공유

BAB 9

작가: Mami lily
last update 게시일: 2026-11-05 18:10:14

​"Anin! Anin, bangun!"

​Suara bariton dr. Bayu yang biasanya tenang kini dipenuhi getaran panik. Pria itu menyangga punggung Anin, membopong tubuh ringkih istrinya dari lantai keramik yang dingin dan membaringkannya perlahan di atas ranjang utama.

​Wajah Anin yang biasanya kemerahan penuh semangat kini pucat pasi. Bibirnya kering bergetar, dan deru napasnya terdengar amat berat. Kelelahan fisik usai pameran kampus, ditambah tekanan emosional dan aksi begadang menjaga Arumi semalaman, telah meruntuhkan daya tahan tubuh gadis itu.

​Bayu dengan cepat mengambil stetoskop dan termometer dari tas medisnya. Saat ujung termometer berbunyi bip, layar digital menunjukkan angka 39,2 derajat Celsius.

​"Nekat..." gumam Bayu parau, meremas termometer di tangannya. Matanya menatap raut wajah Anin yang terpejam rapat. Ada rasa bersalah yang amat dalam yang mendadak menghantam dada pria kaku itu.

​Suster pengasuh masuk membawa mangkuk berisi air hangat dan handuk kecil. "Dokter Bayu... Mbak Anin kenapa, Dok?"

​"Dia kelelahan dan dehidrasi berat," jawab Bayu datar, berusaha menguasai kembali ketenangan profesionalnya. "Suster, tolong pegang Arumi sebentar di kamar bawah. Saya yang akan merawat Anin di sini."

​"Ba-baik, Dok."

​Setelah suster membawa Arumi keluar, kamar utama lantai dua itu kembali menyisakan keheningan yang serba canggung. Bayu melepas jas dokternya, menggulung lengan kemejanya hingga ke siku, lalu duduk di tepi ranjang di samping Anin.

​Dengan telaten dan perlahan—gerakan tangan yang biasanya ia gunakan untuk memegang pisau bedah di ruang operasi—Bayu memeras handuk basah dan meletakkannya di atas dahi Anin.

​"Ngeyel..." bisik Bayu lirih, menatap jemari Anin yang belepotan sisa cat yang belum sempat dibersihkan. "Sudah tahu tubuhmu tidak sekuat itu, kenapa harus melarang saya merawat Arumi?"

​Lenguhan halus keluar dari tenggorokan Anin. Gadis itu menggelisah dalam tidurnya, matanya terbuka samar-samar. Pandangannya yang kabur menangkap bayangan sosok pria berantakan yang sedang mengusap lengannya dengan kain hangat.

​"Mas... Bayu...?" gumam Anin parau, suaranya hampir tak terdengar.

​"Jangan banyak bicara dulu. Kamu demam tinggi," potong Bayu halus, tangannya tetap telaten mengompres leher dan pergelangan tangan Anin.

​"Arumi... gimana...?" tanya Anin, berusaha menegakkan kepalanya meski kepalanya terasa berputar hebat.

​"Arumi sudah sembuh. Demamnya sudah turun total berkat kamu," jawab Bayu, menatap mata Anin lekat-lekat. "Sekarang giliran kamu yang harus menurut."

​Anin menatap suaminya dengan pandangan sayu. Dalam jarak sedekat ini, ia bisa melihat lingkaran hitam di bawah mata Bayu, rambut pria itu yang agak berantakan, serta guratan lelah yang tak bisa disembunyikan.

​"Mas gak... kerja?" bisik Anin pelan.

​"Saya sudah minta izin ambil cuti hari ini," sahut Bayu kaku, memalingkan wajahnya sedikit untuk menutupi kecanggungannya. "Tidak mungkin saya meninggalkan istri saya yang pingsan karena menjaga anak saya semalaman."

​Kata "istri saya" yang diucapkan Bayu dengan nada alami membuat dada Anin berdesir aneh. Sebuah kehangatan asing merayap di sela-sela rasa sakit di tubuhnya.

​Bayu mengambil mangkuk bubur hangat yang diletakkan ART di meja samping. Ia menyendok sedikit bubur, lalu mengarahkannya ke depan bibir Anin.

​"Buka mulutmu. Kamu harus makan sebelum minum obat."

​Anin membelalak tipis, mencoba menggeser badannya. "Anin bisa makan sendiri, Mas..."

​"Jangan bantah doktermu, Anin," tegur Bayu dengan nada menekan yang tak menerima penolakan, namun pandangan matanya memancarkan kelembutan yang amat asing. "Makan."

​Dengan canggung dan wajah memerah—bukan hanya karena demam, tapi juga karena malu—Anin membuka mulutnya dan menerima suapan demi suapan dari dr. Bayu. Pria yang biasanya irit bicara dan terkesan dingin itu kini telaten menyuapinya hingga mangkuk kosong, lalu memberikannya segelas air dan obat penurun panas.

​"Istirahatlah. Saya akan di sini sampai demammu turun," kata Bayu, membenarkan posisi selimut hingga menutup dada Anin.

​Anin memejamkan matanya. Efek obat penurun panas membuat kelopak matanya kian berat. Namun sebelum benar-benar terlelap, Anin merasakan jemari hangat dr. Bayu menggenggam erat telapak tangannya yang dingin di atas ranjang.

​Pukul dua siang.

​Anin terbangun. Suhu tubuhnya sudah jauh lebih dingin dan kepalanya terasa lebih ringan. Saat ia menoleh ke samping, dr. Bayu tertidur di atas kursi arm-chair di samping ranjang dengan posisi duduk kaku, tangannya masih enggan melepaskan genggaman jemari Anin.

​Anin menatap wajah suaminya yang tertidur lelap. Tanpa kacamata minusnya, raut wajah dr. Bayu terlihat jauh lebih muda dan... tampan.

​Anin menarik tangannya perlahan agar tidak membangunkan Bayu. Ia bangkit berdiri dan melangkah pelan keluar kamar menuju kamar mandi di lorong luar.

​Namun saat melintasi ruang kerja dr. Bayu yang pintunya sedikit terbuka, langkah kaki Anin terhenti.

​Di atas meja kerja kayu milik Bayu, terdapat sebuah buku agenda tebal ber-cover kulit hitam yang terbuka. Mata Anin tanpa sengaja menangkap selembar foto lama yang terselip di sana—foto masa lalu yang membuat jantung Anin mendadak berhenti berdetak.

​Foto itu bukan foto Mbak Fera.

​Melainkan foto masa SMA Anin sendiri saat memegang piala lomba melukis, dengan deretan tulisan tangan rapi milik dr. Bayu di bawah foto tersebut:

​"Rosalia Anindita. Takdir telah membawamu kembali ke sisiku, meski dengan cara yang paling menyakitkan."

​

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • ISTRI PENGGANTI DOKTER PERFEKSIONIS   bab 8

    ​"Arumi!"​Jeritan Anin memecah keheningan rumah. Tanpa memedulikan pertengkarannya dengan dr. Bayu beberapa detik lalu, Anin melompati anak tangga menuju lantai dua dengan jantung yang berdegup kencang bagai mau pecah.​Di dalam kamar utama, bayi Arumi terbaring kaku di atas tempat tidur. Tubuh mungilnya berguncang hebat akibat kejang demam. Matanya mendelik ke atas, dan bibirnya yang kecil mulai membiru.​Anin merosot bersimpuh di tepi ranjang. Air matanya seketika tumpah menatap kondisi bayi mungil itu. "Arumi! Ya Allah, Nak... Mas Bayu, cepat ke sini!"​dr. Bayu melangkah masuk ke kamar dengan napas memburu. Namun, begitu melihat kondisi anaknya, naluri dokternya yang terlatih secara otomatis mengambil alih. Wajahnya yang kaku berubah menjadi amat serius dan tenang—sebuah ketenangan profesional yang menutupi rasa panik di dasar hatinya.​"Anin, miringkan tubuh Arumi sekarang! Jaga jalan napasnya!" perintah Bayu tegas namun dengan suara terukur.​Pria itu berlutut di samping Anin,

  • ISTRI PENGGANTI DOKTER PERFEKSIONIS   BAB 9

    ​"Anin! Anin, bangun!"​Suara bariton dr. Bayu yang biasanya tenang kini dipenuhi getaran panik. Pria itu menyangga punggung Anin, membopong tubuh ringkih istrinya dari lantai keramik yang dingin dan membaringkannya perlahan di atas ranjang utama.​Wajah Anin yang biasanya kemerahan penuh semangat kini pucat pasi. Bibirnya kering bergetar, dan deru napasnya terdengar amat berat. Kelelahan fisik usai pameran kampus, ditambah tekanan emosional dan aksi begadang menjaga Arumi semalaman, telah meruntuhkan daya tahan tubuh gadis itu.​Bayu dengan cepat mengambil stetoskop dan termometer dari tas medisnya. Saat ujung termometer berbunyi bip, layar digital menunjukkan angka 39,2 derajat Celsius.​"Nekat..." gumam Bayu parau, meremas termometer di tangannya. Matanya menatap raut wajah Anin yang terpejam rapat. Ada rasa bersalah yang amat dalam yang mendadak menghantam dada pria kaku itu.​Suster pengasuh masuk membawa mangkuk berisi air hangat dan handuk kecil. "Dokter Bayu... Mbak Anin kenap

  • ISTRI PENGGANTI DOKTER PERFEKSIONIS    Bab 8

    ​"Arumi!"​Jeritan Anin memecah keheningan rumah. Tanpa memedulikan pertengkarannya dengan dr. Bayu beberapa detik lalu, Anin melompati anak tangga menuju lantai dua dengan jantung yang berdegup kencang bagai mau pecah.​Di dalam kamar utama, bayi Arumi terbaring kaku di atas tempat tidur. Tubuh mungilnya berguncang hebat akibat kejang demam. Matanya mendelik ke atas, dan bibirnya yang kecil mulai membiru.​Anin merosot bersimpuh di tepi ranjang. Air matanya seketika tumpah menatap kondisi bayi mungil itu. "Arumi! Ya Allah, Nak... Mas Bayu, cepat ke sini!"​dr. Bayu melangkah masuk ke kamar dengan napas memburu. Namun, begitu melihat kondisi anaknya, naluri dokternya yang terlatih secara otomatis mengambil alih. Wajahnya yang kaku berubah menjadi amat serius dan tenang—sebuah ketenangan profesional yang menutupi rasa panik di dasar hatinya.​"Anin, miringkan tubuh Arumi sekarang! Jaga jalan napasnya!" perintah Bayu tegas namun dengan suara terukur.​Pria itu berlutut di samping Anin,

  • ISTRI PENGGANTI DOKTER PERFEKSIONIS   Bab 7

    ​"Mas Bayu! Mas mau ke mana?!"​Anin berlari keluar dari kamar bawah, menghadang langkah dr. Bayu tepat di depan pintu utama. Matanya membelalak menatap tongkat kayu yang digenggam erat di tangan kanan suaminya.​Bayu menghentikan langkahnya. Sepasang mata elangnya menatap Anin dingin, tanpa ada keraguan sedikit pun. "Minggir, Anin."​"Mas, jangan nekat! Baskoro cuma... dia cuma mau bicara!" tegur Anin dengan suara bergetar panik. Tangannya berusaha menahan lengan kemeja Bayu.​"Bicara di depan rumah orang lain jam sebelas malam?" tegur Bayu dengan nada sarkastik yang tajam. "Itu bukan mau bicara, Anin. Itu namanya menantang. Dan saya tidak suka rumah saya diusik oleh pria asing."​Klik.​Bayu membuka selot pintu depan tanpa memedulikan cegahan Anin, lalu melangkah lebar menembus dinginnya angin malam menuju pintu pagar. Anin menyusul dari belakang dengan jantung yang berdegup kencang bagai dihantam palu.​Di luar pagar, Baskoro yang sedang menyesap rokoknya tampak terkejut melihat ke

  • ISTRI PENGGANTI DOKTER PERFEKSIONIS   bab 6

    ​"Siapa yang berkirim pesan malam-malam begini?"​Suara bariton dr. Bayu terdengar sangat dingin, memecah keheningan di dalam mobil sedan yang sedang berhenti di lampu merah. Matanya melirik tajam ke arah layar ponsel di genggaman Anin yang masih menyala terang.​Anin dengan cepat mematikan layar ponselnya dan memasukkannya kembali ke dalam tas. Tangannya gemetar tipis.​"Bukan siapa-siapa, Mas. Cuma grup kampus," kilah Anin cepat, berusaha memalingkan wajah menatap keluar kaca mobil.​Bayu tidak membalas. Pria itu menginjak pedal gas dalam-dalam begitu lampu berubah hijau. Mobil meluncur kencang membelah jalanan malam Kota Surabaya menuju rumah. Tidak ada pembicaraan lagi di antara mereka hingga mobil berhenti sempurna di dalam garasi.​Begitu melangkah masuk ke dalam rumah, Anin langsung berjalan menuju kamar bawah. Namun, langkahnya terhenti saat Bayu memanggilnya dari arah dapur dengan nada datar.​"Anin, tunggu sebentar."​Anin berbalik, menatap suaminya yang sedang melepas kacam

  • ISTRI PENGGANTI DOKTER PERFEKSIONIS   BAB 5

    ​Ruang galeri utama kampus dipenuhi oleh keriuhan mahasiswa, dosen, dan pengunjung pameran karya interior tahunan. Cahaya lampu sorot menerangi puluhan maket dan instalasi seni yang terpajang anggun. Di tengah keriuhan itu, Anin berdiri di depan sebuah instalasi kayu berkonsep rustic buatannya sendiri. Gadis itu mengenakan kemeja oversized kotak-kotak, celana jins, dan jilbab kaos yang praktis. Senyumnya terkembang lebar—di sini, di antara bau kayu, cat, dan tatanan karya, Anin merasa kembali menemukan jiwanya yang merdeka ​Namun, binar bahagia di wajahnya mendadak surut saat sebuah suara familiar memanggil namanya dari arah pintu masuk galeri. ​"Anin?" ​Anin berbalik. Seorang pria tinggi berjaket kulit cokelat dengan kamera DSLR terkalung di lehernya sedang melangkah mendekat. Wajahnya yang tegas berhiaskan senyum hangat yang dulu sangat Anin hafal. ​"Baskoro...?" bisik Anin, matanya membelalak tak percaya. Jantungnya serasa melompat ke tenggorokan. ​Baskoro—pria yang dua

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status