MasukDi salah satu kamar mewah...
Mahesa Ardhana Wijaya tidak pernah bangun pagi dengan perasaan… kosong. Ia yang biasanya hidupnya rapi, jadwal ketat, keputusan cepat bahkan emosi terkunci. Namun pagi ini... kamar hotel mewah itu terasa aneh. Kamar itu terlalu sunyi, terlalu berisik di kepalanya. Ia masih menatap pintu yang sudah tertutup sejak wanita cerewet itu pergi. "Kamu juga jangan nyari aku." Kalimat itu masih terngiang. Lalu, Mahesa menoleh ke ranjang dengan seprai kusut, bantal sedikit miring, dan ada satu helai rambut panjang tertinggal, membuat pria itu mengernyitkan dahinya. Mahesa merasa heran... kenapa dia memperhatikan hal-hal remeh begini? Saat pikirannya berkecamuk, tiba-tiba pintu kamarnya diketuk. "Masuk," katanya datar. Rangga Pradipta-sekretaris setianya... masuk dengan tablet di tangan dan wajah penuh profesionalisme… sampai akhirnya ia melihat kondisi kamar atasannya. Ranjang yang berantakan. Jas bosnya tergeletak sembarangan. Dasi di kursi. Dan... Rangga menyipitkan matanya. "Bos," panggilnya nya pelan. "Saya salah masuk kamar… atau-" "Kamu tidak salah," potong Mahesa, dingin. "Oh." Rangga menelan ludahnya. "Apa saya telat bangun?" tanyanya, keheranan. Sebab hal seperti ini tak pernah terjadi pada atasannya. "Kamu tepat waktu," jawabnya singkat. Rangga mengangguk. Lalu, rasa ingin tahunya kalah dari rasa takut... meski hanya sedikit. "Bos," katanya hati-hati, "apa… ada tamu semalam?" tambahnya dengan memberanikan diri untuk bertanya sesuatu yang membuatnya penasaran. Mahesa menutup laptopnya. "Ada," jawabnya datar. Rangga hampir menjatuhkan tablet. "ADA?" katanya, mengulang perkataan bosnya dengan mata yang terbelalak. "Dan itu wanita." sambung Mahesa, dingin. Plak. Tablet yang tengah dipegang oleh Rangga jatuh tepat setelah bosnya menjawab. Jawaban Mahesa tentu membuat Rangga terdiam membeku. "Bos… Anda dan wanita itu?" "Rangga Pradipta." panggilnya, tegas. "Iya, iya, saya hidup, Bos." Ia buru-buru memungut tablet. "Maaf. Refleks." Lalu ia menatap sekeliling lagi. "Jadi… semalam itu nyata?" tanyanya lagi. Mahesa mengabaikan pertanyaan itu. "Cari dia!" perintah Mahesa, datar. Rangga berkedip. "Siapa?" alih-alih menjawab, ia justru balik bertanya. "Wanita itu." "Namanya?" Mahesa terdiam. Rangga menahan nafas. "Bos?" panggilnya, saat melihat Mahesa sedikit melamun. "Saya tidak tahu." Rangga menatapnya seperti menatap panda langka. "Bos… Anda tidur dengan wanita yang namanya aja Anda nggak tahu?" Sementara itu, Mahesa hanya menatap asistennya dingin. "Masalah?" "Bukan masalah... tapi ini sejarah," jawab Rangga cepat. Ia terlalu excited sebab hal ini pertama kalinya terjadi pada bosnya. Mahesa berdiri. "Saya butuh identitasnya. Sekarang!" Rangga berpikir keras. "Oke, oke. CCTV hotel. Data check-in. Room service." "Cepat." titah Mahesa yang tak suka bertele-tele. Rangga berlari keluar, lalu kembali dalam lima menit kemudian dengan ekspresi… aneh. "Bos." "Apa?" tanyanya, dingin. "Wanita itu… nggak terdaftar." "Apa maksudmu?" "Dia masuk ke kamar Anda tanpa kartu. Mungkin ikut orang lain. Atau… mungkin salah kamar." Mahesa terdiam. Salah kamar? Lagi-lagi ia teringat wajah galak wanita itu. Cara bicaranya. Cara dia kabur tanpa drama. Dan— Untuk pertama kalinya, Mahesa Ardhana Wijaya merasakan sesuatu yang mengganggu... semacam ia telah kehilangan kendali. Sementara di sisi lain kota, Senara Ayu Prameswari duduk di bus dengan jaket menutupi wajahnya. Ia menatap pantulan kaca yang memperlihatkan dirinya dengan rambut acak-acakan, mata panda, dan aura wanita yang baru saja melakukan keputusan terburuknya. "Senara Ayu Prameswari," gumamnya, dengan memanggil nama lengkapnya sendiri. "Kamu bodoh." katanya dengan mengejek dirinya sendiri. Lalu Penumpang di sebelahnya menoleh. "Kamu ngomong sama saya?" "Bukan," jawab Nara cepat. "Sama masa depan saya." tambahnya dengan jawaban yang konyol. Kini ia menutup wajah dengan kedua tangannya ketika ia kembali mengingat tragedi semalam. Tidur sama orang asing. Bangun di hotel mewah. Dan kabur kayak maling. "Gila," desisnya. Tiba-tiba ponselnya bergetar dan membuyarkan lamunannya. Pesan dikirim dari temannya. Dengan cepat, ia langsung membaca pesannya. Kirana Elsha: Gimana semalam? Nara langsung mengetik. Senara Ayu Prameswari: JANGAN TANYA. JANGAN KEPO. RASANYA AKU MAU PINDAH PLANET AJA. Kirana Elsha: (emot cemberut) Apa yang terjadi? Nara menatap layar cukup lama. Lalu membalasnya. Senara Ayu Prameswari: Aku salah kamar. Kirana Elsha: Terus? Senara Ayu Prameswari: Terus salah hidup. Setelah membalas pesan itu, ia pun turun dari bus, lalu masuk ke kafe tempatnya bekerja. Begitu ia membuka pintu, Kirana Elsha sudah berdiri di depannya dengan mata berbinar seperti reporter gosip. "CERITA!" teriaknya. “Pelankan suaramu!" Nara menarik sahabatnya. “Aku masih hidup. Jangan bikin aku mati dua kali.” omelnya. Kemudian mereka duduk di sudut ruangan. "Apa dia ganteng?" tanya Kirana dengan ekspresi yang penasaran. "Banget." "Kaya?" "Kayaknya… iya." "Dingin?" "Ya. Kayak kulkas seribu pintu." jawabnya, asal. Pertanyaan demi pertanyaan Kirana lontarkan dengan wajah penasarannya... seolah Nara sedang diinterogasi. Kemudian Kirana menepuk meja. "FIX CEO!" Nara melotot. "JANGAN NGACO!" protes Nara, cepat. Kirana menyeringai. "Nara… di kota ini, pria ganteng, kaya, dingin, nginep di hotel mewah? Itu CEO atau pewaris konglomerat. Nggak ada opsi ketiga." Nara menelan ludah mendengar ucapan sahabatnya. "Terus dia gimana?" tanya Kirana lagi. "Dia… tenang. Terlalu tenang. Kayak semuanya bisa dia atur." jawabnya, terus terang. Kirana menyipitkan mata. "Dan kamu kabur?" "Iya." Nara mengangguk cepat. "Kenapa?" Nara terdiam. Lalu berkata pelan, "Karena aku bukan dunianya." Kirana mendengus. "Drama amat. Baru juga semalam." timpalnya, ketus. "Iya... makanya harus berhenti sekarang." Nara tersenyum pahit. Setelah Nara menjawabnya, tiba-tiba pintu kafe terbuka. Terlihat jelas... seorang pria bersetelan rapi masuk dengan perawakan tinggi. Aura dingin. Tatapan tajam. Nara terdiam membeku. Ia merasa seolah jantungnya jatuh ke lantai. Sementara pria itu, ia hanya menatap sekeliling, lalu... mata mereka pun bertemu. Mahesa Ardhana Wijaya. Kirana mengikuti arah pandangnya. "Eh… Nara.” "Jangan," bisik Nara sambil memejamkan matanya. "Kayaknya… kulkas seribu pintu kamu nyariin tuh," goda Kirana. Mahesa melangkah mendekati Nara. Setiap langkahnya membuat nafas Nara makin pendek. Hingga akhirnya ia berhenti tepat di depan meja. "Senara Ayu Prameswari," panggilnya datar. Nara menoleh dan menatapnya tajam. "Perasaan aku nggak kasih tau namaku," timpalnya, heran. "Kartu parkirmu," katanya sambil mengeluarkan selembar kertas kecil. "Ini." Nara terdiam mematung. "Bisa kita bicara?" tanyanya, sopan. Nara berdiri. Lalu menatapnya tanpa gentar. "Nggak!" Ia menolaknya mentah-mentah. Alis Mahesa terangkat tipis. "Ini penting." "Buat kamu... bukan buat aku." jawabnya, ketus. Kemudian ia mengambil tasnya. "Lupakan yang terjadi semalam. Anggap semuanya selesai," katanya, enteng. Mahesa menahan lengannya pada saat Nara hendak pergi, menghindarinya. Dan dengan suara rendah yang membuat semua orang di kafe menoleh, ia berkata. "Kita perlu menikah." Cafe itu mendadak sunyi beberapa detik. Bersamaan itu, Kirana tersedak kopinya. Sementara itu, Nara menatap Mahesa, lalu tertawa kering. "Kamu gila." Bersambung...Pagi hari...Mahesa Ardhana Wijaya terbiasa bangun pagi dalam keheningan. Tidak ada suara, tidak ada gerakan berlebihan, tidak ada kejutan. Rutinitasnya rapi seperti jadwal rapat... hingga pagi ini."AAAAAAAA-!"Mahesa yang sedang mengenakan manset jam seketika berhenti.Kemudian teriakan kedua menyusul."TOLOOOONG!"Mahesa menghela napas panjang. Ia berjalan cepat menuju sumber suara. Hingga ia berhenti tepat di depan pintu kamar Nara yang terbuka setengah. Di dalamnya, terlihat Senara Ayu Prameswari sedang berdiri di depan lemari dengan ekspresi panik, dan rambutnya masih setengah kering."Apa lagi?" tanya Mahesa, datar.Nara menunjuk lemari. "Bajuku hilang!""Kamu bercanda.""Aku nggak bercanda! Jelas-jelas aku taruh di sini semalam!" katanya, tegas.Mahesa akhirnya melirik. Lemari itu penuh... tapi penuh dengan pakaian perempuan yang… jelas bukan gaya Nara. "Ini bajumu,” katanya.Nara menarik satu gaun satin tipis, menatapnya seperti menatap ular. "Ini bukan baju. Tapi ini niat ja
Mobil berhenti di depan gerbang besi hitam setinggi dua meter. Nara mendongak cukup lama, dengan mulutnya yang menganga. "Ini… rumah kamu?" tanyanya pelan.Mahesa mengangguk. "Iya." jawabnya, singkat.Nara menoleh ke kiri. Ke kanan. Ke atas. “Aku kira ini hotel. Atau museum. Atau mungkin gedung negara," celetuk Nara polos.Mahesa hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum tipis. Kemudian gerbang terbuka perlahan. Mobil pun masuk.Taman di rumah itu benar-benar luas membentang dengan rumput yang rapi, lampu taman menyala hangat, dan air mancur kecil di tengah.Nara menelan ludah. "Aku salah sepatu. Harusnya pakai sepatu wisata." gumamnya.Begitu pintu mobil dibuka, tiga orang pelayan berdiri rapi, menyambut kedatangan sang tuan rumah."Selamat datang, Tuan. Selamat datang, Nyonya."Nara reflek mundur setengah langkah. "Eh... sebentar. Jangan manggil aku Nyonya," protes Nara.Mendengar itu, para pelayan saling pandang.Mahesa turun dari mobil. "Panggil dia Nyonya Wijaya." perintah M
Di kediaman Senara Ayu Prameswari...Saat ini Nara sedang menatap langit-langit kamarnya sejak pagi tadi. Sudah tiga jam. Ia belum mandi, belum makan, belum beraktivitas."Enam bulan," gumamnya sambil menghitung jari. "Cuma enam bulan."Sementara Kirana Elsha tengah duduk di ujung ranjang, sambil ngemil keripik dengan mata yang menatap ke arah Nara seperti sedang menonton drama favorit. "Nara," panggilnya santai, "aku cuma mau pastiin… kamu sadar 'kan yang mau kamu nikahin itu CEO?""Aku sadar," jawab Nara lemah."CEO terkaya itu?""Iya." jawabnya, singkat."Dingin?""Iya.""Ganteng?""IYA, AKU TAU." jawabnya, sedikit berteriak.Kirana tersenyum licik. "Terus kenapa kamu kelihatan kayak mau naik tiang listrik?" ledek Kirana."Karena hidupku normal," Nara mengerang. "Terus tiba-tiba disodorin kontrak nikah." omelnya sambil duduk, dan meraih map tipis di meja. Map itu berisi perjanjian pernikahan."Coba baca ulang," kata Kirana.Nara membuka halaman pertama:1. Pernikahan berlangsung s
Cafe itu mendadak sunyi. Bukan karena tutup.Tapi karena satu kalimat yang membuat semua pendengarnya terdiam."Kita perlu menikah."Senara Ayu Prameswari menatap Mahesa Ardhana Wijaya seperti menatap orang yang baru saja mengaku alien. "Maaf," katanya pelan tapi tajam. "Aku salah denger... kamu bilang apa... menikah?" tanyanya lagi untuk memastikan. Ia berharap dirinya salah mendengar.Sayangnya, Mahesa mengangguk tanda kalau ucapannya itu serius. "Iya." jawabnya, tegas.Kirana Elsha, yang sedari tadi duduk manis, tiba-tiba berdiri. "Sebentar. Sebentar. Ini aku yang ngopi kebanyakan, atau dunia emang lagi nggak waras?" sambung Kirana dengan wajah yang terkejut.Mahesa menoleh. "Anda siapa?""Aku sahabat kecilnya Nara,” jawab Kirana cepat. "Sekaligus saksi hidup dia kalau Nara nggak pernah kenal kamu sebelum… malam itu," lanjut Kirana, dingin.Nara langsung menendang kaki Kirana di bawah meja. "DIAM."Mahesa kembali fokus ke Nara. "Saya serius."Nara menyilangkan tangan. "Kamu gila."
Di salah satu kamar mewah...Mahesa Ardhana Wijaya tidak pernah bangun pagi dengan perasaan… kosong. Ia yang biasanya hidupnya rapi, jadwal ketat, keputusan cepat bahkan emosi terkunci.Namun pagi ini... kamar hotel mewah itu terasa aneh. Kamar itu terlalu sunyi, terlalu berisik di kepalanya. Ia masih menatap pintu yang sudah tertutup sejak wanita cerewet itu pergi."Kamu juga jangan nyari aku."Kalimat itu masih terngiang.Lalu, Mahesa menoleh ke ranjang dengan seprai kusut, bantal sedikit miring, dan ada satu helai rambut panjang tertinggal, membuat pria itu mengernyitkan dahinya.Mahesa merasa heran... kenapa dia memperhatikan hal-hal remeh begini? Saat pikirannya berkecamuk, tiba-tiba pintu kamarnya diketuk. "Masuk," katanya datar.Rangga Pradipta-sekretaris setianya... masuk dengan tablet di tangan dan wajah penuh profesionalisme… sampai akhirnya ia melihat kondisi kamar atasannya. Ranjang yang berantakan. Jas bosnya tergeletak sembarangan. Dasi di kursi. Dan... Rangga menyipit
Di salah satu kamar hotel mewah dengan lampu kristal, cahaya itu menyala terlalu terang untuk kepala Senara Ayu Prameswari yang berdenyut seperti habis dipukul palu. Gaun hitamnya terasa ketat, sepatu haknya entah ke mana, dan yang paling parah... pintu kamar hotel ini tampak terasa asing."Ini… kamar aku, kan?" gumam Nara sambil menyender ke pintu, matanya menatap ke arah ranjang besar dengan seprai putih rapi.Kemudian ia berjalan sempoyongan, melempar tas ke sofa, lalu menjatuhkan diri ke kasur. Wangi maskulin di kamar itu... menyusup ke hidungnya."Hmm… hotel mahal emang beda ya. Sprei nya bau duit," katanya polos.Di saat yang sama, pintu kamar kembali terbuka. Seorang pria masuk, dengan perawakan tinggi, bahu lebar dan setelan jas hitam yang sudah dilepas dasinya.Rambut pria itu sedikit berantakan. Tatapannya dingin tapi kosong, seperti orang yang kepalanya terlalu penuh untuk memproses dunia.Mahesa Ardhana Wijaya.Ia berhenti tepat di ambang pintu, menatap pemandangan di depa







