Share

Bab 2 > Dia Mencariku

Author: Li Pena
last update publish date: 2026-01-26 14:02:03

Di salah satu kamar mewah...

Mahesa Ardhana Wijaya tidak pernah bangun pagi dengan perasaan… kosong. Ia yang biasanya hidupnya rapi, jadwal ketat, keputusan cepat bahkan emosi terkunci.

Namun pagi ini... kamar hotel mewah itu terasa aneh. Kamar itu terlalu sunyi, terlalu berisik di kepalanya. Ia masih menatap pintu yang sudah tertutup sejak wanita cerewet itu pergi.

"Kamu juga jangan nyari aku."

Kalimat itu masih terngiang.

Lalu, Mahesa menoleh ke ranjang dengan seprai kusut, bantal sedikit miring, dan ada satu helai rambut panjang tertinggal, membuat pria itu mengernyitkan dahinya.

Mahesa merasa heran... kenapa dia memperhatikan hal-hal remeh begini?

Saat pikirannya berkecamuk, tiba-tiba pintu kamarnya diketuk. "Masuk," katanya datar.

Rangga Pradipta-sekretaris setianya... masuk dengan tablet di tangan dan wajah penuh profesionalisme… sampai akhirnya ia melihat kondisi kamar atasannya. Ranjang yang berantakan. Jas bosnya tergeletak sembarangan. Dasi di kursi. Dan... Rangga menyipitkan matanya.

"Bos," panggilnya nya pelan. "Saya salah masuk kamar… atau-"

"Kamu tidak salah," potong Mahesa, dingin.

"Oh."

Rangga menelan ludahnya. "Apa saya telat bangun?" tanyanya, keheranan. Sebab hal seperti ini tak pernah terjadi pada atasannya.

"Kamu tepat waktu," jawabnya singkat.

Rangga mengangguk. Lalu, rasa ingin tahunya kalah dari rasa takut... meski hanya sedikit. "Bos," katanya hati-hati, "apa… ada tamu semalam?" tambahnya dengan memberanikan diri untuk bertanya sesuatu yang membuatnya penasaran.

Mahesa menutup laptopnya. "Ada," jawabnya datar.

Rangga hampir menjatuhkan tablet. "ADA?" katanya, mengulang perkataan bosnya dengan mata yang terbelalak.

"Dan itu wanita." sambung Mahesa, dingin.

Plak.

Tablet yang tengah dipegang oleh Rangga jatuh tepat setelah bosnya menjawab. Jawaban Mahesa tentu membuat Rangga terdiam membeku. "Bos… Anda dan wanita itu?"

"Rangga Pradipta." panggilnya, tegas.

"Iya, iya, saya hidup, Bos." Ia buru-buru memungut tablet. "Maaf. Refleks."

Lalu ia menatap sekeliling lagi. "Jadi… semalam itu nyata?" tanyanya lagi.

Mahesa mengabaikan pertanyaan itu. "Cari dia!" perintah Mahesa, datar.

Rangga berkedip. "Siapa?" alih-alih menjawab, ia justru balik bertanya.

"Wanita itu."

"Namanya?"

Mahesa terdiam.

Rangga menahan nafas. "Bos?" panggilnya, saat melihat Mahesa sedikit melamun.

"Saya tidak tahu."

Rangga menatapnya seperti menatap panda langka. "Bos… Anda tidur dengan wanita yang namanya aja Anda nggak tahu?"

Sementara itu, Mahesa hanya menatap asistennya dingin. "Masalah?"

"Bukan masalah... tapi ini sejarah," jawab Rangga cepat. Ia terlalu excited sebab hal ini pertama kalinya terjadi pada bosnya.

Mahesa berdiri. "Saya butuh identitasnya. Sekarang!"

Rangga berpikir keras. "Oke, oke. CCTV hotel. Data check-in. Room service."

"Cepat." titah Mahesa yang tak suka bertele-tele.

Rangga berlari keluar, lalu kembali dalam lima menit kemudian dengan ekspresi… aneh.

"Bos."

"Apa?" tanyanya, dingin.

"Wanita itu… nggak terdaftar."

"Apa maksudmu?"

"Dia masuk ke kamar Anda tanpa kartu. Mungkin ikut orang lain. Atau… mungkin salah kamar."

Mahesa terdiam.

Salah kamar?

Lagi-lagi ia teringat wajah galak wanita itu. Cara bicaranya. Cara dia kabur tanpa drama. Dan—

Untuk pertama kalinya, Mahesa Ardhana Wijaya merasakan sesuatu yang mengganggu... semacam ia telah kehilangan kendali.

Sementara di sisi lain kota, Senara Ayu Prameswari duduk di bus dengan jaket menutupi wajahnya. Ia menatap pantulan kaca yang memperlihatkan dirinya dengan rambut acak-acakan, mata panda, dan aura wanita yang baru saja melakukan keputusan terburuknya.

"Senara Ayu Prameswari," gumamnya, dengan memanggil nama lengkapnya sendiri. "Kamu bodoh." katanya dengan mengejek dirinya sendiri.

Lalu Penumpang di sebelahnya menoleh. "Kamu ngomong sama saya?"

"Bukan," jawab Nara cepat. "Sama masa depan saya." tambahnya dengan jawaban yang konyol.

Kini ia menutup wajah dengan kedua tangannya ketika ia kembali mengingat tragedi semalam. Tidur sama orang asing. Bangun di hotel mewah. Dan kabur kayak maling.

"Gila," desisnya.

Tiba-tiba ponselnya bergetar dan membuyarkan lamunannya. Pesan dikirim dari temannya. Dengan cepat, ia langsung membaca pesannya.

Kirana Elsha: Gimana semalam?

Nara langsung mengetik.

Senara Ayu Prameswari: JANGAN TANYA. JANGAN KEPO. RASANYA AKU MAU PINDAH PLANET AJA.

Kirana Elsha: (emot cemberut) Apa yang terjadi?

Nara menatap layar cukup lama. Lalu membalasnya.

Senara Ayu Prameswari: Aku salah kamar.

Kirana Elsha: Terus?

Senara Ayu Prameswari: Terus salah hidup.

Setelah membalas pesan itu, ia pun turun dari bus, lalu masuk ke kafe tempatnya bekerja. Begitu ia membuka pintu, Kirana Elsha sudah berdiri di depannya dengan mata berbinar seperti reporter gosip.

"CERITA!" teriaknya.

“Pelankan suaramu!" Nara menarik sahabatnya.

“Aku masih hidup. Jangan bikin aku mati dua kali.” omelnya.

Kemudian mereka duduk di sudut ruangan.

"Apa dia ganteng?" tanya Kirana dengan ekspresi yang penasaran.

"Banget."

"Kaya?"

"Kayaknya… iya."

"Dingin?"

"Ya. Kayak kulkas seribu pintu." jawabnya, asal.

Pertanyaan demi pertanyaan Kirana lontarkan dengan wajah penasarannya... seolah Nara sedang diinterogasi.

Kemudian Kirana menepuk meja. "FIX CEO!"

Nara melotot. "JANGAN NGACO!" protes Nara, cepat.

Kirana menyeringai. "Nara… di kota ini, pria ganteng, kaya, dingin, nginep di hotel mewah? Itu CEO atau pewaris konglomerat. Nggak ada opsi ketiga."

Nara menelan ludah mendengar ucapan sahabatnya.

"Terus dia gimana?" tanya Kirana lagi.

"Dia… tenang. Terlalu tenang. Kayak semuanya bisa dia atur." jawabnya, terus terang.

Kirana menyipitkan mata. "Dan kamu kabur?"

"Iya." Nara mengangguk cepat.

"Kenapa?"

Nara terdiam. Lalu berkata pelan, "Karena aku bukan dunianya."

Kirana mendengus. "Drama amat. Baru juga semalam." timpalnya, ketus.

"Iya... makanya harus berhenti sekarang." Nara tersenyum pahit.

Setelah Nara menjawabnya, tiba-tiba pintu kafe terbuka. Terlihat jelas... seorang pria bersetelan rapi masuk dengan perawakan tinggi. Aura dingin. Tatapan tajam.

Nara terdiam membeku. Ia merasa seolah jantungnya jatuh ke lantai. Sementara pria itu, ia hanya menatap sekeliling, lalu... mata mereka pun bertemu.

Mahesa Ardhana Wijaya.

Kirana mengikuti arah pandangnya. "Eh… Nara.”

"Jangan," bisik Nara sambil memejamkan matanya.

"Kayaknya… kulkas seribu pintu kamu nyariin tuh," goda Kirana.

Mahesa melangkah mendekati Nara. Setiap langkahnya membuat nafas Nara makin pendek. Hingga akhirnya ia berhenti tepat di depan meja.

"Senara Ayu Prameswari," panggilnya datar.

Nara menoleh dan menatapnya tajam. "Perasaan aku nggak kasih tau namaku," timpalnya, heran.

"Kartu parkirmu," katanya sambil mengeluarkan selembar kertas kecil. "Ini."

Nara terdiam mematung.

"Bisa kita bicara?" tanyanya, sopan.

Nara berdiri. Lalu menatapnya tanpa gentar. "Nggak!" Ia menolaknya mentah-mentah.

Alis Mahesa terangkat tipis. "Ini penting."

"Buat kamu... bukan buat aku." jawabnya, ketus.

Kemudian ia mengambil tasnya. "Lupakan yang terjadi semalam. Anggap semuanya selesai," katanya, enteng.

Mahesa menahan lengannya pada saat Nara hendak pergi, menghindarinya. Dan dengan suara rendah yang membuat semua orang di kafe menoleh, ia berkata. "Kita perlu menikah."

Cafe itu mendadak sunyi beberapa detik. Bersamaan itu, Kirana tersedak kopinya. Sementara itu, Nara menatap Mahesa, lalu tertawa kering.

"Kamu gila."

Bersambung...

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri Cerewet CEO Anti Skandal    Bab 12 > Setelah Klarifikasi

    Mobil berhenti di halaman rumah tepat saat matahari mulai naik lebih tinggi. Udara pagi sudah tak sedingin tadi, tapi suasana di dalam mobil justru terasa… hangat tapi canggung. Kayak habis hujan tapi kaos kaki belum kering.Nara masih duduk. Ia tidak langsung turun. Begitupun dengan Mahesa, ia juga belum mematikan mesin.Hening.Bukan hening yang bikin kikuk. Lebih ke hening yang kayak, 'kita sama-sama capek, tapi nggak mau ngaku.''Aneh ya. Biasanya aku yang pengin cepet-cepet kabur dari orang dingin kayak dia. Sekarang kok malah pengin duduk sebentar lagi?' Nara bermonolog dalam kepalanya.Mahesa akhirnya mematikan mesin. Klik. "Itu… Omku jarang memuji orang," katanya tiba-tiba.Nara melirik. "Oh?""Iya." Mahesa menatap ke depan. "Biasanya kalau dia nggak setuju, dia langsung nyuruh putus," katanya lagi.Nara menegakkan punggung. "Berarti aku lolos tahap… audisi keluarga?" tanyanya."Kurang lebih." Mahesa menjawab singkat.Nara mendengus kecil. "Hebat juga aku. Padahal tadi aku ham

  • Istri Cerewet CEO Anti Skandal    Bab 11 > Klarifikasi Yang Tidak Sederhana

    Pagi Hari... Pagi itu, Nara bangun dengan perasaan yang aneh. Bukan sakit. Bukan malas. Tapi campuran antara gugup, kesal, dan penasaran yang bikin perut rasanya kayak diisi kupu-kupu yang salah masuk kandang.Saat ini ia duduk di tepi ranjang, menatap kosong ke depan. 'Oke, Nara. Tenang. Ini cuma klarifikasi. Bukan sidang skripsi. Bukan juga akad nikah kedua. Harusnya sih aman.' Ia bermonolog dalam lamunannya. Pintu kamar diketuk pelan, membuyarkan lamunannya. "Nara." panggil Mahesa dari luar kamarnya. Nara refleks langsung berdiri. Hampir nyenggol meja rias. "Iya!" jawabnya terlalu cepat.Pintu terbuka. Mahesa berdiri di sana dengan setelan hitam rapi... terlalu rapi untuk di pagi hari. Rambutnya tertata sempurna, ekspresinya datar, seperti biasa. Macam kulkas seribu. "Kita berangkat setengah jam lagi," ucapnya."Oh." Nara menjawab singkat seraya mengangguk. "Lalu?" tanyanya, singkat."Kamu sarap

  • Istri Cerewet CEO Anti Skandal    Bab 10 >Ketika Istri Polos Salah Bicara

    Pagi itu, rumah Mahesa mendadak tidak tenang.Bukan karena alarm kesiangan. Bukan juga karena Nara salah masuk kamar lagi... melainkan itu sudah jadi rutinitas kecil yang mulai dianggap wajar. Tapi karena satu hal yang paling dihindari Mahesa selama ini... media.Nara mondar-mandir di ruang keluarga sambil menggenggam ponsel seperti sedang menunggu vonis. Rambutnya dikuncir tinggi asal-asalan, kaos longgar dan celana training membuatnya tampak seperti mau lari pagi. "Aku nggak bisa," gumamnya.Ia berhenti. Lalu jalan lagi. "Aku beneran nggak bisa."Sedangkan Mahesa berdiri di dekat jendela sambil merapikan jam tangannya dengan gerakan rapi dan tenang. Melihat Mahesa yang tampak begitu tenang itu justru bikin Nara makin panas."Kamu cuma perlu jawab singkat," ujar Mahesa datar. "Jangan jujur berlebihan," tambahnya. "Itu menghina prinsip hidupku," balas Nara cepat."Aku alergi pura-pura," protesnya, tak terima. Mahesa menoleh. Tatapannya menyapu Nara dari ujung rambut sampai kaki...

  • Istri Cerewet CEO Anti Skandal    Bab 9 > Salah fokus

    Pagi hari... Pagi datang dengan suara alarm yang tidak manusiawi."TING—TING—TING—!"Nara mengerang sambil meraba-raba kasur. Tangannya menghantam sesuatu yang keras. "ADUH!"Ia membuka mata setengah. Nara menyadari bahwa itu bukan bantal. Bukan pula guling. Melainkan itu… dada.DADA MANUSIA.Nara menjerit, "AAAAAAAA—!"Mahesa yang sedang setengah sadar refleks langsung duduk. "Apa—!"Kini dua pasang mata saling bertemu dalam jarak yang sangat, sangat tidak wajar. Nara terdiam. Rambutnya berantakan, kaos tidurnya naik sedikit, dan... yang paling fatal adalah saat tangannya masih menempel di dada Mahesa.Waktu seolah berhenti. "KENAPA KAMU DI KAMARKU?!" teriak Nara panik.Mahesa juga panik. Tapi versi tenang. "Ini kamar tamu."Nara menoleh cepat ke sekeliling. Lemari berbeda. Tirai berbeda. Warna sprei berbeda. Seketika ia langsung menutup wajahnya. "YA TUHAN. AKU SALAH KAMAR

  • Istri Cerewet CEO Anti Skandal    Bab 8 > Gengsi Level Dewa

    Begitu pintu mobil tertutup, hujan langsung turun deras, seolah ikut kesal dengan suasana di dalam mobil. Nara duduk menyandar, kedua lengannya menyilang di dada. Bibirnya maju sedikit, dan itu pose khas orang ngambek. Sedangkan Mahesa fokus menyetir. Bahkan terlalu fokus seolah ia ingin menghindari percakapan. Kini waktu terus berjalan. Lima menit. Sepuluh menit. Hingga akhirnya Nara mendesah keras. Desah yang disengaja. Meski begitu Mahesa tetap diam. Dan itu membuat Nara mendesah lebih keras. Lagi-lagi Mahesa tetap diam. "Oke," gumam Nara. "Berarti aku yang mulai." Mahesa melirik sekilas. "Mulai apa?" "Mulai ceramah." "Silakan." Nara menoleh tajam. "Kamu nyebelin, tau nggak?" omelnya. "Baru tau." "Di acara tadi, kamu tuh dingin banget. Kayak kulkas seribu pintu," celetuk Nara. "Itu kelebihan," jawab Mahesa santai. Nara mendengus kesal. "Aku tuh disorot kayak barang diskonan." "Kamu nggak diskon," sahut Mahesa refleks. Nara menoleh pelan. "Hah?" kata

  • Istri Cerewet CEO Anti Skandal    Bab 7 > Acara Keluarga

    Mobil hitam itu melaju mulus meninggalkan gerbang rumah. Di dalam mobil terasa begitu sunyi untuk dua orang yang duduk bersebelahan.Nara duduk tegak, dengan kedua tangannya mencengkeram tas kecil di pangkuan. Dress sederhana warna biru pucat membalut tubuhnya, tidak mewah, tapi rapi. Rambutnya diikat setengah, beberapa helai jatuh membingkai wajahnya yang terlihat tegang. Sementara di sampingnya, Mahesa tampil seperti biasa... jas berwarna gelap, rahang tegas, tatapan lurus ke depan."Kak Mahesa," panggil Nara memecah keheningan, suaranya lebih pelan dari biasanya."Ada apa?" tanyanya, datar."Acaranya… tipe keluarga dekat atau keluarga yang kalau salah ngomong bisa viral?" tanyanya serius.Mahesa melirik sekilas. "Keluarga besar," jawabnya, singkat. "Itu jawaban paling menyeramkan," Nara bergumam pada dirinya sendiri. Setelah beberapa menit, kini mobil berhenti di depan rumah besar berarsitektur klasik. Lampu-la

  • Istri Cerewet CEO Anti Skandal    Bab 6 > Aturan Rumah CEO

    Pagi hari...Mahesa Ardhana Wijaya terbiasa bangun pagi dalam keheningan. Tidak ada suara, tidak ada gerakan berlebihan, tidak ada kejutan. Rutinitasnya rapi seperti jadwal rapat... hingga pagi ini."AAAAAAAA-!"Mahesa yang sedang mengenakan manset jam seketika berhenti.Kemudian teriakan kedua men

  • Istri Cerewet CEO Anti Skandal    Bab 5 > Tinggal Serumah

    Mobil berhenti di depan gerbang besi hitam setinggi dua meter. Nara mendongak cukup lama, dengan mulutnya yang menganga. "Ini… rumah kamu?" tanyanya pelan.Mahesa mengangguk. "Iya." jawabnya, singkat.Nara menoleh ke kiri. Ke kanan. Ke atas. “Aku kira ini hotel. Atau museum. Atau mungkin gedung neg

  • Istri Cerewet CEO Anti Skandal    Bab 4 > Pernikahan Kontrak

    Di kediaman Senara Ayu Prameswari...Saat ini Nara sedang menatap langit-langit kamarnya sejak pagi tadi. Sudah tiga jam. Ia belum mandi, belum makan, belum beraktivitas."Enam bulan," gumamnya sambil menghitung jari. "Cuma enam bulan."Sementara Kirana Elsha tengah duduk di ujung ranjang, sambil

  • Istri Cerewet CEO Anti Skandal    Bab 3 > Lamaran Paling Absurd

    Cafe itu mendadak sunyi. Bukan karena tutup.Tapi karena satu kalimat yang membuat semua pendengarnya terdiam."Kita perlu menikah."Senara Ayu Prameswari menatap Mahesa Ardhana Wijaya seperti menatap orang yang baru saja mengaku alien. "Maaf," katanya pelan tapi tajam. "Aku salah denger... kamu bi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status