Home / Rumah Tangga / Terjerat Takdir Tuan Saka / Saka and Arum's Wedding

Share

Saka and Arum's Wedding

Author: Ruimoraa
last update Last Updated: 2024-01-20 15:32:46

Seketika ruangan menjadi senyap saat langkah sepatu pantofel menjejak tenang di atas marmer, menciptakan gema yang entah mengapa terasa seperti ancaman. Semua mata beralih. Seorang pria dengan setelan hitam tanpa cela, tubuh tegap dan sorot mata dingin seperti tak mengenal kompromi berjalan mendekat.

"T-tuan Saka…" desis salah satu staf dengan gugup. Para penjahit dan asistennya segera berdiri, menunduk kecil. Bahkan pemilik butik ikut-ikutan membenahi posisi berdirinya.

Arum yang masih berdiri di depan cermin hanya bisa mengerutkan kening. Ia menoleh perlahan. "Siapa, sih?"

Saka melangkah masuk tanpa bicara. Matanya menyapu seluruh ruangan, lalu berhenti pada satu sosok, gadis dalam balutan gaun putih yang malah menatapnya tanpa takut. Alih-alih gugup atau canggung seperti orang-orang yang biasa ia temui, gadis itu malah terlihat tak peduli.

Semua orang melirik satu sama lain, bingung harus berbuat apa. Keheningan yang menggantung membuat suara jarum dijatuhkan pun bisa terdengar.

"Lanjutkan," ucap Saka yang kini duduk dengan santai di sofa. Nadanya tenang, namun cukup untuk membuat semua orang bergerak panik.

Asisten penjahit buru-buru merapikan gaun Arum, tangannya sempat gemetar. "M-maaf, nona… kita lanjutkan, ya…"

Arum mendesah pelan, "Kenapa sih semua orang takut banget sama dia?" bisiknya ke salah satu staf.

Staf itu hanya tersenyum kaku. "Tuan Saka itu... ya gitu deh, nona. Dia bukan tipe orang yang suka dibantah."

Arum menggelengkan kepalanya heran. "Apa-apaan itu..." gumamnya, lalu kembali menatap pantulan dirinya di cermin.

Dari tempat duduknya, Saka memperhatikan setiap gerak Arum. Matanya menyapu wajah gadis itu, lalu turun ke jemarinya yang sesekali merapikan gaun. Tatapannya bukanlah tanpa maksud, ia tengah menilai dan mengamati gadis itu.

Setelah fitting baju selesai, Saka bangkit dari duduknya, ia melangkah lalu berhenti sekitar 100 meter di hadapan calon istrinya. Mata tajam itu kini menatap para pegawai yang sedari tadi membantu Arum mengenakan gaun pengantinnya. "Bisa tinggalkan saya berdua dengan calon istri saya?" Mengangguk paham, semua pegawai di ruangan itu keluar, meninggalkan Saka dan Arum di ruangan dalam hening.

Arum berbalik ke arah cermin, tak siap rasanya menatap mata tajam lelaki itu. Saka melangkah perlahan mendekati Arum, matanya tajam memandang gadis itu dengan sedikit senyum nakal.

"Jadi, akhirnya... ini yang jadi pilihannya? Dress yang bikin saya semakin yakin kalau pernikahan ini bukan sekedar formalitas," bisik Saka tepat di telinga Arum, suaranya terkesan santai namun penuh makna.

Arum sedikit bergeser, tak nyaman dengan apa yang Saka lakukan barusan. Ia menatap lelaki itu melalui kaca dengan perasaan sedikit tegang. "Kenapa... kenapa tuan ada di sini? Apa tuan ga sibuk?" tanya Arum gugup.

Mendengar itu, Saka tersenyum simpul. "Kamu udah ngerti sendiri rupanya, harus seperti apa kamu memanggil saya," Arum menoleh, menatap wajah Saka yang kini tersenyum tipis padanya.

Tangan lelaki itu terangkat, menjulur ke bagian belakang gaun Arum. Jemarinya menarik salah satu tali tipis di bagian belakang gaun yang menggantung longgar, lalu dengan satu gerakan halus ia menariknya perlahan hingga kencang. Terlalu kencang.

Arum tersentak, tubuhnya refleks menegang. Lehernya terangkat sedikit, napasnya memburu karena kejutan kecil itu. Namun ia tak berkata apa-apa. Hanya matanya yang berkedip cepat dan jemarinya menggenggam sisi rok gaun, mencoba untuk menahan reaksi. Wajahnya menunduk beberapa detik, menatap dinginnya ubin marmer di bawah kaki mereka.

"Lagipula, pernikahan kita... bukan cuma soal dress, kan? Bukan cuma tentang perayaan, tapi tentang peraturan yang harus saya jalani. Jadi, ya, saya harus pastikan semuanya berjalan dengan lancar. Termasuk kamu." Mata lelaki itu menatap Arum dengan tajam, seolah ada beban di balik kata-kata yang baru saja ia lontarkan.

".. Tuan ga perlu terlalu memperhatikan saya. Semua ini demi keluarga kita, kan? Lagian, kita kan cuma dijodohin…"

Saka sedikit membungkukkan tubuhnya, dengan suara sedikit lebih rendah dan tajam ia membalas perkataan calon istrinya. "Cuma dijodohin, ya? Kalau itu yang kamu bilang, berarti kamu belum mengerti maksud saya. Jangan kamu kira ini hanya masalah orang tua kita, Arum. Saya punya alasan sendiri. Dan kamu akan tahu itu nanti," balas Saka. Senyumnya berubah menjadi lebih misterius.

Arum menghela napas panjang, lalu mencoba menjaga jarak dengan Saka yang berdiri tepat di belakangnya. "Kalau begitu, kenapa saya yang jadi pilihannya? Kenapa dari sekian banyaknya perempuan, tuan harus memilih saya? Kalau memang harus dari keluarga saya, ada Sarah yang lebih baik dan cantik dari saya! Kenapa tuan setuju dan ga menolak saya?" tanya Arum terdengar sedikit melawan.

Saka diam sejenak, menatap Arum dengan ekspresi datar. "Kamu akan mengerti... ketika waktunya tiba."

---

Pagi hari menjelang, Arum bangun dan termenung dengan perasaan campur aduk.

Beberapa kenangan dari masa lalu mulai muncul. Bayang-bayang Sekala dan senyum manis lelaki itu mulai memenuhi kepala Arum. Bahkan hingga saat ini, lelaki itu tak mengetahui kabar pernikahannya, karena Kala sedang sibuk dengan pertukaran mahasiswa dan baru akan kembali beberapa Minggu lagi. Ada rasa tak ingin, namun Arum sudah terjebak dalam pernikahan ini. Tak ingin terlambat, ia turun dari kasur dengan malas lalu segera menuju kamar mandi.

Di suatu ruangan, Saka yang sedang bersiap dibantu oleh para pelayannya terkesan tenang, matanya tak bisa menyembunyikan perasaan dalam hatinya. Ia juga tahu bahwa pernikahan ini bukan sekadar tentang cinta, tetapi tentang balas dendam yang menjadi tujuan utamanya. Ia merasa terjebak dalam situasi yang penuh kebohongan, namun ia tetap harus melangkah maju demi tujuannya.

Ketika Arum berjalan menuju altar, ketegangan di udara sontak dirasakan. Saka berdiri dengan wajah dingin dan serius, menunggu Arum untuk sampai padanya. Semua orang melihat ke arah mereka, dan meskipun tidak ada senyum dari Arum atau Saka, mereka tahu hari ini adalah hari yang penuh makna, meski penuh dengan kepalsuan. Arum merasa terpojok, tetapi ia mencoba untuk menahan emosinya.

Ketika sampai di hadapan Saka, Arum sedikit menundukkan kepalanya, matanya berbinar dengan ketegangan. Melihat ekspresi Arum yang tertekan, Saka menyeringai menikmati momen itu.

"Apakah kamu, Saka Valenbrand, bersedia untuk menerima Arum Hadibrata sebagai istri yang sah, dalam suka dan duka, dengan segala kejujuran dan tanggung jawab?" ucap pendeta.

Saka melirik pada Arum dan menatap tajam perempuan itu. "Ya, saya bersedia."

Kini, pendeta beralih pada Arum. "Dan apakah kamu, Arum Hadibrata, bersedia menerima Saka Valenbrand sebagai suami, dengan segala kebaikan dan kekurangannya?"

Arum menghela napas dalam-dalam lalu kembali menatap pendeta. "Ya, saya bersedia..."

Setelahnya, pendeta meminta keduanya untuk saling menatap satu sama lain dan mengucapkan janji suci. Saka memandang Arum dengan tatapan keras, seakan ingin menunjukkan kendali padanya. "Saya akan menjaga pernikahan ini. Mungkin bukan dengan cinta, tapi dengan kewajiban yang harus dipenuhi."

Arum mengarahkan pandangannya pada sembarang arah, menghindari tatapan Saka. Ia merasa tertekan dengan kata-kata itu, namun ia tetap berusaha mengendalikan perasaannya.

Di luar upacara, perayaan pernikahan berlangsung dengan megah. Ketika sesi tarian dan pemotongan kue, Saka menarik pinggang ramping Arum dengan sedikit paksaan, seolah menuntut untuk memperlihatkan hubungan mereka yang tampak sempurna.

"Akhirnya, kita resmi menjadi sepasang suami istri sekarang. Selamat datang di dunia baru, Arum," bisik Saka seraya mengelus puncak kepala Arum.

"Sudah selesai, Arum. Pesta, semuanya... Sekarang kita bisa mulai menjalani hidup ini dengan aturan yang sudah jelas. Dengan aturan yang sudah saya buat," lanjutnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terjerat Takdir Tuan Saka    Jatuh Tanpa Suara

    Setelah kejadian Saka refleks menolak sentuhan Arum, suasana sempat canggung untuk beberapa detik. Namun begitu Saka mengizinkan, Arum pun mulai memijat perlahan.Arum mulai dari menempelkan telapak tangannya ke kedua sisi bahu Saka, memastikan tekanan awalnya lembut, memberi waktu untuk tubuh Saka beradaptasi. Arum menyadari, Saka bukan seseorang yang biasa disentuh, terlebih dalam kondisi sedang rentan. Maka gerakannya ia lakukan perlahan tanpa paksaan.Jemari Arum terus bergerak lembut dari punggung atas sampai ke pangkal leher. Terkadang menggunakan jempol untuk melepaskan simpul otot, terkadang menggunakan telapak tangan untuk tekanan yang lebih besar. "Sakit?" tanya Arum hati-hati."Engga," jawab Saka singkat, matanya setengah terpejam.Semakin lama, tubuhnya mulai lemas. Saka mulai merasa... tenang. Bukan seperti saat disentuh Clara yang selalu punya maksud tersembunyi. Sentuhan Arum ringan, ritmis dan tak berlebihan. Benar-benar membuatnya tenang.Setelah beberapa menit, jemar

  • Terjerat Takdir Tuan Saka    Sentuhan yang Tak Menyakiti

    Pagi itu matahari baru naik separuh. Dari arah dapur tercium wangi nasi hangat dan aroma tumisan buatan Arum. Ia menyiapkan bekal dengan hati-hati, masukkan sayur dan ayam ke dalam kotak makan stainless yang kemudian dibungkus rapi. Kebetulan Saka muncul dari tangga ketika Arum sudah selesai menyiapkan bekal. Ia menyodorkan lunch box itu pada Saka dengan senyum kecil di bibirnya. "Ini bekalnya, tuan." Saka melirik kotak makan itu, tangannya ia masukkan ke dalam saku celana. "Maaf, tapi saya ga mau diri saya repot bawa-bawa kotak makan kayak gitu," ucapnya datar, namun ada nada sinis dalam caranya bicara. Arum mengerutkan kening mendengar itu. "Kan bisa ditaruh di mobil, tuan? Dan biasanya juga kan kak Nico yang bantu bawain." Saka menoleh dengan alis terangkat, mata tajamnya tertuju pada Arum. "Pokoknya kalau kamu emang mau saya makan bekal, antar langsung ke kantor di jam makan siang. Ga perlu pagi-pagi begini." Arum nampak kebingungan, karena sebelumnya Saka sudah mulai se

  • Terjerat Takdir Tuan Saka    Bukan Surat Cerai

    Saka masih diam menatap piring kosong di hadapannya, pikirannya penuh kekacauan yang tak bisa ia atur. Namun suara lembut Arum tiba-tiba menyela lamunannya."Tuan..." Saka kaget, nyaris gelagapan saat menoleh.Arum tersenyum kecil, lalu menggeser sebuah kotak berwarna hitam berukuran sedang ke arahnya. "Ini kado ulang tahun dari saya. Semoga tuan suka," katanya pelan. Begitu kotak hitam itu disodorkan ke meja, Saka otomatis menegang. Ia tak langsung menyentuhnya, hanya menatap penuh tekanan seolah kotak itu bisa meledak kapan saja. Matanya beralih menatap Arum dengan tatapan curiga. Hening menyelimuti beberapa detik yang terasa sangat panjang.Gejolak dalam pikirannya langsung melompat liar. "Apa ini... surat cerai? Apa ini akhirnya...?"Karena dari awal, malam itu memang terasa terlalu tenang, terlalu lembut dan itu yang justru menakutkan. Terlalu banyak yang terasa 'terakhir'.Tatapan Arum yang hangat meski redup, perhatian Arum yang terasa serba ekstra, masakan kesukaannya, hingga

  • Terjerat Takdir Tuan Saka    Bukan Sekadar Makan Malam

    Malam itu udara terasa berat bagi Saka. Ia duduk di dalam mobil yang terparkir di pinggir jalan, tubuhnya bersandar, satu tangan memegangi setir sementara yang lain menggenggam ponsel dengan erat. Ban mobilnya pecah, jasnya kusut dan wajahnya kusam oleh lelah dan kecemasan yang campur aduk.Layar ponselnya menampilkan satu nama, Arum.Saka mendesah pelan. Jempolnya sempat ragu, namun akhirnya ia menekan ikon hijau itu. Dering pertama, kedua, ketiga. Saka menggigit bibir bawahnya, tangan yang memegang ponsel mulai berkeringat entah mengapa. "Angkat dong…" gumamnya pelan, gelisah. Dan di dering keempat…"Halo, tuan?"Saka langsung menegakkan tubuhnya ketika mendengar suara Arum yang sedikit serak di ujung sana. ".. Kamu udah tidur?" tanya Saka, suaranya lebih lembut dari biasanya. "Belum, tuan. Tadi saya dari kamar mandi. Ada apa, tuan?"Saka terdiam sebentar, menatap gelap di luar jendela sebelum menjawab. "Ban mobil saya pecah," katanya datar."APA?!" Suara Arum terdengar pani

  • Terjerat Takdir Tuan Saka    Pulang yang Tak Segera Sampai

    Pagi itu, udara terasa lebih ringan dari biasanya. Langit cerah dan angin pagi di teras rumah tak sedingin biasanya. Saka yang sudah siap berangkat ke kantor melangkah ke mobil dengan langkah santai dengan senyum merekah, dan itu cukup aneh bagi Nico yang sudah menunggunya sejak tadi, seperti biasa.Begitu membukakan pintu belakang mobil, Nico tak melewatkan kesempatan untuk menyapa dan memberikan ucapan selamat. "Selamat ulang tahun, tuan."Saka sempat diam sepersekian detik, baru akhirnya melirik ke arah Nico dengan tatapan dingin yang gagal menutupi senyuman kecil yang nyaris muncul. "Siapa yang ulang tahun?" jawabnya sengaja.Nico tertawa pelan. "Ah, ngeles. Padahal tadi keluar rumah mukanya cerah banget. Pasti habis dapat kejutan, ya?"Saka masuk ke mobil tanpa menanggapi, namun mulutnya melengkung tipis ke arah jendela. "Kejutan, ya…"***Sesampainya di kantor, seperti biasa Saka langsung masuk ke ruangannya. Ia duduk di balik meja kerjanya dan membuka laptop, siap untuk bekerja

  • Terjerat Takdir Tuan Saka    Janji Manis dan Brownies di Tengah Malam

    Begitu pintu utama terbuka, Arum sudah berdiri di ambang, seperti biasa. Ia menyambut Saka dengan senyum kecil, lalu mengulurkan tangan untuk mencium punggung tangan suaminya. "Selamat datang, tuan," ucapnya pelan.Saka membalas uluran tangan itu lalu mengangguk singkat, setelahnya ia melangkah masuk tanpa menatap langsung ke mata Arum. Wajahnya datar, dingin, ada sesuatu yang terasa berbeda dari biasanya. Saka yang terasa sedikit lebih lunak akhir-akhir ini, entah kenapa kembali mengeras di mata Arum.Belum sempat Arum membuka mulut untuk menawarkan makan malam atau sekadar bertanya kabar, Saka lebih dulu bicara. "Habis ini, kamu ke ruangan saya," titah Saka singkat dan tajam.Arum mengerjap, lalu menganggukkan kepala. "Iya, tuan."Saka tak berkata lebih lanjut, ia langsung naik ke lantai atas, meninggalkan Arum yang berdiri bingung di ruang tamu.---Di ruang kerjanya, Saka kembali membuka lembar tagihan yang sebelumnya ia baca di kantor. Matanya menyapu deretan transaksi yang terce

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status