เข้าสู่ระบบ
Deru angin proyek pencakar langit di pusat ibu kota mendadak berubah menjadi jeritan ngeri ketika bunyi besi bergemeretak patah di udara.
Sebuah crane pengangkut material berat kehilangan keseimbangan, meluncur deras dari lantai atas dan menghantam struktur kerangka utama. Di bawahnya, Arka Dirgantara pria berusia 35 tahun tengah melakukan inspeksi lapangan bersama beberapa mandor. Pria berdarah dingin dan sukses besar itu terpaku seketika, menatap bayangan maut yang jatuh tepat ke arahnya tanpa sempat menghindar. Namun, sebelum hantaman besi seberat ratusan kilogram itu meremukkan tulangnya, sebuah tubuh paruh baya menerjang dari samping dengan sekuat tenaga. Brak! Tubuh Arka terpelanting jauh keluar dari zona bahaya, jatuh berguling di atas hamparan beton kasar dengan napas terengah-engah dan luka lecet di sekujur tangan serta jas kerjanya yang robek. Tapi nahas bagi sang penyelamat. Slamet Riyadi yang sudah berusia 50 tahun, buruh bangunan senior yang bertaruh nyawa di detik-detik krusial itu, tidak sempat menyelamatkan diri. Besi raksasa tersebut menimpa tubuh bagian bawahnya, mengakhiri napas penuh peluh dari seorang ayah yang selama ini hidup setengah mati demi masa depan putri tunggalnya. Suara monitor detak jantung di ruang IGD Rumah Sakit Central Medika berderu monoton, mengiringi detik-detik terakhir kehidupan Slamet. Di sisi ranjang, Arka berdiri kaku bagai patung batu. Jas mewahnya kotor oleh debu proyek dan bercak darah sang buruh yang merembes ke lantai putih rumah sakit. Rasa bersalah yang begitu pekat menghantam dada Arka tanpa ampun, menguras seluruh oksigen di paru-parunya. Nyawanya utuh, raga dan kesuksesannya terselamatkan, tetapi harga yang harus dibayar adalah nyawa seorang pria tak berdosa yang memiliki keluarga yang menantinya di rumah. Dengan sisa tenaga terakhirnya yang kian menipis, tangan kasar, legam, dan penuh kapalan milik Slamet terulur lemah dari balik selimut putih, meraba jemari Arka yang masih gemetar. Napasnya tersengal-sengal, berpacu dengan detik-detik maut yang kian mendekat. "Tuan... anak saya... Melati..." bisik Slamet patah-patah, suaranya nyaris tenggelam di antara bunyi alat medis yang bising. "Ibunya sudah tiada sejak ia berusia dua belas tahun... Dia sendirian di dunia ini, Tuan... Tolong... demi nyawa yang Tuan ambil... nikahi dia... jadikan ia isterimu... Lindungi masa depannya..." Arka tertegun, darahnya mendadak berdesir dingin hingga ubun-ubun. Permintaan itu begitu gila, begitu berat untuknya. Arka ingin menolak, ingin segera menjelaskan bahwa ia telah memiliki Kirana Paramitha, istri tercinta yang sangat ia agungkan, perempuan lembut yang menjadi belahan jiwa sekaligus rumah tempat ia pulang. Lidahnya kelu, sebelum kata-kata penolakan itu sempat meluncur dari bibirnya, mata sayu Slamet menatapnya dengan keputusasaan mutlak seorang ayah yang sebentar lagi meninggalkan putrinya seorang diri di dunia yang kejam. Di detik-detik terakhir itu, beban hutang nyawa meremukkan pertahanan Arka sepenuhnya. Tanpa sadar, bibir Arka bergetar lalu mengangguk lemah. "Saya... saya berjanji," bisik Arka lirih, mengikat takdirnya pada sebuah sumpah mati yang berat. Seketika itu juga, garis pada layar monitor EKG melurus, menandakan berhentinya denyut nadi Slamet Riyadi. Pria paruh baya itu pergi dengan sisa senyum kelegaan di wajahnya, meninggalkan Arka dalam kurungan janji yang siap menghancurkan seluruh hidup yang telah ia bangun. Malam telah larut ketika mobil mewah Arka memasuki pekarangan rumah megah bergaya modern minimalis di kawasan elit. Di ruang keluarga yang hangat, Kirana Paramitha, menyambut kepulangan suaminya. Perempuan bergaun tidur sutra lembut itu tersenyum manis, melangkah mendekat untuk mengambil tas kerja dari tangan Arka sebelum memberikan pelukan hangat yang biasanya selalu menjadi pelabuhan teraman bagi pria itu. Kirana sama sekali tidak tahu apa-apa tentang kecelakaan maut di proyek, tidak pula tahu tentang janji sakral yang baru saja diikrarkan suaminya di rumah sakit. Namun, malam itu, Arka tampak begitu berbeda. Pelukannya terasa hampa, dan tatapannya kosong menerawang jauh menembus dinding kaca rumah mereka. Kirana mengerutkan keningnya, meletakkan secangkir teh chamomile hangat di atas meja marmer di hadapan Arka yang duduk melamun di sofa. Ia duduk di sebelah suaminya, lalu mengusap lembut punggung tangan Arka yang terasa dingin. "Kamu dari tadi melamun terus, Mas," ucap Kirana dengan suara halusnya yang menenangkan. "Apa ada masalah di proyek pembangunan gedung baru itu? Wajahmu pucat sekali, bajumu juga... ada noda apa ini?" tanya Kirana cemas, jarinya hampir menyentuh bercak kecokelatan di lengan jas Arka. Arka dengan cepat menarik tangannya, menghindari sentuhan itu bukan karena benci, melainkan karena rasa bersalah yang teramat besar membakar dadanya. Ia menatap mata jernih Kirana, perempuan yang mengisi setiap jengkal napas dan hatinya dengan tatapan penuh tersiksa. "Tidak ada apa-apa, Sayang. Hanya kelelahan biasa di kantor," bohong Arka dengan suara serak yang dipaksakan stabil. Ia meneguk teh buatan istrinya, berharap cairan hangat itu bisa melunturkan batu besar yang menyumbat tenggorokannya. Kirana menghela napas panjang, menatap suaminya dengan penuh kelembutan dan sorot mata sarat kasih sayang. "Jangan terlalu memforsir diri, Mas. Apapun beban pekerjaan itu, kita hadapi bersama. Kamu tahu aku selalu ada untukmu, kan?" Mendengar kalimat tulus itu, hati Arka serasa dihujam ribuan jarum tak kasat mata. Bagaimana jika kamu tahu aku baru saja berjanji untuk membawa perempuan lain ke rumah ini sebagai istriku? batin Arka berteriak nelangsa. Pergulatan batin yang hebat seketika meremukkan jiwanya. Di satu sisi, ada cinta sucinya kepada Kirana, perempuan yang tak boleh sedikit pun tersakiti oleh kehadiran orang asing. Di sisi lain, ada sumpah atas nama nyawa yang harus ditepati kepada seorang pahlawan yang telah terbujur kaku di kamar jenazah. Malam itu, di balik dekap hangat Kirana yang tidak tahu apa-apa, Arka mengambil keputusan paling kejam dan pengecut yang pernah ia buat dalam hidupnya. Ia memutuskan untuk menyembunyikan kebenaran ini rapat-rapat untuk sementara waktu. Keesokan paginya, ambulans yang membawa peti jenazah Slamet Riyadi diberangkatkan menuju sebuah desa terpencil di kaki bukit. Arka memerintahkan asisten pribadinya untuk mengurus semua administrasi kantor dan kompensasi besar bagi keluarga korban, sementara ia sendiri memilih ikut mengawal kepulangan jenazah sang buruh hingga ke liang lahat. Di balik niatnya menghormati sang pahlawan, tersimpan sebuah misi berat yang akan mengubah jalannya takdir tiga manusia. Setibanya di rumah duka yang sederhana dan berdinding bilik bambu di desa tersebut, suasana langsung pecah oleh isak tangis pilu para pelayat yang memadati halaman. Di sisi pusara yang baru digali, berdiri seorang gadis muda berbalut pakaian hitam sederhana. Melati Anjani. Gadis berusia 23 tahun dan berwajah sangat polos, dengan mata sembab akibat menangis seharian, memancarkan pesona alami yang begitu rapuh sekaligus memikat di tengah duka mendalam yang melilit tubuhnya. Saat prosesi pemakaman selesai dan para tetangga perlahan membubarkan diri meninggalkan area pemakaman yang basah oleh sisa hujan, Arka melangkah mendekati Melati yang kini terduduk seorang diri di atas tanah makam ayahnya. Langkah kaki sepatu mahalnya berderak di atas tanah becek, menghentikan tangis tertahan gadis itu. Arka menarik napas dalam-dalam, menelan seluruh sisa harga diri dan arogansinya sebagai seorang konglomerat besar. Dengan sorot mata penuh beban penyesalan, pria itu berlutut satu kaki di hadapan Melati, menyetarakan pandangannya dengan gadis yang tengah menatapnya dengan tatapan kosong penuh air mata. "Melati..." panggil Arka pelan, suaranya bergetar berat di udara sore yang mulai kelabu. "Ayahmu... Slamet Riyadi, telah mengorbankan nyawanya demi menyelamatkan nyawaku di proyek itu." Melati mendongak perlahan, menatap pria asing berjas rapi yang tampak begitu kontras dengan kesederhanaan desa tempat tinggalnya, bibir gadis itu bergetar. "Dan sebelum napas terakhirnya berhenti di rumah sakit," lanjut Arka dengan nada yang semakin serak, menatap lurus ke dalam manik mata Melati yang polos, "Ayahmu meminta satu hal yang berat kepadaku. Ia tidak ingin kamu hidup sebatang kara di dunia ini tanpa perlindungan." Melati terdiam, air matanya kembali tumpah membasahi pipi mulusnya. "Ayah... ayahku sudah tidak ada..." cicitnya pilu. Arka memejamkan mata sejenak, mengumpulkan seluruh sisa keberaniannya untuk mengucapkan kalimat yang akan menjungkirbalikkan hidup mereka berdua. "Mulai hari ini, kamu ikut aku ke kota, Melati. Bukan sebagai tanggungan, bukan pula sebagai pekerja... tapi sebagai istri sahku. Sesuai dengan janji terakhir yang harus aku tepati kepada ayahmu."Beberapa menit berlalu dalam dekap hangat itu. Isak tangis Kirana perlahan mereda, menyisakan helaan napas berat dan kelelahan fisik. Saat suasana mulai tenang, Kirana teringat akan percakapan mereka di telepon tadi sebelum suaminya pulang. Dengan posisi masih bersandar di dada Arka, Kirana mendongakkan kepalanya pelan. "Oh ya, Mas..." bisik Kirana dengan suara serak. "Tadi di telepon... kamu bilang ada hal penting yang ingin kamu sampaikan kepadaku. Sesuatu yang penting tentang kita... atau tentang rumah ini. Apa itu, Mas?" Deg! Pertanyaan itu datang bagaikan hantaman palu di kepala Arka. Pria matang itu mendadak tertegun seribu bahasa. Tenggorokannya mendadak kering, dan air liurnya terasa begitu sulit ditelan.
Langit sore di ibu kota berhias bias jingga kemerahan tatkala mobil sedan mewah yang dikemudikan oleh Arka meninggalkan area penthouse hotel. Di dalam kabin yang senyap, atmosfer yang menyelimuti Arka dan Melati begitu pekat oleh kebahagiaan. Baru beberapa menit lalu, sebelum mereka melangkah keluar hotel, ponsel Arka berdering.Itu adalah panggilan dari Kirana. Istri pertamanya itu meminta Arka untuk segera pulang ke rumah begitu pekerjaannya selesai karena ada hal penting yang ingin ia sampaikan.Tanpa ragu, Arka langsung menjawab jujur bahwa ia sedang dalam perjalanan pulang bersama Melati, dan ia pun memiliki hal yang jauh lebih penting untuk diberitahukan kepadanya saat itu juga. Panggilan itu ditutup setelah Kirana berpesan singkat agar mereka berhati-hati di jalan.Arka mengalihkan pandangannya dari jalan raya. Tangan kanannya terulur, menggenggam jemari Melati yang duduk di kursi penumpang sebelahnya. Hangat kulit mere
Suasana di dalam penthouse suite sebuah hotel bintang lima yang mewah terasa begitu privat dan tenang. Di salah satu sudut sofa beludru berwarna emerald, Arka Dirgantara baru saja menurunkan gawainya dari telinga. Pria matang itu menghela napas panjang, lalu memijit pelipisnya yang mendadak terasa berdenyut linu.Beberapa menit lalu, ia baru saja menolak permintaan Kirana untuk menemaninya menemui Dokter Miranda di rumah sakit. Hatinya diliputi rasa bersalah yang amat dalam saat mendengar suara lembut istri pertamanya yang memaklumi kesibukan pekerjaan. Tentu saja, Arka tidak bisa mengatakan yang sebenarnya—bahwa ia sedang berada di hotel mewah ini untuk bertemu dengan istri mudanya, Melati.Arka mendongakkan kepalanya, menatap Melati yang duduk di hadapannya dengan tatapan penuh kelembutan, menepis rasa bersalahnya kepada Kirana."Kirana menelpon karena ingin di temani ke rumah sakit, tetapi aku tidak bisa karena sudah bersamamu," Arka menjelaskan pada Melati tentnag isi telponny
Suasana di dalam ruang kerja butik utama milik Kirana Dirgantara tampak dipenuhi oleh tumpukan kain sample, sketsa gaun pengantin, dan deretan katalog warna yang berserakan di atas meja besar. Hari itu, Kirana bersama dua orang sahabat sekaligus partner bisnisnya, Lisa dan Mila, sedang berjibaku menyelesaikan persiapan akhir untuk sebuah event pernikahan skala besar dari klien VIP mereka. Di tengah kesibukan yang membakar tenaga, layar gawai pintar Kirana yang tergeletak di atas meja menyala memperlihatkan Panggilan masuk di layarnya. Mila, yang duduk di sebelah Kirana, melirik sekilas ke arah layar gawai tersebut. "Ran... HP-mu nyala ada panggilan dari Dokter Miranda," ujar Mila. Mendengar nama Dokter Miranda—dokter spesialis obstetri, ginekologi, dan konsultan fertilitas yang selama tiga tahun terakhir mendampingi program kesuburan rahimnya—Kirana langsung menghentikan gerakan tangannya. "Astaga, Dokter Miranda?" gumam Kirana kaget. Ia segera meraih Hp di tangan Mila. "Kena
Emosi yang sudah membakar udara di dalam ruangan seketika meledak tanpa terkendali. Syam, yang tidak terima bajunya ditarik dan rahangnya dihantam hingga berdarah, melepaskan seluruh kendali dirinya."Persetan dengan gertakanmu, Arka!" teriak Syam murka.Dengan dorongan tenaga yang dahsyat, Syam memutar posisi tubuhnya dan melayangkan tinjauan balasan yang mendarat telak di tulang pipi kanan Arka. Pria matang itu tersungkur beberapa langkah ke belakang, menghantam pinggiran meja kerja mahoni mewahnya.Melihat Arka sedikit terhuyung, Syam langsung melesat maju bagaikan serigala lapar. Ia mencengkeram kerah Arka dan melayangkan pukulan beruntun ke wajah pimpinan Dirgantara Group itu. Namun, Arka bukanlah pria lemah yang mudah ditundukkan, dengan refleks cepat, Arka menahan lengan Syam, memutar kuncian, lalu melayangkan sikut kerasnya tepat ke perut Syam hingga pria itu terbatuk sesak.Kedua pengusaha yang biasanya tampil elegan dengan jas mahal ratusan juta rupiah itu kini bergulat
Keputusan Melati untuk mengambil jeda tiga hari dari hiruk pikuk Dirgantara Group disambut hangat oleh Arka. Pria matang itu tak ingin melihat kesehatan istri mudanya kembali drop akibat kelelahan batin dan fisik."Istirahatlah di rumah, Sayang," ujar Arka lembut pagi itu sebelum berangkat ke kantor, mengelus pipi Melati yang masih sedikit pucat. "Jangan pikirkan pekerjaan sama sekali. Semua urusan di kantor adalah tanggung jawabku. Aku cuma ingin kamu pulih total."Melati tersenyum tipis, mengangguk pasrah. "Terima kasih, Mas... Maaf ya kalau Melati malah jadi merepotkan Mas Arka.""Kamu tidak pernah merepotkanku, Melati," bisik Arka seraya mendaratkan kecupan hangat di kening sang istri sebelum melangkah pergi.Namun, ketenangan Arka tidak bertahan lama. Begitu mobil mewahnya tiba di pelataran kediaman eksekutif dan ia melangkah ke ruang kerjanya, gawai pribadi Arka bergetar nyaring. Nama Bimo—kepala tim keamanan sekaligus asisten khususnya—tertera di layar."Bicaralah, Bimo. Apa







