Beranda / Romansa / Istri Cerewet CEO Anti Skandal / Bab 3 > Lamaran Paling Absurd

Share

Bab 3 > Lamaran Paling Absurd

Penulis: Li Pena
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-26 17:28:36

Cafe itu mendadak sunyi. Bukan karena tutup.

Tapi karena satu kalimat yang membuat semua pendengarnya terdiam.

"Kita perlu menikah."

Senara Ayu Prameswari menatap Mahesa Ardhana Wijaya seperti menatap orang yang baru saja mengaku alien. "Maaf," katanya pelan tapi tajam. "Aku salah denger... kamu bilang apa... menikah?" tanyanya lagi untuk memastikan. Ia berharap dirinya salah mendengar.

Sayangnya, Mahesa mengangguk tanda kalau ucapannya itu serius. "Iya." jawabnya, tegas.

Kirana Elsha, yang sedari tadi duduk manis, tiba-tiba berdiri. "Sebentar. Sebentar. Ini aku yang ngopi kebanyakan, atau dunia emang lagi nggak waras?" sambung Kirana dengan wajah yang terkejut.

Mahesa menoleh. "Anda siapa?"

"Aku sahabat kecilnya Nara,” jawab Kirana cepat. "Sekaligus saksi hidup dia kalau Nara nggak pernah kenal kamu sebelum… malam itu," lanjut Kirana, dingin.

Nara langsung menendang kaki Kirana di bawah meja. "DIAM."

Mahesa kembali fokus ke Nara. "Saya serius."

Nara menyilangkan tangan. "Kamu gila." cibirnya dengan tatapan yang sinis ke arah Mahesa.

"Tidak."

"Gila." timpalnya yang tak mau kalah.

"Ini solusi." balasnya, bersikukuh.

"SOLUSI DARI APA?" tanyanya dengan nada tinggi, disertai tatapannya yang kesal.

Sedangkan Mahesa, ia menurunkan suaranya. "Dari kesalahan."

Nara tertawa... kering, nyaris histeris. "Kesalahan itu hanyalah salah kamar, tidak perlu sampai menikah segala!” katanya, tegas.

Beberapa pengunjung mulai melirik ketika mendengar perdebatan Nara dan Mahesa. Salah seorang barista pura-pura sibuk tapi telinganya jelas aktif. Namun Mahesa tidak tampak terganggu sama sekali meski ia dan gadis cerewet itu menjadi pusat perhatian.

"Saya tidak bisa mengabaikan apa yang telah terjadi."

"Itu urusanmu. Bukan urusanku," balas Nara.

"Ini menyangkut reputasi."

"Oh, maaf," Nara mendengus. "Aku lupa. Kalau kamu itu orang penting.” lanjutnya, ketus.

Mendengar itu, Mahesa menatapnya cukup lama. Ada sesuatu di balik matanya... bukan marah, tapi tatapan bingung. "Apa kamu keberatan menikah dengan saya?" tanyanya datar. Bahasanya cukup formal.

Nara nyaris tersedak. "Keberatan? Aku bahkan nggak tahu nama lengkap kamu!"

"Mahesa Ardhana Wijaya," ucapnya, dengan menyebut nama lengkapnya sendiri.

"Ya ampun, bahkan namamu kedengerannya mahal kali,” gumam Nara. Lalu menatapnya lagi. "Dan jawabanku tetap... TIDAK.” jawabnya, tegas. Ia bersikukuh menolak lamaran pria itu.

Kirana mengangguk keras. "Benar. Tidak. Big no. Capital N-O." sambung Kirana disertai gelengan kepala.

Namun, Mahesa mengabaikan Kirana. "Saya akan tetap bertanggung jawab."

"Aku nggak minta tanggung jawabmu, Tuan Mahesa!" bantahnya, penuh penolakan.

"Namun saya merasa perlu melakukannya," balasnya, keras kepala.

"Tidak perlu!" tolaknya, mantap.

Mahesa menghela nafas pelan. "Senara Ayu Prameswari, dengarkan saya."

Nara membalikkan badan. "Aku nggak mau denger apa-apa." katanya sambil berjalan ke kasir. Dan Mahesa mengikutinya dari belakang.

"Berhenti ngikutin aku!" bisik Nara.

"Kita belum selesai."

"Kita sudah SELESAI dari awal!"

Kasir menatap mereka dengan canggung. "Ehm… mau bayar?" tanya kasir.

Nara merogoh tas. Namun kalah cepat dari Mahesa yang langsung menaruh kartu hitam di meja kasir. "Saya yang bayar," kata Mahesa.

"NGGAK USAH!" tolak Nara.

"Kamu minum kopi saya."

"ITU LATTE!"

"Intinya sama."

Nara mendelik. "Kamu nyebelin." Ia mengerucutkan bibirnya.

Meski ditolak terus menerus oleh Nara, Namun Mahesa tetap membayar. Kemudian Nara keluar dari cafe dengan wajah merah padam, dan Mahesa mengikutinya seperti bayangan mahal.

Di parkiran cafe...

Nara berbalik tajam. "Oke. Kita selesain sekarang."

Mahesa berhenti.

"Katakan... apa yang Tuan Mahesa mau dariku?" tanyanya akhirnya.

Mahesa menatapnya lurus. "Pernikahan."

"Kenapa?"

"Karena saya tidak bisa mengulang waktu."

Nara terdiam sesaat. "Terus?"

"Dan saya tidak bisa berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Seperti yang Nona Nara katakan tadi," jawabnya.

Nara mendengus, menahan kekesalannya. "Kamu terlalu serius buat kesalahan semalam."

"Bagi saya, itu bukan hal kecil."

Nara tertawa kecil. "Tipikal orang kaya memang agak laen. Semua harus serba rapi." cibir Nara, terkesan mengejek.

Lalu ia mendekat satu langkah ke arah Mahesa. “Denger ya, Tuan Mahesa. Aku bukan cewek yang cocok masuk ke duniamu. Alangkah lebih baiknya, Anda mencari wanita yang berasal dari duniamu,” kata Nara, mencoba menolaknya lagi yang kali ini dengan cara yang halus.

Mahesa mengernyit. "Kamu belum tahu dunia saya."

"Dan aku nggak mau tahu. Bahkan tidak tertarik sedikitpun,"

Nara menunjuk dadanya sendiri dan berkata. “Aku hidup sederhana. Aku kerja, pulang, bayar sewa, marah-marah sama sahabatku. Hidupku itu penuh keributan, rumit, berisik, dan nggak elegan. Rasanya tidak cocok dengan kehidupanmu, Tuan Mahesa." celoteh Nara, jujur soal kepribadiannya.

Mahesa mengamatinya dengan kedua matanya yang tak mau lepas dari wajah imut Nara. "Saya tahu."

"Kamu tahu dari mana?"

"Kamu bilang semalam."

Nara terdiam beberapa saat. Kemudian ia mengingat kejadian malam itu ketika ia mengomel panjang lebar.

"Saya tidak keberatan," lanjut Mahesa.

"Tapi, aku keberatan."

"Ini hanya pernikahan kontrak."

Nara menatapnya penuh curiga. "Kontrak?"

"Ya. Enam bulan." katanya singkat.

"Enam bulan?" Nara mengerutkan dahinya.

"Setelah itu, kita berpisah." jawabnya, dingin.

"Terus?"

"Tanpa ikatan."

Nara menatap langit sambil menarik napas. "Dan apa untungnya buat aku?"

Mahesa mengeluarkan kartu nama. "Kompensasi."

Nara melirik sekilas, lalu terbelalak. "Ini kebanyakan."

"Bagi saya tidak."

"Bagi saya IYA."

Mahesa mendekat satu langkah lagi. "Tidak ada sentuhan. Tidak ada tuntutan. Kamu bebas."

"Terus kamu ngapain nikah sama aku?" tanyanya dengan heran.

"Menutup masalah."

Nara tertawa getir. "Aku ini masalah buat kamu, ya?"

Mahesa menjawab jujur. "Iya."

Dan entah kenapa, kejujuran itu… cukup menusuk.

Nara menghela nafas panjang. "Kamu tahu nggak? Kamu pria paling aneh yang pernah aku temui." katanya, jujur.

"Terima kasih."

"Itu bukan pujian."

"Tidak apa."

Nara memijat pelipis. Otaknya terasa penuh. Logikanya menolak, tapi dunia nyata sering tidak adil.

"Kalau aku nolak?" tanyanya.

Mahesa menatapnya. "Saya tetap akan memastikan hidupmu tidak terganggu."

"Apa itu ancaman?"

"Itu jaminan."

Nara mendecak. "Kamu ngeselin."

Namun detik berikutnya, ia berkata pelan, "Kasih aku waktu."

"Berapa lama?"

"Sehari."

Mahesa mengangguk. "Saya tunggu."

Setelah itu Nara berbalik pergi. Beberapa langkah, ia berhenti. "Oh iya," katanya tanpa menoleh. "Kalau aku setuju…"

Mahesa menatapnya penuh perhatian.

"… jangan berharap aku jadi istri yang kalem."

Bibir Mahesa bergerak tipis. Bahkan terlihat hampir senyum. "Itu yang saya harapkan."

Nara melangkah pergi, jantungnya berdebar kacau.

Di belakangnya, Mahesa Ardhana Wijaya berdiri di parkiran sederhana itu. Ia sadar akan satu hal, bahwa wanita cerewet itu bukan solusi paling aman. Tapi satu-satunya yang ia inginkan.

Bersambung...

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Istri Cerewet CEO Anti Skandal    Bab 6 > Aturan Rumah CEO

    Pagi hari...Mahesa Ardhana Wijaya terbiasa bangun pagi dalam keheningan. Tidak ada suara, tidak ada gerakan berlebihan, tidak ada kejutan. Rutinitasnya rapi seperti jadwal rapat... hingga pagi ini."AAAAAAAA-!"Mahesa yang sedang mengenakan manset jam seketika berhenti.Kemudian teriakan kedua menyusul."TOLOOOONG!"Mahesa menghela napas panjang. Ia berjalan cepat menuju sumber suara. Hingga ia berhenti tepat di depan pintu kamar Nara yang terbuka setengah. Di dalamnya, terlihat Senara Ayu Prameswari sedang berdiri di depan lemari dengan ekspresi panik, dan rambutnya masih setengah kering."Apa lagi?" tanya Mahesa, datar.Nara menunjuk lemari. "Bajuku hilang!""Kamu bercanda.""Aku nggak bercanda! Jelas-jelas aku taruh di sini semalam!" katanya, tegas.Mahesa akhirnya melirik. Lemari itu penuh... tapi penuh dengan pakaian perempuan yang… jelas bukan gaya Nara. "Ini bajumu,” katanya.Nara menarik satu gaun satin tipis, menatapnya seperti menatap ular. "Ini bukan baju. Tapi ini niat ja

  • Istri Cerewet CEO Anti Skandal    Bab 5 > Tinggal Serumah

    Mobil berhenti di depan gerbang besi hitam setinggi dua meter. Nara mendongak cukup lama, dengan mulutnya yang menganga. "Ini… rumah kamu?" tanyanya pelan.Mahesa mengangguk. "Iya." jawabnya, singkat.Nara menoleh ke kiri. Ke kanan. Ke atas. “Aku kira ini hotel. Atau museum. Atau mungkin gedung negara," celetuk Nara polos.Mahesa hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum tipis. Kemudian gerbang terbuka perlahan. Mobil pun masuk.Taman di rumah itu benar-benar luas membentang dengan rumput yang rapi, lampu taman menyala hangat, dan air mancur kecil di tengah.Nara menelan ludah. "Aku salah sepatu. Harusnya pakai sepatu wisata." gumamnya.Begitu pintu mobil dibuka, tiga orang pelayan berdiri rapi, menyambut kedatangan sang tuan rumah."Selamat datang, Tuan. Selamat datang, Nyonya."Nara reflek mundur setengah langkah. "Eh... sebentar. Jangan manggil aku Nyonya," protes Nara.Mendengar itu, para pelayan saling pandang.Mahesa turun dari mobil. "Panggil dia Nyonya Wijaya." perintah M

  • Istri Cerewet CEO Anti Skandal    Bab 4 > Pernikahan Kontrak

    Di kediaman Senara Ayu Prameswari...Saat ini Nara sedang menatap langit-langit kamarnya sejak pagi tadi. Sudah tiga jam. Ia belum mandi, belum makan, belum beraktivitas."Enam bulan," gumamnya sambil menghitung jari. "Cuma enam bulan."Sementara Kirana Elsha tengah duduk di ujung ranjang, sambil ngemil keripik dengan mata yang menatap ke arah Nara seperti sedang menonton drama favorit. "Nara," panggilnya santai, "aku cuma mau pastiin… kamu sadar 'kan yang mau kamu nikahin itu CEO?""Aku sadar," jawab Nara lemah."CEO terkaya itu?""Iya." jawabnya, singkat."Dingin?""Iya.""Ganteng?""IYA, AKU TAU." jawabnya, sedikit berteriak.Kirana tersenyum licik. "Terus kenapa kamu kelihatan kayak mau naik tiang listrik?" ledek Kirana."Karena hidupku normal," Nara mengerang. "Terus tiba-tiba disodorin kontrak nikah." omelnya sambil duduk, dan meraih map tipis di meja. Map itu berisi perjanjian pernikahan."Coba baca ulang," kata Kirana.Nara membuka halaman pertama:1. Pernikahan berlangsung s

  • Istri Cerewet CEO Anti Skandal    Bab 3 > Lamaran Paling Absurd

    Cafe itu mendadak sunyi. Bukan karena tutup.Tapi karena satu kalimat yang membuat semua pendengarnya terdiam."Kita perlu menikah."Senara Ayu Prameswari menatap Mahesa Ardhana Wijaya seperti menatap orang yang baru saja mengaku alien. "Maaf," katanya pelan tapi tajam. "Aku salah denger... kamu bilang apa... menikah?" tanyanya lagi untuk memastikan. Ia berharap dirinya salah mendengar.Sayangnya, Mahesa mengangguk tanda kalau ucapannya itu serius. "Iya." jawabnya, tegas.Kirana Elsha, yang sedari tadi duduk manis, tiba-tiba berdiri. "Sebentar. Sebentar. Ini aku yang ngopi kebanyakan, atau dunia emang lagi nggak waras?" sambung Kirana dengan wajah yang terkejut.Mahesa menoleh. "Anda siapa?""Aku sahabat kecilnya Nara,” jawab Kirana cepat. "Sekaligus saksi hidup dia kalau Nara nggak pernah kenal kamu sebelum… malam itu," lanjut Kirana, dingin.Nara langsung menendang kaki Kirana di bawah meja. "DIAM."Mahesa kembali fokus ke Nara. "Saya serius."Nara menyilangkan tangan. "Kamu gila."

  • Istri Cerewet CEO Anti Skandal    Bab 2 > Dia Mencariku

    Di salah satu kamar mewah...Mahesa Ardhana Wijaya tidak pernah bangun pagi dengan perasaan… kosong. Ia yang biasanya hidupnya rapi, jadwal ketat, keputusan cepat bahkan emosi terkunci.Namun pagi ini... kamar hotel mewah itu terasa aneh. Kamar itu terlalu sunyi, terlalu berisik di kepalanya. Ia masih menatap pintu yang sudah tertutup sejak wanita cerewet itu pergi."Kamu juga jangan nyari aku."Kalimat itu masih terngiang.Lalu, Mahesa menoleh ke ranjang dengan seprai kusut, bantal sedikit miring, dan ada satu helai rambut panjang tertinggal, membuat pria itu mengernyitkan dahinya.Mahesa merasa heran... kenapa dia memperhatikan hal-hal remeh begini? Saat pikirannya berkecamuk, tiba-tiba pintu kamarnya diketuk. "Masuk," katanya datar.Rangga Pradipta-sekretaris setianya... masuk dengan tablet di tangan dan wajah penuh profesionalisme… sampai akhirnya ia melihat kondisi kamar atasannya. Ranjang yang berantakan. Jas bosnya tergeletak sembarangan. Dasi di kursi. Dan... Rangga menyipit

  • Istri Cerewet CEO Anti Skandal    Bab 1 > Salah Kamar

    Di salah satu kamar hotel mewah dengan lampu kristal, cahaya itu menyala terlalu terang untuk kepala Senara Ayu Prameswari yang berdenyut seperti habis dipukul palu. Gaun hitamnya terasa ketat, sepatu haknya entah ke mana, dan yang paling parah... pintu kamar hotel ini tampak terasa asing."Ini… kamar aku, kan?" gumam Nara sambil menyender ke pintu, matanya menatap ke arah ranjang besar dengan seprai putih rapi.Kemudian ia berjalan sempoyongan, melempar tas ke sofa, lalu menjatuhkan diri ke kasur. Wangi maskulin di kamar itu... menyusup ke hidungnya."Hmm… hotel mahal emang beda ya. Sprei nya bau duit," katanya polos.Di saat yang sama, pintu kamar kembali terbuka. Seorang pria masuk, dengan perawakan tinggi, bahu lebar dan setelan jas hitam yang sudah dilepas dasinya.Rambut pria itu sedikit berantakan. Tatapannya dingin tapi kosong, seperti orang yang kepalanya terlalu penuh untuk memproses dunia.Mahesa Ardhana Wijaya.Ia berhenti tepat di ambang pintu, menatap pemandangan di depa

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status