoro mengepalkan kedua tangannya erat-erat. Matanya merah menatap Bayu penuh kebencian, lalu beralih menatap Anin dengan raut kecewa yang mendalam.

​"Aku pergi malam ini, Nin," kata Baskoro parau. "Tapi ingat... aku akan tetap ada di kota ini sampai pameranmu selesai. Kalau kamu berubah pikiran dan butuh kebebasanmu kembali, hubungi aku."

​Tanpa menunggu balasan lagi, Baskoro berbalik kaku, masuk ke dalam mobil sedannya, dan memacu kendaraannya pergi meninggalkan raungan mesin yang memecah sepinya kompleks perumahan.

​Keheningan mendadak melingkupi area depan rumah. Hujan gerimis mulai menetes pelan menyapu kulit.

​Bayu memutar badannya perlahan, menatap Anin yang berdiri menunduk terisak di balik pagar. Pria itu berjalan mendekat, menutup pintu pagar besi, lalu menguncinya rapat-rapat.

​"Masuk ke dalam," perintah Bayu datar, melepaskan cengkeramannya dari tongkat kayu.

​Anin melangkah masuk ke dalam rumah dengan tubuh yang gemetar dingin. Begitu pintu depan tertutup, Anin berbalik menatap suaminya dengan tatapan marah sekaligus lelah.

​"Mas puas sekarang?!" jerit Anin parau. "Puas bikin keributan kayak tadi?!"

​"Saya tidak bikin keributan, Anin. Saya melindungi martabat keluarga ini," jawab Bayu tenang, meletakkan tongkat kayu di sudut dinding. "Lain kali, jika pria itu menghubungi kamu lagi, serahkan ponselmu pada saya."

​"Anin bukan anak kecil yang harus Mas atur-atur!" tegur Anin sengit. "Mas itu cuma suami di atas kertas! Jangan bertindak seolah-olah Mas benar-benar cinta sama Anin!"

​Bayu menghentikan gerakannya. Pria kaku itu menoleh perlahan, menatap Anin lekat-lekat dari balik kacamatanya. Ada kilat emosi asing yang berkilat di dasar matanya yang biasanya dingin bagai es.

​Bayu melangkah mendekati Anin hingga jarak mereka terkikis habis. Aroma antiseptik dan maskulin yang khas dari tubuhnya mendadak mengurung Anin, membuat gadis itu bernapas memburu.

​"Kamu pikir... pernikahan ini hanya permainan untuk saya, Anin?" bisik Bayu dengan suara parau yang amat dalam.

​Sebelum Anin sempat menjawab, suara jeritan histeris pengasuh Arumi dari lantai atas mendadak memecah keheningan rumah.

​"Dokter Bayu! Tolong, Dok! Mbak Anin! Tubuh Dek Arumi mendadak kejang dan badannya panas sekali!"

​

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • ISTRI PENGGANTI DOKTER PERFEKSIONIS   BAB 9

    ​"Anin! Anin, bangun!"​Suara bariton dr. Bayu yang biasanya tenang kini dipenuhi getaran panik. Pria itu menyangga punggung Anin, membopong tubuh ringkih istrinya dari lantai keramik yang dingin dan membaringkannya perlahan di atas ranjang utama.​Wajah Anin yang biasanya kemerahan penuh semangat kini pucat pasi. Bibirnya kering bergetar, dan deru napasnya terdengar amat berat. Kelelahan fisik usai pameran kampus, ditambah tekanan emosional dan aksi begadang menjaga Arumi semalaman, telah meruntuhkan daya tahan tubuh gadis itu.​Bayu dengan cepat mengambil stetoskop dan termometer dari tas medisnya. Saat ujung termometer berbunyi bip, layar digital menunjukkan angka 39,2 derajat Celsius.​"Nekat..." gumam Bayu parau, meremas termometer di tangannya. Matanya menatap raut wajah Anin yang terpejam rapat. Ada rasa bersalah yang amat dalam yang mendadak menghantam dada pria kaku itu.​Suster pengasuh masuk membawa mangkuk berisi air hangat dan handuk kecil. "Dokter Bayu... Mbak Anin kenap

  • ISTRI PENGGANTI DOKTER PERFEKSIONIS    Bab 8

    ​"Arumi!"​Jeritan Anin memecah keheningan rumah. Tanpa memedulikan pertengkarannya dengan dr. Bayu beberapa detik lalu, Anin melompati anak tangga menuju lantai dua dengan jantung yang berdegup kencang bagai mau pecah.​Di dalam kamar utama, bayi Arumi terbaring kaku di atas tempat tidur. Tubuh mungilnya berguncang hebat akibat kejang demam. Matanya mendelik ke atas, dan bibirnya yang kecil mulai membiru.​Anin merosot bersimpuh di tepi ranjang. Air matanya seketika tumpah menatap kondisi bayi mungil itu. "Arumi! Ya Allah, Nak... Mas Bayu, cepat ke sini!"​dr. Bayu melangkah masuk ke kamar dengan napas memburu. Namun, begitu melihat kondisi anaknya, naluri dokternya yang terlatih secara otomatis mengambil alih. Wajahnya yang kaku berubah menjadi amat serius dan tenang—sebuah ketenangan profesional yang menutupi rasa panik di dasar hatinya.​"Anin, miringkan tubuh Arumi sekarang! Jaga jalan napasnya!" perintah Bayu tegas namun dengan suara terukur.​Pria itu berlutut di samping Anin,

  • ISTRI PENGGANTI DOKTER PERFEKSIONIS   Bab 7

    ​"Mas Bayu! Mas mau ke mana?!"​Anin berlari keluar dari kamar bawah, menghadang langkah dr. Bayu tepat di depan pintu utama. Matanya membelalak menatap tongkat kayu yang digenggam erat di tangan kanan suaminya.​Bayu menghentikan langkahnya. Sepasang mata elangnya menatap Anin dingin, tanpa ada keraguan sedikit pun. "Minggir, Anin."​"Mas, jangan nekat! Baskoro cuma... dia cuma mau bicara!" tegur Anin dengan suara bergetar panik. Tangannya berusaha menahan lengan kemeja Bayu.​"Bicara di depan rumah orang lain jam sebelas malam?" tegur Bayu dengan nada sarkastik yang tajam. "Itu bukan mau bicara, Anin. Itu namanya menantang. Dan saya tidak suka rumah saya diusik oleh pria asing."​Klik.​Bayu membuka selot pintu depan tanpa memedulikan cegahan Anin, lalu melangkah lebar menembus dinginnya angin malam menuju pintu pagar. Anin menyusul dari belakang dengan jantung yang berdegup kencang bagai dihantam palu.​Di luar pagar, Baskoro yang sedang menyesap rokoknya tampak terkejut melihat ke

  • ISTRI PENGGANTI DOKTER PERFEKSIONIS   bab 6

    ​"Siapa yang berkirim pesan malam-malam begini?"​Suara bariton dr. Bayu terdengar sangat dingin, memecah keheningan di dalam mobil sedan yang sedang berhenti di lampu merah. Matanya melirik tajam ke arah layar ponsel di genggaman Anin yang masih menyala terang.​Anin dengan cepat mematikan layar ponselnya dan memasukkannya kembali ke dalam tas. Tangannya gemetar tipis.​"Bukan siapa-siapa, Mas. Cuma grup kampus," kilah Anin cepat, berusaha memalingkan wajah menatap keluar kaca mobil.​Bayu tidak membalas. Pria itu menginjak pedal gas dalam-dalam begitu lampu berubah hijau. Mobil meluncur kencang membelah jalanan malam Kota Surabaya menuju rumah. Tidak ada pembicaraan lagi di antara mereka hingga mobil berhenti sempurna di dalam garasi.​Begitu melangkah masuk ke dalam rumah, Anin langsung berjalan menuju kamar bawah. Namun, langkahnya terhenti saat Bayu memanggilnya dari arah dapur dengan nada datar.​"Anin, tunggu sebentar."​Anin berbalik, menatap suaminya yang sedang melepas kacam

  • ISTRI PENGGANTI DOKTER PERFEKSIONIS   BAB 5

    ​Ruang galeri utama kampus dipenuhi oleh keriuhan mahasiswa, dosen, dan pengunjung pameran karya interior tahunan. Cahaya lampu sorot menerangi puluhan maket dan instalasi seni yang terpajang anggun. Di tengah keriuhan itu, Anin berdiri di depan sebuah instalasi kayu berkonsep rustic buatannya sendiri. Gadis itu mengenakan kemeja oversized kotak-kotak, celana jins, dan jilbab kaos yang praktis. Senyumnya terkembang lebar—di sini, di antara bau kayu, cat, dan tatanan karya, Anin merasa kembali menemukan jiwanya yang merdeka ​Namun, binar bahagia di wajahnya mendadak surut saat sebuah suara familiar memanggil namanya dari arah pintu masuk galeri. ​"Anin?" ​Anin berbalik. Seorang pria tinggi berjaket kulit cokelat dengan kamera DSLR terkalung di lehernya sedang melangkah mendekat. Wajahnya yang tegas berhiaskan senyum hangat yang dulu sangat Anin hafal. ​"Baskoro...?" bisik Anin, matanya membelalak tak percaya. Jantungnya serasa melompat ke tenggorokan. ​Baskoro—pria yang dua

  • ISTRI PENGGANTI DOKTER PERFEKSIONIS   BAB 4

    ​Baru tiga hari Anin menetap di rumah berarsitektur kaku itu, namun aturan ketat dr. Bayu Aditya sudah terasa seperti tembok penjara yang merenggut napas kebebasannya. ​Di rumah ini, segalanya memiliki tata letak presisi. Letak sendok tidak boleh bergeser satu sentimeter pun dari tempatnya, remote televisi harus sejajar dengan tepi meja, dan tidak boleh ada satu helai pakaian pun yang tergeletak di luar keranjang cucian. Setiap sudut rumah menebarkan aroma antiseptik yang steril dan mengintimidasi—seolah-olah Anin sedang tinggal di dalam ruang operasi. ​Namun pagi ini, pertahanan kebersihan dr. Bayu yang diagungkan itu runtuh total oleh tabiat asli Rosalia Anindita. ​"Anin! Apa-apaan ini?!" ​Suara bariton dr. Bayu yang membentak tegas memecah keheningan ruang tengah pukul enam pagi. Pria itu berdiri kaku di ambang pintu, mengenakan setelan kemeja kerja abu-abu yang licin tanpa kelim, celana bahan hitam, dan kacamata minus yang bertengger kaku di hidung mancungnya. Namun, rau

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status