Home / Romansa / ISTRIKU SUGAR BABYKU / 2. OM, MASIH SINGLE?

Share

2. OM, MASIH SINGLE?

Author: Mystique
last update publish date: 2023-08-31 13:10:30

Aurora tersenyum simpul. Tidak ada rasa takut akan apa pun, gadis itu langsung bersedia ikut ke rumah Darius.

"Mau, Om. Makasih yaa, Om. Oh yaa nama Om siapa?" gini giliran Aurora yang balik bertanya.

"Darius."

"Hmm ... nama Om bagus."

Aurora kembali meneruskan makannya dengan riang. Gadis jaman sekarang memang aneh. Tidak ada rasa takut dan khawatir sama sekali. Dengan mudahnya ikut bersama pria tidak dikenal. Padahal bisa saja pria ini berniat buruk padanya. Untung saja Darius tidak seperti itu. Setidaknya ini yang terjadi sekarang. Untuk beberapa jam kedepan, siapa tahu?

Selesai menghabiskan makanan. Keduanya langsung pergi menuju apartement milik Darius. Beberapa pertanyaan masih berkeliling di kepala Darius. Seperti kenapa gadis ini tidak ingin pulang? Namun dia tidak ingin bertanya sekarang. Darius menunggu saat yang tepat untuk bertanya, lalu kemudian dia akan mengantarkan gadis ini pulang begitu dia mendapatkan jawabannya. Setelah itu maka gadis ini akan aman. Sebagai manusia normal yang baik, Darius memang memiliki empati yang sebesar itu.

Tidak sampai tiga puluh menit mengendarai mobil, mereka telah sampai di apartment milik Darius. Apartement mewah lengkap dengan kolam renang di dalamnya. Seperti penampilan pemiliknya, apartement ini terkesan hangat.

"Om, tinggal sendiri di sini?" tanya Aurora. Matanya memeta seluruh ruangan itu.

"Ya."

"Om, belum menikah?" tanya gadis itu lagi.

"Kalau sudah bagaimana saya berani bawa kamu ke sini. Bisa habis saya sama Istri saya."

Ooo ... Aurora tertawa kecil. Darius penasaran kenapa gadis itu tertawa.

"Kenapa kamu ketawa?" tanyanya.

"Hmm ... Om, tipe suami-suami takut Istri rupanya," setelah selesai menjawab gadis itu kembali tertawa. Tawa yang jelas sekali bahwa itu mengejek.

Darius melangkah mendekat ke arah Aurora kemudian menyentil keras kening gadis itu dengan jarinya.

"Sok tahu kamu. Besar aja belum."

"Awww ... sakit, Om. Jangan main sentil-sentil sembarangan. Nanti aku bisa laporkan ke polisi dengan dungaan penganiayaan. Nggak takut apa?" ancam Aurora. Wajahnya menunjukkan mimik mengintimidasi. Membuat Darius ingin tertawa saja.

"Takut-takut. Kamu ini nggak takut sama saya? Saya bisa macam-macamin kamu di sini. Jangan berani-berani kamu sama saya."

Ekspresi mengintimidasi tadi tiba-tiba berubah menjadi wajah lugu dan manis. Seperti anak anjing yang dibelai tuannya. Sebuah senyuman juga tiba-tiba dimunculkan oleh Aurora.

"Hmm ... aku tahu Om nggak akan melakukannya. Om, aku mau mandi boleh? Badanku lengket banget. Nggak enak rasanya."

Darius kembali bernafas besar. Berharap apa dia? Gadis ini akan takut? Sepertinya tidak akan.

"Ya. Cepet mandi sana. Jelek banget muka kamu itu. Make up udah lari kemana-mana."

Aurora mengerucutkan bibir sepanjang lima senti dan sedikit melirik. Pastilah make upnya pada luntur semua. Secara tadi lumayan lama gadis itu kehujanan.

"Jelek, jelek. Aku ini cantik. Awas saja nanti kalau terpesona setelah lihat wajahku yang sudah selesai mandi."

Darius berusaha menahan tawa. Gadis ini, sangat unik. Tidak ada takut-takutnya sama sekali. Sudah gitu cerewet banget lagi. Mulutnya sudah seperti orang jual minyak ginseng buat pijat di pasar-pasar.

"Ya sana mandi. Cepat buat saya terpesona!" titah Darius kemudian tanpa sungkan Aurora langsung melenggang pergi menuju kamar mandi.

Setelah memastikan Aurora masuk ke dalam kamar mandi, Darius langsung mengganti pakaiannya. Bokser berwarna hitam dengan kaos putih. Sejak tadi dia sudah menantikan hal ini. Memakai pakaian ringan akan membuat tubuh merasa lebih nyaman.

Tidak lama setelah Darius selesai berganti pakaian. Aurora membuka pintu kamar mandi dan hanya mengeluarkan kepalanya saja pertanda jika gadis itu sudah melepas semua bajunya.

"Om, Om, sabunnya sama shamponya mana?" tanya Aurora.

Darius tertawa kecil. Dia baru saja pulang setelah sekian lama pergi. Sabun dan shampo jelas tidak ada di sini. Terlebih saat kemarin dia membeli apartement ini, Darius berpesan kepada petugas untuk membersihkan semuanya dan hanya menyisakan perabotan saja.

"Nggak usah pakai sabun aja deh. Saya baru balik dari luar negeri. Belum siapin semuanya," jawab Darius.

"Yaahh ... Om, masih bau dong nanti. Masih lengket juga nanti badannya. Tolong deh Om beli. Sama sekalian beli kondisioner kalo gitu biar rambutku lembut, Om."

Darius kembali bernafas besar. Dasar anak kecil ini, merepotkan sekali. Walaupun agak berat akhirnya pria itu pun bersedia pergi membeli apa yang di butuhkan gadis itu.

"Baiklah-baiklah. Saya pergi. Kamu tunggu di sini. Jangan mengacau!"

"Makasih, Om." Jawab Aurora. Suaranya terdengar seperti bahagia.

"Ohh ... Om, Om. Sekalian juga deh. Lilin, lilin. Lilin yang wangi, Om. Yang biasa di taruh di kamar mandi sama tempat spa, tahu kan?" tambah gadis itu membuat hati Darius sedikit geram.

Sekarang Darius terlihat seperti Suami yang sedang berusaha memenuhi kebutuhan Istrinya. Ah tidak, seperti Ayah yang sedang memenuhi kebutuhan anaknya lebih tepat. Dasar gadis ini, sepertinya dia memang Nona besar di rumahnya.

"Ya, baiklah. Tunggu di sini. Jangan hancurkan rumah!"

Tak berselang lama kemudian, Darius sudah kembali dari supermarket membawa barang-barang yang dibutuhkan Aurora. Tangannya yang besar mengetuk pintu kamar mandi.

"Cepat buka! Kalau nggak, nanti saya langsung masuk ke dalam loo ..." seru Darius bercanda.

Ceklek, belum lima detik Aurora langsung membuka pintu. Seperti sebelumnya gadis itu hanya mengeluarkan kepalanya saja, tapi bahu atasnya juga bisa terlihat sedikit. Bagian tubuh yang cukup menyenangkan untuk di pandang. Putih berseri dan mulus. Sebagai pria normal, Darius cukup menikmatinya.

"Jangan dong! Nanti Om untung besar."

Aurora langsung mengambil bungkusan plastik yang ada di tangan Darius kemudian kembali memasukkan kepalanya ke dalam kamar mandi. Darius tertawa kecil, baru sebentar saja dia sudah geleng-geleng kepala. Gadis ini selalu berhasil memberi kejutan kepadanya.

Setelah memberikan shampo dan sabun untuk Aurora. Darius duduk di sebuah sofa berwarna pastel yang ada di dalam kamarnya. Mengambil remot lalu menyalakan televisi. Suara senandung terdengar dari dalam kamar mandi. Tidak hanya berani, sepertinya Aurora juga sangat menikmati. Darius kembali tertawa kecil.

Cukup lama Auora berada di dalam kamar mandi. Entah apa yang gadis itu lakukan di dalam sana. Mungkin dia menunggu lilin wanginya habis. Apa mungkin dia menunggu sampai dakinya luntur semua. Tidak heran jika kulit gadis muda jaman sekarang lebih glowing. Mandinya saja selama ini. Memikirkan seorang gadis bagai peri, terdengar suara pintu kamar mandi terbuka pertanda jika peri kecil itu sudah selesai mandi.

'Akhirnya dia selesai juga,' batin Darius.

Entah kenapa Darius senang. Tanpa sadar dia menanti agar Aurora segera menyelesaikan mandinya. Supaya dia tidak sendirian, itu pemikiran terbesarnya sekarang.

"Om, Om, aku sudah selesai mandinya. Terus aku pakai baju apa?" teriak gadis itu dari pintu kamar mandi.

Dia sudah selesai mandi tapi belum finishing rupanya. Hmhh yaa ... Kenapa tidak sekalian saja tadi. Dasar gadis kecil merepotkan. Darius berjalan menuju koper yang tadi dia bawa. Mengambil sebuah kemeja berwarna putih lalu memberikannya pada Aurora.

"Pakai ini saja! Saya capek nggak mau ke luar lagi."

Aurora mengambil kemeja yang diberikan oleh Darius. Ini lebih baik dari pada tidak berpakaian. Segera gadis itu kembali masuk lalu memakai kemejanya. Sedangkan Darius kembali duduk di sofa menikmati tayangan televisi.

"Om, aku sudah selesai."

Tidak sampai dua menit kemudian akhirnya Aurora ke luar dari dalam kamar mandi dengan tersenyum riang. Wajahnya yang tadi lusuh sudah menjadi bersih dan menunjukkan bentuk aslinya. Cantik dan manis. Lesung pipi juga tampak dari kedua pipinya yang putih. Sejenak Darius terpesona, sumpah yang tadi diucapkan oleh Aurora akhirnya terwujud juga.

'Ternyata anak kecil ini cantik juga,' batin Darius.

Aurora sadar jika saat ini pria yang dia panggil Om itu sedang terpesona. Tak terlalu peduli, Aurora kemudian duduk di samping Darius dan menghadapkan tubuhnya ke arah pria itu. Tubuh proposional, aset dengan ukuran yang cukup, tidak terlalu besar dan tidak juga kecil. Di tutup dengan kemeja putih yang kebesaran. Aurora sangat cantik sekali. Ditambah dengan separuh paha sampai ke bawahnya terexplor dengan bebas, membuat Darius merasa bahwa daun muda di sampingnya ini akan sangat mudah menarik perhatian kaum adam. Termasuk dirinya sekarang.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • ISTRIKU SUGAR BABYKU   (S2) MIMPI DI BALIK SERAGAM

    Apartemen The Penthouse di jam dua pagi terasa seperti akuarium raksasa yang sunyi. Cahaya lampu kota dari balik jendela kaca raksasa memantul di lantai marmer, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari mengikuti gerak awan. Dewa sudah masuk ke kamar utamanya setelah sesi "nasi goreng gila" yang ganjil itu, meninggalkan Chika sendirian di ruang tengah yang luas.Chika tidak bisa tidur. Adrenalin dari ancaman detektif Argo dan sisa kehangatan dari sentuhan tangan Dewa tadi masih menyengat saraf-sarafnya. Ia berjalan menuju perpustakaan pribadi Dewa yang terletak di sayap kiri apartemen. Ruangan itu berdinding kayu jati gelap, penuh dengan buku-buku tebal tentang makroekonomi, biografi tokoh dunia, dan tumpukan majalah bisnis internasional.Di sudut ruangan, sebuah meja kerja kecil tampak berdebu, seolah jarang disentuh. Di atasnya, tersampir sebuah seragam biru OG Dewangga Corp yang masih bersih—seragam cadangan milik Chika yang dibawa Rahmat semalam.Chika mengusap kain polies

  • ISTRIKU SUGAR BABYKU   (S2) 20. DINNER NASI GORENG

    Gedung apartemen The Penthouse berdiri angkuh tepat di sebelah gedung kantor Dewangga Corp, dihubungkan oleh lorong bawah tanah eksklusif yang hanya bisa diakses oleh pemilik unit tertinggi. Di sinilah Chika sekarang—berdiri di tengah ruang tamu minimalis yang didominasi warna abu-abu dan kaca. Apartemen Dewa sangat mencerminkan pemiliknya: luas, dingin, sangat teratur, dan sedikit angkuh.Di dinding ruang tamu, sebuah layar monitor besar menampilkan live feed dari beberapa kamera tersembunyi yang dipasang Rahmat di area parkir dan lobi kantor. Chika menatap layar itu dengan perasaan tidak menentu.Di layar, ia melihat Dewa keluar dari lobi utama. Pria itu tampak sangat tampan dengan setelan jas hitam tanpa dasi. Di sampingnya, seorang wanita cantik dengan gaun merah menyala dan tas branded keluaran terbaru sedang menggandeng lengannya dengan mesra."Sherly," gumam Chika lirih.Ia mengenali wanita itu. Sherly adalah putri dari pemilik bank swasta besar, salah satu teman lama Chika di

  • ISTRIKU SUGAR BABYKU   (S2) 19. DILEMA IDENTITAS

    Cahaya fajar yang merayap masuk dari celah tirai kantor tidak pernah terasa seberat ini bagi Chika. Ia kini tidak lagi mengenakan seragam biru OG-nya. Sebagai gantinya, ia memakai kemeja oversized putih dan celana bahan berwarna krem—pakaian yang dibelikan Rahmat atas perintah Dewa agar ia tampak seperti staf administrasi biasa.Namun, identitas barunya sebagai "asisten bayangan" di ruangan Dewa justru membuatnya merasa lebih terkurung daripada saat ia memegang sapu."Fokus, Chika. Kalau angka ini tidak sinkron, Barata punya celah untuk menggugat balik di pengadilan niaga minggu depan," suara Dewa memecah lamunan Chika.Dewa duduk di kursi kebesarannya, sementara Chika duduk di meja kecil di sudut ruangan yang kini dipenuhi laptop dan berkas-berkas audit. Sejak insiden di ruang arsip kemarin, suasana di antara mereka berubah. Ada profesionalisme yang sangat kaku, namun sesekali, saat mata mereka bertemu, bayangan napas yang beradu di ruang sempit itu kembali menghantui.Tiba-tiba, pon

  • ISTRIKU SUGAR BABYKU   (S2) 18. NAFAS DI RUANG ARSIP

    Dunia seolah berhenti berputar bagi Chika. Suara langkah sepatu pantofel yang tegas terdengar bergema di koridor luar, semakin mendekat ke arah pintu jati ruang kerja Dewa. Itu adalah irama langkah yang sangat ia kenal—langkah kaki Dion Adiwangsa, pria yang tidak pernah menerima kata "tidak" dan selalu mendapatkan apa yang ia inginkan."Sembunyi," bisik Dewa tajam.Chika panik. Matanya menyapu ruangan. Kolong meja kerja Dewa terlalu terbuka. Lemari buku? Terlalu sempit. Satu-satunya jalan keluar adalah pintu samping yang menghubungkan ruang kerja langsung ke ruang arsip pribadi Dewa yang kedap suara.Tanpa membuang waktu, Chika melesat masuk ke ruang arsip tersebut tepat saat pintu depan ruangan Dewa terbuka dengan dentuman pelan namun mengintimidasi.Klik.Chika menutup pintu ruang arsip dari dalam. Ruangan itu gelap, hanya diterangi cahaya biru dari indikator mesin penghancur kertas dan barisan rak besi yang penuh dengan map rahasia. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia taku

  • ISTRIKU SUGAR BABYKU   (S2) 17. SI PINTAR YANG DICARI

    Kemenangan Dewangga Corp atas Grup Barata menjadi tajuk utama di semua portal berita bisnis pagi ini. Judul-judul bombastis seperti "Manuver Jenius Dewangga: Titik Balik di Lentera Logistik" menghiasi layar televisi di lobi kantor. Dewa berhasil memukul mundur hiu-hiu Barata tepat di menit terakhir, membekukan proses merger dengan gugatan administrasi yang tak terduga.Namun, di lantai tiga puluh, sang pemenang justru tidak terlihat merayakan apa pun. Dewa duduk di kursi kebesarannya, mengabaikan tumpukan bunga ucapan selamat yang memenuhi meja sekretaris di luar. Matanya tertuju pada sebuah papan tulis putih di ruang rapat kecil yang terhubung langsung dengan ruang kerjanya."Rahmat, panggil semua staf yang punya akses ke lantai ini semalam. Semuanya. Tanpa kecuali," perintah Dewa lewat interkom. Suaranya datar, tapi mengandung otoritas yang tidak bisa dibantah."Termasuk tim kebersihan, Pak?" suara Rahmat terdengar ragu."Semuanya, Rahmat."Sepuluh menit kemudian, ruangan itu penuh.

  • ISTRIKU SUGAR BABYKU   (S2) 16. MEMO RAHASIA

    Ketegangan di lantai tiga puluh Dewangga Corp tidak mereda meski Nyonya Martha telah pergi. Justru, atmosfer di sana berubah menjadi lebih pekat dan dingin. Dewa mengurung diri di ruangannya selama berjam-jam. Rahmat mondar-mandir dengan wajah sepucat kertas, membawa tumpukan dokumen hukum yang tebalnya nyaris menyamai bantal tidur. Chika, yang kini memiliki akses lebih bebas ke lantai eksekutif, mencium aroma "darah" di udara bisnis. Sebagai putri Adiwangsa, ia tahu bau ini: bau pemangsa yang sedang mencoba menelan mangsanya bulat-bulat. "Rahmat, ada apa sebenarnya?" tanya Chika saat Rahmat keluar dari ruangan Dewa dengan bahu merosot. Rahmat menoleh, ragu sejenak, lalu berbisik pelan. "Grup Barata. Mereka melakukan hostile takeover. Mereka sudah menguasai empat puluh persen saham di pasar dan sekarang memaksa Pak Dewa untuk menandatangani perjanjian merger paksa. Kalau Pak Dewa menolak, mereka akan menjatuhkan nilai saham kita besok pagi." Chika tertegun. Grup Barata adalah r

  • ISTRIKU SUGAR BABYKU   28. FOTO CIUMAN

    "Hufff ... semoga hari ini lebih baik. Gue harus lebih waspada lagi dari si brengsek itu."Aurora berbicara sendiri. Meyakinkan diri untuk lebih waspada hari ini. Ia mulai memasuki kampus. Banyak mahasiswa yang datang lebih dulu darinya.Alih-alih hari ini akan lebih baik. Baru mulai saja Aurora su

    last updateLast Updated : 2026-03-23
  • ISTRIKU SUGAR BABYKU   27. BAD DAY

    Hari berganti. Meskipun ada kejadian buruk seperti kemarin. Aurora dan Chika tetap pergi kuliah. Saat di kampus, baik Aurora maupun Chika menjadi lebih waspada pada keadaan. Ia tidak mau Brandon brengsek itu mendekati mereka lagi.Chika dan Aurora berada di taman kampus saat ini. Sedang berjalan me

    last updateLast Updated : 2026-03-23
  • ISTRIKU SUGAR BABYKU   26. PASSION

    Obat yang ada di dalam tubuh Aurora semakin bereaksi. Di dalam gendongan Darius, Aurora mencoba menciumi leher pria itu."Dad, cium aku please!!!" Suara Aurora lirih dan mendesah.Sejujurnya Darius ingin tapi dia masih berusaha mempertahankan prinsipnya. Untuk tidak merusak seorang wanita. Apalagi

    last updateLast Updated : 2026-03-23
  • ISTRIKU SUGAR BABYKU   31. PEMAKAMAN DONA

    Berita tentang kematian Dona menyebar begitu cepat dan langsung menjadi viral. Berita itu juga sampai di telinga Darius. Ia melihat sosial media dan mendapati terjadi sesuatu di kampus tempat Aurora sekolah.Banyak cerita mulai bermunculan. Tentang siapa Dona. Tentang Brandon dan keluarganya. Berse

    last updateLast Updated : 2026-03-24
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status