Beranda / Romansa / Istri Cerewet CEO Anti Skandal / Bab 4 > Pernikahan Kontrak

Share

Bab 4 > Pernikahan Kontrak

Penulis: Li Pena
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-26 18:19:51

Di kediaman Senara Ayu Prameswari...

Saat ini Nara sedang menatap langit-langit kamarnya sejak pagi tadi. Sudah tiga jam. Ia belum mandi, belum makan, belum beraktivitas.

"Enam bulan," gumamnya sambil menghitung jari. "Cuma enam bulan."

Sementara Kirana Elsha tengah duduk di ujung ranjang, sambil ngemil keripik dengan mata yang menatap ke arah Nara seperti sedang menonton drama favorit. "Nara," panggilnya santai, "aku cuma mau pastiin… kamu sadar 'kan yang mau kamu nikahin itu CEO?"

"Aku sadar," jawab Nara lemah.

"CEO terkaya itu?"

"Iya." jawabnya, singkat.

"Dingin?"

"Iya."

"Ganteng?"

"IYA, AKU TAU." jawabnya, sedikit berteriak.

Kirana tersenyum licik. "Terus kenapa kamu kelihatan kayak mau naik tiang listrik?" ledek Kirana.

"Karena hidupku normal," Nara mengerang. "Terus tiba-tiba disodorin kontrak nikah." omelnya sambil duduk, dan meraih map tipis di meja. Map itu berisi perjanjian pernikahan.

"Coba baca ulang," kata Kirana.

Nara membuka halaman pertama:

1. Pernikahan berlangsung selama enam bulan.

2. Tidak ada kewajiban cinta.

3. Tidak ada hubungan fisik setelah akad.

4. Privasi masing-masing dijaga. Dan-

5. Setelah kontrak selesai, berpisah baik-baik.

"Ini nikah apa magang?" Nara mendesah.

Kirana mengangkat bahu. "Magang jadi istri CEO." celetuk Kirana, asal jawab.

Nara menutup wajahnya. "Aku gila."

Kirana mencondongkan badannya. "Tapi kamu nggak dipaksa, kan?" tanyanya, kepo.

Nara terdiam beberapa saat tanpa menjawab pertanyaan dari sahabatnya.

"Dia nggak ngancam," lanjut Kirana pelan. "Dia cuma… terlalu antusias untuk bertanggung jawab." tambahnya.

"Itu yang bikin aku kesel," Nara mendengus kesal. "Orang normal kabur, dia malah ngajak nikah."

Kirana tersenyum kecil. "Terus?"

Nara menatap map itu lagi sambil menghela nafas panjang. "Aku capek," katanya jujur. "Kalau aku nolak, hidupku nggak bakal tenang. Kalau aku terima… ya enam bulan bakalan ribet dah."

"Dan?"

"Dan aku bisa kabur setelah itu."

Kirana mengangguk. "Kamu mau nikah kontrak dengannya?" tanyanya sekali lagi.

Nara terdiam cukup lama, sebelum akhirnya ia menjawab. "Aku cuma mau semuanya berhenti."

Belum sampai di situ kekesalan Nara, kini ponselnya tiba-tiba bergetar. Satu pesan masuk dari pria yang seharian ini membuatnya kesal. Dengan berat hati, ia membaca pesan itu.

Mahesa Ardhana Wijaya: Saya menunggu keputusan Anda.

Nara menatap layar, lalu mengetik cepat.

Senara Ayu Prameswari: Aku setuju. Tapi aku punya syarat.

Balasan datang hampir seketika.

Mahesa Ardhana Wijaya: Apa pun itu, saya akan turuti.

Nara menyeringai tipis sambil membalas pesannya.

Senara Ayu Prameswari: Aku nggak bakal pura-pura manis. Aku ini berisik. Aku galak. Aku cerewet. Dan aku nggak mau diatur!

Beberapa detik kemudian, balasan datang lagi.

Mahesa Ardhana Wijaya: Saya terima.

Setelah membaca pesannya itu, seketika Nara langsung menjatuhkan ponsel ke kasur. "Aku resmi gila," katanya. Ia mengacak-acak rambutnya karena kesal.

Kirana mengangkat tangan. "Selamat. Kamu lulus audisi jadi istri CEO." ejek Kirana.

***

Di tempat yang berbeda...

Kini di kantor notaris itu terlalu… tenang. Senara Ayu Prameswari tengah duduk kaku di kursi, mengenakan dress sederhana warna krem. Rambutnya diikat asal, wajahnya tanpa riasan berlebihan.

Di sampingnya, Mahesa Ardhana Wijaya berdiri rapi dalam setelan hitam. Wajahnya datar. Terlalu tenang untuk pria yang akan menikah.

Notaris berdehem. "Apakah kedua pihak sudah membaca dan menyetujui isi perjanjian pernikahan?"

"Sudah," jawab Mahesa, cepat.

Nara mengangguk. "Sudah. Walau rasanya kayak tanda tangan kontrak kerja." omelnya.

Notaris tersenyum kaku.

Sementara itu, Rangga Pradipta berdiri di belakang, dengan wajahnya tegang luar biasa. Tangannya berkeringat. "Bos," bisiknya, "ini beneran ya?" tanyanya, sekedar memastikan. Ia masih tidak percaya hal konyol seperti ini terjadi pada bosnya.

"Iya." jawab Mahesa, singkat.

"Bukan prank 'kan?"

"Bukan."

Rangga menatap Nara dari ujung kepala sampai kaki. Ini… calon Nyonya Wijaya? ia bertanya-tanya dalam hatinya.

Menyadari itu, Nara melirik ke arah Rangga. "Kamu kenapa lihat aku kayak mau ngecek kualitas barang?" skak Nara.

Rangga tersedak. "T-tidak, Nona Senara!"

"Panggil aku Nara.” protes Nara.

"I-iya, Nyonya... eh-Nara!" katanya gelagapan.

Mahesa menoleh. "Panggil dia Nyonya Wijaya jika di luar."

Nara langsung melotot. "Sebentar."

Mahesa menatapnya. "Apa?"

"Aku belum siap dipanggil kayak gitu."

"Itu formal."

"Tapi, aku alergi formal." bantahnya.

Mahesa menghela nafas kecil. "Baik. Nara." katanya, menahan kesal.

Notaris kembali berdehem. "Baik, kita lanjut."

Akad berlangsung singkat. Tidak ada keluarga. Tidak ada tamu. Tidak ada air mata.

Saat Mahesa mengucapkan ijab, suaranya tenang. Bahkan terlalu tenang untuk seseorang yang mau menikah. Dan Saat Nara menjawab, suaranya sedikit bergetar.

"Sah," kata notaris.

Hening beberapa saat. Kemudian Nara menatap ke arah cincin di jarinya. Tipis. Sederhana. Dan terasa begitu berat.

"Selamat," kata notaris. Ia memberikan selamat pada mempelai.

Rangga bertepuk tangan kecil, lalu berhenti saat Mahesa melirik.

Mereka pun berdiri.

"Jadi," kata Nara pelan, "kita resmi… suami istri kontrak?"

Mahesa mengangguk. "Iya."

"Enam bulan," Nara menegaskan.

"Enam bulan."

"Tidak ikut campur urusan pribadi."

"Tidak."

"Tidak ngatur hidupku."

"Selama tidak mencoreng nama saya."

Nara mendengus sedikit kesal. "Oke, Tuan CEO."

Mahesa menatapnya. "Mulai malam ini, kamu akan tinggal di rumah saya."

"Apa?!" Nara tersentak, kaget.

"Itu bagian dari kesepakatan."

Nara menutup wajah. "Ya Tuhan."

Mahesa berdiri di depannya. "Saya tidak akan menyentuhmu tanpa izin."

Nara menurunkan tangan. "Bagus. Aku juga nggak janji nggak teriak-teriak di rumahmu nanti."

Sudut bibir Mahesa bergerak tipis. Hampir tidak terlihat. Dan saat mereka berjalan keluar, Rangga mengikuti mereka sambil berbisik, "Bos… Anda yakin?"

Mahesa menjawab tenang, "Belum."

Nara menoleh. "Kalau belum yakin, kenapa nikah?"

Mahesa menatap lurus ke depan. "Karena saya tidak mau menyesal."

Nara terdiam tanpa mengatakan apapun.

Kini mobil berhenti di depan gedung. Mahesa membukakan pintu untuk Nara. "Selamat datang... Nyonya Wijaya.”

Nara masuk mobil dengan jantung berantakan. Di detik itu, ia sadar... bahwa selama enam bulan ke depan ia tidak akan tenang. Dan pernikahan kontrak ini… mungkin lebih berbahaya dari yang ia bayangkan.

Bersambung...

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Istri Cerewet CEO Anti Skandal    Bab 6 > Aturan Rumah CEO

    Pagi hari...Mahesa Ardhana Wijaya terbiasa bangun pagi dalam keheningan. Tidak ada suara, tidak ada gerakan berlebihan, tidak ada kejutan. Rutinitasnya rapi seperti jadwal rapat... hingga pagi ini."AAAAAAAA-!"Mahesa yang sedang mengenakan manset jam seketika berhenti.Kemudian teriakan kedua menyusul."TOLOOOONG!"Mahesa menghela napas panjang. Ia berjalan cepat menuju sumber suara. Hingga ia berhenti tepat di depan pintu kamar Nara yang terbuka setengah. Di dalamnya, terlihat Senara Ayu Prameswari sedang berdiri di depan lemari dengan ekspresi panik, dan rambutnya masih setengah kering."Apa lagi?" tanya Mahesa, datar.Nara menunjuk lemari. "Bajuku hilang!""Kamu bercanda.""Aku nggak bercanda! Jelas-jelas aku taruh di sini semalam!" katanya, tegas.Mahesa akhirnya melirik. Lemari itu penuh... tapi penuh dengan pakaian perempuan yang… jelas bukan gaya Nara. "Ini bajumu,” katanya.Nara menarik satu gaun satin tipis, menatapnya seperti menatap ular. "Ini bukan baju. Tapi ini niat ja

  • Istri Cerewet CEO Anti Skandal    Bab 5 > Tinggal Serumah

    Mobil berhenti di depan gerbang besi hitam setinggi dua meter. Nara mendongak cukup lama, dengan mulutnya yang menganga. "Ini… rumah kamu?" tanyanya pelan.Mahesa mengangguk. "Iya." jawabnya, singkat.Nara menoleh ke kiri. Ke kanan. Ke atas. “Aku kira ini hotel. Atau museum. Atau mungkin gedung negara," celetuk Nara polos.Mahesa hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum tipis. Kemudian gerbang terbuka perlahan. Mobil pun masuk.Taman di rumah itu benar-benar luas membentang dengan rumput yang rapi, lampu taman menyala hangat, dan air mancur kecil di tengah.Nara menelan ludah. "Aku salah sepatu. Harusnya pakai sepatu wisata." gumamnya.Begitu pintu mobil dibuka, tiga orang pelayan berdiri rapi, menyambut kedatangan sang tuan rumah."Selamat datang, Tuan. Selamat datang, Nyonya."Nara reflek mundur setengah langkah. "Eh... sebentar. Jangan manggil aku Nyonya," protes Nara.Mendengar itu, para pelayan saling pandang.Mahesa turun dari mobil. "Panggil dia Nyonya Wijaya." perintah M

  • Istri Cerewet CEO Anti Skandal    Bab 4 > Pernikahan Kontrak

    Di kediaman Senara Ayu Prameswari...Saat ini Nara sedang menatap langit-langit kamarnya sejak pagi tadi. Sudah tiga jam. Ia belum mandi, belum makan, belum beraktivitas."Enam bulan," gumamnya sambil menghitung jari. "Cuma enam bulan."Sementara Kirana Elsha tengah duduk di ujung ranjang, sambil ngemil keripik dengan mata yang menatap ke arah Nara seperti sedang menonton drama favorit. "Nara," panggilnya santai, "aku cuma mau pastiin… kamu sadar 'kan yang mau kamu nikahin itu CEO?""Aku sadar," jawab Nara lemah."CEO terkaya itu?""Iya." jawabnya, singkat."Dingin?""Iya.""Ganteng?""IYA, AKU TAU." jawabnya, sedikit berteriak.Kirana tersenyum licik. "Terus kenapa kamu kelihatan kayak mau naik tiang listrik?" ledek Kirana."Karena hidupku normal," Nara mengerang. "Terus tiba-tiba disodorin kontrak nikah." omelnya sambil duduk, dan meraih map tipis di meja. Map itu berisi perjanjian pernikahan."Coba baca ulang," kata Kirana.Nara membuka halaman pertama:1. Pernikahan berlangsung s

  • Istri Cerewet CEO Anti Skandal    Bab 3 > Lamaran Paling Absurd

    Cafe itu mendadak sunyi. Bukan karena tutup.Tapi karena satu kalimat yang membuat semua pendengarnya terdiam."Kita perlu menikah."Senara Ayu Prameswari menatap Mahesa Ardhana Wijaya seperti menatap orang yang baru saja mengaku alien. "Maaf," katanya pelan tapi tajam. "Aku salah denger... kamu bilang apa... menikah?" tanyanya lagi untuk memastikan. Ia berharap dirinya salah mendengar.Sayangnya, Mahesa mengangguk tanda kalau ucapannya itu serius. "Iya." jawabnya, tegas.Kirana Elsha, yang sedari tadi duduk manis, tiba-tiba berdiri. "Sebentar. Sebentar. Ini aku yang ngopi kebanyakan, atau dunia emang lagi nggak waras?" sambung Kirana dengan wajah yang terkejut.Mahesa menoleh. "Anda siapa?""Aku sahabat kecilnya Nara,” jawab Kirana cepat. "Sekaligus saksi hidup dia kalau Nara nggak pernah kenal kamu sebelum… malam itu," lanjut Kirana, dingin.Nara langsung menendang kaki Kirana di bawah meja. "DIAM."Mahesa kembali fokus ke Nara. "Saya serius."Nara menyilangkan tangan. "Kamu gila."

  • Istri Cerewet CEO Anti Skandal    Bab 2 > Dia Mencariku

    Di salah satu kamar mewah...Mahesa Ardhana Wijaya tidak pernah bangun pagi dengan perasaan… kosong. Ia yang biasanya hidupnya rapi, jadwal ketat, keputusan cepat bahkan emosi terkunci.Namun pagi ini... kamar hotel mewah itu terasa aneh. Kamar itu terlalu sunyi, terlalu berisik di kepalanya. Ia masih menatap pintu yang sudah tertutup sejak wanita cerewet itu pergi."Kamu juga jangan nyari aku."Kalimat itu masih terngiang.Lalu, Mahesa menoleh ke ranjang dengan seprai kusut, bantal sedikit miring, dan ada satu helai rambut panjang tertinggal, membuat pria itu mengernyitkan dahinya.Mahesa merasa heran... kenapa dia memperhatikan hal-hal remeh begini? Saat pikirannya berkecamuk, tiba-tiba pintu kamarnya diketuk. "Masuk," katanya datar.Rangga Pradipta-sekretaris setianya... masuk dengan tablet di tangan dan wajah penuh profesionalisme… sampai akhirnya ia melihat kondisi kamar atasannya. Ranjang yang berantakan. Jas bosnya tergeletak sembarangan. Dasi di kursi. Dan... Rangga menyipit

  • Istri Cerewet CEO Anti Skandal    Bab 1 > Salah Kamar

    Di salah satu kamar hotel mewah dengan lampu kristal, cahaya itu menyala terlalu terang untuk kepala Senara Ayu Prameswari yang berdenyut seperti habis dipukul palu. Gaun hitamnya terasa ketat, sepatu haknya entah ke mana, dan yang paling parah... pintu kamar hotel ini tampak terasa asing."Ini… kamar aku, kan?" gumam Nara sambil menyender ke pintu, matanya menatap ke arah ranjang besar dengan seprai putih rapi.Kemudian ia berjalan sempoyongan, melempar tas ke sofa, lalu menjatuhkan diri ke kasur. Wangi maskulin di kamar itu... menyusup ke hidungnya."Hmm… hotel mahal emang beda ya. Sprei nya bau duit," katanya polos.Di saat yang sama, pintu kamar kembali terbuka. Seorang pria masuk, dengan perawakan tinggi, bahu lebar dan setelan jas hitam yang sudah dilepas dasinya.Rambut pria itu sedikit berantakan. Tatapannya dingin tapi kosong, seperti orang yang kepalanya terlalu penuh untuk memproses dunia.Mahesa Ardhana Wijaya.Ia berhenti tepat di ambang pintu, menatap pemandangan di depa

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status