FAZER LOGIN"Anin! Anin, bangun!"Suara bariton dr. Bayu yang biasanya tenang kini dipenuhi getaran panik. Pria itu menyangga punggung Anin, membopong tubuh ringkih istrinya dari lantai keramik yang dingin dan membaringkannya perlahan di atas ranjang utama.Wajah Anin yang biasanya kemerahan penuh semangat kini pucat pasi. Bibirnya kering bergetar, dan deru napasnya terdengar amat berat. Kelelahan fisik usai pameran kampus, ditambah tekanan emosional dan aksi begadang menjaga Arumi semalaman, telah meruntuhkan daya tahan tubuh gadis itu.Bayu dengan cepat mengambil stetoskop dan termometer dari tas medisnya. Saat ujung termometer berbunyi bip, layar digital menunjukkan angka 39,2 derajat Celsius."Nekat..." gumam Bayu parau, meremas termometer di tangannya. Matanya menatap raut wajah Anin yang terpejam rapat. Ada rasa bersalah yang amat dalam yang mendadak menghantam dada pria kaku itu.Suster pengasuh masuk membawa mangkuk berisi air hangat dan handuk kecil. "Dokter Bayu... Mbak Anin kenap
"Arumi!"Jeritan Anin memecah keheningan rumah. Tanpa memedulikan pertengkarannya dengan dr. Bayu beberapa detik lalu, Anin melompati anak tangga menuju lantai dua dengan jantung yang berdegup kencang bagai mau pecah.Di dalam kamar utama, bayi Arumi terbaring kaku di atas tempat tidur. Tubuh mungilnya berguncang hebat akibat kejang demam. Matanya mendelik ke atas, dan bibirnya yang kecil mulai membiru.Anin merosot bersimpuh di tepi ranjang. Air matanya seketika tumpah menatap kondisi bayi mungil itu. "Arumi! Ya Allah, Nak... Mas Bayu, cepat ke sini!"dr. Bayu melangkah masuk ke kamar dengan napas memburu. Namun, begitu melihat kondisi anaknya, naluri dokternya yang terlatih secara otomatis mengambil alih. Wajahnya yang kaku berubah menjadi amat serius dan tenang—sebuah ketenangan profesional yang menutupi rasa panik di dasar hatinya."Anin, miringkan tubuh Arumi sekarang! Jaga jalan napasnya!" perintah Bayu tegas namun dengan suara terukur.Pria itu berlutut di samping Anin,
"Mas Bayu! Mas mau ke mana?!"Anin berlari keluar dari kamar bawah, menghadang langkah dr. Bayu tepat di depan pintu utama. Matanya membelalak menatap tongkat kayu yang digenggam erat di tangan kanan suaminya.Bayu menghentikan langkahnya. Sepasang mata elangnya menatap Anin dingin, tanpa ada keraguan sedikit pun. "Minggir, Anin.""Mas, jangan nekat! Baskoro cuma... dia cuma mau bicara!" tegur Anin dengan suara bergetar panik. Tangannya berusaha menahan lengan kemeja Bayu."Bicara di depan rumah orang lain jam sebelas malam?" tegur Bayu dengan nada sarkastik yang tajam. "Itu bukan mau bicara, Anin. Itu namanya menantang. Dan saya tidak suka rumah saya diusik oleh pria asing."Klik.Bayu membuka selot pintu depan tanpa memedulikan cegahan Anin, lalu melangkah lebar menembus dinginnya angin malam menuju pintu pagar. Anin menyusul dari belakang dengan jantung yang berdegup kencang bagai dihantam palu.Di luar pagar, Baskoro yang sedang menyesap rokoknya tampak terkejut melihat ke
"Siapa yang berkirim pesan malam-malam begini?"Suara bariton dr. Bayu terdengar sangat dingin, memecah keheningan di dalam mobil sedan yang sedang berhenti di lampu merah. Matanya melirik tajam ke arah layar ponsel di genggaman Anin yang masih menyala terang.Anin dengan cepat mematikan layar ponselnya dan memasukkannya kembali ke dalam tas. Tangannya gemetar tipis."Bukan siapa-siapa, Mas. Cuma grup kampus," kilah Anin cepat, berusaha memalingkan wajah menatap keluar kaca mobil.Bayu tidak membalas. Pria itu menginjak pedal gas dalam-dalam begitu lampu berubah hijau. Mobil meluncur kencang membelah jalanan malam Kota Surabaya menuju rumah. Tidak ada pembicaraan lagi di antara mereka hingga mobil berhenti sempurna di dalam garasi.Begitu melangkah masuk ke dalam rumah, Anin langsung berjalan menuju kamar bawah. Namun, langkahnya terhenti saat Bayu memanggilnya dari arah dapur dengan nada datar."Anin, tunggu sebentar."Anin berbalik, menatap suaminya yang sedang melepas kacam
Ruang galeri utama kampus dipenuhi oleh keriuhan mahasiswa, dosen, dan pengunjung pameran karya interior tahunan. Cahaya lampu sorot menerangi puluhan maket dan instalasi seni yang terpajang anggun. Di tengah keriuhan itu, Anin berdiri di depan sebuah instalasi kayu berkonsep rustic buatannya sendiri. Gadis itu mengenakan kemeja oversized kotak-kotak, celana jins, dan jilbab kaos yang praktis. Senyumnya terkembang lebar—di sini, di antara bau kayu, cat, dan tatanan karya, Anin merasa kembali menemukan jiwanya yang merdeka Namun, binar bahagia di wajahnya mendadak surut saat sebuah suara familiar memanggil namanya dari arah pintu masuk galeri. "Anin?" Anin berbalik. Seorang pria tinggi berjaket kulit cokelat dengan kamera DSLR terkalung di lehernya sedang melangkah mendekat. Wajahnya yang tegas berhiaskan senyum hangat yang dulu sangat Anin hafal. "Baskoro...?" bisik Anin, matanya membelalak tak percaya. Jantungnya serasa melompat ke tenggorokan. Baskoro—pria yang dua
Baru tiga hari Anin menetap di rumah berarsitektur kaku itu, namun aturan ketat dr. Bayu Aditya sudah terasa seperti tembok penjara yang merenggut napas kebebasannya. Di rumah ini, segalanya memiliki tata letak presisi. Letak sendok tidak boleh bergeser satu sentimeter pun dari tempatnya, remote televisi harus sejajar dengan tepi meja, dan tidak boleh ada satu helai pakaian pun yang tergeletak di luar keranjang cucian. Setiap sudut rumah menebarkan aroma antiseptik yang steril dan mengintimidasi—seolah-olah Anin sedang tinggal di dalam ruang operasi. Namun pagi ini, pertahanan kebersihan dr. Bayu yang diagungkan itu runtuh total oleh tabiat asli Rosalia Anindita. "Anin! Apa-apaan ini?!" Suara bariton dr. Bayu yang membentak tegas memecah keheningan ruang tengah pukul enam pagi. Pria itu berdiri kaku di ambang pintu, mengenakan setelan kemeja kerja abu-abu yang licin tanpa kelim, celana bahan hitam, dan kacamata minus yang bertengger kaku di hidung mancungnya. Namun, rau







