共有

Ikatan yang Tak Diharapkan
Ikatan yang Tak Diharapkan
作者: UmaMe

Bab 1

作者: UmaMe
last update 公開日: 2026-07-21 20:57:45

Pernikahan yang Tak Diinginkan

Malam merayap lambat di atas atap rumah mewah keluarga Wijaya, namun suasana di dalamnya sama sekali tidak tenang. Udara terasa berat, seolah menahan badai yang sebentar lagi akan meledak. Di ruang keluarga yang luas dan bergaya klasik, Pak Haris Wijaya duduk di sofa utama dengan wajah yang mulai berkerut gelisah. Ia baru saja hendak menyeruput teh hangat ketika seorang asisten rumah tangga berlari tergopoh-gopoh menghampirinya, napasnya tersengal-sengal.

"Pak Haris! Pak Haris!" seru asisten itu dengan suara gemetar. "Nona Gladys... Nona Gladys tidak ada di rumah! Sudah saya cek ke kamarnya, ke ruang bacanya, bahkan ke halaman belakang, tidak ada di mana-mana!"

Pak Haris langsung berdiri, cangkir teh di tangannya hampir terlepas. "Apa maksudmu tidak ada? Bukankah tadi sore dia masih di kamarnya?"

"Benar, Pak. Tapi sekarang pintu kamarnya terkunci dan isinya sudah kosong. Tas bawaannya dan pakaian-pakaian kesayangannya juga sudah hilang."

Tanpa menunggu lebih lama, Pak Haris segera merogoh ponselnya dan menekan nomor Gladys berulang kali. Namun setiap kali, suara yang terdengar hanyalah nada sambungan yang tidak bisa dihubungi. Wajah tegasnya kini berubah merah padam, menahan amarah yang mulai memuncak.

Belum sempat ia berpikir lebih jauh, langkah kaki terdengar menuruni tangga. Melda, istri kedua sekaligus ibu kandung Gladys, berjalan dengan tenang seolah tidak ada hal buruk yang terjadi. Raut wajahnya datar, tanpa sedikit pun rasa cemas yang terlihat.

"Ada apa, Haris? Mengapa ribut sekali di malam hari?" tanyanya pelan, namun matanya menyapu ruangan dengan tatapan yang sudah tahu jawabannya.

"Gladys pergi, Melda! Dia kabur tanpa pamit dan tidak bisa dihubungi sama sekali!" jawab Pak Haris dengan nada meninggi. "Dan kau—kau ibunya! Mengapa kau tidak tahu di mana anakmu berada?"

Melda menghela napas tipis, berusaha terdengar tenang. "Mungkin Gladys hanya pergi sebentar saja, mungkin menemui temannya. Nanti juga pulang. Jangan terlalu khawatir."

Kata-kata itu justru menjadi pelontar api bagi kemarahan Pak Haris. Ia menatap tajam istrinya. "Tenang? Bagaimana aku bisa tenang? Pernikahan Gladys dengan Angga Pratama tinggal hitungan hari! Seluruh undangan sudah disebar, kerja sama perusahaan Pratama Grup dengan Wijaya Corp bergantung pada pernikahan ini! Dan sekarang kau bilang dia pergi sebentar?"

Suara Pak Haris bergema di seluruh ruangan. "Ini semua salahmu, Melda! Kau tidak bisa menjaga anakmu sendiri! Kau memanjakannya terlalu banyak sampai ia berani melakukan hal sembrono seperti ini!"

Belum selesai pertengkaran itu mereda, pintu depan terbuka. Danindra berjalan masuk dengan langkah pelan, wajahnya datar tanpa ekspresi. Ia baru saja pulang dari kampus, dan seketika merasakan suasana rumah yang semakin menyesakkan. Hidupnya memang sudah cukup berantakan sejak kehadiran Melda dan Gladys di rumah ini. Ia tidak peduli dengan pertengkaran mereka, ia hanya ingin segera naik ke kamarnya dan menjauh dari semua keributan itu.

Namun tepat saat ia melintas di depan ruang keluarga, suara Melda tiba-tiba terdengar jelas.

"Kalau begitu..." ucap Melda pelan namun sengaja, "biarkan Danindra saja yang menggantikan posisi Gladys."

Danindra berhenti berjalan seketika, menoleh dengan tatapan tidak percaya. "Apa?"

Pak Haris terdiam sesaat. Ia menatap Melda, lalu ke arah Danindra. "Kau tahu sendiri, Melda. Angga Pratama mencintai Gladys, bukan Danindra. Bagaimana mungkin hal itu bisa dilakukan?"

"Tapi ini satu-satunya cara agar Wijaya Corp tetap aman, Haris," tekan Melda dengan nada meyakinkan. "Pernikahan itu hanya soal nama dan kesepakatan perusahaan. Angga akan mengerti pada akhirnya. Dan Gladys sendiri yang memilih pergi, tidak ada pilihan lain selain Danindra."

Pak Haris terdiam lama, pikirannya berkecamuk antara keinginan mempertahankan harga diri dan keterdesakan keadaan perusahaan yang hampir bangkrut. Perlahan, ia mengangkat wajahnya menatap putrinya sendiri.

"Danindra..." panggilnya pelan namun tegas. "Kau akan menggantikan Gladys menikah dengan Angga Pratama."

Itu bagaikan petir di siang bolong. Danindra mundur selangkah, matanya membelalak kaget. "Apa?! Tidak! Aku tidak mau! Ini bukan pernikahan yang aku inginkan! Kenapa harus aku? Kenapa bukan Gladys saja yang menanggung akibatnya sendiri?"

"Karena perusahaan ini bisa runtuh kalau pernikahan itu batal!" bentak Pak Haris, amarahnya kembali meluap. "Semua kerja sama yang sudah kami bangun akan hancur! Kau anakku, sudah sepantasnya kau membantu keluarga ini!"

"Tapi ini bukan urusanku! Ini urusan Gladys!" bantah Danindra dengan suara bergetar, air mata mulai menggenang di matanya. "Kau selalu memihak Gladys dan Melda, dan sekarang saat ada masalah, kau datang padaku? Apa bagiku hanya alat untuk menyelamatkan perusahaan ini?"

"Jangan banyak bicara! Kau harus melakukannya!" Pak Haris menunjuknya dengan jari gemetar. "Kau tidak punya pilihan lain! Mulai sekarang, kau adalah pengganti Gladys. Kau akan menikah dengan Angga Pratama, dan kau tidak boleh menolak!"

Kata-kata kasar, sumpah serapah, dan tuduhan-tuduhan pedas terus keluar dari mulut ayahnya sendiri. Danindra merasa dunia seakan runtuh di hadapannya. Tidak ada yang membelanya, tidak ada yang peduli perasaannya. Semua hanya mementingkan perusahaan dan nama baik keluarga.

Cukup sudah. Tanpa menunggu kata-kata lain yang lebih menyakitkan, Danindra berbalik dan berlari menaiki tangga secepat mungkin. Ia tidak peduli suara panggilan atau teriakan ayahnya di belakang. Sesampainya di dalam kamar, ia membanting pintu dengan keras, menguncinya rapat-rapat, lalu bersandar di balik pintu itu sambil terjatuh ke lantai.

Tangisannya pecah, menumpahkan segala rasa sakit dan kecewa yang selama ini ia pendam. Ia merangkak ke atas kasur, meringkuk di sudutnya yang paling gelap, memeluk dirinya sendiri seolah itu satu-satunya penghiburan yang bisa ia dapatkan. Pikirannya kacau balau—kenapa harus dia? Kenapa hidupnya selalu diatur oleh orang lain? Kenapa tidak ada satu pun yang menginginkan kebahagiaannya?

Air mata terus mengalir sampai ia kelelahan. Perlahan, matanya yang sembab itu terpejam, dan dalam keadaan meringkuk penuh luka, Danindra pun terlelap, tanpa tahu bahwa esok pagi akan membawa perubahan yang jauh lebih besar dari yang bisa ia bayangkan.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Ikatan yang Tak Diharapkan   Bab 12

    Hadiah dan PenghinaanMatahari sudah naik tinggi, menyinari jendela kaca ruang rawat yang luas itu. Namun dua orang yang sedang beristirahat di sana belum juga bergerak. Jarum jam di dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi, namun baik Angga maupun Danindra belum menunjukkan tanda-tanda akan bangun.Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka perlahan. Bi Wati masuk dengan langkah berhati-hati, membawa kotak makan di tangannya. Ia berjalan mendekati ranjang Danindra, meletakkan kotak makan itu di meja samping tempat tidur, lalu berbalik menghampiri Angga yang sedang tidur di sofa.Dengan ragu-ragu, Bi Wati menyentuh bahu Angga pelan. "Tuan... Tuan, mohon maaf lancang membangunkan."Angga mulai terusik, perlahan membuka matanya. Ia duduk tegak, menatap jam di dinding, lalu menatap Bi Wati."Sudah pagi sekali, Tuan. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh," ucap Bi Wati dengan sopan. "Saya takut Tuan ada rapat penting dan terlambat.""Tidak apa-apa, Bi," jawab Angga suaranya masih berat namun t

  • Ikatan yang Tak Diharapkan   Bab 11

    Bayang Perhatian yang Mulai Tumbuh Pagi itu, udara masih terasa sejuk saat Angga melangkah keluar dari rumah sakit. Langkahnya tenang, namun di dalam hatinya ada satu hal yang terus mengganggu pikirannya—siapa sebenarnya gadis yang berani melukai Danindra hingga harus dirawat di rumah sakit? "Rendra," panggil Angga saat masuk ke dalam mobil, suaranya datar namun tegas. "Cari semua informasi tentang Angel. Keluarganya dari mana, seberapa kaya mereka, apa saja latar belakangnya. Aku ingin tahu semuanya sampai ke akar-akarnya. Berani sekali dia melukai orang di bawah tanggung jawabku." "Baik, Tuan. Segera aku kerjakan," jawab Rendra sambil mencatat perintah itu di ponselnya. Sesampainya di kantor, jadwal Angga sangat padat. Tumpukan berkas menumpuk di atas meja kerjanya, diikuti satu per satu rapat penting yang tak bisa ia tinggalkan. Salah satu rapat terbesarnya hari ini membahas proyek kerjasama yang bernilai triliunan rupiah—dan di situlah ia harus berhadapan dengan Pak Haris,

  • Ikatan yang Tak Diharapkan   Bab 10

    Pagi yang Tak Terduga & Kedatangan Orang-Orang TerdekatHari masih terlalu pagi saat Danindra terbangun. Rasa berdenyut di kepalanya sudah hilang, hanya tersisa rasa pegal yang samar. Ia duduk di tepi ranjang rawat, matanya menyapu sekeliling ruangan—dan seketika terpaku pada sofa di sudut ruangan. Angga masih tertidur di sana, wajahnya tenang tanpa garis ketegangan yang biasanya selalu ada.Danindra turun dari ranjang perlahan, berjalan berjinjit mendekati sofa itu. Hatinya berdebar pelan. Dia menungguku semalaman? batinnya tak percaya. Ia berjongkok di samping sofa, menyamakan ketinggian wajah mereka. Dari dekat, Angga terlihat begitu tampan—namun dingin. Tampan, tapi dingin. Mulutnya juga bikin sakit hati, gumamnya pelan tanpa sadar. Tangan Danindra terulur perlahan, ingin menyentuh hidung mancung pria itu.Belum sampai jari-jarinya menyentuh kulit, Angga tiba-tiba membuka mata. Tatapan mereka bertemu. "Sedang apa kau berjongkok di depanku?" tanyanya serak, baru bangun tidur.Danin

  • Ikatan yang Tak Diharapkan   Bab 9

    Pertanyaan yang Tak Diharapkan dan Penjagaan yang DiamKeheningan di ruang rawat itu terasa begitu pekat. Danindra berbaring diam di atas kasur, matanya terpejam namun pikirannya berputar tak menentu. Di sudut ruangan, Angga masih duduk di sofa, menatap lurus ke arah jendela yang tertutup tirai tipis. Masing-masing tenggelam dalam pikirannya sendiri, tak ada yang berniat memulai percakapan. Danindra berharap keheningan ini berlangsung terus hingga ia tertidur, namun tiba-tiba suara berat dan rendah memecah kesunyian malam ini."Kenapa dahimu bisa terluka?" tanya Angga.Danindra tersentak, matanya terbuka lebar menatap pria di hadapannya. Ia tak menyangka laki-laki sedingin Angga akan menanyakan hal sepele seperti ini. "Hah?" ucap Danindra tiba-tiba.Angga mengernyit, nada suaranya meninggi sedikit karena kesal. "Kamu tuli?"Belum berubah juga mulutnya yang kejam itu, batin Danindra. Ia segera menjawab singkat, "Hanya.... insiden kecil di kampus tidak perlu di pikirkan kok." "Kecil?

  • Ikatan yang Tak Diharapkan   Bab 8

    Gegar Otak Ringan & Kehadiran yang Tak DiharapkanHari itu Danindra bangun jauh lebih siang dari biasanya. Bukan karena libur kuliah, melainkan kepalanya berdenyut hebat, disertai rasa pening yang membuatnya sulit membuka mata. Dengan susah payah ia meraih ponsel di meja samping tempat tidur, jari-jarinya gemetar saat mencari nama Diana—sahabatnya yang akan memberitahu dosen bahwa ia tak bisa masuk kuliah hari ini.Danindra bangkit perlahan, wajahnya mengernyit menahan nyeri yang berdenyut di pelipis. Ia duduk sebentar di tepi kasur sampai rasa pening itu sedikit mereda, lalu berjalan keluar kamar tanpa mandi, menuruni tangga sambil berpegangan erat pada sandaran tangan. Setiap langkah terasa berat, seakan kepalanya berputar pelan namun terus-menerus."Nyonya Danindra?" Bik Wati yang sedang menyapu di ruang tengah segera berhenti dan menghampirinya dengan cemas. "Mau kemana, Nyonya? Terlihat sekali Bu sedang tidak enak badan.""Turun ke bawah... ingin makan, Bik," jawab Danindra pel

  • Ikatan yang Tak Diharapkan   Bab 7

    Luka di Dahi dan Perjuangan yang Tak Berhenti Pagi itu, Danindra kembali berangkat lebih awal, persis seperti hari-hari sebelumnya. Berkali-kali Bik Wati memanggilnya untuk sarapan, namun Danindra hanya menyempatkan diri sebentar, tak tenang jika berlama-lama di rumah. Di depan teras, Pak Andi sudah menunggu dengan mobil sedan hitamnya, siap mengantarnya ke kampus. Danindra sudah menyiapkan kebohongan di kepalanya—ia akan bilang ada kegiatan sore ini agar sopir itu tidak menjemputnya, dan ia bisa langsung pergi bekerja setelah kelas selesai. Sesampainya di kelas, hal yang sama terulang. Angel sudah menunggunya, dan segera menyambutnya dengan ejekan serta kata-kata yang menjatuhkan. Danindra yang biasanya diam, hari ini merasa kesabarannya menipis. "Angel, bisakah satu hari saja mulutmu diam?" ucap Danindra pelan namun tegas. Angel tertawa sinis. "Tidak bisa. Kenapa? Tidak suka?" Matanya menyala penuh kemenangan. "Kamu memang gila," jawab Danindra singkat, lalu berniat perg

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status