LOGIN
"Om, mau jadi pacarku nggak?"
Tanya Aurora berani. Entah setan apa yang menempel pada gadis itu sehingga dia berani mengajak Darius Edmund, pria berumur tiga puluh delapan tahun yang baru dikenalnya itu untuk berpacaran dengannya. Darius Edmund sendiri lebih pantas menjadi Ayahnya Aurora ketimbang pacarnya. Ya walaupun wajah Darius bisa dibilang sangat tampan dan mempesona.
Darius tertawa kecil. "Pacar? Kamu yakin? Saya ini lebih cocok jadi Ayah kamu loo ketimbang jadi pacar."
Jawab Darius enteng. Dia duduk pada sofa panjang berwarna pastel di apartementnya. Batinnya sedikit terkejut mendengar ajakan dari gadis kecil yang baru saja di temuinya itu. Anak kecil seumur jagung ini, bagaimana bisa seberani itu mengajaknya pacaran. Otak generasi sekarang memang berbeda.
"Ya nggak apa-apa, Om. Kan pacaran sama Sugar Daddy lagi musim," sahut Aurora.
Gadis itu sedang duduk di sebelah Darius saat mengatakan bahwa dia ingin berpacaran dengan pria tersebut. Aurora duduk bersila atas sofa. Tubuhnya menghadap Darius dengan memasang mimik wajah selucu boneka salju.
"Sugar Daddy. Memangnya kamu tidak tahu Sugar Daddy itu apa? Sugar Daddy itu laki-laki dewasa nakal yang suka sama gadis kecil genit kaya kamu."
Darius mencoba menjelaskan agar gadis itu sedikit takut. Jika dibilang mengerti, sepertinya Aurora sedikit banyak sudah tahu tentang apa itu istilah Sugar Daddy. Tidak mungkin anak jaman sekarang tidak tahu tentang istilah itu.
Darius hanya memperjelas kondisi jika hubungan antara Sugar Daddy dan Sugar Baby itu masuk dalam ranah dewasa. Namun respon tidak terduga justru datang dari Aurora setelah Darius mengatakannya lebih jelas. Tiba-tiba saja Aurora merubah posisinya menjadi duduk di atas pangkuan Darius. Tubuhnya dia hadapkan ke arah Darius hingga kini keduanya menempel dan berhadapan.
Darius merasa tidak nyaman? Sudah jelas. Tapi bukan posisi dan wajah cantik Aurora yang paling menganggu Darius sekarang. Melainkan adik kecilnya yang di duduki Aurora secara tiba-tiba sekarang sedang berproses berubah menjadi adik besar karena tekanan dari tempat sensitive milik gadis itu.
"Iya, aku nggak keberatan jadi gadis kecil yang genit. Nahh ... Om mau nggak jadi laki-laki dewasa yang nakal?" tanya Aurora.
Aurora tidak terlihat takut sama sekali. Justru Darius yang sekarang menjadi takut. Takut akan terlena pada kenakalan dari gadis yang sekarang ada di atas pangkuannya itu, lalu melakukan hal yang tidak-tidak.
Masalahnya, sudah sembilan belas tahun Darius tidak menyentuh seorang wanita. Sejak berpisah dengan pacarnya semasa sekolah dahulu. Darius belum menyukai gadis lain. Dan jika tiba-tiba dihadapkan dalam kondisi kritis seperti ini. Kucing mana yang tidak menggarong jika diberi ikan. Terlebih ikannya begitu cantik dan segar.
"Kamu kenapa berani seperti ini? Saya ini laki-laki normal. Kalau saya kalap kamu bisa saya makan, Ra."
Darius terbata. Detakan jantungnya mulai berdebar tidak beraturan. Tubuhnya menikmati perlakuan ini namun otaknya masih terlalu sadar untuk tidak mengikuti hasratnya. Darius tidak mau dianggap sebagai pedofil.
"Kenapa aku harus takut? Om Darius orang yang baik," jawab Aurora santai.
Bahkan mata gadis itu terus menatap pada manik coklat terang milik Darius. Kedua telapak tangannya yang mungil juga dengan berani membelai bulu wajah Darius yang mulai tumbuh. Bagaimana Darius tidak semakin terlena?
"Orang baik kalau dihadapkan dengan hal seperti ini bagaimana bisa jadi baik? Kamu terus berusaha memancing ikan."
"Hmm ... benar. Kuharap aku dapat ikan yang besar," sahut Aurora dengan tertawa kecil.
Darius juga tertawa kecil. Belum setengah malam dia bersama dengan gadis ini, tapi otaknya sudah beberapa kali dikejutkan oleh ucapan dan tingkah laku Aurora yang nakal. Setelah tertawa sejenak, Darius terdiam, bukan karena hanyut dalam pusaran hasrat yang sedang berusaha menariknya ke dalam. Melainkan dia sedang berusaha mempertahankan akal sehatnya untuk tidak mengikuti alur yang sedang dibuat oleh gadis kecil di depannya.
**
Empat jam yang lalu, Darius baru saja datang kembali dari luar negeri setelah dua puluh tahun lamanya pergi. Perut yang lapar membawanya menuju salah satu restaurant steak terkenal di kota itu. Hujan turun sangat deras, beberapa kilat juga terlihat menyambar. Sebelum menuju apartement yang sudah dia siapkan sebulan sebelum dia datang. Darius memilih mengisi perutnya dahulu dari pada nanti dia harus ke luar lagi cari makan.
Setelah ke luar dari mobil, dengan terburu Darius berlari kecil menuju teras restaurant. Setelah berada di teras, tangannya menyapu air yang membasahi jaz hitamnya sebelum masuk ke dalam restaurant. Saat melakukan itu ujung mata Darius tertarik oleh sesuatu yang aneh di ujung beranda. Seorang gadis sedang duduk berjongkok di lantai teras restaurant. Baju dan rambutnya basah kuyup. Maskara yang dia pakai juga tampak luntur membentuk lingkaran bundar di sekitar matanya. Karena kasihan, Darius mendekati gadis itu.
"Dek, apa yang kamu lakukan di sini?" tanyanya setelah menepuk ringan pundak gadis itu.
"Aku laper, Om. Mau makan tapi nggak punya uang," jawab gadis itu tersenyum sedih.
Oo ... kasihan sekali batin Darius. Tapi jika tidak punya uang kenapa dia memilih restaurant mahal seperti ini. Gadis yang aneh. Entahlah, Darius tidak mau berpikir banyak. Mungkin dia memang sangat pemilih.
"Ayo masuk! Saya belikan kamu makan," ajak Darius.
"Makasih, Om." Senyuman mendadak muncul pada raut wajah gadis itu begitu Darius mengajaknya makan.
Darius dan gadis yang belum dia ketahui namanya tersebut sudah duduk pada salah satu meja di dalam restaurant. Tak lama kemudian pelayan membawakan makanan yang sudah mereka pesan sebelumnya. Seperti manusia yang belum makan satu bulan, gadis itu langsung memakan steak yang ada di depannya. Darius menatapnya aneh. Beberapa pertanyaan sederhana muncul di kepalanya saat ini.
"Enak ya?" tanya Darius. Gadis itu hanya mengangguk. Mulutnya masih sibuk mengunyah makanan.
"Rumah kamu di mana? Setelah ini saya antar kamu pulang?" lanjut pria itu lagi.
Setelah mendengar kata pulang. Gadis itu berhenti makan. Selera makannya seperti tiba-tiba sirna.
"Aku nggak punya rumah, Om."
Tidak punya rumah? Bagaimana bisa begitu. Darius saja tahu jika baju yang dikenakan gadis itu adalah brand mahal walaupun hanya sekedar kaos putih dan rok pendek berwarna denim. Dilihat dari separuh tubuhnya, bisa terlihat jika gadis ini anak dari orang kaya. Kulit putih cerah terawat. Hanya wajahnya saja tidak terlihat bagus karena make up yang luntur.
"Saya tahu kamu punya. Kenapa kamu ada di sini saat hujan lebat begini? Orang tuamu nggak nyariin?" tanya Darius.
"Enggak akan. Pokoknya aku nggak mau pulang. Titik, " jawab gadis itu tegas.
"Lalu?" Darius balik bertanya.
Kini gadis itu memandang dengan raut wajah kasihan. Sebentar dia mengangkat kedua pundaknya pertanda bahwa gadis itu juga tidak tahu mau ke mana. Darius menghela nafas, dia bingung harus bersikap apa.
Kenapa dia harus terjebak dalam situasi seperti ini? Jam sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Di luar hujan deras. Gadis ini tidak membawa tas atau apa pun. Dengan tubuh yang dirasa cukup lumayan ini, kalau berada sendirian di luar sana. Entah apa yang akan terjadi padanya. Darius bernafas besar sebelum akhinya kembali bertanya.
"Nama kamu siapa?"
"Aurora, Om."
"Kamu mau ikut pulang sama saya?"
Menghabiskan waktu bersama memang begitu menyenangkan. Tidak terasa langit sudah berubah gelap. Sekarang saatnya Darius mengantar Aurora pulang.Seperti sebelumnya, Darius mengantar Aurora sampai di depan gerbang rumah tetangganya. Berjarak sekitar dua rumah agar mobil Darius tidak nampak pada CCTV rumahnya."Aku pulang dulu ya, Dad." Pamit Aurora membuka sabuk pengaman."Ya, sampai ketemu lain waktu my sweety. Terima kasih untuk hari ini," jawab Darius. Betapa pria seperti Darius itu langka. Berterima kasih dan merasa menghabiskan waktu bersama itu adalah hal yang sangat spesial."Ya udah, aku pergi sekarang."Aurora mencium pipi Darius sebelum ke luar mobil. Dan sempat menengok lewat kaca mobil untuk melambaikan tangan.Mobil Darius berjalan pergi. Aurora berjalan masuk ke dalam rumahnya. Tanpa gadis itu sadari, rupanya mobil Dean ada di belakang mobil Darius dengan jarak tidak terlalu jauh. Mendapati anak gadisnya ke luar dari sebuah mobil. Dean berhenti, ia mematikan mesin dan mem
"Ahhhh ... akhirnya sampe rumah juga. Hufff ... capeknya."Darius merenggangkan badan. Ia tarik dasinya ke bawah agar sedikit lebih longgar. Dan membuka dua kancing kemeja bagian atas.Spontan Aurora berbalik badan saat dada Darius sedikit terlihat. Darius yang melihat itu menjadi sedikit heran. Ini anak kenapa? Biasanya bertingkah gila. Kenapa sekarang malu-malu mau. Pasalnya, Aurora berbalik badan tapi ia juga sedikit melirik. Ah, aneh-aneh saja tingkah gadis ini."Kamu kenapa, Ra?" tanya Darius sok tidak tahu."Nggak apa-apa," jawab Aurora singkat. Malu dong kalau dia harus mengaku jika ia malu karena melihat Darius membuka kancing baju."Ohh ... yaudah. Saya mau mandi dulu. Gerah ini. Rasanya pengen saya buka semua baju ini biar ilang gerahnya."Mata Aurora melotot mendengar Darius berkata membuka semua bajunya. Haduu ... kan ini berbahaya. Tidak boleh melakukan pergaulan bebas.Pura-pura tidak terkejut. Aurora berjalan menuju kursi. Ia ambil remot lalu menyalakan televisi."Ngapa
Berita tentang kematian Dona menyebar begitu cepat dan langsung menjadi viral. Berita itu juga sampai di telinga Darius. Ia melihat sosial media dan mendapati terjadi sesuatu di kampus tempat Aurora sekolah.Banyak cerita mulai bermunculan. Tentang siapa Dona. Tentang Brandon dan keluarganya. Berserta cerita-cerita yang berhubungan dengan mereka. Termasuk kisah yang berhubungan dengan Aurora.Mendengar terjadi hal buruk pada Aurora. Darius langsung menghubungi gadis itu. Ia mengirim pesan tapi Aurora tidak membuka pesannya. Ia telfon, Aurora juga tidak menjawab. Darius mengirim voice note juga tidak dibuka. Aurora di dalam kamar mandi. Sedang ponselnya berada di kamar."Ra, kamu di mana? Apa kamu baik-baik saja. Ya Tuhan, lindungi dia." Darius mengoceh sendiri.Sebal karena telfonnya tidak diangkat. Namun ia juga khawatir jika terjadi hal buruk pada Aurora jadi gadis itu tidak menjawab ponselnya.Tak bisa sabar dan sudah terlalu khawatir. Darius pergi menuju kampus Aurora. Di sana san
Dari atas balkon Brandon melihat tubuh Dona yang sudah tergeletak tidak bernyawa. Darah yang ke luar dari tubuh Dona laksana air kolam yang membasahi tubuhnya.Brandon melihat ke kanan dan ke kiri. Mencari tahu apakah di sana ada orang atau tidak. Menyadari jika tidak ada satu pun orang di sana. Brandon segera pergi untuk menghilangkan jejak.Ia tak berniat membunuh Dona. Ia juga tak menyangka jika akan seperti ini jadinya. Brandon memang tidak ingin bertanggung jawab. Juga tak peduli pada nasib Dona. Bahkan jika Dona mati pun Brandon tak peduli. Namun bukan berarti ia ingin Dona mati dengan cara seperti ini. Mati di tangannya. Brandon tak mau masuk penjara.Satu hal yang ada di pikiran Brandon saat ini. Sial, hidupnya menjadi sial karena hal ini. Karena Dona hamil. Harusnya ia tidak pernah mengenal Dona. Harusnya ia tidak pernah mendekati Dona. Bukannya sadar jika dirinya bersalah. Bukannya merasa bersalah atas kematian Dona. Brandon malah merasa ia telah tertimpa hal buruk karena ga
[ Nggak nyangka, ternyata mereka sebejat itu. Keliatannya doang baik-baik. Tapi ternyata busuk. ][ Maklum lah. Orang cantik dan ganteng mah bebas. Mau kumpul kebo, mau kumpul sapi. Yang penting enak. Hahahaha .... ][ Mentang-mentang populer di kampus. Jadi bisa berbuat apa aja. Dasar bejat. ][ Tidak bermoral. ][ Kalo punya Brandon masih kurang. Gue bersedia puasin. ][ Woi, Ra. Muncul lo. Jangan sembunyi. Udah kayak kecoak aja. ][ Ambil tuh testpack lo. Siapa yang mau nyentuh bekas pipis lo. ][ Ciuman di kampus. Test hamil di kampus. Bikin anak kayaknya di kampus juga nih anak. Sekalian aja ntar lahiran di kampus. ]Semua komentar-komentar buruk mahasiswa di group berkumpul menjadi satu. Seolah-olah mereka suci dan tidak pernah melakukan kesalahan. Menghakimi orang lain tanpa mencari tahu fakta yang sebenarnya."Chik, gimana ini?" Aurora bingung harus berbuat apa. Kenapa situasi jadi seburuk ini."Ra, kayaknya mereka nggak bisa ditenangkan dulu deh. Lo libur aja untuk hari ini.
"Hufff ... semoga hari ini lebih baik. Gue harus lebih waspada lagi dari si brengsek itu."Aurora berbicara sendiri. Meyakinkan diri untuk lebih waspada hari ini. Ia mulai memasuki kampus. Banyak mahasiswa yang datang lebih dulu darinya.Alih-alih hari ini akan lebih baik. Baru mulai saja Aurora sudah merasakan gelagat aneh. Semua mahasiswa melihat sinis ke arahnya. Memandang dengan tatapan jijik dan culas. Keadaan ini seolah lebih buruk dari kemarin.'Ada apa ini? Kenapa mereka semua ngeliat gue kayak gitu?' pikir Aurora. Tapi ia tak mau terlalu peduli. Aurora terus berjalan masuk ke dalam kampus."Raaa ... " dari jauh Chika berteriak sembari berlari ke arahnya."Iiiiyaa, Chikaaaa. Nggak perlu teriak-teriak gitu. Gue nggak budek." Aurora heran kenapa masih pagi Chika sudah begitu hebohnya."Ihh ... Lo tuh ya. Malah santai. Tuh lihat group." Wajah Chika begitu cemas. Tanpa bertanya Aurora langsung membuka ponselnya.Spontan mata Aurora melotot. Betapa ia terkejut setelah melihat group







