로그인“Dari hotel!” jawab Malikh datar.
Surti sontak mengelus dada, “Hotel? Kalian ngapain ke hotel berdua hah?! Astaga kalian ini benar-benar keterlaluan ya, pantas saja Rafa bilang ndak ada acara apa pun dari sekolah dan kalian hilang kabar seharian ini!” bentaknya, ia benar-benar meradang kali ini.
“Ibuk ndak perlu tahu, ini urusan saya dengan Tasya ndak ada hubungannya sama Ibuk! Sudah saya capek mau istirahat!” keluhnya.
“Bajingan kamu Malikh! Kamu, Tasya kenapa diam saja? Jawab Ibuk, kalian ngapain ke hotel?”
“Udahlah Bu, ndak usah diperpanjang Tasya juga capek sekarang malah harus denger Ibuk ngomel-ngomel!” keluhnya.
“Nak, Ibuk ndak pernah ngajarin kamu hal seperti ini. Tolong hentikan perbuatan kamu dengan Malikh, dia itu suami Kakakmu sendiri, sadar!”
“Apaan sih Bu! Ibukk tu ndak jelas tahu ndak, orang ndak ada apa-apa juga!” bantahnya.
“Kalau sampai ada apa-apa antara kamu dan Malikh lagi, awas kamu Tasya Ibuk ndak akan pernah maafin kalian berdua!” tekannya sembari mengacungkan telunjuknya ke depan wajah Tasya.
“Sebenarnya aku ini anak Ibuk atau siapa sih? Kenapa Ibuk ndak pernah baik-baik ke aku, Ibuk selalu saja belain Mbak Angel salah aku apa to Bu? Udahlah ndak usah dijawab, Tasya tahu jawaban Ibuk bagaimana, pasti Ibuk akan tetap belain Mbak Angel kan aku muak!”
“Sadar Tasya sadar! Kamu itu harusnya tahu diri sedikit, Mbakmu itu lagi pontang-panting kerja di negeri orang untuk kita makan sedangkan kamu di sini malah enak-enakan sama suami Mbakmu!” Surti meninggikan suaranya.
“Buk! Kalau ngomong jangan keras-keras kenapa, malu didengar sama tetangga! Kasian juga anak-anak Ibuk teriak-teriak kayak begitu!” Tasya memberikan perlawanan.
“Hehh, andai saja Ibuk ndak bodoh pasti Ibuk sudah lama nelpon ngasi tahu Mbakmu tentang kelakuan kalian berdua! Sayangnya Ibuk baca saja ndak bisa apalagi mau nolong Mbakmu dari kelakuan biadab kalian, Ibuk merasa gagal ngedidik kamu nduk!”
“Terserah, toh selama ini Ibuk juga ndak pernah nganggap aku ada to?” Tasya lantas pergi begitu saja.
Surti menangis terisak, kekecewaannya begitu dalam karena ia sangat menyesali dirinya tidak bisa berbuat apa-apa, ia dari dulu sudah sangat ingin menghubungi anaknya-Angel namun dirinya yang tidak bisa beradaptasi dengan teknologi merasa tidak berdaya. Ia tak tahu harus meminta tolong pada siapa, ia sendiri pun takut jika aib keluarganya tersebar jika meminta pertolongan pada tetangganya.
“Mbah, Mbah kenapa teriak-teriak?” tanya Aira dengan polosnya.
“Ndak papa Nak, Mbah capek,” sahutnya lesu.
***
“Bagaimana ini Mas, kalau Ibuk nekat bagaimana?” tanyanya risau.
“Sudah ndak papa, toh Ibuk ndak bisa makek Hp ... kalau mau minta tolong juga mau minta tolong sama siapa? Ibuk pasti ndak berani cerita ke siapa-siapa!” ucapnya menenangkan.
“Hahh!” Tasya menghela napas panjang.
“Kamu kenapa dek? Muka kamu pucet banget!” Malikh risau.
“Ndak tahu Mas, sudah seminggu lebih aku makan ndak enak dan gampang capek!”
“Tasya,” panggil Surti dari dapur.
“Iya sebentar!” Tasya gegas menghampiri ibunya.
Wanita 25 tahun itu berjalan terhuyung-huyung, semakin ia mendekati dapur isi perutnya rasanya seperti mau keluar seketika.
“Hkhh, u-uwek ... ahhh hkhhh.” Tasya menahan napasnya ia tak kuasa mencium aroma dapur. Ia semakin merasa mual.
“Kamu kenapa nduk? Kamu sakit?” Surti khawatir melihat wajah Tasya semakin pucat dan berkeringat.
“Ndakk papa Bu, masuk angin saja ... Tasya mau istirahat sebentar!”
“Ya sudah, Ibuk bikinin teh anget ya!”
Tasya gegas ke kamarnya, Malikh yang juga merasa khawatir diam-diam menyelinap ke kamar Tasya.
“Mas kamu ngapain ke sini? Sana pergi, nanti dilihat sama Ibukk!”
“Kamu kenapa dek? Kamu kok aneh banget tiba-tiba mual-mual begitu!”
“Aku juga ndak tahu Mas!”
Malikh merenung, “Ha, jangan-jangan kamu ....”
“Jangan-jangan apa Mas? Mas jangan buat aku takut!”
“Ndak papa!” Malikh lantas pergi seperti seseorang yang sedang mencoba menutupi sesuatu.
***
“Mas! Jawab aku jujur, malam itu Mas sudah pakek pengamankan?” tanyanya panik.
“Ma-maksud kamu apa? Mas ndak ngerti, u-udah pakek kok!”
“Bohong!” Tasya meradang, ia merogoh sesuatu dari kantung celananya. “Aku hamil Mas!!!”
Malikh melihat dua garis terpampang jelas di testpack yang diberikan Tasya.
“APA? Ja-jadi benar dugaan aku ka-kamu hamil!” Malikh syok.
“Mas, keterlaluan kamu! Ini bagaimana sampai bisa jadi kayak gini, pokoknya kamu harus tanggung jawab seperti apa kata Mas sebelumnya! Mas mau tanggung jawab kan Mas!” Tasya mengguncang tubuh Malikh.
“A-aku?”
“Jawab Mas jawab! Duh, bagaimana caranya jelasin ke Ibuk, Mbak Angel dan semuanya?!!!” Tasya stress bukan kepayang.
“Ndak, Mas belum siap sekarang!”
Plakkk, Tasya tak kuasa menahan tangannya untuk memberi pelajaran pada jawaban Malikh, tangannya tepat mendarat di pipi laki-laki tak punya pendirian itu.
“Jangan becanda kamu Mas, kamu sendiri yang bilang sayang ke aku lah mau tanggung jawab lah sekarang ke mana kata-kata itu Mas? Mas jangan buat aku ngerasa nyesel gini! JAWAB!!!” pekiknya.
“Ustttt, Tasya-Tasya! Tenang-tenang.”
“Tenang-tenang matamu Mas! AKU HAMIL MAS HAMIL!!!”
“IYA-IYA! Mas mau tanggung jawab ke kamu tapi ndak sekarang juga, waktunya belum tepat!”
“Belum tepat katamu Mas? Terus kenapa kamu biarin semua ini sampai terjadi hah?”
“Jangan salahin aku saja to! Kamu juga sama-sama nikmatin, sekarang giliran kayak gini malah nyalahin semuanya ke aku!” jawabnya ketus.
Tasya memukul-mukul kepalanya, ia buntu.
“A-aku lupa waktu malam itu ternyata ndak pakek pengaman, itu semua karena aku ndak tahan lihat tubuhmu yang seksi itu!” ucapnya tanpa rasa bersalah.
“Bajingan kamu Mas! Ini bukan saatnya kamu ngeluarin kata-kata kotormu itu, aku cuma mau kamu mempertanggung jawabkan kelakuanmu itu!”
“Heh! Kamu juga sama harus bertanggung jawab dengan kelakuanmu Tasya, ini kan atas persetujuan kamu juga ... kamu sendiri yang mau to? Kamu jangan mau yang enak-enaknya saja, aku juga stress ini!”
Suasananya semakin keruh, keduanya tak menemukan titik temu atas kekacauan yang mereka timbulkan sendiri.
“Aku kok bisa bodoh kayak gini bisa percaya sama omonganmu Mas! Harusnya hubungan kita berhenti saja saat itu, aku bilang juga apa Mas! Jadi gini kan, Tasya bodoh banget sih kamu ahkhhhhhh!”
“Tasya, Mas tahu kamu juga belum siap dengan hal ini kan?”
“Menurut Mas? Mas kira aku suka rela ini semua terjadi kayak gini? Rencana kita ndak gini awalnya Mas.”
“Nah itu, Mas punya so-solusi ta-tapi itu perlu persetujuan dari kamu!” ucapnya terbata.
“Mas kamu jangan becanda lagi, aku sudah cukup percaya sama omong kosongmu itu!”
“Tasya, Mas lagi ngasi solusi biar kita berdua sama-sama enak daripada kamu stress kayak orang gila! Aku pusing lihatnya, Mas juga ndak mau was-was terus-terusan!”
“Ya sudah, terus solusi Mas apa? Mas mau tanggung jawabkan?” tanyanya masih berharap.
Malikh mengambil napas dalam, “Hah, so-solusinya bagaimana kalau kamu gu-gugurin kandunganmu itu? Ma-maksud Mas aborsi!”
“APA ABORSI?”
Bersambung ...
“Jangan macem-macem kamu Tasya! Ini kalau salah bertindak aku yang jadi taruhannya, ini kamu sudah pikirin mateng-mateng belum?”“Sudah ikutin saja Mas! Main rapi makanya, kalau memang Mas ragu mau ngelakuin yang ini ya sudah kalau begitu Mas pergi kerja sekarang! Jadi Mas mau pilih yang mana?” tawarnya.“Hah, iya-iya!”***“Ini kok ndak ada yang ngangkat telpon sih!”“Bagaimana Nduk? Sudah ada yang ngangkat?”“Belum ada Buk, biar Angel saja lah kalau begitu yang ke sana langsung dari pada nungguin mereka nelpon yang ada aku makin khawatir di rumah!”“Ya sudah kalau begitu kamu hati-hati di jalan.”“Iya Buk, Rafa aku ajak yo Buk biar Aira mau pulang.”“Iya, kamu ajak anak hati-hati yo jangan terlalu banyak pikiran di jalan bahaya!”*“Buk, kenapa Tante Tasya bisa nikah dengan Ayah?” tanya Rafa tiba-tiba.“Rafa, maaf Ibuk ndak bisa jelasin lebih banyak ke kamu ... nanti kalau kamu sudah cukup umur Ibuk pasti bakalan cerita semuanya ke kamu, yang pasti intinya sekarang kamu sudah tahu t
“Mas bangun Mas!”“Ekhhh, masih ngantuk!!!”“Mas memangnya sudah ndak mau uang lagi yo?”“Hah uang?” Malikh sontak terbangun dari tidur lelapnya. “Di mana ada uang?”“Makanya bangun dulu, nanti aku jelaskan!”“Iya-iya!” Malikh pun bangun tanpa keterpaksaan perkara uang.“Nah, jadi gini Mas! Aira sudah menawarkan janji ke Angel untuk menginap di sini jadi waktu Aira menginap aku pengen Mas ngelakuin sesuatu!”“Maksudmu? Apa hubungannya uang dengan Aira, makin hari makin aneh saja kamu yo!”“Nah itu yang kamu ndak ngerti Mas! Kalau kita bisa menguasai Aira itu artinya Angel juga bisa kita kuasai dan dia bisa berada di bawah kendali kita!”“Oh, jadi maksudmu ini to yang kemarin! Mas kan sudah bilang ke kamu to kalau Mas ndak mau ikut-ikutan lagi! Kalau misalnya kita kalah lagi tamat riwayat kita dan berakhir jadi gelandangan luntang-lantung di jalan tahu ndak!”“Iya tapi Mas tenang dulu, kali ini beda! Kita punya umpan yang bagus, kita buat Aira makin betah tinggal di sini jadi dari kond
“Kapan Tante Tasya bilang begitu?”“Waktu di rumah Bapak tadi Buk,” jawabnya polos. “Apa maksud Tasya menjelaskan hal itu pada Aira?” Angel pun bertanya-tanya dan merasa curiga ada maksud dibaliknya.“Bagaimana Nduk, Malikh ada di rumah?”“Ada Buk, ya dia seperti biasalah di rumah saja memangnya dia mau ke mana lagi!”“Kamu bener juga, ya yang penting sekarang Aira keinginannya sudah keturutan.”“Iya sih Buk, tapi aku kok khawatir yo habis pulang dari sana? Aku ndak tahu kenapa seperti merasa ada hal buruk yang bakal mereka lakukan lagi!”“Sudah, kamu ndak usah gelisah begitu! Kasihan anak-anak, Ibuk ndak mau Rafa dan Aira jadi kepikiran ... tapi kalau kamu ada merasa cemas lagi cerita saja ke Ibuk yo jangan dipendam-pendam.”“Iyo Buk, makasi ya.”***“Nyari siapa buk?”“Ini buk, saya mau nyari anak saya namanya Aira Zulaikha.”“Ow, kelas berapa ya buk?”“Kelas tiga buk, sudah pulang ya? Soalnya, biasanya anak saya pasti nunggu di pos satpam sini sekarang kok tumben jam segini belum
“Mas Rafa, Ira kangen sama Bapak ... Bapak ke mana yo?”“Bapak kan tinggal sama Tante Tasya di rumah kita yang dulu, Ira kangen sekali yo sama Bapak?”“Hek’e Mas.” Sungguh malang nasib kedua bocah itu, di usia mereka yang sangat belia harus merasakan pahitnya perpisahan kedua orang tua mereka akibatnya mereka sendiri pun bingung dengan keadaan yang sedang terjadi.“Loh, kalian kok masih di sini? Ibuk panggil dari tadi buat makan kok ndak ada yang ke luar to ini?”“Anu, ini Buk, Ira kangen katanya sama Bapak! Kira-kira Bapak masih ndak yo tinggal di rumah kita Buk?” tanyanya sedikit ragu.Angel terdiam, ia bingung harus bereaksi seperti apa.“Sudah-sudah, kalian jangan buat Ibuk kalian pusing! Mending sekarang kalian makan, kasian Ibukmu sudah capek-capek masak ndak ada yang mau makan!” sela Surti memecah ketegangan. Semuanya makan di ruang makan, tetapi dengan ekspresi canggung.“Kenapa to kalian ini murung dari tadi? Ndak enak yo makanan Ibuk?”“Enak kok Buk,
“Pak Kades saya mohon jangan pak! Tolong hentikan mereka!” Tasya dan Malikh sudah terpojok.“Malikh! Saya sudah katakan bahwa saya ndak bisa membendung kemarahan mereka, saya pun kecewa berat dengan kelakuanmu selama ini!”Malikh menelan udara kosong, ia mencoba mencari akal. Malikh lantas melirik ke arah Tasya, sepertinya ia menemukan ide untuk menghalau masa yang sedang mengamuk itu.“Oke, saya minta maaf ... tapi kali ini saya mohon dengan kalian semua tolong kasihani saya! Lihat, lihat Tasya perutnya sudah besar sekali sebentar lagi dia bakalan melahirkan, kalau kalian mengusir kami dari sini kami mau tinggal di mana dengan kondisi begini? Kalian tega lihat seorang ibu hamil terlantar?”“Pak Kades jangan dengarkan mereka, perbuatan mereka sudah lebih keji dari ini!”“Iya betul itu pak Kades, kami sudah benar-benar muak dengan kelakuan mereka dan jujur kami juga merasa terganggu mereka setiap hari ribut terus sampai terdengar satu desa! Apa pak Kades mau mempertahankan
“Mas! Kenapa kamu babak belur begini?” Tasya keheranan melihat wajah Malikh sudah dihinggapi lebam di mana-mana.“Setsshh, orang lagi sakit bukannya di suruh masuk dulu malah ditanya-tanya!” jawabnya meradang.Tasya menyeka wajah Malikh dengan kain yang sudah dibasahi dengan air hangat.“Ini lah akibatnya kalau Mas ndak pernah omongan istrimu Mas! Kamu celaka karena pergi tanpa restu istrimu!”“Justru aku begini karena kamu! Coba saja kamu ndak banyak nuntut dan lebih sabar, pasti aku ndak bakalan nekat minjem uang ke bos keparat itu!”“Jadi Mas babak belur begini karena minjem uang? Astaga Mas malu-maluin! Sudah ndak dapet uang, mana babak belur lagi! Coba aja Mas kerja bener-bener pasti kita sudah dapet uang dari dulu, dari pada ngambil kerjaan sia-sia begini malah nyari penyakit!”“Ya mau bagaimana lagi? Jalan kita sudah buntu, mau usaha bagaimana pun terima saja kenyataannya kalau kita itu sekarang miskin!”“Itu semua ada sebabnya, karena Mas sendiri yang memilih kita miskin! Mas







