Share

Bab 8

Author: Mami lily
last update publish date: 2026-11-04 05:39:01

​"Arumi!"

​Jeritan Anin memecah keheningan rumah. Tanpa memedulikan pertengkarannya dengan dr. Bayu beberapa detik lalu, Anin melompati anak tangga menuju lantai dua dengan jantung yang berdegup kencang bagai mau pecah.

​Di dalam kamar utama, bayi Arumi terbaring kaku di atas tempat tidur. Tubuh mungilnya berguncang hebat akibat kejang demam. Matanya mendelik ke atas, dan bibirnya yang kecil mulai membiru.

​Anin merosot bersimpuh di tepi ranjang. Air matanya seketika tumpah menatap kondisi bayi mungil itu. "Arumi! Ya Allah, Nak... Mas Bayu, cepat ke sini!"

​dr. Bayu melangkah masuk ke kamar dengan napas memburu. Namun, begitu melihat kondisi anaknya, naluri dokternya yang terlatih secara otomatis mengambil alih. Wajahnya yang kaku berubah menjadi amat serius dan tenang—sebuah ketenangan profesional yang menutupi rasa panik di dasar hatinya.

​"Anin, miringkan tubuh Arumi sekarang! Jaga jalan napasnya!" perintah Bayu tegas namun dengan suara terukur.

​Pria itu berlutut di samping Anin, dengan cekatan membuka kancing baju bayi Arumi untuk melonggarkan pernapasannya, lalu memeriksa denyut nadi di leher mungil anaknya.

​"Mas! Tubuhnya panas banget, Mas! Ya Allah, bibirnya biru!" jerit Anin histeris, jemarinya yang gemetar mencoba memegang tangan kecil Arumi. "Mas kan dokter! Lakukan sesuatu, Mas! Jangan cuma diam!"

​"Saya sedang menangani anak saya, Anin! Jangan panik dan dengarkan instruksi saya!" bentak Bayu dengan intonasi tajam yang membuat Anin bungkam seketika.

​Bayu beralih memandang suster pengasuh yang berdiri gemetar di dekat pintu. "Suster, ambil kain lap dan air hangat di kamar mandi! Sekarang!"

​"Ba-baik, Dok!" perawat itu berlari terburu-buru keluar kamar.

​"Anin, tahan kepala Arumi dengan lembut. Miringkan sedikit ke kiri supaya dia tidak tersedak air liurnya sendiri," instruksi Bayu lagi, suaranya kini melunak namun tetap bariton dan tegas.

​Anin menghendak cepat. Dengan jemari yang masih bergetar hebat, ia menopang kepala mungil Arumi sesuai petunjuk suaminya. Air mata Anin menetes terus-menerus, jatuh membasahi pipi hangat sang bayi. "Mbak Fera... maafkan Anin... jagain Arumi, Mbak..." gumam Anin di sela isakannya yang menyayat hati.

​Bayu melirik ke arah Anin. Ada kilat kelembutan yang terlintas cepat di matanya saat melihat bagaimana gadis yang biasanya meledak-ledak itu kini menangis ketakutan demi menyelamatkan anak kakaknya.

​"Dia akan baik-baik saja, Anin. Percaya sama saya," bisik Bayu pelan, jemari panjangnya mengusap dahinya sendiri yang berpeluh dingin.

​Tak lama kemudian, kejang Arumi perlahan mereda. Tubuh kecilnya melemas, menggantikan kejang tadi dengan suara tangis melengking yang parau dan lemah. Warna biru di bibirnya perlahan memudar, meski suhu tubuhnya masih terasa sangat membakar.

​Suster kembali membawa baskom berisi air hangat dan selembar kain halus. Dengan cekatan, Anin menyambar kain basah itu dan mengusapkannya perlahan ke lipatan ketiak dan leher Arumi, menirukan penanganan medis yang dipelajarinya secara spontan.

​"Suhu tubuhnya berapa, Mas?" tanya Anin dengan napas masih terengah-engah, matanya tak lepas dari Arumi.

​Bayu melepaskan termometer digital dari ketiak bayinya. Layar kecil itu menunjukkan angka yang mengerikan.

​"39,8 derajat," ucap Bayu datar, namun dahinya berkerut dalam. "Ini reaksi dari imunisasi kemarin sore, ditambah infeksi ringan di tenggorokannya."

​"Kita bawa ke rumah sakit sekarang, Mas!" desak Anin, hendak membopong Arumi. "Biar dirawat di IGD!"

​"Tidak perlu," potong Bayu cepat, menahan bahu Anin. "Saya sudah menyiapkan obat penurun panas dan cairan infus darurat di ruang kerja saya. Lebih aman dirawat di rumah daripada terpapar kuman di rumah sakit."

​Anin mendongak, menatap suaminya dengan raut tak percaya. "Mas! Arumi itu masih bayi! Suhunya hampir 40 derajat! Kenapa Mas angkuh banget harus merawatnya sendiri di rumah?!"

​"Saya dokter bedah, Anin. Saya tahu persis batas aman kondisi anak saya!" tegur Bayu tak mau dibantah. "Kamu pikir bawa Arumi menembus angin malam yang dingin saat kondisinya begini akan lebih baik?!"

​Anin mengepalkan tangannya. "Tapi Mas itu ayahnya! Kalau Mas panik atau salah diagnosa gimana?!"

​"Saya tidak pernah salah dalam mendiagnosa pasien saya, Anin!" bentak Bayu dengan suara menekan.

​Di tengah ketegangan yang mendidih di antara mereka, ponsel dr. Bayu di atas meja mendadak berdering nyaring. Bayu menggeser layar dan menempelkannya ke telinga.

​Sekejap kemudian, ekspresi dr. Bayu berubah menjadi amat tegang.

​"Apa?!" suara Bayu meninggi. "Pasien komplikasi pendarahan di ruang bedah tiga memburuk? dr. Rian butuh bantuan saya sekarang?"

​Bayu mematikan sambungan telepon dengan napas berat. Pria itu menatap Arumi yang masih terbaring lemah, lalu beralih menatap Anin.

​Terjadi pergolakan batin yang luar biasa di raut wajah pria perfeksionis itu. Antara tugas medis kemanusiaan yang memanggilnya dan keselamatan anak kandungnya sendiri.

​Anin berdiri tegap, menatap Bayu lurus-lurus. "Pergi, Mas. Selamatkan pasien Mas di rumah sakit."

​Bayu menatap Anin ragu. "Tapi Arumi—"

​"Ada Anin di sini!" potong Anin tegas dengan nada berani. "Anin yang akan jaga Arumi malam ini. Mas masukkan obatnya sekarang, kasih tahu Anin langkah-langkahnya, lalu Mas pergi bertugas!"

​Bayu terdiam sejenak, memandangi wajah Anin yang menunjukkan kesungguhan tanpa ragu. Pria itu mengnodong kaku, lalu menyuntikkan obat dosis pertama dan memberikan instruksi singkat pada Anin.

​Pukul satu malam, dr. Bayu telah memacu mobilnya kembali ke rumah sakit.

​Anin duduk bersimpuh di samping boks bayi Arumi. Jam dinding berdetak pelan. Anin terus mengganti kompres air hangat di dahi Arumi tanpa mengantuk sedikit pun. Naluri keibuannya menjaga penuh sepanjang malam.

​Pukul tiga pagi, suhu tubuh Arumi perlahan mulai turun. Napas bayi itu kembali teratur dan lelap. Anin bernapas lega, merosotkan kepalanya di tepi boks bayi karena kelelahan yang amat sangat hingga akhirnya tertidur dalam posisi duduk.

​Pukul lima pagi.

​Pintu kamar terbuka pelan. dr. Bayu yang baru saja selesai melakukan operasi darurat selama tiga jam melangkah masuk dengan wajah yang sangat lesu dan mata merah membendung lelah.

​Pria itu menghentikan langkahnya di dekat boks bayi. Matanya menatap pemandangan di depannya: Arumi tertidur lelap dengan suhu tubuh yang sudah normal, sementara Anin tertidur bersimpuh di lantai dengan tangan masih memegang kain kompres.

​Bayu melangkah pelan, berlutut di samping Anin. Pria kaku itu menatap raut wajah polos Anin yang tertidur pulas dalam kelelahan. Tanpa sadar, jemari tangan Bayu terulur, menyingkap pelan helai rambut Anin yang menutupi pipinya.

​Namun, saat jemari Bayu menyentuh kulit pipi Anin, tubuh pria itu mendadak membeku kaku.

​Sensasi panas yang membakar menjalar dari kulit wajah Anin ke jemari Bayu.

​"Anin...?" bisik Bayu parau, matanya membelalak kaget saat menyadari bahwa kini justru Anin yang terkulai dengan suhu tubuh yang amat tinggi.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • ISTRI PENGGANTI DOKTER PERFEKSIONIS   bab 8

    ​"Arumi!"​Jeritan Anin memecah keheningan rumah. Tanpa memedulikan pertengkarannya dengan dr. Bayu beberapa detik lalu, Anin melompati anak tangga menuju lantai dua dengan jantung yang berdegup kencang bagai mau pecah.​Di dalam kamar utama, bayi Arumi terbaring kaku di atas tempat tidur. Tubuh mungilnya berguncang hebat akibat kejang demam. Matanya mendelik ke atas, dan bibirnya yang kecil mulai membiru.​Anin merosot bersimpuh di tepi ranjang. Air matanya seketika tumpah menatap kondisi bayi mungil itu. "Arumi! Ya Allah, Nak... Mas Bayu, cepat ke sini!"​dr. Bayu melangkah masuk ke kamar dengan napas memburu. Namun, begitu melihat kondisi anaknya, naluri dokternya yang terlatih secara otomatis mengambil alih. Wajahnya yang kaku berubah menjadi amat serius dan tenang—sebuah ketenangan profesional yang menutupi rasa panik di dasar hatinya.​"Anin, miringkan tubuh Arumi sekarang! Jaga jalan napasnya!" perintah Bayu tegas namun dengan suara terukur.​Pria itu berlutut di samping Anin,

  • ISTRI PENGGANTI DOKTER PERFEKSIONIS   BAB 9

    ​"Anin! Anin, bangun!"​Suara bariton dr. Bayu yang biasanya tenang kini dipenuhi getaran panik. Pria itu menyangga punggung Anin, membopong tubuh ringkih istrinya dari lantai keramik yang dingin dan membaringkannya perlahan di atas ranjang utama.​Wajah Anin yang biasanya kemerahan penuh semangat kini pucat pasi. Bibirnya kering bergetar, dan deru napasnya terdengar amat berat. Kelelahan fisik usai pameran kampus, ditambah tekanan emosional dan aksi begadang menjaga Arumi semalaman, telah meruntuhkan daya tahan tubuh gadis itu.​Bayu dengan cepat mengambil stetoskop dan termometer dari tas medisnya. Saat ujung termometer berbunyi bip, layar digital menunjukkan angka 39,2 derajat Celsius.​"Nekat..." gumam Bayu parau, meremas termometer di tangannya. Matanya menatap raut wajah Anin yang terpejam rapat. Ada rasa bersalah yang amat dalam yang mendadak menghantam dada pria kaku itu.​Suster pengasuh masuk membawa mangkuk berisi air hangat dan handuk kecil. "Dokter Bayu... Mbak Anin kenap

  • ISTRI PENGGANTI DOKTER PERFEKSIONIS    Bab 8

    ​"Arumi!"​Jeritan Anin memecah keheningan rumah. Tanpa memedulikan pertengkarannya dengan dr. Bayu beberapa detik lalu, Anin melompati anak tangga menuju lantai dua dengan jantung yang berdegup kencang bagai mau pecah.​Di dalam kamar utama, bayi Arumi terbaring kaku di atas tempat tidur. Tubuh mungilnya berguncang hebat akibat kejang demam. Matanya mendelik ke atas, dan bibirnya yang kecil mulai membiru.​Anin merosot bersimpuh di tepi ranjang. Air matanya seketika tumpah menatap kondisi bayi mungil itu. "Arumi! Ya Allah, Nak... Mas Bayu, cepat ke sini!"​dr. Bayu melangkah masuk ke kamar dengan napas memburu. Namun, begitu melihat kondisi anaknya, naluri dokternya yang terlatih secara otomatis mengambil alih. Wajahnya yang kaku berubah menjadi amat serius dan tenang—sebuah ketenangan profesional yang menutupi rasa panik di dasar hatinya.​"Anin, miringkan tubuh Arumi sekarang! Jaga jalan napasnya!" perintah Bayu tegas namun dengan suara terukur.​Pria itu berlutut di samping Anin,

  • ISTRI PENGGANTI DOKTER PERFEKSIONIS   Bab 7

    ​"Mas Bayu! Mas mau ke mana?!"​Anin berlari keluar dari kamar bawah, menghadang langkah dr. Bayu tepat di depan pintu utama. Matanya membelalak menatap tongkat kayu yang digenggam erat di tangan kanan suaminya.​Bayu menghentikan langkahnya. Sepasang mata elangnya menatap Anin dingin, tanpa ada keraguan sedikit pun. "Minggir, Anin."​"Mas, jangan nekat! Baskoro cuma... dia cuma mau bicara!" tegur Anin dengan suara bergetar panik. Tangannya berusaha menahan lengan kemeja Bayu.​"Bicara di depan rumah orang lain jam sebelas malam?" tegur Bayu dengan nada sarkastik yang tajam. "Itu bukan mau bicara, Anin. Itu namanya menantang. Dan saya tidak suka rumah saya diusik oleh pria asing."​Klik.​Bayu membuka selot pintu depan tanpa memedulikan cegahan Anin, lalu melangkah lebar menembus dinginnya angin malam menuju pintu pagar. Anin menyusul dari belakang dengan jantung yang berdegup kencang bagai dihantam palu.​Di luar pagar, Baskoro yang sedang menyesap rokoknya tampak terkejut melihat ke

  • ISTRI PENGGANTI DOKTER PERFEKSIONIS   bab 6

    ​"Siapa yang berkirim pesan malam-malam begini?"​Suara bariton dr. Bayu terdengar sangat dingin, memecah keheningan di dalam mobil sedan yang sedang berhenti di lampu merah. Matanya melirik tajam ke arah layar ponsel di genggaman Anin yang masih menyala terang.​Anin dengan cepat mematikan layar ponselnya dan memasukkannya kembali ke dalam tas. Tangannya gemetar tipis.​"Bukan siapa-siapa, Mas. Cuma grup kampus," kilah Anin cepat, berusaha memalingkan wajah menatap keluar kaca mobil.​Bayu tidak membalas. Pria itu menginjak pedal gas dalam-dalam begitu lampu berubah hijau. Mobil meluncur kencang membelah jalanan malam Kota Surabaya menuju rumah. Tidak ada pembicaraan lagi di antara mereka hingga mobil berhenti sempurna di dalam garasi.​Begitu melangkah masuk ke dalam rumah, Anin langsung berjalan menuju kamar bawah. Namun, langkahnya terhenti saat Bayu memanggilnya dari arah dapur dengan nada datar.​"Anin, tunggu sebentar."​Anin berbalik, menatap suaminya yang sedang melepas kacam

  • ISTRI PENGGANTI DOKTER PERFEKSIONIS   BAB 5

    ​Ruang galeri utama kampus dipenuhi oleh keriuhan mahasiswa, dosen, dan pengunjung pameran karya interior tahunan. Cahaya lampu sorot menerangi puluhan maket dan instalasi seni yang terpajang anggun. Di tengah keriuhan itu, Anin berdiri di depan sebuah instalasi kayu berkonsep rustic buatannya sendiri. Gadis itu mengenakan kemeja oversized kotak-kotak, celana jins, dan jilbab kaos yang praktis. Senyumnya terkembang lebar—di sini, di antara bau kayu, cat, dan tatanan karya, Anin merasa kembali menemukan jiwanya yang merdeka ​Namun, binar bahagia di wajahnya mendadak surut saat sebuah suara familiar memanggil namanya dari arah pintu masuk galeri. ​"Anin?" ​Anin berbalik. Seorang pria tinggi berjaket kulit cokelat dengan kamera DSLR terkalung di lehernya sedang melangkah mendekat. Wajahnya yang tegas berhiaskan senyum hangat yang dulu sangat Anin hafal. ​"Baskoro...?" bisik Anin, matanya membelalak tak percaya. Jantungnya serasa melompat ke tenggorokan. ​Baskoro—pria yang dua

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status