Share

Istri Cerewet CEO Anti Skandal
Istri Cerewet CEO Anti Skandal
Penulis: Li Pena

Bab 1 > Salah Kamar

Penulis: Li Pena
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-26 10:51:52

Di salah satu kamar hotel mewah dengan lampu kristal, cahaya itu menyala terlalu terang untuk kepala Senara Ayu Prameswari yang berdenyut seperti habis dipukul palu. Gaun hitamnya terasa ketat, sepatu haknya entah ke mana, dan yang paling parah... pintu kamar hotel ini tampak terasa asing.

"Ini… kamar aku, kan?" gumam Nara sambil menyender ke pintu, matanya menatap ke arah ranjang besar dengan seprai putih rapi.

Kemudian ia berjalan sempoyongan, melempar tas ke sofa, lalu menjatuhkan diri ke kasur. Wangi maskulin di kamar itu... menyusup ke hidungnya.

"Hmm… hotel mahal emang beda ya. Sprei nya bau duit," katanya polos.

Di saat yang sama, pintu kamar kembali terbuka. Seorang pria masuk, dengan perawakan tinggi, bahu lebar dan setelan jas hitam yang sudah dilepas dasinya.

Rambut pria itu sedikit berantakan. Tatapannya dingin tapi kosong, seperti orang yang kepalanya terlalu penuh untuk memproses dunia.

Mahesa Ardhana Wijaya.

Ia berhenti tepat di ambang pintu, menatap pemandangan di depan mata... seorang gadis asing tergeletak di ranjangnya, dan masih mengenakan gaun. Gadis itu tengah menatap langit-langit sambil bergumam.

"Kamu… salah kamar?" suara Nara akhirnya terdengar, pelan tapi jujur tanpa menoleh ke arah Mahesa.

Sedangkan Mahesa, ia menghela nafas sambil melepas kancing mansetnya. "Tidak."

"Loh?" Nara menoleh sambil menyipitkan matanya ke arah Mahesa.

"Ini kamar saya." katanya, datar.

Nara bangkit setengah duduk. Ia kembali menatap pria itu dari ujung rambut sampai sepatu. "Berarti… aku yang salah kamar?"

Mahesa mengangguk tipis.

"Oh," balas Nara, singkat.

Kemudian Nara melirik pintu. Lalu kasur. Lalu memegang kepalanya yang pusing. "Oke. Kalau gitu… aku keluar?" katanya ragu.

Saat ini, jam di dinding menunjukkan lewat tengah malam. Lift hotel ini terkenal lemot. Otaknya menolak untuk berpikir.

Sementara itu, Mahesa menatapnya beberapa detik. "Kamu mabuk," katanya datar.

"Sedikit." Nara mengangkat dua jari. "Dikit doang. Nggak parah kok."

"Dari mana?" tanyanya, singkat.

"Ulang tahun temen."

Mahesa menghela nafas lagi, lalu berjalan mendekati Nara. "Kamu bisa jatuh kalau keluar sekarang."

Nara mengernyit. "Terus?"

"Tidur di situ." Mahesa menunjuk sofa. "Saya di ranjang."

Nara menatap sofa. Sofa itu kecil. Lalu kembali menatap ke arah ranjang yang besar dan empuk. "Oke," katanya cepat. "Deal." Nara setuju dengan tawaran pria asing itu.

Namun lima menit kemudian… "Eh, ini dingin!" teriak Nara dari sofa.

Mahesa yang baru membuka laptop pun menoleh. "Apa?"

"AC-nya kayak mau bikin aku jadi es batu." omelnya, konyol.

Mahesa berdiri, lalu mendekat untuk mengatur suhu. Kini jarak mereka terlalu dekat. Wangi parfumnya menyatu dengan wangi Nara yang manis... bukan mahal, tapi hangat.

Nara mendongak. "Kamu wangi," katanya, spontan.

Mahesa terdiam membeku tanpa merespon apapun.

"Ini bukan gombal," lanjut Nara cepat. "Aku cuma jujur." tambahnya. Ia tak ingin pria itu salah paham.

"Tidur!" perintah Mahesa.

"Galak amat." celoteh Nara.

Namun saat Mahesa berbalik, Nara berdiri. "Eh."

"Apa lagi?"

"Kalau aku mimpi buruk… boleh pindah ke ranjangmu?" bujuk Nara, yang enggan tidur di sofa.

Mahesa menatapnya, dingin, lelah, dan entah kenapa… ia pasrah. "Kalau itu terjadi... kamu boleh bangunin saya," katanya, datar.

Malam itu, batas-batas yang seharusnya tegas mulai kabur. Tidak ada rencana. Tidak ada janji.

Hanya dua orang dewasa, kesepian dengan cara masing-masing... dan satu kamar hotel yang terasa terlalu sunyi.

Kini malam berganti pagi. Cahaya pagi menusuk mata Senara Ayu Prameswari, begitu hangat. Ia menggerakkan jari. Lalu menyentuh… lengan?

Dan lengan itu bukan miliknya.

Seketika Nara membuka mata perlahan. Terlihat jelas langit-langit asing. Seprai kusut. Rambut hitam di samping wajahnya. Dada bidang yang naik turun secara teratur.

"Oke," bisiknya. "Tenang, Nara." Ia mencoba menenangkan dirinya.

Kemudian ia kembali menoleh. Dan langsung menjerit.

"AAAAAAAA...!"

Mahesa seketika terbangun. "Apa...!" bentak Mahesa, reflek karena kaget.

"KAMU NGAPAIN DI SINI?" tanya Nara sambil menutup dada dengan selimut, padahal gaunnya masih utuh.

Mahesa duduk, sambil mengusap wajah. Otaknya bekerja lambat. Bahkan terlalu terlalu lambat untuk seorang Mahesa Ardhana Wijaya.

"Kamu... yang pindah sendiri ke ranjang" katanya.

"Apa?" Nara tersentak kaget.

"Semalam kamu mimpi buruk," lanjut Mahesa datar. "Dan kamu bilang… ‘jangan tinggalin aku’." tambahnya dengan sedikit mengejek.

Kini wajah Nara memerah. "AKU NGGAK PERNAH-" ucapannya berhenti. Karena sekilas ia mengingat kejadian semalam meski kilasan samar.

Lalu tangannya menarik jas seseorang. Suara bariton rendah menenangkannya.

Oh tidak.

Ia menjatuhkan kepala ke bantal. "Tolong katakan kalau semalam nggak ada yang aneh." katanya penuh malu.

Mahesa menatapnya lama. "Definisi ‘aneh’ menurutmu apa?" tanya Mahesa, keheranan.

"Yang aneh itu, sesuatu yang terjadi semalam. ah... pokoknya aneh segalanya," jawabnya, panik.

Suasana di kamar itu hening beberapa saat sampai Nara bangkit, dan memeriksa diri. Dan ternyata dirinya aman. Tapi jantungnya berdegup liar.

"Jadi… kita-" kata Nara, menggantung kalimatnya.

Mahesa mengencangkan rahangnya. "Kita udah dewasa," timpal Mahesa, cepat.

"Terus?" tanya Nara dengan ekspresi yang penasaran.

"Kita sama-sama sadar."

Nara mengangkat tangan. "Oke. Stop. Aku nggak mau kamu menceritakan detailnya."

Lalu ia berdiri, mencari tasnya. Rambutnya masih acak-acakan, tapi wajahnya tetap keras kepala. "Denger ya,” katanya sambil menunjuk Mahesa.

"Aku bukan tipe cewek yang maksa, nuntut, atau yang suka drama."

Mahesa mengangguk tanpa banyak bicara.

"Apa yang terjadi semalam... anggap aja mimpi. Kita nggak saling kenal. Aku nggak bakal nyari kamu,” ucapnya, seolah ia sedang menenangkan dirinya.

Setelah itu ia berjalan ke pintu, lalu berhenti. Ia menoleh sekali lagi ke arah Mahesa. "Dan kamu juga jangan nyari aku." katanya, penuh percaya diri.

Mahesa menatap punggung gadis itu. Untuk pertama kalinya, ada sesuatu yang terasa… tidak terkendali. "Siap namamu?" tanyanya, dingin.

Nara membuka pintu. "Nggak penting," jawabnya, ketus.

Pintu tertutup.

Kini Mahesa hanya berdiri sendiri di kamar hotel mewah itu, menatap seprai yang berantakan, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tahu satu hal dengan pasti bahwa malam ini bukan kesalahan kecil. Dan gadis cerewet itu… akan jadi masalah terbesar yang cukup menarik perhatiannya.

Bersambung...

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Istri Cerewet CEO Anti Skandal    Bab 6 > Aturan Rumah CEO

    Pagi hari...Mahesa Ardhana Wijaya terbiasa bangun pagi dalam keheningan. Tidak ada suara, tidak ada gerakan berlebihan, tidak ada kejutan. Rutinitasnya rapi seperti jadwal rapat... hingga pagi ini."AAAAAAAA-!"Mahesa yang sedang mengenakan manset jam seketika berhenti.Kemudian teriakan kedua menyusul."TOLOOOONG!"Mahesa menghela napas panjang. Ia berjalan cepat menuju sumber suara. Hingga ia berhenti tepat di depan pintu kamar Nara yang terbuka setengah. Di dalamnya, terlihat Senara Ayu Prameswari sedang berdiri di depan lemari dengan ekspresi panik, dan rambutnya masih setengah kering."Apa lagi?" tanya Mahesa, datar.Nara menunjuk lemari. "Bajuku hilang!""Kamu bercanda.""Aku nggak bercanda! Jelas-jelas aku taruh di sini semalam!" katanya, tegas.Mahesa akhirnya melirik. Lemari itu penuh... tapi penuh dengan pakaian perempuan yang… jelas bukan gaya Nara. "Ini bajumu,” katanya.Nara menarik satu gaun satin tipis, menatapnya seperti menatap ular. "Ini bukan baju. Tapi ini niat ja

  • Istri Cerewet CEO Anti Skandal    Bab 5 > Tinggal Serumah

    Mobil berhenti di depan gerbang besi hitam setinggi dua meter. Nara mendongak cukup lama, dengan mulutnya yang menganga. "Ini… rumah kamu?" tanyanya pelan.Mahesa mengangguk. "Iya." jawabnya, singkat.Nara menoleh ke kiri. Ke kanan. Ke atas. “Aku kira ini hotel. Atau museum. Atau mungkin gedung negara," celetuk Nara polos.Mahesa hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum tipis. Kemudian gerbang terbuka perlahan. Mobil pun masuk.Taman di rumah itu benar-benar luas membentang dengan rumput yang rapi, lampu taman menyala hangat, dan air mancur kecil di tengah.Nara menelan ludah. "Aku salah sepatu. Harusnya pakai sepatu wisata." gumamnya.Begitu pintu mobil dibuka, tiga orang pelayan berdiri rapi, menyambut kedatangan sang tuan rumah."Selamat datang, Tuan. Selamat datang, Nyonya."Nara reflek mundur setengah langkah. "Eh... sebentar. Jangan manggil aku Nyonya," protes Nara.Mendengar itu, para pelayan saling pandang.Mahesa turun dari mobil. "Panggil dia Nyonya Wijaya." perintah M

  • Istri Cerewet CEO Anti Skandal    Bab 4 > Pernikahan Kontrak

    Di kediaman Senara Ayu Prameswari...Saat ini Nara sedang menatap langit-langit kamarnya sejak pagi tadi. Sudah tiga jam. Ia belum mandi, belum makan, belum beraktivitas."Enam bulan," gumamnya sambil menghitung jari. "Cuma enam bulan."Sementara Kirana Elsha tengah duduk di ujung ranjang, sambil ngemil keripik dengan mata yang menatap ke arah Nara seperti sedang menonton drama favorit. "Nara," panggilnya santai, "aku cuma mau pastiin… kamu sadar 'kan yang mau kamu nikahin itu CEO?""Aku sadar," jawab Nara lemah."CEO terkaya itu?""Iya." jawabnya, singkat."Dingin?""Iya.""Ganteng?""IYA, AKU TAU." jawabnya, sedikit berteriak.Kirana tersenyum licik. "Terus kenapa kamu kelihatan kayak mau naik tiang listrik?" ledek Kirana."Karena hidupku normal," Nara mengerang. "Terus tiba-tiba disodorin kontrak nikah." omelnya sambil duduk, dan meraih map tipis di meja. Map itu berisi perjanjian pernikahan."Coba baca ulang," kata Kirana.Nara membuka halaman pertama:1. Pernikahan berlangsung s

  • Istri Cerewet CEO Anti Skandal    Bab 3 > Lamaran Paling Absurd

    Cafe itu mendadak sunyi. Bukan karena tutup.Tapi karena satu kalimat yang membuat semua pendengarnya terdiam."Kita perlu menikah."Senara Ayu Prameswari menatap Mahesa Ardhana Wijaya seperti menatap orang yang baru saja mengaku alien. "Maaf," katanya pelan tapi tajam. "Aku salah denger... kamu bilang apa... menikah?" tanyanya lagi untuk memastikan. Ia berharap dirinya salah mendengar.Sayangnya, Mahesa mengangguk tanda kalau ucapannya itu serius. "Iya." jawabnya, tegas.Kirana Elsha, yang sedari tadi duduk manis, tiba-tiba berdiri. "Sebentar. Sebentar. Ini aku yang ngopi kebanyakan, atau dunia emang lagi nggak waras?" sambung Kirana dengan wajah yang terkejut.Mahesa menoleh. "Anda siapa?""Aku sahabat kecilnya Nara,” jawab Kirana cepat. "Sekaligus saksi hidup dia kalau Nara nggak pernah kenal kamu sebelum… malam itu," lanjut Kirana, dingin.Nara langsung menendang kaki Kirana di bawah meja. "DIAM."Mahesa kembali fokus ke Nara. "Saya serius."Nara menyilangkan tangan. "Kamu gila."

  • Istri Cerewet CEO Anti Skandal    Bab 2 > Dia Mencariku

    Di salah satu kamar mewah...Mahesa Ardhana Wijaya tidak pernah bangun pagi dengan perasaan… kosong. Ia yang biasanya hidupnya rapi, jadwal ketat, keputusan cepat bahkan emosi terkunci.Namun pagi ini... kamar hotel mewah itu terasa aneh. Kamar itu terlalu sunyi, terlalu berisik di kepalanya. Ia masih menatap pintu yang sudah tertutup sejak wanita cerewet itu pergi."Kamu juga jangan nyari aku."Kalimat itu masih terngiang.Lalu, Mahesa menoleh ke ranjang dengan seprai kusut, bantal sedikit miring, dan ada satu helai rambut panjang tertinggal, membuat pria itu mengernyitkan dahinya.Mahesa merasa heran... kenapa dia memperhatikan hal-hal remeh begini? Saat pikirannya berkecamuk, tiba-tiba pintu kamarnya diketuk. "Masuk," katanya datar.Rangga Pradipta-sekretaris setianya... masuk dengan tablet di tangan dan wajah penuh profesionalisme… sampai akhirnya ia melihat kondisi kamar atasannya. Ranjang yang berantakan. Jas bosnya tergeletak sembarangan. Dasi di kursi. Dan... Rangga menyipit

  • Istri Cerewet CEO Anti Skandal    Bab 1 > Salah Kamar

    Di salah satu kamar hotel mewah dengan lampu kristal, cahaya itu menyala terlalu terang untuk kepala Senara Ayu Prameswari yang berdenyut seperti habis dipukul palu. Gaun hitamnya terasa ketat, sepatu haknya entah ke mana, dan yang paling parah... pintu kamar hotel ini tampak terasa asing."Ini… kamar aku, kan?" gumam Nara sambil menyender ke pintu, matanya menatap ke arah ranjang besar dengan seprai putih rapi.Kemudian ia berjalan sempoyongan, melempar tas ke sofa, lalu menjatuhkan diri ke kasur. Wangi maskulin di kamar itu... menyusup ke hidungnya."Hmm… hotel mahal emang beda ya. Sprei nya bau duit," katanya polos.Di saat yang sama, pintu kamar kembali terbuka. Seorang pria masuk, dengan perawakan tinggi, bahu lebar dan setelan jas hitam yang sudah dilepas dasinya.Rambut pria itu sedikit berantakan. Tatapannya dingin tapi kosong, seperti orang yang kepalanya terlalu penuh untuk memproses dunia.Mahesa Ardhana Wijaya.Ia berhenti tepat di ambang pintu, menatap pemandangan di depa

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status