FAZER LOGINAurora tersenyum simpul. Tidak ada rasa takut akan apa pun, gadis itu langsung bersedia ikut ke rumah Darius.
"Mau, Om. Makasih yaa, Om. Oh yaa nama Om siapa?" gini giliran Aurora yang balik bertanya.
"Darius."
"Hmm ... nama Om bagus."
Aurora kembali meneruskan makannya dengan riang. Gadis jaman sekarang memang aneh. Tidak ada rasa takut dan khawatir sama sekali. Dengan mudahnya ikut bersama pria tidak dikenal. Padahal bisa saja pria ini berniat buruk padanya. Untung saja Darius tidak seperti itu. Setidaknya ini yang terjadi sekarang. Untuk beberapa jam kedepan, siapa tahu?
Selesai menghabiskan makanan. Keduanya langsung pergi menuju apartement milik Darius. Beberapa pertanyaan masih berkeliling di kepala Darius. Seperti kenapa gadis ini tidak ingin pulang? Namun dia tidak ingin bertanya sekarang. Darius menunggu saat yang tepat untuk bertanya, lalu kemudian dia akan mengantarkan gadis ini pulang begitu dia mendapatkan jawabannya. Setelah itu maka gadis ini akan aman. Sebagai manusia normal yang baik, Darius memang memiliki empati yang sebesar itu.
Tidak sampai tiga puluh menit mengendarai mobil, mereka telah sampai di apartment milik Darius. Apartement mewah lengkap dengan kolam renang di dalamnya. Seperti penampilan pemiliknya, apartement ini terkesan hangat.
"Om, tinggal sendiri di sini?" tanya Aurora. Matanya memeta seluruh ruangan itu.
"Ya."
"Om, belum menikah?" tanya gadis itu lagi.
"Kalau sudah bagaimana saya berani bawa kamu ke sini. Bisa habis saya sama Istri saya."
Ooo ... Aurora tertawa kecil. Darius penasaran kenapa gadis itu tertawa.
"Kenapa kamu ketawa?" tanyanya.
"Hmm ... Om, tipe suami-suami takut Istri rupanya," setelah selesai menjawab gadis itu kembali tertawa. Tawa yang jelas sekali bahwa itu mengejek.
Darius melangkah mendekat ke arah Aurora kemudian menyentil keras kening gadis itu dengan jarinya.
"Sok tahu kamu. Besar aja belum."
"Awww ... sakit, Om. Jangan main sentil-sentil sembarangan. Nanti aku bisa laporkan ke polisi dengan dungaan penganiayaan. Nggak takut apa?" ancam Aurora. Wajahnya menunjukkan mimik mengintimidasi. Membuat Darius ingin tertawa saja.
"Takut-takut. Kamu ini nggak takut sama saya? Saya bisa macam-macamin kamu di sini. Jangan berani-berani kamu sama saya."
Ekspresi mengintimidasi tadi tiba-tiba berubah menjadi wajah lugu dan manis. Seperti anak anjing yang dibelai tuannya. Sebuah senyuman juga tiba-tiba dimunculkan oleh Aurora.
"Hmm ... aku tahu Om nggak akan melakukannya. Om, aku mau mandi boleh? Badanku lengket banget. Nggak enak rasanya."
Darius kembali bernafas besar. Berharap apa dia? Gadis ini akan takut? Sepertinya tidak akan.
"Ya. Cepet mandi sana. Jelek banget muka kamu itu. Make up udah lari kemana-mana."
Aurora mengerucutkan bibir sepanjang lima senti dan sedikit melirik. Pastilah make upnya pada luntur semua. Secara tadi lumayan lama gadis itu kehujanan.
"Jelek, jelek. Aku ini cantik. Awas saja nanti kalau terpesona setelah lihat wajahku yang sudah selesai mandi."
Darius berusaha menahan tawa. Gadis ini, sangat unik. Tidak ada takut-takutnya sama sekali. Sudah gitu cerewet banget lagi. Mulutnya sudah seperti orang jual minyak ginseng buat pijat di pasar-pasar.
"Ya sana mandi. Cepat buat saya terpesona!" titah Darius kemudian tanpa sungkan Aurora langsung melenggang pergi menuju kamar mandi.
Setelah memastikan Aurora masuk ke dalam kamar mandi, Darius langsung mengganti pakaiannya. Bokser berwarna hitam dengan kaos putih. Sejak tadi dia sudah menantikan hal ini. Memakai pakaian ringan akan membuat tubuh merasa lebih nyaman.
Tidak lama setelah Darius selesai berganti pakaian. Aurora membuka pintu kamar mandi dan hanya mengeluarkan kepalanya saja pertanda jika gadis itu sudah melepas semua bajunya.
"Om, Om, sabunnya sama shamponya mana?" tanya Aurora.
Darius tertawa kecil. Dia baru saja pulang setelah sekian lama pergi. Sabun dan shampo jelas tidak ada di sini. Terlebih saat kemarin dia membeli apartement ini, Darius berpesan kepada petugas untuk membersihkan semuanya dan hanya menyisakan perabotan saja.
"Nggak usah pakai sabun aja deh. Saya baru balik dari luar negeri. Belum siapin semuanya," jawab Darius.
"Yaahh ... Om, masih bau dong nanti. Masih lengket juga nanti badannya. Tolong deh Om beli. Sama sekalian beli kondisioner kalo gitu biar rambutku lembut, Om."
Darius kembali bernafas besar. Dasar anak kecil ini, merepotkan sekali. Walaupun agak berat akhirnya pria itu pun bersedia pergi membeli apa yang di butuhkan gadis itu.
"Baiklah-baiklah. Saya pergi. Kamu tunggu di sini. Jangan mengacau!"
"Makasih, Om." Jawab Aurora. Suaranya terdengar seperti bahagia.
"Ohh ... Om, Om. Sekalian juga deh. Lilin, lilin. Lilin yang wangi, Om. Yang biasa di taruh di kamar mandi sama tempat spa, tahu kan?" tambah gadis itu membuat hati Darius sedikit geram.
Sekarang Darius terlihat seperti Suami yang sedang berusaha memenuhi kebutuhan Istrinya. Ah tidak, seperti Ayah yang sedang memenuhi kebutuhan anaknya lebih tepat. Dasar gadis ini, sepertinya dia memang Nona besar di rumahnya.
"Ya, baiklah. Tunggu di sini. Jangan hancurkan rumah!"
Tak berselang lama kemudian, Darius sudah kembali dari supermarket membawa barang-barang yang dibutuhkan Aurora. Tangannya yang besar mengetuk pintu kamar mandi.
"Cepat buka! Kalau nggak, nanti saya langsung masuk ke dalam loo ..." seru Darius bercanda.
Ceklek, belum lima detik Aurora langsung membuka pintu. Seperti sebelumnya gadis itu hanya mengeluarkan kepalanya saja, tapi bahu atasnya juga bisa terlihat sedikit. Bagian tubuh yang cukup menyenangkan untuk di pandang. Putih berseri dan mulus. Sebagai pria normal, Darius cukup menikmatinya.
"Jangan dong! Nanti Om untung besar."
Aurora langsung mengambil bungkusan plastik yang ada di tangan Darius kemudian kembali memasukkan kepalanya ke dalam kamar mandi. Darius tertawa kecil, baru sebentar saja dia sudah geleng-geleng kepala. Gadis ini selalu berhasil memberi kejutan kepadanya.
Setelah memberikan shampo dan sabun untuk Aurora. Darius duduk di sebuah sofa berwarna pastel yang ada di dalam kamarnya. Mengambil remot lalu menyalakan televisi. Suara senandung terdengar dari dalam kamar mandi. Tidak hanya berani, sepertinya Aurora juga sangat menikmati. Darius kembali tertawa kecil.
Cukup lama Auora berada di dalam kamar mandi. Entah apa yang gadis itu lakukan di dalam sana. Mungkin dia menunggu lilin wanginya habis. Apa mungkin dia menunggu sampai dakinya luntur semua. Tidak heran jika kulit gadis muda jaman sekarang lebih glowing. Mandinya saja selama ini. Memikirkan seorang gadis bagai peri, terdengar suara pintu kamar mandi terbuka pertanda jika peri kecil itu sudah selesai mandi.
'Akhirnya dia selesai juga,' batin Darius.
Entah kenapa Darius senang. Tanpa sadar dia menanti agar Aurora segera menyelesaikan mandinya. Supaya dia tidak sendirian, itu pemikiran terbesarnya sekarang.
"Om, Om, aku sudah selesai mandinya. Terus aku pakai baju apa?" teriak gadis itu dari pintu kamar mandi.
Dia sudah selesai mandi tapi belum finishing rupanya. Hmhh yaa ... Kenapa tidak sekalian saja tadi. Dasar gadis kecil merepotkan. Darius berjalan menuju koper yang tadi dia bawa. Mengambil sebuah kemeja berwarna putih lalu memberikannya pada Aurora.
"Pakai ini saja! Saya capek nggak mau ke luar lagi."
Aurora mengambil kemeja yang diberikan oleh Darius. Ini lebih baik dari pada tidak berpakaian. Segera gadis itu kembali masuk lalu memakai kemejanya. Sedangkan Darius kembali duduk di sofa menikmati tayangan televisi.
"Om, aku sudah selesai."
Tidak sampai dua menit kemudian akhirnya Aurora ke luar dari dalam kamar mandi dengan tersenyum riang. Wajahnya yang tadi lusuh sudah menjadi bersih dan menunjukkan bentuk aslinya. Cantik dan manis. Lesung pipi juga tampak dari kedua pipinya yang putih. Sejenak Darius terpesona, sumpah yang tadi diucapkan oleh Aurora akhirnya terwujud juga.
'Ternyata anak kecil ini cantik juga,' batin Darius.
Aurora sadar jika saat ini pria yang dia panggil Om itu sedang terpesona. Tak terlalu peduli, Aurora kemudian duduk di samping Darius dan menghadapkan tubuhnya ke arah pria itu. Tubuh proposional, aset dengan ukuran yang cukup, tidak terlalu besar dan tidak juga kecil. Di tutup dengan kemeja putih yang kebesaran. Aurora sangat cantik sekali. Ditambah dengan separuh paha sampai ke bawahnya terexplor dengan bebas, membuat Darius merasa bahwa daun muda di sampingnya ini akan sangat mudah menarik perhatian kaum adam. Termasuk dirinya sekarang.
Ancaman melalui email anonim itu ternyata bukan gertakan kosong. Hanya dalam waktu dua belas jam setelah Chika menerima pesan tersebut, mimpi buruk itu menjadi nyata. Saat Chika baru saja turun dari mobil di basemen apartemennya. Tempat yang seharusnya paling aman. Tiga pria bertopeng menyergapnya. Bahkan Rahmat, yang mencoba melawan, tersungkur setelah dihantam gagang senjata api. Chika diseret masuk ke dalam mobil van hitam yang melesat keluar, meninggalkan keheningan mencekam di basemen yang dingin. Dewa, yang saat itu baru saja menyelesaikan panggilan telepon dengan otoritas keuangan, mendapati Rahmat merangkak di lantai basemen dengan pelipis berdarah. Dunia Dewa seolah runtuh saat ia melihat tas tangan Chika tergeletak tragis di samping mobil yang pintunya masih terbuka. "Mereka membawanya, Pak..." rintih Rahmat. "Mereka tidak bicara, tapi mereka sangat profesional." Dewa tidak membuang waktu. Ia segera menghubungi nomor yang paling tidak ingin ia hubungi dalam hidupnya
Jakarta menyambut kepulangan Dewa dan Chika dengan wajah yang berbeda. Tak ada lagi baliho raksasa yang memajang wajah Sherly atau berita utama tentang pengambilalihan paksa oleh Adiwangsa Group.Yang tersisa adalah gedung Dewangga Corp yang berdiri kokoh, menanti pemimpinnya untuk melakukan pembersihan besar-besaran.Dengan dokumen wasiat asli Larasati di tangan, Dewa secara resmi menduduki kursi CEO tanpa ada lagi bayang-bayang Martha. Namun, restrukturisasi total bukanlah perkara mudah. Di hari pertama kembali berkantor, Dewa mengumpulkan seluruh manajer senior di ruang rapat utama.Di sampingnya, Chika duduk bukan lagi sebagai asisten yang membungkuk, melainkan sebagai penasihat strategis dengan hak suara penuh."Mulai hari ini, setiap kontrak yang ditandatangani di bawah tekanan Martha atau Sherly akan ditinjau ulang," suara Dewa bergema, dingin namun penuh wibawa. "Dewangga Corp akan kembali ke nilai intinya: inovasi dan integritas. Siapa pun yang merasa keberatan dengan transpa
Lantai bursa mungkin sudah tenang, namun badai di dalam hati Chika justru baru saja dimulai. Pernyataan Sherly dari balik jeruji ruang interogasi polisi seperti sebuah granat yang dilemparkan ke masa lalu. Ia menyebutkan sebuah nama desa di pesisir Jawa Tengah. Desa Karang Sewu, tempat di mana rahasia antara Larasati, ibu kandung Dewa, dan almarhumah ibu kandung Chika, Saraswati, terkubur bersama dendam Dion Adiwangsa. "Kita harus ke sana, Dewa," ucap Chika saat mereka berdiri di lobi apartemen yang gelap. "Polisi tidak akan bergerak tanpa bukti fisik, dan Sherly bilang bukti itu ada di rumah tua milik keluarga Larasati." Perjalanan delapan jam itu terasa sunyi. Hanya suara deru mesin dan rintik hujan yang menemani mereka menembus kegelapan pantura. Deru ombak di pesisir Karang Sewu terdengar seperti bisikan masa lalu yang menuntut penjelasan. Desa ini adalah tempat di mana Larasati, ibu kandung Dewa, menghabiskan masa kecilnya bersama Saraswati, ibu kandung Chika. Di sinilah
Suara sirene ambulans dan pemadam kebakaran di luar Hotel Gran Melia terdengar seperti latar belakang yang jauh bagi Chika. Ia duduk di dalam ambulans, bahunya dibungkus selimut darurat, namun matanya terpaku pada ponsel Sherly yang masih menyala di genggamannya.Kalimat itu terus berulang di kepalanya seperti kaset rusak. “...karena dia bukan anak kandungmu.”Dewa berdiri di sampingnya, mengabaikan luka bakar ringan di lengannya. Ia menatap Chika dengan cemas. "Chika, kamu harus ke rumah sakit. Paru-parumu perlu diperiksa."Chika mendongak, wajahnya yang terkena jelaga tampak pucat pasi. "Dewa... dengarkan ini."Ia memutar kembali pesan suara itu. Dewa membeku. Keheningan yang janggal tercipta di antara mereka, kontras dengan hiruk-pikuk petugas medis di sekitar mereka."Itu suara Nyonya Martha," bisik Dewa. "Dia bicara pada Papamu."Belum sempat Dewa mencerna informasi itu, sosok Dion Adiwangsa muncul di depan pintu ambulans. Wajah sang raksasa bisnis itu tidak lagi menunjukkan amar
Setelah malam pengakuan di bawah bintang, Chika terbangun dengan perasaan bahwa dunia sedikit lebih ringan. Namun, di dunia korporat yang kejam, ketenangan hanyalah jeda sebelum badai kategori lima menghantam.Pagi itu, kantor Dewangga Corp tidak lagi dipenuhi oleh bisik-bisik soal asisten culun, melainkan oleh kepanikan massal.Layar monitor di lobi menampilkan grafik merah yang menukik tajam. Adiwangsa Group baru saja mengumumkan Hostile Takeover—pengambilalihan paksa—terhadap Dewangga Corp.Dion Adiwangsa tidak lagi bermain di balik bayangan. Ia menyerang jantung pertahanan Dewa dengan membeli saham-saham kecil di pasar terbuka dalam jumlah masif."Papa benar-benar melakukannya," bisik Chika saat ia memasuki ruangan Dewa.Dewa berdiri di depan jendela kaca besarnya, ponsel di telinganya tak henti-henti bergetar. "Dia menyerang saat kita sedang lemah pasca skandal Martha. Dia ingin melumpuhkan operasional kita sebelum kita sempat memulihkan dana taktis yang dicuri kemarin."Namun, s
Dua jam yang diminta Dewa terasa seperti dua abad bagi para penghuni lantai tiga puluh. Ketika pintu ruang komisaris kembali terbuka, suasana tidak lagi dipenuhi teriakan. Heningnya mencekam, seperti udara sesaat sebelum badai besar menghantam pesisir. Chika melangkah masuk lebih dulu. Ia tidak lagi membawa tumpukan map kertas. Ia hanya membawa sebuah tablet tipis. Di belakangnya, Dewa berjalan dengan langkah tegap, matanya lurus menatap Martha yang duduk di ujung meja dengan tangan bersedekap angkuh. "Waktumu habis, Dewa," ujar Martha dingin. "Mana bukti bahwa asistenmu ini tidak merampok perusahaan?" Chika tidak menunggu Dewa menjawab. Ia meletakkan tablet-nya di tengah meja dan mengaktifkan proyeksi layar. "Saya tidak akan membela diri soal IP address atau jejak digital yang bisa dimanipulasi, Nona Sherly," Chika melirik Sherly yang mulai tampak gelisah. "Saya akan bicara soal aliran dana yang sebenarnya." Layar proyektor menampilkan skema rumit. Titik merah menunjukkan dana







