Home / Romansa / Istri Dadakan Sang Raja / 4. Nyawa Orang Ganteng

Share

4. Nyawa Orang Ganteng

Author: Naomi Leon
last update publish date: 2026-06-09 18:56:04

Rupanya bukan hanya dari Madam, pesan singkat dari Kenzo juga masuk bertubi-tubi memenuhi ponselku.

Chat Kenzo: Al, urusan tempat duduk gala dinner sudah beres, kan? Kamu siapkan bahan obrolan untuk Bu Dewi. Siapa saja yang duduk di mejanya. Siapa yang duduk di meja VVIP. Kalau banyak tamu dari negara lain di sekitar meja Bu Dewi, kamu riset sedikit tentang negara mereka.

Chat Kenzo: Kasih ke Bu Dewi bahannya sebelum gala dinner. Jangan sampai beliau tidak punya topik obrolan atau tidak mengenali tamu VVIP di sekitar mejanya.

Chat Kenzo: Bisa ya, Al? Tolong kerja yang benar, kalau nggak kita bisa di-PHK.

Chat Kenzo: Al, tolong. Aku baru menikah, masa langsung menganggur!

Aku mengangkat kepala. Ian masih berdiri di depanku, menunggu aku selesai menekuri layar ponsel dengan wajah tertarik. Aku tersenyum pada laki-laki macho dengan lesung pipi yang dalam itu.

Keesokan sorenya, begitu aku keluar dari lift bersama rombongan orang, Ian lagi-lagi menyapaku lebih dulu. Laki-laki tegap itu kini mengenakan batik lengan panjang. Terlihat tampan sekali, seolah siap mengucapkan akad… ya ampun.

“Habis lembur sampai pagi, ya? Mengerjakan apa?” tanyanya.

Aku menguap sambil mengikuti langkah Ian. “Bu Dewi sudah berangkat?”

“Sudah, tadi berangkat bersama rombongan VIP,” jawab Ian. “Lembur apa?”

“Bahan yang diminta Bu Dewi.” Aku menjawab dengan wajah muram.

Berkat petunjuk Kenzo, semalaman aku mengebut riset tentang tamu-tamu VVIP yang akan duduk di area khusus. Termasuk Raja Domnick Leon Guerrero, kepala negara Grindlandia.

Domnick. Domnick. Nama itu terus terulang di kepalaku. Dalam bahan yang kususun untuk Madam, kumasukkan kolase foto Domnick dalam berbagai pose kegantengannya, lengkap dengan berbagai informasi rinci tentang Grindlandia. Rasanya hanya ukuran celananya saja yang tidak kutuliskan.

Aku dan Ian tiba di aula gala dinner ketika area VIP sudah hampir penuh. Acara dibuka dengan pertunjukan tari-tarian. Dengan aksesnya, Ian dengan mudah membawaku duduk di meja sisi terluar area VIP. Nama-nama kepala negara yang hadir mulai disebut satu per satu.

“Yang Mulia Raja Domnick Leon Guerrero!”

Aku celingukan tepat saat nama Domnick diumumkan. Lampu sorot menyinari sosok raja muda yang berdiri dan mengangguk menyambut tepuk tangan hadirin. Astaga, itu manusia atau lampu taman, kenapa seperti berkilau dari segala sudut.

Aku duduk sambil mengipas-ngipas diri. Tidak lama kemudian, entah mengapa perutku mendadak sakit.

“Ian, toilet untuk tamu biasa yang mana, ya?” tanyaku cemas.

Alis Ian terangkat, tapi aku yakin ia paham. Di acara seperti ini, masuk toilet saja ada aturannya. Aku tidak mau ikut antre dengan menteri atau kepala negara, karena ujung-ujungnya rakyat jelata diminta mengalah.

“Mungkin ada toilet karyawan di belakang gedung,” usul Ian. “Mau saya antar?”

Aku menggeleng, tidak enak hati. Ian sedang bertugas, entah mengawal siapa. Aku mengikuti petunjuknya ke belakang aula, yang ternyata dipagari gedung lain dengan pencahayaan temaram. Setelah celingukan sambil menahan sakit perut, akhirnya aku menemukan toilet terpencil yang sepi.

Aku mencuci tangan sambil bersiul setelah selesai. Baru hendak merapikan bedak supaya tampak sedikit lebih segar di mata Ian nanti, kudengar suara dua orang laki-laki masuk.

Aku berbalik, dan baru sadar: di belakangku deretan urinal berjajar. Ini toilet laki-laki.

Gawat! Gawat!

Kalau ketahuan, aku bisa dianggap tidak sopan. Panik, aku cepat-cepat masuk ke lemari perkakas yang tidak terkunci di ujung deretan bilik, lalu menutup pintunya pelan.

Dari sela pintu, aku masih bisa mengintip. Dua laki-laki besar berkepala plontos masuk, bersetelan jas dengan pin bendera Grindlandia di dada…

… dan pin itu terpasang terbalik.

Mataku memicing, teringat bahan riset yang kususun semalaman untuk si Madam yang naksir sama Raja Grindlandia. Di bendera Grindlandia, pedang yang menghadap ke atas melambangkan kemenangan dan kejayaan. Pedang menghadap ke bawah melambangkan kekalahan.

Salah satu dari mereka berbicara cukup keras dengan bahasa asing. Aksennya aneh, bukan bahasa Inggris; justru terdengar mirip aksen Rusia. Padahal Grindlandia bekas jajahan Inggris, mayoritas penduduknya keturunan Inggris, dan bahasa utama mereka juga Inggris.

Dua orang ini memakai pin bendera Grindlandia yang terbalik dan tidak berbicara bahasa Inggris. Benarkah mereka orang Grindlandia?

Sepertinya mereka merasa aman karena tidak melihat siapa pun di toilet terpencil itu. Nada bicara mereka tegang, disusul suara gebrakan di dekat wastafel. Lalu salah seorang mengeluarkan ponsel dan mengaktifkan pengeras suara.

“Racunnya tidak bekerja. Raja masih hidup.”

“Kita ganti rencana. Racunnya memang tidak mempan, tetapi raja pasti sudah merasa lemah sekarang. Jangan biarkan dia pingsan di depan umum. Segera bawa raja ke kamarnya.”

“Ratu kita yang akan menyelesaikan sisanya.”

“Baik.”

Aku menahan napas di dalam lemari. Apa benar barusan aku mendengar kata “racun” dan “raja”? Jangan-jangan raja yang sedang berdiri gagah di aula itu memang sedang jadi target pembunuhan. Masa iya gara-gara kebelet aku malah mendengarkan rencana mereka?

Setelah dua laki-laki itu keluar dari toilet dan keadaan kembali sepi, aku pelan-pelan muncul dari persembunyian. Setengah hati aku menimbang. Harus lapor atau tidak? Tugas utamaku di gala dinner hanya mengurus Madam. Pin bendera terbalik dan urusan internal Grindlandia seharusnya bukan tanggunganku.

Aku kembali ke dalam aula dengan hati gelisah. Mataku terus mengikuti gerak-gerik Domnick di meja utama. Pandanganku tidak bisa lepas dari Domnick yang berkali-kali menyeka keringat di dahinya. Dalam hati aku menggerutu. Sayang sekali, masa laki-laki setampan itu harus mati pelan-pelan karena diracun.

Kulirik Ian yang duduk di sebelahku. Ia sedang sibuk menatap layar ponsel. Kutarik lengannya pelan.

“Mas Ian, ada yang mencurigakan,” bisikku.

“Apa?” Wajahnya langsung serius.

“Raja Grindlandia, Domnick, yang di meja depan itu.” Aku memberi isyarat dengan mata. “Tadi aku tidak sengaja mendengar ada orang yang berencana meracuninya. Menurut Mas, sebaiknya lapor ke siapa?”

Ian terperanjat, tetapi langsung bergerak. Ia berdiri dan membawaku ke sebuah ruangan di sisi aula. Ruangan itu penuh laki-laki tegap bersetelan jas dengan alat komunikasi di telinga.

“Kita punya keadaan darurat untuk Grindlandia,” kata Ian kepada seseorang di tengah ruangan. Beberapa orang langsung memasang wajah waspada dan mengerubunginya.

“Kamu tunggu di sini dulu,” ujar Ian padaku. Ia mendudukanku di sebuah sofa, lalu keluar dari ruangan itu bersama sekitar lima orang. Wajah mereka keras, langkah mereka cepat.

Beberapa saat berlalu. Suara musik dan tepuk tangan dari gala dinner masih terdengar samar dari balik pintu. Seolah tidak terjadi apa-apa. Mungkin laporanku sudah dicek dan dianggap tidak terbukti.

Ponselku bergetar.

Madam: Di mana kamu?

Aku membalas dengan malas, menjelaskan bahwa aku sedang menunggu Ian menjemput untuk kembali ke aula.

Tak lama kemudian, derap langkah kaki terdengar mendekat. Berhenti tepat di depanku. Suara bariton yang dalam memecah keheningan.

“Siapa orangnya?”

Aku mendongak. Wajah dari kolase foto yang semalaman kupasang di bahan presentasi Madam kini berdiri langsung di hadapanku. Raja Domnick, versi nyata, dengan wajah sepucat kertas. Bibirnya bergerak lagi.

“Siapa yang mencoba membunuhku?” tanyanya. Suaranya tajam, dingin, penuh tuduhan.

Aku refleks menggeleng, setengah bengong. Panik, takut disangka terlibat. Jantungku berdebar kencang, sementara kakiku seperti menempel di lantai.

Dari sudut mata, kulihat Ian berusaha menerobos barisan pengawal yang mengelilingi raja. Ia tidak sendirian; ada beberapa pria Indonesia di belakangnya, semuanya bersetelan rapi, wajah tegang.

“Maaf, Yang Mulia, dia salah satu orang kami. Biar kami yang mengurusnya,” suara Ian terdengar jelas dari belakang.

“Orang kalian?” ulang Domnick, rahangnya menegang. Ia memutar tubuh, menelusuri wajah orang-orang di ruangan.

“Orang kami, dari Indonesia,” jawab Ian mantap.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri Dadakan Sang Raja   5. Hari Gedebak Gedebuk

    “Orang kami, dari Indonesia.”Ian menjawab dengan mantap. Ia melangkah mendekat ke arahku, setelan gelapnya kontras dengan wajahku yang pasti sudah sepucat mayat. Tangannya hinggap di bahuku, menenangkan.“Ia saksi. Kami ingin membawanya ke dalam perlindungan kami sebelum mendengar semua ceritanya.”Wah. Tiba-tiba aku berubah status jadi saksi. Aku mendongak memandangi Ian dan rekan-rekannya yang mengelilingi posisiku.Maaf, aku saksi apa, ya? Saksi pernikahan, bukan?Aku tolah-toleh ke kanan dan kiri dengan kebingungan.“Ia harus menjawab pertanyaanku dulu, baru boleh pergi,” ujar Domnick kaku. Telunjuknya terarah padaku. Wajahnya jelas tidak mau berkompromi. Ketampanan di luar nalar yang kemarin sempat membuatku diam-diam mengaguminya seketika menguap, berganti aura yang berbahaya dan sangat berkuasa.Ian perlahan menarikku berdiri dan berusaha mengarahkanku keluar dari ruangan. Namun Domnick menahan langkah Ian dengan menangkap lengannya. Ian tidak melawan. Ia justru menoleh, memil

  • Istri Dadakan Sang Raja   4. Nyawa Orang Ganteng

    Rupanya bukan hanya dari Madam, pesan singkat dari Kenzo juga masuk bertubi-tubi memenuhi ponselku.Chat Kenzo: Al, urusan tempat duduk gala dinner sudah beres, kan? Kamu siapkan bahan obrolan untuk Bu Dewi. Siapa saja yang duduk di mejanya. Siapa yang duduk di meja VVIP. Kalau banyak tamu dari negara lain di sekitar meja Bu Dewi, kamu riset sedikit tentang negara mereka.Chat Kenzo: Kasih ke Bu Dewi bahannya sebelum gala dinner. Jangan sampai beliau tidak punya topik obrolan atau tidak mengenali tamu VVIP di sekitar mejanya.Chat Kenzo: Bisa ya, Al? Tolong kerja yang benar, kalau nggak kita bisa di-PHK.Chat Kenzo: Al, tolong. Aku baru menikah, masa langsung menganggur!Aku mengangkat kepala. Ian masih berdiri di depanku, menunggu aku selesai menekuri layar ponsel dengan wajah tertarik. Aku tersenyum pada laki-laki macho dengan lesung pipi yang dalam itu.Keesokan sorenya, begitu aku keluar dari lift bersama rombongan orang, Ian lagi-lagi menyapaku lebih dulu. Laki-laki tegap itu kin

  • Istri Dadakan Sang Raja   3. Kacung Makhluk Jejadian

    “Bawain koper saya yang bener! Koper mahal ini!”Begitu turun dari pesawat, aku sudah resmi berubah fungsi dari jurnalis menjadi porter.Siapa yang pernah memimpikan perjalanan kerja ke luar negeri bareng atasan yang kelakuannya persis makhluk jejadian?Hampir semua orang di kantor lebih rela pura-pura menikah daripada berdua saja meladeni Madam. Begitu pesawat mendarat, Madam yang duduk di First Class menolak keluar kalau belum melihat batang hidungku.“Biar penumpang lain menunggu,” katanya ketika pramugari yang sangat sopan memintanya keluar duluan. “Saya mau staf saya menyambut saya di pintu.”Jadilah pramugari di First Class lari-lari ke belakang mencari aku di deretan kursi kelas ekonomi. Aku digeret keluar dari antrean, dilirik para penumpang lain dengan penuh kebencian, demi satu tugas mulia: berdiri di pintu pesawat sambil memegang tas Madam.“Sabar, Alyssa, sabar,” bisikku pada diri sendiri.Ternyata urusan “perkacungan” tidak berhenti di situ. Madam juga tidak percaya pada

  • Istri Dadakan Sang Raja   2. Pengen Cepet Nikah

    Madam yang paling ditakuti di kantorku sebelum hidupku mendadak berbelok jadi calon ratu adalah Dewi Fortuna Wongso, direktur utama sekaligus putri bungsu kerajaan media Wongso Group. Di keluarga Wongso ada aturan tidak tertulis: semua anak harus mengelola satu perusahaan. Maka, orang semanja Madam pun harus menyandang jabatan direktur. Secara resmi, kantor kami adalah tabloid lifestyle untuk perempuan. Dalam kenyataannya, kami lebih mirip playgroup gadungan yang didirikan untuk mengasuh Madam. Sekantor sudah paham, Madam dipasang jadi direktur semata-mata supaya terlihat punya pekerjaan.Madam sendiri tidak suka bekerja. Yang ia sukai hanya berfoya-foya bersama teman-teman elitnya. Semua keputusan kerja diserahkan kepada Kenzo, asisten pribadi Madam, sementara kami sisanya hanya hamba sahaya yang bisa dibuang kapan saja.“Kenzo ke mana, sih?”Seorang laki-laki dari bagian keuangan melipir ke kubikelku. Ia meletakkan setumpuk dokumen administrasi perjalanan di mejak

  • Istri Dadakan Sang Raja   1. Calon Ratu, Enggak Terima Refund

    “Miss Khairan Alyssa, kamu harus menikah denganku. Hanya ini caranya aku bisa memberimu perlindungan penuh yang tidak bisa diganggu gugat oleh siapapun. Tidak oleh musuhku, tidak juga oleh negaramu.”Kesadaranku belum terkumpul sepenuhnya saat mendengar kalimat panjang yang membingungkan itu. Seperti bukan kalimat yang seharusnya ditujukan untukku. Tapi percayalah, aku sangat yakin kalau tadi dia menyebut Khairan Alyssa. Memangnya ada berapa Khairan Alyssa di dunia ini? Di ruangan ini? Tunggu. Ruangan apa ini?Mataku sontak terbuka lebar, dan pandanganku menjadi sangat fokus. Aku langsung melihat ke segala arah. Ke tubuhku, ke ruangan asing itu, tiang infus, juga pria berhidung mancung di hadapanku.Kalau tidak geger otak, berarti ingatanku masih utuh. Laki-laki ini adalah Domnick. Domnick si Raja Kerajaan Grindlandia. Domnick Raja Grindlandia yang kaya raya tampan berkuasa dengan istri cantik jelita serba sempurna.“Maaf, tadi kau bilang apa?” pintaku memastikan.“Jadilah ratuku, Alys

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status