로그인Lantai tiga puluh yang biasanya sunyi dan berwibawa mendadak terasa mencekam. Di dalam ruangan kerja Dewa, seorang wanita paruh baya dengan setelan tweed Chanel dan tatanan rambut sasak sempurna sedang duduk di kursi kebesaran Dewa. Nyonya Martha Dewangga. Matanya yang tajam bak elang langsung menghunjam ke arah Dewa dan Chika yang baru saja masuk."Keluar dari gedung di jam kerja hanya untuk makan bubur pinggir jalan, Dewa? Kamu sudah kehilangan akal sehat?" suara Martha dingin, bergetar karena amarah yang tertahan.Dewa berdiri tegak, tangannya yang tadi sempat santai kini kembali kaku di samping tubuh Ibunya. "Ibu, lambung saya sedang bermasalah. Makanan di kantor terlalu berat.""Dan kamu membiarkan pelayan ini membawamu ke tempat kumuh seperti itu?" Martha menunjuk Chika dengan dagunya, seolah Chika adalah kuman yang baru saja menyerang putranya. "Rahmat bilang dia hanya staf kebersihan. Kenapa dia punya akses begitu dekat dengan kamu?"Chika menunduk sedalam mungkin. Ia bisa mer
Siang itu, matahari Jakarta berada tepat di puncaknya, memanggang aspal Sudirman hingga tampak bergelombang karena panas. Di lantai tiga puluh, pendingin ruangan bekerja ekstra keras, namun suasana di dalam ruang kerja Dewa terasa lebih gerah daripada suhu di luar.Dewa tampak gelisah. Wajahnya yang tadi pagi sudah sedikit segar, kini kembali menekuk. Ia berkali-kali memijat ulu hatinya sambil menatap layar monitor dengan tatapan kosong. Rapat koordinasi dengan tim legal baru saja selesai, dan Dewa tidak menyentuh makan siang katering premium yang disediakan Rahmat."Pak, Bapak belum makan," tegur Chika yang sedang mengganti bunga di vas sudut ruangan. Ia memperhatikan nampan makanan mewah berisi wagyu steak dan salad organik itu masih utuh."Saya tidak selera," jawab Dewa pendek. Suaranya terdengar agak serak."Bapak mau pingsan lagi kayak semalam? Nanti saya nggak mau ya mijit perut Bapak lagi. Capek," sindir Chika tanpa rasa takut.Dewa mendongak, menatap Chika dengan tajam. "Kamu
Sinar matahari pagi yang menembus jendela kaca setinggi langit-langit menyentuh kelopak mata Chika, memaksanya terbangun. Ia mengerjap, menyadari dirinya tidak terbangun di atas kasur busa tipis kos-kosannya, melainkan di atas sofa kulit Italia yang empuk. Dan yang lebih mengejutkan, sebuah jas wol berwarna charcoal—yang baunya sangat maskulin dan akrab—menyelimuti tubuhnya.Chika terduduk tegak, jantungnya berpacu. Ia melirik ke arah meja kerja. Dewa sudah di sana, duduk rapi dengan kemeja baru yang entah kapan ia ambil dari ruang ganti pribadinya. Pria itu sedang menyesap kopi, matanya tertuju pada layar tablet seolah insiden "cokelat murah" semalam tidak pernah terjadi."Sudah bangun?" tanya Dewa tanpa menoleh. Suaranya kembali dingin, namun tidak setajam biasanya.Chika segera berdiri, merapikan seragam birunya yang kusut. "Maaf, Pak. Saya... saya ketiduran. Harusnya saya tidak boleh di sini.""Kamu memang tidak boleh di sini kalau hanya untuk tidur," Dewa meletakkan tabletnya dan
Malam di lantai tiga puluh biasanya hanya menyisakan kegelapan yang dipantulkan oleh gedung-gedung pencakar langit Jakarta. Namun bagi Chika, malam ini adalah lembur paksa. Bukan karena perintah Dewa, melainkan karena kesalahannya sendiri yang menumpahkan sebotol tinta printer di atas karpet ruang arsip saat mencoba merapikan berkas yang diminta Rahmat.Setelah hampir dua jam berlutut dan menggosok karpet hingga tangannya memerah, Chika akhirnya menyerah. Ia berjalan menuju pantry untuk mencuci tangannya yang bernoda hitam. Saat melewati koridor menuju ruang kerja Dewa, ia melihat cahaya redup merayap dari balik pintu jati yang sedikit terbuka.Jam satu pagi? Dia masih di sini?Chika berniat lewat begitu saja. Urusan Dewa bukan urusannya. Namun, sebuah suara aneh menghentikan langkahnya. Bukan suara ketikan keyboard atau gumaman telepon, melainkan suara napas yang pendek dan berat, diikuti bunyi denting kaca yang bersentuhan dengan meja.Didorong oleh rasa ingin tahu yang lebih besar
Pagi itu, suasana di ruang kerja Dewa terasa lebih berat dari biasanya. Chika masuk dengan langkah waspada, membawa nampan berisi kopi hitam tanpa gula—persis seperti yang Dewa minta sejak insiden "Ujian Kafein".Dewa tidak ada di kursinya. Pintu ruang rapat pribadinya terbuka sedikit, menunjukkan bahwa pria itu sedang menerima telepon penting. Chika bernapas lega, setidaknya ia punya waktu lima menit untuk membersihkan meja tanpa harus merasa diawasi oleh sepasang mata elang itu.Namun, saat ia hendak mengangkat tumpukan berkas yang berserakan, matanya tertuju pada sesuatu yang sangat tidak biasa.Di sudut meja, tergeletak sebuah jam tangan Patek Philippe—bukan yang ia kenali kemarin, tapi seri yang jauh lebih langka. Di sampingnya, sebuah dompet kulit buaya terbuka, memperlihatkan tumpukan uang tunai pecahan seratus ribu yang sangat tebal, serta kartu kredit Black Card yang tergeletak begitu saja.Chika mematung. Ini gila. Orang se'epik Dewangga tidak mungkin seceroboh ini meninggal
Jakarta sore itu seolah sedang ingin menumpahkan seluruh kemarahannya. Langit yang tadinya hanya abu-abu mendadak pekat, lalu dalam hitungan menit, hujan deras mengguyur aspal ibu kota dengan intensitas yang membutakan. Bunyi petir bersahutan, menggetarkan kaca-kaca jendela di lantai tiga puluh Dewangga Corp.Chika berdiri di lobi samping, menatap deretan air yang jatuh seperti tirai raksasa. Ia baru saja menyelesaikan shifnya. Tubuhnya terasa remuk setelah seharian berkutat dengan tumpukan berkas teknis yang diberikan Dewa-sebuah "tugas tambahan" yang sebenarnya adalah ujian terselubung."Sial, payung gue ketinggalan di loker," gumam Chika pada diri sendiri.Ia melirik jam tangannya-bukan jam tangan mewah kemarin, melainkan jam digital murah yang baru ia beli di pasar malam agar tidak memancing kecurigaan lagi. Sudah jam setengah enam sore. Angkutan umum pasti akan penuh sesak, dan di cuaca seperti ini, mencari ojek online adalah sebuah kemustahilan.Chika menarik napas panjang, mena
[ Nggak nyangka, ternyata mereka sebejat itu. Keliatannya doang baik-baik. Tapi ternyata busuk. ][ Maklum lah. Orang cantik dan ganteng mah bebas. Mau kumpul kebo, mau kumpul sapi. Yang penting enak. Hahahaha .... ][ Mentang-mentang populer di kampus. Jadi bisa berbuat apa aja. Dasar bejat. ][ T
Menghabiskan waktu bersama memang begitu menyenangkan. Tidak terasa langit sudah berubah gelap. Sekarang saatnya Darius mengantar Aurora pulang.Seperti sebelumnya, Darius mengantar Aurora sampai di depan gerbang rumah tetangganya. Berjarak sekitar dua rumah agar mobil Darius tidak nampak pada CCTV
"Ahhhh ... akhirnya sampe rumah juga. Hufff ... capeknya."Darius merenggangkan badan. Ia tarik dasinya ke bawah agar sedikit lebih longgar. Dan membuka dua kancing kemeja bagian atas.Spontan Aurora berbalik badan saat dada Darius sedikit terlihat. Darius yang melihat itu menjadi sedikit heran. In
Wajah Dean terus terbayang di pikiran Darius selama pria itu perjalanan pulang. Ia tidak menyangka jika ini akan terjadi. Rasa sakit yang sudah terkubur selama bertahun-tahun jadi muncul kembali. Luka lama yang susah payah Darius sembuhkan menjadi terbuka lagi.Ia ingat bagaimana dulu di masa muda







