LOGIN“Dek, kamu jangan nyusahin Mas begini! Kita ndak mungkin bisa menikah sekarang yo masa iya Mas tiba-tiba ngabarin Angel kalau kita mau nikah karena kamu hamil anak aku?!”
“Mas! Memangnya ndak ada cara lain? Aku ndak mau dosa dua kali karena gugurin anak aku sendiri!”
“Sejak kapan kamu mikirin dosa dek? Dari awal juga kamu sudah buat dosa tapi tetap mau-mau saja.”
“Mas! Sekarang bukan saatnya kamu ngurusin dosa aku, kamu tu sama dosanya. Pokoknya harus tanggung jawab aku ndak mau tahu ... kalau Mas ndak mau cari cara buat nikahin aku jangan salahin aku pakek cara kotor supaya kita tetap nikah!”
“Maksud kamu apa to dek?” Malikh linglung, ia sedang tak fokus dengan situasinya yang semakin keruh.
“Aku ndak akan segan-segan ngaduin kelakuanmu ke Mbak Angel, kalau kamu selama ini sudah nodain aku! Setelah Mbak Angel mendengar semua penjelasan aku pasti Mbak Angel bakalan lebih percaya sama adiknya dan ngusir kamu dari rumah!” ancamnya.
Malikh terperangah, keningnya mengkerut.
“Kamu ini memang keras kepala! Kenapa sih kamu ndak mau nurut saja sama Mas kan kita jadi sama-sama enak!”
“Sama-sama enak katamu Mas? Di sini aku yang paling dirugikan, ya sudah kalau kali ini kamu ndak bisa menuhin mau aku, pilihannya ada di tangan kamu sendiri kamu nikahin aku atau kamu diusir dari rumah terus jadi gelandangan, setelah itu mungkin kamu yang bakalan digunjing tetangga atau bahkan lebih parah kamu bisa dipenjarain sama Mbak Angel karena sudah berani macem-macem dengan keluarganya!” Tasya tetap kekeh ingin Malikh bertanggung jawab dan tak ingin kehilangan anaknya meskipun ia tahu Malikh bukanlah sosok yang tepat untuk di andalkan menjadi kepala rumah tangga.
“Kurang ajar kamu Tasya! Ini bukan cuma ulah Mas, tapi kamu juga bertanggung jawab atas semua ini hahhhh!”
“Aku tahu Mas tapi aku yang bawa beban paling berat!”
Malikh menarik napas panjang, “Hahhh, oke ... Mas juga tidak mau kehilangan semuanya, aku kenal baik siapa Angel jadi kemungkinan besar dia memang akan lebih percaya sama keluarganya, Mas bakalan nikahin kamu dek tapi tanpa sepengetahuan Angel!”
“Maksud Mas bagaimana?”
“Kamu ndak usah turut campur kali ini, biar Mas yang nentuin solusinya!”
“Oke, keputusan dan hasilnya aku tunggu sampai besok, awas kalau Mas berani macem-macem!”
***
“Tega bener yo, bisa-bisanya dia nelantarin anak-anaknya demi selingkuhannya padahal suaminya sudah susah payah ngurus anak dan rumah tangga di kampung!”
“Iya ih, amit-amit mana aku punya suami kerjanya ngerantau juga lagi! Duh jadi takut kalau dia macem-macem di sana.”
“Pada ngomongin apa to ibu-ibu rame banget?” tanya Surti penasaran. Ia langsung bergabung dengan sekumpulan ibu-ibu yang sedang bersantai di teras rumah sembari menggosip sebagai pelengkap kebersamaan mereka.
Tiba-tiba entah kenapa saat Surti bergabung semuanya diam, ada yang berbisik dan ada yang saling menyiku satu sama lain.
“Eh, ada buk Surti, sehat buk? Sudah lama ndak kumpul-kumpul sama kita!” sapa wanita paruh baya mengenakan daster bunga-bunga dengan gincu merah merona menghiasi bibirnya.
“Iya bu Lena, sibuk ngurusin cucu!” jawabnya.
“Alah bu Surti alasan saja, kan sudah ada Malikh yang jagain di rumah Tasya juga ada kan?”
“Eh iya bu, tapi kan kadang mereka kasian kalau seharian harus ngurus anak-anak.”
“Ngomong-ngomong kok Malikh dulu ndak menikah sama Tasya saja buk?” tanyanya tiba-tiba.
“Maksud bu Lena apa? Malikh kan sudah nikah sama Angel, Angel memang pilihan Malikh sendiri saat itu makanya dia nikahnya sama Angel!” tekannya, Surti sedikit emosi mendengar pertanyaan tersebut.
“Iya ih, coba dari awal kalau Malikh menikah dengan Tasya pasti dia lebih bahagia karena di dampingi terus, hidup seadanya saja cukup dari pada hidup mewah eh tahu-tahu malah diselingkuhin kan nelongso ya bu-ibu!”
“Iya bener itu,” jawab mereka serempak.
“Ini ada apa to? Kok saya ndak ngerti?” Surti kebingungan tiba-tiba hubungan anaknya jadi bahan gunjingan orang-orang.
Sekumpulan ibu-ibu itu pun keheranan melihat reaksi Surti, seperti tidak tahu menahu masalah keluarganya sendiri.
“Loh, buk Surti memangnya ndak tahu to kalau Angel di Taiwan selingkuh sama bosnya sendiri?” tanyanya lancang.
“Astagfirrulah, bohong! Angel anak saya tidak mungkin selingkuh, jangan fitnah ibu-ibu! Anak saya di sana kerja keras demi keluarga dia ndak mungkin macem-macem,” bela Surti.
“Alah, buktinya Angel di sana sudah bertahun-tahun ndak pulang to? Terus dari mana dia dapat semua harta sebanyak ini kalau bukan dari hasil selingkuh sama bosnya? Tahun pertama dia pergi merantau saja dia sudah bisa kirim uang untuk perbaiki rumah dan lunasin hutang-hutang keluarga ... mustahil kalau dia cuma modal kerja keras!” bantah bu Lena bersikeras.
Surti meradang, “Jangan asal nuduh anak saya sembarangan bu, jatuhnya fitnah dosa besar! Kalian semua keterlaluan, mana bukti kalau anak saya selingkuh memangnya kalian punya bukti?” tantangnya.
Mereka semua saling beradu pandang.
“Eeee, kita sih ndak punya bukti tapi berita ini bener karena menantu sampean sendiri yang bilang!”
“Malikh?”
“Iyo, siapa lagi kalau bukan Malikh dia sendiri yang cerita sama saya kalau dia lagi stress mikirin anak-anaknya tapi istrinya malah selingkuh! Kurang ajar si Angel wis dikasi suami baik, pengertian mau jaga anak malah selingkuh! Angel kurang bersyukur banget ya bu-ibu!”
“Astagfirullahalazim Malikh! Ya Allah, anakku sudah difitnah!” Surti menangis, ia lekas pergi meningkalkan ibu-ibu tukang gosip itu.
Sementara itu, Malikh dan Tasya sedang bermesraan di rumah. Mereka memanfaatkan waktu luang yang ada saat Rafa dan Aira pergi ke sekolah sedangkan Surti meninggalkan rumah.
“Mas, aku penasaran sama rencana Mas sebenarnya apa?” tanyanya sembari duduk dipangkuan Malikh.
“Pokoknya dek ndak usah khawatir yang penting kita jadi nikah setelah ini to?”
“Iya Mas, aku manut. Makasi yo Mas karena sudah menuhin permintaanku.”
“Sama-sama sayang, Maaf sebelumnya Mas buntu ndak tahu mau ngambil keputusan apa dan malah maksa kamu buat gugurin anak kita!” ucapnya menyesal.
“Iya, ndak apa-apa Mas yang penting kita jadi nikah!” sahutnya sumringah.
“MALIKH! MALIKH! Nengdi kowe?”
“Mas Ibuk!” Tasya yang terkejut sontak melompat dari pangkuan Malikh.
“Ada apa to buk, jangan teriak-teriak isin didenger tetangga!”
“Kamu yang buat malu keluarga! Kenapa kamu fitnah anak saya selingkuh?”
“Loh, kok ibuk marah-marah? Kenyataannya memang begitu, ibuk pikir saja sendiri dari mana Angel bisa dapet uang sebanyak itu selama ini, kalau bukan hasil dari selingkuh sama bosnya? Hmphh, dia pasti jual diri di sana!” cercanya.
“Kurang ajar kamu Malikh! Yang pantes dianggap ndak bersyukur itu ya kamu bukan anak saya! Anak saya kerja keras buat suapin makan ke kalian semua tapi ini balasan kamu untuk anak saya, pergi kamu dari rumah ini!”
“Jangan buk jangan usir Mas Malikh dari sini, Mas Malikh harus tanggung jawab Tasya Hamil!”
“APA?”
Bersambung ...
“Jangan macem-macem kamu Tasya! Ini kalau salah bertindak aku yang jadi taruhannya, ini kamu sudah pikirin mateng-mateng belum?”“Sudah ikutin saja Mas! Main rapi makanya, kalau memang Mas ragu mau ngelakuin yang ini ya sudah kalau begitu Mas pergi kerja sekarang! Jadi Mas mau pilih yang mana?” tawarnya.“Hah, iya-iya!”***“Ini kok ndak ada yang ngangkat telpon sih!”“Bagaimana Nduk? Sudah ada yang ngangkat?”“Belum ada Buk, biar Angel saja lah kalau begitu yang ke sana langsung dari pada nungguin mereka nelpon yang ada aku makin khawatir di rumah!”“Ya sudah kalau begitu kamu hati-hati di jalan.”“Iya Buk, Rafa aku ajak yo Buk biar Aira mau pulang.”“Iya, kamu ajak anak hati-hati yo jangan terlalu banyak pikiran di jalan bahaya!”*“Buk, kenapa Tante Tasya bisa nikah dengan Ayah?” tanya Rafa tiba-tiba.“Rafa, maaf Ibuk ndak bisa jelasin lebih banyak ke kamu ... nanti kalau kamu sudah cukup umur Ibuk pasti bakalan cerita semuanya ke kamu, yang pasti intinya sekarang kamu sudah tahu t
“Mas bangun Mas!”“Ekhhh, masih ngantuk!!!”“Mas memangnya sudah ndak mau uang lagi yo?”“Hah uang?” Malikh sontak terbangun dari tidur lelapnya. “Di mana ada uang?”“Makanya bangun dulu, nanti aku jelaskan!”“Iya-iya!” Malikh pun bangun tanpa keterpaksaan perkara uang.“Nah, jadi gini Mas! Aira sudah menawarkan janji ke Angel untuk menginap di sini jadi waktu Aira menginap aku pengen Mas ngelakuin sesuatu!”“Maksudmu? Apa hubungannya uang dengan Aira, makin hari makin aneh saja kamu yo!”“Nah itu yang kamu ndak ngerti Mas! Kalau kita bisa menguasai Aira itu artinya Angel juga bisa kita kuasai dan dia bisa berada di bawah kendali kita!”“Oh, jadi maksudmu ini to yang kemarin! Mas kan sudah bilang ke kamu to kalau Mas ndak mau ikut-ikutan lagi! Kalau misalnya kita kalah lagi tamat riwayat kita dan berakhir jadi gelandangan luntang-lantung di jalan tahu ndak!”“Iya tapi Mas tenang dulu, kali ini beda! Kita punya umpan yang bagus, kita buat Aira makin betah tinggal di sini jadi dari kond
“Kapan Tante Tasya bilang begitu?”“Waktu di rumah Bapak tadi Buk,” jawabnya polos. “Apa maksud Tasya menjelaskan hal itu pada Aira?” Angel pun bertanya-tanya dan merasa curiga ada maksud dibaliknya.“Bagaimana Nduk, Malikh ada di rumah?”“Ada Buk, ya dia seperti biasalah di rumah saja memangnya dia mau ke mana lagi!”“Kamu bener juga, ya yang penting sekarang Aira keinginannya sudah keturutan.”“Iya sih Buk, tapi aku kok khawatir yo habis pulang dari sana? Aku ndak tahu kenapa seperti merasa ada hal buruk yang bakal mereka lakukan lagi!”“Sudah, kamu ndak usah gelisah begitu! Kasihan anak-anak, Ibuk ndak mau Rafa dan Aira jadi kepikiran ... tapi kalau kamu ada merasa cemas lagi cerita saja ke Ibuk yo jangan dipendam-pendam.”“Iyo Buk, makasi ya.”***“Nyari siapa buk?”“Ini buk, saya mau nyari anak saya namanya Aira Zulaikha.”“Ow, kelas berapa ya buk?”“Kelas tiga buk, sudah pulang ya? Soalnya, biasanya anak saya pasti nunggu di pos satpam sini sekarang kok tumben jam segini belum
“Mas Rafa, Ira kangen sama Bapak ... Bapak ke mana yo?”“Bapak kan tinggal sama Tante Tasya di rumah kita yang dulu, Ira kangen sekali yo sama Bapak?”“Hek’e Mas.” Sungguh malang nasib kedua bocah itu, di usia mereka yang sangat belia harus merasakan pahitnya perpisahan kedua orang tua mereka akibatnya mereka sendiri pun bingung dengan keadaan yang sedang terjadi.“Loh, kalian kok masih di sini? Ibuk panggil dari tadi buat makan kok ndak ada yang ke luar to ini?”“Anu, ini Buk, Ira kangen katanya sama Bapak! Kira-kira Bapak masih ndak yo tinggal di rumah kita Buk?” tanyanya sedikit ragu.Angel terdiam, ia bingung harus bereaksi seperti apa.“Sudah-sudah, kalian jangan buat Ibuk kalian pusing! Mending sekarang kalian makan, kasian Ibukmu sudah capek-capek masak ndak ada yang mau makan!” sela Surti memecah ketegangan. Semuanya makan di ruang makan, tetapi dengan ekspresi canggung.“Kenapa to kalian ini murung dari tadi? Ndak enak yo makanan Ibuk?”“Enak kok Buk,
“Pak Kades saya mohon jangan pak! Tolong hentikan mereka!” Tasya dan Malikh sudah terpojok.“Malikh! Saya sudah katakan bahwa saya ndak bisa membendung kemarahan mereka, saya pun kecewa berat dengan kelakuanmu selama ini!”Malikh menelan udara kosong, ia mencoba mencari akal. Malikh lantas melirik ke arah Tasya, sepertinya ia menemukan ide untuk menghalau masa yang sedang mengamuk itu.“Oke, saya minta maaf ... tapi kali ini saya mohon dengan kalian semua tolong kasihani saya! Lihat, lihat Tasya perutnya sudah besar sekali sebentar lagi dia bakalan melahirkan, kalau kalian mengusir kami dari sini kami mau tinggal di mana dengan kondisi begini? Kalian tega lihat seorang ibu hamil terlantar?”“Pak Kades jangan dengarkan mereka, perbuatan mereka sudah lebih keji dari ini!”“Iya betul itu pak Kades, kami sudah benar-benar muak dengan kelakuan mereka dan jujur kami juga merasa terganggu mereka setiap hari ribut terus sampai terdengar satu desa! Apa pak Kades mau mempertahankan
“Mas! Kenapa kamu babak belur begini?” Tasya keheranan melihat wajah Malikh sudah dihinggapi lebam di mana-mana.“Setsshh, orang lagi sakit bukannya di suruh masuk dulu malah ditanya-tanya!” jawabnya meradang.Tasya menyeka wajah Malikh dengan kain yang sudah dibasahi dengan air hangat.“Ini lah akibatnya kalau Mas ndak pernah omongan istrimu Mas! Kamu celaka karena pergi tanpa restu istrimu!”“Justru aku begini karena kamu! Coba saja kamu ndak banyak nuntut dan lebih sabar, pasti aku ndak bakalan nekat minjem uang ke bos keparat itu!”“Jadi Mas babak belur begini karena minjem uang? Astaga Mas malu-maluin! Sudah ndak dapet uang, mana babak belur lagi! Coba aja Mas kerja bener-bener pasti kita sudah dapet uang dari dulu, dari pada ngambil kerjaan sia-sia begini malah nyari penyakit!”“Ya mau bagaimana lagi? Jalan kita sudah buntu, mau usaha bagaimana pun terima saja kenyataannya kalau kita itu sekarang miskin!”“Itu semua ada sebabnya, karena Mas sendiri yang memilih kita miskin! Mas







