Beranda / Romansa / Istri Cerewet CEO Anti Skandal / Bab 6 > Aturan Rumah CEO

Share

Bab 6 > Aturan Rumah CEO

Penulis: Li Pena
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-27 12:29:41

Pagi hari...

Mahesa Ardhana Wijaya terbiasa bangun pagi dalam keheningan. Tidak ada suara, tidak ada gerakan berlebihan, tidak ada kejutan. Rutinitasnya rapi seperti jadwal rapat... hingga pagi ini.

"AAAAAAAA-!"

Mahesa yang sedang mengenakan manset jam seketika berhenti.

Kemudian teriakan kedua menyusul.

"TOLOOOONG!"

Mahesa menghela napas panjang. Ia berjalan cepat menuju sumber suara. Hingga ia berhenti tepat di depan pintu kamar Nara yang terbuka setengah. Di dalamnya, terlihat Senara Ayu Prameswari sedang berdiri di depan lemari dengan ekspresi panik, dan rambutnya masih setengah kering.

"Apa lagi?" tanya Mahesa, datar.

Nara menunjuk lemari. "Bajuku hilang!"

"Kamu bercanda."

"Aku nggak bercanda! Jelas-jelas aku taruh di sini semalam!" katanya, tegas.

Mahesa akhirnya melirik. Lemari itu penuh... tapi penuh dengan pakaian perempuan yang… jelas bukan gaya Nara. "Ini bajumu,” katanya.

Nara menarik satu gaun satin tipis, menatapnya seperti menatap ular. "Ini bukan baju. Tapi ini niat jahat."

"Itu gaun, Nara."

"Tidak. Ini pakaian perangkap."

Mahesa mengusap pelipisnya. "Pelayan sudah menyiapkan pakaian sementara untukmu.” katanya dengan emosi yang tertahan.

"SEMENTARA?" ulangnya dengan penuh penekanan.

Lalu Nara mengangkat gaun itu tinggi-tinggi. "Ini kalau aku pakai, tidak cocok untuk sarapan, tapi ini cocok untuk undangan skandal!" celetuknya, pedas.

"Kamu tidak perlu memakainya." timpal Mahesa, datar.

"Syukurlah." Nara menghela napas lega. "Terus aku pakai apa?"

Mahesa membuka lemari sebelah, menarik kaus putih polos dan celana training abu-abu. "Ini.” ucapnya sambil menunjukkan pakaian yang ia pilihkan.

Nara menatap pakaian itu. "Ini baju kamu?" tanyanya sambil menatap mata Mahesa.

"Ya." jawabnya, singkat.

"BESAR." protes Nara.

"Kamu bisa mengikatnya." celetuk Mahesa yang sudah terlanjur kesal.

Nara memandang Mahesa dari ujung rambut sampai ujung kaki. "Kamu nyuruh aku pakai baju kamu?"

“Itu solusi tercepat.”

Nara menimbang sebentar, lalu menyeringai. "Baik. Tapi kalau aku kelihatan kayak anak hilang, itu salah kamu."

Sepuluh menit kemudian, Nara keluar kamar. Kaos Mahesa kebesaran di tubuh Nara sampai menutupi paha, lengannya digulung asal. Rambutnya dikuncir berantakan.

Mahesa menoleh dan berhenti sepersekian detik lebih lama dari biasanya.

"Kenapa?" tanya Nara curiga.

"Tidak apa-apa."

"Bohong. Tatapan kamu tadi beda." katanya, bersikukuh.

"Tidak." elak Mahesa.

"Pembohong. Tadi ekspresimu kaget... kamu kaget kalau aku kelihatan imut kan?" tanyanya dengan penuh percaya diri.

Mahesa berdehem. "Kita sarapan," ajaknya mengalihkan pembicaraan.

Setibanya di sana... ruang makan pagi itu berubah suasana. Kini Nara duduk bersila di kursi sambil mengaduk bubur dengan ekspresi serius.

"Ini bubur kenapa nggak dikasih kecap?" protesnya.

"Bubur ini cocoknya dimakan polos."

"Itu dosa."

Pelayan menahan senyum. Mahesa memberi isyarat kecil. "Tambahkan kecap." titahnya pada pelayan.

Wajah Nara langsung berseri. "NAH. Ini baru namanya CEO baik." katanya, sedikit memuji.

Berbeda dengan Mahesa, pria dingin itu menatap Nara dengan tatapan serius. "Setelah ini, kita perlu membahas aturan tinggal serumah," ujarnya, datar.

Refleks Nara mengangkat kepala. "Peraturan? Aku alergi aturan."

"Dengarkan saja."

Mahesa berdiri, suaranya tenang tapi tegas.

"Pertama... tidak ada teriakan di pagi hari."

"Itu reaksi alami." protes Nara.

Mahesa tidak menanggapi protesnya. Ia melanjutkan perkataannya. "Kedua... berlaku untuk kamar masing-masing. Tidak boleh masuk tanpa izin."

"Sepakat." Kali ini Nara setuju.

"Ketiga... makan bersama jika ada jadwal resmi."

"Kalau nggak resmi?"

"Bebas."

Nara mengangguk puas. "Keempat?"

"Keempat..." Mahesa menatapnya lurus. "Jaga jarak."

Nara menatap balik, lalu tertawa kecil. "Tenang... aku bukan tipe gadis yang suka nempel, kayak ular keket."

Mahesa tidak membalas. Entah kenapa, ia merasa aturan itu akan diuji cepat atau lambat.

***

Siang itu, Nara menjelajah rumah. Bukan berjalan santai, melainkan menghitung langkah, membuka pintu, dan beberapa kali nyasar kembali ke tangga yang sama.

"Ya Tuhan... aku butuh peta," gumamnya.

Di sudut lorong, ia melihat pintu terbuka. Ruang kerja Mahesa. "Wah," bisiknya dengan mata terbelalak. "Sarang CEO." celetuknya dengan mata yang terkesima.

Kemudian ia masuk dengan langkah yang pelan. Ruangan itu terdapat dinding kaca, rak buku tinggi, meja rapi. Dan Tanpa ragu, Nara mendekat ke meja, melihat foto kecil terbalik, lalu membaliknya.

Foto itu menampilkan anak laki-laki berwajah datar... Mahesa versi kecil. "Lucu juga," gumamnya sambil tersenyum kecil.

"Jangan sentuh barangku!" teriak Mahesa pada saat Nara menyentuh barang-barangnya.

Nara melonjak. "ASTAGA!" Ia memegang dadanya.

Mahesa berdiri di ambang pintu. Jasnya dilepas, lengan kemeja tergulung.

"Maaf! Aku nyasar!" Nara cepat-cepat meletakkan foto itu.

"Keluar!" titah Mahesa, mengusir istri kontraknya.

"Oke. Perlu kamu tahu, rumahmu ini seperti jebakan batman," timpal Nara sambil berbalik.

Namun kakinya tersangkut karpet. Tubuhnya oleng... dan refleks, Mahesa meraih tubuh mungil itu. Sehingga Nara menabrak dada bidang Mahesa.

Seketika ruang kerja itu mendadak hening. Kini jarak mereka terlalu dekat. Sehingga aroma sabun yang sama dengan malam itu membuat tubuh Nara menegang.

"Ma-"

"Jangan bergerak," kata Mahesa cepat.

"Kenapa?"

"Kalau bergerak, kamu akan jatuh."

"Kalau nggak bergerak, aku deg-degan," balasnya, jujur.

Mahesa terdiam beberapa detik. Lalu ia melepaskan pegangan. Nara mundur satu langkah, merapikan kaos kebesaran itu dengan wajah merah. "Maaf," ucapnya pelan.

"Keluar," ulang Mahesa, kali ini lebih lembut.

***

Malam hari...

Nara duduk di tempat tidur menatap layar ponsel. Satu pesan dari Mahesa masuk.

Mahesa: Besok ada acara keluarga. Kamu ikut.

Nara mengernyit lalu membalas cepat.

Nara: Keluarga? Aku belum siap mental!

Mahesa: Kamu akan baik-baik saja.

Nara: Itu bukan jawaban.

Beberapa detik kemudian:

Mahesa: Aku akan ada di sana.

Nara menatap layar lama. Jantungnya berdebar aneh.

Nara: Jangan ninggalin aku, selama aku di sana.

Mahesa: Tidak akan.

Nara tersenyum kecil, lalu buru-buru menghapusnya. "Cuma kontrak," gumamnya.

Sementara di seberang lorong, Mahesa Ardhana Wijaya mematikan ponsel. Aturan sudah dibuat. Jarak sudah ditetapkan. Namun sejak Senara Ayu Prameswari masuk ke rumah itu, ketenangan yang ia jaga bertahun-tahun perlahan runtuh... dan entah kenapa, ia tidak sepenuhnya ingin membangunnya kembali.

Bersambung…

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Istri Cerewet CEO Anti Skandal    Bab 6 > Aturan Rumah CEO

    Pagi hari...Mahesa Ardhana Wijaya terbiasa bangun pagi dalam keheningan. Tidak ada suara, tidak ada gerakan berlebihan, tidak ada kejutan. Rutinitasnya rapi seperti jadwal rapat... hingga pagi ini."AAAAAAAA-!"Mahesa yang sedang mengenakan manset jam seketika berhenti.Kemudian teriakan kedua menyusul."TOLOOOONG!"Mahesa menghela napas panjang. Ia berjalan cepat menuju sumber suara. Hingga ia berhenti tepat di depan pintu kamar Nara yang terbuka setengah. Di dalamnya, terlihat Senara Ayu Prameswari sedang berdiri di depan lemari dengan ekspresi panik, dan rambutnya masih setengah kering."Apa lagi?" tanya Mahesa, datar.Nara menunjuk lemari. "Bajuku hilang!""Kamu bercanda.""Aku nggak bercanda! Jelas-jelas aku taruh di sini semalam!" katanya, tegas.Mahesa akhirnya melirik. Lemari itu penuh... tapi penuh dengan pakaian perempuan yang… jelas bukan gaya Nara. "Ini bajumu,” katanya.Nara menarik satu gaun satin tipis, menatapnya seperti menatap ular. "Ini bukan baju. Tapi ini niat ja

  • Istri Cerewet CEO Anti Skandal    Bab 5 > Tinggal Serumah

    Mobil berhenti di depan gerbang besi hitam setinggi dua meter. Nara mendongak cukup lama, dengan mulutnya yang menganga. "Ini… rumah kamu?" tanyanya pelan.Mahesa mengangguk. "Iya." jawabnya, singkat.Nara menoleh ke kiri. Ke kanan. Ke atas. “Aku kira ini hotel. Atau museum. Atau mungkin gedung negara," celetuk Nara polos.Mahesa hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum tipis. Kemudian gerbang terbuka perlahan. Mobil pun masuk.Taman di rumah itu benar-benar luas membentang dengan rumput yang rapi, lampu taman menyala hangat, dan air mancur kecil di tengah.Nara menelan ludah. "Aku salah sepatu. Harusnya pakai sepatu wisata." gumamnya.Begitu pintu mobil dibuka, tiga orang pelayan berdiri rapi, menyambut kedatangan sang tuan rumah."Selamat datang, Tuan. Selamat datang, Nyonya."Nara reflek mundur setengah langkah. "Eh... sebentar. Jangan manggil aku Nyonya," protes Nara.Mendengar itu, para pelayan saling pandang.Mahesa turun dari mobil. "Panggil dia Nyonya Wijaya." perintah M

  • Istri Cerewet CEO Anti Skandal    Bab 4 > Pernikahan Kontrak

    Di kediaman Senara Ayu Prameswari...Saat ini Nara sedang menatap langit-langit kamarnya sejak pagi tadi. Sudah tiga jam. Ia belum mandi, belum makan, belum beraktivitas."Enam bulan," gumamnya sambil menghitung jari. "Cuma enam bulan."Sementara Kirana Elsha tengah duduk di ujung ranjang, sambil ngemil keripik dengan mata yang menatap ke arah Nara seperti sedang menonton drama favorit. "Nara," panggilnya santai, "aku cuma mau pastiin… kamu sadar 'kan yang mau kamu nikahin itu CEO?""Aku sadar," jawab Nara lemah."CEO terkaya itu?""Iya." jawabnya, singkat."Dingin?""Iya.""Ganteng?""IYA, AKU TAU." jawabnya, sedikit berteriak.Kirana tersenyum licik. "Terus kenapa kamu kelihatan kayak mau naik tiang listrik?" ledek Kirana."Karena hidupku normal," Nara mengerang. "Terus tiba-tiba disodorin kontrak nikah." omelnya sambil duduk, dan meraih map tipis di meja. Map itu berisi perjanjian pernikahan."Coba baca ulang," kata Kirana.Nara membuka halaman pertama:1. Pernikahan berlangsung s

  • Istri Cerewet CEO Anti Skandal    Bab 3 > Lamaran Paling Absurd

    Cafe itu mendadak sunyi. Bukan karena tutup.Tapi karena satu kalimat yang membuat semua pendengarnya terdiam."Kita perlu menikah."Senara Ayu Prameswari menatap Mahesa Ardhana Wijaya seperti menatap orang yang baru saja mengaku alien. "Maaf," katanya pelan tapi tajam. "Aku salah denger... kamu bilang apa... menikah?" tanyanya lagi untuk memastikan. Ia berharap dirinya salah mendengar.Sayangnya, Mahesa mengangguk tanda kalau ucapannya itu serius. "Iya." jawabnya, tegas.Kirana Elsha, yang sedari tadi duduk manis, tiba-tiba berdiri. "Sebentar. Sebentar. Ini aku yang ngopi kebanyakan, atau dunia emang lagi nggak waras?" sambung Kirana dengan wajah yang terkejut.Mahesa menoleh. "Anda siapa?""Aku sahabat kecilnya Nara,” jawab Kirana cepat. "Sekaligus saksi hidup dia kalau Nara nggak pernah kenal kamu sebelum… malam itu," lanjut Kirana, dingin.Nara langsung menendang kaki Kirana di bawah meja. "DIAM."Mahesa kembali fokus ke Nara. "Saya serius."Nara menyilangkan tangan. "Kamu gila."

  • Istri Cerewet CEO Anti Skandal    Bab 2 > Dia Mencariku

    Di salah satu kamar mewah...Mahesa Ardhana Wijaya tidak pernah bangun pagi dengan perasaan… kosong. Ia yang biasanya hidupnya rapi, jadwal ketat, keputusan cepat bahkan emosi terkunci.Namun pagi ini... kamar hotel mewah itu terasa aneh. Kamar itu terlalu sunyi, terlalu berisik di kepalanya. Ia masih menatap pintu yang sudah tertutup sejak wanita cerewet itu pergi."Kamu juga jangan nyari aku."Kalimat itu masih terngiang.Lalu, Mahesa menoleh ke ranjang dengan seprai kusut, bantal sedikit miring, dan ada satu helai rambut panjang tertinggal, membuat pria itu mengernyitkan dahinya.Mahesa merasa heran... kenapa dia memperhatikan hal-hal remeh begini? Saat pikirannya berkecamuk, tiba-tiba pintu kamarnya diketuk. "Masuk," katanya datar.Rangga Pradipta-sekretaris setianya... masuk dengan tablet di tangan dan wajah penuh profesionalisme… sampai akhirnya ia melihat kondisi kamar atasannya. Ranjang yang berantakan. Jas bosnya tergeletak sembarangan. Dasi di kursi. Dan... Rangga menyipit

  • Istri Cerewet CEO Anti Skandal    Bab 1 > Salah Kamar

    Di salah satu kamar hotel mewah dengan lampu kristal, cahaya itu menyala terlalu terang untuk kepala Senara Ayu Prameswari yang berdenyut seperti habis dipukul palu. Gaun hitamnya terasa ketat, sepatu haknya entah ke mana, dan yang paling parah... pintu kamar hotel ini tampak terasa asing."Ini… kamar aku, kan?" gumam Nara sambil menyender ke pintu, matanya menatap ke arah ranjang besar dengan seprai putih rapi.Kemudian ia berjalan sempoyongan, melempar tas ke sofa, lalu menjatuhkan diri ke kasur. Wangi maskulin di kamar itu... menyusup ke hidungnya."Hmm… hotel mahal emang beda ya. Sprei nya bau duit," katanya polos.Di saat yang sama, pintu kamar kembali terbuka. Seorang pria masuk, dengan perawakan tinggi, bahu lebar dan setelan jas hitam yang sudah dilepas dasinya.Rambut pria itu sedikit berantakan. Tatapannya dingin tapi kosong, seperti orang yang kepalanya terlalu penuh untuk memproses dunia.Mahesa Ardhana Wijaya.Ia berhenti tepat di ambang pintu, menatap pemandangan di depa

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status