Accueil / Rumah Tangga / ISTRIMU TERNYATA SULTAN / BAB 4: Perang Skincare dan Air Dingin

Share

BAB 4: Perang Skincare dan Air Dingin

Auteur: Siapaja
last update Dernière mise à jour: 2025-12-27 00:18:04

Pukul 06.00 pagi. Alarm dari ponsel Rangga berbunyi nyaring bukan lagu klasik yang menenangkan seperti di penthouse-nya, melainkan suara default "Radar" yang memekakkan telinga.

Berlin tersentak bangun, kepalanya membentur sesuatu yang keras.

"Aduh!"

"Aww!"

Rangga mengusap dagunya yang baru saja disundul oleh kepala Berlin. Mereka berdua terdiam, saling menatap dengan mata bengkak khas bangun tidur, menyadari posisi mereka.

Kaki Berlin membelit kaki Rangga. Tangan Rangga menindih rambut Berlin. Kasur Queen Size itu ternyata terlalu sempit untuk dua ego yang terbiasa tidur di kasur King Koil sendirian.

"Minggir," desis Berlin, menendang selimut tipis yang melilit mereka. "Napas lo bau naga."

"Napas lo bau... bawang goreng sisa semalam," balas Rangga tak mau kalah, meski jantungnya berdegup kencang karena jarak wajah mereka hanya lima sentimeter.

Berlin segera melompat turun dari kasur, menyambar handuk, dan berlari menuju satu-satunya pintu sakral di rumah itu: Kamar Mandi.

"Gue duluan!" teriak Berlin.

"Eh, curang! Gue ada meeting pagi sama klien!" Rangga memprotes, tapi terlambat. Pintu kamar mandi terbanting dan suara kunci diputar terdengar seperti vonis mati bagi kandung kemihnya.

Tiga puluh menit berlalu.

Rangga mengetuk pintu kamar mandi dengan ritme yang semakin tidak sabar.

"Yang... Istriku yang cantik jelita... kamu di dalem ngapain? Bikin candi? Udah setengah jam!" seru Rangga sambil melompat-lompat kecil menahan pipis.

Dari dalam, terdengar suara gemericik air dan denting botol kaca yang beradu.

"Sebentar!" sahut Berlin. "Gue lagi layering serum ke-empat!"

Serum ke-empat? batin Rangga menjerit. Wanita ini mau pergi kerja admin atau mau pemotretan majalah Vogue?

Lima belas menit kemudian, pintu akhirnya terbuka. Uap hangat mengepul keluar, membawa aroma rose water dan sandalwood yang sangat mewah jelas bukan aroma sabun batangan Alfamart.

Berlin keluar dengan wajah glowing sempurna, mengenakan bathrobe sutra (yang ia klaim beli di pasar ular), dan handuk melilit di kepala.

"Silakan, Paduka," kata Berlin dengan senyum puas yang menyebalkan. "Air panasnya abis, ya. Sorry."

Rangga melotot horor. "Hah?"

Ia menyerbu masuk. Kamar mandi itu... bencana.

Di atas wastafel kecil yang seharusnya minimalis, kini berjejer rapi "pasukan" botol Berlin. Ada pembersih wajah, toner eksfoliasi, toner hidrasi, esens, serum vitamin C, serum anti-aging, pelembab mata, pelembab wajah, dan sunscreen. Merek-mereknya La Mer, SK-II, Sulwhasoo telah diputar sedemikian rupa agar labelnya menghadap tembok, menyembunyikan identitas harganya yang setara cicilan motor.

Rangga tidak punya waktu untuk kagum. Ia menyalakan shower.

Crot.

Air yang keluar bukan hangat, bukan juga dingin menyegarkan. Tapi air dingin menusuk tulang khas air tanah pagi hari.

"ARGH!" Rangga menjerit tertahan saat air es itu mengguyur punggungnya. Pemanas air listrik berdaya rendah itu sudah kehabisan tenaga setelah sesi spa Berlin.

Dengan menggigil, Rangga mandi secepat kilat gaya "Mandi Bebek" yang hanya memakan waktu 3 menit. Ia menyambar sabun cair botol hijau yang ada di rak.

Tunggu. Baunya aneh.

Rangga mengendus sabun itu. Wanginya... Jasmine dan Green Tea. Teksturnya lembut sekali di kulit. Rangga membalik botol sabun "Lifebuoy" itu. Isinya tampak terlalu kental dan berkilau untuk sabun seharga sepuluh ribu.

Rangga curiga Berlin menuangkan sabun L'Occitane miliknya ke dalam botol sabun murah ini. Tapi karena baunya enak, Rangga masa bodoh. Ia menuangkan banyak-banyak ke badannya.

Pukul 07.30.

Mereka berdua berdiri di depan cermin wastafel yang sempit, bersiap berangkat.

Berlin mengenakan blus putih polos dan celana bahan hitam. Terlihat sederhana, tapi potongan bajunya impeccable (sempurna). Itu adalah koleksi Ready-to-Wear Dior yang ia gunting labelnya semalam suntuk.

Rangga mengenakan kemeja biru muda yang bagian lengannya ia gulung sampai siku, dan celana chino. Ia sengaja tidak menyetrika kemejanya terlalu rapi agar terlihat "kerja keras". Padahal jam tangan yang melingkar di tangannya adalah Patek Philippe yang ia lupa lepas.

"Jam tangan bagus," komentar Berlin, matanya tajam menangkap kilauan logam mahal itu.

Rangga panik. Ia segera menarik lengan kemejanya menutupi jam seharga 2 Miliar itu.

"Oh, ini? KW Super. Beli di Mangga Dua. Seratus ribuan. Bagus kan? Mirip asli," elak Rangga cepat, keringat dingin menetes di pelipis.

Berlin mengangguk-angguk, pura-pura percaya. "Keren. Persis banget sama yang dipake Papa gue."

"Masa?" Rangga tertawa canggung. "Selera kita merakyat banget berarti."

Mereka berjalan keluar rumah, mengunci pintu kotak sabun estetik itu. Matahari pagi menyinari wajah mereka yang pura-pura semangat.

"Lo naik apa ke kantor?" tanya Berlin.

"Gue... naik ojek online," jawab Rangga mantap. Padahal sopir pribadinya sudah menunggu dengan Alphard hitam tiga blok dari sini, bersembunyi di balik semak-semak taman kota.

"Sama," kata Berlin. "Gue jalan ke depan dulu ya, nyari sinyal."

"Gue juga. Sinyal gue jelek kalau di sini."

Mereka berpisah di persimpangan jalan kompleks. Berlin belok kiri, Rangga belok kanan.

Begitu sosok Berlin menghilang di tikungan, Rangga langsung berlari sprint menuju taman kota. "Pak Asep! Nyalain AC! Saya gerah banget pake baju polyester ini!" teriaknya pada sopir yang sudah siaga.

Di tikungan sebelah kiri, Berlin juga melakukan hal yang sama. Ia melompat masuk ke dalam Bentley merah marun yang sudah menunggunya. "Jalan, Pak! Ke kantor sekarang! Dan tolong buang sampah di tas saya ini, isinya bungkus mie instan busuk!"

Sandiwara pagi hari sukses dijalankan. Tapi di rumah kotak itu, botol-botol skincare mahal dan jam tangan mewah yang disembunyikan menjadi bom waktu yang siap meledak kapan saja.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • ISTRIMU TERNYATA SULTAN   BAB 16: Orang Kaya Baru (dan Bodoh)

    Minggu pagi.Cahaya matahari menerobos masuk lewat jendela, menyinari tumpukan uang tunai lima puluh juta rupiah yang berserakan di atas meja tamu.Rangga dan Berlin duduk menghadap tumpukan itu seperti dua penyembah berhala. Kecanggungan pasca ciuman semalam seolah menguap, digantikan oleh hormon dopamin melihat uang cash."Lima puluh juta," gumam Rangga. "Dulu ini cuma harga satu jam tangan gue. Tapi sekarang... ini rasanya kayak APBD satu negara.""Bener," Berlin mengangguk takzim. "Kita kaya, Mas. Kita resmi jadi OKB. Orang Kaya Baru."Rangga menoleh, matanya berbinar licik. "Lin, lo mikirin apa yang gue pikirin?"Berlin menyeringai. "Belanja?""Investasi," koreksi Rangg

  • ISTRIMU TERNYATA SULTAN   BAB 15: Sandiwara Satu Milyar Rasa

    Lampu sorot membelah kegelapan ballroom, berputar-putar dramatis sebelum akhirnya berhenti tepat di wajah Rangga dan Berlin yang sedang mengunyah sate kambing tusuk terakhir."Dan pemenang Best Couple malam ini..." seru MC dengan suara menggelegar, "...adalah pasangan yang membuktikan bahwa cinta tidak butuh harta! Pasangan yang tetap glowing meski memakai baju daur ulang sprei hotel! Berikan tepuk tangan untuk... Rangga dan Berlin!"Tepuk tangan membahana. Sebagian tulus, sebagian lagi (seperti Jessica dan Victor) bertepuk tangan dengan sinis."Kita menang?" bisik Berlin, matanya terbelalak menatap Rangga. "Mas, sate lo taro dulu! Kit

  • ISTRIMU TERNYATA SULTAN   BAB 14: Reuni Rasa Neraka

    Grand Ballroom Hotel Mulia berkilauan oleh ribuan kristal chandelier. Aroma parfum mahal, denting gelas sampanye, dan tawa sopan para elit Jakarta memenuhi udara.Rangga dan Berlin berdiri di ambang pintu masuk. Tangan mereka bertautan erat bukan karena romantis, tapi karena saling menahan agar tidak kabur."Inget," bisik Rangga tanpa menggerakkan bibir. "Senyum. Jangan kelihatan kayak orang yang biasa beli hotel ini. Kelihatanlah kayak orang yang kagum sama hotel ini.""Oke," balas Berlin. Ia melebarkan matanya, memasang ekspresi norak yang dibuat-buat. "Wah! Mas! Lampunya bagus banget ya! Kayak lampu diskotik dangdut di kampung sebelah, tapi versi

  • ISTRIMU TERNYATA SULTAN   BAB 13: Cinderella dari Pasar Senen

    Sabtu sore. Rumah Kotak Sabun itu terlihat seperti baru saja diterjang badai kategori lima.Kain-kain berserakan di lantai, sepatu bertebaran di sofa, dan bau hairspray bercampur parfum memenuhi udara yang pengap."Lin! Dasi kupu-kupu gue mana?!" teriak Rangga dari kamar mandi."Di atas kulkas! Samping sisa martabak!" sahut Berlin, yang sedang berjuang menahan napas sambil menarik stocking hitamnya.Rangga keluar dari kamar mandi. Langkahnya terhenti saat melihat pantulan dirinya di cermin retak di lorong.Ia mengenakan Tuxedo hitam velvet dengan potongan

  • ISTRIMU TERNYATA SULTAN   BAB 12: Gelap, Panas, dan Kejujuran Tengah Malam

    Pukul 02.00 dini hari.Suara dengungan kipas angin dinding yang berisik itu tiba tiba berhenti. Lampu indikator AC (yang sebenarnya cuma pajangan karena tidak pernah dinyalakan demi hemat listrik) ikut mati.Kegelapan total menyelimuti Rumah Kotak Sabun.Hening sejenak. Lalu, erangan frustrasi terdengar dari dua sosok yang terbaring di kasur sempit."Argh... panas..." keluh Rangga, menendang selimutnya. "Ini kenapa? Kiamat?"Berlin meraba raba ponselnya, menyalakan senter. Cahaya menyilaukan menyorot wajah Rangga yang berminyak."Token habis," lapor Berlin setelah mengecek meteran listrik di depan yang berbunyi tit-tit-tit nyaring. "Lo lupa isi ulang?""Gue kira masih ada si

  • ISTRIMU TERNYATA SULTAN   BAB 11: Mantan Terindah (Dan Termahal)

    Rangga menatap layar ponselnya dengan horor.Hari kedua sebagai ojek online dimulai dengan bencana. Bukan karena ban bocor atau ditilang polisi, tapi karena nama yang tertera di aplikasi orderan.Penumpang: Clarissa A. (Bintang 4.8) Lokasi Jemput: Salon Mewah Kemang. Tujuan: Apartemen Senopati."Clarissa?" desis Rangga. "Jangan bilang ini Clarissa Andini... mantan gue pas kuliah di London?"Rangga mencoba mengingat ingat. Clarissa adalah model papan atas yang mantannya paling high maintenance. Putu

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status