Share

Bab 5

Author: Fortunata
last update Last Updated: 2025-05-14 15:58:44

"Enak. Aku ke kamar dulu. Jangan begadang, ya."

Lalita tak pernah menolak apapun yang diberikan Aldo sebelumnya.

Jadi, ia terpaksa meneguknya agar Aldo tak curiga.

Ia berharap obat yang sudah diresepkan untuknya–manjur dan mengurangi efek racun ini.

Namun begitu pintu kamar tertutup, tubuh Lalita ambruk di balik daun pintu.

Ia menangis dalam diam karena sadar bahwa mereka sudah pasti akan menggunakan dalih pekerjaan untuk menghabiskan waktu bersama.

Sungguh, dia menyesal tidak memperbaiki cctv apartemennya yang entah bagaimana bisa mendadak rusak.

Seharusnya, dia curiga….

Tapi, penyesalan tidak membawa hasil apapun.

Dia harus menunggu waktu yang tepat.

Jadi, Lalita pun memaksanya diri untuk meminum obat anti racun itu dan tertidur.

Sayangnya, dini hari, Lalita merasa perutnya diremas-remas dari dalam. Belum lagi, kepalanya berdenyut kencang. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya.

"Arrghhh…." jeritnya.

Apakah ini pengaruh racun? Mungkinkah dosisnya lebih besar dari perkiraan.

Terdengar suara langkah terburu-buru. Aldo tampak panik menghampirinya.  "Lita? Kamu kenapa?"

"Pe...rut... sa...kit... Mu..al..." jawab Lalita tersengal dan seketika muntah.

Citra yang baru bangun memekik panik. "Ya ampun kak, kenapa?!"

Lalita hampir pingsan.

Aldo langsung menggendongnya dan mereka bertiga meluncur ke rumah sakit.

Sesampainya di rumah sakit, dokter langsung memeriksa Lalita.

"Sepertinya keracunan makanan. Tapi kami perlu observasi dulu," ucap dokter menyampaikan hasil diagnosanya.

"Dok, bisa bawa kakak saya langsung ke ruang VIP? Orang tua kami mungkin segera datang," pinta Citra.

Segalanya berjalan cepat. Tak lama kemudian, Hadi dan Wita tiba dengan wajah panik.

"Lita, kamu nggak apa-apa, kan?"

Wita membelai rambut dan wajah Lalita pelan.

Benar-benar terlihat seperti seorang ibu yang sedang mengkhawatirkan anaknya.

Pantas saja, Hadi ataupun dirinya tak curiga….

"Aku gapapa. Mungkin cuma salah makan," balas Lalita lembut.

"Kamu tuh ya... Jangan jajan sembarangan."

"Dokter bilang dia akan observasi dulu. Dikasih infus dan obat diare. Kalau nggak ada perkembangan, dia harus nginap," jelas Aldo pada Hadi dan Wita.

“Makasih ya, Aldo,” ucap Hadi pada calon menantunya itu.

"Kamu istirahat, ya," ujar Hadi.

Lalita hanya mengangguk. Untuk sesaat, ia merasa aman di bawah tatapan ayahnya.

Tapi, ternyata tidak.

Ayahnya pergi begitu saja bersama Aldo.

Lalita berusaha memejamkan mata.

Anehnya, Wita dan Citra justru mendekat–seolah memastikan dirinya tertidur?

"Kalian apain dia?" Suara Wita begitu pelan.

"Gak ngapa-ngapain, ma. Dia emang lemah kali, sembarangan makan," sahut Citra ringan.

"Ingat, Citra. Jangan sampai dia mati mendadak. Kalau dia mati, kamu bisa jadi tersangka."

"Iya ma, aku nggak akan bunuh dia. Biar itu urusan Aldo aja..."

"Bagus. Kamu jangan kotorin tangan kamu sendiri."

Mendengar itu, tangan Lalita terkepal sangat kencang dari balik selimut.

Untungnya, pembicaraan keduanya tak terlalu lama.

Mereka pun akhirnya pergi dari ruangan Lalita.

“Kurang ajar,” desis Lalita. Wanita itu pun mengambil ponsel dari saku celana pelan-pelan.

[Aku setuju, ayo kita menikah. Detilnya kita bahas setelah aku keluar dari rumah sakit.]

Dikirimnya pesan itu pada Brian.

***

Brian yang baru membaca pesan Lalita di pagi hari itu langsung meneleponnya.

[Halo..]

[Kamu kenapa? Kamu dirawat di rumah sakit mana?]

Pria itu terdengar khawatir.

[Di rumah sakit kemaren, rumah sakit keluarga kamu.]

[Aku kesana sekarang.]

[Okeee.]

"Kamu kenapa? Kamu gapapa kan?" tanya Brian begitu sampai ke ruang rawat Lalita.

Brian terlihat berantakan. Ia datang dengan baju kaos dan celana pendek, rambutnya pun sepertinya belum disisir.

"Kamu berantakan banget, hahaha.." Lalita terlihat puas sekali menertawakan Brian.

"Ya gimana gak buru-buru, baru kemaren kamu cerita kalau kamu diracun eehhh malah sekarang udah masuk rumah sakiitt," bisik Brian.

"Aku gapapa, cuma keracunan makanan. Kayaknya Aldo kasih aku teh, tapi seduhnya pake air keran."

Mata Brian membelalak, "Apa? Yang bener kamu?"

"Tebakan aku aja sih ya. Soalnya sebelum tidur kemaren, aku cuma minum teh dari dia."

Brian menatap Lalita kesal, "Udah kubilang kan tinggal di apartemen aku aja? Lihat keadaan kamu sekarang! Litaaaa, kenapa sih kamu tuh ngantar nyawa banget ke dia? Nyawa kamu tuh cuma satuuuu, gak ada cadangannyaaaaaaa..."

"Sssstttt, isshhh.."

Lalita langsung mencubit lengan Brian, "Jangan berisik, diem ahhh! Nanti kalo ada yang denger gimanaaaa?"

"Ya biarin ajaaaa..."

Lalita kembali mencubit lengan Brian, dengan kekuatan dua kali lipat. Ia menoleh ke arah pintu, untunglah tidak ada siapapun di depan.

"Belum saatnya mereka tahu kalau aku tahu, Brian," bisik Lalita.

Brian hanya menghembuskan nafas kesal. Ia khawatir temannya itu benar-benar bisa mati kapan saja jika mereka tidak segera menikah.

"Pulang dari sini, aku akan langsung bilang ke om Hadi."

"A... Apa?" tanya Lalita memastikan.

"Pulang dari sini, aku akan langsung bilang ke om Hadi. Aku akan langsung lamar kamu ke dia."

Seketika wajah Lalita memanas, jantungnya berdegup dengan cepat. Ia berharap suaranya tidak terdengar oleh Brian.

"Tapi..."

"Gak ada tapi-tapi..."

Brian yang langsung mengoceh begitu masuk ruang rawat baru menyadari sesuatu. Ruangan ini kosong sehingga ia bisa bebas mengomeli Lalita.

"Om Hadi mana?" tanya Brian.

Lalita tersenyum getir. Papa dan semua orang keluar cari sarapan.

"Kamu sendiri udah sarapan?"

Lalita menggeleng, "Belum..."

Mata Brian terbelalak, "Bisa-bisanya kamu belum makan habis banyak cairan tubuh yang kebuang?"

"Aku gapapa, mending kamu pergi sekaraannggg..."

Lalita melotot sembari melihat jam di ponselnya. Sebentar lagi seharusnya Hadi, Wita dan dua sejoli itu kembali.

"Aku masih mau di sini. Kenapa sih?" ucap Brian kesal.

"Belum saatnya mereka tahu tentang kita."

Air wajah Brian mengeras sesaat sebelum akhirnya melunak.

"Okee, aku akan turutin permintaan calon istriku..."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri 24 Bulan Tuan Muda   Bab 223 : Sebuah Obrolan (END)

    “Hari ini mau jalan-jalan atau di sini aja?” tanya Brian sambil duduk di sisi ranjang.Ia membawa makanan dan menyuapi Lalita perlahan. Seharian ini Lalita hanya berbaring, ia tidak sanggup berjalan.“Di sini aja…” jawab Lalita lirih. “Masih sakit.”Brian langsung menyentil kening istrinya. “Nah, tuh kan! Apa aku bilang. Bandel sih.”“Ya… lagian kamu kok bisa tahu aku bakal kesakitan seharian?” protes Lalita, cemberut.Brian meletakkan piring di nakas, lalu mencondongkan tubuhnya, mencium bibir Lalita dengan lembut. “Karena kamu baru pertama kali. Dan aku juga paham betul sama diriku sendiri—aku pasti susah ngerem kalau udah sama kamu. Siapa suruh kamu terlalu cantik.”Brian kembali mencium bibir istrinya, memeluk dan kemudian meraba tubuh Lalita.“Yan…” Lalita pun menyingkirkan tubuh besar suaminya. “Bibir aku nanti bengkaakkkk…” rengek Lalita.Brian hanya tersenyum dan berbaring di sebelah Lalita, “Hari ini mau ngobrol aja?”“Hmmm…”Lalita menganggukkan kepalanya. Kemudian, ia menin

  • Istri 24 Bulan Tuan Muda   Bab 222 : Curiga

    Lalita terkekeh kecil, lalu tanpa ragu menghapus aplikasi kencan itu tepat di depan Brian.“Nah. Beres,” ucap Brian begitu melihat aplikasinya sudah tidak terinstall di ponsel Lalita.Brian menyipitkan mata, lalu menatap cincin di jarinya. “Tapi… kok cincin nikah aku bisa ada di kamu?”Brian merasa bodoh baru menyadari bahwa cincin nikahnya tidak ada.Wajah Lalita pun langsung berubah. “Dibuang Diana lah!” sahut Lalita ketus.Brian mengernyit. “Kok aku nggak sadar, sih?”“Ish! Mana aku tahu,” Lalita mendengus. “Waktu itu kamu kan sempat kecintaan sama dia. Habis itu hidup kita isinya dar der dor semua. Mana mungkin kamu masih inget soal cincin.”Jujur saja Lalita memaklumi itu. Hidup mereka saat itu bagai roller coaster.Brian terdiam sesaat, lalu tersenyum kecil. “Kalau gitu, sekarang aku janji bakal selalu pakai cincin ini. Tapi aku

  • Istri 24 Bulan Tuan Muda   Bab 221 : Selesaikan Urusan Kalian (2)

    “Mungkin banget,” ucap Brian mantap. “Aku masih suka sama kamu.”Dan kayaknya kedepannya juga bakalan tetep kamu – batin Brian.Lalita mendongak. Meski hatinya berbunga-bunga, tetap saja otaknya menolak percaya.“Aku gak kamu jadiin pelarian kan?”“Maksud kamu aku jadiin kamu pilihan terakhir karena gak dapet cewek yang aku mau gitu?” tanya Brian tak percaya. Matanya bahkan membesar, dan menggeleng sejenak.Lalita hanya mengangguk dengan polosnya.“Gak ada yang kayak gitu, Lita. Bukan kamu yang akan jadi pelarian, yang ada cewek lain jadi pelarian aku karena gak bisa dapetin kamu. Tapi, aku gak berniat jadiin siapapun pelarian karena yang aku mau cuma kamu. CUMA KAMU,” tegas Brian.Lalita masih terdiam.Brian sendiri mulai frustasi di titik ini. Mengapa Lalita tidak kunjung percayaaa? Harus bagaimana agar wanita ini yakin?Pria itu kembali menghembuskan nafas panjang perlahan.“Aku tahu kalau aku masih suka kamu karena aku masih cemburu setiap lihat kamu sama cowok lain. Gak ada tuh c

  • Istri 24 Bulan Tuan Muda   Bab 220 : Selesaikan Urusan Kalian

    Begitu tiba di kediaman Hadi, Brian kembali mengulang kalimat yang sejak tadi membuat kepala Lalita terasa berisik.Jika Lalita setuju, Brian ingin menikahinya—lagi.Hadi yang sedari tadi asyik menonton yutub di smart TV langsung hilang fokus, matanya membulat, rahangnya sedikit menganga.“Ehhmmm… e-ehhhmmm…” Ia berdeham canggung. “Oke… jadi kamu ceritanya lagi lamar anak om.”Hadi menatap Brian dari ujung kepala sampai kaki. “Tapi kenapa buru-buru banget? Kamu baru pulang dari Korea, sapa om sebentar, terus langsung lamar anak om. Lita-nya juga kayaknya kaget banget. Kalian kan bisa mulai lagi pelan-pelan.”Lalita memang masih mematung.Mendengar itu, Brian menoleh pada Lita, tatapannya lurus dan lembut, tanpa ragu sedikit pun.“Saya tadi udah bilang sama Lita, om. Kalo saya gak cepet lamar dia, nanti dia diambil orang.”Brian menghembuskan nafas panjang. “Saya cinta sama Lita, om. Mau berapa lama pun waktu yang udah lewat, atau banyaknya tempat yang saya singgahin, saya selalu keing

  • Istri 24 Bulan Tuan Muda   Bab 219 : Kami Setuju

    “Lo naik apa?” tanya Brian.Dia masih belum ingin berpisah dari Lalita.“Baru mau pesen ojol pulang. Gue gak bawa mobil. Pas berangkat tadi masih ngantuk, jadi gak berani nyetir,” jawab Lalita jujur.“Kalau gitu ayo, gue anterin pulang.”Belum sempat Lalita menolak, tangan Brian sudah lebih dulu menggenggam pergelangan tangannya.Ia ditarik masuk ke dalam mobil, lalu Brian dengan cekatan memasangkan sabuk pengaman di tubuhnya.“Yan… lo tuh gak nanya dulu gue mau atau enggak,” protes Lalita. “Main tarik aja.”Brian tersenyum kecil. “Gue masih mau ngobrol sama lo. Tadi keputus gara-gara ada Citra. Lo gak mau ngobrol sama gue? Kan udah lama gak ketemu.” Lalita terdiam.Ada bagian dalam dirinya yang ingin menolak. Tapi ada bagian lain yang jauh lebih jujur—rasa rindu. Akhirnya, ia memilih diam dan pasrah.Mobil melaju. Namun setelah beberapa menit, Lalita menyadari satu hal.“Yan… ini bukan jalan ke rumah papa.”Brian tetap fokus ke depan. “Iya.”“Terus kita mau ke mana?”“Ke rumah

  • Istri 24 Bulan Tuan Muda   Bab 218 : Bye

    Lalita menjelaskan situasi terakhir dari pertemuannya dengan Citra yang masih menggantung.Mengingat zaman sekarang berbagai hal mudah sekali tersebar di media sosial, Brian sangat paham akan kekhawatiran Lalita.Mungkin terdengar berlebihan, tapi belakangan ini terlalu banyak keributan kecil yang menjadi viral. Bahkan sampai diundang ke acara gosip.Ugh! Membaca berita-berita itu saja membuat kepala Lalita pusing.Mereka sepakat untuk tetap diam di tempat, menunggu sampai orang-orang itu pergi.“Yan… tolong perhatiin mereka ya,” bisik Lalita. “Jangan sampai salah satu dari mereka noleh ke arah kita.”Brian mengangguk pelan.“Tapi dia bisa sampai sewa pengacara begitu,” lanjut Brian. “Mereka emangnya punya uang?”“Gue juga gak tahu,” jawab Lalita singkat.Lalita menghela napas panjang. “Kasusnya jadi alot banget. Mereka tuh tipe yang gak segan-segan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status