LOGIN“Iyo aborsi, itu jalan satu-satunya yang bisa mengamankan status kita berdua dari Angel, Ibuk bahkan dari warga sekitar dek!”
“GILA KAMU MAS! Pikiranmu bener-bener sudah kerasukan setan, aborsi itu resikonya besar bisa mencelakakan nyawa aku juga! Apa jangan-jangan karena Mas ndakk mau tanggung jawab ini rencana kamu buat nyingkirin aku juga? Iya kan!” tuduhnya penuh amarah.
“Tasya! Dengerin Mas dulu, Mas itu saaayangg banget sama kamu buktinya sampai sekarang Mas masih mau sama kamu dan tetap memilih kamu ketimbang Angel. Mas tau kondisi kita lagi rumit, makanya ini solusi terdesak demi kebaikan kita masing-masing ... memangnya kamu mau digunjing sama tetangga karena hamil di luar nikah? Mas sih ndak mau ya mengambil risiko besar begitu, mau ya dek Mas mohon!” Malikh sudah benar-benar kehilangan akal sehatnya, ia bahkan tak merasa takut sedikit pun membicarakan rencana pembunuhan darah dagingnya sendiri.
GUBRAKK!
Dari arah dapur terdengar suara benda terjatuh.
Mata Tasya terbelalak, “Mas! Jangan-jangan Ibuk!” Mereka berdua panik berlari ke arah dapur.
“Ra-Rafa! Kamu sejak kapan di sini?” tanya Malikh gelisah.
“Se-sejak tadi Pak Rafa mau ambil makan,” jawabnya.
“Kamu denger semua pembicaraan Bapak sama tante Tasya?” tanyanya berbisik.
Rafa menggelengkan kepalanya, Malikh dan Tasya menarik napas lega dan beranjak pergi dari dapur.
“Pak!” cekal Rafa.
“Kenapa?” langkah Malikh terhenti.
“Kata ibu biologi di sekolah Rafaaa, aborsi itu berbahaya, selain itu bukannya itu dosa ya Pak?” tanyanya polos, sepertinya Rafa mendengar sebagian percakapan ayahnya itu.
“RAFA! Lancang kamu tanya begitu!” bentaknya.
“Mas! Rafa masih kecil jangan bentak-bentak begitu dong! Sayang, Rafa maafin Bapak ya ... eee Tante boleh tanya ndak? Kamu denger kata aborsi dari mana?” tanyanya pelan.
“Rafa tadi ndak sengaja denger Tante bilang aborsi, kenapa tante Tasya mau aborsi? Di perut Tante ada bayinya?” tanyanya polos. “Jangan ya Tante, dosa!”
“Stssss, Rafa dengerin Tante ... eeee bu-bukan Tante yang mau aborsi tapi teman bapak kamu makanya Tante Tasya tadi marah-marah karena ndak setuju, tante tahu itu bahaya seperti yang Rafa bilang, jadi paham ya?”
“Iya Tante, kirain Rafa Tante Tasya yang mau aborsi.”
“Selain itu, Ra-Rafa ada denger apa lagi?”
“Ndak ada.”
Malikh dan Tasya menghembuskan napas lega “Hahhh.”
“Ya sudah, Rafa lanjut makannya dulu, soal tadi jangan cerita ke Mbah ya!”
“Iya Tante,” sahutnya sembari melirik ayahnya yang masih menatapnya penuh curiga.
Tasya menarik lengan Malikh menjauh dari dalam rumah.
“Mas! Hampir saja ketahuan, kalau Rafa ngadu ke Mbak Angel bagaimana? Ceroboh banget sih!” keluhnya.
“Kamu yang mulai duluan, tiba-tiba nyamperin Mas bawa testpack untung Ibuk lagi keluar!”
“Ya terus sekarang bagaimana?”
“Harusnya Mas yang tanya ke kamu sekarang bagaimana? Keputusan ada di kamu, jadi kamu setuju apa ndak?”
Tasya terdiam, ia tampak menimbang-nimbang keputusan.
“Iya aku setuju.”
“Bagus, hari ini juga kita berangkat!”
“APA? Mas kamu tu semakin ndak waras ya!”
“Lebih cepat lebih baik, sebelum Ibuk datang nanti masalahnya makin rumit!”
“Apa yang makin rumit?” tanya Surti, yang sudah berada di depan pagar rumah sembari menenteng sayur dari kebun. “Kalian mau berulah apa lagi sekarang?”
“I-Ibuk? Ibuk ngapain disitu!”
“Loh, Ibuk mau pulang to nguawur kamu tanya begitu! Tadi kalian ngomongin Ibuk to?” Surti curiga.
“A-Anu, ndak ada apa-apa Tasya sama Mas Malikh cuma lagi ngurusin kerjaan!” kilahnya.
Alis Surti bertaut, “Heh, kerjaan apa? Mimpi apa kalian semalam ngomongin kerjaan, toh selama ini kalian berdua cuma ongkang-ongkang kaki di rumah tunggu uang dari Angel, Ibuk jadi curiga sama kalian!”
“Sudahlah Buk! Ibuk jangan terus-terusan ngurusin kita berdua, memangnya kita anak kecil yang terus diawasin! Lama-lama saya jadi muak, Ibuk diurusin kok malah makin ngelunjak, tahu begitu saya ndak akan pernah setuju pas Angel ngajak Ibuk tinggal di rumah ini juga ... ngerepotin!”
“Ehhh, kurang ajar kamu ngomong sama Ibuk begitu ya! Tau apa kamu soal repot MALIKH! Ini rumah hasil jerih payah anak pertama saya, sesuap nasi yang kamu makan tiap hari itu semua hasil keringat anak saya! Apa hak kamu melarang saya tinggal di sini? Harusnya yang ngerepotin di sini itu kamu, bisanya cuma numpang hidup laki-laki macam apa kamu?” Surti kehilangan kesabarannya hingga tak sadar telah mengeluarkan kata-kata yang sangat menyakitkan untuk Malikh.
“Saya dari awal juga sudah tahu kalau Ibuk ndak pernah suka sama saya, meskipun saya ndak kerja toh saya gantiin tugas Angel jaga rumah ini dan anak-anak jadi apa salahnya? Heh! Males saya ngeladenin orang tua bau tanah ini!”
“Mas! Jangan begitu ke Ibuk, sadar!” tegur Tasya pada kata-kata Malikh yang kelewat batas.
Napas Malikh menggebu, ia mencengkram tangan Tasya dan menariknya pergi dari rumah.
“Ehh, mau ke mana kamu ngajak anak saya? Malikh, sini kamu!”
“Bukan urusan Ibuk!” Malikh acuh dan tetap menyalakan motornya lalu pergi begitu saja.
“Astagfirullahalazim!!!”
*
“Mas, kamu sudah keterlaluan ke Ibuk ndak seharusnya kamu sampai ngomong begitu.”
“Kamu mau nyelesaiin masalah kita apa mau balik pulang ke rumah cari Ibuk kamu?”
“Ma-maaf Mas.”
“Permisi!”
“Ya silahkan, ada keperluan apa kalian?”
“Be-begini, saya butuh bantuan mbah,” ucapnya pelan, tatapan matanya mengarah ke perut Tasya.
Wanita tua yang ditemuinya itu mengangguk, “Sebaiknya kita bicara di dalam saja Nak!” tawarnya ringkih.
“Kalian sudah memikirkannya matang-matang? Saya harap kalian ndak akan menyesal nanti, karena banyak yang sangat menginginkan apa yang kalian punya saat ini!”
“Kami sudah sangat yakin mbah! Kami mohon bantuannya.”
“Kalau begitu mbah cuma bisa bantu, untuk ke depannya mbah harap kalian tanggung akibatnya masing-masing ... mbak bisa ikut mbah ke dalam!”
“Iya mbah!”
Malikh menunggu dengan perasaan tenang, pasalnya masalah hidupnya sebentar lagi akan lenyap, sampai detik ini pun ia tak merasa ketakutan sedikit pun.
“Mas! Aku sudah memutuskan kalau aku ndak jadi aborsi!” ucap Tasya tiba-tiba keluar dari ruang praktek.
“APA? Jangan main-main kamu Tasya, Mas sudah capek-capek nganterin kamu ke sini malah ndak jadi gimana sih! Kamu memangnya mau jadi gunjingan banyak orang?” Malikh kecewa berat.
“Mas! Yang punya tubuh ini itu aku bukan kamu, yang merasakan sakitnya yo aku juga kamu bisanya cuma nyuruh aku doang! Pokoknya aku ndak mau tau, aku tetap mau mempertahankan anak ini bagaimana pun caranya!”
“Loh, terus kalau Ibuk, Angel dan tetangga kita tau kamu hamil di luar nikah sama aku bagaimana, kamu mau jawab apa? Apa ndak sama saja kita bakalan mati berdua, otomatis anak kamu juga ikutan mati di amuk massa! Kamu punya otak bukannya diajak mikir malah goblok kayak gini!”
“Cangkemmu Mas! Berani-beraninya ngatain aku goblok, aku pokoknya ndak mau tahu kita harus nikah biar hubungan kita ndak sembunyi-sembunyi terus aku capek Mas capek!”
“Gila kamu Tasya, kamu tahu kan hubungan aku dengan Angel masih status suami istri sah, kalau sekarang kita nikah urusannya yo makin ruwet!”
“Oke, kalau Mas ndak mau usahain aku jangan salahin aku buat hal nekat Mas, tunggu saja kamu!”
Bersambung ...
Tak ada senyum merekah, rumah berantakan, anak tak terurus.“Sialan Erik! Dia pasti sengaja ngasi tahu semua ini ... sekarang manusia itu bisa puas tapi aku ndak akan nyerah untuk merebut Angel dari hidupku! Dia pikir aku akan takut dengan dia begitu saja? Cuihhhh!” Amarah Malikh sudah mendidih.“HAHAHHAHAHAAA!” Tasya tertawa lebar tanpa rasa sungkan sedikit.BRAKKK! Malikh menggebuk meja di depannya, rahangnya mengeras tatapannya tajam mengarah ke Tasya.“Apa? Kamu mau marah? Suami macam apa kamu Mas di depan istri sah kamu masih ngarepin mantan istri secara terang-terangan!”“Seorang istri yang secara terang-terangan tidur dengan laki-laki lain ndak pantas membandingkan dirinya dengan kelakuanku! Kamu itu ndak usah sok baik Tasya, kamu pikir kamu adalah orang yang bersih dari dosa?”“Haduh susah ngomong sama orang yang buta hatinya! Kamu ndak pernah ngaca atau bagaimana sih? Kamu lihat dong dirimu sekarang, cacat ndak bisa kerja! Terus kamu mau sok-sokan ngerebut mantan
“Buk aku ke rumah sakit dulu yo! Loh, semua orang pada ke mana kok ndak ada siapa-siapa? Anak-anak juga ndak ada tumben pergi ndak ada bilang-bilang.” Pagi ini Angel tampak kemas namun terburu-buru, ia seperti kebingungan melihat kondisi pagi ini rumahnya sepi melompong tak ada siapa pun yang biasanya pagi-pagi akan diisi suara riuh pertengkaran dari Rafa dan Aira.“Hmm, aku lagi buru-buru anak-anak pasti ikut Ibuk aman! Mudah-mudahan Erik ndak kenapa-napa.” Rupanya yang membuat pagi Angel was-was adalah sesosok yang tengah mengisi hatinya. Pagi-pagi sekali Angel yang panik bergegas pergi ke rumah sakit untuk memastikan keadaan Erik baik-baik saja. Entah apa yang sebenarnya sedang terjadi, semua orang yang dihubungi Angel pagi ini seakan enggan mengangkat telepon darinya. Ia merasakan ada sesuatu hal yang aneh, pasalnya saat ia pergi ke rumah sakit tak ada nama pasien atas nama Erik di sana, perasaan Angel pun makin tak karuan.TINGG! [Suara pesan masuk]“Loh,
“Astagfirullahalazim Buk! Apa ini? Kok banyak banget dari siapa?”“Loh, bukan kamu yang mesen? Tadi Ibuk kira kamu yang mesen jadi Ibuk terima saja, terus kalau bukan kamu siapa?”Drrrt! Drrrt! Drrrt! [Gawai Angel berdering][Halo, assalamualaikum Rik! Ada apa tumben nelpon pagi-pagi sekali?][Waalaikumsalam, a-anu Ngel ... emmmm][Kamu mau ngomong apa to Rik? Kok ndak jelas gini!][Ekhmm, itu barangnya sudah sampai?][Barang? Maksudmu barang yang pagi ini baru sampai di rumahku itu kamu yang ngirim?][Lebih tepatnya sih Mama Ngel! Aku juga sudah ngasi tahu kalau memang mau ngasi secukupnya saja tapi ya taulah Mama ndak dengerin aku, maaf yo jadi menuh-menuhin rumah kamu.][Yak ampun, aku kira tadi paket nyasar! Ini kok banyak banget, sampai repot-repot begini loh aku jadi ndak enak ... lain kali tolong bilangin mama kamu jangan repot-repot begini lagi!][Aku tahu kamu bakalan bilang kayak begini Ngel makanya aku sudah ngasi tahu Mama duluan tapi tetap saja ya seperti yang kamu lihat
“Aku penasaran deh bagaimana caranya kamu bisa nanganin ini semua? Padahal Malikh itu termasuk orang yang sangat nekat!”“Bagaimana yo jelasinnya? Ya intinya karena itu kamu! Aku rela ngelakuin apa pun itu demi kamu.”“Ndak mungkin karena itu saja kan! Malikh itu bukan orang yang mudah dibodoh-bodohi apa lagi cuma sekadar diancam.” Angel merasa ragu dengan penjelasan sederhana dari Erik.“Hah, panjang ceritanya nanti kamu juga bakalan tahu sendiri pelan-pelan.” Erik masing enggan mengatakan hal yang sebenarnya terjadi.“Tapi bener kan kamu ndak papa? Kevin, ibuk sama nenek?”“Aku dan mereka semua baik-baik saja Ngel kamu tenang saja!”“Bagaimana aku bisa tenang Rik saat orang-orang terdekatku dalam bahaya! Aku bahkan sampai mikir yang enggak-enggak karena Malikh itu orangnya nekat banget, aku cuma mau mastiin kalau kalian sudah bener-bener aman sekarang!”***“Nduk! Kenapa hal sebesar ini kamu ndak cerita ke Ibuk sih!” sesalnya.“Maaf Buk, bukannya aku ndak mau cerita tapi aku cuma nd
Erik sudah menanti hari ini karena saatnya ia menyudahi pertanyaan-pertanyaan yang telah bersarang di benaknya beberapa hari ini, ia akan segera menyelesaikan yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya.“Jadi bener to kamu orangnya!” tekannya.Malikh menatap tajam seakan menantang, “Kenapa? Kamu nyariin aku selama ini? Oh selamat akhirnya kita ketemu!”“Jangan banyak basa-basi! Aku ke sini mau menyelesaikan urusanku denganmu! Jauhi Angel!” ucapnya tanpa langsung ke intinya.Dahi Malikh mengerinyit, “Heh! Harusnya kamu yang jauhi Angel karena dia adalah istriku!”“Tepatnya mantan istri! Dia sekarang adalah calon istriku, berhenti menghayal Malikh!”“Kamu yang harusnya berhenti menghayal! Aku dan Angel sudah punya anak dua dan anak-anak itu ingin orang tuanya kembali lengkap! Apa kamu tega merusak kebahagiaan mereka?”“Ini yang aku bilang menghayal! Mereka itu sudah lupakan kamu Malikh, mana mau mereka mengingat kejadian kejam yang sudah menimpa mereka selama hidup sama kamu!”“Dasar lic
“Aku yakin pasti ada yang ndak beres dari Angel! Dia sebelumnya seyakin itu kenapa tiba-tiba ndak ada masalah apa-apa dia kembali ragu? Aku justru semakin khawatir dengan keadaannya sekarang!” Erik mulai curiga.*“Habis dari mana kamu Mas? Kamu ndak tahu ya kalau hari ini aku masih harus pergi kerja, kamu malah asyik keluyuran ke luar!”“Aku ada urusan penting!”“Lebih penting mana dengan kerjaanku? Kamu tinggal disuruh jaga anak saja ndak becus apa lagi kamu yang aku suruh cari nafkah!”“Selama kerjaanmu masih ndak bener jangan coba-coba merendahkan aku Tasya! Kamu sama rendahnya bahkan lebih rendah dari aku!”“Kamu yang harusnya jaga omonganmu Mas! Nih jaga Gavin aku mau pergi!” Tasya lantas pergi.“Tunggu! Kamu masih kerja di sana/” tanyanya sekadar penasaran.“Iya,” jawabnya singkat tanpa menoleh sedikit pun.“Mau sampai kapan? Waktumu tinggal besok!” ucapnya memberi peringatan.“Hari ini aku terakhir kerja!”“Terus, sudah ada penggantinya?”“Ndak ada, lagian ya Mas aku ndak mau
“Kamu ndak usah jadi merasa sok suci begitu dong Ngel! Aku dan Tasya adikmu sudah berbesar hati mau nerima kamu, kalau kamu ndak egois memikirkan perasaanmu sendiri kita masih bisa kok hidup rukun-rukun saja!”“Mas, kamu kapan sadarnya sih? Kenapa dari tadi kamu masih bisa ngasi pernyataan begitu,
Malikh dan Tasya mulai gelisah, mereka panik kehabisan cara untuk membujuk Angel tak mengusir mereka dari rumah itu. Tentu saja, mereka akan berjuang keras untuk mempertahankam rumah itu pasalnya tanpa seorang Angel mereka berdua hanyalah sesosok benalu yang menempel pada inangnya dan t
“Kenapa kamu kaget begitu? Bukannya kamu sudah buang keluargamu, tega kamu dengan anak-anakmu!”“Jangan sembarangan ngomong buk! Aku ndak ada buang keluargaku apalagi anak-anak, aku selalu memenuhi kebutuhan mereka semua selama ini sampai sekarang!” jelasnya.“Heh, nafkahin pakek uang haram saja ba
“Loh, ndak bisa begitu!”Wajah Angel mendatar, reaksi Malikh terlihat begitu menjijikkan. Pria tak tahu malu itu seakan-akan pernah berkontribusi dalam membangun rumah itu, hingga menolak keras tindakan Angel mengusirnya dari rumah.“Mbak ndak usah seenaknya begitu ngusir kita! Mbak jangan lupa sela







