LOGINSeketika ruangan menjadi senyap saat langkah sepatu pantofel menjejak tenang di atas marmer, menciptakan gema yang entah mengapa terasa seperti ancaman. Semua mata beralih. Seorang pria dengan setelan hitam tanpa cela, tubuh tegap dan sorot mata dingin seperti tak mengenal kompromi berjalan mendekat.
"T-tuan Saka…" desis salah satu staf dengan gugup. Para penjahit dan asistennya segera berdiri, menunduk kecil. Bahkan pemilik butik ikut-ikutan membenahi posisi berdirinya. Arum yang masih berdiri di depan cermin hanya bisa mengerutkan kening. Ia menoleh perlahan. "Siapa, sih?" Saka melangkah masuk tanpa bicara. Matanya menyapu seluruh ruangan, lalu berhenti pada satu sosok, gadis dalam balutan gaun putih yang malah menatapnya tanpa takut. Alih-alih gugup atau canggung seperti orang-orang yang biasa ia temui, gadis itu malah terlihat tak peduli. Semua orang melirik satu sama lain, bingung harus berbuat apa. Keheningan yang menggantung membuat suara jarum dijatuhkan pun bisa terdengar. "Lanjutkan," ucap Saka yang kini duduk dengan santai di sofa. Nadanya tenang, namun cukup untuk membuat semua orang bergerak panik. Asisten penjahit buru-buru merapikan gaun Arum, tangannya sempat gemetar. "M-maaf, nona… kita lanjutkan, ya…" Arum mendesah pelan, "Kenapa sih semua orang takut banget sama dia?" bisiknya ke salah satu staf. Staf itu hanya tersenyum kaku. "Tuan Saka itu... ya gitu deh, nona. Dia bukan tipe orang yang suka dibantah." Arum menggelengkan kepalanya heran. "Apa-apaan itu..." gumamnya, lalu kembali menatap pantulan dirinya di cermin. Dari tempat duduknya, Saka memperhatikan setiap gerak Arum. Matanya menyapu wajah gadis itu, lalu turun ke jemarinya yang sesekali merapikan gaun. Tatapannya bukanlah tanpa maksud, ia tengah menilai dan mengamati gadis itu. Setelah fitting baju selesai, Saka bangkit dari duduknya, ia melangkah lalu berhenti sekitar 100 meter di hadapan calon istrinya. Mata tajam itu kini menatap para pegawai yang sedari tadi membantu Arum mengenakan gaun pengantinnya. "Bisa tinggalkan saya berdua dengan calon istri saya?" Mengangguk paham, semua pegawai di ruangan itu keluar, meninggalkan Saka dan Arum di ruangan dalam hening. Arum berbalik ke arah cermin, tak siap rasanya menatap mata tajam lelaki itu. Saka melangkah perlahan mendekati Arum, matanya tajam memandang gadis itu dengan sedikit senyum nakal. "Jadi, akhirnya... ini yang jadi pilihannya? Dress yang bikin saya semakin yakin kalau pernikahan ini bukan sekedar formalitas," bisik Saka tepat di telinga Arum, suaranya terkesan santai namun penuh makna. Arum sedikit bergeser, tak nyaman dengan apa yang Saka lakukan barusan. Ia menatap lelaki itu melalui kaca dengan perasaan sedikit tegang. "Kenapa... kenapa tuan ada di sini? Apa tuan ga sibuk?" tanya Arum gugup. Mendengar itu, Saka tersenyum simpul. "Kamu udah ngerti sendiri rupanya, harus seperti apa kamu memanggil saya," Arum menoleh, menatap wajah Saka yang kini tersenyum tipis padanya. Tangan lelaki itu terangkat, menjulur ke bagian belakang gaun Arum. Jemarinya menarik salah satu tali tipis di bagian belakang gaun yang menggantung longgar, lalu dengan satu gerakan halus ia menariknya perlahan hingga kencang. Terlalu kencang. Arum tersentak, tubuhnya refleks menegang. Lehernya terangkat sedikit, napasnya memburu karena kejutan kecil itu. Namun ia tak berkata apa-apa. Hanya matanya yang berkedip cepat dan jemarinya menggenggam sisi rok gaun, mencoba untuk menahan reaksi. Wajahnya menunduk beberapa detik, menatap dinginnya ubin marmer di bawah kaki mereka. "Lagipula, pernikahan kita... bukan cuma soal dress, kan? Bukan cuma tentang perayaan, tapi tentang peraturan yang harus saya jalani. Jadi, ya, saya harus pastikan semuanya berjalan dengan lancar. Termasuk kamu." Mata lelaki itu menatap Arum dengan tajam, seolah ada beban di balik kata-kata yang baru saja ia lontarkan. ".. Tuan ga perlu terlalu memperhatikan saya. Semua ini demi keluarga kita, kan? Lagian, kita kan cuma dijodohin…" Saka sedikit membungkukkan tubuhnya, dengan suara sedikit lebih rendah dan tajam ia membalas perkataan calon istrinya. "Cuma dijodohin, ya? Kalau itu yang kamu bilang, berarti kamu belum mengerti maksud saya. Jangan kamu kira ini hanya masalah orang tua kita, Arum. Saya punya alasan sendiri. Dan kamu akan tahu itu nanti," balas Saka. Senyumnya berubah menjadi lebih misterius. Arum menghela napas panjang, lalu mencoba menjaga jarak dengan Saka yang berdiri tepat di belakangnya. "Kalau begitu, kenapa saya yang jadi pilihannya? Kenapa dari sekian banyaknya perempuan, tuan harus memilih saya? Kalau memang harus dari keluarga saya, ada Sarah yang lebih baik dan cantik dari saya! Kenapa tuan setuju dan ga menolak saya?" tanya Arum terdengar sedikit melawan. Saka diam sejenak, menatap Arum dengan ekspresi datar. "Kamu akan mengerti... ketika waktunya tiba." --- Pagi hari menjelang, Arum bangun dan termenung dengan perasaan campur aduk. Beberapa kenangan dari masa lalu mulai muncul. Bayang-bayang Sekala dan senyum manis lelaki itu mulai memenuhi kepala Arum. Bahkan hingga saat ini, lelaki itu tak mengetahui kabar pernikahannya, karena Kala sedang sibuk dengan pertukaran mahasiswa dan baru akan kembali beberapa Minggu lagi. Ada rasa tak ingin, namun Arum sudah terjebak dalam pernikahan ini. Tak ingin terlambat, ia turun dari kasur dengan malas lalu segera menuju kamar mandi. Di suatu ruangan, Saka yang sedang bersiap dibantu oleh para pelayannya terkesan tenang, matanya tak bisa menyembunyikan perasaan dalam hatinya. Ia juga tahu bahwa pernikahan ini bukan sekadar tentang cinta, tetapi tentang balas dendam yang menjadi tujuan utamanya. Ia merasa terjebak dalam situasi yang penuh kebohongan, namun ia tetap harus melangkah maju demi tujuannya. Ketika Arum berjalan menuju altar, ketegangan di udara sontak dirasakan. Saka berdiri dengan wajah dingin dan serius, menunggu Arum untuk sampai padanya. Semua orang melihat ke arah mereka, dan meskipun tidak ada senyum dari Arum atau Saka, mereka tahu hari ini adalah hari yang penuh makna, meski penuh dengan kepalsuan. Arum merasa terpojok, tetapi ia mencoba untuk menahan emosinya. Ketika sampai di hadapan Saka, Arum sedikit menundukkan kepalanya, matanya berbinar dengan ketegangan. Melihat ekspresi Arum yang tertekan, Saka menyeringai menikmati momen itu. "Apakah kamu, Saka Valenbrand, bersedia untuk menerima Arum Hadibrata sebagai istri yang sah, dalam suka dan duka, dengan segala kejujuran dan tanggung jawab?" ucap pendeta. Saka melirik pada Arum dan menatap tajam perempuan itu. "Ya, saya bersedia." Kini, pendeta beralih pada Arum. "Dan apakah kamu, Arum Hadibrata, bersedia menerima Saka Valenbrand sebagai suami, dengan segala kebaikan dan kekurangannya?" Arum menghela napas dalam-dalam lalu kembali menatap pendeta. "Ya, saya bersedia..." Setelahnya, pendeta meminta keduanya untuk saling menatap satu sama lain dan mengucapkan janji suci. Saka memandang Arum dengan tatapan keras, seakan ingin menunjukkan kendali padanya. "Saya akan menjaga pernikahan ini. Mungkin bukan dengan cinta, tapi dengan kewajiban yang harus dipenuhi." Arum mengarahkan pandangannya pada sembarang arah, menghindari tatapan Saka. Ia merasa tertekan dengan kata-kata itu, namun ia tetap berusaha mengendalikan perasaannya. Di luar upacara, perayaan pernikahan berlangsung dengan megah. Ketika sesi tarian dan pemotongan kue, Saka menarik pinggang ramping Arum dengan sedikit paksaan, seolah menuntut untuk memperlihatkan hubungan mereka yang tampak sempurna. "Akhirnya, kita resmi menjadi sepasang suami istri sekarang. Selamat datang di dunia baru, Arum," bisik Saka seraya mengelus puncak kepala Arum. "Sudah selesai, Arum. Pesta, semuanya... Sekarang kita bisa mulai menjalani hidup ini dengan aturan yang sudah jelas. Dengan aturan yang sudah saya buat," lanjutnya.Koridor itu kembali sunyi setelah pintu ruang kerja Saka tertutup. Lampu-lampu putih memantul di lantai marmer, dingin dan rapi, kontras dengan kepala Raka yang sedang riuh.Langkahnya melambat ketika dua sosok keluar dari ruangan itu.Nico lebih dulu, wajahnya datar namun bahunya kaku, seperti seseorang yang menahan lelah terlalu lama. Di belakangnya, Arga menyusul, jasnya rapi, tetapi sorot matanya tidak. Bukan lelah biasa, itu adalah tatapan seseorang yang baru saja membicarakan sesuatu yang terlalu serius untuk dibawa keluar ruangan.Raka berhenti sepersekian detik, alisnya bertaut. Dalam sepersekian detik itu, cukup bagi Raka untuk benar-benar mengenali siapa yang berdiri di samping Nico. "Ngapain Arga di sini?"Pertanyaan itu muncul cepat, tajam dan langsung melekat di kepalanya. Arga bukan tipe orang yang akan datang tanpa alasan. Apalagi dengan raut wajah seperti itu. Nico dan Arga sendiri berhenti berbicara saat seseorang muncul dari arah berlawanan. Seseorang dengan langkah
Beberapa jam kemudian, pintu ruang kerja kembali terbuka. Arga melangkah masuk lebih dulu, disusul Nico di belakangnya.Langkah Arga lebih lambat dari biasanya, bahunya turun, wajahnya sedikit pucat, seperti baru saja mengalami sesuatu yang mengguncang dirinya.Saka langsung mengangkat kepala. Tatapannya menajam mencari sosok yang tak kunjung masuk ke dalam ruangan. "Mana Maverick?"Pertanyaan itu keluar spontan, bahkan sebelum Arga duduk.Arga menelan ludah, wajahnya berubah sedikit sendu. Nico yang berdiri di sampingnya menepuk bahu Arga, memberi sedikit tekanan pada bahu itu untuk duduk di kursi.Untuk sepersekian detik, ketiganya terdiam dalam hening yang aneh, berat dan tidak nyaman. Suara helaan napas Arga akhirnya memecah keheningan, sebelum akhirnya ia bicara dengan suara serak, "Dia di rumah sakit, lagi nemenin Lia."Alis Saka berkerut, ada sesuatu yang langsung terasa salah. "Kenapa di rumah sakit? Emangnya udah waktunya lahiran?"Nico menoleh pada Arga dengan raut sedih, le
Ruang kerja itu terasa lebih sempit dari biasanya. Udara di dalamnya berat, seolah ada sesuatu yang menggantung dan menekan dada.Nico berlari panik memasuki ruangan, langkahnya melambat saat melihat ekspresi Saka, tangan lelaki itu mengepal erat, rahangnya jelas terlihat mengeras. Nico sempat melirik pada sebuah amplop cokelat yang tergeletak di atas lalu menatap Saka. "Ada apa? Ada kiriman lagi?"Saka langsung memberikan kertas kosong itu pada Nico, wajahnya memucat. "Orang ini udah masuk rumah, Nico," suaranya rendah, nyaris datar. Namun Nico tahu, itu bukan suatu ketenangan, melainkan amarah yang ditahan mati-matian.Nico menatap kertas itu dengan kening mengernyit, ia merasa sudah tahu kertas apa ini sebelum Saka menjelaskan. Ia memiringkan kepala, tangannya refleks mengangkat kertas itu ke arah cahaya jendela. Saat itu juga, ia melihat garis-garis bayangan mulai jelas menampilkan foto Arum. "Sa, ini..."Saka yang masih berdiri di depan jendela, menatap keluar dengan mata gelap,
Pagi itu, cuaca sedikit mendung saat Saka dan Arum baru turun dari kamar. Belum sempat mereka duduk di meja makan, terdengar suara ketukan pintu disertai suara pak Dadang yang memanggil dengan sopan.Segera, Saka dan Arum menghampiri. Begitu bertatapan dengan pak Dadang, lelaki paruh baya itu menyerahkan sebuah paket besar yang baru saja dikirim oleh kurir. Kotaknya elegan, dibungkus rapi tanpa label pengirim. Hanya nama Saka yang tertulis di bagian atasnya. Saka mengernyit, lalu menatap Arum. "Kamu pesan sesuatu?"Arum menggelengkan kepala. "Engga, kok. Ini tertulis untuk tuan, bukan tuan yang pesan?"Saka menggelengkan kepala, ia juga tak merasa memesan apapun. Ingatannya berputar pada paket sebelumnya yang datang, apakah ini berasal dari orang yang sama?Rasa penasaran itu mengalahkan rasa curiganya. Ia membawa kotak itu masuk dan membukanya perlahan di ruang tamu.Begitu tutup terbuka, aroma bunga segar langsung menyergap. Namun itu bukanlah bunga biasa. Mata Arum membesar saat m
Awalnya hanya hal kecil, terlalu kecil untuk disebut masalah. Namun cukup aneh untuk membuat Saka mengernyitkan keningnya.Email klien penting tiba-tiba menghilang dari server internal. Laporan keuangan yang sudah disetujui tiba-tiba berubah angka. Meeting yang seharusnya tertutup bocor ke pihak luar, lengkap dengan detail yang seharusnya hanya diketahui jajaran tertentu. Bahkan Clara sebagai sekretaris pun mengaku tidak tahu menahu tentang hal ini. Meski dia sering menghilang di saat kerja, namun dia bersumpah tidak pernah membocorkan apapun pada pihak luar."Ini bukan human error,” gumam Saka, berdiri di depan layar ruang rapat dengan rahang mengeras. Naluri manajemennya langsung berisik, pola ini terlalu rapi untuk disebut sebagai kebetulan.Kantor mulai terasa panas. Karyawan saling bisik, kepala divisi panik. Semua orang menunggu keputusan, namun sebuah keputusan tidak bisa dibuat begitu saja.Tak hanya itu, masalah terus datang beruntun. Investor meminta klarifikasi, partner huk
Begitu Raka Pradipta melangkah masuk ke gedung tinggi Savera Holdings, udara dingin dari AC tak sanggup meredam panas di dadanya, jantungnya berdegup keras. Ini... adalah wilayah kekuasaan dari seorang Saka Valenbrand. Bangunan itu megah, logo perusahaan terukir angkuh di dinding resepsionis. Meski begitu, tak ada sedikit pun kebencian tergambar di wajahnya ketika Nico menyapanya. "Selamat siang. Pak Raka, ya? Saya Nico, orang kepercayaan tuan Saka. Mari saya antar ke atas." Raka tersenyum hangat, lalu menganggukkan kepalanya. "Terima kasih banyak, pak Nico. Saya sudah merepotkan." Mereka masuk ke dalam lift dan naik bersama menuju ruangan presiden direktur. Raka diam-diam mencuri pandang ke arah lantai lift yang terus naik, dan sesekali melihat pantulan dirinya dan Nico di dinding lift stainless itu. Lift berdenting, mereka tiba di lantai paling atas. Nico mempersilakan Raka masuk ke dalam ruangan presiden direktur, tempat di mana Saka sudah menunggu. Ruangan kerja Saka sian







