Home / Romansa / Istana yang Retak / Bab 19. Dinding yang Menyempit

Share

Bab 19. Dinding yang Menyempit

Author: Lia Lintang
last update publish date: 2026-04-22 00:57:04

Hari itu terasa lebih panjang dari biasanya, seolah waktu sengaja diperlambat hanya untuk menyaksikan bagaimana seseorang perlahan dipaksa menghadapi konsekuensi dari setiap pilihan yang pernah ia buat.

Twin berjalan keluar dari gedung kantor dengan langkah yang tetap tegap, namun jika diperhatikan lebih dalam, ada ketegangan di bahunya, ada napas yang tertahan, ada sesuatu yang mulai retak di balik sikap tenangnya yang selama ini selalu ia pertahankan.

Suara-suara tadi masih terngiang di kep
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Istana yang Retak   Bab 83. Jejak yang Mengarah ke Pelaku

    Malam itu, Julia hampir tidak tidur. Surat peninggalan Kartika tergeletak terbuka di atas meja kerjanya, sementara pikirannya terus memutar setiap kalimat yang tertulis di dalamnya. Semakin sering ia membaca surat tersebut, semakin ia menyadari bahwa ibunya bukan sekadar meninggalkan pesan perpisahan.Kartika sengaja meninggalkan petunjuk. Petunjuk yang mungkin terlalu samar bagi orang lain, tetapi cukup jelas bagi seseorang yang benar-benar ingin mencari kebenaran.Nama tempat yang ditemukan Julia di bagian bawah surat terus mengganggunya. Awalnya ia mengira itu hanya catatan biasa, tetapi setelah dicermati berulang kali, tulisan tersebut tampak lebih seperti penanda. Seolah Kartika sengaja menyembunyikan sesuatu di sana untuk ditemukan suatu hari nanti.Pagi-pagi sekali, sebelum Hana bangun untuk berangkat sekolah, Julia sudah duduk di ruang makan bersama Bram dan Surya. Ketiganya terlihat serius.Tidak ada lagi keraguan bahwa mereka sedang berada di tahap paling penting dalam penca

  • Istana yang Retak   Bab 82. Orang yang Paling Dipercaya

    Ruangan kecil tempat loker penyimpanan itu berada mendadak terasa sesak. Tidak ada seorang pun yang berbicara setelah Julia membaca isi surat peninggalan Kartika.Suara pendingin ruangan yang berdengung pelan menjadi satu-satunya bunyi yang terdengar di tengah keheningan yang menekan. Surat tua itu masih berada di tangannya, tetapi jemarinya terasa dingin. Berkali-kali ia membaca nama yang tertulis di sana, berharap matanya salah menangkap huruf-huruf tersebut.Namun setiap kali dibaca ulang, hasilnya tetap sama. Nama itu tidak berubah. Nama itu tetap tertulis jelas di sana, seolah sengaja diwariskan Kartika sebagai kebenaran terakhir yang harus diketahui putrinya suatu hari nanti.Bram yang sejak tadi berdiri di samping Julia akhirnya mengambil surat tersebut dengan hati-hati. Ia membaca bagian yang membuat istrinya membeku. Sesaat kemudian, ekspresinya berubah. Rahangnya mengeras. Tatapannya menjadi sulit dibaca."Ini tidak masuk akal," gumamnya.Surya yang berdiri di depan mereka p

  • Istana yang Retak   Bab 81. Pengkhianatan yang Tak Termaafkan

    Malam itu menjadi salah satu malam paling mengguncang dalam hidup Julia. Bahkan setelah ambulans membawa tubuh pria tua yang menjadi saksi terakhir tragedi masa lalu itu, ia masih berdiri mematung di dalam gudang yang dingin dan suram. Suara sirene yang perlahan menjauh terdengar seperti gema yang memantul di dalam kepalanya.Namun bukan kematian pria itu yang paling mengusik pikirannya. Bukan pula tembakan yang nyaris merenggut nyawa mereka. Yang terus berputar di benaknya adalah nama yang diucapkan sesaat sebelum pria itu mengembuskan napas terakhir.Nama yang selama ini tidak pernah masuk dalam daftar orang yang dicurigainya. Nama yang begitu dekat dengan hidupnya hingga Julia tidak pernah membayangkan bahwa orang tersebut menyimpan rahasia sebesar itu selama puluhan tahun.Bram berdiri di samping istrinya sambil memegang pundaknya erat. Ia bisa merasakan tubuh Julia sedikit gemetar. Bukan karena udara malam yang dingin, melainkan karena syok yang masih menguasainya."Kita pulang d

  • Istana yang Retak   Bab 80. Nama yang Selama Ini Disembunyikan

    Suara tembakan yang memecah kesunyian malam membuat seluruh isi gudang berubah kacau dalam sekejap. Pecahan kaca berhamburan ke berbagai arah sementara pria tua yang baru saja mengungkap sebagian rahasia masa lalu itu terjatuh ke lantai dengan tangan menekan dada kirinya.Darah mulai merembes di sela-sela jemarinya. Julia yang masih berada di balik tumpukan peti tua merasakan tubuhnya gemetar hebat. Semua terjadi terlalu cepat.Beberapa detik sebelumnya mereka sedang mendekati jawaban yang selama puluhan tahun terkubur, tetapi kini satu-satunya saksi yang berani berbicara justru menjadi target pembungkaman."Bram!" seru Julia panik."Aku di sini," jawab Bram cepat sambil menarik tubuh istrinya lebih rendah. Tatapannya menyapu ke arah jendela yang pecah. Instingnya mengatakan penembak masih berada di luar. "Jangan keluar!"Julia mengangguk, tetapi matanya terus tertuju pada pria tua yang terkapar beberapa meter dari mereka. Rasa takut dan rasa kemanusiaan bertarung di dalam dirinya. Ia

  • Istana yang Retak   Bab 79. Gudang di Ujung Pelabuhan

    Malam itu, suasana rumah terasa jauh lebih sunyi dibanding biasanya. Setelah membaca pesan misterius yang berisi foto dokumen Kartika dan alamat sebuah gudang tua di kawasan pelabuhan, Julia dan Bram nyaris tidak berbicara selama beberapa menit.Keduanya tenggelam dalam pikiran masing-masing. Mereka sadar bahwa setiap langkah yang diambil sekarang akan menentukan apakah misteri kematian Kartika akhirnya terungkap atau justru terkubur selamanya.Di ruang keluarga, jam dinding terus berdetak seolah mengingatkan bahwa waktu tidak pernah menunggu siapa pun. Julia duduk sambil menatap layar ponselnya yang mulai redup.Hatinya dipenuhi keraguan. Selama beberapa bulan terakhir, terlalu banyak jebakan yang diarahkan kepadanya dan keluarganya. Terlalu banyak orang yang berpura-pura menjadi sekutu, lalu menusuk dari belakang.Namun kali ini berbeda. Instingnya mengatakan bahwa orang yang mengirim pesan itu benar-benar mengetahui sesuatu. Sesuatu yang selama ini disembunyikan oleh banyak pihak.

  • Istana yang Retak   Bab 78. Perburuan Bukti Terakhir

    Kabar hilangnya dokumen milik Kartika menghantam Julia seperti gelombang besar yang datang tanpa peringatan. Selama beberapa menit setelah mendengar pengakuan Surya, ia hanya berdiri membeku di samping mobil.Angin sore berembus pelan, menggoyangkan dedaunan yang mulai menguning di halaman rumah tua itu, tetapi pikirannya sama sekali tidak berada di sana. Yang terbayang dalam benaknya hanyalah satu hal: jika dokumen asli itu benar-benar hilang, maka jalan menuju kebenaran bisa tertutup selamanya.Bram segera mengambil alih situasi ketika melihat wajah istrinya yang semakin pucat. Ia meminta Julia duduk terlebih dahulu sementara dirinya dan Surya mencoba menenangkan keadaan.Namun bahkan Bram sendiri tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya. Mereka baru saja menemukan secercah harapan untuk mengungkap misteri kematian Kartika, tetapi harapan itu kini terancam lenyap bahkan sebelum sempat mereka genggam."Siapa yang tahu lokasi dokumen itu?" tanya Bram.Surya mengusap wajahnya dengan t

  • Istana yang Retak   Bab 45. Serangan Balik

    Pagi itu berubah menjadi mimpi buruk lain bagi Julia. Jemarinya terus gemetar saat menggulir layar ponsel. Foto dirinya bersama Rendra tersebar luas di media sosial dengan narasi penuh fitnah. Beberapa akun anonim bahkan sengaja menambahkan bumbu seolah dirinya selama ini hanya berpura-pura menjadi

  • Istana yang Retak   Bab 44. Retak yang Semakin Dalam

    Sepanjang perjalanan menuju rumah, tangan Julia terus gemetar. Pikirannya kacau membayangkan Hana menangis kesakitan. Suara Bram di telepon tadi terdengar panik, dan itu cukup membuat dadanya terasa sesak. Ia bahkan tak sadar sejak tadi terus menggigit kuku jarinya sendiri hingga Rendra melirik sek

  • Istana yang Retak   Bab 43. Luka yang Tidak Pernah Selesai

    Pagi datang dengan suasana yang lebih sunyi dari biasanya. Setelah pertengkaran besar semalam, rumah itu terasa seperti kehilangan napas. Tidak ada suara televisi menyala keras, tidak ada ocehan Nita dari dapur, bahkan langkah kaki Arman pun nyaris tak terdengar. Kedua pasangan itu akhirnya benar-

  • Istana yang Retak   Bab 42. Luka yang Menumpuk

    Sejak kejadian di kantor kemarin, suasana rumah semakin tidak nyaman. Nita tak lagi banyak bicara pada Julia, tetapi tatapan perempuan itu berubah penuh kebencian. Ia berjalan mondar-mandir di rumah seperti orang yang dipermalukan habis-habisan, sesekali menggerutu pelan sambil membanting barang ag

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status