LOGINRupanya bukan hanya dari Madam, pesan singkat dari Kenzo juga masuk bertubi-tubi memenuhi ponselku.
Chat Kenzo: Al, urusan tempat duduk gala dinner sudah beres, kan? Kamu siapkan bahan obrolan untuk Bu Dewi. Siapa saja yang duduk di mejanya. Siapa yang duduk di meja VVIP. Kalau banyak tamu dari negara lain di sekitar meja Bu Dewi, kamu riset sedikit tentang negara mereka.
Chat Kenzo: Kasih ke Bu Dewi bahannya sebelum gala dinner. Jangan sampai beliau tidak punya topik obrolan atau tidak mengenali tamu VVIP di sekitar mejanya.
Chat Kenzo: Bisa ya, Al? Tolong kerja yang benar, kalau nggak kita bisa di-PHK.
Chat Kenzo: Al, tolong. Aku baru menikah, masa langsung menganggur!
Aku mengangkat kepala. Ian masih berdiri di depanku, menunggu aku selesai menekuri layar ponsel dengan wajah tertarik. Aku tersenyum pada laki-laki macho dengan lesung pipi yang dalam itu.
Keesokan sorenya, begitu aku keluar dari lift bersama rombongan orang, Ian lagi-lagi menyapaku lebih dulu. Laki-laki tegap itu kini mengenakan batik lengan panjang. Terlihat tampan sekali, seolah siap mengucapkan akad… ya ampun.
“Habis lembur sampai pagi, ya? Mengerjakan apa?” tanyanya.
Aku menguap sambil mengikuti langkah Ian. “Bu Dewi sudah berangkat?”
“Sudah, tadi berangkat bersama rombongan VIP,” jawab Ian. “Lembur apa?”
“Bahan yang diminta Bu Dewi.” Aku menjawab dengan wajah muram.
Berkat petunjuk Kenzo, semalaman aku mengebut riset tentang tamu-tamu VVIP yang akan duduk di area khusus. Termasuk Raja Domnick Leon Guerrero, kepala negara Grindlandia.
Domnick. Domnick. Nama itu terus terulang di kepalaku. Dalam bahan yang kususun untuk Madam, kumasukkan kolase foto Domnick dalam berbagai pose kegantengannya, lengkap dengan berbagai informasi rinci tentang Grindlandia. Rasanya hanya ukuran celananya saja yang tidak kutuliskan.
Aku dan Ian tiba di aula gala dinner ketika area VIP sudah hampir penuh. Acara dibuka dengan pertunjukan tari-tarian. Dengan aksesnya, Ian dengan mudah membawaku duduk di meja sisi terluar area VIP. Nama-nama kepala negara yang hadir mulai disebut satu per satu.
“Yang Mulia Raja Domnick Leon Guerrero!”
Aku celingukan tepat saat nama Domnick diumumkan. Lampu sorot menyinari sosok raja muda yang berdiri dan mengangguk menyambut tepuk tangan hadirin. Astaga, itu manusia atau lampu taman, kenapa seperti berkilau dari segala sudut.
Aku duduk sambil mengipas-ngipas diri. Tidak lama kemudian, entah mengapa perutku mendadak sakit.
“Ian, toilet untuk tamu biasa yang mana, ya?” tanyaku cemas.
Alis Ian terangkat, tapi aku yakin ia paham. Di acara seperti ini, masuk toilet saja ada aturannya. Aku tidak mau ikut antre dengan menteri atau kepala negara, karena ujung-ujungnya rakyat jelata diminta mengalah.
“Mungkin ada toilet karyawan di belakang gedung,” usul Ian. “Mau saya antar?”
Aku menggeleng, tidak enak hati. Ian sedang bertugas, entah mengawal siapa. Aku mengikuti petunjuknya ke belakang aula, yang ternyata dipagari gedung lain dengan pencahayaan temaram. Setelah celingukan sambil menahan sakit perut, akhirnya aku menemukan toilet terpencil yang sepi.
Aku mencuci tangan sambil bersiul setelah selesai. Baru hendak merapikan bedak supaya tampak sedikit lebih segar di mata Ian nanti, kudengar suara dua orang laki-laki masuk.
Aku berbalik, dan baru sadar: di belakangku deretan urinal berjajar. Ini toilet laki-laki.
Gawat! Gawat!
Kalau ketahuan, aku bisa dianggap tidak sopan. Panik, aku cepat-cepat masuk ke lemari perkakas yang tidak terkunci di ujung deretan bilik, lalu menutup pintunya pelan.
Dari sela pintu, aku masih bisa mengintip. Dua laki-laki besar berkepala plontos masuk, bersetelan jas dengan pin bendera Grindlandia di dada…
… dan pin itu terpasang terbalik.
Mataku memicing, teringat bahan riset yang kususun semalaman untuk si Madam yang naksir sama Raja Grindlandia. Di bendera Grindlandia, pedang yang menghadap ke atas melambangkan kemenangan dan kejayaan. Pedang menghadap ke bawah melambangkan kekalahan.
Salah satu dari mereka berbicara cukup keras dengan bahasa asing. Aksennya aneh, bukan bahasa Inggris; justru terdengar mirip aksen Rusia. Padahal Grindlandia bekas jajahan Inggris, mayoritas penduduknya keturunan Inggris, dan bahasa utama mereka juga Inggris.
Dua orang ini memakai pin bendera Grindlandia yang terbalik dan tidak berbicara bahasa Inggris. Benarkah mereka orang Grindlandia?
Sepertinya mereka merasa aman karena tidak melihat siapa pun di toilet terpencil itu. Nada bicara mereka tegang, disusul suara gebrakan di dekat wastafel. Lalu salah seorang mengeluarkan ponsel dan mengaktifkan pengeras suara.
“Racunnya tidak bekerja. Raja masih hidup.”
“Kita ganti rencana. Racunnya memang tidak mempan, tetapi raja pasti sudah merasa lemah sekarang. Jangan biarkan dia pingsan di depan umum. Segera bawa raja ke kamarnya.”
“Ratu kita yang akan menyelesaikan sisanya.”
“Baik.”
Aku menahan napas di dalam lemari. Apa benar barusan aku mendengar kata “racun” dan “raja”? Jangan-jangan raja yang sedang berdiri gagah di aula itu memang sedang jadi target pembunuhan. Masa iya gara-gara kebelet aku malah mendengarkan rencana mereka?
Setelah dua laki-laki itu keluar dari toilet dan keadaan kembali sepi, aku pelan-pelan muncul dari persembunyian. Setengah hati aku menimbang. Harus lapor atau tidak? Tugas utamaku di gala dinner hanya mengurus Madam. Pin bendera terbalik dan urusan internal Grindlandia seharusnya bukan tanggunganku.
Aku kembali ke dalam aula dengan hati gelisah. Mataku terus mengikuti gerak-gerik Domnick di meja utama. Pandanganku tidak bisa lepas dari Domnick yang berkali-kali menyeka keringat di dahinya. Dalam hati aku menggerutu. Sayang sekali, masa laki-laki setampan itu harus mati pelan-pelan karena diracun.
Kulirik Ian yang duduk di sebelahku. Ia sedang sibuk menatap layar ponsel. Kutarik lengannya pelan.
“Mas Ian, ada yang mencurigakan,” bisikku.
“Apa?” Wajahnya langsung serius.
“Raja Grindlandia, Domnick, yang di meja depan itu.” Aku memberi isyarat dengan mata. “Tadi aku tidak sengaja mendengar ada orang yang berencana meracuninya. Menurut Mas, sebaiknya lapor ke siapa?”
Ian terperanjat, tetapi langsung bergerak. Ia berdiri dan membawaku ke sebuah ruangan di sisi aula. Ruangan itu penuh laki-laki tegap bersetelan jas dengan alat komunikasi di telinga.
“Kita punya keadaan darurat untuk Grindlandia,” kata Ian kepada seseorang di tengah ruangan. Beberapa orang langsung memasang wajah waspada dan mengerubunginya.
“Kamu tunggu di sini dulu,” ujar Ian padaku. Ia mendudukanku di sebuah sofa, lalu keluar dari ruangan itu bersama sekitar lima orang. Wajah mereka keras, langkah mereka cepat.
Beberapa saat berlalu. Suara musik dan tepuk tangan dari gala dinner masih terdengar samar dari balik pintu. Seolah tidak terjadi apa-apa. Mungkin laporanku sudah dicek dan dianggap tidak terbukti.
Ponselku bergetar.
Madam: Di mana kamu?
Aku membalas dengan malas, menjelaskan bahwa aku sedang menunggu Ian menjemput untuk kembali ke aula.
Tak lama kemudian, derap langkah kaki terdengar mendekat. Berhenti tepat di depanku. Suara bariton yang dalam memecah keheningan.
“Siapa orangnya?”
Aku mendongak. Wajah dari kolase foto yang semalaman kupasang di bahan presentasi Madam kini berdiri langsung di hadapanku. Raja Domnick, versi nyata, dengan wajah sepucat kertas. Bibirnya bergerak lagi.
“Siapa yang mencoba membunuhku?” tanyanya. Suaranya tajam, dingin, penuh tuduhan.
Aku refleks menggeleng, setengah bengong. Panik, takut disangka terlibat. Jantungku berdebar kencang, sementara kakiku seperti menempel di lantai.
Dari sudut mata, kulihat Ian berusaha menerobos barisan pengawal yang mengelilingi raja. Ia tidak sendirian; ada beberapa pria Indonesia di belakangnya, semuanya bersetelan rapi, wajah tegang.
“Maaf, Yang Mulia, dia salah satu orang kami. Biar kami yang mengurusnya,” suara Ian terdengar jelas dari belakang.
“Orang kalian?” ulang Domnick, rahangnya menegang. Ia memutar tubuh, menelusuri wajah orang-orang di ruangan.
“Orang kami, dari Indonesia,” jawab Ian mantap.
Kami bertiga berdiri di koridor rumah sakit saat Mark menyampaikan laporan bahwa pelaku yang melukai Sasha adalah bagian korps elit pengamanan istana. Otak tersangka: Jenderal Russhel Laporan Mark mengusik sesuatu yang sejak awal sudah mengganjal di dadaku, rasa tidak aman yang bahkan tembok tebal Grindlandia tidak mampu redakan. Malam itu, ketika Ibu tertidur di kursi lipat di samping ranjang Sasha dan dokter menyatakan kondisi sahabatku mulai stabil, aku duduk sendiri di kursi kecil dekat jendela rumah sakit. Ian tadi baru saja keluar setelah memastikan obat-obatan bekerja dan tekanan darah Sasha membaik. Aku memandang kota Grindlandia yang temaram, lampu-lampu berkilau di kejauhan. Kepalaku penuh. Sasha datang ke negeri ini karena aku. Sasha dilukai karena seseorang yang ingin menyakiti calon ratu. Calon ratu itu AKU. Sekarang, bayangan bunga-bunga berlonceng ungupenuh racun itu menempel di pikiranku. Aku marah. Bukan saja pada Russhel dan orang-orangnya, bukan hanya pa
Aku baru menyadari tangan gemetarku ketika pandanganku turun ke papan kecil di depan rumpun tanaman yang merubungi Sasha tadi. Papan itu miring, setengah tertutup tanah yang terciprat. Aku berjongkok hati-hati, menghindari cabang yang menjulur, lalu menyeka pelan permukaannya dengan ujung tisu.Bunga-bunga lonceng kecil berwarna keunguan bergoyang pelan di ujung batang. Cantik. Sangat cantik. Dan sangat tidak bersahabat. Tulisan di sana kubaca perlahan.Digitalis purpurea atau Foxglove Di bawahnya, dengan huruf lebih kecil ada keterangan lebih panjang. “Bunga indah berwarna ungu dan putih, seluruh bagian tanaman mengandung glikosida jantung. Dapat menyebabkan mual, muntah, pusing, gangguan irama jantung, dan reaksi alergi berat bila tertelan atau terkena luka terbuka. Penanganan medis segera diperlukan.” Aku menelan ludah. “Sas, kenapa jatuhnya ke sini…” gumamku. Ian yang berdiri di belakangku ikut mengamati. Rahangnya mengeras. “Foxglove,” gumamnya. “Cantik, tapi beracun, bis
“Alyssa,” panggil Domnick sebelum ia benar-benar pergi. “Maaf soal gaun. Aku marah pada keadaan, bukan pada kamu. Aku tidak seharusnya memaksa.”Aku hanya mengangguk, agak tersinggung karena tiba-tiba Domnick mengurungkan niatnya.“Baik," jawabku pendek.Ia menatapku, seakan ingin bicara lebih panjang, lalu memilih mundur.“Istirahatlah bersama keluargamu. Besok-besok, kita bicara lagi. Akan kuminta Olivia meluangkan waktu lebih banyak untuk kita."Aku menggeleng, menjawab tanpa melihat ke arahnya. "Tidak perlu."Besoknya, aku memutuskan sengaja mengambil jeda dari segala percakapan tentang gaun, gaya, protokol, dan pelajaran tetek bengek soal menjadi ratu baru. Begitu jadwal latihan pagi selesai dan Olivia pergi mengurus hal lain, aku mengumpulkan pasukan kecilku. “Ibu,” panggilku. “Sasha. Mas Dokter. Ayo kita pergi keluar.” Sasha muncul dengan wajah siap bersenang-senang. “Kita kabur?” tanyanya penuh harap. “Tidak sejauh itu,” jawabku. “Kita jalan-jalan dekat sini saja.”
Dua hari setelah pertemuan dengan Lady Anna, Olivia mengetuk pintu kamarku dengan wajah ceria.“Lady Alyssa, isi lemari barumu sudah tiba. Hari ini kita fitting,” katanya penuh semangat.Tanpa menunggu persetujuanku, Olivia dan rombongan dayangnya yang multifungsi menyerbu masuk ke kamar. Untung Ibu sedang di kamar mandi, jadi beliau tidak perlu melihat kericuhan proses mereka menelanjangiku sampai tinggal pakaian dalam.Katanya aku perlu mencoba semua ini untuk memastikan ukurannya sesuai kalau tidak harus di-fitting ulang atau dibuang. Mubazir banget!Dua lemari besar didorong masuk, pintunya dibuka, memperlihatkan deretan gaun menggantung rapi seperti koleksi museum mode. Ada yang terbungkus plastik tipis, ada yang diselubungi kain beludru berwarna-warni seolah menyimpan rahasia, ada juga yang masih terlipat dalam kotak-kotak mewah.“Dari siapa?” tanyaku, meski sudah bisa menebak.Olivia menunjuk kartu kec
Seharian aku mengikuti Domnick bekerja seharian di Esher Palace.Dari rapat energi dengan menteri-menteri, penandatanganan nota kesepahaman, hingga pertemuan kecil dengan perwakilan organisasi kemanusiaan, aku duduk di kursi yang disediakan di sudut ruangan. Sesekali Domnick menjelaskan singkat isi agenda, sekadar agar aku tidak merasa hanya menonton tanpa mengerti.“Aku ingin kamu melihat sendiri apa yang kulakukan,” katanya di jeda makan siang.Aku mengangguk. Meski lelah, ada bagian dari diriku yang lega melihat sisi kantoran dari Domnick. Bukan hanya urusan melambaikan tangan di podium dan berpose untuk kamera, tetapi juga mendiskusikan data, grafik, dan peraturan.Mengikuti Domnick seharian di Esher Palace ternyata memberi efek samping yang tidak kuduga. Kepercayaan diriku sebagai calon ratu pelan-pelan naik.Bukan karena ruangan-ruangan megah yang kulewati, atau karena duduk di kursi tamu istimewa. Justru karena orang-orang yang bekerja di balik meja dan sisi pintu mulai memperl
Acara pertunangan berjalan lumayan lancar, kalau lumayan itu artinya hampir pingsan, salah napas, dan kecupan kaku di depan pejabat. Begitu semua tamu bubar dan dekorasi pelan-pelan dibereskan, hidupku tidak kembali tenang. Setelah lamaran, Olivia menaikkan level kesibukanku dengan program khusus persiapan pernikahan. “Seminggu sekali kita akan gladi bersih,” jelasnya suatu pagi, sambil membacakan jadwal dari tablet. “Kita akan melakukan beberapa simulasi upacara pernikahan Yang Mulia dan Lady Alyssa di Norfolk. Mulai dari berjalan menuju aula, pengambilan sumpah, prosesi di balkon, sampai sesi menyapa rakyat.” Pagi itu sarapan bahkan belum dihidangkan, tetapi Olivia sudah seperti MC buka seminar. Aku cuma sempat membeo. "Norfolk? Norfolk itu apa?" Kini, semua kegiatanku dimulai begitu matahari terbit. Cuci muka, mandi, latihan fisik di ruang kebugaran, sarapan, kemudian perpustakaan, pelajaran privat, makan siang, pelajaran lagi sampai sore. Bedanya, setelah makan malam, D
“Miss Khairan Alyssa, maukah kamu menikah denganku supaya aku bisa melindungimu?”Ternyata itu kalimat lengkapnya. Menyebalkan sekali.Begitu aku benar-benar siuman di rumah sakit, Domnick sudah ada di sisi ranjang. Wajahnya terlihat sangat khawatir.Domnick bercerita bahwa sopir mobil yang kutumpa
Aku terkaget-kaget sendiri ketika omongan Ian malam itu jadi kenyataan.Tiket pulang ke Indonesia yang sudah susah payah disiapkan pihak kedutaan berakhir dibatalkan begitu saja. Bukan karena masalah teknis, tapi karena kelakuan makhluk jejadian bernama Madam.“Besok aja pulangnya, saya belum packi
“Orang kami, dari Indonesia.”Ian menjawab dengan mantap. Ia melangkah mendekat ke arahku, setelan gelapnya kontras dengan wajahku yang pasti sudah sepucat mayat. Tangannya hinggap di bahuku, menenangkan.“Ia saksi. Kami ingin membawanya ke dalam perlindungan kami sebelum mendengar semua ceritanya.
“Bawain koper saya yang bener! Koper mahal ini!”Begitu turun dari pesawat, aku sudah resmi berubah fungsi dari jurnalis menjadi porter.Siapa yang pernah memimpikan perjalanan kerja ke luar negeri bareng atasan yang kelakuannya persis makhluk jejadian?Hampir semua orang di kantor lebih rela pura-







