MasukMobil berhenti di depan gerbang besi hitam setinggi dua meter. Nara mendongak cukup lama, dengan mulutnya yang menganga. "Ini… rumah kamu?" tanyanya pelan.
Mahesa mengangguk. "Iya." jawabnya, singkat. Nara menoleh ke kiri. Ke kanan. Ke atas. “Aku kira ini hotel. Atau museum. Atau mungkin gedung negara," celetuk Nara polos. Mahesa hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum tipis. Kemudian gerbang terbuka perlahan. Mobil pun masuk. Taman di rumah itu benar-benar luas membentang dengan rumput yang rapi, lampu taman menyala hangat, dan air mancur kecil di tengah. Nara menelan ludah. "Aku salah sepatu. Harusnya pakai sepatu wisata." gumamnya. Begitu pintu mobil dibuka, tiga orang pelayan berdiri rapi, menyambut kedatangan sang tuan rumah. "Selamat datang, Tuan. Selamat datang, Nyonya." Nara reflek mundur setengah langkah. "Eh... sebentar. Jangan manggil aku Nyonya," protes Nara. Mendengar itu, para pelayan saling pandang. Mahesa turun dari mobil. "Panggil dia Nyonya Wijaya." perintah Mahesa pada para pelayan. Nara langsung menoleh. "Hei." ucapnya pada Mahesa. Mahesa menatapnya. "Itu formal," katanya, datar. "Aku alergi formal," balas Nara cepat. "Bikin gatal aja," celetuk Nara sambil bergidik. Pelayan perempuan yang paling muda menahan senyum. Sedangkan Mahesa, ia hanya menghela nafas. "Baik. Panggil dia… Nona Nara." Nara mengacungkan jempol. "Nah. Itu baru manusiawi." balasnya, sumringah. Ketika mereka memasuki rumah, tiba-tiba Nara menghentikan langkahnya lagi. Kedua bola matanya terbelalak kala melihat langit-langit tinggi, tangga marmer, dan lampu gantung kristal. "Ini rumah atau istana?" bisiknya, terkesima. "Rumah," jawab Mahesa, datar. "Rumahmu kebanyakan kamar, kayak hotel mewah," timpalnya polos. Lalu pelayan membantu Nara dengan membawa tas yang ukurannya kecil dan terlihat menyedihkan di antara kemewahan itu. "Kamarmu di lantai dua. Di seberang kamar saya," katanya, dingin. Nara berhenti mendadak. "Sebentar." Mahesa menoleh, reflek. "Kenapa kamarku berada di seberang kamarmu, Tuan Wijaya?" tanya Nara penuh selidik. "Supaya dekat." jawabnya singkat. "DEKAT BUAT APA?" "Praktis." "Praktis... emang cemilan. Praktis maksudmu itu buat bikin aku jantungan." omel Nara. Mahesa berpikir sebentar. "Berhenti mengoceh. Pintu bisa dikunci. Kamu tidak perlu khawatir," kata Mahesa balik mengomeli Nara. Nara mengangguk cepat. "Bagus. Setidaknya aku aman dari macan," celetuk Nara, pelan. "Kamu mengatakan sesuatu?" tanya Mahesa ketika mendengar celetukan Nara. "Gak ada," jawab Nara, cepat sambil melanjutkan langkahnya. Kini mereka berjalan menaiki tangga. Pelayan mulai membuka pintu kamar Nara. Dan kamar itu terlihat luas dengan ranjang yang besar, lemari rapi, serta jendela yang menghadap ke arah taman. Nara berdiri di tengah kamar, menatap kosong. "Kak Mahesa," panggilnya pelan. "Ya?" "Kalau aku hilang di rumah ini, tolong cariin ya," Mahesa mengangguk sambil menahan senyum. "Baik," jawabnya, lembut. Kemudian pelayan menaruh kopernya. "Jika Nona Nara butuh apa pun—" "Aku butuh peta, atau kompas," potong Nara. Pelayan tertawa kecil, lalu cepat menutup mulut. Mahesa menatap Nara. "Makan malam lima belas menit lagi." “Aku makan di kamar," jawab Nara cepat. "Kita akan makan bersama di ruang makan." "Aku baru pindah, masih jet lag… padahal nggak ke mana-mana." Mahesa menatapnya datar. "Lima belas menit, kamu harus ada di ruang makan!" titahnya. Nara mendengus kesal. "Bossy." celetuknya. Namun saat Mahesa keluar, Nara menghela nafas panjang dan menjatuhkan diri ke kasur king size. "Oke, Senara Ayu Prameswari,” gumamnya. "Kamu resmi tinggal sama CEO kulkas itu." lanjutnya, nyeletuk. Lalu ia menatap langit-langit. “Enam bulan. Bertahan hidup. Sepertinya ini akan lebih sulit dari dugaanku,” katanya pelan sambil memejamkan mata. *** Di ruang makan, kini terasa terlalu sunyi... Saat ini Nara duduk tegak sambil menatap meja panjang yang terlalu banyak alat makan. Kemudian ia melirik ke arah Mahesa. "Yang mana sendok nasi?" tanyanya, dengan ekspresi bingung. Mahesa menunjuk. "Itu sendok sup." "Yang kecil?" "Itu sendok dessert." Nara menghela nafas. "Aku makan pakai tangan aja boleh?" Mahesa menatapnya. "Tidak." katanya, tegas. Nara mengambil sumpit. "Nah... ini aman." Nara menatap piring-piring yang berisi makanan. "Ini apa?" tanyanya. "Ikan," jawab Mahesa. "Kenapa kecil?" "Fine dining." "Kenapa rasanya… aneh?" Mahesa mengernyit. "Aneh?" "Iya, aneh kayak Tuan Wijaya." "Kamu memanggilku apa? Aneh?" Mahesa sedikit kesal. "Ya aneh, habisnya kita cuma makan biasa tapi menu makanan di sini ribet banget kayak mau pesta. Bikin pening." omel Nara. Pelayan kembali menahan senyum. Saat ini Mahesa mencoba fokus makan, tapi suara Nara tak berhenti. "Rumah kamu super gede, bersih banget, tapi sayang rasanya sepi banget." "Biasakan." "Aku biasa tinggal di kosan. Rumah ini… serem." "Serem?" "Kalau aku teriak, siapa yang denger?" Mahesa menatapnya. "Saya." "Itu nggak bikin aku tenang." Kalimat itu menggantung. Untuk pertama kalinya Mahesa sadar, ketenangan rumahnya mulai terganggu. Dan anehnya… itu tidak sepenuhnya buruk. Setelah makan, Nara berdiri. "Aku mau mandi." "Handuk ada di kamar." "Kalau aku salah pintu kamar kamu gimana?" "Tidak mungkin." *** Beberapa menit kemudian... "AAAAAAAA!" Mahesa berdiri seketika. "Kenapa?!" "Aku kejebak!" "Di mana?" "KAMAR MANDI!" teriaknya, panik. Mahesa masuk cepat. "Apa yang kamu lakukan?" "Pintunya macet!" "Tenang. Saya akan panggil pelayan." "JANGAN!" "Kenapa?" "MALU!" Mahesa menekan tombol darurat. Pintu terbuka. Setelah itu Nara keluar dengan wajah merah padam. "Aku benci rumah kamu." celetuk Nara, kesal. Mahesa menatapnya lama. "Kamu baik-baik saja?" Nara melotot. "Menurutmu?" katanya, ketus. Ia masuk kamar dan menutup pintu keras. Di balik pintu, Nara bersandar. “Tenang, ini cuma kontrak,” bisiknya. Namun di seberang pintu, Mahesa berdiri diam. Enam bulan? Apa itu cukup? Bersambung…Pagi hari...Mahesa Ardhana Wijaya terbiasa bangun pagi dalam keheningan. Tidak ada suara, tidak ada gerakan berlebihan, tidak ada kejutan. Rutinitasnya rapi seperti jadwal rapat... hingga pagi ini."AAAAAAAA-!"Mahesa yang sedang mengenakan manset jam seketika berhenti.Kemudian teriakan kedua menyusul."TOLOOOONG!"Mahesa menghela napas panjang. Ia berjalan cepat menuju sumber suara. Hingga ia berhenti tepat di depan pintu kamar Nara yang terbuka setengah. Di dalamnya, terlihat Senara Ayu Prameswari sedang berdiri di depan lemari dengan ekspresi panik, dan rambutnya masih setengah kering."Apa lagi?" tanya Mahesa, datar.Nara menunjuk lemari. "Bajuku hilang!""Kamu bercanda.""Aku nggak bercanda! Jelas-jelas aku taruh di sini semalam!" katanya, tegas.Mahesa akhirnya melirik. Lemari itu penuh... tapi penuh dengan pakaian perempuan yang… jelas bukan gaya Nara. "Ini bajumu,” katanya.Nara menarik satu gaun satin tipis, menatapnya seperti menatap ular. "Ini bukan baju. Tapi ini niat ja
Mobil berhenti di depan gerbang besi hitam setinggi dua meter. Nara mendongak cukup lama, dengan mulutnya yang menganga. "Ini… rumah kamu?" tanyanya pelan.Mahesa mengangguk. "Iya." jawabnya, singkat.Nara menoleh ke kiri. Ke kanan. Ke atas. “Aku kira ini hotel. Atau museum. Atau mungkin gedung negara," celetuk Nara polos.Mahesa hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum tipis. Kemudian gerbang terbuka perlahan. Mobil pun masuk.Taman di rumah itu benar-benar luas membentang dengan rumput yang rapi, lampu taman menyala hangat, dan air mancur kecil di tengah.Nara menelan ludah. "Aku salah sepatu. Harusnya pakai sepatu wisata." gumamnya.Begitu pintu mobil dibuka, tiga orang pelayan berdiri rapi, menyambut kedatangan sang tuan rumah."Selamat datang, Tuan. Selamat datang, Nyonya."Nara reflek mundur setengah langkah. "Eh... sebentar. Jangan manggil aku Nyonya," protes Nara.Mendengar itu, para pelayan saling pandang.Mahesa turun dari mobil. "Panggil dia Nyonya Wijaya." perintah M
Di kediaman Senara Ayu Prameswari...Saat ini Nara sedang menatap langit-langit kamarnya sejak pagi tadi. Sudah tiga jam. Ia belum mandi, belum makan, belum beraktivitas."Enam bulan," gumamnya sambil menghitung jari. "Cuma enam bulan."Sementara Kirana Elsha tengah duduk di ujung ranjang, sambil ngemil keripik dengan mata yang menatap ke arah Nara seperti sedang menonton drama favorit. "Nara," panggilnya santai, "aku cuma mau pastiin… kamu sadar 'kan yang mau kamu nikahin itu CEO?""Aku sadar," jawab Nara lemah."CEO terkaya itu?""Iya." jawabnya, singkat."Dingin?""Iya.""Ganteng?""IYA, AKU TAU." jawabnya, sedikit berteriak.Kirana tersenyum licik. "Terus kenapa kamu kelihatan kayak mau naik tiang listrik?" ledek Kirana."Karena hidupku normal," Nara mengerang. "Terus tiba-tiba disodorin kontrak nikah." omelnya sambil duduk, dan meraih map tipis di meja. Map itu berisi perjanjian pernikahan."Coba baca ulang," kata Kirana.Nara membuka halaman pertama:1. Pernikahan berlangsung s
Cafe itu mendadak sunyi. Bukan karena tutup.Tapi karena satu kalimat yang membuat semua pendengarnya terdiam."Kita perlu menikah."Senara Ayu Prameswari menatap Mahesa Ardhana Wijaya seperti menatap orang yang baru saja mengaku alien. "Maaf," katanya pelan tapi tajam. "Aku salah denger... kamu bilang apa... menikah?" tanyanya lagi untuk memastikan. Ia berharap dirinya salah mendengar.Sayangnya, Mahesa mengangguk tanda kalau ucapannya itu serius. "Iya." jawabnya, tegas.Kirana Elsha, yang sedari tadi duduk manis, tiba-tiba berdiri. "Sebentar. Sebentar. Ini aku yang ngopi kebanyakan, atau dunia emang lagi nggak waras?" sambung Kirana dengan wajah yang terkejut.Mahesa menoleh. "Anda siapa?""Aku sahabat kecilnya Nara,” jawab Kirana cepat. "Sekaligus saksi hidup dia kalau Nara nggak pernah kenal kamu sebelum… malam itu," lanjut Kirana, dingin.Nara langsung menendang kaki Kirana di bawah meja. "DIAM."Mahesa kembali fokus ke Nara. "Saya serius."Nara menyilangkan tangan. "Kamu gila."
Di salah satu kamar mewah...Mahesa Ardhana Wijaya tidak pernah bangun pagi dengan perasaan… kosong. Ia yang biasanya hidupnya rapi, jadwal ketat, keputusan cepat bahkan emosi terkunci.Namun pagi ini... kamar hotel mewah itu terasa aneh. Kamar itu terlalu sunyi, terlalu berisik di kepalanya. Ia masih menatap pintu yang sudah tertutup sejak wanita cerewet itu pergi."Kamu juga jangan nyari aku."Kalimat itu masih terngiang.Lalu, Mahesa menoleh ke ranjang dengan seprai kusut, bantal sedikit miring, dan ada satu helai rambut panjang tertinggal, membuat pria itu mengernyitkan dahinya.Mahesa merasa heran... kenapa dia memperhatikan hal-hal remeh begini? Saat pikirannya berkecamuk, tiba-tiba pintu kamarnya diketuk. "Masuk," katanya datar.Rangga Pradipta-sekretaris setianya... masuk dengan tablet di tangan dan wajah penuh profesionalisme… sampai akhirnya ia melihat kondisi kamar atasannya. Ranjang yang berantakan. Jas bosnya tergeletak sembarangan. Dasi di kursi. Dan... Rangga menyipit
Di salah satu kamar hotel mewah dengan lampu kristal, cahaya itu menyala terlalu terang untuk kepala Senara Ayu Prameswari yang berdenyut seperti habis dipukul palu. Gaun hitamnya terasa ketat, sepatu haknya entah ke mana, dan yang paling parah... pintu kamar hotel ini tampak terasa asing."Ini… kamar aku, kan?" gumam Nara sambil menyender ke pintu, matanya menatap ke arah ranjang besar dengan seprai putih rapi.Kemudian ia berjalan sempoyongan, melempar tas ke sofa, lalu menjatuhkan diri ke kasur. Wangi maskulin di kamar itu... menyusup ke hidungnya."Hmm… hotel mahal emang beda ya. Sprei nya bau duit," katanya polos.Di saat yang sama, pintu kamar kembali terbuka. Seorang pria masuk, dengan perawakan tinggi, bahu lebar dan setelan jas hitam yang sudah dilepas dasinya.Rambut pria itu sedikit berantakan. Tatapannya dingin tapi kosong, seperti orang yang kepalanya terlalu penuh untuk memproses dunia.Mahesa Ardhana Wijaya.Ia berhenti tepat di ambang pintu, menatap pemandangan di depa







