Share

Bab 2

Author: Richy
Apa tante berhasil menebak kalau aku yang melakukannya? Dengan perasaan yang sangat cemas, aku berjalan masuk ke dalam kamar tante.

Dia pun ikut masuk dan seketika menutup pintu.

Aku membungkukkan badan dan berdiri di ujung tempat tidur, tidak berani menegakkan tubuh karena takut tonjolan di bawah sana ketahuan.

Tante duduk di atas tempat tidur di depanku sambil menyilangkan kaki, hingga telapak kakinya yang mulus berada tepat di bawah jangkauan pandanganku.

Dia perlahan mengangkat telapak kakinya dan menyodorkannya ke hadapanku, memperlihatkan telapak kaki berkaus kaki tipis yang menggoda itu masih memiliki bercak basah.

"Coba ngaku, kamu 'kan yang menjilati kaus kaki Tante?"

Mana berani aku mengaku, jadi aku menggelengkan kepala berulang kali, "Nggak, nggak, bukan aku." Saat itu tanganku bersarang di dalam saku celana, berusaha keras menekan tonjolan itu agar bisa kempes kembali.

"Berdiri yang tegak, keluarkan tanganmu, jangan membungkuk begitu," ucapnya dengan nada tegas.

Aku mengeluarkan tangan lalu perlahan menegakkan tubuh. Aku bisa merasakan bagian bawah tubuhku menonjol sedikit demi sedikit ke depan, hingga selangkangan celanaku membentuk tenda.

Melihat tenda itu, tante merasa terkejut dalam hati, "Masih mau ngelak? Punya kamu udah nonjol sampai kayak gini."

"A ... aku nggak sengaja," jawabku dengan suara sangat pelan, mirip anak kecil yang sedang berbuat salah.

Pada saat itu, tante tiba-tiba menginjakkan telapak kakinya tepat di atas tonjolanku dan menekan-nekannya dengan keras.

"Kalau berbuat salah, harus menerima hukuman, benar nggak?" Nada bicaranya terdengar sangat manis dan menggoda, seolah-olah sedang memancingku.

Bagian bawah tubuhku yang diinjak seketika terasa gatal membakar, membuat hasrat di dalam tubuhku mendadak berkobar hebat.

Menyaksikan tante yang seksi berada tepat di depanku, tapi tidak berani untuk menyentuhnya secara langsung, membuat hatiku terasa sangat menyiksa.

Aku menundukkan kepala dan mengangguk menuruti, "Iya, iya, Tante mau menghukumku kayak apa pun boleh."

Begitu kalimat itu keluar dari mulutku, tante seketika tertawa terbahak-bahak, "Hahaha, Tante paling suka sama anak yang penurut."

Sambil berkata begitu, dia kembali mengangkat telapak kakinya dan menaruhnya di hadapanku.

"Kamu 'kan suka sama kaus kaki tipis? Coba perlihatkan ke Tante gimana cara kamu menjilatnya."

Melihat telapak kaki putih kemerahan yang bergoyang-goyang di dekat mulutku itu seperti melihat makanan lezat yang menggoda.

Api dalam dadaku seketika terpancing.

Kedua tanganku perlahan memegang telapak kakinya, memperlihatkan lima jari kaki yang berukuran sebesar buah anggur.

Mulutku perlahan mendekat dan mulai terbuka.

Tepat saat aku hendak mengulumnya, tante tiba-tiba menarik kakinya kembali dan menendang wajahku dengan keras.

"Disuruh jilat malah beneran mau menjilatinya, enak aja kamu."

Hatiku merasa sangat kecewa. Hasrat yang baru saja terpancing kini membakar tubuhku dan tidak bisa dipadamkan begitu saja.

Rasanya gatal seperti dicakar kucing, bagian bawah tubuhku makin membengkak menyiksa.

Melihat bagian bawah tubuhku membumbung tinggi seperti bukit kecil, tante menatapku dengan penuh minat.

"Lepaskan celanamu, Tante mau lihat seberapa besar punya kamu."

Tidak disangka tante bakal se-blak-blakan ini, jadi aku tidak pura-pura lagi, langsung melepas celanaku.

Sebuah ukuran yang sangat besar melompat keluar, terpampang polos di hadapan ibu temanku. Perasaan saat itu bercampur antara bersemangat dan malu.

Mata tante sampai terbelalak melihatnya, "Tante nggak pernah lihat yang sebesar ini sebelumnya."

Sambil berkata begitu, dia melepas salah satu sepatu hak tingginya dan memukulkannya agak keras ke arah bagian bawah tubuhku.

"Gara-gara nggak bisa menjaga bagian bawahmu dan malah berbuat jahat, rasakan ini!"

Gerakannya sangat lembut, jadi pukulan itu bukannya terasa sakit, malah membuatku makin bersemangat.

Aku pura-pura kesakitan dan menjerit keras.

Raut wajah tante berubah lembut, lalu dia malah mengulurkan tangan dan langsung mengusapnya.

"Sakit, ya? Sini Tante usap-usap."

Tangannya sangat lembut dan hangat. Usapan tangannya terasa begitu nikmat, sampai-sampai rasanya seperti ada semut yang merayap di dalam tulangku.

Sejak kecil sampai dewasa, belum pernah ada wanita yang menyentuh bagian bawah tubuhku seperti ini, membuat hatiku sangat gembira tidak terkira.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ibu Sahabatku yang Seksi   Bab 7

    Melihat mereka berdua makin menunjukkan rasa suka, hatiku mendadak berdebar kencang.Amel sudah pernah berhubungan intim denganku, kalau dia sampai jadi ibuku, aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana.Selesai makan, mumpung ayahku sedang mencuci piring, aku menarik Amel ke dalam kamarku.Amel mengira aku menginginkannya lagi, dia bahkan dengan terbiasa berjongkok dan meletakkan kedua tangannya di celanaku.Bersiap melepas celanaku untuk membantuku.Hatiku terkejut, aku bergegas menepis tangannya."Tante, jangan main-main dulu. Aku mau tanya, kalau ayahku mau menikahi Tante, Tante mau menerima lamarannya?"Amel berpikir sejenak, lalu langsung menjawab, "Sepertinya mau, ayahmu lumayan baik, kita berdua juga berjodoh."Aku berkata dengan panik, "Aduh, kita berdua 'kan udah pernah lakuin hal itu. Kalau Tante nikah sama ayahku, bukannya Tante bakal jadi ibuku? Terus hubungan kita berdua ini namanya apa?"Mendengar kalimat itu, Amel baru tersadar."Iya, ya, hubungan kita berdua ini agak m

  • Ibu Sahabatku yang Seksi   Bab 6

    Aku mengucapkan kalimat yang kupelajari dari novel, tapi sama sekali tidak ada gunanya.Tama tetap tidak bicara, menatap ke luar jendela dalam diam.Aku tahu, tidak baik kalau terus berada di sana. Setelah berpamitan dengan Amel, aku pun pulang ke rumah.Sesampainya di rumah, ayahku langsung menghampiri dan bertanya padaku, "Hari ini ibunya temanmu ada bilang apa-apa, nggak?""Nggak ada," jawabku sambil menatap ayahku.Kelihatan jelas, dia sebenarnya naksir Tante Amel. Toh ayahku memang ingin mencari istri, Tante Amel juga statusnya lajang.Secara status, mereka berdua memang cocok.Terlebih lagi, aku juga suka sama Tante Amel. Tapi, kalau ayahku menikahinya, Tante Amel bakal jadi ibuku.Aku dan ibuku melakukan hal seperti itu ....Aku berusaha menggelengkan kepala, mencoba tidak memikirkan hal-hal aneh ini.Beberapa hari kemudian, ayahku tiba-tiba berkata padaku, "Waktu itu temanmu mengajakmu makan, kali ini kita juga harus ajak dia makan."Mendengar ayahku mengingatkan hal itu, aku m

  • Ibu Sahabatku yang Seksi   Bab 5

    Tante bergegas mencari alasan, "Oh nggak ada apa-apa, Ibu cuma minta tolong Rendi lihatin komputer yang lagi rusak."Tama menatap kami dengan ragu, lalu segera berkata, "Rendi, cepat lihat ke bawah, itu ayahmu bukan?"Ayahku? Aku ingat waktu main ke rumah Tama aku sudah bilang padanya, untuk apa dia menyusul ke sini?Tanpa berpikir panjang, aku melihat ke luar lewat jendela. Orang yang sedang berdiri merokok di bawah gedung memang benar ayahku.Aku berteriak ke arah bawah gedung, "Ayah, kok ke sini!"Ayahku mendongak dan melihat ke atas, "Rendi, Ayah cuma mau lihat kamu ke mana, udah waktunya makan, kamu nggak pulang-pulang."Aku benar-benar geleng-geleng kepala dengan ayahku. Waktu keluar rumah aku sudah bilang kalau mau main ke rumah Tama, tidak pulang untuk makan malam, tidak disangka dia malah langsung datang menyusul.Mau bagaimana lagi, aku harus turun untuk memanggil ayahku naik ke atas.Tidak lama kemudian, setelah kubawa ayah naik, pandangannya langsung tertuju pada tante, men

  • Ibu Sahabatku yang Seksi   Bab 4

    Tante tidak lagi menolak, kedua tangannya diletakkan di atas tempat tidur, kedua kakinya terbuka lebar.Aku menyingkap gaun terusannya sampai ke pinggang, membuat bagian itu benar-benar terpampang di depan mataku.Aku melepas celanaku."Bantu aku."Dia menurut dan membuka mulutnya.Tekniknya benar-benar luar biasa, membuat seluruh tulang di tubuhku terasa lemas dan geli."Tante, nggak nyangka teknik Tante hebat banget, belajar dari siapa?"Wajah tante memerah padam, nada bicaranya sudah menunjukkan kalau dia sangat haus dan tidak tahan lagi."Tante udah nggak punya suami, kesepian sendirian, Tante sering nonton film, jadi wajar 'kan kalau bisa sedikit-sedikit.""Tante gatal banget, Tante mohon, cepat masukin."Makin berada di saat-saat krusial, aku malah makin mengulur waktu dan mengerjainya."Tadi bukannya hebat banget, ya? Sampai menamparku pakai sepatu hak tinggi, kok sekarang malah mohon-mohon?"Tante terus menggeliatkan kedua kakinya, terlihat sangat menyiksa baginya."Tante salah

  • Ibu Sahabatku yang Seksi   Bab 3

    Tepat pada saat itu, suara Tama terdengar dari luar pintu."Ibu, kenapa Rendi menjerit? Kalian lagi ngapain di dalam?"Ekspresi tante mendadak panik, lalu dia bergegas menjawab."Nggak apa-apa! Ibu sebentar lagi keluar buat masak makanan kalian."Aku pun cepat-cepat memakai celanaku kembali dan keluar dari dalam kamar.Aku pun tenang saat melihat raut wajah Tama yang tampak bingung, dan tidak bisa menebak apa yang baru saja terjadi.Tante pergi ke dapur untuk memasak, tidak lama kemudian dia sudah menyiapkan semeja penuh dengan masakan.Dia menyajikan makanan itu, lalu mengajak kami duduk bersama untuk makan.Di meja makan, tante menatapku sambil mengetukkan jarinya ke alat makan, membuat seluruh tubuhku terasa panas menyengat.Aku sengaja menjatuhkan sendok ke lantai, lalu membungkuk ke bawah meja untuk mengambilnya.Sekilas, aku melihat kaki berkaus kaki tipis milik tante yang terlihat hangat dan menggoda.Tadi dia sudah menggodaku sampai seperti itu tapi tidak mengizinkanku menjilat

  • Ibu Sahabatku yang Seksi   Bab 2

    Apa tante berhasil menebak kalau aku yang melakukannya? Dengan perasaan yang sangat cemas, aku berjalan masuk ke dalam kamar tante.Dia pun ikut masuk dan seketika menutup pintu.Aku membungkukkan badan dan berdiri di ujung tempat tidur, tidak berani menegakkan tubuh karena takut tonjolan di bawah sana ketahuan.Tante duduk di atas tempat tidur di depanku sambil menyilangkan kaki, hingga telapak kakinya yang mulus berada tepat di bawah jangkauan pandanganku.Dia perlahan mengangkat telapak kakinya dan menyodorkannya ke hadapanku, memperlihatkan telapak kaki berkaus kaki tipis yang menggoda itu masih memiliki bercak basah."Coba ngaku, kamu 'kan yang menjilati kaus kaki Tante?"Mana berani aku mengaku, jadi aku menggelengkan kepala berulang kali, "Nggak, nggak, bukan aku." Saat itu tanganku bersarang di dalam saku celana, berusaha keras menekan tonjolan itu agar bisa kempes kembali."Berdiri yang tegak, keluarkan tanganmu, jangan membungkuk begitu," ucapnya dengan nada tegas.Aku mengel

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status