LOGINCafe itu mendadak sunyi. Bukan karena tutup.
Tapi karena satu kalimat yang membuat semua pendengarnya terdiam. "Kita perlu menikah." Senara Ayu Prameswari menatap Mahesa Ardhana Wijaya seperti menatap orang yang baru saja mengaku alien. "Maaf," katanya pelan tapi tajam. "Aku salah denger... kamu bilang apa... menikah?" tanyanya lagi untuk memastikan. Ia berharap dirinya salah mendengar. Sayangnya, Mahesa mengangguk tanda kalau ucapannya itu serius. "Iya." jawabnya, tegas. Kirana Elsha, yang sedari tadi duduk manis, tiba-tiba berdiri. "Sebentar. Sebentar. Ini aku yang ngopi kebanyakan, atau dunia emang lagi nggak waras?" sambung Kirana dengan wajah yang terkejut. Mahesa menoleh. "Anda siapa?" "Aku sahabat kecilnya Nara,” jawab Kirana cepat. "Sekaligus saksi hidup dia kalau Nara nggak pernah kenal kamu sebelum… malam itu," lanjut Kirana, dingin. Nara langsung menendang kaki Kirana di bawah meja. "DIAM." Mahesa kembali fokus ke Nara. "Saya serius." Nara menyilangkan tangan. "Kamu gila." cibirnya dengan tatapan yang sinis ke arah Mahesa. "Tidak." "Gila." timpalnya yang tak mau kalah. "Ini solusi." balasnya, bersikukuh. "SOLUSI DARI APA?" tanyanya dengan nada tinggi, disertai tatapannya yang kesal. Sedangkan Mahesa, ia menurunkan suaranya. "Dari kesalahan." Nara tertawa... kering, nyaris histeris. "Kesalahan itu hanyalah salah kamar, tidak perlu sampai menikah segala!” katanya, tegas. Beberapa pengunjung mulai melirik ketika mendengar perdebatan Nara dan Mahesa. Salah seorang barista pura-pura sibuk tapi telinganya jelas aktif. Namun Mahesa tidak tampak terganggu sama sekali meski ia dan gadis cerewet itu menjadi pusat perhatian. "Saya tidak bisa mengabaikan apa yang telah terjadi." "Itu urusanmu. Bukan urusanku," balas Nara. "Ini menyangkut reputasi." "Oh, maaf," Nara mendengus. "Aku lupa. Kalau kamu itu orang penting.” lanjutnya, ketus. Mendengar itu, Mahesa menatapnya cukup lama. Ada sesuatu di balik matanya... bukan marah, tapi tatapan bingung. "Apa kamu keberatan menikah dengan saya?" tanyanya datar. Bahasanya cukup formal. Nara nyaris tersedak. "Keberatan? Aku bahkan nggak tahu nama lengkap kamu!" "Mahesa Ardhana Wijaya," ucapnya, dengan menyebut nama lengkapnya sendiri. "Ya ampun, bahkan namamu kedengerannya mahal kali,” gumam Nara. Lalu menatapnya lagi. "Dan jawabanku tetap... TIDAK.” jawabnya, tegas. Ia bersikukuh menolak lamaran pria itu. Kirana mengangguk keras. "Benar. Tidak. Big no. Capital N-O." sambung Kirana disertai gelengan kepala. Namun, Mahesa mengabaikan Kirana. "Saya akan tetap bertanggung jawab." "Aku nggak minta tanggung jawabmu, Tuan Mahesa!" bantahnya, penuh penolakan. "Namun saya merasa perlu melakukannya," balasnya, keras kepala. "Tidak perlu!" tolaknya, mantap. Mahesa menghela nafas pelan. "Senara Ayu Prameswari, dengarkan saya." Nara membalikkan badan. "Aku nggak mau denger apa-apa." katanya sambil berjalan ke kasir. Dan Mahesa mengikutinya dari belakang. "Berhenti ngikutin aku!" bisik Nara. "Kita belum selesai." "Kita sudah SELESAI dari awal!" Kasir menatap mereka dengan canggung. "Ehm… mau bayar?" tanya kasir. Nara merogoh tas. Namun kalah cepat dari Mahesa yang langsung menaruh kartu hitam di meja kasir. "Saya yang bayar," kata Mahesa. "NGGAK USAH!" tolak Nara. "Kamu minum kopi saya." "ITU LATTE!" "Intinya sama." Nara mendelik. "Kamu nyebelin." Ia mengerucutkan bibirnya. Meski ditolak terus menerus oleh Nara, Namun Mahesa tetap membayar. Kemudian Nara keluar dari cafe dengan wajah merah padam, dan Mahesa mengikutinya seperti bayangan mahal. Di parkiran cafe... Nara berbalik tajam. "Oke. Kita selesain sekarang." Mahesa berhenti. "Katakan... apa yang Tuan Mahesa mau dariku?" tanyanya akhirnya. Mahesa menatapnya lurus. "Pernikahan." "Kenapa?" "Karena saya tidak bisa mengulang waktu." Nara terdiam sesaat. "Terus?" "Dan saya tidak bisa berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Seperti yang Nona Nara katakan tadi," jawabnya. Nara mendengus, menahan kekesalannya. "Kamu terlalu serius buat kesalahan semalam." "Bagi saya, itu bukan hal kecil." Nara tertawa kecil. "Tipikal orang kaya memang agak laen. Semua harus serba rapi." cibir Nara, terkesan mengejek. Lalu ia mendekat satu langkah ke arah Mahesa. “Denger ya, Tuan Mahesa. Aku bukan cewek yang cocok masuk ke duniamu. Alangkah lebih baiknya, Anda mencari wanita yang berasal dari duniamu,” kata Nara, mencoba menolaknya lagi yang kali ini dengan cara yang halus. Mahesa mengernyit. "Kamu belum tahu dunia saya." "Dan aku nggak mau tahu. Bahkan tidak tertarik sedikitpun," Nara menunjuk dadanya sendiri dan berkata. “Aku hidup sederhana. Aku kerja, pulang, bayar sewa, marah-marah sama sahabatku. Hidupku itu penuh keributan, rumit, berisik, dan nggak elegan. Rasanya tidak cocok dengan kehidupanmu, Tuan Mahesa." celoteh Nara, jujur soal kepribadiannya. Mahesa mengamatinya dengan kedua matanya yang tak mau lepas dari wajah imut Nara. "Saya tahu." "Kamu tahu dari mana?" "Kamu bilang semalam." Nara terdiam beberapa saat. Kemudian ia mengingat kejadian malam itu ketika ia mengomel panjang lebar. "Saya tidak keberatan," lanjut Mahesa. "Tapi, aku keberatan." "Ini hanya pernikahan kontrak." Nara menatapnya penuh curiga. "Kontrak?" "Ya. Enam bulan." katanya singkat. "Enam bulan?" Nara mengerutkan dahinya. "Setelah itu, kita berpisah." jawabnya, dingin. "Terus?" "Tanpa ikatan." Nara menatap langit sambil menarik napas. "Dan apa untungnya buat aku?" Mahesa mengeluarkan kartu nama. "Kompensasi." Nara melirik sekilas, lalu terbelalak. "Ini kebanyakan." "Bagi saya tidak." "Bagi saya IYA." Mahesa mendekat satu langkah lagi. "Tidak ada sentuhan. Tidak ada tuntutan. Kamu bebas." "Terus kamu ngapain nikah sama aku?" tanyanya dengan heran. "Menutup masalah." Nara tertawa getir. "Aku ini masalah buat kamu, ya?" Mahesa menjawab jujur. "Iya." Dan entah kenapa, kejujuran itu… cukup menusuk. Nara menghela nafas panjang. "Kamu tahu nggak? Kamu pria paling aneh yang pernah aku temui." katanya, jujur. "Terima kasih." "Itu bukan pujian." "Tidak apa." Nara memijat pelipis. Otaknya terasa penuh. Logikanya menolak, tapi dunia nyata sering tidak adil. "Kalau aku nolak?" tanyanya. Mahesa menatapnya. "Saya tetap akan memastikan hidupmu tidak terganggu." "Apa itu ancaman?" "Itu jaminan." Nara mendecak. "Kamu ngeselin." Namun detik berikutnya, ia berkata pelan, "Kasih aku waktu." "Berapa lama?" "Sehari." Mahesa mengangguk. "Saya tunggu." Setelah itu Nara berbalik pergi. Beberapa langkah, ia berhenti. "Oh iya," katanya tanpa menoleh. "Kalau aku setuju…" Mahesa menatapnya penuh perhatian. "… jangan berharap aku jadi istri yang kalem." Bibir Mahesa bergerak tipis. Bahkan terlihat hampir senyum. "Itu yang saya harapkan." Nara melangkah pergi, jantungnya berdebar kacau. Di belakangnya, Mahesa Ardhana Wijaya berdiri di parkiran sederhana itu. Ia sadar akan satu hal, bahwa wanita cerewet itu bukan solusi paling aman. Tapi satu-satunya yang ia inginkan. Bersambung...Mobil berhenti di halaman rumah tepat saat matahari mulai naik lebih tinggi. Udara pagi sudah tak sedingin tadi, tapi suasana di dalam mobil justru terasa… hangat tapi canggung. Kayak habis hujan tapi kaos kaki belum kering.Nara masih duduk. Ia tidak langsung turun. Begitupun dengan Mahesa, ia juga belum mematikan mesin.Hening.Bukan hening yang bikin kikuk. Lebih ke hening yang kayak, 'kita sama-sama capek, tapi nggak mau ngaku.''Aneh ya. Biasanya aku yang pengin cepet-cepet kabur dari orang dingin kayak dia. Sekarang kok malah pengin duduk sebentar lagi?' Nara bermonolog dalam kepalanya.Mahesa akhirnya mematikan mesin. Klik. "Itu… Omku jarang memuji orang," katanya tiba-tiba.Nara melirik. "Oh?""Iya." Mahesa menatap ke depan. "Biasanya kalau dia nggak setuju, dia langsung nyuruh putus," katanya lagi.Nara menegakkan punggung. "Berarti aku lolos tahap… audisi keluarga?" tanyanya."Kurang lebih." Mahesa menjawab singkat.Nara mendengus kecil. "Hebat juga aku. Padahal tadi aku ham
Pagi Hari... Pagi itu, Nara bangun dengan perasaan yang aneh. Bukan sakit. Bukan malas. Tapi campuran antara gugup, kesal, dan penasaran yang bikin perut rasanya kayak diisi kupu-kupu yang salah masuk kandang.Saat ini ia duduk di tepi ranjang, menatap kosong ke depan. 'Oke, Nara. Tenang. Ini cuma klarifikasi. Bukan sidang skripsi. Bukan juga akad nikah kedua. Harusnya sih aman.' Ia bermonolog dalam lamunannya. Pintu kamar diketuk pelan, membuyarkan lamunannya. "Nara." panggil Mahesa dari luar kamarnya. Nara refleks langsung berdiri. Hampir nyenggol meja rias. "Iya!" jawabnya terlalu cepat.Pintu terbuka. Mahesa berdiri di sana dengan setelan hitam rapi... terlalu rapi untuk di pagi hari. Rambutnya tertata sempurna, ekspresinya datar, seperti biasa. Macam kulkas seribu. "Kita berangkat setengah jam lagi," ucapnya."Oh." Nara menjawab singkat seraya mengangguk. "Lalu?" tanyanya, singkat."Kamu sarap
Pagi itu, rumah Mahesa mendadak tidak tenang.Bukan karena alarm kesiangan. Bukan juga karena Nara salah masuk kamar lagi... melainkan itu sudah jadi rutinitas kecil yang mulai dianggap wajar. Tapi karena satu hal yang paling dihindari Mahesa selama ini... media.Nara mondar-mandir di ruang keluarga sambil menggenggam ponsel seperti sedang menunggu vonis. Rambutnya dikuncir tinggi asal-asalan, kaos longgar dan celana training membuatnya tampak seperti mau lari pagi. "Aku nggak bisa," gumamnya.Ia berhenti. Lalu jalan lagi. "Aku beneran nggak bisa."Sedangkan Mahesa berdiri di dekat jendela sambil merapikan jam tangannya dengan gerakan rapi dan tenang. Melihat Mahesa yang tampak begitu tenang itu justru bikin Nara makin panas."Kamu cuma perlu jawab singkat," ujar Mahesa datar. "Jangan jujur berlebihan," tambahnya. "Itu menghina prinsip hidupku," balas Nara cepat."Aku alergi pura-pura," protesnya, tak terima. Mahesa menoleh. Tatapannya menyapu Nara dari ujung rambut sampai kaki...
Pagi hari... Pagi datang dengan suara alarm yang tidak manusiawi."TING—TING—TING—!"Nara mengerang sambil meraba-raba kasur. Tangannya menghantam sesuatu yang keras. "ADUH!"Ia membuka mata setengah. Nara menyadari bahwa itu bukan bantal. Bukan pula guling. Melainkan itu… dada.DADA MANUSIA.Nara menjerit, "AAAAAAAA—!"Mahesa yang sedang setengah sadar refleks langsung duduk. "Apa—!"Kini dua pasang mata saling bertemu dalam jarak yang sangat, sangat tidak wajar. Nara terdiam. Rambutnya berantakan, kaos tidurnya naik sedikit, dan... yang paling fatal adalah saat tangannya masih menempel di dada Mahesa.Waktu seolah berhenti. "KENAPA KAMU DI KAMARKU?!" teriak Nara panik.Mahesa juga panik. Tapi versi tenang. "Ini kamar tamu."Nara menoleh cepat ke sekeliling. Lemari berbeda. Tirai berbeda. Warna sprei berbeda. Seketika ia langsung menutup wajahnya. "YA TUHAN. AKU SALAH KAMAR
Begitu pintu mobil tertutup, hujan langsung turun deras, seolah ikut kesal dengan suasana di dalam mobil. Nara duduk menyandar, kedua lengannya menyilang di dada. Bibirnya maju sedikit, dan itu pose khas orang ngambek. Sedangkan Mahesa fokus menyetir. Bahkan terlalu fokus seolah ia ingin menghindari percakapan. Kini waktu terus berjalan. Lima menit. Sepuluh menit. Hingga akhirnya Nara mendesah keras. Desah yang disengaja. Meski begitu Mahesa tetap diam. Dan itu membuat Nara mendesah lebih keras. Lagi-lagi Mahesa tetap diam. "Oke," gumam Nara. "Berarti aku yang mulai." Mahesa melirik sekilas. "Mulai apa?" "Mulai ceramah." "Silakan." Nara menoleh tajam. "Kamu nyebelin, tau nggak?" omelnya. "Baru tau." "Di acara tadi, kamu tuh dingin banget. Kayak kulkas seribu pintu," celetuk Nara. "Itu kelebihan," jawab Mahesa santai. Nara mendengus kesal. "Aku tuh disorot kayak barang diskonan." "Kamu nggak diskon," sahut Mahesa refleks. Nara menoleh pelan. "Hah?" kata
Mobil hitam itu melaju mulus meninggalkan gerbang rumah. Di dalam mobil terasa begitu sunyi untuk dua orang yang duduk bersebelahan.Nara duduk tegak, dengan kedua tangannya mencengkeram tas kecil di pangkuan. Dress sederhana warna biru pucat membalut tubuhnya, tidak mewah, tapi rapi. Rambutnya diikat setengah, beberapa helai jatuh membingkai wajahnya yang terlihat tegang. Sementara di sampingnya, Mahesa tampil seperti biasa... jas berwarna gelap, rahang tegas, tatapan lurus ke depan."Kak Mahesa," panggil Nara memecah keheningan, suaranya lebih pelan dari biasanya."Ada apa?" tanyanya, datar."Acaranya… tipe keluarga dekat atau keluarga yang kalau salah ngomong bisa viral?" tanyanya serius.Mahesa melirik sekilas. "Keluarga besar," jawabnya, singkat. "Itu jawaban paling menyeramkan," Nara bergumam pada dirinya sendiri. Setelah beberapa menit, kini mobil berhenti di depan rumah besar berarsitektur klasik. Lampu-la
Pagi hari...Mahesa Ardhana Wijaya terbiasa bangun pagi dalam keheningan. Tidak ada suara, tidak ada gerakan berlebihan, tidak ada kejutan. Rutinitasnya rapi seperti jadwal rapat... hingga pagi ini."AAAAAAAA-!"Mahesa yang sedang mengenakan manset jam seketika berhenti.Kemudian teriakan kedua men
Mobil berhenti di depan gerbang besi hitam setinggi dua meter. Nara mendongak cukup lama, dengan mulutnya yang menganga. "Ini… rumah kamu?" tanyanya pelan.Mahesa mengangguk. "Iya." jawabnya, singkat.Nara menoleh ke kiri. Ke kanan. Ke atas. “Aku kira ini hotel. Atau museum. Atau mungkin gedung neg
Di kediaman Senara Ayu Prameswari...Saat ini Nara sedang menatap langit-langit kamarnya sejak pagi tadi. Sudah tiga jam. Ia belum mandi, belum makan, belum beraktivitas."Enam bulan," gumamnya sambil menghitung jari. "Cuma enam bulan."Sementara Kirana Elsha tengah duduk di ujung ranjang, sambil
Di salah satu kamar mewah...Mahesa Ardhana Wijaya tidak pernah bangun pagi dengan perasaan… kosong. Ia yang biasanya hidupnya rapi, jadwal ketat, keputusan cepat bahkan emosi terkunci.Namun pagi ini... kamar hotel mewah itu terasa aneh. Kamar itu terlalu sunyi, terlalu berisik di kepalanya. Ia ma







