LOGIN"Sudah selesai mandinya?" tanya Darius. Aurora mengangguk.
"Sudah seger?" Aurora kembali mengangguk.
"Sudah enak badannya?" tanya Darius lagi.
Matanya berpura-pura melihat layar televisi. Namun ujungnya mencoba melihat gadis muda segar yang ada di sampingnya. Aurora tersenyum mendengar pertanyaan Darius yang bertubi-tubi.
"Iyaaaa Ooommm ... Om sendiri nggak mandi?" tanya Aurora balik.
"Tadi sudah mandi sebelum naik pesawat. Singapore nggak terlalu jauh. Jadi saya juga baru mandi," jawab Darius jelas.
"Iya, iya, lagian nggak usah mandi juga Om sudah ganteng."
Darius menoleh. Apa sekarang gadis ini sedang mencoba menggodanya?
"Benarkah saya ganteng?"
"Tentu saja. Jelas tidak perlu diragukan."
Darius tertawa kecil. "Kamu juga cantik," pujinya balik.
Kini giliran Aurora yang tersenyum.
"Tapi Om ganteng gini kenapa belum punya Istri? Melihat apartement ini sepertinya Om juga kaya. Masak nggak laku sih Om," celetuk Aurora.
Gadis itu merasa sayang ada pria tampan kaya dan baik seperti ini tidak digunakan dan dibiarkan nganggur begitu saja. Baik? Seperti itu menurut Aurora sekarang. Jika tidak baik mungkin dia sudah diapa-apain sejak tadi kan? Dibilang tidak laku membuat Darius sedikit tersentil.
"Kamu ini anak kecil mana tahu. Saya ini tipe setia. Dahulu saya nggak kaya seperti ini. Terus karena itu pacar saya direbut sama sahabat saya. Sejak itu saya bekerja di luar negeri dan akhirnya menjadi berhasil seperti sekarang," jelas Darius. Aurora manggut-manggut.
"Ooo ... gituu ... lalu, apa sekarang Om akan merebut kembali pacar Om itu?" tanya Aurora.
Kisah ini dianggap terlalu drama oleh Aurora. Tapi mencari pria seperti ini rasanya sulit. Tetap setia setelah bertahun-tahun lamanya dan berusaha menjadi yang terbaik demi orang yang dicinta. Om, Om di depannya ini kini terlihat seperti seorang pemeran utama dalam sebuah drama. Terbesit di hati Aurora jika mendapatkan pria seperti ini mungkin dia akan bahagia? Kisah cintanya akan seperti dalam film-film.
"Entahlah, sudah dua puluh tahun yang lalu. Mungkin sekarang dia juga sudah bahagia. Jika saya tiba-tiba saya datang lalu merusak keluarganya. Saya akan terlihat seperti penjahat."
Aurora tersenyum lucu. "Jadi penjahat yang ganteng itu keren kok, Om."
Kini giliran Darius yang tersenyum. Gadis ini memang benar-benar di luar nalar. Begitu menarik banyak perhatiannya saat ini.
"Kamu tanya-tanya kehidupan saya dari tadi. Kamu sendiri kenapa nggak mau pulang ke rumah? Saya tahu kamu punya rumah," balas Darius.
"Ahh ... Om kepo nih. Mau tahu aja urusan orang."
Ehh ... ehh ... anak kecil ini. Tadi dia yang urusin kehidupan orang, sekarang dia bilang orang lain kepo.
"Kepo, kepo, saya mau tahu karena setelah saya bawa kamu ke sini itu berarti kamu menjadi tanggung jawab saya sekarang," jelas Darius.
"Gitu?" balas Aurora.
"Iyaaa ... dasarrr ... anak kecilll ...."
Darius mencubit pipi lembut nan putih Aurora. Entah kenapa tangannya tidak bisa menahan untuk tidak menyentuh wajah cantik itu. Dan benar saja, rasanya seperti menggenggam salju. Lembut dan dingin. Darius ingin sekali lagi memegangnya.
"Aku sebel sama Ayahku, Om. Dia itu posesif banget. Aku nggak boleh gini nggak boleh gitu. Nggak boleh deket-deket sama anak laki-laki. Padahal aku ini bintang sekolah loh dulu. Banyak anak cowok yang suka sama aku. Tapi semua itu percuma karena Ayahku nggak pernah bolehin aku deket sama mereka. Dia bilang bahaya deket-deket sama cowok. Tapi kan sekarang aku baru aja masuk kuliah. Ada banyak cowok ganteng dan keren di kampus. Kalau Ayahku tetap kayak gitu, bisa-bisa aku jadi perawan tua dong. Hehhh ... sebel banget aku sama Ayah. Makanya itu sekarang aku pergi dari rumah. Mana lupa lagi nggak bawa tas sama dompet jadi aku kayak gembel tadi."
Jelas Aurora panjang kali lebar. Mana ada orang kabur tapi masih mikir dompet yang uangnya punya orang tua. Dasar Aurora.
Selama berbicara Darius fokus melihat mulut Auora yang tidak bisa diam saat menjelaskan kondisinya. Seperti burung yang sedang ikut lomba. Cicit cuit cicit cuit cicit cuit. Mulut Aurora terus saja berkicau. Hal itu rupanya berhasil membuat Darius merasa sangat gemas sampai ingin menutup mulut itu dengan sesuatu. Dengan bibirnya misal.
"Tapi Ayah kamu benar Aurora. Laki-laki itu berbahaya. Ayahmu hanya mau melindungi kamu," Darius mencoba mengingatkan gadis itu.
"Iya tahu. Tapi kan nggak semuanya laki-laki begitu. Contohnya Om nih. Nggak jahat kan? Nggak berbahaya kan?" tangan Aurora bergerak-gerak dengan bahu naik turun. Tatapannya fokus tertuju pada wajah Darius.
Darius terbungkam sejenak. Jika saja dia mau, Darius bisa menghabiskan Aurora sekarang juga. Jelas dia punya kuasa, dan Aurora tidak bisa melakukan apa-apa. Tapi jika melakukannya, Darius akan terlihat seperti pedofil. Gadis ini baru saja menjelaskan jika dia baru lulus sekolah. Usianya mungkin sekitar delapan belas atau sembilan belas tahun. Sedangkan dirinya sudah hampir menginjak kepala empat. Itu jarak yang sangat jauh.
"Saya nggak berbahaya karena masih mikir masa depan kamu. Saya nggak mau merusak itu. Kalau teman-teman kamu yang masih muda kan beda. Yang mereka tahu hanya mengexpresikan emosi tapi dengan cara yang salah. Mereka tidak tahu kalau itu nanti akan berpengaruh besar di masa depan. Dan bisa merusak masa depan kalian."
Aurora mendengar dengan seksama semua ucapan yang dikatakan oleh Darius. Dan Aurora juga setuju dengan itu. Tapi sebagai kaum muda, dia juga memiliki keinginan untuk punya hubungan cinta yang romantis. Bukankah itu juga hal yang wajar?
Aurora menelisik sosok pria yang ada di depannya saat ini. Selain dewasa, Om Om bernama Darius ini juga sangat tampan. Bahkan bisa dibilang sangat membanggakan jika di ajak jalan-jalan. Tipe-tipe wajah kekasih yang sangat perlu dipamerkan pada dunia karena tampannya di atas rata-rata. Kaya sudah pasti, masa depan jelas terjamin. Dan juga walaupun baru sebentar bertemu, Aurora merasa sangat nyaman. Tidak ada rasa takut dan khawatir sama sekali. Hanyut dalam menelisik sosok pria mengagunkan di depannya. Sebuah pemikiran konyol tiba-tiba saja melintas di kepala Aurora.
'Pacarin enak nih. Ihh ... Gila. Gila. Gila. Dia sudah tua,' batin Aurora.
Umurnya mungkin sama seperti Ayahnya. Tapi entah kenapa kegilaan itu rupanya telah menguasai pikiran gadis itu. Aurora sekarang sangat ingin menjadikan pria ini sebagai pacarnya.
"Om, mau nggak jadi pacarku?"
Darius terkejut. Matanya membulat seketika setelah mendengar tawaran dari gadis yang saat ini ada di depannya. Cantik sih. Lucu juga. Cukup menyenangkan sejak tadi bersamanya. Tapi mungkinkah dengan anak kecil ini?
**
"Gimana? Om, mau nggak jadi sugar daddyku dan aku jadi sugar babynya?"
Darius menahan nafas besar. Konsentrasinya sekarang terpecah menjadi dua. Pada wajah cantik di hadapannya dan juga pada adik yang sedang terus tumbuh menjadi besar. Semakin gadis ini bergerak sedikit saja maka barang berharga itu juga semakin bergerak membesar. Bahkan rupanya benda itu juga bisa merasa jika selama ini Darius kesepian dan kurang belaian.
"Aku tahu loo kalau Om juga tertarik sama aku. Ini sekarang saja, itunya Om berubah jadi gede. Dengar ya Om, aku ini belum pernah berciuman sebelumnya. Kalau Om mau jadi sugar daddyku maka Om bakal dapat semuanya yang pertama. Nggak akan rugi deh. Aku masih segelan baru, Om."
Tak.
Sekali lagi Darius menyentil kening itu keras. Lebih keras dari sebelumnya hingga menimbulkan bekas merah.
"Aduuuhhhh ... ko disentil lagi siihhh ... kan saakiitttt."
Gila. Gadis di depan Darius ini memang gila. Bersikap begitu berani pada pria dewasa. Jika saja Darius hilang akal sekarang. Saat ini sudah pasti Aurora dia habiskan.
"Habis kamu kalau ngomong nggak disaring. Jangan suka bilang begitu sama laki-laki. Nanti bisa terjadi hal yang tidak diinginkan."
Darius gemas sekaligus malu hasratnya ketahuan oleh Aurora. Memang sih, dengan sekeras itu pasti di tempat Aurora duduk sekarang sudah pasti berasa. Tapi gadis ini bagaimana berbicara begitu gamblang seperti itu. Bikin Darius malu dan salah tingkah saja.
Aurora berdecih. "Hal yang diinginkan kali, Om. Walaupun aku belum tahu rasanya tapi semua orang bilang itu enak. Buktinya, baru duduk atas itu aja sekarang rasanya geli-geli enak. Apalagi kalau ___ hehehe enak banget kali yaa ..." Aurora emang gadis sableng sepertinya. Bisa-bisanya dia tidak malu berbicara seperti itu di depan Darius.
"Di apa? Di apa hayoo?" Darius berusaha menahan tawa. Gadis di depannya ini benar-benar membuatnya merasa emboh.
"Di itu, Om. Ah Om ini bikin aku malu aja."
Dih ... dih ... dih ... dia sendiri yang ngomong. Sekarang Aurora bilang malu. Aurora Aurora dasar lucu banget.
"Tapi kalau Om nggak mau yaudah, jangan disentil keras gitu juga kali. Sakit tahu," sambung gadis itu. Alisnya mengerut. Mulutnya monyong lima senti. Ujung bibirnya itu udah persis Woody woodpecker.
Namun, bukannya kasihan Darius justru tertawa melihat Aurora terus memegang keningnya yang tadi kena sentil.
"Mana? Mana? Mana sih yang sakit?"
Darius membelai kening Aurora yang telah disentilnya. Sekarang laki-laki itu benar-benar sudah terpancing. Pikiran gilanya mengatakan ingin bersama dengan gadis ini. Aurora senang karena Darius membelainya dengan lembut. Rasanya seperti memiliki pacar yang pengertian. Sekalian saja ditiup biar sakitnya lebih cepat hilang. Tapi yang dilakukan Darius justru lebih dari yang diharapkan.
Cup! Darius mengecup kening Aurora.
"Om," Aurora tercengang. Darahnya mendesir dengan cepat dari ujung kaki sampe ke ubun-ubun.
"Siapa yang nggak mau. Saya mau ko. Jadi pacar gadis cantik begini, siapa yang nggak mau."
Aurora tersenyum. "Om," panggil gadis itu lagi.
"Apa?"
"Ciumnya lagi dong, Om."
Lantai bursa mungkin sudah tenang, namun badai di dalam hati Chika justru baru saja dimulai. Pernyataan Sherly dari balik jeruji ruang interogasi polisi seperti sebuah granat yang dilemparkan ke masa lalu.Ia menyebutkan sebuah nama desa di pesisir Jawa Tengah. Desa Karang Sewu, tempat di mana rahasia antara Larasati, ibu kandung Dewa, dan almarhumah ibu kandung Chika, Saraswati, terkubur bersama dendam Dion Adiwangsa."Kita harus ke sana, Dewa," ucap Chika saat mereka berdiri di lobi apartemen yang gelap. "Polisi tidak akan bergerak tanpa bukti fisik, dan Sherly bilang bukti itu ada di rumah tua milik keluarga Larasati."Perjalanan delapan jam itu terasa sunyi. Hanya suara deru mesin dan rintik hujan yang menemani mereka menembus kegelapan pantura.Deru ombak di pesisir Karang Sewu terdengar seperti bisikan masa lalu yang menuntut penjelasan.Desa ini adalah tempat di mana Larasati, ibu kandung Dewa, menghabiskan masa kecilnya bersama Saraswati, ibu kandung Chika. Di sinilah rahasia
Suara sirene ambulans dan pemadam kebakaran di luar Hotel Gran Melia terdengar seperti latar belakang yang jauh bagi Chika. Ia duduk di dalam ambulans, bahunya dibungkus selimut darurat, namun matanya terpaku pada ponsel Sherly yang masih menyala di genggamannya.Kalimat itu terus berulang di kepalanya seperti kaset rusak. “...karena dia bukan anak kandungmu.”Dewa berdiri di sampingnya, mengabaikan luka bakar ringan di lengannya. Ia menatap Chika dengan cemas. "Chika, kamu harus ke rumah sakit. Paru-parumu perlu diperiksa."Chika mendongak, wajahnya yang terkena jelaga tampak pucat pasi. "Dewa... dengarkan ini."Ia memutar kembali pesan suara itu. Dewa membeku. Keheningan yang janggal tercipta di antara mereka, kontras dengan hiruk-pikuk petugas medis di sekitar mereka."Itu suara Nyonya Martha," bisik Dewa. "Dia bicara pada Papamu."Belum sempat Dewa mencerna informasi itu, sosok Dion Adiwangsa muncul di depan pintu ambulans. Wajah sang raksasa bisnis itu tidak lagi menunjukkan amar
Setelah malam pengakuan di bawah bintang, Chika terbangun dengan perasaan bahwa dunia sedikit lebih ringan. Namun, di dunia korporat yang kejam, ketenangan hanyalah jeda sebelum badai kategori lima menghantam.Pagi itu, kantor Dewangga Corp tidak lagi dipenuhi oleh bisik-bisik soal asisten culun, melainkan oleh kepanikan massal.Layar monitor di lobi menampilkan grafik merah yang menukik tajam. Adiwangsa Group baru saja mengumumkan Hostile Takeover—pengambilalihan paksa—terhadap Dewangga Corp.Dion Adiwangsa tidak lagi bermain di balik bayangan. Ia menyerang jantung pertahanan Dewa dengan membeli saham-saham kecil di pasar terbuka dalam jumlah masif."Papa benar-benar melakukannya," bisik Chika saat ia memasuki ruangan Dewa.Dewa berdiri di depan jendela kaca besarnya, ponsel di telinganya tak henti-henti bergetar. "Dia menyerang saat kita sedang lemah pasca skandal Martha. Dia ingin melumpuhkan operasional kita sebelum kita sempat memulihkan dana taktis yang dicuri kemarin."Namun, s
Dua jam yang diminta Dewa terasa seperti dua abad bagi para penghuni lantai tiga puluh. Ketika pintu ruang komisaris kembali terbuka, suasana tidak lagi dipenuhi teriakan. Heningnya mencekam, seperti udara sesaat sebelum badai besar menghantam pesisir. Chika melangkah masuk lebih dulu. Ia tidak lagi membawa tumpukan map kertas. Ia hanya membawa sebuah tablet tipis. Di belakangnya, Dewa berjalan dengan langkah tegap, matanya lurus menatap Martha yang duduk di ujung meja dengan tangan bersedekap angkuh. "Waktumu habis, Dewa," ujar Martha dingin. "Mana bukti bahwa asistenmu ini tidak merampok perusahaan?" Chika tidak menunggu Dewa menjawab. Ia meletakkan tablet-nya di tengah meja dan mengaktifkan proyeksi layar. "Saya tidak akan membela diri soal IP address atau jejak digital yang bisa dimanipulasi, Nona Sherly," Chika melirik Sherly yang mulai tampak gelisah. "Saya akan bicara soal aliran dana yang sebenarnya." Layar proyektor menampilkan skema rumit. Titik merah menunjukkan dana
Pagi itu, Jakarta menyambut Chika dengan tajuk berita yang lebih panas dari terik matahari Sudirman. Foto dirinya yang mengenakan jaket hoodie lusuh dengan tangan terborgol di depan sebuah gedung di London tersebar luas.Narasi yang dibangun Martha dan Sherly sangat rapi dan mematikan. Chika digambarkan sebagai sosiopat pemberontak yang memiliki catatan kriminal, yang menyusup ke Dewangga Corp untuk melakukan sabotase dari dalam.Dampak instannya nyata. Saham Dewangga Corp terjun bebas sebesar 4,8% dalam pembukaan pasar pagi ini.Di ruang rapat dewan komisaris, suasananya jauh lebih dingin daripada pendingin ruangan yang disetel ke suhu minimal. Nyonya Martha duduk di kursi utama, mengelilingi meja bersama para pemegang saham kawakan yang wajahnya tampak sangat tidak puas.Dewa berdiri di ujung meja, sementara Chika—yang menolak untuk bersembunyi—berdiri tegak di sampingnya."Dewa, ini sudah keterlaluan!" salah satu komisaris senior menggebrak meja. "Reputasi perusahaan ini dibangun s
Kehancuran di Grand Ballroom semalam menyisakan puing-puing reputasi yang berserakan. Berita tentang kegagalan pertunangan Dewa dan pengkhianatan Sherly menjadi santapan liar media sosial. Namun, di kediaman mewah keluarga Dewangga yang bergaya kolonial, suasana justru terasa seperti markas militer yang tengah merancang serangan balik.Nyonya Martha duduk di kursi goyangnya, menatap perapian yang padam dengan mata merah karena amarah. Di depannya, Sherly terisak—entah tulus atau sekadar akting—sembari memegang kompres es di pipinya yang memerah akibat tamparan Martha semalam."Berhenti menangis, Sherly! Air matamu tidak akan mengembalikan saham yang anjlok pagi ini," bentak Martha, suaranya parau namun tajam."Tante... Chika itu iblis. Dia meretas ponselku! Dia mempermalukanku di depan semua orang!" Sherly merengek, mencoba mencari pembelaan. "Kita harus menghancurkannya. Kita tidak bisa membiarkan putri Adiwangsa itu menguasai Dewa."Martha berdiri, berjalan menuju jendela yang mengh







