Home / Rumah Tangga / Terjerat Takdir Tuan Saka / Gesture yang Tak Biasa

Share

Gesture yang Tak Biasa

Author: Ruimoraa
last update Last Updated: 2026-01-17 18:42:03

Saka tiba di rumah sakit hampir tengah malam, ia masuk ke ruang rawat Arum dengan langkah berat tapi mantap. Pintu dibuka perlahan, dan cahaya lampu remang menyambut sosok Arum yang masih terbaring lemah. Wajahnya tenang, matanya terpejam, entah sedang tidur atau belum tersadar.

Saka menarik kursi jaga, lalu duduk di samping ranjang Arum. Nico yang sedari tadi setia menemani turut serta duduk dengan tenang di sofa. Tanpa menoleh menatap Nico, suara Saka yang lelah terdengar memanggil nama Nico.

"Udah malam, kamu bisa pulang dan istirahat. Ga usah nungguin di sini, lagian kamu udah nemenin saya seharian," kata Saka kemudian.

Nico menggeleng cepat. "Ga papa, saya di sini aja ikut jagain. Siapa tau nanti tuan perlu—"

"Pulang, Nico," potong Saka dengan nada tegas, namun ada lelah yang terasa dari suara itu. "Kalau ada apa-apa nanti saya hubungi. Lagipula... Arum juga pasti ga akan senang kalau kamu sampai kecapekan."

Nico sempat menoleh pada Arum, ada keraguan di matanya. Namun akhirnya
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Terjerat Takdir Tuan Saka    Arum Mencintai Lelaki Lain?

    Langit sore masih menyisakan rona jingga saat mobil Saka melaju pelan memasuki rumah. Sepanjang jalan, pikirannya bukan penuh soal pekerjaan. Bukan juga soal meeting atau deadline. Melainkan tentang satu kalimat yang ia dengar beberapa hari lalu."Kalau saya punya pacar, itu namanya selingkuh. Dan saya benci perselingkuhan."Saka mendecih pelan, satu tangan menggenggam erat ponselnya, satu lagi menekan pelipisnya. "Ngapain juga dipikirin," gumamnya kesal pada diri sendiri. Namun kalimat itu kembali mengambang di kepalanya, mengusik lebih keras dari biasanya.Saat tiba di rumah, Arum sudah berdiri di depan pintu, menyambutnya seperti biasa dengan wajah tenang dan senyum tipis. Tangan perempuan itu meraih tas kerja Saka tanpa banyak bicara. "Selamat datang, tuan."Saka sempat memperhatikan sebentar, lalu mengangguk singkat. Ia memberikan isyarat pada Arum untuk membantu melepas jasnya, lalu langsung naik ke kamarnya untuk membersihkan tubuhnya. Namun setelah air membasahi tubuhnya pun

  • Terjerat Takdir Tuan Saka    Perasaan yang Semakin Jelas

    Saka meletakkan nampan berisi piring kosong di atas meja di dekat sofa, lalu duduk di kursi samping ranjang Arum. Tangannya terlipat di depan dada, matanya kosong menatap lantai. Sesekali, ia melirik Arum yang sedang mencoba ponsel baru pemberiannya."Terlalu tenang... Bagaimana bisa dia menyentuh bibir saya dan menjilat jarinya seperti itu?? Jangan-jangan...." batin Saka tak tenang, ia mulai menerka-nerka.Pandangan Saka naik menatap Arum, keningnya berkerut. ".. Kamu punya pacar, ya?" tanyanya tiba-tiba, nada curiga menyusup tanpa ia sadari.Arum berhenti menggulir layar, menoleh perlahan dengan bingung. "Kenapa tiba-tiba nanya itu?""Ya tanya aja," jawab Saka ketus. Ia berpura-pura cuek, namun matanya menelisik.Belum sempat Arum menjawab, Saka lebih dulu membuka mulutnya tanpa sadar, mengeluarkan kecurigaannya selama ini. "Kamu kan setiap hari dikawal Nico, menurut kamu dia gimana? Ganteng ga? Saya lihat kalian sering ngobrol."Arum tersenyum kecil, lalu menghela napas. "Kenapa ja

  • Terjerat Takdir Tuan Saka    Gesture yang Tak Biasa

    Saka tiba di rumah sakit hampir tengah malam, ia masuk ke ruang rawat Arum dengan langkah berat tapi mantap. Pintu dibuka perlahan, dan cahaya lampu remang menyambut sosok Arum yang masih terbaring lemah. Wajahnya tenang, matanya terpejam, entah sedang tidur atau belum tersadar. Saka menarik kursi jaga, lalu duduk di samping ranjang Arum. Nico yang sedari tadi setia menemani turut serta duduk dengan tenang di sofa. Tanpa menoleh menatap Nico, suara Saka yang lelah terdengar memanggil nama Nico."Udah malam, kamu bisa pulang dan istirahat. Ga usah nungguin di sini, lagian kamu udah nemenin saya seharian," kata Saka kemudian. Nico menggeleng cepat. "Ga papa, saya di sini aja ikut jagain. Siapa tau nanti tuan perlu—""Pulang, Nico," potong Saka dengan nada tegas, namun ada lelah yang terasa dari suara itu. "Kalau ada apa-apa nanti saya hubungi. Lagipula... Arum juga pasti ga akan senang kalau kamu sampai kecapekan."Nico sempat menoleh pada Arum, ada keraguan di matanya. Namun akhirnya

  • Terjerat Takdir Tuan Saka    Hukuman untuk Pelaku

    "Arum!" Suara Nico gemetar. Ia turun dengan hati-hati namun cepat, menghindari minyak dan pecahan kaca agar tidak terpeleset. Setelah sampai di samping Arum, ia memeriksa wajah Arum yang pucat dan tak sadarkan diri. Dengan penuh kelembutan, Nico mengangkat kepala Arum, jari-jarinya merapikan helai rambut yang berantakan di wajah. "Arum, hei... kamu dengar saya??"Nico mengusap punggung Arum dengan lembut, memeluknya erat agar rasa dingin dan kesakitan sedikit terobati. "Harusnya saya memang ga ninggalin kamu sendiri, Rum..." gumamnya menyesal.Nico membuka kenop pintu lantai 11, lalu bersiap mengangkat Arum dengan hati-hati. Namun belum sempat melangkah keluar, suara Saka terdengar memanggil namanya dari puncak tangga lantai 12. "Tuan, segera ke lantai 11 lewat lift atau tangga biasa! Jangan turun ke sini!" ucap Nico sedikit berteriak, lalu melangkah keluar melalui tangga darurat lantai 11.Mata Saka membulat karena terkejut ketika sempat melihat Arum yang lemas dalam gendongan Nico

  • Terjerat Takdir Tuan Saka    Jatuh Tanpa Suara

    Setelah kejadian Saka refleks menolak sentuhan Arum, suasana sempat canggung untuk beberapa detik. Namun begitu Saka mengizinkan, Arum pun mulai memijat perlahan.Arum mulai dari menempelkan telapak tangannya ke kedua sisi bahu Saka, memastikan tekanan awalnya lembut, memberi waktu untuk tubuh Saka beradaptasi. Arum menyadari, Saka bukan seseorang yang biasa disentuh, terlebih dalam kondisi sedang rentan. Maka gerakannya ia lakukan perlahan tanpa paksaan.Jemari Arum terus bergerak lembut dari punggung atas sampai ke pangkal leher. Terkadang menggunakan jempol untuk melepaskan simpul otot, terkadang menggunakan telapak tangan untuk tekanan yang lebih besar. "Sakit?" tanya Arum hati-hati."Engga," jawab Saka singkat, matanya setengah terpejam.Semakin lama, tubuhnya mulai lemas. Saka mulai merasa... tenang. Bukan seperti saat disentuh Clara yang selalu punya maksud tersembunyi. Sentuhan Arum ringan, ritmis dan tak berlebihan. Benar-benar membuatnya tenang.Setelah beberapa menit, jemar

  • Terjerat Takdir Tuan Saka    Sentuhan yang Tak Menyakiti

    Pagi itu matahari baru naik separuh. Dari arah dapur tercium wangi nasi hangat dan aroma tumisan buatan Arum. Ia menyiapkan bekal dengan hati-hati, masukkan sayur dan ayam ke dalam kotak makan stainless yang kemudian dibungkus rapi. Kebetulan Saka muncul dari tangga ketika Arum sudah selesai menyiapkan bekal. Ia menyodorkan lunch box itu pada Saka dengan senyum kecil di bibirnya. "Ini bekalnya, tuan." Saka melirik kotak makan itu, tangannya ia masukkan ke dalam saku celana. "Maaf, tapi saya ga mau diri saya repot bawa-bawa kotak makan kayak gitu," ucapnya datar, namun ada nada sinis dalam caranya bicara. Arum mengerutkan kening mendengar itu. "Kan bisa ditaruh di mobil, tuan? Dan biasanya juga kan kak Nico yang bantu bawain." Saka menoleh dengan alis terangkat, mata tajamnya tertuju pada Arum. "Pokoknya kalau kamu emang mau saya makan bekal, antar langsung ke kantor di jam makan siang. Ga perlu pagi-pagi begini." Arum nampak kebingungan, karena sebelumnya Saka sudah mulai se

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status